Merah, kuning hijau bukan pelangi, seakan menindih diatas kepala. Matahari juga tak
kalah memacu adrenalin yang makin cepat berdesir, panas hari ini lebih dari
pada siang kemarin.
Merah, kuning
hijau sekali lagi bukan pelangi yang indah
diantara pemandangan yang membentang hijau rimbun dipegunungan yang anginnya
semilir bau bunga-bunga kecil menyeruak harum menuju batang hidung.
Tapi ia hanya sebuah tiang yang makin mencapai suhu terpanas karena
bias mendidih sinar korona matahari.
Bau sampah membusuk dan amis menjadi hal yang tak mungkin
terpisahkan antara sinar matahari dan warna-warni diatas kepala, panas
menggigit hingga keringat membanjiri, walau tak mendidih bersama otak, ingin
rasanya absen satu hari saja menatap sinar merah, kuning hijau yang seakan
menimpa diatas kepala ini.
Tapi ini menjadi pilihan mutlak tak ada
pilihan lain lagi, nasib menuntut begini mau apa lagi, meski bosan hingga tubuh
meleleh air mata takkan berubah. Ini sudah tuntutan peran didunia mungkin ini
adalah kadar yang sudah ditakar oleh tuhan diatas lauhul mahfudz sana.
Aku tak mencoba berontak, tapi satu yang
sangat aku benci, lampu merah, kuning hijau yang ada diatas kepala, tiang besi
yang seakan memberikan titah seorang raja kepada laju kendaraan. Riuh kendaraan
yang melaju membuat bising rasanya perut ingin muntah meski tak ada yang dapat
dimuntakkan oleh lambung yang mulai dari kemarin belum dikirim nasi walau
sebutir.
''Cepat kerja yang benar, kalau mau makan
malam ini, jangan harap bisa tidur malam ini dengan perut berisi kalau
malas-malasan !!'' Sepintas suara knalpot sepeda motor seperti teriakan bang Maji
majikan kami, tapi kami lebih sering memanggilnya bos. Bos serakah yang hidup
dengan memeras butiran keringat kotor kami. Wajahnya brewokan lebih ganas dari
raja hutan. Yach, karena dia memang raja jalanan yang menguasai tubuh kami
untuk dipekerjakan. Walau bukan kerja rodi atau kerja paksa. Tapi layaknya
tubuh ronta ini sudah mengalahkan masa penjajahan Belanda ataupun Jepang. Harus
kerja seharian tanpa istirahat kalau mau tidur dengan perut berisi.
''Teeetttt…!!! Suara kalakson mobil
hampir merenggut kegadisan denyut jantung.
''Hoooiii…. Kecebong kecil..'' hati hati
kalau nyebrang, dongg….
‘’Daasar gembel busuk, jangan suka
main-main dipinggir jalan, mampus kau baru tau rasa ntar…!!'' Suara keras
melolong dari dalam mobil, mengetkan kami semua.
''Hikkss''
Ratih menangis, ia terkena damprat pengguna jalan yang sedang melaju pemakai
mobil kinclong itu. Entah apa namanya. Aku tak menghiraukan nama merk mobil
itu. Mungkin itu merek mobil paling mahal didunia, kita bisa ngaca bebas
disana. Dalam hati berkecambuk
''Siapa bilang kami sedang bermain-main
disini, kalau bukan untuk mengisi perut aku tak kan rela berdiri ngemis
disini''. Hatiku terus tak henti berkomentar.
''Eh…kamu….bangun cepat kerja ! Jangan
malas-malasan'' bang Maji menatap bengis kedua alis tebalnya hampir menyatu.
Segera ku bopong ratih yang masih terisak tangis.
Lampu
hijau menyala kami bisa istirahat, tak akan ada mobil yang mau berhenti
walaupun hanya sedetik. Jalan tol yang macet penuh kendaraan, asal sorotan mata
bengis bang maji tak melihat kami takkan kena damprat. Lampu kuning kami
siap-siap cari uang seperti tentara perang mau berangkat perang. Lampu merah
kami menyala merasa girang dan senang bukan kepalang, sebab semua kendaraan
pasti akan otomatis berhenti, rombongan kami mulai bergegas beraksi, bernyanyi
sebisa mungkin, dengan memerdu-merdukan suara parau kami, bernyanyi lagu Insya Allohnya bang Maher Zain yang lagi
populer. Berharap uang receh yang kami dapat kami peroleh bertambah.
''Insya alloh… insya alloh ada jalan….'' suara Bondan menggema. Uang
receh meluncur satu, dua , tiga, sembilan, kami senang bukan kepalang.
Malamnya
dingin menyapa. Bau busuk yang menyeruak dari kolong tempat tidur hilang
seketika karena sudah biasa nyatai di rongga hidung. Bang maji tampak
terengap-engap nafasnya tertahan, ia nampak gelisah terutama setelah bapak baju
coklat tadi berbincang-bincang denganya, sepertinya persoalan yang sangat
serius. Buktinya bang Maji sampai pusing. Hamto mengurungkan niat nya
menghadap, ia kemudian sibuk menuju dapur,
masak indomie soto koya kesukaan bang Maji, hal yang biasa ia lakukan
kalau sedang menginginkan sebuah perintaan, bukan permintaan yang pasti akan
terkabul seperti permintaan Nobita pada Doraemon, atau Cinderella pada
peri-peri, tapi sebuah permintaan pada bang Maji, dan bukan tiga permintaan,
tapi cuma sebuah, dan belum tentu dikabulkan.
''Bang
!! Ratih sakit bang, matanya merah, badannya juga panas tinggi'' sambil
menyodorkan mangkok mie, Hamto menghadap bang Maji.
''Kasih aja obat mata, kalo tubuhnya
mendadak panas besok pagi juga sudah baikkan sudah tidur saja, jangan berisik.
Besokkan kalian sekolah, jangan sampai kalian dihukum guru gara-gara kalian
tidak patuh, ingat ridho guru itu lebih berharga dari apaun didunia ini. Kalau
kalian macam-macam nanti jadi anak yang gendeng baru tahu.'' ceramah bang maji.
''Belum aku kasih tahu ! Bang maji orang
yang sangat konsekuen dalam soal pendidikan itu penting .
''Konsekuen? Mengapa aku bicara kata itu
apa artinya. Entahlah, Aku tak tahu, aku hanya sering mendengar kata aneh itu
dari pejabat-pejabat negara yang sering numpang nampang ditv pak Saptoi guru kami
disekolah. Soal sekolah, bang Maji tak pernah melarang kami, ia malah
menganjurkan kami menganyam bangku sekolah biar pintar, agar berbeda dengan
dirinya. Maklum aku dengar dulu bang Maji adalah seorang alumnus pondok
pesantren hanya saja katanya ia kena kualat sang guru gara-gara sering nakal,
selalu bolos sekolah, ataupun kalau ia harus terpaksa masuk ia selalu
bermain-main dalam pelajaran.
Sedangkan Ratih, teman kami yang manis itu, kami menemukannya
nangkring ditempat sampah, bang Maji memungutnya dan dibawa mengarungi kejam
kehidupan dijalanan. Tapi itu lebih baik dari pada ia harus hidup dijalanan
sendirian. Ayahnya meninggal seminggu sebelum kejadian itu. Sedangkan ibunya
entah kemana ia tak pernah mengenal sosok itu, kata ayahnya ia pergi mengelana
bersama bapak-bapak berseragam loreng. Meninggalkan ia saat bayi. Entah kemana?
Setelah itu ia tak pernah hadir dalam kehidupan Ratih. Namun setelah ayahnya
meninggal ia hadir sebagai pengganti, ia datang dengan wanita lain entah siapa
lagi. Ratih dibuang ketempat sampah walau bukan boneka mainannya. Bapak seragam
loreng itu benar-benar telah merenggut kebahagiaan Ratih.
***
Siang
datang setelah kami pulang sekolah persis seperti kemarin. Segera kami
berlindung dibawah tiang cahaya merah, kuning hijau. Tempat cari uang paling
mujarab. Menghindari terik mentari yang siap membuah tubuh hitam kami makin
jelas
''Danang…!! Bang maji nangis dimarkas'' Rambo
berlari menghapiri kami.
Sejenak kami tak percaya, tapi wajah Rambo
mengisaratkan sebuah kebenaran. Segera kami berlari menuju tempat kumuh yang
kami lebih senang menyebutnya markas.
''Kulihat
bang Maji benar benar nagis, ternyata macan ini juga bisa menangis, mungkin
bapak baju dinas coklat dan kedua orang temannya yang menyebabkan bola mata
bang Maji menangis. Kami dengar bang Maji membayar mereka dengan setumpuk uang.
''Dasar bang Maji ngak punya hati '' kami
mencibir tapi tak kami tampakkan raut wajah kami. Perut yang perih karena lapar,
semakin menjadi, perut kami kosong.
''Uang itu pasti hasil jerih ayah kami !
Sungguh kami tak rela, bang Maji memang tak punya hati''.
***
Malamnya,
''Kita mau pergi dari sini apapun yang
terjadi !'' Bondan mengangkat nada suaranya keras.
''Tapi bagaimana dengan nasib kami
disini, kami ngak mungkin meninggalkan bang Maji disini, bagaimana sekolah kita
?, walau bang Maji jahat, tapi setidaknya kita masih bisa sekolah'' ucapku
meyakinkan bondan dan para pengikutnya.
''Tidak, apapun yang terjadi kami tetap
pergi'' Ratih menambah dengan isaknya.
Malam ini hati kami pecah, perut lapar,
rasanya rongga dalam lambung kian mencekik, aku tak mau pergi masih ingin
mewujudkan cita-cita bapak, terlebih saat ini bang Maji sakit.
Paginya,
''Bondan mau kemana ? jangan pergi dulu,
tunggu bang Maji sembuh, siapa lagi yang ngurusi bang Maji kalo bukan kita,
lagi pula bang Codet ngak bisa apa-apa'' kuremas tangan Bondan, memohon agar ia
mengurungkan niatnya.
Tak lama, ada anggukan kecil didagu Bondan.
Ia seakan pasrah, ku tepuk pundaknya beberapa kali. Pipi gembungnya nyerngit.
Kulihat senyum yakin lagi, singgung dibibirnya.
''Nanti kita pikirkan lagi masalah ini !! Lebih
baik kita berngkat sekolah sekarang''. Mereka melangkah berombong tanpa sandal,
kesekolah gembel memang yang tak jauh dari markas.
***
Buldozer
lewat didepan sekolah membuat bising, suasana sekolah jadi tak tenang. Beberapa
siswa berlari keluar, melihat kawanan mobil penghancur tersebut melintas
didepan kami.
Sekawanan kami terus tak peduli. Kawanan
yang lewat tadi tak membuat naluri bermain kami timbul, kami butuh sekolah saat
ini bukan main, biar jadi insinyur yang baik hati, nanti kalau kami sudah
besar, Insya Alloh''.
''Danang…!!
Cepat kemari nang… bang Majiii… gawat…gawaaat…!!'' Terlihat dari jauh bang Codet
berlari menghampiri kami, kaki pincangnya semakin cepat melangkah. Tersentak
kami kaget. Ia menarik tanganku dan
mengajak kaki ini melangkah cepat. Serentak kami semua berlari
mengikutinya.
''Ada apa bang?'' Ratih merengek lagi.
''Mereka menghancurkan semuanya, semuanya
hancur, kita benar-benar jadi gembel sekarang, kita tak punya apa-apa lagi
sekarang, tamatlah nasib kita!!'' Mulut monyong bang Codet tak henti
berceloteh. Ia terus berlari menarik tangan kami.
Sesampai di markas,
Kulihat
rumah tempat kami beristirahat dari dingin dan panas, kini telah jadi hamparan
puing-puing bangunan yang rata dengan tanah. Semuanya hilang tak berbekas,
kawanan bul dozer yang tadi lewat didepan sekolah telah merampas dan
menghancurkan segala-galanya, besi besar tak berguna itu telah merenggut
kebahagiaan kami, kulihat dibalik kaca mobil besar itu seorang bapak-bapak
berpakaian rapi coklat loreng-loreng yang kemarin menghampiri bang maji sedang
tertawa lebar, mungkin ia yang telah merencanakan semua ini, apa yang
sebenarnya terjadi
''Marahku mulai memuncak ketitik habis.
Adrenalin ku terpacu, ku lempar mobil besar itu dengan batu, mereka malah
tertawa puas, ia mempermaikan hidup kami yang memang hanyalah sebuah mainan.
''Akh'' rasanya tak ada gunanya aku
meladeni orang biadab itu.
''Bang maji? Kemana ia ?'' aku baru
mengingatnya.
Kulangkahkan kakiku gemetar menuju tempat
kami biasa tinggal dibawah puing atap. Kulihat bang Maji merayap ditanah,
tergeletak berlumuran darah tubuhnya
meronta kesakitan, tak kuasa menahan rasa sakit, pelipis yang biasanya
menyorotkan tatapan menakutkan kini tengah tak berdaya, tangannya meraba
sesuatu, ia kemudian menatap wajahku lamat-lamat, bening dimatanya mulai turun
membasahi pipi coklatnya, debu diwajahnya makin menyudutkan wajahnya kalau ia
memang seorang gembel.
''Maafkan aku danang, abang sudah tak
kuat lagi, mungkin waktuku sudah tak lama lagi. Tolong tuntun abang membaca
syahadat nang..'' pinta bang Maji
''As ha du alla ilahaillalloh wa as ha .. Du anna mu….hammadar rosu lu…lloh….''
Denyut nadinya tiba-tiba terhenti, matanya kini
tertutup rapat.
Ia telah meninggalkan kami untuk
selama-lamanya. Hati kami hancur, perih melihatnya.
Bang
Codet meraup sesuatu didalam saku celananya. Sembari menjulurkan sejulah uang,
semuanya delapan juta enam ratu ribu lima ribu rupiah.
''Danang !! Ini adalah uang yang berhasil
bang Maji kumpulkan untuk bekal kalian nanti, ia ingin kalian terus melanjutkan
pendidikan kalian, sampai kaian kuliah setinggi-tingginya, kemarin bapak
berhati robot itu datang menemui bang Maji, dengan memberikan sejumlah uang
kepada mereka, mereka berjanji tak akan menggusur tempat ini. Tapi ternyata
mereka mengingkari itu semua, padahal bang Maji lakukan itu semua demi kalian,
ia ingin kalin terus berjuang. Ia mengumpulkan uang hasil jerih payah kalian
itu dengan susah payah, tapi mereka semua merampasnya, mereka benar-benar tak
punya hati, mereka itu robot yang ganas, bang Maji saying dan cinta kepada
kalian semua, ia tak ingin kalian bernasib sama dengannya, bang Maji juga
menulis surat ini buat kalian semua'' isak bang codet sembari menyodorkan surat
berkertas kelabu itu;
''Danang dan semua anak-anak didunia yang bang Maji sayangi
dan bang Maji cintai, hukum menuntut ilmu itu wajib bagi ummat muslim, terlebih
ilmu agama. Jangan pernah kalian sia-sikan kesempatan muda kalian. Demi Alloh, kehidupan
pemuda itu ada pada ilmunya dan takwalloh, tanpa keduanya tak kan berarti
dirinya. Itu kata guru bang Maji dulu, bang Maji sayang kalian semua, doakan
bang Maji selalu nak !!''
Salam
cinta bang Maji
* Mkd Aan's
2016




