Perahu
ku merah putih !
Dengan
tiang berkibar bendera diatasnya
Merah
putih
menari-nari
Diujung
menusuk perut langit
Setegar
alif mencapai angkasa raya
Perahu
ku merah putih !
Dengan
cat paling mahal yang di poles kakek sebelum ia pergi tak kembali.
Perahu
ku merah putih
!
Kata
Kakek perahu ku menyimpan
sejuta kekayaan
Bahkan
banyak negri yang mengeruknya, namun tak pernah habis
Perahu
ku merah putih
!
Sebagai
surga bagi semua
Penuh
arti sepanjang keringat kami bisa jadi api
Tempat
semagat, kuat diri mengarungi badai ombak dan juga angin
Yang
akan membawa kemana ku ingin
Biografi ini aku
simpan dalam perahu merah putih. Agar semua orang tahu bahwa aku, dengan merah
berani darahku dan putih suci tulangku.Telah pergi bersama luka yang membara
dalam dadaku yang kini tengah terbelenggu, oleh hatiku sendiri.
Kakek yang selalu
mengajarkan aku menyanyi diterpaan angin pesisir laut, Kakek yang menyajakkan
sajak ini setiap kami berangkat berlayar mengarungi tepian samudra Pasifik. Ayah
sudah meninggal setahun setelah aku lahir, sedang ibu ia pergi meniggalkanku,
keluar pulau bersama seorang lelaki tua keluar pulau. Hingga aku tak mendengar
lagi kabarnya. Tak terhitung jumlahnya berapa kali Kakek bersenandung, aku
sudah tak ingat, hingga aku hafal betul dan selalu berputar-putar di otakku,
setiap aku berada di atas pundak kapal ini. Aku pasti akan selalu teringat akan
sajak kakek itu. Kakek buyutku yang mengajarkannya dulu. Ia adalah salah satu
pejuang yang ikut melawan Jepang. Bahkan Kakek adalah agen terlihai dalam
gencarannya melawan para penjajah, terutama dalam menjadi teliksandi dalam
penyerangan perang Padri. Kata ayahku, Kakek juga seorang yang tangguh
mengarungi ombak dan badai. Itu sebabnya ayah juga mengajarkan aku untuk selalu
tegar, setegar karang, batuan lautan dan setegar mimpi-mimpiku yang berada di
pulau terpencil ini, pulau yang kumuh dan tak terawat, bahkan air bersih saja
tak tersedia disini. Kami harus menunggu hujan agar dapat menyimpan air sebanyaknya.
Sebagai persediaan air hidup kami. Agar mimpi kami bisa terus mengembang
bersama layar kapal yang kami kepakkan. Mimpi yang sangat jauh.
Tapi mimpi itu seakan
makin pergi jauh. Hingga aku tak menangkap bayangannya sama sekali. Terutama
saat aku lihat tubuh Kakek ku tergeletak tak berdaya. Kini tubuh itu terbaring.
Walau aku tak bengenalinya karena tubuhnya yang hampir tak berbentuk manusia
gagah lagi. Namun aku kenal betul baju merah loreng itu, baju kesukaan Kakek
yang sering ia pakai kalau ia sedang ingin berombak dan menangkapkanku ikan.
Aku menangkap uban yang masih jelas disetiap helai rambut mayat dihadapanku. Kalap
bibirku komat-kamit tak karuan, mengutuk entah pada siapa, aku meronta sekuat
tenaga, menangis sekeras aku bisa berteriak. Beberapa penduduk berusaha
menjauhkanku yang masih saja terisak dari mayat yang diketemukan terombang-ambing
di tengah laut itu. Sekarang ia telah tiada dilumat air laut, pergi bersama
angin timur.
Luntang-lantung di
pulau sendiri tanpa ada siapa pun yang aku miliki, membuatku ingin pergi jauh.
meninggalkan semuanya. Termasuk kepedihan yang kini aku alami, meninggalkan
kenangan bersama Kakek dan kisah indah kami. Tak ada yang kini aku harapkan
disini. Hingga aku memutuskan untuk ikut bersama paman yang tiba-tiba datang
dari kota. Alhamduliilah, ternyata aku masih punya paman. Ia akan membawaku ke
kota. ‘’Akh, bagaimana rasanya hidup di kota ?’’ Melihat wajah paman yang
serupa dengan petinggi pejabat negara, pakaiannya yang licin seperti lantai,
dengan lipatan garis seterika yang masih terlihat, serta wangi parfum yang
melanglang buana, membuatku membayangkan hidup di tempat yang indah di penuhi
gedung-gedung bertingkat, jembatan yang panjang membentang, dipenuhi mobil
mewah yang tiap harinya tak berhenti berdecit. Juga berbagai macam penjual
makanan enak yang selalu ramai dihampiri pembeli. Akh ! kota, aku datang
kepadamu, bersama paman gagahku ini, aku melompat-lompat senang.
Pagi membangunkanku,
diantara bising yang memekakan telinga. Aku terbangun, namun bukan dengan
tatapan matahari yang amat terik. Tak tahu mengapa, aku dibangunkan dengan air
yang mendadak menciprat keseluruh badan.
‘’Bangun ! Pemalas !
Sudah siang, cepat cari uang ! Kau kira disini tempat anak yang bisa
malas-malasan’’ semburan air dari sebuah ember membuatku tersentak, membuka
mata secara terpaksa. Tak kusangka aku tertidur saat aku tiba dikota. Dengan
mimpi yang sangat indah, makan dutckindonate di dalam restoran mahal.
Mimpiku tentang
keindahan kota benar-benar buyar. Aku lihat tumpukan sampah menggunung, jalanan
dipenuhi sampah, aliran sungai dipenuhi sampah,Tikus-tikus sampah juga tak
henti mondar-mandir disekitar tempat sampah. membuat perut menjadi mual.
Rumah-rumah, kardus, dibuat dari sampah. tempat apa ini ? Melemparkan pandang
keluar, suara deru mobil tak henti menyembulkan asap polusi yang membuat sesak
hidung. Bus-bus rombeng yang tak pernah absen dari copet-copet nakal yang ku
lihat beraksi, serta jalanan yang dipenuhi puluhan gembel dan preman. Inikah
kota yang aku impikan. Akh ! pamanku yang bertubuh gagah itu ! Rupanya dia
seorang preman jalanan’’ batinku mengutuk pada diriku sendiri, mengapa aku bisa
saja percaya pada tampang gagahnya. Akh, bodoh !
‘’Untuk itu aku lari
sekuat tenaga, seminggu mengikuti aturan yang dibuat paman membuatku muak,
tubuhku kini tak lebihnya dari mainan, hingga aku memutuskan untuk pergi
darinya, lari tanpa meninggalkan pesan apapun’’ aku tak kuat lagi tubuh ini
dipukuli preman suruhan paman, hingga anggota tubuh cacat atau pun paling tidak
penuh dengan luka-luka, lalu mereka akan menjadikan kami sebagai pengamen
jalanan yang tak lagi berkutik untuk melawan. Dan walhasil, dengan tubuh kami
yang cacat dan luka pendapatan kami akanbertambah, mereka pun akan tertawa
cekikikan.
Bau amis berterbangan
bersama tumpukan sampah yang kini menjadi tempat teramanku, tumpukan sampah
yang berjejer sepanjang lorong kecil dipenuhi ribuan lalat nakal dan belatung.
Melakukan parodi dibawah terik sepanjang hari.
Sekarang, mengatur
nafas adalah kelihaianku, kalian mesti belajar. Takdir yang mengajarkanku
secara otodidak. Bukan guru olahraga seperti di sekolah-sekolah besar
bertingkat. Apalagi dosen-dosen keren berpakaian rapi di
universitas-universitas ternama. Aku bersembunyi dalam tumpukan sampah, dari
para preman suruhan paman. Aku mau muntah.
Dilain kesempatan di
hari-hari berikutnya, pintu perutku sudah didobrak seseorang dari dalam. Rasa
lapar bukan main aku rasakan. Sejak sehari terakhir aku tak memasukkan sesuatu
ke dalam perut, kecuali, sepotong roti yang aku ambil dari tong sampah dari
depan restoran mahal tadi malam. Hal ini membuat pikiranku kacau. Pandangan ku
sudah berputar-putar tak karuan, bumi sudah berada dikepalaku dan kepala sudah
seperti di kakiku seperti lagu Paterpan. Kunang-kunang sudah dari tadi
beterbangan di sekitar kepala, begitu pula desah nafasku yang naik turun
seperti pompa sepeda pedal yang ditarik tekan.
Aku berlari, aksiku
di ketahui warga, ternyata aku belum lihai. Letih sudah aku berlari, ditambah
perut kosong melompong, dikalikan kerongkongan yang sudah kering kerontang
karena tak sedikitpun cairan masuk menyegarkan, dikurangi kurang tidur tadi
malam, bau sampah yang berseliweran dan nyamuk sebesar lalat yang selalu datang
dan pergi membuatku tak terlelap dalam tidur, juga rengekan anak kecil yang
kurang makan dan gizi. Dan dibagi matahari yang bersinar hampir mencabut dan
menumbangkan
tubuh ini sekarang juga, lengkap sudah penderitaan ku sebagai seorang Copet
jalanan.
Pria berseragam
mengejar dari belakang, sudah hampir setengah jam aku berlari, menghindarinya.
Membuat kepala ini berputar putar, ingin muntah namun tak ada yang dapat di
muntahkan. Badan ini, tak terhitung sudah berapa kali mereka tuduh sebagai
perusak, mengagapku sebagai sampah yang harus di bersihkan dan ditertibkan.
‘’Lari Rustam,
cepatkah kau langkahkan kaki mu kemana saja asalkan kau dapat selamat dari
kejaran petugas keamanan itu. Kau tahu bila kau ditangkapnya, apa yang akan ia
perbuat padamu ? ia akan segera memukulimu, mencaci maki hidupmu yang mereka
kira hanya dapat dipermainkan seumpama sampah, belum lagi tubuhmu akan mereka
tendang hingga mereka tertawa puas satu sama lain, dapat mempermainkan
orang-orang lemah dan kecil sepertimu’’ batinku berteriak dalam deru nafas yang
tak henti menghirup keluar masuk oksigen dan karbondioksida. Kalau saja kedua
zat itu adalah seseorang, maka sudah pasti ia akan berteriak memohon agar aku
berhenti menarik dan menghembuskannya keluar masuk lubang hidung hingga saluran
paru-paruku, karena nafasku yang telah terengah.
Kini dihadapanku
hanya lorong gelap yang lembab, lorong yang menghubungkan aku dengan jalan tol
kota, aku sudah tahu jalan yang mestinya aku tempuh, aku yakin kali ini petugas
itu akan terkecoh lagi saat ia masuk mengejarku dalam lorong ini. Sebab lorong
ini tak ubahnya labirin yang meliuk-liuk membuat pusing kepala, diantara
pemukiman-pemukiman kumuh yang kotor dan tong sampah yang bersusun-susun hampir
serupa, pasti membuat setiap yang memasukinya bingung.
Kulihat dua petugas
tadi yang mengejar dari tadi di belakang telah tak terlihat batang hidungnya,
aku yakin mereka pasti sedang mencari jalan keluar dari sini setelah mereka tak
berhasil mendapatkanku. Aku tak ingin seperti Iwan, Bobi, Tukimin serta
kawan-kawanku yang lain, yang berhasil mereka tangkap.
Aku terus saja
berlari, tapi kali ini dengan langkah yang dipelankan. Aku sudah yakin mereka
tak akan lagi mengejar. Aku bersorak bangga, walau nafasku sudah tak karuan
lagi bunyinya. Kutatap sekelilingku, melihat jalan raya yang selalu dipenuhi
mobil-mobil mewah, aku melonjak girang. Tak ada yang dapat menangkapku. Aku pun
kembali menyusun langkah, sambil melonjak-lonjak girang. Namun tak sadar saat
aku menyebarang. Sebuah mobil mewah telah berada dihadapanku, mobil warna
silver yang cantik, ia menubruk tubuhku hingga aku terpental, bergeser dari
tempatku berdiri. Seketika pikiranku melayang entah kemana. Dan aku tak ingat
lagi apa yang terjadi. Karena setelah itu tubuh ku seperti di bawa angin.
Mata ku masih
tertutup rapat, masih menerka-nerka apa yang terjadi denganku, aku mulai
memutar balik peristiwa yang tadinya menimpaku, mempertajam ingatan agar aku
mengingatnya semua. Bayanganku pun tergelar pada mobil yang mendadak berada di
hadapanku. Hingga aku sadar bahwa sesuatu telah terjadi padaku.
Sengaja aku belum
membuka mata ini, aku berharap kini aku berada di sebuah rumah mewah, aku
berharap telah ditabrak oleh seseorang yang baik hati yang akan menjadikan aku
sebagai anak angkatnya. Tapi hal itu tak mungkin terjadi. Ini kehidupan nyata,
bukan cerpen, dongeng atau apapun itu, ini bukan cerita yang selalu pada
akhirnya berakhir bahagia. Dengan rasa perih yang masih menghinggapi
pergelangan tangan dan tubuhku, aku membuka mataku.
Aku melihat ruangan
yang begitu luas, mataku tak henti melotot tajam, berusaha menguceknya beberapa
kali, meyakinkan hal ini bukanlah mimpi yang akan membangunkannya saat membuka
mata, aku mencoba mencubit lengan ku dengan keras meyakinkan diriku sendiri
kalau ini nyata. Akh ! benar saja, aku tak perlu mencubit lenganku keras-keras
karena luka memar ditangan dan pelipis ini sudah cukup membuktikan kalaulah ini
bukan mimpi semata. Tapi dimana aku ? di rumah sakitkah ? dirumah orang kaya
kah ? Akh, betulkah kalau orang kaya telah menemukanku dan akan mengangkatku menjadi
anaknya karena tak tega membiarkanku hidup di jalanan lagi. Betapa beruntungnya
aku, kalau begitu adanya.
Tak lama seorang pria
berbadan tambun berusia sekitar limapuluh tahunan muncul dari balik pintu.
Mendekati ku dan dengan pelan duduk disamping tubuhku yang tengah terkulai
lemah di atas kasur empuk ini. Merasakan ia menyentuh keningku sambil membolak
balikkan tangannya, membuat aku membuka mata, menatapnya agar orang tua ini
yakin bahwa ia telah membangunkanku. Dan seketika aku mencoba untuk bangun.
‘’Jangan bergerak
dulu anak muda, dokter bilang kau harus banyak istirahat’’ mata sayunya
menenangkan aku, meyakinkan aku agar aku tetap berbaring di tempat tidur ini.
‘’Apa yang terjadi
denganku ?’’ Aku berpura-pura tak mengingat kejadian yang telah membuat aku
begini.
‘’Kau tertabrak
mobilku siang tadi, dan sekarang kau berada di rumahku. Istirahat lah dulu.
Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau tak usah khawatir’’ Begitulah kiranya
lelaki tua itu berkata padaku. Ia memperlakukan aku sebegitu baik. Merawat ku
hingga aku kembali sembuh. Aku menceritakan semua yang terjadi padaku
kepadanya, tapi tidak saat aku memutuskan diri menjadi pencopet jalanan hingga
aku dikejar-kejar petugas, dan tertabrak mobilnya. Ia saja, aku lihat ia
mengiba padaku. Ia memelukku dengan erat saat setelah aku merampungkan ceritaku
yang membuatnya menitikkan air mata. Akh ! Sebentar lagi hidupku akan berubah
karena aku yakin sebentar lagi pasti aku kan segera di angkatnya menjadi anak.
Akh ! bahagianya.
Pagi berceloteh bersama
kicau burung, tak lama desiran suara knalpot mobil akan menderu disana sini.
Membuat udara segar lari terbirit-birit bersembunyi kecelah dedaunan. Matahari
menyampaikan sinarnya lewat bilik-bilik jendela yang belum selesai aku
bersihkan. Aku seka keringat yang tak henti menetes di dahi ini. Sudah dari
tadi pagi aku belum juga selesai mengerjakan pekerjaan ini, merapikan taman
belakang, mengusap semua jendela rumah, memotong rumput yang mulai memanjang,
mengelap daun-daun tanaman yang terkena polusi dan debu di sekitar pagar rumah.
Hal yang tidak begitu berat untuk aku kerjakan, namun mata itu, tak henti
membuat ku berhenti menghela nafas, nafas yang terengah-engah, aku tak bisa
berhenti bekerja barang sejenak untuk sesekali membetulkan persendian dan otot-otot
ku yang sudah mulai kaku. Mata itu selalu saja membuntuti langkahku bekerja.
Seorang nyonya rumah dengan badan tegak yang berdiri laksana model, ia terus
menatapku. Kalau saja aku beristirahat sejenak, maka ia akan dengan keras
berdehem. Akh ! Ternyata semua yang kuinginkan tak sama dengan apa yang aku
impikan. Lelaki tua itu memang telah menampungku dirumahnya yang besar bak
istana dalam cerita-cerita dongeng. Bukannya ia mengangkat ku sebagai anak,
tapi malah menjadikanku sebagai babu dirumahnya yang besar sendirian. Akh !
Beginikah nurani orang kota. Ternyata hidup di kota tak seindah yang aku
impikan.
Beberapa tahun
berlalu.
‘’Tolonglah
bapak ! Atur semuanya. Aku yakin kebijaksanaan bapak akan memberikan keputusan
yang paling baik’’ ucap seseorang itu dengan wajah memelas. Sembari menyodorkan
amplop sebesar telapak tangan kearahku, membuatku menelan ludah beberapa kali.
Inilah bagian yang paling aku sukai. Aku akan menerawang jauh dengan isi ampop
besar itu. Yang akan membuat ku tersenyum pias, mengawang keudara. Yang akan
membuat hidupku lebih baik lagi. Amplop yang akan membawaku ketarap hidup yang
lebih berderajat dengan kehidupan di kota. Amplop yang akan menyumbat mulut
istriku yang sering mengoceh tak karuan. Akh, hidup ini benar-benar susah.
‘’Bagaimana
bapak ? bisakah bapak bersikap lebih adil, tolonglah pak, aku sangat
menginginkan jabatan ini, aku janji akan menjadi pekerja yang rajin kalau saja
bapak mau menerima saya bekerja disini’’ kini orang itu menyodorkan amplop yang
lain lagi, namun ukuran tebalnya tak setebal amplop yang pertama ia sodorkan
kepada ku. Hal ini membuatku makin terenyak, biasanya aku akan selalu menerima
amplop itu dengan segera menariknya pelan dan memasukkannya kedalam laci tempat
dudukku.
Namun
entah mengapa beberapa hari terakhir ini aku seperti diserang rasa takut yang
panjang. Bayangan Kakek dan kampung pesisirku berpuluh-puluh tahun lalu kembali
hadir serupa angin semilir yang kadang membangunkanku saat aku telah mabuk. Akh
! Bayangan itu kini hadir menerpaku yang tengah larut dalam haus kekayaan. Yang
akhirnya membuatku tak henti mengatur nafas panjang, menarik oksigen dan
mengeluarkan karbondioksida secara cepat, entah apa yang memasuki alam pikirku
ini. Kadang bayangan Kakek berhambur di depanku saat aku mulai menyeret masuk
amplop tebal itu ke dalam laci. Kakek yang selalu menasehati aku agar selalu
tegar meniti mimpi, namun inikah mimpi-mimpi yang Kakek maksudkan itu. Dan
anehnya, hati ini selalu berkata tidak saat aku memaksa untuk mengatakan ia.
‘’Kalau
begitu, saya permisi dulu pak ! Saya yakin bapak akan memilihkan hal yang
terbaik bagi saya, terutama untuk keluaraga saya’’ orang itu beranjak dari
kursinya, ia menatapku takdzim dan langsung menjabat tanganku erat. Mendengar
kata-kata ‘’keluarga’’ membuatku
terenyah dan meleleh. Akh ! kini kau tak terlalu lihai menderukan nafas cepat,
seperti saat aku lari dalam lorong tua dulu.
Kini
aku dalam kebimbangan yang luar biasa, aku bangkit dari tempat dudukku, menatap
punggung orang itu mulai menghilang di balik pintu ruangan kerjaku.
Ya
! kini aku adalah seorang staf penting diperusahaan besar ini, dengan pakaian
necis yang selicin lantai baru di pel. Dengan lipatan seterika yang masih
terlihat jelas, dan dengan semprotan parfum mewah yang berderajat.
Aku
menikahi anak tuan rumahku itu, yang telah mempekerjakan aku sebagai tukang
kebun, menampungku sebagai pemangkas rumput dihalaman rumahnya. Namun jangan
berprasangka baik dulu, wahai pembaca ! aku menikahi gadis itu bukan lantaran
karena cinta. Kalian tau, dia adalah anak semata wayang yang bersekolah di
Amerika. Yang jarang pulang ke Indonesia. Dan saat ia kembali kepangkuan orang
tuanya, ia telah membuat kejutan besar, dengan menghadiahi lelaki tua dan
wanita bergaya model itu dengan perutnya yang sudah membuncit, ia hamil, tanpa
tahu siapa laki-laki yang telah mengahmilinya. Ia hanya terisak tangis yang
sangat panjang saat kedua orang tuanya mengintrogasi siapa ayah dari cabang
bayi yang kini bersemedi dalam perutnya itu, dan ia tak henti dalam linangannya.
Lantaran
harus menanggung malu, kedua orang tuanya mebnatapku yang tengah berdiri tak
jauh dari kejadian itu, sorot mata mereka menaruh harap agar aku menikahi gadis
yang terisak itu. Aku lihat seksama, kondisi gadis yang tengah hamil itu,
membuatnya semakin mirip dengan Doraemon. Dan aku yang tak tega melihat adegan
itu, hanya mendesah sangat dalam, sambil menganggukkan kepala pelan.
Kini
aku tetap terpaku di dalam ruangan ini sendiri, amplop tebal coklat itu telah
membawa pikiranku menjelah kemana-mana.
Sebenarnya
aku ingin berubah menjadi orang yang baik. Karena satu alasan, aku rindu saat
saat ayah dan aku di kampung pesisir, merakit solat rakaat demi rakaan, sujud
berganti sujud hingga membuahkan salam yang yang selalu menentramkan hati. Aku
rindu akan sapaan ombak dan angin malam yang bertekuk lutut dalam salam
kehidupan. Aku rindu menjadi orang yang baik seumpama Kakek.
Akh
! tapi kali ini, aku benar-benar tak tahu jalan mana yang harus aku pilih.
Karena satu masalah yang tengah menerpaku saat ini. ‘’Aku tak bisa betul
mengatur desah nafasku, menarik oksigen dan kemudian mengeluarkan
karbondioksida secara cepat. Tak bisa mengatur deru nafas saataku berhadapan
dengan amplop ini. Hingga aku tak tahu apa yang harus aku perbuat. Tapi dalam
hatiku yang paling dalam yang aku ingin hanya menjadi orang baik. Karena satu
alasan yang paling besar dalam hidupku. Aku teringat lagi saat Kakek
mengajariku tentang lagu mengarungi luas ombak lautan Pasifik bersamaku dalam
laut. Aku selalu teringat syair kekayaan negri ini yang tak henti Kakek
dendangkan saat malam mulai menelusup kedalam malam-malam kami. Hingga kami
merasa menjadi bangsa yang besar, walau pun hanya segelas air minum sangat
sulit waktu itu, tadi setidaknya hati ini damai merasakan kebahagian yang tiada
tara, yang tiada aku dapatkan olehku saat ini. Perlahan pikiran itu muncul.
Tak
lama kemudian aku segera menekan tombol telepon kantor, segera memanggil
security, dan menyuruhnya agar segera datang keruanganku secepatnya. Hingga tak
lama ia datang mengetok pintu dan segera pun aku menyuruhnya masuk.
‘’Suparman
! tolong kembalikan amplop ini pada pak Agus, orang yang baru saja meninggalkan
ruangan ini’’ ucapku pada Suparman, scurity kontor. Sambil menyerahkan kedua
amplop yang disodorkan orang itu padaku. Suparman segera mengangguk dan dengan
cepat keluar dari ruanganku. Membawa amplop itu segera. Dan saat itu hatiku
mulai lega.
Bagaimana
mungkin negri ini kembali pada syair-syair yang Kakek kidungkan selama ini ?
kalau pada diri sendiri saja aku tak dapat memperbaikinya, kita hanya dapat
memulai kebaikan itu Dari diri kita sendiri, keluarga, masyarakat hingga
menjadi keutuhan Negara yang merah putih. Merah, yang berani berbuat kebaikan,
berani meniggalkan kemungkaran. Dan putih yang suci dalam badan, dalam pikiran
dan dalam hati yang paling dalam.
Aku
kembali terpekur dalam duduk, kini melanjutkan biografi hidupku, menyentuhkan
jemari tangan menggerakkan pena dalam kertas, aku tatap perahu merah putih
pemberian terakhir Ayah. Sengaja aku tuliskan awal kata ‘’Kakek’’ dalam
biografi ini dengan huruf kapital, agar semua orang tahu bagaimana cara
bersyukur pada negri yang kaya ini.
Perahu
ini adalah perahu mainan yang terbuat dari kayu Waru yang tumbuh di sekitar
pantai pesisir, Kakek membuatkannya untukku menjelang hari kelahiranku umur
tujuh tahun. Aku menatapnya lekat. Aku janji akan memperbaiki diri mulai dari
sekarang, aku tak akan menunda-nunda lagi hal ini. Akanku bangun keluargaku
memapaki kehidupan awal, awal yang insyaalloh akan membawa kebaikan pada semua.
Kuraih perahu merah putih pemberian terakhir Kakek itu. Menciuminya erat,
hingga kuhirup aroma yang masih menempel, walau telah berlalu puluhan tahun.
Aroma kehangatan dekapan Kakek, saat ia menyanyikan lagu syair buatannya, saat
ia memanfaatkan laut negaraku dengan menyanyikan lagu Indonesia raya,
bersama-sama.
* Mkd Aan's
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar