Rabu, 05 Februari 2014

Dia Itu Robot

Merah, kuning hijau bukan pelangi, seakan menindih diatas kepala. Matahari juga tak kalah memacu adrenalin yang makin cepat berdesir, panas hari ini lebih dari pada siang kemarin.
Merah, kuning hijau sekali lagi bukan pelangi yang indah diantara pemandangan yang membentang hijau rimbun dipegunungan yang anginnya semilir bau bunga-bunga kecil menyeruak harum menuju batang hidung.
Tapi ia hanya sebuah tiang yang makin mencapai suhu terpanas karena bias mendidih sinar korona matahari.
Bau sampah membusuk dan amis menjadi hal yang tak mungkin terpisahkan antara sinar matahari dan warna-warni diatas kepala, panas menggigit hingga keringat membanjiri, walau tak mendidih bersama otak, ingin rasanya absen satu hari saja menatap sinar merah, kuning hijau yang seakan menimpa diatas kepala ini.
Tapi ini menjadi pilihan mutlak tak ada pilihan lain lagi, nasib menuntut begini mau apa lagi, meski bosan hingga tubuh meleleh air mata takkan berubah. Ini sudah tuntutan peran didunia mungkin ini adalah kadar yang sudah ditakar oleh tuhan diatas lauhul mahfudz sana.
Aku tak mencoba berontak, tapi satu yang sangat aku benci, lampu merah, kuning hijau yang ada diatas kepala, tiang besi yang seakan memberikan titah seorang raja kepada laju kendaraan. Riuh kendaraan yang melaju membuat bising rasanya perut ingin muntah meski tak ada yang dapat dimuntakkan oleh lambung yang mulai dari kemarin belum dikirim nasi walau sebutir.
''Cepat kerja yang benar, kalau mau makan malam ini, jangan harap bisa tidur malam ini dengan perut berisi kalau malas-malasan !!'' Sepintas suara knalpot sepeda motor seperti teriakan bang Maji majikan kami, tapi kami lebih sering memanggilnya bos. Bos serakah yang hidup dengan memeras butiran keringat kotor kami. Wajahnya brewokan lebih ganas dari raja hutan. Yach, karena dia memang raja jalanan yang menguasai tubuh kami untuk dipekerjakan. Walau bukan kerja rodi atau kerja paksa. Tapi layaknya tubuh ronta ini sudah mengalahkan masa penjajahan Belanda ataupun Jepang. Harus kerja seharian tanpa istirahat kalau mau tidur dengan perut berisi.
''Teeetttt…!!! Suara kalakson mobil hampir merenggut kegadisan denyut jantung.
''Hoooiii…. Kecebong kecil..'' hati hati kalau nyebrang, dongg….
‘’Daasar gembel busuk, jangan suka main-main dipinggir jalan, mampus kau baru tau rasa ntar…!!'' Suara keras melolong dari dalam mobil, mengetkan kami semua.
            ''Hikkss'' Ratih menangis, ia terkena damprat pengguna jalan yang sedang melaju pemakai mobil kinclong itu. Entah apa namanya. Aku tak menghiraukan nama merk mobil itu. Mungkin itu merek mobil paling mahal didunia, kita bisa ngaca bebas disana. Dalam hati berkecambuk
''Siapa bilang kami sedang bermain-main disini, kalau bukan untuk mengisi perut aku tak kan rela berdiri ngemis disini''. Hatiku terus tak henti berkomentar.
''Eh…kamu….bangun cepat kerja ! Jangan malas-malasan'' bang Maji menatap bengis kedua alis tebalnya hampir menyatu. Segera ku bopong ratih yang masih terisak tangis.
            Lampu hijau menyala kami bisa istirahat, tak akan ada mobil yang mau berhenti walaupun hanya sedetik. Jalan tol yang macet penuh kendaraan, asal sorotan mata bengis bang maji tak melihat kami takkan kena damprat. Lampu kuning kami siap-siap cari uang seperti tentara perang mau berangkat perang. Lampu merah kami menyala merasa girang dan senang bukan kepalang, sebab semua kendaraan pasti akan otomatis berhenti, rombongan kami mulai bergegas beraksi, bernyanyi sebisa mungkin, dengan memerdu-merdukan suara parau kami, bernyanyi  lagu Insya Allohnya bang Maher Zain yang lagi populer. Berharap uang receh yang kami dapat kami peroleh bertambah.
''Insya alloh… insya alloh  ada jalan….'' suara Bondan menggema. Uang receh meluncur satu, dua , tiga, sembilan, kami senang bukan kepalang.
            Malamnya dingin menyapa. Bau busuk yang menyeruak dari kolong tempat tidur hilang seketika karena sudah biasa nyatai di rongga hidung. Bang maji tampak terengap-engap nafasnya tertahan, ia nampak gelisah terutama setelah bapak baju coklat tadi berbincang-bincang denganya, sepertinya persoalan yang sangat serius. Buktinya bang Maji sampai pusing. Hamto mengurungkan niat nya menghadap, ia kemudian sibuk menuju dapur,  masak indomie soto koya kesukaan bang Maji, hal yang biasa ia lakukan kalau sedang menginginkan sebuah perintaan, bukan permintaan yang pasti akan terkabul seperti permintaan Nobita pada Doraemon, atau Cinderella pada peri-peri, tapi sebuah permintaan pada bang Maji, dan bukan tiga permintaan, tapi cuma sebuah, dan belum tentu dikabulkan.
            ''Bang !! Ratih sakit bang, matanya merah, badannya juga panas tinggi'' sambil menyodorkan mangkok mie, Hamto menghadap bang Maji.
''Kasih aja obat mata, kalo tubuhnya mendadak panas besok pagi juga sudah baikkan sudah tidur saja, jangan berisik. Besokkan kalian sekolah, jangan sampai kalian dihukum guru gara-gara kalian tidak patuh, ingat ridho guru itu lebih berharga dari apaun didunia ini. Kalau kalian macam-macam nanti jadi anak yang gendeng baru tahu.'' ceramah bang maji.
''Belum aku kasih tahu ! Bang maji orang yang sangat konsekuen dalam soal pendidikan itu penting .
''Konsekuen? Mengapa aku bicara kata itu apa artinya. Entahlah, Aku tak tahu, aku hanya sering mendengar kata aneh itu dari pejabat-pejabat negara yang sering numpang nampang ditv pak Saptoi guru kami disekolah. Soal sekolah, bang Maji tak pernah melarang kami, ia malah menganjurkan kami menganyam bangku sekolah biar pintar, agar berbeda dengan dirinya. Maklum aku dengar dulu bang Maji adalah seorang alumnus pondok pesantren hanya saja katanya ia kena kualat sang guru gara-gara sering nakal, selalu bolos sekolah, ataupun kalau ia harus terpaksa masuk ia selalu bermain-main dalam pelajaran.
             Sedangkan Ratih, teman  kami yang manis itu, kami menemukannya nangkring ditempat sampah, bang Maji memungutnya dan dibawa mengarungi kejam kehidupan dijalanan. Tapi itu lebih baik dari pada ia harus hidup dijalanan sendirian. Ayahnya meninggal seminggu sebelum kejadian itu. Sedangkan ibunya entah kemana ia tak pernah mengenal sosok itu, kata ayahnya ia pergi mengelana bersama bapak-bapak berseragam loreng. Meninggalkan ia saat bayi. Entah kemana? Setelah itu ia tak pernah hadir dalam kehidupan Ratih. Namun setelah ayahnya meninggal ia hadir sebagai pengganti, ia datang dengan wanita lain entah siapa lagi. Ratih dibuang ketempat sampah walau bukan boneka mainannya. Bapak seragam loreng itu benar-benar telah merenggut kebahagiaan Ratih.
***
            Siang datang setelah kami pulang sekolah persis seperti kemarin. Segera kami berlindung dibawah tiang cahaya merah, kuning hijau. Tempat cari uang paling mujarab. Menghindari terik mentari yang siap membuah tubuh hitam kami makin jelas
''Danang…!! Bang maji nangis dimarkas'' Rambo berlari menghapiri kami.
Sejenak kami tak percaya, tapi wajah Rambo mengisaratkan sebuah kebenaran. Segera kami berlari menuju tempat kumuh yang kami lebih senang menyebutnya markas. 
            ''Kulihat bang Maji benar benar nagis, ternyata macan ini juga bisa menangis, mungkin bapak baju dinas coklat dan kedua orang temannya yang menyebabkan bola mata bang Maji menangis. Kami dengar bang Maji membayar mereka dengan setumpuk uang.
''Dasar bang Maji ngak punya hati '' kami mencibir tapi tak kami tampakkan raut wajah kami. Perut yang perih karena lapar, semakin menjadi, perut kami kosong.
''Uang itu pasti hasil jerih ayah kami ! Sungguh kami tak rela, bang Maji memang tak punya hati''.
***
            Malamnya,
''Kita mau pergi dari sini apapun yang terjadi !'' Bondan mengangkat nada suaranya keras.
''Tapi bagaimana dengan nasib kami disini, kami ngak mungkin meninggalkan bang Maji disini, bagaimana sekolah kita ?, walau bang Maji jahat, tapi setidaknya kita masih bisa sekolah'' ucapku meyakinkan bondan dan para pengikutnya.
''Tidak, apapun yang terjadi kami tetap pergi'' Ratih menambah dengan isaknya.
Malam ini hati kami pecah, perut lapar, rasanya rongga dalam lambung kian mencekik, aku tak mau pergi masih ingin mewujudkan cita-cita bapak, terlebih saat ini bang Maji sakit.

            Paginya,
''Bondan mau kemana ? jangan pergi dulu, tunggu bang Maji sembuh, siapa lagi yang ngurusi bang Maji kalo bukan kita, lagi pula bang Codet ngak bisa apa-apa'' kuremas tangan Bondan, memohon agar ia mengurungkan niatnya.
Tak lama, ada anggukan kecil didagu Bondan. Ia seakan pasrah, ku tepuk pundaknya beberapa kali. Pipi gembungnya nyerngit. Kulihat senyum yakin lagi, singgung dibibirnya.
''Nanti kita pikirkan lagi masalah ini !! Lebih baik kita berngkat sekolah sekarang''. Mereka melangkah berombong tanpa sandal, kesekolah gembel memang yang tak jauh dari markas.
***
            Buldozer lewat didepan sekolah membuat bising, suasana sekolah jadi tak tenang. Beberapa siswa berlari keluar, melihat kawanan mobil penghancur tersebut melintas didepan  kami.
Sekawanan kami terus tak peduli. Kawanan yang lewat tadi tak membuat naluri bermain kami timbul, kami butuh sekolah saat ini bukan main, biar jadi insinyur yang baik hati, nanti kalau kami sudah besar, Insya Alloh''.
            ''Danang…!! Cepat kemari nang… bang Majiii… gawat…gawaaat…!!'' Terlihat dari jauh bang Codet berlari menghampiri kami, kaki pincangnya semakin cepat melangkah. Tersentak kami kaget. Ia menarik tanganku dan  mengajak kaki ini melangkah cepat. Serentak kami semua berlari mengikutinya.
''Ada apa bang?'' Ratih merengek lagi.
''Mereka menghancurkan semuanya, semuanya hancur, kita benar-benar jadi gembel sekarang, kita tak punya apa-apa lagi sekarang, tamatlah nasib kita!!'' Mulut monyong bang Codet tak henti berceloteh. Ia terus berlari menarik tangan kami.
Sesampai di markas,
            Kulihat rumah tempat kami beristirahat dari dingin dan panas, kini telah jadi hamparan puing-puing bangunan yang rata dengan tanah. Semuanya hilang tak berbekas, kawanan bul dozer yang tadi lewat didepan sekolah telah merampas dan menghancurkan segala-galanya, besi besar tak berguna itu telah merenggut kebahagiaan kami, kulihat dibalik kaca mobil besar itu seorang bapak-bapak berpakaian rapi coklat loreng-loreng yang kemarin menghampiri bang maji sedang tertawa lebar, mungkin ia yang telah merencanakan semua ini, apa yang sebenarnya terjadi
''Marahku mulai memuncak ketitik habis. Adrenalin ku terpacu, ku lempar mobil besar itu dengan batu, mereka malah tertawa puas, ia mempermaikan hidup kami yang memang hanyalah sebuah mainan.
''Akh'' rasanya tak ada gunanya aku meladeni orang biadab itu.
''Bang maji? Kemana ia ?'' aku baru mengingatnya.
Kulangkahkan kakiku gemetar menuju tempat kami biasa tinggal dibawah puing atap. Kulihat bang Maji merayap ditanah, tergeletak  berlumuran darah tubuhnya meronta kesakitan, tak kuasa menahan rasa sakit, pelipis yang biasanya menyorotkan tatapan menakutkan kini tengah tak berdaya, tangannya meraba sesuatu, ia kemudian menatap wajahku lamat-lamat, bening dimatanya mulai turun membasahi pipi coklatnya, debu diwajahnya makin menyudutkan wajahnya kalau ia memang seorang gembel.
''Maafkan aku danang, abang sudah tak kuat lagi, mungkin waktuku sudah tak lama lagi. Tolong tuntun abang membaca syahadat nang..'' pinta bang Maji
''As ha du alla ilahaillalloh wa as  ha .. Du anna mu….hammadar rosu  lu…lloh….''
Denyut nadinya tiba-tiba terhenti, matanya kini tertutup rapat.
Ia telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Hati kami hancur, perih melihatnya.
            Bang Codet meraup sesuatu didalam saku celananya. Sembari menjulurkan sejulah uang, semuanya delapan juta enam ratu ribu lima ribu rupiah.
''Danang !! Ini adalah uang yang berhasil bang Maji kumpulkan untuk bekal kalian nanti, ia ingin kalian terus melanjutkan pendidikan kalian, sampai kaian kuliah setinggi-tingginya, kemarin bapak berhati robot itu datang menemui bang Maji, dengan memberikan sejumlah uang kepada mereka, mereka berjanji tak akan menggusur tempat ini. Tapi ternyata mereka mengingkari itu semua, padahal bang Maji lakukan itu semua demi kalian, ia ingin kalin terus berjuang. Ia mengumpulkan uang hasil jerih payah kalian itu dengan susah payah, tapi mereka semua merampasnya, mereka benar-benar tak punya hati, mereka itu robot yang ganas, bang Maji saying dan cinta kepada kalian semua, ia tak ingin kalian bernasib sama dengannya, bang Maji juga menulis surat ini buat kalian semua'' isak bang codet sembari menyodorkan surat berkertas kelabu itu;

''Danang dan semua anak-anak didunia yang bang Maji sayangi dan bang Maji cintai, hukum menuntut ilmu itu wajib bagi ummat muslim, terlebih ilmu agama. Jangan pernah kalian sia-sikan kesempatan muda kalian. Demi Alloh, kehidupan pemuda itu ada pada ilmunya dan takwalloh, tanpa keduanya tak kan berarti dirinya. Itu kata guru bang Maji dulu, bang Maji sayang kalian semua, doakan bang Maji selalu nak !!''

Salam cinta bang Maji

* Mkd Aan's
2016

Selasa, 04 Februari 2014

Senja Di Bibirmu

 Tepat pada senja yang sinarnya merah
aku melukiskan wajahmu pada sebuah dinding
dengan sebaris kata yang dituliskan matahari, pada sinarnya yang terakhir
dengan lekukan lukisan batang pohon bakau
di tepian pantai-pantai bibirmu mengeluarkan dentuman ombak
tentang sebait puisi yang tak pernah di katakan hujan
saat nelayan telah memasang terpal, pada atap-atap perahu
mereka mengujan, seiring camar yang menghilang
yang dadanya telah licin, selicin sumbang terakhir pada adzan-adzan masjid
aku memanggilmu dalam sepi yang paling tua, karena takut gelap
aku bertengadah sambil mengingat lekuk bibirmu
yang seumpama lukisan dua tarung ayam jago

‘’tenanglah, aku masih memegang sebuah obor’’
katamu, berusaha mempersiapkan kelahiran keberanian pada diriku
untuk menyatakan sebongkah cinta
‘’aku mencintaimu, sedalam laut yang menghubungkan pulau kalimantan dan jawa’’
begitu bibirmu, menuliskan pesan padaku
sambil melangkah meninggalkanku dengan seutas senyum,
disetiap senyum-senyum yang tak pernah aku teguk habis
madunya mengundang ribuan tawon, mengejarku
lari terbirit-birit, hingga terjatuh,
serupa peran antagonis dalam film-film komedi
dan aku menyedukan langkahku
pada seprei tempat dadamu tidurkan aku dalam panjang

begitulah kau pintar menyisipkan kata-kata
seperti kau benar benar membenari takdir
kau tak ingin aku berhenti menyalakan rona jingga
pada ketiak-ketiak senja
tepat di bawah pohon yang berdiri kokoh
senja yang marun mulai hilang
menghadapi bayang tiang-tiang yang ujungnya mulai petang
dan sampai saat ini aku masih menuai satu harapan
entah satu
atau dua,
atau beberapa, dari bibirmu –

* Mkd Aan's
2015

Sajak Hujan Maulana

Titip sajak ku dalam setiap tetesanmu
Luluh lantak sudah tarian jiwa
Di poles riak syahdu duka malam
Besok ujian amal akan dipertanyakan

Mau jawab apa tuan !
Berpulanglah pada rindu petuah ibu
Jendela telah dikepak-kepak sang kasih
Hingga bersayat celurit menyobek hati

Bergemuruhlah hujan !
Di genting dada gersang siapkan pukulan
Titik mu basah bercampur deru debu

Karena kau benar hujan !
Aku tercipta dari onggok debu jalanan
Berkayuh bapak ibu diatas ranjang
Diselip bismillah satu kali
Sampai engkau bergemuruh melukis rindu-rindu
Lewat sang kekasih
Lewat bising klakson mimpi-mimpi
Padahal doaku kujemur bersama bantal
Diatas genting gubuk
Berserakan janji-janji

Hujan! Engkaulah rahmat !
Maaf ku menginjakmu saat berlari kejar mimpi
Bersama titik peluh dan rinduku
Meninggalkan ilalang, padi dan rumput-rumput
Karena begitu liar ku menyeruduk hidup
Hingga tuhan tak aku terahkan
Pada awal bait puisiyang ku tulis
semalaman -

* Mkd Aan's
2016

Nafsu

Kau adalah
Jelmaan senyum melati bertangkai akar patah
Tumbuh di retak batu lumut hijau
Bukan kah bola mata mu adalah malam
Yang mengenal kan aku pada dunia hitam
Yang selalu mengundang birahi
Padahal khusukku ku buat dalam gabungan sujud rembulan mentari
Seiring kerlingan mayang dalam wayang kulit
Dan agenda dalang tuhan
datang menjemput senyum retak.
namun Tangan ku tak sampai
Hingga aku tak mampu
Merasakan manis capucinno dalam riak bibir malam
Berlalu lalang dalam semburat hilir hembus nafas siang
Hingga harus ku tebus harga mati
Untuk satu kemasan kecup bangkai rindu
Beriring darah pilu mencoba mencabut laga dalam tarian malu
Hilang tak tahu ?
Senyum mu tak gampang luntur
Walau deterjen paling mahal
Dan sekalipun
Mantra ku tak bisa ratakan manis
Berlari sendi ku mulai copot berjatuhan
Sampai dimana aku harus terus mencari
Dimana bekas titik mu akan
tiada berguna lagi -


* Mkd Aan's
2010

Minggu, 02 Februari 2014

Miss Online Vs Mr. Missed Call



            Alarm kamar menjerit-jerit, alarm mungil kotak berwarna hitam, didalamnya terpampang muka unyu-unyu personil One Direction. Boyband British kesukaannya. Gelinya dibawahnya tertulis ‘’Zayn wll you marry me, He he’’
Crazy, yeah kadang dia suka nyengir sendiri membaca kalimat itu, mo di hapus katanya sayang. Dirinya sudah kesemsem sama personil One Direction itu, apalagi si Zayn yang seorang figur muslim. Sama seperti dirinya. Jadi ngefan nya tambah ‘’berduyun-duyun’’
            Beberapa menit kemudian alarm kembali menjerit lagi, kali ini ia beringsut bergerak.
‘’Busyet, jam tujuh !’’ matanya melongo ia mencoba membuka jendela kamar, di atas mentari bersinar cantik. Sedangkan dirinya belum cuci muka plus bau cuka. Otomatis sholat subuhnya kedodoran, ngakunya muslimah tapi bangun aja masih kalah sama ayam ceking jantannya bang Shomat, tetangga sebelah. Ayam yang tiap hari mondar-mandir di depannya. And selalu ada pas dirinya ngambil gambar.
            Perkenalkan nama Qutsiyah, tapi ‘’Becarefull’’, jangan sekali-kali memanggilnya dengan panggilan Qutsiyah, bisa-bisa anda di ‘’Block’’ ato di ‘’unfriend’’ jika berteman di Facebook, atau dia pasang muka judes tujuh hari tujuh malam. (Bila mengenalnya dalam keseharian panggil saja Katty) ngak boleh kurang apalagi lebih, pernah bocah-bocah kecil tetangganya memanggilnya ‘’Kati-ak” si Katty langsung melemparinya dengan jemuran tetangga yang masih basah. Otomatis Katty juga di marahi si pemilik. Hemmzz .. ‘’She is really something’’
            Katty adalah anak tunggal, jadi wajar kalau dia sedikit manja. Seharian ia habiskan waktu di kamar. Ngotak-ngatik Hp ataupun mecahin cermin di kamar. Nah kok ? ya saking seringnya berkaca, cerminnya akhirnya pada runtuh. Kalau misalnya ada rekor pemecah cermin, pasti ia keluar sebagai pemenang.
Wajahnya biasa saja, rambut kribo, pipi tembem dengan ukuran hidung mancung ke dalam. Tapi ‘’Well’’, jika ada seseorang menghina fisiknya, ia sudah punya jurus andalan. ‘’Don’t judge the people by cover’’ wuih mantap.
            Setahun lalu ia pernah tinggal di asrama pesantren, namun kekuatannya hanya bertahan satu bulan, kata ia tidak tahan atas menu di pesantren, bosan tiap makan ia pasti ketemu ama dua sahabat senasib dan setanah air, tahu dan tempe’’ so, menyantapnya tidak terasa nikmat. Tapi bukankah ‘’Lauk yang paling nikmat adalah Lapar !!’’ lagian pas liburan kemarin, otaknya sudah di otak-atik ama dua temannya yang import langsug dari Venezuela dan Mexico, Racheal dan Tania, namanya doang yang import, padahal mah nama lahirnya ‘’Ruqayyah ma si Sutiyem’’ Nah, dua temannya ini yang mem-‘’provikasi’’ Katty agar ngak balik ke pesantren, mereka berdua sekuat tenaga, bahu-membahu, gotong-royong, mengobok-obok pikiran Katty. Finally Katty tenggelam dalam tipu daya, ia ogah balik ke pesantren, dan si Ruqayyah sama si Sutiyem (baca Racheal dan Tania) loncat-loncat kegirangan, bertepuk kedua tangan.
‘’Then both of her judgle while said, woow…!!’’
            Petualangan dimulai, dari Racheal, Tania dan Katty. Mempelajari semua dari mereka, mulai dari membuat Facebook yang lagi ‘’Happening’’ selama beberapa tahun terakhir. Jadi Katty punya pekerjaan baru sebelum jelang tidur, ‘’nongkrong di FB’’
‘’Bismikallohumma ahya wa amut’’ doa pengantar tidur di wastednya. Menjadi status update terbaru, Katty sering terbahak sendirian di kamar tidur. Apalagi pas mengingat koment geli dari sahabat FB nya tadi.
***
Sore, senja terpung di balik awan, matahari mengintip dengan tatapan takut-takut. Ia paksakan mulutnya tersenyum lebar pada orang-orang yang lalu lalang, ada yang bawa sapi, bawa rumput, ibu-ibu dari sawah, di gardu balai desa beberapa bocah pada ngumpul. Langkah Katty makin PD saat ada yang menyapanya. ‘’Hemmz, biasa di stage kontest’’
Ssstt !! Status terbaru diluncurkannya ‘’Ge JJS ne, Eh malah di siulin ma cWo2, Gag pernah LiaT CwE’ Bning kale Ea ?’’ Katty menyudahi statusnya, semenit dua menit ia menunggu ‘’Like’’ dari temen-temennya, syukur-syukur ada yang ‘’Coment’’
Ia tersenyum tipis, di dalam hatinya lompat-lompat, statusnya berubah menjadi 120 derajat dari kenyataan, mana ada cowok yang bersiul menggodanya, yang ada malah bocah sepuluh tahunan. Statusnya malah membuatnya tertawa sendiri.
            ‘’Bruukk !!’’pohon mangga di tabraknya, Katty pulang dengan kepala benjol.
            ‘’Mau dong disiulin hati kamu’’ satu Comment menggelitik hatinya, dari seorang teman yang baru saja di add-nya. ‘’Hmmz’’ lumayan wajah kece, berasa temenan sama Zayn Malik.
Cetar membahana, badai menggelegar terpampang di garis khatulistiwa, mendarat di Halim perdana Kusuma’’ Senyum Katty dalam hati. Tapi ‘’eittz’’ Katty tak cepat-cepat membalas Comment, jual mahal dikit, naikin pamor. Lagian mo maghrib waktunya mandi. Dari tadi Umi dan Abi nya udah pada ngomel melotot. Ini, itulah, gak tahan kali melihat anak semata wayangnya kesana kemari mencari alamat, maksudnya kesana kemari wara-wiri,  melototin HP kayak si Katty. Dititipin ke asrama malah ngak betah. Padahal tinggal makan tidur, tinggal hitung jari nunggu kiriman. Di pikir-pikir Umi-nya Katty, masih kesel tingkat Internasional pada dua makluk teman Katty, Si Ruqayyah sama si Sutiyem. Gara-gara mereka Katty ogah balik ke pesantren. Belagu pula tingkah mereka, ngak mau noleh kalau di panggil Ruqayyah dan Sutiyem, baru kalau di panggil Racheal dan Tania mereka respon, apalagi kalau di tambah awalan ‘’Miss’’ bisa bersayap tuh telinga mereka.
‘’Awas saja, kalo mereka sampai kesini saya timpuk pake’ ‘’Monas’’ Sumiatun Umi Katty ngedumel.
            Sementara di dunia lain, Katty terperangkap dalam maya. Ngotak-ngatik Profile orang yang comment di statusnya. Mr. Zain, yach namanya Mr. Zain seperti nama idolanya, demikian percakapan mereka di status Katty.
‘’Burung kali di siulin’’
‘’lebih tepatnya pria berseruling yang mencari tulang rusuknya yang hilang satu’’ Mr. Zain sok romantis.
‘’Huu Huu .. so Imah !’’  
 ‘’so sweet kale !!’’ dalam hati mereka tertawa kejang-kejang.
            Handphone ia taruh di dekat alarm, di meja rias. Mo sholat magrib. Kasihan juga tuch HP. Dari tadi kagak istirahat. Walau Katty masih penasaran dengan balasan Zain di status, ia paksakan angkat kedua tangan Takbirotul Ikhrom.
‘’Allohu akbar !’’ Katty mencoba khusuk, tapi pas setelah Al Fatihah rakaat pertama.
‘’Huuh !! si Zain balas comment ngak yach ? trus balas apaan ?’’ Sholatnya ternyata cacingan ngak khusuk, makanya pas salam kanan kiri cepat-cepat, Katty langsung menyambar Hpnya
‘’Bbrkk !!’’ Batteray lowbatt, al marhum. Terpaksa harus nunggu beberapa menit untuk online di FBnya dengan perasaan super duper sebel.
            ***
            Bulan purnama menerangi pedesaan, nampak romantis andai ada seseorang yang mengambil rembulan dan mempersembahkan untuknya. Pasti romantis kayak di pilm-pilm. Rupanya Sutiyem alias Tania melamun di atas genteng. Ia paling peka kalau melihat bulan purnama. Dibawah, Ruqayyah alias Racheal memanggilnya untuk melaksanakan visi dan misi. Eiitz, mereka mengendap-endap denagan penutup wajah seperti wanita timur tengah.
‘’Miss Racheal mengapa kita mengendap-endap di sini ?” tanya Sutiyem penasaran. Ia ngak tahan tubuhnya di keroyok nyamuk sekecamatan.
‘’Huuus ! lihat itu !’’ Ruqayyah menunjuk ke satu arah.
‘’Och !! rupanya kita mau menjadi Antibiotik ?’’
‘’Detektif dodol !!’’
            Di balik bulan purnama, tak jauh dari tatapan mereka, dua pemuda berjalan. Satu orang dari pemuda itu adalah ustadz asal Tegal, Ia ditugas mengajar di desa itu untuk satu tahun kedepan. Wajah sang ustadz adem. Menatap wajahnya Ruqayyah dan Sutiyem merasa nongkrong di pegunungan Rusia.
Sedangkan pria yang satunya tak lain dan tak salah adalah tetangga mereka si Mu’in, mukanya selalu hilir mudik seisi kampung. Ia selalu nampak setiap ada perkumpulan warga. Sok di butuhin warga, masalah gaya ia harus di acungi jempol gajah, dalam kamus hidupnya tidak pernah mengenakan baju yang telah dipakainya dua kali (gila udah kaya’ Paris Hilton) artinya sekali pakai baju ia akan mngenakannya hingga 5-10-15 hari. ‘’Tutup hidung’’, setelah yakin baunya busuk trus main membuangnya. Sama seperti Katty, ia tak pernah lepas dari yang namanya Handphone. Kemungkinan ia baru saja membeli Blackberry, keluaran 2045, menurut penuturannya sih. Tiap kali bepergian Hpnya di bikin antenna. Di angkat tinggi-tinggi biar orang kampung pada lihat. ‘’Hp boleh Blackberry tapi masalah pulsa Mu’in selalu di Warning’’ operator ketika melakukan panggilan.
‘’Sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini’’ Mu’in tidak pernah melakukan isi ulang sampai batas SIM card dalam masa tenggang, pengiritan. Tapi sekali isi pulsa, teman-temannya di bikin puting beliung. ‘’Cause’’ Mu’in bakal Missed Call ke nomer yang ada didaftar kontak, mati-matian. Makanya ia dapat penghargaan Mr.Missed call.
***
 Mpok Saodah menatap terheran-heran mengucek matanya tak percaya, tumben keponakannya si Katty pake’ kerudung. Perasaan setelah berhenti dari pesantren, Katty tak pernah lagi pake’ kerudung. Semua stock kerudungnya sudah dipakai buat serbet dan kain pel lantai. Di belakang tampak si Ruqayyah dan si Sutiyem dengan balutan busana muslim. Seperti mau pergi Qosidahan. Tak percaya dengan apa yang ia lihat, Mpok Saodah bibi Katty, komat-kamit baca Al Qur’an sampai ngabisin tiga surah. Khawatir mereka kemasukan makhluk ghaib. Tak sampai di situ Saodah mengambil segelas air lalu berusaha menuangkan pada mereka, otomatis Katty, Ruqayyah dan Sutiyem lari terbirit-birit. Semua memang atas ide cemerlang si Ruqayyah, mereka memang sengaja menutup tubuh mereka dengan balutan busana muslim. Rencananya menemui pak ustad yang dari Tegal semalam. Tak perlu jauh-jauh kepenginapan pak ustad. Mereka bertemu di jalan, ada mister Missed Call juga, si Mu’in.
‘’Ternyata ngak perlu jogging untuk menyehatkan jantung, karena lihat pak ustad hatiku sudah Dag, Dig, Dug’’ Ruqayyah membuka percakapan, sang ustad membalasnya dengan senyuman.
‘’Hmmzz, nama pak ustadz siapa ea ?’’sambung Ruqayyah menyelidik.
‘’nama saya Bari’’
‘’Bukankah Bari nama pulau, pulau BARI’’ Sutiyem menyambar sekenanya sambil cengar-cengir.
‘’Itu Bali, pulau Bali’’ serobot Ruqayyah gerah, di injaknya kaki Sutiyem, hingga ia menjerit kesakitan.
‘’Perkenalkan pas ustad, nama saya Miss Racheal’’        
‘’saya Miss Tania’’ Sutiyem muter-muter sambil mengibaskan kerudungnya.
‘’Oh yach, saya Miss. Katty’’ tegas Katty malu-malu kodok. Dari tadi hanya Katty yang pendiam. Tapi Suka curi-curi pandang.
‘’Pak ustad kalau cari pacar, cari di kampung ini saja’’ Ruqayyah menawarkan diri secara gratis.
‘’Ia pak ustad itu harus cari yang Sholihah, Sakinah, Mawaddah, Warohmah, Wabarokatuh. Ya sepeti saya’’ cerocos Sutiyem ngasal. Emang dia suka begitu dari zaman dia orok. Semua kata dia rubah, katanya emaknya dulu ngidam rawon angat. Tapi karena pendengaran bapaknya terganggu. Yang ada dia malah bawa sarang tawon dari kebun. Trus si bapak menaruh sarang tawon itu di dekat istrinya. Ngidamnya pun terpenuhi, ‘’di sengat Tawon’’ bukan ‘’Rawon Hangat’’ Sembilan bulan mengandung, lalu keluarlah si Sutiyem, cewe’ yang bikin semua orang ngakak kuda.
Pagi itu suasana seperti parade komedi. Semua pada ngakak. Sang ustad hanya tersenyum, lalu nyelonong pergi setelah mengucapkan salam. Diikuti langkah Mu’in, dari tadi sibuk dengan BB barunya, pencet tombol, mendekatkannya pada telinga. Biasa, Missed Call, lagi banyak pulsa rupanya. He.. He…
Sejak pertemuan tadi dengan pak ustad, si Katty jadi sering uring-uringan. Ia masih membayangkan wajah ustad seperti sama dengan satu temannya di Facebook, Mr. Zain. Cowok yang selama ini sering mengirimi teks di wall Facebook. Mukanya mirip sekali, ngak pake beda. Apakah benar si Mr. Zain tersebut adalah sang ustadz dari Tegal. Muka sama, sikapnya aja yang beda. Mr. Zain kan rada-rada Lebay cabai di Facebook, sedangkan pak ustad tadi, santun berkarismatik. Tapi mungkin ini adalah sisi lain dari sang ustad. Ustad kan juga manusia. Pastinya juga pengen eksis di dunia maya. Tapi haruskan dengan sikap se-‘’show out’’ gitu ? Satu lagi, selama ini Katty memakai foto gadis lain sebagai Profile picture. Seorang cewek manis dan berparas sendu. Jadi bagimana sang ustadz dapat mengenalinya, plus kesemsem pesonanya. Sebenarnya sih Katty ingin memakai foto sendiri buat profile picture di Facebook. Tapi masih belum PD. Bagaimana nanti jika teman-teman FBnya pada lari berbondong-bondong pas tahu muka Katty sebenarnya. “bingung harus pakek picture aslli atau gak “ mending sholat istikhoroh kali ya, kata pak ustadz dulu, kalau mutusin sesuatu harus menta petunjuk dari Alloh, ya dengan istikhoroh” Pikir Katty lupa-lupa ingat. Ya begitulah kalau nyantri setengah-setengah ilmunya gak nyangkut di otak, masih bertengger di dahan reranting, tak ambil pusing Katty menyambar  Hpnya, pencet tombol. Status terbarunya kembali ia luncurkan “Ne no Hpku 087751888888 ‘’Limitid edition’’ so call me may be” berharap Mr. Zain lagi online dan segera mecatat nomernya, karena setelah itu Katty buru-buru menghapus statusnya barusan. Ia ngak mau nomer Hpnya tersebar kemana-mana. Ternyata benar, beberapa menit  kemudian Hp katy bordering.
Yah, mau di angkat mati seketika, berdering lagi, seketika mati, berlanjut hingga beberapa kali, ternyata hanya missed call dari cowok faqir missed call, Katty yakin bin mantap nomer barusan. Nomer Mr. Zain. Ganteng-ganteng hobinya kok missed call, dah kayak si muin aja.
Di tempat berbeda Mu’in sibuk sendiri. Akhir-akhir ini ia merasa tersaingi, tentu sama ustad baru asal tegal. Ustad Bari. Dipikirnya apa hebatnya itu ustadz, ngomong aja masih pakek bahan ‘’Inyong’’, tapi pesonanya udah nyebar kemana-mana, tadi aja warga yang mau ketemu pada rame kayak mau ngatre sembako, apa lagi bagian cewek udah kayak cacing kedinginan. Dipikir-pikir wajahnya gak jauh beda dengan pak ustadz, hanya beda ganteng ma jellek aja, masalah gaya apa lagi, si Mu’in kalau sudah pekek surban bagai ustadz dibelah dua, sudah kayak ustadz yang mondar-mandir di TV. Soal baca al-Qur’an jangan ditanya, buktinya kalau ada warga mengadakan khatam Al-Qur’an Muin yang paling cepat bolak-balikin lembaran Al-Qur’an meski yang ia baca bukan surah dalam al-Qur’an di juz yang diambilnya, tapi baca Al Fatihah berkali-kali, ya soalnya surah itu yang muin tahu satu-satunya. Itupun kerena sering dengar dari imam masjid. Kalau sudah begini nyesel dulu ia gak sungguh-sungguh belajar ngaji, malah milih nonton TV. Kalau ditegur ama babenya, katanya lagi sakit. Sekarang baru terasa, kalau ilmu agama sangatlah penting. Mu’in mengelus dada. Ada yang salah dalam hidupnya. Dibukanya lembaran kecil dari ustadz Bari tadi, lalu ia melafalkannya dengan susah payah “Oh, If I can turn back, the time’’ kata ustadz Bari mah artinya “Oh, andai dapat ku putar kembali waktu’’ Hihi, si Mu’in Aya ayawae ..
Dua cewek ltu nangis bawah di pojokan. Ruqayyah ama Sutiyem. mereka dapat kabar tadi dari mpok Saodah katanya Katty mau balik lagi kepesantren, abis umminya Umminya gak tahan melihat kelakuan Katty Akhir-akhir. Di mana ada Katty pasti ada Hp, di ruang makan pecet Hp, di kamar mandi juga, sambil online. Tidurnya pun hingga larut malam, ngotak-ngatikin tombol Hp. Lebih parahnya sholat keteteran, kalau gak keteteran, pasti sholatnya keroyokan. Masak sholat isyak dibikin satu menit. Sholat apa nguber maling tuh, alasannya pasti buru-buru online. Biasa habis sholat maghrib baca Al-Qur’an, sekarang malah ogah, miris. Tapi Ruqayyah ma Sutiyem tidak dapat membayangkan bila harus hidup tanpa si Katty. mereka biasanya selalu bertiga tapi tetap jiwa mereka menyatu, maksudnya mereka makan di warung bertiga, digabungin jadi satu, yang bayar Katy. Pulsa semua pada abis, Katy yang beliin. Nah, kalau Katty tiba-tiba balik nyelonong ke pesantren, buat nongkrong di warung dan buat beli pulsa, Ruqyyah ma Suteyem harus bayar pakek apa’an ? emang boleh bayar pakek daun ? secara keluarga mereka sudah ditetapkan oleh badan Meteorologi dan Geo Fisika sebagai kelurga ekonomi “Darurat”  he he. Mo ngotak ngatik pikiran Katty dengan tipu muslihat, mereka sudah gak bias, soalnya ini berhubungan langsung dengan Sumiatun, Umminya Katy yang kegalakannya sudah membabi buta. Huh, Ruqoyyah dan Suteyem dibikin pusing memikirnya serasa pengen nelan sapi hidup-hidup..
“ Ya udah miss Racheal ntar kita sama-sama baca Yasin, dalam tangisnya Sutiyem berkomentar.
“Maksudnya ?” Ruqoyyah tegas penuh tanda Tanya.
‘’Katty kan mau pergi, katanya yang berhubungan dengan kepergian seseorang, kita harus baca Yasin ?’’ Sutiyem menjelaskan, dengan mimik muka lugu,
’Ukhh !! Miss. Tania yang baca yasin itu kalau seseorang pergi ke rahmatulloh. Alias metong’’ Rukayyah di buat geram.
‘’Ya truss kita mau baca apa dong ?’’
‘’Baca komik !!’’ Ruqayyah pergi menjauh, sementara Sutiyem masih mengambang di bawah pohon Bambu.
Katty mengepak barang-barang ke dalam Tas. Besok ia akan balik ke pesantren. tak lupa ia masukkan kotak alarm warna hitam. Alarm yang di selipkan foto One Direction di dalam, sedangkan untuk Hp tersayang Katty mempersembahkan satu lagu yang romantic, milik bang Hj. Roma Irama. ‘’Malam Terakhir’’ Malam ini malam terakhir bagi kita, untuk mencurahkan rasa rindu di dada. Esok aku akan pergi lama kembali, kuharapkan kau sabar menanti’’
Suara Katty membahana. Menyanyi pake goyang lumba-lumba. Umi dan Abinya hampir ngak konsen sholat jamaah Maghrib. Ngakunya sih Katty ngak suka music dangdut. Katanya musik dangdun itu musiknya emak-emak. Sekarang ia malah menelan jidatnya sendiri. Upsss, salah ! Nelan ludah sendiri. Nyanyi musik dangdut bonus goyang lumba-lumba. Katty mau puas-puasin ama Hpnya semalam online dan chatting, sebelum besok ia di borgol di pesantren, di pesantrenya ngak boleh bawa Hp. Pasti ia bakalan rindu ama teman-temannya di FB. Apalagi ama si Zain. 
Tapi tadi di chatting Mr. Zain ngajak ketemu entar habis isya’. Katty ngak sabar ketemu Mr. Zain.bener ngak yach kalau si Mr. Zain adalah ustad Bari.
Dari tadi mata Katty seliweran kemana-mana di dalam Musholla, di dalam musholla hanya tinggal ustadz Bari mengangkat tangan berdoa.
‘’Hmmzz, calon imam rumah tangga idaman nich !’’ Pikir Katty sambil mengotak-atik handphone.sampe’ bengkak.
Usai sholah berjamaah di musholla Katty ogah pulang, ia ngak sabar ketemu si Mr. Zain. Seperti yang di sepakati di depan musholla. Sementara di depan tempat ia duduk, terlihat dari tadi si Mu’in mondar-mandir kayak seterikaan. Terlihat sama seperti dirinya celingak-celinguk kanan kiri. Seperti menunggu seseorang. Mu’in mencoba memencet tombol Blackberry, menekan tombol panggilan. Terdengar di sekitar dering handphone sangat lantang. Ternyata bunyi Hp milik Katty. Mu’in dan Katty, mereka terjebak permainan mereka sendiri selama ini. Mu’in kembali mengulang Missed Call untuk meyakinkan dirinya sendiri. Namun lagi-lagi handphone Katty kembali berdering. Katty melotot kearah Mu’in begitu pula sebaliknya. Benak mereka memikirkan hal yang sama. Hingga mengeluarkan asap (lirik film komedi)
            ‘’Kamu Miss. Katty Online bukan ??’’ Tanya Mu’in masih meyakinkan dirinya. Katty mengangguk pelan.
‘’Ellu Mr, Zain, bukan ?’’ Tanya Katty balik. Mu’in Hanya mengiyakan.
‘’Aaaggh, Dul Mu’in .. !!’’           
’Ya elah Kutsiyyah ..!!’’ Mereka kompak di depan musholla. Kemudian sama-sama melakukan
’Sujud Musibah’’

* Syamsa Adam

2012