Tepat pada senja yang sinarnya merah
aku melukiskan wajahmu pada sebuah dinding
dengan sebaris kata yang dituliskan matahari, pada
sinarnya yang terakhir
dengan lekukan lukisan batang pohon bakau
di tepian pantai-pantai bibirmu mengeluarkan dentuman
ombak
tentang sebait puisi yang tak pernah di katakan hujan
saat nelayan telah memasang terpal, pada atap-atap perahu
mereka mengujan, seiring camar yang menghilang
yang dadanya telah licin, selicin sumbang terakhir pada
adzan-adzan masjid
aku memanggilmu dalam sepi yang paling tua, karena takut
gelap
aku bertengadah sambil mengingat lekuk bibirmu
yang seumpama lukisan dua tarung ayam jago
‘’tenanglah, aku masih memegang sebuah obor’’
katamu, berusaha mempersiapkan kelahiran keberanian pada
diriku
untuk menyatakan sebongkah cinta
‘’aku mencintaimu, sedalam laut yang menghubungkan pulau
kalimantan dan jawa’’
begitu bibirmu, menuliskan pesan padaku
sambil melangkah meninggalkanku dengan seutas senyum,
disetiap senyum-senyum yang tak pernah aku teguk habis
madunya mengundang ribuan tawon, mengejarku
lari terbirit-birit, hingga terjatuh,
serupa peran antagonis dalam film-film komedi
dan aku menyedukan langkahku
pada seprei tempat dadamu tidurkan aku dalam panjang
begitulah kau pintar menyisipkan kata-kata
seperti kau benar benar membenari takdir
kau tak ingin aku berhenti menyalakan rona jingga
pada ketiak-ketiak senja
tepat di bawah pohon yang berdiri kokoh
senja yang marun mulai hilang
menghadapi bayang tiang-tiang yang ujungnya mulai petang
dan sampai saat ini aku masih menuai satu harapan
entah satu
atau dua,
atau beberapa, dari bibirmu –
* Mkd Aan's
2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar