Malam
terus berlanjut, namun Lena tetap menangis, malah tangisannya makin-menjadi.
Semakin serak dan merdu. Air matanya mungkin telah habis. Namun, tidak! Air
matanya tak akan habis soalnya ia menangis dari subuh, rambut panjangnya
terurai, berkibar-kibar di tiup angin sore. Kalbunya mungkin telah hilang, atau
rasa letih yang bersarang belum lama ini di dalam raganya sudah hilang. Tidak lagi ! mungkin
kini akalnya yang telah hilang. Tercabik cabik seperti gaun putihnya yang kini
telah lusuh penuh lumpur. Ia menatap cahaya jingga yang kini mulai hilang
dengan air mata menggumpal yang masih
menggantung dikelopak matanya. Angin sore yang berhembus sejuk malah
membuatnya makin terseduh, sakit. Sekali lagi air mata menetes. Mungkin ini
yang terakhir. Tapi tidak ! Ingatannya masih lekat. Belum hilang dari hati yang
kini benar-benar perih.
5
November, 2009
Lena, melangkah turun dari dalam
mobil cantik merah yang baru kemarin menjemputnya dari bandara. Senyumnya tak
terhenti saat beberapa orang santriwati menyapanya beramai-ramai menghampirinya
''beruntung jadi kamu lena ! cantik, pintar,
suaramu merdu, baik lagi ! siapa sih yang tak tertarik denganmu. Cuma oarang
buta kali yang tak mau dengan Lena. Sungguh beruntung sekali laki-laki yang
dapat menarik cintamu Lena '' beberapa orang santiwati menggoda Lena '' Lena
tersenyum bangga. Bibir merah jambunya gemetar.
Lena hanya tersenyum lagi,
kemudian menunduk. Ia tak berucap sepatah dua patah kata apapun
''Wah hebat yach kamu Lena, coba kami semua seperti kamu. Pasti pondok pesantren
ini bangga sekali, udah cerdas, suaranya merdu, cantik lagi, aduh kami semua
jadi ikut bangga lho'' ucah seorang santriwati yang lain.
''kapan yach kami bisa
sukses seperti kamu, mbak lena? Sekali lagi pujian datang mengguyur hati lena.
Mereka berebut satu-peratu memberi ucapan selamat kepada Lena. Kini Lena benar-benar seperti merak
khayangan yang berada diatas awan
''udah dulu yach temen-temen, entar aja dilanjutin ucapan selamatnya, sepertinya Lena sudah capek di perjalanan tadi'' ucap mbak Astuti, guru
pembimbing Qiroat Lena. Ia menunduk pelan, kerudungnya berkibar-kibar
tertiup angin. Tak lama kemudian segerombolan santriwati datang mengahampiri
Lena. Seumapama merak diantara
pipit-pipit sawah Lena tersenyum banggga.
''Lena ! kami dengar kamu dapat juara terbaik
kedua nasional yang untuk Qiroat katagori putri ‘’ ucap saeorang lelaki yang
sangat ia kenal sahabat kecilnya yang kini jadi salah satu pengurus di
pondoknya, namun ia malah mencibir. Ia membuang muka. Ia tahu lelaki itu
menyukai dirinya, seperti yang dilontarkan Amir, nama lelaki itu, untuk
melamarnya sebagai calon istri. Namun Lena tak ingin itu terjadi, ia tak
menyukai Amir, sedikitpun.
3 November, 2009
Pagi
yang sama sekali ia tak pernah sangka muncul dibalik dedaunan. tak disangka
dimana, pemuda tersebut datang
''Halo nama saya David !'' sapa seorang
pemuda seraya menjulurkan tangan putih bulenya pada Lena. Lena hanya menjawab
dengan menunduk. Ia pun menjulurkan tangannya tanpa sedikitpun bersentuhan.
''nama saya Lena, Nur Maliana'' lena menyebutkan nama panjangnya. ''kamu
peserta qiroat pemenang juara pertama bukan ? senang bisa kenalan dengan kamu''
ucap pemuda itu santun. Diam-diam ada cahaya dalam pandangan Lena pada David.
''sorry
yach ! pesawatku sebentar lagi berangkat aku harus cepet-cepet take out kalo
enggak aku kita bisa ketinggalan'' seru Lena saat ia menatap Mbak Astuti yang
datang menghampirinya'' ia melangkah mundur menuju Mbak Astuti.
''kapan
kita bisa ketemu lagi?'' ucap Daviv, senyum sunggingnya merekah. ''ini nomorku
kamu bisa hubungi aku didisini!'' Lena menjulurkan kartu namanya pada David. ia
menghilang pergi bersama Astuti.
''Tak
kusangka sejumput pertanyaan tak henti-henti mendera dalam hatiku tepat ketika
aku mengenalmu. Ingin rasanya aku kubur rasa yang baru saja mengganggu
detik-detikku ini, tapi tak kuasa ! lidahku kelu, kakiku seakan lumpuh,
tanganku seakan terpisah dari syarafnya,tubuhku seakan telah membeku. Itulah
kini masalah terberatku.
‘’Bayang-bayang
wajahmu selalu hadir, tak siang, tak malam, pagi, sore, sampai aku tak dapat
memikirkan hidupku sendiri. Entah bagaimana lagi harus kukatakan padamu. Karena
hal itu terjadi setelah kita pertama bertemu''
salam
david' yang memujamu slalu....
Lena
melambung keangkasa dipeluknya erat-erat handphone yang baru saja ia aktifkan
dari pesan yang baru saja ia terima, fikirannya melayang kelangit tujuh. Ada
rasa yang tiba-tiba membuat Lena seakar bergetar, ia meresa begitu dekat dengan
David mungkin sama sepeti yang tengah David rasakan saat ini kepadanya. Bukan
cuma iti David juga akhir-akhir ini sering membuat Lena tak konsentrasi
dalam pelajaran, Lena serimg ngelamun,
sering ketawa sendirian, seperti orang kesambet makhluk halus disiang bolong.
Setidaknya begitulah yang dituturkan oleh santriwati lain semenjak Lena baru datang dari lomba. Lena
menatap handphonenya lagi, banyak pesan baru yang belum ia baca bermunculan.
David, David, David, Umi .. Ia segera membuka pesan dari rumah.
''Lena, liburan ini segera pulang kerumah yach
nak!, umi udah menyiapkan makanan
kesukaan kamu, bebek goreng saus putu ijo, pokoknya umi bikin ini spesial buat
kamu, buat ngerayain prestasi kamu yang membuat umi dan abah bangga, ingat
cepat pulang yah neng !! Abah dan umi udah kangen berat sama kamu.''
Abah dan umi dirumah sayang Lena
Awal Januari, 2010
''pokoknya
Lena mau berheti mondok, titik !! '' Brakk.. !!’’ suara pintu terbanting.
keras, seorang Lena memberontak, ia menyandarkan tubuhnya dibelakang pintu
kamar, pikirannya kini telah ia bulatkan, tekatnya juga ia telah bangun.
keputusannya telah akhir, ia akan berhenti mondok. Entah makhluk apa yang kini
menyeruak masuk dalam angan Lena hingga ia mengambil keputusan yang paling
berat, menentang abah dan uminya, wajah lembut putihnya makin merona kala air
matanya lewat dipipi.
''tapi
Lena, abah dan umi masih bisa membiayai kamu sampai kamu lulus nanti, kamu
boleh minta apa saja nak asalkan kamu berubah pikran, umi sayang kamu Lena...''
suara parau menggema dari balik pintu kamar Lena, namun Lena tetap diam.
Sebenarnya hatinya menangis tak tega, namun keinginannya telah membatu seperti
batu cadas. semakin kokoh sasat badai
salju datang, ''pokoknya Lena mau berhenti mondok..'' ucapnya lirih..
''Lena kamu boleh minta apa saja yang
kamu inginkan abah akan memenuhinya Lena'' ucap abah membujuk dibalik pintu
yang tak henti masih terketok dari tapi,
''Lena dengarkan abah, Lena. abah dan umi sayang sama kamu.. melebihi diri abah
sendiri Lena. Karena kamu anak satu-satunya yang abah dan umi punya...''
''pokoknya ini keputusan Lena, kalo abah
tak mengijinkan Lena maka Lena akan pergi dari rumah ini dan kalau abah memang
sayang sama Lena biarkan Lena memilih jalan lena sendiri bah !!'' suasana jadi
hening. Hanya tangis lena yang msih sesekali senggugukan.
''Lena jangan bilang begitu sayang, demi
kebahagiaanmu nak umi akan turuti kemauanmu nak, yach kan abah..??'' suara
parau umi menyakinkan abah agar menyetujui kemauan Lena.
''Ia Lena
abah turuti kemauanmu nak, sekarang Lena buka pintu ya nak..!!'' tak lam pintu terbuka, Lena mengusap air
matanya hingga kering, umi menghampiri
mengusap kerudung putih lena yang basah, mereka berpelukan suasana
hening.
''umi, abah... Lena sebentar lagi akan
jadi penyanyi...'' ucap Lena lirih di peluikan pundak uminya....
Akhir januari 2010
Beberapa
hari berlalu .''Lena ! kapan kamu mau berangkat, aku tak punya banyak waktu di
Indonesia, soalnya sebentar lagi aku mau balik ke Ausi. Kalau kita dapat
bertemu dalam waktu dekat aku pasti bisa
langsung ngorbitin kamu jadi penyanyi yang bagus, soalnya suara kamu itu sudah
sangat cantik. Secantik dirimu yang slalu kupuja dan kudamba'' perkataan David membuat perasaan Lena kembang
kempis, pandangannya menunduk ia semakin merona mendengar pujian dari David.
''David,
aku usahakan besok akan datang ketempatmu, tapi sebenarnya aku sangat ragu.
sebab kita kan bukan muhrim, lagi pula aku belum pernah keluar rumah. apalagi
untuk bertemu dengan lawan jenis'' ucap Lena setengah berbisik
''apakah
kamu masih ragu sengan keseriusan ku ini Lena, aku sungguh-sungguh ingin
mengorbitkan kamu jadi seorang penyanyi yang tenar, kalau perlu dan kamu mau
aku bisa datang kerumahmu sekarang dan segera memintamu, atau kalau perlu kita
kawin hari ini juga kalau perlu'' ucap David mantap.
''Tak
usah berlebihan, aku percaya sama kamu, seratus persen..'' ucap Lena ragu akan
kata-kata yang baru saja keluar dari bibir merah jambunya.
Awal
pebruari 2010
Hujan turun menyerupai kabut-kabut kecil yang
berhamburan dibawa angin. Dingin jatuh menghantam kawanan jalan yang baru saja
bermain-main dipucuk-pucuk cemara, Seorang wanita ramping mengenakan gaun hitam
tergesa-gesa masuk kedalam sebuah mobil.
Rambutnya
terurai sedikit basah. ujung-ujung gaunnya juga basah terciprat tetesan hujan
yang baru saja hinggap ketanah namun terinjak langkah kakinya yang setengah
berlari. Tak lama kemudian mobil jaguar silver tersebut melaju kencang menembus
air hujan yang tengah mengguyur deras, tak lain perempuan tersebut adalah Lena
ia meninggalkan rumah sembunyi-sembunyi, sementara gorden kamar nya basah, ia
lupa menutup jendela kamarnya saat ia pergi kabur, secarik kertas putih diatas
meja belajarnya yang baru tadi malam ia tulis juga ikut basah. Karena hujan
pagi itu deras, sangat deras.
'' Abah, Umi yang sangat Lena cintai. sayangi dan
Lena sangat hormati, maafkan Lena, telah meninggalkan
abah dan umi tanpa pamit karna tau abah dan umi
sangat tidak menginginkan Lena pergi dari rumah untuk
mengejar mimpi-mimpi Lena jadi penyanyi
terkenal,
maka Lena putuskan untuk pergi dari rumah ini,
Lena yakin ini keputusan yang terbaik buat Lena ambil,
sayangkan, abah dan umi bila bakat yang lena
punya tidak Lena
gunakan ? sedangkan banyak sekali diluar sana
orang yang
ingin mempunyai bakat seperti yang Lena miliki
saat ini,
akan Lena buktikan pada abah dan umi kalau Lena
bisa meraih apa yang Lena inginkan didunia ini..
salam sayang selalu ....
''Lena, anak kalian.
beberapa tangis pecah bersama hujan yang
terus mengguyur bumi. mata yang tak dapat lagi membendung sedih yang kini
menyulut hati kecil Umi dan Abah Lena.
Pertengahan Pebruari 2010
‘’Umi
sudah jangan menangis terus !! nanti sakit umi tambah parah, kalau umi begini
terus abah yang paling seding. Mi.. umi yakinlah pada kata-kata abah bahwa anak
kita akan baik-baik saja. Kita serahkan saja semuanya sama gusti Alloh, agar
anak kita Lena selalu dalam lindungan Nya’’ Abah menatap bahu umi sembari
menyodorkan sendok yang berisi makanan ke hadapan umi. ‘’abah ngak ngerti
perasaan umi, umi yang paling mengerti anak umi bah, karena umi yang mengandung
dan menyusuinya selama bertahun tahun. Umi takut terjadi apa-apa dengan Lena
bah. Abah pun ngak mengerti dengan perasaan seorang ibu’’ umi melemparkan
sendok yang berusaha abah sodorkan, hingga jatuh. ‘’sudah lah umi, Lena anak
abah juga, kalau tak ada abah, Lena tak akan ada’’ ucap abah dengan nada agak
meninggi, ‘’abah …!!’’ umi menatap wajah abah, air mata umi masih bertahan di
kelopak matanya.
‘’maafkan abah umi, abah tak bermaksud
membentak umi, maafkan abah mi !!’’ ucap abah dengan sorot mata memohon,
keduanya larut dalam pelukan.
Awal Maret 2010
Sore
mulai merunduk, mengalahkan malam dalam tarian angin yang makin kencang,
membuat dingin. Seorang gadis duduk dihalte pemberhentian dengan mata sembab,
wajah lusuh penuh keringat yang membanjir mebuat rambut-rambut kecil didahinya
menari mengikuti irama laju tetesan yang tengah membanjir. Setelah beberapa
detik yang lalu semua mata memandangnya. Ia mendekap dalam kerumunan, ia hampir
jatuh pingsan di pinggir jalan. Saat sebuah mobil jeep berwarna biru tua
berhenti di pemberhentian bus, tak lama dua orang lelaki merusaha menurunkan
gadis itu dengan paksa ditengah jalan. Hingga gadis tersebut terjatuh, dengan
wajah pucat, dan dengan tatapan lusuh ia memandang sekitar. Ia baru sadar bahwa
ia kini berada di tempat pemberhentian bus, dengan tatapan orang-orang yang tak
berhenti menyorot. Namun ia tetap diam, tak sedikitpun ia menjawab pertanyaan
orang yang terlontar padanya. Gadis itu tetap menangis, ia sadar kini ia jadi
pusat perhatian, namun itu tak sanggup membuat air matanya terhenti. Wajahnya
tertunduk dari tadi membuat rambutnya berjatuhan kebawah, terdengar ia mendesah
panjang suara tangisannya semakin serak, gadis itu perlahan mengangkat pandangannya,
wajah lusuh seperti gembel, wajah itu adalah wajah Lena.
Tak lama
berselang saat mata Lena mulai ingin tertutup, hari yang makin gelap membuatnya
ingin istirahat sejenak, ia masih duduk di halte sebab ia sudah capai
melangkah, namun sorot lampu mobil membuatnya menggidik, sebuah mobil yang ia
kenal berhenti di depannya, ia menangkap bayangan dua orang melangkah
mendekatinya dengan tergopoh-gopoh. Tubuh Lena yang sudah lemah tak mungkin
lari, meski batinnya memerintah kannya untuk lari. Dua orang itu kini membopong
Lena masuk ke dalam mobil. ‘’Alhamdulillah Lena, kami sekarang kami menemukan
mu …!!’’ Lirih, umi sambil mengecup kening Lena.
Awal Maret 2010
Lena apa
yang terjadi dengan mu Lena ! tolong buka pintunya nak umi mau bicara !!
ceritakan pada umi kalau kamu punya masalah, umi ini adalah ibu kamu nak ! umi
ngak akan marah sama Lena, umi sayang sama Lena ‘’ suara itu makin menggiang di
balik pintu kamar Lena. Lena sebenarnya mendengar dan membuka pintu, ia sudah
rindu ingin memeluk umi sekuat kuatnya. Namun kini ia hanya duduk di tepian
kamar tidurnya. Ia terus menangis. ‘’maafkan Lena umi !’’ sebenarnya ia ingin
bercerita persis seperti saat ia kecil dulu, saat teman-teman kecilnya
mengganggunya, ia segera mengadu pada umi untuk menumpahkan segala kesahnya.
Dan sekarang ia ingin hal itu tergelar kembali antara ia dengan umi. Namun ia
mendesah dalam. Ia tak sanggup menceritakan apa yang telah menimpanya. Luka itu
terlalu perih dan menyayat untuk ia ingat-ingat lagi, untuk mengingat wajah lelaki
busuk seperti David dan teman-temannya, ia tak akan sanggup untuk membuat
uminya terluka. Karena ia sendiri kini telah terluka parah. Luka yang tal
mungkin ia obati. Dengan menceritakan semuanya pada umi.
Akhir Maret, 2010
Malam
datang menjelang, bintang berserakan diatas langit di tepian laut. Lena berlari
dengan kaki telanjang, kedua sepatunya entah kemana, ia juga berteriak sekuat
tenaga, mengadu pada angin dan ombak yang kini menggulung berkejaran ditengah
laut. tenggelam dalam laut yang tak mungkin dsanggup menyucikannya lagi. Lena
kabur dari rumah. Ini yang tebaik menurutnya, ia tak ingin membuat umi dan
abahnya sedih dan malu. Lebih baik ia mengakhiri semuanya disini. Ia terus
menangis sambil mengingat semua masalalunya saat ia di pesantren, masa yang
sangat indah, ini kini menyesal, namun semuanya terlambat, lukanya terlanjur
membuatnya sakit yang tidak hanya di tanggungnya sendiri. Ia ingat akan
teman-temannya yang selalu memujanya dan mengucapkan betapa beruntung dirinya.
Membuatnya menangis sambil mengingat masa lalunya. Lamunannya yang panjang.
Ia mulai
melangkah ke laut ia ingin mengubur dirinya dalam air, biar monster laut atau
ikan-ikan memangsanya, walau mungkin ia tak yakin makhluk lain akan
menyentuhnya walau sedikit. Ia begitu merasa terhina. Ia terus membulatkan
tekadnya, terus melangkah menceburkan diri ke tenagah laut hingga nafasnya
tiada berhembus lagi . Hingga subuah suara yng tak asing memanggilnya dan
menarik tangannya ketepian. Ia mengangkap lelaki itu dengan wajah sayu, wajah
Amir yang menyadarkannya. Bahwa bunuh diri adalah hal tergila yang dilakukan
oleh manusia saat dirundung masalah, bunuh diri adalah hal yang paling dibenci
Alloh. Hingga Lena mengerti itu semua. ‘’lena apakah kau masih ingat’’ pelan
suara Amir membuat Lena sedikit tersadar. Ia mendengar amir membisikinya pelan
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah s.a.w.
bersabda,
"Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
"Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu berdoa kepada-Ku dan
mengharapkan-Ku maka Aku akan mengampunimu atas semua dosa yang kamu lakukan,
dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, andaikata dosa-dosamu itu sampai ke
puncak langit kemudian kamu meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni dan
Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa
yang besamya seisi bumi seluruhnya, kemudian datang menemui-Ku dan tidak
menyekutukan Aku dengan yang lain niscaya Aku akan datang kepadamu dengan
ampunan yang besamya seisi bumi seluruhnya."
Awal januari, 2013
Lena tersenyum, kerudung putihnya
kembali berkibar, takbir betalu-talu menyuarakan kemenangan, di malam lebaran.
ia mendesah dalam hati seraya bersyukur penuh puji ramadhan telah berlalu, lalu
ia mencium mushaf Al Qur’an yang baru saja ia baca, mata beningnya kini menatap
wajah yang tengah lelah yang tertidur pulas duatas kasur kamarnya, wajah sayu
yang hanya dimiliki Amir, malam itu begitu indah, diluar jendela ia menangkap
bintang bertabur, kemudia ia kembali menatap wajah amir, wajah suaminya yang
kini sangat ia cintai. Memastikan ia tertidur pulas. Kemudian ia juga memandang
wajah kecil yang tertidur pulas tak jauh di ranjang kecil disisi tempat
tidurnya. Wajah putra kecilnya yang kini ia miliki,
wajah
putih yang lebih mirip lelaki bule.
* Mkd Aan's
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar