Minggu, 27 April 2014

Tangisan Lena

Akhir Maret, 2012   
Malam terus berlanjut, namun Lena tetap menangis, malah tangisannya makin-menjadi. Semakin serak dan merdu. Air matanya mungkin telah habis. Namun, tidak! Air matanya tak akan habis soalnya ia menangis dari subuh, rambut panjangnya terurai, berkibar-kibar di tiup angin sore. Kalbunya mungkin telah hilang, atau rasa letih yang bersarang belum lama ini di dalam  raganya sudah hilang. Tidak lagi ! mungkin kini akalnya yang telah hilang. Tercabik cabik seperti gaun putihnya yang kini telah lusuh penuh lumpur. Ia menatap cahaya jingga yang kini mulai hilang dengan air mata menggumpal yang masih  menggantung dikelopak matanya. Angin sore yang berhembus sejuk malah membuatnya makin terseduh, sakit. Sekali lagi air mata menetes. Mungkin ini yang terakhir. Tapi tidak ! Ingatannya masih lekat. Belum hilang dari hati yang kini benar-benar perih.
5 November, 2009                                                                                                    
            Lena, melangkah turun dari dalam mobil cantik merah yang baru kemarin menjemputnya dari bandara. Senyumnya tak terhenti saat beberapa orang santriwati menyapanya beramai-ramai menghampirinya
''beruntung jadi kamu lena ! cantik, pintar, suaramu merdu, baik lagi ! siapa sih yang tak tertarik denganmu. Cuma oarang buta kali yang tak mau dengan Lena. Sungguh beruntung sekali laki-laki yang dapat menarik cintamu Lena '' beberapa orang santiwati menggoda Lena '' Lena tersenyum bangga. Bibir merah jambunya gemetar.
Lena hanya tersenyum lagi, kemudian menunduk. Ia tak berucap sepatah dua patah kata apapun
''Wah hebat yach kamu Lena, coba kami semua seperti kamu. Pasti pondok pesantren ini bangga sekali, udah cerdas, suaranya merdu, cantik lagi, aduh kami semua jadi ikut bangga lho'' ucah seorang santriwati yang lain.
''kapan yach kami bisa sukses seperti kamu, mbak lena? Sekali lagi pujian datang mengguyur hati lena. Mereka berebut satu-peratu memberi ucapan selamat kepada Lena. Kini Lena benar-benar seperti merak khayangan yang berada diatas awan
''udah dulu yach temen-temen, entar  aja dilanjutin ucapan selamatnya, sepertinya Lena sudah capek di perjalanan tadi'' ucap mbak Astuti, guru pembimbing Qiroat Lena. Ia menunduk pelan, kerudungnya berkibar-kibar tertiup angin. Tak lama kemudian segerombolan santriwati datang mengahampiri Lena. Seumapama  merak diantara pipit-pipit sawah Lena tersenyum banggga.
 ''Lena ! kami dengar kamu dapat juara terbaik kedua nasional yang untuk Qiroat katagori putri ‘’ ucap saeorang lelaki yang sangat ia kenal sahabat kecilnya yang kini jadi salah satu pengurus di pondoknya, namun ia malah mencibir. Ia membuang muka. Ia tahu lelaki itu menyukai dirinya, seperti yang dilontarkan Amir, nama lelaki itu, untuk melamarnya sebagai calon istri. Namun Lena tak ingin itu terjadi, ia tak menyukai Amir, sedikitpun. 
3 November, 2009
            Pagi yang sama sekali ia tak pernah sangka muncul dibalik dedaunan. tak disangka dimana, pemuda tersebut datang
''Halo nama saya David !'' sapa seorang pemuda seraya menjulurkan tangan putih bulenya pada Lena. Lena hanya menjawab dengan menunduk. Ia pun menjulurkan tangannya tanpa sedikitpun bersentuhan. ''nama saya Lena, Nur Maliana'' lena menyebutkan nama panjangnya. ''kamu peserta qiroat pemenang juara pertama bukan ? senang bisa kenalan dengan kamu'' ucap pemuda itu santun. Diam-diam ada cahaya dalam pandangan Lena pada David.
''sorry yach ! pesawatku sebentar lagi berangkat aku harus cepet-cepet take out kalo enggak aku kita bisa ketinggalan'' seru Lena saat ia menatap Mbak Astuti yang datang menghampirinya'' ia melangkah mundur menuju Mbak Astuti.
''kapan kita bisa ketemu lagi?'' ucap Daviv, senyum sunggingnya merekah. ''ini nomorku kamu bisa hubungi aku didisini!'' Lena menjulurkan kartu namanya pada David. ia menghilang pergi bersama Astuti.
''Tak kusangka sejumput pertanyaan tak henti-henti mendera dalam hatiku tepat ketika aku mengenalmu. Ingin rasanya aku kubur rasa yang baru saja mengganggu detik-detikku ini, tapi tak kuasa ! lidahku kelu, kakiku seakan lumpuh, tanganku seakan terpisah dari syarafnya,tubuhku seakan telah membeku. Itulah kini masalah  terberatku.

‘’Bayang-bayang wajahmu selalu hadir, tak siang, tak malam, pagi, sore, sampai aku tak dapat memikirkan hidupku sendiri. Entah bagaimana lagi harus kukatakan padamu. Karena hal itu terjadi setelah kita pertama bertemu''
                                                salam david' yang memujamu slalu....
Lena melambung keangkasa dipeluknya erat-erat handphone yang baru saja ia aktifkan dari pesan yang baru saja ia terima, fikirannya melayang kelangit tujuh. Ada rasa yang tiba-tiba membuat Lena seakar bergetar, ia meresa begitu dekat dengan David mungkin sama sepeti yang tengah David rasakan saat ini kepadanya. Bukan cuma iti David juga akhir-akhir ini sering membuat Lena tak konsentrasi dalam  pelajaran, Lena serimg ngelamun, sering ketawa sendirian, seperti orang kesambet makhluk halus disiang bolong. Setidaknya begitulah yang dituturkan oleh santriwati lain  semenjak Lena baru datang dari lomba. Lena menatap handphonenya lagi, banyak pesan baru yang belum ia baca bermunculan. David, David, David, Umi .. Ia segera membuka pesan dari rumah.

''Lena, liburan ini segera pulang kerumah yach nak!,  umi udah menyiapkan makanan kesukaan kamu, bebek goreng saus putu ijo, pokoknya umi bikin ini spesial buat kamu, buat ngerayain prestasi kamu yang membuat umi dan abah bangga, ingat cepat pulang yah neng !! Abah dan umi udah kangen berat sama kamu.''
                                             Abah dan umi dirumah sayang Lena
Awal Januari, 2010
''pokoknya Lena mau berheti mondok, titik !! '' Brakk.. !!’’ suara pintu terbanting. keras, seorang Lena memberontak, ia menyandarkan tubuhnya dibelakang pintu kamar, pikirannya kini telah ia bulatkan, tekatnya juga ia telah bangun. keputusannya telah akhir, ia akan berhenti mondok. Entah makhluk apa yang kini menyeruak masuk dalam angan Lena hingga ia mengambil keputusan yang paling berat, menentang abah dan uminya, wajah lembut putihnya makin merona kala air matanya lewat dipipi.
''tapi Lena, abah dan umi masih bisa membiayai kamu sampai kamu lulus nanti, kamu boleh minta apa saja nak asalkan kamu berubah pikran, umi sayang kamu Lena...'' suara parau menggema dari balik pintu kamar Lena, namun Lena tetap diam. Sebenarnya hatinya menangis tak tega, namun keinginannya telah membatu seperti batu cadas. semakin  kokoh sasat badai salju datang, ''pokoknya Lena mau berhenti mondok..'' ucapnya lirih..
''Lena kamu boleh minta apa saja yang kamu inginkan abah akan memenuhinya Lena'' ucap abah membujuk dibalik pintu yang tak  henti masih terketok dari tapi, ''Lena dengarkan abah, Lena. abah dan umi sayang sama kamu.. melebihi diri abah sendiri Lena. Karena kamu anak satu-satunya yang abah dan umi punya...''
''pokoknya ini keputusan Lena, kalo abah tak mengijinkan Lena maka Lena akan pergi dari rumah ini dan kalau abah memang sayang sama Lena biarkan Lena memilih jalan lena sendiri bah !!'' suasana jadi hening. Hanya tangis lena yang msih sesekali senggugukan.
''Lena jangan bilang begitu sayang, demi kebahagiaanmu nak umi akan turuti kemauanmu nak, yach kan abah..??'' suara parau umi menyakinkan abah agar menyetujui kemauan Lena. 
''Ia Lena abah turuti kemauanmu nak, sekarang Lena buka pintu ya nak..!!''  tak lam pintu terbuka, Lena mengusap air matanya hingga kering, umi menghampiri  mengusap kerudung putih lena yang basah, mereka berpelukan suasana hening.
''umi, abah... Lena sebentar lagi akan jadi penyanyi...'' ucap Lena lirih di peluikan pundak uminya....
Akhir januari 2010
            Beberapa hari berlalu .''Lena ! kapan kamu mau berangkat, aku tak punya banyak waktu di Indonesia, soalnya sebentar lagi aku mau balik ke Ausi. Kalau kita dapat bertemu dalam waktu dekat  aku pasti bisa langsung ngorbitin kamu jadi penyanyi yang bagus, soalnya suara kamu itu sudah sangat cantik. Secantik dirimu yang slalu kupuja dan kudamba''  perkataan David membuat perasaan Lena kembang kempis, pandangannya menunduk ia semakin merona mendengar pujian dari David.
''David, aku usahakan besok akan datang ketempatmu, tapi sebenarnya aku sangat ragu. sebab kita kan bukan muhrim, lagi pula aku belum pernah keluar rumah. apalagi untuk bertemu dengan lawan jenis'' ucap Lena setengah berbisik
''apakah kamu masih ragu sengan keseriusan ku ini Lena, aku sungguh-sungguh ingin mengorbitkan kamu jadi seorang penyanyi yang tenar, kalau perlu dan kamu mau aku bisa datang kerumahmu sekarang dan segera memintamu, atau kalau perlu kita kawin hari ini juga kalau perlu'' ucap David mantap.
''Tak usah berlebihan, aku percaya sama kamu, seratus persen..'' ucap Lena ragu akan kata-kata yang baru saja keluar dari bibir merah jambunya.
Awal pebruari 2010
Hujan turun menyerupai kabut-kabut kecil yang berhamburan dibawa angin. Dingin jatuh menghantam kawanan jalan yang baru saja bermain-main dipucuk-pucuk cemara, Seorang wanita ramping mengenakan gaun hitam tergesa-gesa masuk kedalam sebuah mobil.
Rambutnya terurai sedikit basah. ujung-ujung gaunnya juga basah terciprat tetesan hujan yang baru saja hinggap ketanah namun terinjak langkah kakinya yang setengah berlari. Tak lama kemudian mobil jaguar silver tersebut melaju kencang menembus air hujan yang tengah mengguyur deras, tak lain perempuan tersebut adalah Lena ia meninggalkan rumah sembunyi-sembunyi, sementara gorden kamar nya basah, ia lupa menutup jendela kamarnya saat ia pergi kabur, secarik kertas putih diatas meja belajarnya yang baru tadi malam ia tulis juga ikut basah. Karena hujan pagi itu deras, sangat deras.

'' Abah, Umi yang sangat Lena cintai. sayangi dan Lena sangat hormati, maafkan Lena, telah meninggalkan
abah dan umi tanpa pamit karna tau abah dan umi sangat tidak menginginkan Lena pergi dari rumah untuk
mengejar mimpi-mimpi Lena jadi penyanyi terkenal,
maka Lena putuskan untuk pergi dari rumah ini, Lena yakin ini keputusan yang terbaik buat Lena ambil,
sayangkan, abah dan umi bila bakat yang lena punya tidak Lena
gunakan ? sedangkan banyak sekali diluar sana orang yang
ingin mempunyai bakat seperti yang Lena miliki saat ini,
akan Lena buktikan pada abah dan umi kalau Lena bisa meraih apa yang Lena inginkan didunia ini..
salam sayang selalu ....                 
                                                                                                              ''Lena, anak kalian.

beberapa tangis pecah bersama hujan yang terus mengguyur bumi. mata yang tak dapat lagi membendung sedih yang kini menyulut hati kecil Umi dan Abah Lena.

Pertengahan Pebruari 2010
            ‘’Umi sudah jangan menangis terus !! nanti sakit umi tambah parah, kalau umi begini terus abah yang paling seding. Mi.. umi yakinlah pada kata-kata abah bahwa anak kita akan baik-baik saja. Kita serahkan saja semuanya sama gusti Alloh, agar anak kita Lena selalu dalam lindungan Nya’’ Abah menatap bahu umi sembari menyodorkan sendok yang berisi makanan ke hadapan umi. ‘’abah ngak ngerti perasaan umi, umi yang paling mengerti anak umi bah, karena umi yang mengandung dan menyusuinya selama bertahun tahun. Umi takut terjadi apa-apa dengan Lena bah. Abah pun ngak mengerti dengan perasaan seorang ibu’’ umi melemparkan sendok yang berusaha abah sodorkan, hingga jatuh. ‘’sudah lah umi, Lena anak abah juga, kalau tak ada abah, Lena tak akan ada’’ ucap abah dengan nada agak meninggi, ‘’abah …!!’’ umi menatap wajah abah, air mata umi masih bertahan di kelopak matanya.
‘’maafkan abah umi, abah tak bermaksud membentak umi, maafkan abah mi !!’’ ucap abah dengan sorot mata memohon, keduanya larut dalam pelukan.
Awal Maret 2010
Sore mulai merunduk, mengalahkan malam dalam tarian angin yang makin kencang, membuat dingin. Seorang gadis duduk dihalte pemberhentian dengan mata sembab, wajah lusuh penuh keringat yang membanjir mebuat rambut-rambut kecil didahinya menari mengikuti irama laju tetesan yang tengah membanjir. Setelah beberapa detik yang lalu semua mata memandangnya. Ia mendekap dalam kerumunan, ia hampir jatuh pingsan di pinggir jalan. Saat sebuah mobil jeep berwarna biru tua berhenti di pemberhentian bus, tak lama dua orang lelaki merusaha menurunkan gadis itu dengan paksa ditengah jalan. Hingga gadis tersebut terjatuh, dengan wajah pucat, dan dengan tatapan lusuh ia memandang sekitar. Ia baru sadar bahwa ia kini berada di tempat pemberhentian bus, dengan tatapan orang-orang yang tak berhenti menyorot. Namun ia tetap diam, tak sedikitpun ia menjawab pertanyaan orang yang terlontar padanya. Gadis itu tetap menangis, ia sadar kini ia jadi pusat perhatian, namun itu tak sanggup membuat air matanya terhenti. Wajahnya tertunduk dari tadi membuat rambutnya berjatuhan kebawah, terdengar ia mendesah panjang suara tangisannya semakin serak, gadis itu perlahan mengangkat pandangannya, wajah lusuh seperti gembel, wajah itu adalah wajah Lena.
Tak lama berselang saat mata Lena mulai ingin tertutup, hari yang makin gelap membuatnya ingin istirahat sejenak, ia masih duduk di halte sebab ia sudah capai melangkah, namun sorot lampu mobil membuatnya menggidik, sebuah mobil yang ia kenal berhenti di depannya, ia menangkap bayangan dua orang melangkah mendekatinya dengan tergopoh-gopoh. Tubuh Lena yang sudah lemah tak mungkin lari, meski batinnya memerintah kannya untuk lari. Dua orang itu kini membopong Lena masuk ke dalam mobil. ‘’Alhamdulillah Lena, kami sekarang kami menemukan mu …!!’’ Lirih, umi sambil mengecup kening Lena.

Awal Maret 2010
Lena apa yang terjadi dengan mu Lena ! tolong buka pintunya nak umi mau bicara !! ceritakan pada umi kalau kamu punya masalah, umi ini adalah ibu kamu nak ! umi ngak akan marah sama Lena, umi sayang sama Lena ‘’ suara itu makin menggiang di balik pintu kamar Lena. Lena sebenarnya mendengar dan membuka pintu, ia sudah rindu ingin memeluk umi sekuat kuatnya. Namun kini ia hanya duduk di tepian kamar tidurnya. Ia terus menangis. ‘’maafkan Lena umi !’’ sebenarnya ia ingin bercerita persis seperti saat ia kecil dulu, saat teman-teman kecilnya mengganggunya, ia segera mengadu pada umi untuk menumpahkan segala kesahnya. Dan sekarang ia ingin hal itu tergelar kembali antara ia dengan umi. Namun ia mendesah dalam. Ia tak sanggup menceritakan apa yang telah menimpanya. Luka itu terlalu perih dan menyayat untuk ia ingat-ingat lagi, untuk mengingat wajah lelaki busuk seperti David dan teman-temannya, ia tak akan sanggup untuk membuat uminya terluka. Karena ia sendiri kini telah terluka parah. Luka yang tal mungkin ia obati. Dengan menceritakan semuanya pada umi.

Akhir Maret, 2010
            Malam datang menjelang, bintang berserakan diatas langit di tepian laut. Lena berlari dengan kaki telanjang, kedua sepatunya entah kemana, ia juga berteriak sekuat tenaga, mengadu pada angin dan ombak yang kini menggulung berkejaran ditengah laut. tenggelam dalam laut yang tak mungkin dsanggup menyucikannya lagi. Lena kabur dari rumah. Ini yang tebaik menurutnya, ia tak ingin membuat umi dan abahnya sedih dan malu. Lebih baik ia mengakhiri semuanya disini. Ia terus menangis sambil mengingat semua masalalunya saat ia di pesantren, masa yang sangat indah, ini kini menyesal, namun semuanya terlambat, lukanya terlanjur membuatnya sakit yang tidak hanya di tanggungnya sendiri. Ia ingat akan teman-temannya yang selalu memujanya dan mengucapkan betapa beruntung dirinya. Membuatnya menangis sambil mengingat masa lalunya. Lamunannya yang panjang.

Ia mulai melangkah ke laut ia ingin mengubur dirinya dalam air, biar monster laut atau ikan-ikan memangsanya, walau mungkin ia tak yakin makhluk lain akan menyentuhnya walau sedikit. Ia begitu merasa terhina. Ia terus membulatkan tekadnya, terus melangkah menceburkan diri ke tenagah laut hingga nafasnya tiada berhembus lagi . Hingga subuah suara yng tak asing memanggilnya dan menarik tangannya ketepian. Ia mengangkap lelaki itu dengan wajah sayu, wajah Amir yang menyadarkannya. Bahwa bunuh diri adalah hal tergila yang dilakukan oleh manusia saat dirundung masalah, bunuh diri adalah hal yang paling dibenci Alloh. Hingga Lena mengerti itu semua. ‘’lena apakah kau masih ingat’’ pelan suara Amir membuat Lena sedikit tersadar. Ia mendengar amir membisikinya pelan
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah s.a.w. bersabda,
"Allah Yang Maha Tinggi berfirman: "Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu berdoa kepada-Ku dan mengharapkan-Ku maka Aku akan mengampunimu atas semua dosa yang kamu lakukan, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, andaikata dosa-dosamu itu sampai ke puncak langit kemudian kamu meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa yang besamya seisi bumi seluruhnya, kemudian datang menemui-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan yang lain niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan yang besamya seisi bumi seluruhnya."

Awal januari, 2013
            Lena tersenyum, kerudung putihnya kembali berkibar, takbir betalu-talu menyuarakan kemenangan, di malam lebaran. ia mendesah dalam hati seraya bersyukur penuh puji ramadhan telah berlalu, lalu ia mencium mushaf Al Qur’an yang baru saja ia baca, mata beningnya kini menatap wajah yang tengah lelah yang tertidur pulas duatas kasur kamarnya, wajah sayu yang hanya dimiliki Amir, malam itu begitu indah, diluar jendela ia menangkap bintang bertabur, kemudia ia kembali menatap wajah amir, wajah suaminya yang kini sangat ia cintai. Memastikan ia tertidur pulas. Kemudian ia juga memandang wajah kecil yang tertidur pulas tak jauh di ranjang kecil disisi tempat tidurnya. Wajah putra kecilnya yang kini ia miliki,
wajah putih yang lebih mirip lelaki bule.

* Mkd Aan's

2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar