Rabu, 05 Februari 2014

Dia Itu Robot

Merah, kuning hijau bukan pelangi, seakan menindih diatas kepala. Matahari juga tak kalah memacu adrenalin yang makin cepat berdesir, panas hari ini lebih dari pada siang kemarin.
Merah, kuning hijau sekali lagi bukan pelangi yang indah diantara pemandangan yang membentang hijau rimbun dipegunungan yang anginnya semilir bau bunga-bunga kecil menyeruak harum menuju batang hidung.
Tapi ia hanya sebuah tiang yang makin mencapai suhu terpanas karena bias mendidih sinar korona matahari.
Bau sampah membusuk dan amis menjadi hal yang tak mungkin terpisahkan antara sinar matahari dan warna-warni diatas kepala, panas menggigit hingga keringat membanjiri, walau tak mendidih bersama otak, ingin rasanya absen satu hari saja menatap sinar merah, kuning hijau yang seakan menimpa diatas kepala ini.
Tapi ini menjadi pilihan mutlak tak ada pilihan lain lagi, nasib menuntut begini mau apa lagi, meski bosan hingga tubuh meleleh air mata takkan berubah. Ini sudah tuntutan peran didunia mungkin ini adalah kadar yang sudah ditakar oleh tuhan diatas lauhul mahfudz sana.
Aku tak mencoba berontak, tapi satu yang sangat aku benci, lampu merah, kuning hijau yang ada diatas kepala, tiang besi yang seakan memberikan titah seorang raja kepada laju kendaraan. Riuh kendaraan yang melaju membuat bising rasanya perut ingin muntah meski tak ada yang dapat dimuntakkan oleh lambung yang mulai dari kemarin belum dikirim nasi walau sebutir.
''Cepat kerja yang benar, kalau mau makan malam ini, jangan harap bisa tidur malam ini dengan perut berisi kalau malas-malasan !!'' Sepintas suara knalpot sepeda motor seperti teriakan bang Maji majikan kami, tapi kami lebih sering memanggilnya bos. Bos serakah yang hidup dengan memeras butiran keringat kotor kami. Wajahnya brewokan lebih ganas dari raja hutan. Yach, karena dia memang raja jalanan yang menguasai tubuh kami untuk dipekerjakan. Walau bukan kerja rodi atau kerja paksa. Tapi layaknya tubuh ronta ini sudah mengalahkan masa penjajahan Belanda ataupun Jepang. Harus kerja seharian tanpa istirahat kalau mau tidur dengan perut berisi.
''Teeetttt…!!! Suara kalakson mobil hampir merenggut kegadisan denyut jantung.
''Hoooiii…. Kecebong kecil..'' hati hati kalau nyebrang, dongg….
‘’Daasar gembel busuk, jangan suka main-main dipinggir jalan, mampus kau baru tau rasa ntar…!!'' Suara keras melolong dari dalam mobil, mengetkan kami semua.
            ''Hikkss'' Ratih menangis, ia terkena damprat pengguna jalan yang sedang melaju pemakai mobil kinclong itu. Entah apa namanya. Aku tak menghiraukan nama merk mobil itu. Mungkin itu merek mobil paling mahal didunia, kita bisa ngaca bebas disana. Dalam hati berkecambuk
''Siapa bilang kami sedang bermain-main disini, kalau bukan untuk mengisi perut aku tak kan rela berdiri ngemis disini''. Hatiku terus tak henti berkomentar.
''Eh…kamu….bangun cepat kerja ! Jangan malas-malasan'' bang Maji menatap bengis kedua alis tebalnya hampir menyatu. Segera ku bopong ratih yang masih terisak tangis.
            Lampu hijau menyala kami bisa istirahat, tak akan ada mobil yang mau berhenti walaupun hanya sedetik. Jalan tol yang macet penuh kendaraan, asal sorotan mata bengis bang maji tak melihat kami takkan kena damprat. Lampu kuning kami siap-siap cari uang seperti tentara perang mau berangkat perang. Lampu merah kami menyala merasa girang dan senang bukan kepalang, sebab semua kendaraan pasti akan otomatis berhenti, rombongan kami mulai bergegas beraksi, bernyanyi sebisa mungkin, dengan memerdu-merdukan suara parau kami, bernyanyi  lagu Insya Allohnya bang Maher Zain yang lagi populer. Berharap uang receh yang kami dapat kami peroleh bertambah.
''Insya alloh… insya alloh  ada jalan….'' suara Bondan menggema. Uang receh meluncur satu, dua , tiga, sembilan, kami senang bukan kepalang.
            Malamnya dingin menyapa. Bau busuk yang menyeruak dari kolong tempat tidur hilang seketika karena sudah biasa nyatai di rongga hidung. Bang maji tampak terengap-engap nafasnya tertahan, ia nampak gelisah terutama setelah bapak baju coklat tadi berbincang-bincang denganya, sepertinya persoalan yang sangat serius. Buktinya bang Maji sampai pusing. Hamto mengurungkan niat nya menghadap, ia kemudian sibuk menuju dapur,  masak indomie soto koya kesukaan bang Maji, hal yang biasa ia lakukan kalau sedang menginginkan sebuah perintaan, bukan permintaan yang pasti akan terkabul seperti permintaan Nobita pada Doraemon, atau Cinderella pada peri-peri, tapi sebuah permintaan pada bang Maji, dan bukan tiga permintaan, tapi cuma sebuah, dan belum tentu dikabulkan.
            ''Bang !! Ratih sakit bang, matanya merah, badannya juga panas tinggi'' sambil menyodorkan mangkok mie, Hamto menghadap bang Maji.
''Kasih aja obat mata, kalo tubuhnya mendadak panas besok pagi juga sudah baikkan sudah tidur saja, jangan berisik. Besokkan kalian sekolah, jangan sampai kalian dihukum guru gara-gara kalian tidak patuh, ingat ridho guru itu lebih berharga dari apaun didunia ini. Kalau kalian macam-macam nanti jadi anak yang gendeng baru tahu.'' ceramah bang maji.
''Belum aku kasih tahu ! Bang maji orang yang sangat konsekuen dalam soal pendidikan itu penting .
''Konsekuen? Mengapa aku bicara kata itu apa artinya. Entahlah, Aku tak tahu, aku hanya sering mendengar kata aneh itu dari pejabat-pejabat negara yang sering numpang nampang ditv pak Saptoi guru kami disekolah. Soal sekolah, bang Maji tak pernah melarang kami, ia malah menganjurkan kami menganyam bangku sekolah biar pintar, agar berbeda dengan dirinya. Maklum aku dengar dulu bang Maji adalah seorang alumnus pondok pesantren hanya saja katanya ia kena kualat sang guru gara-gara sering nakal, selalu bolos sekolah, ataupun kalau ia harus terpaksa masuk ia selalu bermain-main dalam pelajaran.
             Sedangkan Ratih, teman  kami yang manis itu, kami menemukannya nangkring ditempat sampah, bang Maji memungutnya dan dibawa mengarungi kejam kehidupan dijalanan. Tapi itu lebih baik dari pada ia harus hidup dijalanan sendirian. Ayahnya meninggal seminggu sebelum kejadian itu. Sedangkan ibunya entah kemana ia tak pernah mengenal sosok itu, kata ayahnya ia pergi mengelana bersama bapak-bapak berseragam loreng. Meninggalkan ia saat bayi. Entah kemana? Setelah itu ia tak pernah hadir dalam kehidupan Ratih. Namun setelah ayahnya meninggal ia hadir sebagai pengganti, ia datang dengan wanita lain entah siapa lagi. Ratih dibuang ketempat sampah walau bukan boneka mainannya. Bapak seragam loreng itu benar-benar telah merenggut kebahagiaan Ratih.
***
            Siang datang setelah kami pulang sekolah persis seperti kemarin. Segera kami berlindung dibawah tiang cahaya merah, kuning hijau. Tempat cari uang paling mujarab. Menghindari terik mentari yang siap membuah tubuh hitam kami makin jelas
''Danang…!! Bang maji nangis dimarkas'' Rambo berlari menghapiri kami.
Sejenak kami tak percaya, tapi wajah Rambo mengisaratkan sebuah kebenaran. Segera kami berlari menuju tempat kumuh yang kami lebih senang menyebutnya markas. 
            ''Kulihat bang Maji benar benar nagis, ternyata macan ini juga bisa menangis, mungkin bapak baju dinas coklat dan kedua orang temannya yang menyebabkan bola mata bang Maji menangis. Kami dengar bang Maji membayar mereka dengan setumpuk uang.
''Dasar bang Maji ngak punya hati '' kami mencibir tapi tak kami tampakkan raut wajah kami. Perut yang perih karena lapar, semakin menjadi, perut kami kosong.
''Uang itu pasti hasil jerih ayah kami ! Sungguh kami tak rela, bang Maji memang tak punya hati''.
***
            Malamnya,
''Kita mau pergi dari sini apapun yang terjadi !'' Bondan mengangkat nada suaranya keras.
''Tapi bagaimana dengan nasib kami disini, kami ngak mungkin meninggalkan bang Maji disini, bagaimana sekolah kita ?, walau bang Maji jahat, tapi setidaknya kita masih bisa sekolah'' ucapku meyakinkan bondan dan para pengikutnya.
''Tidak, apapun yang terjadi kami tetap pergi'' Ratih menambah dengan isaknya.
Malam ini hati kami pecah, perut lapar, rasanya rongga dalam lambung kian mencekik, aku tak mau pergi masih ingin mewujudkan cita-cita bapak, terlebih saat ini bang Maji sakit.

            Paginya,
''Bondan mau kemana ? jangan pergi dulu, tunggu bang Maji sembuh, siapa lagi yang ngurusi bang Maji kalo bukan kita, lagi pula bang Codet ngak bisa apa-apa'' kuremas tangan Bondan, memohon agar ia mengurungkan niatnya.
Tak lama, ada anggukan kecil didagu Bondan. Ia seakan pasrah, ku tepuk pundaknya beberapa kali. Pipi gembungnya nyerngit. Kulihat senyum yakin lagi, singgung dibibirnya.
''Nanti kita pikirkan lagi masalah ini !! Lebih baik kita berngkat sekolah sekarang''. Mereka melangkah berombong tanpa sandal, kesekolah gembel memang yang tak jauh dari markas.
***
            Buldozer lewat didepan sekolah membuat bising, suasana sekolah jadi tak tenang. Beberapa siswa berlari keluar, melihat kawanan mobil penghancur tersebut melintas didepan  kami.
Sekawanan kami terus tak peduli. Kawanan yang lewat tadi tak membuat naluri bermain kami timbul, kami butuh sekolah saat ini bukan main, biar jadi insinyur yang baik hati, nanti kalau kami sudah besar, Insya Alloh''.
            ''Danang…!! Cepat kemari nang… bang Majiii… gawat…gawaaat…!!'' Terlihat dari jauh bang Codet berlari menghampiri kami, kaki pincangnya semakin cepat melangkah. Tersentak kami kaget. Ia menarik tanganku dan  mengajak kaki ini melangkah cepat. Serentak kami semua berlari mengikutinya.
''Ada apa bang?'' Ratih merengek lagi.
''Mereka menghancurkan semuanya, semuanya hancur, kita benar-benar jadi gembel sekarang, kita tak punya apa-apa lagi sekarang, tamatlah nasib kita!!'' Mulut monyong bang Codet tak henti berceloteh. Ia terus berlari menarik tangan kami.
Sesampai di markas,
            Kulihat rumah tempat kami beristirahat dari dingin dan panas, kini telah jadi hamparan puing-puing bangunan yang rata dengan tanah. Semuanya hilang tak berbekas, kawanan bul dozer yang tadi lewat didepan sekolah telah merampas dan menghancurkan segala-galanya, besi besar tak berguna itu telah merenggut kebahagiaan kami, kulihat dibalik kaca mobil besar itu seorang bapak-bapak berpakaian rapi coklat loreng-loreng yang kemarin menghampiri bang maji sedang tertawa lebar, mungkin ia yang telah merencanakan semua ini, apa yang sebenarnya terjadi
''Marahku mulai memuncak ketitik habis. Adrenalin ku terpacu, ku lempar mobil besar itu dengan batu, mereka malah tertawa puas, ia mempermaikan hidup kami yang memang hanyalah sebuah mainan.
''Akh'' rasanya tak ada gunanya aku meladeni orang biadab itu.
''Bang maji? Kemana ia ?'' aku baru mengingatnya.
Kulangkahkan kakiku gemetar menuju tempat kami biasa tinggal dibawah puing atap. Kulihat bang Maji merayap ditanah, tergeletak  berlumuran darah tubuhnya meronta kesakitan, tak kuasa menahan rasa sakit, pelipis yang biasanya menyorotkan tatapan menakutkan kini tengah tak berdaya, tangannya meraba sesuatu, ia kemudian menatap wajahku lamat-lamat, bening dimatanya mulai turun membasahi pipi coklatnya, debu diwajahnya makin menyudutkan wajahnya kalau ia memang seorang gembel.
''Maafkan aku danang, abang sudah tak kuat lagi, mungkin waktuku sudah tak lama lagi. Tolong tuntun abang membaca syahadat nang..'' pinta bang Maji
''As ha du alla ilahaillalloh wa as  ha .. Du anna mu….hammadar rosu  lu…lloh….''
Denyut nadinya tiba-tiba terhenti, matanya kini tertutup rapat.
Ia telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Hati kami hancur, perih melihatnya.
            Bang Codet meraup sesuatu didalam saku celananya. Sembari menjulurkan sejulah uang, semuanya delapan juta enam ratu ribu lima ribu rupiah.
''Danang !! Ini adalah uang yang berhasil bang Maji kumpulkan untuk bekal kalian nanti, ia ingin kalian terus melanjutkan pendidikan kalian, sampai kaian kuliah setinggi-tingginya, kemarin bapak berhati robot itu datang menemui bang Maji, dengan memberikan sejumlah uang kepada mereka, mereka berjanji tak akan menggusur tempat ini. Tapi ternyata mereka mengingkari itu semua, padahal bang Maji lakukan itu semua demi kalian, ia ingin kalin terus berjuang. Ia mengumpulkan uang hasil jerih payah kalian itu dengan susah payah, tapi mereka semua merampasnya, mereka benar-benar tak punya hati, mereka itu robot yang ganas, bang Maji saying dan cinta kepada kalian semua, ia tak ingin kalian bernasib sama dengannya, bang Maji juga menulis surat ini buat kalian semua'' isak bang codet sembari menyodorkan surat berkertas kelabu itu;

''Danang dan semua anak-anak didunia yang bang Maji sayangi dan bang Maji cintai, hukum menuntut ilmu itu wajib bagi ummat muslim, terlebih ilmu agama. Jangan pernah kalian sia-sikan kesempatan muda kalian. Demi Alloh, kehidupan pemuda itu ada pada ilmunya dan takwalloh, tanpa keduanya tak kan berarti dirinya. Itu kata guru bang Maji dulu, bang Maji sayang kalian semua, doakan bang Maji selalu nak !!''

Salam cinta bang Maji

* Mkd Aan's
2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar