Minggu, 27 April 2014

Sajadah Panjang Sulaiman

"Semoga jalan keluar terbuka, semoga
kita bisa mengobati jiwa kita dengan doa.
Janganlah engkau berputus asa manakala
kecemasan yang menggenggam jiwa menimpa
Saat paling dekat dengan jalan keluar adalah
ketika telah terbentur pada putus asa."¹*
‘’Apa kamu yakin akan hal itu ?’’ pertanyaan itu terlontar begitu saja saat Sulaiman menangkap wajah Salwa bersedih, pagi ini wajah Salwa sedih lagi, seperti hari-hari sebelumnya. Pagi itu berlangsung sunyi, tak ada kata yang terlontar diantara keduanya, walau sedikit. Decit burung perling kecil diatas pepohonan saja yang tak enggan berbunyi. Batang-batang daun teh meliuk-liuk kompak diserbu angin nakal, begitu pula angin yang menarik-narik ujung rambutnya.
`‘’Salwa, kamu masih dengar aku ?’’ Sulaiman melanjutkan perkataanya. Salwa hanya menganguk pelan.
‘’Jadi, kamu merasa lebih baik sekarang ?’’ Tanya Sulaiman, sambil menahan pandangannya.
Kini jawaban Salwa hanya menggeleng, tanpa membuka bibir tipisnya. Sulaiman terus mendesah menangkap tingkah Salwa yang tak ia mengerti.
‘’Ayolah Salwa kalau kamu begini terus-terusan kasihan Bunda dan ayahmu.’’ Kini salwa menatapnya dengan sorotan tajam, nafas beratnya jatuh terengah-engah.
‘’Akh …!!’’ jeritnya, berlalu ia pergi meninggalkan Sulaiman yang masih diam termangu, diantara deretan larit-larit teh tubuhnya menghilang.
            ‘’Apa yang sebenarnya terjadi padamu Salwa ? bukankah seminggu yang lalu kamu baik-baik saja ? apa ada yang salah dengan perkataanku yang menyinggungmu, atau apapun itu, katakan Salwa. Jangan pernah buat aku cemas. Kamu tahu ? aku yang bertanggung jawab penuh atas apa yang menimpamu. Setelah kematian kak Andara, aku yang berjanji untuk menemani kamu hingga kamu sembuh, itu janji ku pada kak Andara. Salwa, kalau ada yang salah dari ku aku minta maaf !! rintih Sulaiman. Suara yang ia keluarkan makin parau. Mencoba menyelami lautan hati Salwa yang kini tengah beku.
‘’Jawab Salwa ! apa salah ku ? kalau kamu begini terus kapan kamu bisa sembuh, Salwa, kamu dengar aku ..??’’ suara Sulaiman makin meninggi ia tak tahu lagi apa yang akan ia lakukan sekarang.
Sedang wanita itu kini menangis, wajahnya sembab. Dengan sangat terpaksa ia mematikan percakapan lewat telepon tersebut. ‘’Halo…Salwa.. halo…’’ ucap lelaki diseberang sana.
‘’Tut…tuutt..tut…!!’’ handphone Salwa kini terjatuh, bersamaan dengan air matanya. Ia menerawang, mencoba mencari kemana jatuh benda yang tadi dijatuhkannya.
‘’Sulaiman, maafkan aku, ini semua aku lakukan karena aku tak ingin kehilangan kamu. Jawabnya lirik. Tubuhnya merosot dari dinding tembok kamarnya. Kemudian tersungkur. Ia terus mencari-cari benda itu, ia berfikir ia takut terlambat mengatakan semuanya pada Sulaiman, ia tak ingin Sulaiman meninggalkannya secepat ini. Masuk dalam kehidupan Salwa, kemudian menyemai bunga-bunga kasih, ia takut semua itu terlumat keegoisannya, sebetulnya ia tak ingin Sulaiman pergi. Merasa menyesal sebenarnya ia memutuskan percakapan tadi. Kini ia mencari namun semuanya makin gelap. Ia tak dapat melihat apa-apa. Dunia memang kini gelap baginya.
Ia ingat betul kejadian yang menimpanya sebulan yang lalu, saat ia bersama Andara berada dalam mobil menuju rumahnya. Andara adalah tunangan Salwa. Dalam mobil mereka bertengkar, pertengkaran yang menyebabkan mereka berdua tabrakan. Tak di duga seorang pengendara sepeda motor melaju didepannya dengan laju cepat, membuat Andara kehilangan kendali. Dan membanting setir hingga mengenai truk gandeng yang sedang mangkir di pinggir jalan. Hal itu menyebabkan nyawa Andara tak dapat tertolong. Dan menyebabkan penglihatan Salwa tak dapat digunakan lagi, ia mengalami kebutaan. Hingga ia tak dapat lagi melihat dengan jelas dunia yang geperlap, kini semuanya hanya gelap yang ia temukan, hanya gelap yang ia rasakan.
Sedangkan Sulaiman, mungkin ialah malaikat yang di kirim tuhan untuk menemani hidupnya yang kini sering di serang rasa takut. Sulaiman datang menggantikan sosok Andara yang telah pergi untuk selamanya. Tepatnya dipemakaman Andara ia mendengar sapuan sapa Sulaiman yang kemudian menyeka habis air matanya. Di saat Salwa membutuhkan seseorang yang membuatnya tenang. Walau Sulaiman datang saat Salwa kehilangan penglihatan, walau Salwa tak pernah tahu wajah Sulaiman, tapi entah mengapa ia merasakan sosok  Andara yang perhatian dalam diri Sulaiman. Hingga perasaan itu kini tumbuh entah sejak kapan.
Namun kini semuanya membuat Salwa menghembuskan nafasnya resah, ia takut kehilangan Sulaiman. Entah mengapa sosok Sulaiman kini sangat berarti. Ia tak bohong, ia memang buta tapi ia tak tuli, pendengarannya masih jelas sempurna. Jelas ia dengar saat ia menghampiri langkah Sulaiman di balik belukar di perkebunan teh jelas sekali ayah Sulaiman datang dari kota untuk menjemput Sulaiman. Hingga ia melangkah gontai seumpama rerumputan kering, dalam gelap.
Jelas sekali kata-kata ayah Sulaiman tergiang ditelinganya, hingga ia menjerit dalam sunyi, bahkan ia sempat membenci, dan mengutuk entah pada siapa, hatinya hanya bisa menggigil dipenuhi rasa takut, padahal matahari bersinar amat terik. Ia benar-benar takut hal itu terjadi padanya lagi. Kehilangan orang yang paling ia sayang. Walau ia tahu tak ada ikatan yang mengikat diantara keduanya, bahkan ucapan pun tak ada, hanya saja hati itu seakan tak dapat terpisah, mungkin Sulaiman hanya sebatas mengasihinya karena ingin menebus kesalahan Andara yang membuat ia kehilangan penglihatannya. Meski ini semua bukanlah sepenuhnya salah Andara, ini semua hanyalah sebuah jalan takdir yang sudah sepatutnya bergulir. Apa salah kalau Salwa mengharap selalu ingin ditemani sosok Sulaiman dalam kebutaanya. Kini ia masih mengisak, tangis yang sepenuhnya miliknya, yang tak mampu ia tahan.
‘’Kapan kamu akan pergi ?’’ Salwa menggerakkan bibirnya pelan, ia membuka percakapan diantara keduanya  diantara rerimbun hijau batang-batang teh. Sulaiman lantas memandang wajah Salwa, yang kini duduk di sampingnya.
‘’Apa maksudmu ??’’ matanya menerawang jauh kelangit biru, ia tak sanggup memandang lama-lama wajah Salwa, karena ia tau sebentar lagi, ia akan ikut terlarut dalam tangis. Seperti saat dulu, saat mereka berdua ziarah ke pemakaman kakaknya.
Sulaiman masih berfikir keras untuk menjawab pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Salwa. Sedang Salwa tetap terdiam, ia tak menginginkan sesuatu keluar dari dalam bibirnya.
Maafkan aku Salwa, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, aku bingung Salwa, kamu tahu aku tak mau meninggalkan kamu saat kamu masih rapuh, seperti saat sekarang ini, aku tak bisa. Jangan paksa aku’’ ucapnya lirih, butiran airmata tepaksa terjatuh. Salwa kini makin terdiam.
‘’Maafkan aku juga ! Aku sebenarnya tak pantas menahanmu seperti ini. Aku tak pantas membiarkan kamu terus-terusan berusaha membuatku sembuh, hal yang tak mungkin terjadi, atas semua yang tak ada sangkut pautnya sama sekali denganmu, Sulaiman kamu boleh pergi kemanapun kamu mau, aku tak berhak menahanmu seperti ini’’ suara Salwa makin serak. kini Sulaiman balik menatapnya nanar.
‘’kamu masih berfikir aku akan meninggalkanmu sendirian ? tidak Salwa !’’ ia berusaha menahan gejolak di dadanya.
‘’kamu masih mengira aku akan sendirian Sulaiman ?’’ tukasnya pelan, kemudian melanjutkan perkataanya
‘’bukankah kamu yang datang untuk meyakinkan aku, bahwa aku tak pernah akan sendirian, bukankah, Alloh yang tidak akan meninggalkan Hambahnya, bukankah itu yang selalu kamu katakan padaku. Kamu menganjurkanku agar selalu mengingat Alloh, kamu tahu Salwa ? segala sesuatu yang tidak mengingat kan kita kepada Alloh itu adalah dunia, maka jauhilah ia, dan ingatlah Alloh selalu agar ia selalu bersemi dan hidup di hatimu, bukankah itu yang kau katakan selalu kepadaku’’ sekarang Sulaiman yang terdiam mendengar perkataan Salwa, wajahnya ia biarkan tertunduk menangkap bayangan matahari menerpa tubuh Salwa.
 ‘’kamu harus tetap pergi Sulaiman, aku tak ingin menjadi beban bagi orang lain terutama bagi mu, aku tak mau jadi parasit yang mengganggu tumbuhan inang yang tak salah, ini adalah jalan hidup mu’’ Salwa menambahkan perkataannya lagi. 
‘’Salwa ! dengar aku, jangan pernah kamu menganggap dirimu sebagai parasit, kamu justru mengajarkan aku agar selalu tabah mengahdapi cobaan’’ Sulaiman meninggikan perkataannya, sambil menatap wajah Salwa.
‘’Sulaiman ! kalau kamu masih menganggap aku sebagai seseorang yang berarti, aku mohon kamu pergi, mengikuti kemauan ayahmu, aku tahu jalanmu masih panjang, aku mohon… !’’ pinta Salwa wajahnya kini mengembun.
‘’Terima kasih Salwa, aku pasti akan kembali. Tapi ingatlah Salwa aku akan tetap di sini bersamamu, sampai kau sembuh, itu janjiku’’ ucap Sualiman lirih. Dia antara gaung para pemetik teh, mereka terenyak, diakhir prtemuan akhirnya mereka berdua memilih untuk diam. 
Di suatu siang, Salwa merasakan punggungnya beranjak dingin diantara pipit sore yang berlalu pergi, ia yakin telah menatap wajah Sulaiman di depannya, Sulaiman datang tiba-tiba. Menghampiri Salwa yang tengah duduk di halaman rumah.
‘’Salwa aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang tak mampu aku ceritakan terhadapmu, aku mau kali ini kau mengerti, bahwa aku akan benar-benar kembali, kembali padamu’’ suara Sulaiman menggiang digendang telinga milIk Salwa. Hingga ia tercengang dan bibirnya tak dapat di gerakkan sama sekali. Tubuhnya kaku, bahkan untuk mengatakan tidak saja ia tak mampu, mulutnya seakan terkunci. Ia hanya menerawang wajah Sulaiman kala itu, meski tak akan mampu ia lakukan.
‘’Salwa, mengapa kamu diam ? maafkan aku Salwa !’’suara Sulaiman menghampir makin parau.
‘’Jika kau ingin pergi, mengapa kamu pergi terlalu cepat Sulaiman, apa yang terjadi. Bukankah kepergian kamu masih beberapa minggu lagi, mengapa kamu..’’ kata-katanya tercekat, Salwa menahan isak tangisnya yang mulai sesak.
‘’Apakah kamu bersedih ? tersenyumlah Salwa !!’’ pinta Sulaiman berusaha menghibur, kini ia menangkap wajah Salwa yang tersenyum tipis walau sengaja ia paksa. Padahal matanya berair, bening.
’Termasuk tanda-tanda cinta, engkau akan melihat apa yang dicinta adalah menuruti sang kekasih. Walau dengan langkah yang terlalu jauh dan merasa terhina di antara orang-orang. Masih Nampak senyum meskipun hatinya bersedih karena sang kekasih³* aku berikan sajadah ini agar kamu ingat bahwa saat nanti kamu merindukan Nya kamu dapat menjumpai Nya setiap waktu, karena Dia selalu menjagamu dan tak akan pernah tertidur’’  ucap Salwa sambil menahan isak tangisnya yang mulai pecah, menyerahkan sebuah sajadah merah marun yang dari tadi ia simpan dalam sebuah kotak coklat. Kemudian ia mulai berlari, membalikkan tubuhnya yang lemah, ia mencoba melangkahkan kakinya walau pandangannya masih saja gelap.
‘’Salwa aku pasti akan kembali untukmu !!’’ teriak Sulaiman saat ia menangkap bayangan tubuh Salwa yang mulai menjauh. Masuk kedalam rumah. Ayah dan Bunda Salwa menatap mereka dari jauh.
Sudah beberapa pekan berlalu, Salwa terdiam dalam sebuah kamar, ia memandang lepas ke arah jendela. Entah apa yang ia tangkap. Padahal ia tak dapat melihat apa-apa, hatinya berkecambuk, rindu. Entah pada siapa ia merindu. Pikirannya melayang jauh mengelana, hingga pintu kamarnya terkuak, seseorang masuk ke dalam, ia merasakan kaki itu melangkah maju, menghampirinya.
 ‘’Salwa, kami sudah menemukan donor mata untuk mu, besok lusa kita bisa melakukan operasi, jika kamu setuju. Bunda sudah menghubungi dokter terbaik untuk menenangani operasi mata kamu, lebih baik kamu istirahat yang banyak, agar stamina kamu besok dapat maksimal menjalankan operasi’’ suara umi terdengar lembut menghamiri telinga Salwa, ia menolehkan badannya menuju asal suara. Seketika tangan itu langsung menyeka air matanya.
‘’Salwa, tidak butuh mata, Salwa sudah tak butuh operasi lagi, semuanya telah pergi. Apalagi yang Salwa harapkan disini, semuanya pergi meninggalkan Salwa. Salwa lebih baik begini seumur hidup'' Salwa berteriak sejadinya.
Tangis tertahan dalam gemuruh di dadanya. Bunda segera menghampirinya, dan memeluk erat tubuhnya yang kini menggigil, jemari tangan bunda membelai rambutnya, hingga tangisnya mereda.
''Salwa, istighfar Salwa ! kamu tak boleh berkata seperti itu ! bunda dan ayah akan selalu didekat kamu. kami tak akan meninggalkan kamu'' ucap bunda lirih. dan terdengar langkah kaki lagi di belakangnya, papa menghampirinya.
''Salwa, kamu adalah satu-satu nya yang kami punya di dunia. kami ingin kamu sembuh. untuk kebaikan kamu nak !'' ucap ayah berusaha melunakkan hati Salwa. kini Salwa memandang kearah ayahnya. tangannya mencari sosok yang membelakanginya itu, kemudian memeluk tubuh ayahnya. mereka larut dalam tangis.
Beberapa hari berlalu. Salwa tertegun di dalam ruang rumah sakit. Dokter menyarankan agar ia tenang setelah melakukan operasi mata. Pekat yang merambat kini mulai menghilang, mentari berangsur tinggi ke pusar langit. langkah kaki ayah dipercepat menghampiri, saat ia menangkap sosok dokter yang menagani operasi Salwa keluar dari ruang operasi. Ini adalah hari dimana perban yang membalut mata Salwa akan dibuka, hari yang memastikan ia akan dapat melihat kembali atau tidak. Langkah bunda dan ayah. semakin di percepat menuju ruang di mana Salwa di rawat. Saat Dokter Aditya menatap mereka, kemudian masuk kembali ke dalam ruangan.
Salwa tengah duduk terpekur di atas kasur putih ruang rumah sakit. Wajahnya tertunduk merapat ke bilik jendela. Hingga dokter memanggilnya untuk segera melakukan pembukan perban. Perlahan perban yang membalut itu terbuka, Semua mata kini tertuju pada salwa, gerak mama melangkah menghampiri membelai-belai rambut panjangnya dari belakang.
‘’Salwa !  cobalah sekarang kamu buka matamu perlahan ! ucap dokter setelah selesai membuka perban mata Salwa. Salwa kini mulai membuka matanya pelan. Ia menerawang mencoba mencari dan gerak retina matanya. Perlahan ia merasakan matanya sudah dapat  menangkap bayangan yang ada di hadapannya. Walau rabun. Ia mencoba menggerakkan gaya akomodasinya lagi. Kini bayangan ayahnya jelas ia tangkap tersenyum padanya, bunda juga terlihat jelas tengah berdiri disampingnya, dan dokter Aditia serta beberapa perawat yang berada di ruangan tersebut. Perlahan Salwa mendesah, air matanya kini mulai membasahi bola matanya, ia menangis dan memeluk erat bunda yang tak jauh darinya.
‘’Bunda ! aku sudah bisa melihat ! ayah ! lihatkan sekarang Salwa sudah bisa menyentuh ayah dan bunda lagi’’ ucapnya tersedu. Mempererat pelukan ayah bundanya, sambil terus menahan tangis. Namun, tangisannya kini adalah tangis bahagia. 
Beberapa bulan berlalu, tak ada yang berubah. Diantara dedaunan teh yang memanjang menjulur disebuah larit panjang, Salwa kadang masih suka menangis sendiri, kadang ia lari seperti diseret langkah angin, kadang ia bersolawat mengikuti jejak burung-burung pagi, namun kini ada yang berbeda dengan dirinya. Diantara reranting teh yang tumbuh sejajar, ada kerudung panjangnya menyapa tangkai-tangkai patah. Ia terus berlari, tak tahan menahan tangis.
Ia terus melangkah, tak peduli terik mengusik. Ia tetap saja melangkahkan kakinya gontai diantara rumput-rumput yang berjuntai panjang. Terik kini tengah mempermainkan kerudung putihnya terjebak diantara kilau cahaya panjang, diiringi angin yang terus menerjang beriring. Ia terus berlari. Ia memikirkan seseorang, tentang hatinya yang belum puas sebelum ia mengetahui mengapa Sulaiman meninggalkannya secepat itu. Kepergian yang menurutnya terlalu cepat. Bahkan sempat membuatnya berontak pada diri sendiri.
Salwa terus saja berlari di bawah terik yang kadang membuatnya marah tak tentu, keringat keningnya berjatuhan diantara kebun teh yang menjalur hijau. Langkah nya terhenti, menatap rumah yang kini ada dihadapannya. Rumah berpagar hijau dipenuhi tanaman hias merambat. Ia mencari seseorang di dalam rumah tersebut. Beberapa kali ia terlihat modar-mandir di pintu pagar. Mencari seseorang yang dapat ia tanyai sesuatu. yang nantinya akan memberinya kepastian yang tidak ia dapatkan sebelumnya. Hingga akhirnya ia mulai lelah, dimana kelopak matanya tak menangkap sesosok apapun yang berjalan dalam rumah. Bahkan rumah itu tampak kosong tak berpenghuni, hingga ia bingung, ia tak menemukan apa-apa kecuali gersang yang kini tengah bersarang dalam hatinya.
 Ia melangkah gusar, meninggalkan rumah itu dengan perasaan sedikit luka, keringat yang menitik deras diantara kening dan hijabnya tak sedikit pun ia hiraukan. Ia terus melangkah tak menghiraukan angin yang menyembul diantara kedua telinganya.
‘’Nona, cari siapa ?’’ seseorang memanggil dari belakang, hingga sempat ia menghentikan langkah nya dan menoleh ketempat asal suara. Seorang pemetik teh bertopi lebar berjalan menghampirinya.
‘’Nona mencari seseorang ?‘’ tanyanya mengembang lagi, pelan. Tatap mata Salwa masih kaku.
 ‘’Apa ibu tahu kemana pemilik rumah itu ?’’ bibir salwa mengatup, sambil menunjuk rumah berpagar biru yang hanya satu-satunya terdapat diantara kebun teh.
‘’Bukankah orangnya sudah lama pergi neng!’’ ucap wanita itu dengan nada pelan. Dahinya mengernyit menahan panas yang terik. Sesekali jemarinya mengusap keringat yang membasah dari atas kepalanya.
‘’Bukankah pemuda itu pergi dan tak kembali setelah ia mendengar ayahnya mengalami kecelakaan di kota. Bahkan perkebunan yang ia tanangani saat itu pun di pindah alihkan pada orang lain. Ayah premuda itu kalau tak salah namanya pak Arya’’ ucap wanita itu ringan. ‘’memang neng ini siapa ?’’tanya wanita itu lagi.
Salwa tersentak kaget, ia tak menyangka apa yang telah di dengarnya barusan. Ia menundukkan pandangannya dan berlari tertatih. Tak tahu kemana ia akan berlari. Bola matanya tengah di penuhi hujan yang sebentar lagi mungkin akan turun menghujam. Benar, ia menangis sejadinya diantara perkebunan larik teh yang memanjang, ia tak peduli akan para pemetik teh yang terus memperhatikan tingkahnya, mungkin ia akan terus berlari hingga kakinya tak mampu lagi untuk digerakkan. Membawa langkahnya jauh dari tempat kini berada. Ia tak sanggup, ingin sekali ia menyendiri, untuk menyembuhkan lukanya yang menganga. Mungkin dengan dengan begitu ia akan merasa puas.
Hari telah menggelap ia merasakan sendinya sudah tak kuat lagi melangkah, entah langkah yang keberapa, Akan membawa kemana luka itu ia tak tahu. Entah ke kota atau kemana saja ia ingin. Ia merasa bersalah akan semua perkataanya. Jelas ia mengutuk, saat ia tahu Sulaiman diminta ayahnya menjauhi Salwa untuk melanjutkan pendidikannya. Ia menyesal, karena itu ia menangis dan berlari sekuat tenaga. Mungkin dengan begitu ia akan merasakan ketenangan.
Tapi tidak, ia terjatuh dalam larinya. Dan ia terus saja menangis. Mengutuk dirinya sendiri.
‘’Istighfar Salwa’’ batinnya berkata, batin yang paling dalam.
Ia terhenti dalam jatuhnya, tangisnya terkubur diatas jalanan yang menurun, diantara pepohonan rindang dan deretan daun teh.
‘’Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram tenteram²*ar-ra’d 28. Maka serahkan lah semuanya pada Alloh. Sebab ia yang berkehendak, dan ia pula yang memutuskan, manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga’’ kata-kata itu tergiang begitu saja diantara bilik hatinya, kata yang pernah di ucapkan Sulaiman di suatu kesempatan. Di antara larik teh.  
Kini Salwa tertunduk, nafasnya terengah-engah, pandangannya mengkabur dan berputar-putar.  Ia tak kuat lagi melangkah. Sekuat tenaga ia mencoba bangkit dari keterpurukannya. Ia menjerit, sebab pandangannya makin mengkabur dan hilang. Seketika ia terjatuh lagi dan matanya tak menagkap apa-apa. Hanya gelap yang tersisa.
Hujan mengguyur deras, awan berhambur, bermain-main di atas langit yang menghitam,hujan dating bersama angin yang berhembus. Mematahkan apa yang dapat dipatahkan, menghembus apa saja yang bisa di bawa kabur, menumbangkan apa saja yang mengakar pada tanah dan meninggalkannya terkapar diatasnya. Salwa belum sadarkan diri dari pingsannya, meski hujan menerpa lebat, menyapu semua pori-pori kulitnya.  Ia tak kunjung sadarkan diri. Mungkin ia terlalu lelah karena berlari hingga ototnya tak kuat lagi menopang badannya. Atau mungkin karena memang orang yang tertidur itu di jaga oleh malaikat. Hujan tak justru buat ia sadar. Ia tetap terbaring pingsan.
Hingga pagi timbul. Dan matahari mulai menghampir diantara awan yang memanjang di langit. Barulah Salwa tersadar. Titik-titik embun yang belum menghilang di terpa sinar matahari membuatnya terbangun dan membuka matanya. Ia telah menemukan dirinya di antara batang-batang tanaman teh. Ia baru sadar kalau semalaman ia pingsan. Dan kini ia tak tahu ia mau kemana. Tubuhnya mendadak sangah lemah, ia paksakan tubuhnya untuk segera berdiri. Ia mencoba mencari sesuatu di saku bajunya. Kemudian mencoba menghubungi orang rumah. Namun tak ada jawaban. Terpaksa ia harus segera beranjak, pergi. Menyusun langkahnya sendiri.
Dengan tertatih ia terus saja menyusuri jalan. Tubuhnya memang tak terlalu kuat untuk membuatnya berjalan lebih cepat. Namun seyidaknya ia dapat tetap berjalan. Seperti mendapat kekuatan dari seseorang. Sebuah bisikan kuat yang ia tak tahu dari mana arahnya, seperti saat ia menangis dulu dan ia mendengar suara Sulaiman memberinya semangat, hingga ia kuat dan tabah. Salwa masih tertegun dan terus mencoba mempercepat langkah.
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Ia melihat sebuah mobil yang terbentur pada sebuah pohon besar. sepertinya baru saja terjadi kecelakaan di sana. Salwa melangkahkan kakinya cepat menghampiri. Ia harus memaksa tubuhnya untuk melangkah lebih cepat. Ia tak mau terlambat. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkah, sepertinya hal ini lah yang dari tadi mengapa batinnya terus memaksa. 
Salwa makin mendekat, medekat pada pintu mobil hitam yang ada di hadapannya. Seorang pemuda terbentur kepalanya di kemudi mobil. Kepalanya tampak berdarah, mewarnai kopiah putih yang di kenakan pemuda itu. Wajah putihnya menyembul luka yang tak henti. Tiba-tiba handphonenya berdering, sebuah pesan singkat muncul di layar handphonenya.
‘’Salwa, cepat pulang ! papa baru dapat kabar, Sulaiman akan datang siang ini untuk melamarmu, kamu senang bukan? Katanya ia akan bawakan sepasang cincin untuk meresmikan hubungannya denganmu, segeralah pulang ! Mama papa menunggu dirumah, mempersiapkan semuanya’’ Bibir tipis Salwa bergetar mambacanya. Namun belum sempat ia membalas pesan yang ia terima. Nyala lampu handphonenya memburam, cash barterainya kosong. Ia pun segera sadar akan sesuatu, pemuda yang baru saja ia temukan. Ia menagkap dengan tatapan nanar. Jantung Salwa berdetak kencang saat ia melihat sesuatu yang tergeletak tak jauh dari pemuda itu, satu bucket mawar merah, sepasang cincin dan sajadah panjang berwarna merah marun.
‘’Sulaiman’’ bibirnya gemeretak. Salwa mendadak panik, tubuhnya makin lemah. Ia harus bertindak cepat sebelum terlambat. Darah segar terus saja mengalir, ‘’bagaimana caranya ia mengantarkan Sulaiman kerumah sakit?’’ batinnya terus menderu. letak rumah sakit sangat jauh, handphonenya juga tak dapat digunakan. Air matanya mengalir begitu deras, hingga kerudungnya basah dengan air mata, ia ingin berteriak, tapi pada siapa ? tak ada satupun mobil yang lewat disana. Sedangkan darah terus mengalir dan deru nafas Sulaiman kini terengah-engah.
‘’Sulaiman pasti bisa selamat’’ ia sangat yakin.
‘’Tolong hambamu ini ya Alloh !!’’ batinnya meyakinkan
"Semoga jalan keluar terbuka, semoga
kita bisa mengobati jiwa kita dengan doa.
Janganlah engkau berputus asa manakala
kecemasan yang menggenggam jiwa menimpa
Saat paling dekat dengan jalan keluar adalah
ketika telah terbentur pada putus asa."

* Mkd Aan's

2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar