Minggu, 27 April 2014

Merah Putih Perahuku -


Perahu ku merah putih !
Dengan tiang berkibar bendera diatasnya
Merah putih menari-nari
Diujung menusuk perut langit
Setegar alif mencapai angkasa raya
Perahu ku merah putih !
Dengan cat paling mahal yang di poles kakek sebelum ia pergi tak kembali.
Perahu ku  merah putih !
Kata Kakek perahu ku menyimpan sejuta kekayaan
Bahkan banyak negri yang mengeruknya, namun tak pernah habis
Perahu ku  merah putih !
Sebagai surga bagi semua
Penuh arti sepanjang keringat kami bisa jadi api
Tempat semagat, kuat diri mengarungi badai ombak dan juga angin
Yang akan membawa kemana ku ingin
Biografi ini aku simpan dalam perahu merah putih. Agar semua orang tahu bahwa aku, dengan merah berani darahku dan putih suci tulangku.Telah pergi bersama luka yang membara dalam dadaku yang kini tengah terbelenggu, oleh hatiku sendiri.
Kakek yang selalu mengajarkan aku menyanyi diterpaan angin pesisir laut, Kakek yang menyajakkan sajak ini setiap kami berangkat berlayar mengarungi tepian samudra Pasifik. Ayah sudah meninggal setahun setelah aku lahir, sedang ibu ia pergi meniggalkanku, keluar pulau bersama seorang lelaki tua keluar pulau. Hingga aku tak mendengar lagi kabarnya. Tak terhitung jumlahnya berapa kali Kakek bersenandung, aku sudah tak ingat, hingga aku hafal betul dan selalu berputar-putar di otakku, setiap aku berada di atas pundak kapal ini. Aku pasti akan selalu teringat akan sajak kakek itu. Kakek buyutku yang mengajarkannya dulu. Ia adalah salah satu pejuang yang ikut melawan Jepang. Bahkan Kakek adalah agen terlihai dalam gencarannya melawan para penjajah, terutama dalam menjadi teliksandi dalam penyerangan perang Padri. Kata ayahku, Kakek juga seorang yang tangguh mengarungi ombak dan badai. Itu sebabnya ayah juga mengajarkan aku untuk selalu tegar, setegar karang, batuan lautan dan setegar mimpi-mimpiku yang berada di pulau terpencil ini, pulau yang kumuh dan tak terawat, bahkan air bersih saja tak tersedia disini. Kami harus menunggu hujan agar dapat menyimpan air sebanyaknya. Sebagai persediaan air hidup kami. Agar mimpi kami bisa terus mengembang bersama layar kapal yang kami kepakkan. Mimpi yang sangat jauh.
Tapi mimpi itu seakan makin pergi jauh. Hingga aku tak menangkap bayangannya sama sekali. Terutama saat aku lihat tubuh Kakek ku tergeletak tak berdaya. Kini tubuh itu terbaring. Walau aku tak bengenalinya karena tubuhnya yang hampir tak berbentuk manusia gagah lagi. Namun aku kenal betul baju merah loreng itu, baju kesukaan Kakek yang sering ia pakai kalau ia sedang ingin berombak dan menangkapkanku ikan. Aku menangkap uban yang masih jelas disetiap helai rambut mayat dihadapanku. Kalap bibirku komat-kamit tak karuan, mengutuk entah pada siapa, aku meronta sekuat tenaga, menangis sekeras aku bisa berteriak. Beberapa penduduk berusaha menjauhkanku yang masih saja terisak dari mayat yang diketemukan terombang-ambing di tengah laut itu. Sekarang ia telah tiada dilumat air laut, pergi bersama angin timur.
Luntang-lantung di pulau sendiri tanpa ada siapa pun yang aku miliki, membuatku ingin pergi jauh. meninggalkan semuanya. Termasuk kepedihan yang kini aku alami, meninggalkan kenangan bersama Kakek dan kisah indah kami. Tak ada yang kini aku harapkan disini. Hingga aku memutuskan untuk ikut bersama paman yang tiba-tiba datang dari kota. Alhamduliilah, ternyata aku masih punya paman. Ia akan membawaku ke kota. ‘’Akh, bagaimana rasanya hidup di kota ?’’ Melihat wajah paman yang serupa dengan petinggi pejabat negara, pakaiannya yang licin seperti lantai, dengan lipatan garis seterika yang masih terlihat, serta wangi parfum yang melanglang buana, membuatku membayangkan hidup di tempat yang indah di penuhi gedung-gedung bertingkat, jembatan yang panjang membentang, dipenuhi mobil mewah yang tiap harinya tak berhenti berdecit. Juga berbagai macam penjual makanan enak yang selalu ramai dihampiri pembeli. Akh ! kota, aku datang kepadamu, bersama paman gagahku ini, aku melompat-lompat senang.
Pagi membangunkanku, diantara bising yang memekakan telinga. Aku terbangun, namun bukan dengan tatapan matahari yang amat terik. Tak tahu mengapa, aku dibangunkan dengan air yang mendadak menciprat keseluruh badan.
‘’Bangun ! Pemalas ! Sudah siang, cepat cari uang ! Kau kira disini tempat anak yang bisa malas-malasan’’ semburan air dari sebuah ember membuatku tersentak, membuka mata secara terpaksa. Tak kusangka aku tertidur saat aku tiba dikota. Dengan mimpi yang sangat indah, makan dutckindonate di dalam restoran mahal.
Mimpiku tentang keindahan kota benar-benar buyar. Aku lihat tumpukan sampah menggunung, jalanan dipenuhi sampah, aliran sungai dipenuhi sampah,Tikus-tikus sampah juga tak henti mondar-mandir disekitar tempat sampah. membuat perut menjadi mual. Rumah-rumah, kardus, dibuat dari sampah. tempat apa ini ? Melemparkan pandang keluar, suara deru mobil tak henti menyembulkan asap polusi yang membuat sesak hidung. Bus-bus rombeng yang tak pernah absen dari copet-copet nakal yang ku lihat beraksi, serta jalanan yang dipenuhi puluhan gembel dan preman. Inikah kota yang aku impikan. Akh ! pamanku yang bertubuh gagah itu ! Rupanya dia seorang preman jalanan’’ batinku mengutuk pada diriku sendiri, mengapa aku bisa saja percaya pada tampang gagahnya. Akh, bodoh ! 
‘’Untuk itu aku lari sekuat tenaga, seminggu mengikuti aturan yang dibuat paman membuatku muak, tubuhku kini tak lebihnya dari mainan, hingga aku memutuskan untuk pergi darinya, lari tanpa meninggalkan pesan apapun’’ aku tak kuat lagi tubuh ini dipukuli preman suruhan paman, hingga anggota tubuh cacat atau pun paling tidak penuh dengan luka-luka, lalu mereka akan menjadikan kami sebagai pengamen jalanan yang tak lagi berkutik untuk melawan. Dan walhasil, dengan tubuh kami yang cacat dan luka pendapatan kami akanbertambah, mereka pun akan tertawa cekikikan.
Bau amis berterbangan bersama tumpukan sampah yang kini menjadi tempat teramanku, tumpukan sampah yang berjejer sepanjang lorong kecil dipenuhi ribuan lalat nakal dan belatung. Melakukan parodi dibawah terik sepanjang hari.
Sekarang, mengatur nafas adalah kelihaianku, kalian mesti belajar. Takdir yang mengajarkanku secara otodidak. Bukan guru olahraga seperti di sekolah-sekolah besar bertingkat. Apalagi dosen-dosen keren berpakaian rapi di universitas-universitas ternama. Aku bersembunyi dalam tumpukan sampah, dari para preman suruhan paman. Aku mau muntah.
Dilain kesempatan di hari-hari berikutnya, pintu perutku sudah didobrak seseorang dari dalam. Rasa lapar bukan main aku rasakan. Sejak sehari terakhir aku tak memasukkan sesuatu ke dalam perut, kecuali, sepotong roti yang aku ambil dari tong sampah dari depan restoran mahal tadi malam. Hal ini membuat pikiranku kacau. Pandangan ku sudah berputar-putar tak karuan, bumi sudah berada dikepalaku dan kepala sudah seperti di kakiku seperti lagu Paterpan. Kunang-kunang sudah dari tadi beterbangan di sekitar kepala, begitu pula desah nafasku yang naik turun seperti pompa sepeda pedal yang ditarik tekan.
Aku berlari, aksiku di ketahui warga, ternyata aku belum lihai. Letih sudah aku berlari, ditambah perut kosong melompong, dikalikan kerongkongan yang sudah kering kerontang karena tak sedikitpun cairan masuk menyegarkan, dikurangi kurang tidur tadi malam, bau sampah yang berseliweran dan nyamuk sebesar lalat yang selalu datang dan pergi membuatku tak terlelap dalam tidur, juga rengekan anak kecil yang kurang makan dan gizi. Dan dibagi matahari yang bersinar hampir mencabut dan menumbangkan tubuh ini sekarang juga, lengkap sudah penderitaan ku sebagai seorang Copet jalanan.
Pria berseragam mengejar dari belakang, sudah hampir setengah jam aku berlari, menghindarinya. Membuat kepala ini berputar putar, ingin muntah namun tak ada yang dapat di muntahkan. Badan ini, tak terhitung sudah berapa kali mereka tuduh sebagai perusak, mengagapku sebagai sampah yang harus di bersihkan dan ditertibkan.
‘’Lari Rustam, cepatkah kau langkahkan kaki mu kemana saja asalkan kau dapat selamat dari kejaran petugas keamanan itu. Kau tahu bila kau ditangkapnya, apa yang akan ia perbuat padamu ? ia akan segera memukulimu, mencaci maki hidupmu yang mereka kira hanya dapat dipermainkan seumpama sampah, belum lagi tubuhmu akan mereka tendang hingga mereka tertawa puas satu sama lain, dapat mempermainkan orang-orang lemah dan kecil sepertimu’’ batinku berteriak dalam deru nafas yang tak henti menghirup keluar masuk oksigen dan karbondioksida. Kalau saja kedua zat itu adalah seseorang, maka sudah pasti ia akan berteriak memohon agar aku berhenti menarik dan menghembuskannya keluar masuk lubang hidung hingga saluran paru-paruku, karena nafasku yang telah terengah.
Kini dihadapanku hanya lorong gelap yang lembab, lorong yang menghubungkan aku dengan jalan tol kota, aku sudah tahu jalan yang mestinya aku tempuh, aku yakin kali ini petugas itu akan terkecoh lagi saat ia masuk mengejarku dalam lorong ini. Sebab lorong ini tak ubahnya labirin yang meliuk-liuk membuat pusing kepala, diantara pemukiman-pemukiman kumuh yang kotor dan tong sampah yang bersusun-susun hampir serupa, pasti membuat setiap yang memasukinya bingung.
Kulihat dua petugas tadi yang mengejar dari tadi di belakang telah tak terlihat batang hidungnya, aku yakin mereka pasti sedang mencari jalan keluar dari sini setelah mereka tak berhasil mendapatkanku. Aku tak ingin seperti Iwan, Bobi, Tukimin serta kawan-kawanku yang lain, yang berhasil mereka tangkap.
Aku terus saja berlari, tapi kali ini dengan langkah yang dipelankan. Aku sudah yakin mereka tak akan lagi mengejar. Aku bersorak bangga, walau nafasku sudah tak karuan lagi bunyinya. Kutatap sekelilingku, melihat jalan raya yang selalu dipenuhi mobil-mobil mewah, aku melonjak girang. Tak ada yang dapat menangkapku. Aku pun kembali menyusun langkah, sambil melonjak-lonjak girang. Namun tak sadar saat aku menyebarang. Sebuah mobil mewah telah berada dihadapanku, mobil warna silver yang cantik, ia menubruk tubuhku hingga aku terpental, bergeser dari tempatku berdiri. Seketika pikiranku melayang entah kemana. Dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Karena setelah itu tubuh ku seperti di bawa angin.
Mata ku masih tertutup rapat, masih menerka-nerka apa yang terjadi denganku, aku mulai memutar balik peristiwa yang tadinya menimpaku, mempertajam ingatan agar aku mengingatnya semua. Bayanganku pun tergelar pada mobil yang mendadak berada di hadapanku. Hingga aku sadar bahwa sesuatu telah terjadi padaku.
Sengaja aku belum membuka mata ini, aku berharap kini aku berada di sebuah rumah mewah, aku berharap telah ditabrak oleh seseorang yang baik hati yang akan menjadikan aku sebagai anak angkatnya. Tapi hal itu tak mungkin terjadi. Ini kehidupan nyata, bukan cerpen, dongeng atau apapun itu, ini bukan cerita yang selalu pada akhirnya berakhir bahagia. Dengan rasa perih yang masih menghinggapi pergelangan tangan dan tubuhku, aku membuka mataku.
Aku melihat ruangan yang begitu luas, mataku tak henti melotot tajam, berusaha menguceknya beberapa kali, meyakinkan hal ini bukanlah mimpi yang akan membangunkannya saat membuka mata, aku mencoba mencubit lengan ku dengan keras meyakinkan diriku sendiri kalau ini nyata. Akh ! benar saja, aku tak perlu mencubit lenganku keras-keras karena luka memar ditangan dan pelipis ini sudah cukup membuktikan kalaulah ini bukan mimpi semata. Tapi dimana aku ? di rumah sakitkah ? dirumah orang kaya kah ? Akh, betulkah kalau orang kaya telah menemukanku dan akan mengangkatku menjadi anaknya karena tak tega membiarkanku hidup di jalanan lagi. Betapa beruntungnya aku, kalau begitu adanya.
Tak lama seorang pria berbadan tambun berusia sekitar limapuluh tahunan muncul dari balik pintu. Mendekati ku dan dengan pelan duduk disamping tubuhku yang tengah terkulai lemah di atas kasur empuk ini. Merasakan ia menyentuh keningku sambil membolak balikkan tangannya, membuat aku membuka mata, menatapnya agar orang tua ini yakin bahwa ia telah membangunkanku. Dan seketika aku mencoba untuk bangun.
‘’Jangan bergerak dulu anak muda, dokter bilang kau harus banyak istirahat’’ mata sayunya menenangkan aku, meyakinkan aku agar aku tetap berbaring di tempat tidur ini.
‘’Apa yang terjadi denganku ?’’ Aku berpura-pura tak mengingat kejadian yang telah membuat aku begini.
‘’Kau tertabrak mobilku siang tadi, dan sekarang kau berada di rumahku. Istirahat lah dulu. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau tak usah khawatir’’ Begitulah kiranya lelaki tua itu berkata padaku. Ia memperlakukan aku sebegitu baik. Merawat ku hingga aku kembali sembuh. Aku menceritakan semua yang terjadi padaku kepadanya, tapi tidak saat aku memutuskan diri menjadi pencopet jalanan hingga aku dikejar-kejar petugas, dan tertabrak mobilnya. Ia saja, aku lihat ia mengiba padaku. Ia memelukku dengan erat saat setelah aku merampungkan ceritaku yang membuatnya menitikkan air mata. Akh ! Sebentar lagi hidupku akan berubah karena aku yakin sebentar lagi pasti aku kan segera di angkatnya menjadi anak. Akh ! bahagianya.  
Pagi berceloteh bersama kicau burung, tak lama desiran suara knalpot mobil akan menderu disana sini. Membuat udara segar lari terbirit-birit bersembunyi kecelah dedaunan. Matahari menyampaikan sinarnya lewat bilik-bilik jendela yang belum selesai aku bersihkan. Aku seka keringat yang tak henti menetes di dahi ini. Sudah dari tadi pagi aku belum juga selesai mengerjakan pekerjaan ini, merapikan taman belakang, mengusap semua jendela rumah, memotong rumput yang mulai memanjang, mengelap daun-daun tanaman yang terkena polusi dan debu di sekitar pagar rumah. Hal yang tidak begitu berat untuk aku kerjakan, namun mata itu, tak henti membuat ku berhenti menghela nafas, nafas yang terengah-engah, aku tak bisa berhenti bekerja barang sejenak untuk sesekali membetulkan persendian dan otot-otot ku yang sudah mulai kaku. Mata itu selalu saja membuntuti langkahku bekerja. Seorang nyonya rumah dengan badan tegak yang berdiri laksana model, ia terus menatapku. Kalau saja aku beristirahat sejenak, maka ia akan dengan keras berdehem. Akh ! Ternyata semua yang kuinginkan tak sama dengan apa yang aku impikan. Lelaki tua itu memang telah menampungku dirumahnya yang besar bak istana dalam cerita-cerita dongeng. Bukannya ia mengangkat ku sebagai anak, tapi malah menjadikanku sebagai babu dirumahnya yang besar sendirian. Akh ! Beginikah nurani orang kota. Ternyata hidup di kota tak seindah yang aku impikan.
Beberapa tahun berlalu.
           ‘’Tolonglah bapak ! Atur semuanya. Aku yakin kebijaksanaan bapak akan memberikan keputusan yang paling baik’’ ucap seseorang itu dengan wajah memelas. Sembari menyodorkan amplop sebesar telapak tangan kearahku, membuatku menelan ludah beberapa kali. Inilah bagian yang paling aku sukai. Aku akan menerawang jauh dengan isi ampop besar itu. Yang akan membuat ku tersenyum pias, mengawang keudara. Yang akan membuat hidupku lebih baik lagi. Amplop yang akan membawaku ketarap hidup yang lebih berderajat dengan kehidupan di kota. Amplop yang akan menyumbat mulut istriku yang sering mengoceh tak karuan. Akh, hidup ini benar-benar susah.
           ‘’Bagaimana bapak ? bisakah bapak bersikap lebih adil, tolonglah pak, aku sangat menginginkan jabatan ini, aku janji akan menjadi pekerja yang rajin kalau saja bapak mau menerima saya bekerja disini’’ kini orang itu menyodorkan amplop yang lain lagi, namun ukuran tebalnya tak setebal amplop yang pertama ia sodorkan kepada ku. Hal ini membuatku makin terenyak, biasanya aku akan selalu menerima amplop itu dengan segera menariknya pelan dan memasukkannya kedalam laci tempat dudukku.
           Namun entah mengapa beberapa hari terakhir ini aku seperti diserang rasa takut yang panjang. Bayangan Kakek dan kampung pesisirku berpuluh-puluh tahun lalu kembali hadir serupa angin semilir yang kadang membangunkanku saat aku telah mabuk. Akh ! Bayangan itu kini hadir menerpaku yang tengah larut dalam haus kekayaan. Yang akhirnya membuatku tak henti mengatur nafas panjang, menarik oksigen dan mengeluarkan karbondioksida secara cepat, entah apa yang memasuki alam pikirku ini. Kadang bayangan Kakek berhambur di depanku saat aku mulai menyeret masuk amplop tebal itu ke dalam laci. Kakek yang selalu menasehati aku agar selalu tegar meniti mimpi, namun inikah mimpi-mimpi yang Kakek maksudkan itu. Dan anehnya, hati ini selalu berkata tidak saat aku memaksa untuk mengatakan ia.
           ‘’Kalau begitu, saya permisi dulu pak ! Saya yakin bapak akan memilihkan hal yang terbaik bagi saya, terutama untuk keluaraga saya’’ orang itu beranjak dari kursinya, ia menatapku takdzim dan langsung menjabat tanganku erat. Mendengar kata-kata ‘’keluarga’’ membuatku terenyah dan meleleh. Akh ! kini kau tak terlalu lihai menderukan nafas cepat, seperti saat aku lari dalam lorong tua dulu.
           Kini aku dalam kebimbangan yang luar biasa, aku bangkit dari tempat dudukku, menatap punggung orang itu mulai menghilang di balik pintu ruangan kerjaku.
           Ya ! kini aku adalah seorang staf penting diperusahaan besar ini, dengan pakaian necis yang selicin lantai baru di pel. Dengan lipatan seterika yang masih terlihat jelas, dan dengan semprotan parfum mewah yang berderajat.
           Aku menikahi anak tuan rumahku itu, yang telah mempekerjakan aku sebagai tukang kebun, menampungku sebagai pemangkas rumput dihalaman rumahnya. Namun jangan berprasangka baik dulu, wahai pembaca ! aku menikahi gadis itu bukan lantaran karena cinta. Kalian tau, dia adalah anak semata wayang yang bersekolah di Amerika. Yang jarang pulang ke Indonesia. Dan saat ia kembali kepangkuan orang tuanya, ia telah membuat kejutan besar, dengan menghadiahi lelaki tua dan wanita bergaya model itu dengan perutnya yang sudah membuncit, ia hamil, tanpa tahu siapa laki-laki yang telah mengahmilinya. Ia hanya terisak tangis yang sangat panjang saat kedua orang tuanya mengintrogasi siapa ayah dari cabang bayi yang kini bersemedi dalam perutnya itu, dan ia tak henti dalam linangannya.
           Lantaran harus menanggung malu, kedua orang tuanya mebnatapku yang tengah berdiri tak jauh dari kejadian itu, sorot mata mereka menaruh harap agar aku menikahi gadis yang terisak itu. Aku lihat seksama, kondisi gadis yang tengah hamil itu, membuatnya semakin mirip dengan Doraemon. Dan aku yang tak tega melihat adegan itu, hanya mendesah sangat dalam, sambil menganggukkan kepala pelan.
           Kini aku tetap terpaku di dalam ruangan ini sendiri, amplop tebal coklat itu telah membawa pikiranku menjelah kemana-mana.
           Sebenarnya aku ingin berubah menjadi orang yang baik. Karena satu alasan, aku rindu saat saat ayah dan aku di kampung pesisir, merakit solat rakaat demi rakaan, sujud berganti sujud hingga membuahkan salam yang yang selalu menentramkan hati. Aku rindu akan sapaan ombak dan angin malam yang bertekuk lutut dalam salam kehidupan. Aku rindu menjadi orang yang baik seumpama Kakek.
           Akh ! tapi kali ini, aku benar-benar tak tahu jalan mana yang harus aku pilih. Karena satu masalah yang tengah menerpaku saat ini. ‘’Aku tak bisa betul mengatur desah nafasku, menarik oksigen dan kemudian mengeluarkan karbondioksida secara cepat. Tak bisa mengatur deru nafas saataku berhadapan dengan amplop ini. Hingga aku tak tahu apa yang harus aku perbuat. Tapi dalam hatiku yang paling dalam yang aku ingin hanya menjadi orang baik. Karena satu alasan yang paling besar dalam hidupku. Aku teringat lagi saat Kakek mengajariku tentang lagu mengarungi luas ombak lautan Pasifik bersamaku dalam laut. Aku selalu teringat syair kekayaan negri ini yang tak henti Kakek dendangkan saat malam mulai menelusup kedalam malam-malam kami. Hingga kami merasa menjadi bangsa yang besar, walau pun hanya segelas air minum sangat sulit waktu itu, tadi setidaknya hati ini damai merasakan kebahagian yang tiada tara, yang tiada aku dapatkan olehku saat ini. Perlahan pikiran itu muncul.
           Tak lama kemudian aku segera menekan tombol telepon kantor, segera memanggil security, dan menyuruhnya agar segera datang keruanganku secepatnya. Hingga tak lama ia datang mengetok pintu dan segera pun aku menyuruhnya masuk.
           ‘’Suparman ! tolong kembalikan amplop ini pada pak Agus, orang yang baru saja meninggalkan ruangan ini’’ ucapku pada Suparman, scurity kontor. Sambil menyerahkan kedua amplop yang disodorkan orang itu padaku. Suparman segera mengangguk dan dengan cepat keluar dari ruanganku. Membawa amplop itu segera. Dan saat itu hatiku mulai lega.
           Bagaimana mungkin negri ini kembali pada syair-syair yang Kakek kidungkan selama ini ? kalau pada diri sendiri saja aku tak dapat memperbaikinya, kita hanya dapat memulai kebaikan itu Dari diri kita sendiri, keluarga, masyarakat hingga menjadi keutuhan Negara yang merah putih. Merah, yang berani berbuat kebaikan, berani meniggalkan kemungkaran. Dan putih yang suci dalam badan, dalam pikiran dan dalam hati yang paling dalam.
           Aku kembali terpekur dalam duduk, kini melanjutkan biografi hidupku, menyentuhkan jemari tangan menggerakkan pena dalam kertas, aku tatap perahu merah putih pemberian terakhir Ayah. Sengaja aku tuliskan awal kata ‘’Kakek’’ dalam biografi ini dengan huruf kapital, agar semua orang tahu bagaimana cara bersyukur pada negri yang kaya ini.
           Perahu ini adalah perahu mainan yang terbuat dari kayu Waru yang tumbuh di sekitar pantai pesisir, Kakek membuatkannya untukku menjelang hari kelahiranku umur tujuh tahun. Aku menatapnya lekat. Aku janji akan memperbaiki diri mulai dari sekarang, aku tak akan menunda-nunda lagi hal ini. Akanku bangun keluargaku memapaki kehidupan awal, awal yang insyaalloh akan membawa kebaikan pada semua. Kuraih perahu merah putih pemberian terakhir Kakek itu. Menciuminya erat, hingga kuhirup aroma yang masih menempel, walau telah berlalu puluhan tahun. Aroma kehangatan dekapan Kakek, saat ia menyanyikan lagu syair buatannya, saat ia memanfaatkan laut negaraku dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, bersama-sama.

* Mkd Aan's
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar