kita
bisa mengobati jiwa kita dengan doa.
Janganlah
engkau berputus asa manakala
kecemasan
yang menggenggam jiwa menimpa
Saat
paling dekat dengan jalan keluar adalah
ketika
telah terbentur pada putus asa."¹*
‘’Apa kamu yakin akan hal itu ?’’ pertanyaan
itu terlontar begitu saja saat Sulaiman menangkap wajah Salwa bersedih, pagi
ini wajah Salwa sedih lagi, seperti hari-hari sebelumnya. Pagi itu berlangsung
sunyi, tak ada kata yang terlontar diantara keduanya, walau sedikit. Decit
burung perling kecil diatas pepohonan saja yang tak enggan berbunyi.
Batang-batang daun teh meliuk-liuk kompak diserbu angin nakal, begitu pula
angin yang menarik-narik ujung rambutnya.
`‘’Salwa, kamu masih dengar aku ?’’ Sulaiman
melanjutkan perkataanya. Salwa hanya menganguk pelan.
‘’Jadi, kamu merasa lebih baik sekarang ?’’
Tanya Sulaiman, sambil menahan pandangannya.
Kini
jawaban Salwa hanya menggeleng, tanpa membuka bibir tipisnya. Sulaiman terus
mendesah menangkap tingkah Salwa yang tak ia mengerti.
‘’Ayolah Salwa kalau kamu begini
terus-terusan kasihan Bunda dan ayahmu.’’ Kini salwa menatapnya dengan sorotan
tajam, nafas beratnya jatuh terengah-engah.
‘’Akh …!!’’ jeritnya, berlalu ia pergi meninggalkan
Sulaiman yang masih diam termangu, diantara deretan larit-larit teh tubuhnya
menghilang.
‘’Apa yang sebenarnya terjadi padamu
Salwa ? bukankah seminggu yang lalu kamu baik-baik saja ? apa ada yang salah
dengan perkataanku yang menyinggungmu, atau apapun itu, katakan Salwa. Jangan
pernah buat aku cemas. Kamu tahu ? aku yang bertanggung jawab penuh atas apa
yang menimpamu. Setelah kematian kak Andara, aku yang berjanji untuk menemani
kamu hingga kamu sembuh, itu janji ku pada kak Andara. Salwa, kalau ada yang
salah dari ku aku minta maaf !! rintih Sulaiman. Suara yang ia keluarkan makin
parau. Mencoba menyelami lautan hati Salwa yang kini tengah beku.
‘’Jawab Salwa ! apa salah ku ? kalau kamu
begini terus kapan kamu bisa sembuh, Salwa, kamu dengar aku ..??’’ suara
Sulaiman makin meninggi ia tak tahu lagi apa yang akan ia lakukan sekarang.
Sedang wanita itu kini menangis, wajahnya
sembab. Dengan sangat terpaksa ia mematikan percakapan lewat telepon tersebut.
‘’Halo…Salwa.. halo…’’ ucap lelaki diseberang sana.
‘’Tut…tuutt..tut…!!’’ handphone Salwa kini
terjatuh, bersamaan dengan air matanya. Ia menerawang, mencoba mencari kemana
jatuh benda yang tadi dijatuhkannya.
‘’Sulaiman, maafkan aku, ini semua aku
lakukan karena aku tak ingin kehilangan kamu. Jawabnya lirik. Tubuhnya merosot
dari dinding tembok kamarnya. Kemudian tersungkur. Ia terus mencari-cari benda
itu, ia berfikir ia takut terlambat mengatakan semuanya pada Sulaiman, ia tak
ingin Sulaiman meninggalkannya secepat ini. Masuk dalam kehidupan Salwa,
kemudian menyemai bunga-bunga kasih, ia takut semua itu terlumat keegoisannya,
sebetulnya ia tak ingin Sulaiman pergi. Merasa menyesal sebenarnya ia
memutuskan percakapan tadi. Kini ia mencari namun semuanya makin gelap. Ia tak
dapat melihat apa-apa. Dunia memang kini gelap baginya.
Ia ingat betul kejadian yang menimpanya
sebulan yang lalu, saat ia bersama Andara berada dalam mobil menuju rumahnya.
Andara adalah tunangan Salwa. Dalam mobil mereka bertengkar, pertengkaran yang
menyebabkan mereka berdua tabrakan. Tak di duga seorang pengendara sepeda motor
melaju didepannya dengan laju cepat, membuat Andara kehilangan kendali. Dan
membanting setir hingga mengenai truk gandeng yang sedang mangkir di pinggir
jalan. Hal itu menyebabkan nyawa Andara tak dapat tertolong. Dan menyebabkan
penglihatan Salwa tak dapat digunakan lagi, ia mengalami kebutaan. Hingga ia
tak dapat lagi melihat dengan jelas dunia yang geperlap, kini semuanya hanya
gelap yang ia temukan, hanya gelap yang ia rasakan.
Sedangkan Sulaiman, mungkin ialah malaikat
yang di kirim tuhan untuk menemani hidupnya yang kini sering di serang rasa
takut. Sulaiman datang menggantikan sosok Andara yang telah pergi untuk
selamanya. Tepatnya dipemakaman Andara ia mendengar sapuan sapa Sulaiman yang
kemudian menyeka habis air matanya. Di saat Salwa membutuhkan seseorang yang
membuatnya tenang. Walau Sulaiman datang saat Salwa kehilangan penglihatan,
walau Salwa tak pernah tahu wajah Sulaiman, tapi entah mengapa ia merasakan
sosok Andara yang perhatian dalam diri
Sulaiman. Hingga perasaan itu kini tumbuh entah sejak kapan.
Namun kini semuanya membuat Salwa
menghembuskan nafasnya resah, ia takut kehilangan Sulaiman. Entah mengapa sosok
Sulaiman kini sangat berarti. Ia tak bohong, ia memang buta tapi ia tak tuli,
pendengarannya masih jelas sempurna. Jelas ia dengar saat ia menghampiri
langkah Sulaiman di balik belukar di perkebunan teh jelas sekali ayah Sulaiman
datang dari kota untuk menjemput Sulaiman. Hingga ia melangkah gontai seumpama
rerumputan kering, dalam gelap.
Jelas sekali kata-kata ayah Sulaiman tergiang
ditelinganya, hingga ia menjerit dalam sunyi, bahkan ia sempat membenci, dan
mengutuk entah pada siapa, hatinya hanya bisa menggigil dipenuhi rasa takut,
padahal matahari bersinar amat terik. Ia benar-benar takut hal itu terjadi
padanya lagi. Kehilangan orang yang paling ia sayang. Walau ia tahu tak ada
ikatan yang mengikat diantara keduanya, bahkan ucapan pun tak ada, hanya saja
hati itu seakan tak dapat terpisah, mungkin Sulaiman hanya sebatas mengasihinya
karena ingin menebus kesalahan Andara yang membuat ia kehilangan
penglihatannya. Meski ini semua bukanlah sepenuhnya salah Andara, ini semua
hanyalah sebuah jalan takdir yang sudah sepatutnya bergulir. Apa salah kalau
Salwa mengharap selalu ingin ditemani sosok Sulaiman dalam kebutaanya. Kini ia
masih mengisak, tangis yang sepenuhnya miliknya, yang tak mampu ia tahan.
‘’Kapan kamu akan pergi ?’’ Salwa
menggerakkan bibirnya pelan, ia membuka percakapan diantara keduanya diantara rerimbun hijau batang-batang teh.
Sulaiman lantas memandang wajah Salwa, yang kini duduk di sampingnya.
‘’Apa maksudmu ??’’ matanya menerawang jauh
kelangit biru, ia tak sanggup memandang lama-lama wajah Salwa, karena ia tau
sebentar lagi, ia akan ikut terlarut dalam tangis. Seperti saat dulu, saat
mereka berdua ziarah ke pemakaman kakaknya.
Sulaiman masih berfikir keras untuk menjawab
pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Salwa. Sedang Salwa tetap
terdiam, ia tak menginginkan sesuatu keluar dari dalam bibirnya.
Maafkan aku Salwa, aku tak tahu apa yang
harus aku lakukan sekarang, aku bingung Salwa, kamu tahu aku tak mau
meninggalkan kamu saat kamu masih rapuh, seperti saat sekarang ini, aku tak
bisa. Jangan paksa aku’’ ucapnya lirih, butiran airmata tepaksa terjatuh. Salwa
kini makin terdiam.
‘’Maafkan aku juga ! Aku sebenarnya tak
pantas menahanmu seperti ini. Aku tak pantas membiarkan kamu terus-terusan
berusaha membuatku sembuh, hal yang tak mungkin terjadi, atas semua yang tak
ada sangkut pautnya sama sekali denganmu, Sulaiman kamu boleh pergi kemanapun
kamu mau, aku tak berhak menahanmu seperti ini’’ suara Salwa makin serak. kini
Sulaiman balik menatapnya nanar.
‘’kamu masih berfikir aku akan meninggalkanmu
sendirian ? tidak Salwa !’’ ia berusaha menahan gejolak di dadanya.
‘’kamu masih mengira aku akan sendirian
Sulaiman ?’’ tukasnya pelan, kemudian melanjutkan perkataanya
‘’bukankah kamu yang datang untuk meyakinkan
aku, bahwa aku tak pernah akan sendirian, bukankah, Alloh yang tidak akan meninggalkan
Hambahnya, bukankah itu yang selalu kamu katakan padaku. Kamu menganjurkanku
agar selalu mengingat Alloh, kamu tahu Salwa ? segala sesuatu yang tidak
mengingat kan kita kepada Alloh itu adalah dunia, maka jauhilah ia, dan
ingatlah Alloh selalu agar ia selalu bersemi dan hidup di hatimu, bukankah itu
yang kau katakan selalu kepadaku’’ sekarang Sulaiman yang terdiam mendengar
perkataan Salwa, wajahnya ia biarkan tertunduk menangkap bayangan matahari
menerpa tubuh Salwa.
‘’kamu
harus tetap pergi Sulaiman, aku tak ingin menjadi beban bagi orang lain
terutama bagi mu, aku tak mau jadi parasit yang mengganggu tumbuhan inang yang
tak salah, ini adalah jalan hidup mu’’ Salwa menambahkan perkataannya
lagi.
‘’Salwa ! dengar aku, jangan pernah kamu
menganggap dirimu sebagai parasit, kamu justru mengajarkan aku agar selalu
tabah mengahdapi cobaan’’ Sulaiman meninggikan perkataannya, sambil menatap
wajah Salwa.
‘’Sulaiman ! kalau kamu masih menganggap aku
sebagai seseorang yang berarti, aku mohon kamu pergi, mengikuti kemauan ayahmu,
aku tahu jalanmu masih panjang, aku mohon… !’’ pinta Salwa wajahnya kini
mengembun.
‘’Terima kasih Salwa, aku pasti akan kembali.
Tapi ingatlah Salwa aku akan tetap di sini bersamamu, sampai kau sembuh, itu
janjiku’’ ucap Sualiman lirih. Dia antara gaung para pemetik teh, mereka
terenyak, diakhir prtemuan akhirnya mereka berdua memilih untuk diam.
Di suatu siang, Salwa merasakan punggungnya
beranjak dingin diantara pipit sore yang berlalu pergi, ia yakin telah menatap
wajah Sulaiman di depannya, Sulaiman datang tiba-tiba. Menghampiri Salwa yang
tengah duduk di halaman rumah.
‘’Salwa aku harus pergi sekarang, ada sesuatu
yang tak mampu aku ceritakan terhadapmu, aku mau kali ini kau mengerti, bahwa
aku akan benar-benar kembali, kembali padamu’’ suara Sulaiman menggiang
digendang telinga milIk Salwa. Hingga ia tercengang dan bibirnya tak dapat di
gerakkan sama sekali. Tubuhnya kaku, bahkan untuk mengatakan tidak saja ia tak
mampu, mulutnya seakan terkunci. Ia hanya menerawang wajah Sulaiman kala itu,
meski tak akan mampu ia lakukan.
‘’Salwa, mengapa kamu diam ? maafkan aku
Salwa !’’suara Sulaiman menghampir makin parau.
‘’Jika kau ingin pergi, mengapa kamu pergi
terlalu cepat Sulaiman, apa yang terjadi. Bukankah kepergian kamu masih beberapa
minggu lagi, mengapa kamu..’’ kata-katanya tercekat, Salwa menahan isak
tangisnya yang mulai sesak.
‘’Apakah kamu bersedih ? tersenyumlah Salwa
!!’’ pinta Sulaiman berusaha menghibur, kini ia menangkap wajah Salwa yang
tersenyum tipis walau sengaja ia paksa. Padahal matanya berair, bening.
‘’Termasuk tanda-tanda cinta, engkau akan
melihat apa yang dicinta adalah menuruti sang kekasih. Walau dengan langkah
yang terlalu jauh dan merasa terhina di antara orang-orang. Masih Nampak senyum
meskipun hatinya bersedih karena sang kekasih³* aku berikan sajadah ini
agar kamu ingat bahwa saat nanti kamu merindukan Nya kamu dapat menjumpai Nya
setiap waktu, karena Dia selalu menjagamu dan tak akan pernah tertidur’’ ucap Salwa sambil menahan isak tangisnya
yang mulai pecah, menyerahkan sebuah sajadah merah marun yang dari tadi ia
simpan dalam sebuah kotak coklat. Kemudian ia mulai berlari, membalikkan
tubuhnya yang lemah, ia mencoba melangkahkan kakinya walau pandangannya masih
saja gelap.
‘’Salwa aku pasti akan kembali untukmu !!’’
teriak Sulaiman saat ia menangkap bayangan tubuh Salwa yang mulai menjauh.
Masuk kedalam rumah. Ayah dan Bunda Salwa menatap mereka dari jauh.
Sudah beberapa pekan berlalu, Salwa terdiam
dalam sebuah kamar, ia memandang lepas ke arah jendela. Entah apa yang ia
tangkap. Padahal ia tak dapat melihat apa-apa, hatinya berkecambuk, rindu.
Entah pada siapa ia merindu. Pikirannya melayang jauh mengelana, hingga pintu
kamarnya terkuak, seseorang masuk ke dalam, ia merasakan kaki itu melangkah
maju, menghampirinya.
‘’Salwa, kami sudah menemukan donor mata untuk
mu, besok lusa kita bisa melakukan operasi, jika kamu setuju. Bunda sudah
menghubungi dokter terbaik untuk menenangani operasi mata kamu, lebih baik kamu
istirahat yang banyak, agar stamina kamu besok dapat maksimal menjalankan
operasi’’ suara umi terdengar lembut menghamiri telinga Salwa, ia menolehkan
badannya menuju asal suara. Seketika tangan itu langsung menyeka air matanya.
‘’Salwa, tidak butuh mata, Salwa sudah tak
butuh operasi lagi, semuanya telah pergi. Apalagi yang Salwa harapkan disini,
semuanya pergi meninggalkan Salwa. Salwa lebih baik begini seumur hidup'' Salwa
berteriak sejadinya.
Tangis
tertahan dalam gemuruh di dadanya. Bunda segera menghampirinya, dan memeluk
erat tubuhnya yang kini menggigil, jemari tangan bunda membelai rambutnya,
hingga tangisnya mereda.
''Salwa, istighfar Salwa ! kamu tak boleh
berkata seperti itu ! bunda dan ayah akan selalu didekat kamu. kami tak akan
meninggalkan kamu'' ucap bunda lirih. dan terdengar langkah kaki lagi di
belakangnya, papa menghampirinya.
''Salwa, kamu adalah satu-satu nya yang kami
punya di dunia. kami ingin kamu sembuh. untuk kebaikan kamu nak !'' ucap ayah
berusaha melunakkan hati Salwa. kini Salwa memandang kearah ayahnya. tangannya
mencari sosok yang membelakanginya itu, kemudian memeluk tubuh ayahnya. mereka
larut dalam tangis.
Beberapa hari berlalu. Salwa tertegun di
dalam ruang rumah sakit. Dokter menyarankan agar ia tenang setelah melakukan
operasi mata. Pekat yang merambat kini mulai menghilang, mentari berangsur
tinggi ke pusar langit. langkah kaki ayah dipercepat menghampiri, saat ia
menangkap sosok dokter yang menagani operasi Salwa keluar dari ruang operasi.
Ini adalah hari dimana perban yang membalut mata Salwa akan dibuka, hari yang
memastikan ia akan dapat melihat kembali atau tidak. Langkah bunda dan ayah.
semakin di percepat menuju ruang di mana Salwa di rawat. Saat Dokter Aditya
menatap mereka, kemudian masuk kembali ke dalam ruangan.
Salwa tengah duduk terpekur di atas kasur
putih ruang rumah sakit. Wajahnya tertunduk merapat ke bilik jendela. Hingga
dokter memanggilnya untuk segera melakukan pembukan perban. Perlahan perban
yang membalut itu terbuka, Semua mata kini tertuju pada salwa, gerak mama
melangkah menghampiri membelai-belai rambut panjangnya dari belakang.
‘’Salwa !
cobalah sekarang kamu buka matamu perlahan ! ucap dokter setelah selesai
membuka perban mata Salwa. Salwa kini mulai membuka matanya pelan. Ia menerawang
mencoba mencari dan gerak retina matanya. Perlahan ia merasakan matanya sudah
dapat menangkap bayangan yang ada di
hadapannya. Walau rabun. Ia mencoba menggerakkan gaya akomodasinya lagi. Kini
bayangan ayahnya jelas ia tangkap tersenyum padanya, bunda juga terlihat jelas
tengah berdiri disampingnya, dan dokter Aditia serta beberapa perawat yang
berada di ruangan tersebut. Perlahan Salwa mendesah, air matanya kini mulai
membasahi bola matanya, ia menangis dan memeluk erat bunda yang tak jauh
darinya.
‘’Bunda ! aku sudah bisa melihat ! ayah !
lihatkan sekarang Salwa sudah bisa menyentuh ayah dan bunda lagi’’ ucapnya
tersedu. Mempererat pelukan ayah bundanya, sambil terus menahan tangis. Namun,
tangisannya kini adalah tangis bahagia.
Beberapa bulan berlalu, tak ada yang berubah.
Diantara dedaunan teh yang memanjang menjulur disebuah larit panjang, Salwa
kadang masih suka menangis sendiri, kadang ia lari seperti diseret langkah
angin, kadang ia bersolawat mengikuti jejak burung-burung pagi, namun kini ada
yang berbeda dengan dirinya. Diantara reranting teh yang tumbuh sejajar, ada
kerudung panjangnya menyapa tangkai-tangkai patah. Ia terus berlari, tak tahan
menahan tangis.
Ia terus melangkah, tak peduli terik
mengusik. Ia tetap saja melangkahkan kakinya gontai diantara rumput-rumput yang
berjuntai panjang. Terik kini tengah mempermainkan kerudung putihnya terjebak
diantara kilau cahaya panjang, diiringi angin yang terus menerjang beriring. Ia
terus berlari. Ia memikirkan seseorang, tentang hatinya yang belum puas sebelum
ia mengetahui mengapa Sulaiman meninggalkannya secepat itu. Kepergian yang
menurutnya terlalu cepat. Bahkan sempat membuatnya berontak pada diri sendiri.
Salwa terus saja berlari di bawah terik yang
kadang membuatnya marah tak tentu, keringat keningnya berjatuhan diantara kebun
teh yang menjalur hijau. Langkah nya terhenti, menatap rumah yang kini ada
dihadapannya. Rumah berpagar hijau dipenuhi tanaman hias merambat. Ia mencari
seseorang di dalam rumah tersebut. Beberapa kali ia terlihat modar-mandir di
pintu pagar. Mencari seseorang yang dapat ia tanyai sesuatu. yang nantinya akan
memberinya kepastian yang tidak ia dapatkan sebelumnya. Hingga akhirnya ia
mulai lelah, dimana kelopak matanya tak menangkap sesosok apapun yang berjalan
dalam rumah. Bahkan rumah itu tampak kosong tak berpenghuni, hingga ia bingung,
ia tak menemukan apa-apa kecuali gersang yang kini tengah bersarang dalam
hatinya.
Ia
melangkah gusar, meninggalkan rumah itu dengan perasaan sedikit luka, keringat
yang menitik deras diantara kening dan hijabnya tak sedikit pun ia hiraukan. Ia
terus melangkah tak menghiraukan angin yang menyembul diantara kedua
telinganya.
‘’Nona, cari siapa ?’’ seseorang memanggil
dari belakang, hingga sempat ia menghentikan langkah nya dan menoleh ketempat
asal suara. Seorang pemetik teh bertopi lebar berjalan menghampirinya.
‘’Nona mencari seseorang ?‘’ tanyanya
mengembang lagi, pelan. Tatap mata Salwa masih kaku.
‘’Apa
ibu tahu kemana pemilik rumah itu ?’’ bibir salwa mengatup, sambil menunjuk rumah
berpagar biru yang hanya satu-satunya terdapat diantara kebun teh.
‘’Bukankah orangnya sudah lama pergi neng!’’
ucap wanita itu dengan nada pelan. Dahinya mengernyit menahan panas yang terik.
Sesekali jemarinya mengusap keringat yang membasah dari atas kepalanya.
‘’Bukankah pemuda itu pergi dan tak kembali
setelah ia mendengar ayahnya mengalami kecelakaan di kota. Bahkan perkebunan
yang ia tanangani saat itu pun di pindah alihkan pada orang lain. Ayah premuda
itu kalau tak salah namanya pak Arya’’ ucap wanita itu ringan. ‘’memang neng
ini siapa ?’’tanya wanita itu lagi.
Salwa tersentak kaget, ia tak menyangka apa
yang telah di dengarnya barusan. Ia menundukkan pandangannya dan berlari
tertatih. Tak tahu kemana ia akan berlari. Bola matanya tengah di penuhi hujan
yang sebentar lagi mungkin akan turun menghujam. Benar, ia menangis sejadinya
diantara perkebunan larik teh yang memanjang, ia tak peduli akan para pemetik
teh yang terus memperhatikan tingkahnya, mungkin ia akan terus berlari hingga
kakinya tak mampu lagi untuk digerakkan. Membawa langkahnya jauh dari tempat
kini berada. Ia tak sanggup, ingin sekali ia menyendiri, untuk menyembuhkan
lukanya yang menganga. Mungkin dengan dengan begitu ia akan merasa puas.
Hari telah menggelap ia merasakan sendinya
sudah tak kuat lagi melangkah, entah langkah yang keberapa, Akan membawa kemana
luka itu ia tak tahu. Entah ke kota atau kemana saja ia ingin. Ia merasa
bersalah akan semua perkataanya. Jelas ia mengutuk, saat ia tahu Sulaiman
diminta ayahnya menjauhi Salwa untuk melanjutkan pendidikannya. Ia menyesal,
karena itu ia menangis dan berlari sekuat tenaga. Mungkin dengan begitu ia akan
merasakan ketenangan.
Tapi tidak, ia terjatuh dalam larinya. Dan ia
terus saja menangis. Mengutuk dirinya sendiri.
‘’Istighfar Salwa’’ batinnya berkata, batin
yang paling dalam.
Ia terhenti dalam jatuhnya, tangisnya
terkubur diatas jalanan yang menurun, diantara pepohonan rindang dan deretan
daun teh.
‘’Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram tenteram²*ar-ra’d 28. Maka serahkan lah
semuanya pada Alloh. Sebab ia yang berkehendak, dan ia pula yang memutuskan,
manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga’’ kata-kata itu tergiang begitu saja
diantara bilik hatinya, kata yang pernah di ucapkan Sulaiman di suatu
kesempatan. Di antara larik teh.
Kini Salwa tertunduk, nafasnya
terengah-engah, pandangannya mengkabur dan berputar-putar. Ia tak kuat lagi melangkah. Sekuat tenaga ia
mencoba bangkit dari keterpurukannya. Ia menjerit, sebab pandangannya makin
mengkabur dan hilang. Seketika ia terjatuh lagi dan matanya tak menagkap
apa-apa. Hanya gelap yang tersisa.
Hujan mengguyur deras, awan berhambur,
bermain-main di atas langit yang menghitam,hujan dating bersama angin yang
berhembus. Mematahkan apa yang dapat dipatahkan, menghembus apa saja yang bisa
di bawa kabur, menumbangkan apa saja yang mengakar pada tanah dan
meninggalkannya terkapar diatasnya. Salwa belum sadarkan diri dari pingsannya,
meski hujan menerpa lebat, menyapu semua pori-pori kulitnya. Ia tak kunjung sadarkan diri. Mungkin ia
terlalu lelah karena berlari hingga ototnya tak kuat lagi menopang badannya.
Atau mungkin karena memang orang yang tertidur itu di jaga oleh malaikat. Hujan
tak justru buat ia sadar. Ia tetap terbaring pingsan.
Hingga pagi timbul. Dan matahari mulai
menghampir diantara awan yang memanjang di langit. Barulah Salwa tersadar.
Titik-titik embun yang belum menghilang di terpa sinar matahari membuatnya
terbangun dan membuka matanya. Ia telah menemukan dirinya di antara batang-batang
tanaman teh. Ia baru sadar kalau semalaman ia pingsan. Dan kini ia tak tahu ia
mau kemana. Tubuhnya mendadak sangah lemah, ia paksakan tubuhnya untuk segera
berdiri. Ia mencoba mencari sesuatu di saku bajunya. Kemudian mencoba
menghubungi orang rumah. Namun tak ada jawaban. Terpaksa ia harus segera
beranjak, pergi. Menyusun langkahnya sendiri.
Dengan tertatih ia terus saja menyusuri
jalan. Tubuhnya memang tak terlalu kuat untuk membuatnya berjalan lebih cepat.
Namun seyidaknya ia dapat tetap berjalan. Seperti mendapat kekuatan dari
seseorang. Sebuah bisikan kuat yang ia tak tahu dari mana arahnya, seperti saat
ia menangis dulu dan ia mendengar suara Sulaiman memberinya semangat, hingga ia
kuat dan tabah. Salwa masih tertegun dan terus mencoba mempercepat langkah.
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Ia
melihat sebuah mobil yang terbentur pada sebuah pohon besar. sepertinya baru
saja terjadi kecelakaan di sana. Salwa melangkahkan kakinya cepat menghampiri.
Ia harus memaksa tubuhnya untuk melangkah lebih cepat. Ia tak mau terlambat. Ia
takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkah, sepertinya hal ini lah yang dari
tadi mengapa batinnya terus memaksa.
Salwa makin mendekat, medekat pada pintu
mobil hitam yang ada di hadapannya. Seorang pemuda terbentur kepalanya di
kemudi mobil. Kepalanya tampak berdarah, mewarnai kopiah putih yang di kenakan
pemuda itu. Wajah putihnya menyembul luka yang tak henti. Tiba-tiba
handphonenya berdering, sebuah pesan singkat muncul di layar handphonenya.
‘’Salwa, cepat pulang ! papa baru dapat
kabar, Sulaiman akan datang siang ini untuk melamarmu, kamu senang bukan?
Katanya ia akan bawakan sepasang cincin untuk meresmikan hubungannya denganmu,
segeralah pulang ! Mama papa menunggu dirumah, mempersiapkan semuanya’’ Bibir
tipis Salwa bergetar mambacanya. Namun belum sempat ia membalas pesan yang ia
terima. Nyala lampu handphonenya memburam, cash barterainya kosong. Ia pun
segera sadar akan sesuatu, pemuda yang baru saja ia temukan. Ia menagkap dengan
tatapan nanar. Jantung Salwa berdetak kencang saat ia melihat sesuatu yang
tergeletak tak jauh dari pemuda itu, satu bucket mawar merah, sepasang cincin
dan sajadah panjang berwarna merah marun.
‘’Sulaiman’’ bibirnya gemeretak. Salwa
mendadak panik, tubuhnya makin lemah. Ia harus bertindak cepat sebelum
terlambat. Darah segar terus saja mengalir, ‘’bagaimana caranya ia mengantarkan
Sulaiman kerumah sakit?’’ batinnya terus menderu. letak rumah sakit sangat
jauh, handphonenya juga tak dapat digunakan. Air matanya mengalir begitu deras,
hingga kerudungnya basah dengan air mata, ia ingin berteriak, tapi pada siapa ?
tak ada satupun mobil yang lewat disana. Sedangkan darah terus mengalir dan
deru nafas Sulaiman kini terengah-engah.
‘’Sulaiman pasti bisa selamat’’ ia sangat
yakin.
‘’Tolong hambamu ini ya Alloh !!’’ batinnya
meyakinkan
"Semoga
jalan keluar terbuka, semoga
kita
bisa mengobati jiwa kita dengan doa.
Janganlah
engkau berputus asa manakala
kecemasan
yang menggenggam jiwa menimpa
Saat
paling dekat dengan jalan keluar adalah
ketika
telah terbentur pada putus asa."
* Mkd Aan's
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar