Panas makin mengganas, kampung kecil yang
malang. Penuh dengan bangunan tua dan gedung-gedung yang hampir roboh. Bau
sampah membusuk karna sering tenggelam bersama arus sungai yang tak mengalir
yang jadi pembatas kampung, hingga akhirnya tersangkut, tereliminasi disetiap
selokan-selokan kecil yang menjorok kerumah-rumah tua yang hampir roboh, Atau
gedung-gedung yang sudah compang camping berlapis jamur.
Bau busuk juga dibantu dengan gantungan
jemuran-jemuran baju yang berada disepanjang bangunann-bangunan tua, tak juga
megering sebab hujan selalu turun. Persis seperti bau ikan asin yang kehujanan.
’’Asyik !! gratis sholat sepanjang hidup.
Ngak usah capek-capewk telungkup dan sujud setiap hari’’
Maisyaroh melonjak-lonjak, girang saat
tuhan memberikan pengumuman baru yang katanya baru saja ada Malaikat Jibril
membisikkan risalah tersebut pada dirinya.
***
Penduduk berkumpul penuh girang, wajah
tak karuan membius membentuk wajah mereka, keringat mereka menguap, bau busuk.
Melonjak-lonjak persis baru saja menang undian togel, wajah tak asing yang
berada diatas podium abu-abu tua, aku sangat mengenalnya mata merah menyala
yang selalu membuah tubuhku menggigil sejak aku mengenalnya. Kini ia berdiri
gagah diatas podium, aku melonjak-lonjak terus mengikuti gerak girang para
penduduk. Suara orang yan berada dalam podium, kini mulai serak mengalun-ngalun
membakar gelora gemuruh yang hadir, penduduk pemukiman kumuh.
Masih diatas podium abu-abu, wajah lelaki
32 tahun itu kini lamat-lamat menatapku. Tatapan yang masih ia pertahan kan
sejak dulu pertama aku mengenalnya. Manis dan menjengkelkan. Persis seperti
saat sekolah di Madrasah Ibtidaiyyah dulu, ia memang senang menatap wajahku,
terutama mata coklatku yang katanya seperti bule. Atau bulat wajahku yang
katanya seperti bundar rembulan malam tanggal lima belas. Aku selalu ingat hal
itu, tak pernah sedikitpun hilang. Rambut keriting agak kecoklatan karena
sering berkeliaran di bawah matahari, saat memakai kopiah putih manis saat ia
kenakan, pemberian mendiang ayahnya yang kini telah meninggal, maklum ayahnya
adalah guru ngaji satu-satunya dikampung dan ia adalah putra mahkota yang akan
mewarisi kedudukan ayahnya kelak. Sayang, ayahnya meninggal saat ia masih belum
remaja.
Selain itu ia adalah anak laki-laki yang
sangat pintar mungkin kalau ia hidup dizaman para ilmuan ia juga akan
menciptakan exsperimen-exsperimen penting. Semua pelajaran yang membuat pusing
kepala ia cepat menghafalnya bahkan diluar kepala, dan dapat ia bacakan kembali
saat ia berlari dan main main kejar-kejaran denganku. Ia gemar membaca sejarah
nabi, dan juga buku-buku sejarah tentang Auliya zaman dulu. Kemudian usai ia
membacanya, dengan bersemangat ia menceritakan apa yang ia baca kepadaku,
dengan seksama aku mendengarkannya, walaupun kadang aku merasa jengkel, aku tak
suka cerita itu, tak seru seperti cerita dongeng yang diceritakan emak dulu. Ku
rasa ia adalah anak yang paling pintar yang ku kenal.
Kemudian saat musim kemarau meranggas, dimana
dedaunan-dedaunan Kanoi jatuh satu persatu berguguran. Saat ia tumbuh jadi
pemuda yang gagah yang banyak dipuji-puji orang. Dengan sangat berani ia datang
kerumah orang tuaku. Memintaku untuk dijadikannya seorang istri. Bukan main aku
sangat senang mendengarnya. Tak lain karena aku juga mencintainya. Namun, tak
lama setelah ia melempar seyum padaku dan mengikatku dengan janji yang aku tak
tahu akan ia tepati atau tidak. Ia pergi, tepat saat senja memerah di
ujungbarat dan dedaunan konoi mulai rontok satu persatu.
Dalam seyum kemarau itu hatiku gersang
meranggas, persis seperti dedaunan Konoi yang berserakan ditanah. Dalam
senyuman malam pun saat hujan awal penghujan tiba, dimana bau sampah menyeruak
ia melambaikan tangan. Aku menatap jelas saat ia pergi meninggalkanku dalam
rintik, bersatu padu air mataku dengan air mata hujan yang mulai tumpah, Ia
dapat beasiswa belajar ke luar negri.
***
Dan dalam tahun-tahun yang belum
terlewatkan, dalam suasana yang masih saja sama, dimana tong sampah besi
dimana-mana, namun tak berisi sampah sebagai mana mestinya, penduduk
menyulapnya menjadi tempat air untuk mandi atau memasak atau sebagai tempat
penyimpanan kardus-kardus tebal yang biasa digunakan untuk alas tidur. Aku
selalu menatap hal itu setiap sore. Diatas puing tembok bangunan yang sudah
tinggal kerangka, duduk melihat mentari menyapu siang. Lewat doa-doa angin yang
membelai ujung-ujung rambut. Hingga ada suara yang kadang selalu
mengganggu.
’’Maisaroh !! begini kah kerja kau setiap
hari, sampai kapan ?? Apa kamu tidak mendengar siaran diradio kemarin? kiamat
akan terjadi di tahun 2012, kalau kau tak segera menikah mau jadi apa ?’’
Rambut wanita yang sudah hampir memutih semua tersebut mengakhirui petualangan
alam khayalku. Saat itu terjadi maka diam adalah hal yang selalu jadi senjata
saat pertanyaan-pertanyaan itu mulai menyesak. Hingga aku tak kuat.
’’Lihat kau itu ! cobalah sesekali kau
berkaca, kau mau seperti perempuan itu ?’’ wanita itu terus menyerang ku dengan
sejuta pertanyaan yang tak mungkin aku dapat menjawabnya. Sambil menunjuk pada
seorang wanita paruh baya yang tengah meyuapi bayi kecil dalam ayunan. Paijem,
Kini pubuhnya kurus, sibuk mengurusi anak-anak tetangga, ia tak pernah menikah,
dan jadi perawan tua yang tak pernah dilirik. Sesaat Paijem menatapku,
nampaknya ia sadar tengah aku pandangi. Aku buru-buru mengalihkan pandangan
pada wanita tua yang tengah mengoceh pada ku. Ia mengelus-elus dadanya yang
sudah keriput, kemudian terdengar suara batuk menggerang tertahan.
Kalau melihat wanita tua itu aku aku jadi
ingat bapak, wasiatnya yang membuatku tinggal bersama wanita tua ini. Bapak
tertabrak kereka api saat memungut sampah unuk dijual, sedangkan emak kena
serangan jantung saat tahu bapak kecelakaan. Mereka semua pergi meninggalkanku
bersama wanita tua ini, saudara tiri bapak.
***
Dari atas podium abu-abu. Lelaki itu
terus menatapku tanpa kedip. kalau aku mengingat lelaki itu, maka aku akan
mengingat rentetan pemuda yang ngantri melamarku. Dimana disetiap pagi mereka
akan berbaris didepan rumah bunga-bunga yang mereka bawa agar mereka diterima.
Dan, aku hanya dapat mengerutkan dahi. Tak satupun aku melihat wajah mereka
apalagi harus menentukan pilihan pada salah satunya. Hanya pemuda yang pertama
kali melamarku yang aku tunggu-tunggu.
Kini, saat ia turun dari atas podium,
lelaki itu disambut dengan tepuk tangan para penduduk kampung. Tangannya
dicium-cium banyak orang hingga tangannya penuh keringat yang bercucur deras
dari para penduduk. Ia juga menaburkan setumpuk uang dari dalam kopor besar.
Aku ingat betul tentang lelaki ini, Saat
pertama ia menginjakkan lagi kakinya kembali ke kampung kumuh ini. Ia datang
dengan diiringi mobil-mobil bagus yang berjejer panjang saat parkir dijalan
kampung. Saat berjalan ia di pagari para orang bertubuh besar. Hingga, semua
orang menyambutnya bertepuk-tepuk dan mebuka mulut mereka lebar-lebar. Setelah
berpidato panjang lebar ia turun gagah,
jas hitam dan surban berwarna keemasan yang ia kenakan membuatnya tanpak
seperti orang yang berderajat tinggi.
Dan tanpa kusadari, pria itu sekarang
mendekat. Dan tiba-tiba secepat kilat tangannya yang menyambarkan aku dan
menariknya masuk kedalam mobil.
’’Sudah lama aku meninggalkanmu manis !! kenapa kamu tak jua
berkeluarga ?’’ ia merapatkan duduknya disebelahku di dalam mobil Jaguar
berwarna hitam. Ia menatap kepadaku, mata merahnya masih sama seperti dulu,
sambil mempererat pegangan tangannya. Tak sepatah katapun aku katakan padanya,
saat itu aku harap diamku dapat membuatnya paham kalau aku saat ini aku masih
saja menunggunya. Tak lama ada senyum tipis yang membalut semilir diwajahnya.
Senyum yang tak bisa aku tahan kalau aku terus melihatnya, senyuman
yang masih jua sama seperti dulu, penuh rasa greget yang kemudian mengalir
dalam aliran darah dan syaraf.
’’Aku tahu Maisyaroh !! bagai mana perasaanmu’’ ia berucap sambil
sesekali membuang pandangannya ke luar kaca buram pintu mobil, Kemudian ia
menutupnya.
’’Kamu masih saja menunggu ku kan ??’’ tangan kekarnya kembali
merangkul bahu krempengku. Aku mengangguk mengiyakan, kemudian ia makin
menatap, wajahnya ia dekatkan pada telingaku seraya berbisik. Kata-kata yang tak bisa aku ceritakan saat ini.
Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Tatap matanya begitu lekat sekaligus
menggoda. saat itu, di sore yang makin menjemput malam dipucuk
bangunan-bangunan roboh, juga dipenuhi kalong-kalong hitam serta ribut penduduk
yang sedang berebut uang dan makanan, kami sedang sibuk, tidak sedikitpun
mereka kami hiraukan.
Seminggu
kemudian, kertas karton bertulis kalimat sanjungan diacung-acungkan keatas oleh
tangan-tangan penduduk yang tengah bersemangat. mereka sedang menunggu tuhan
memberikan siraman rohani kepada mereka, ruang mereka semakin sempit dan ramai,
tak ada jalanan yang lowong sedikitpun. Bergilir mereka satu-persatu mengeguk
air suci yang memang disediakan untuk minum bagi para penduduk dan warga
sekitar, sebagian diantara mereka saling berebut sambil menarik-narik lengan
baju, konon, air yang dapat membawa berkah, memudahkan memperoleh rezaki dan
mengobati segala macam penyakit apa saja, mampu mengalahkan khasiat air
zam-zam.
Mobil-mobil mewah kembali berdatangan
menjajaki jalanan kumuh berlumpur maklum hujan tadi malam mendera, dan siang
tadi panas kian mencekik kerongkongan dan sekarang tampak awan tebal kelabu
berlapis-lapis menyerbu langit yang biru, tanda hujan akan segera turun.
’’Global warming memang edan’’. Langit cerah tak jadi jaminan seharian akan tak
turun hujan. Mobil yang biasa menaburkan uang seperti barang mainan. ’’tapi,
manusia ternyata lebih edan’’ Karpet merah yang dari tadi siang dihamparkan
mewah terlihat, disana sini bunga melati bertapuran tidak lupa lili dan kantil
putih juga kamboja, memberi kombinasi wewangian yang benar-benar membius hidung
mengalahkan bau air selokan yang biasa busuk menyeruak. Tak lupa para wanita
yang hadir memakai warna senada, warna putih dengan disemat bunga kamboja
didaun teling sebelah kiri dan rambut terurai tanpa pengikat, ajaran yang baru
para wanita terima. Syaitan masuk lewat telinga kiri makanya bunga kamboja
harus tetap bertengger disana, termasuk juga aku. Setelah dinanti-nanti tuhan
datang dengan baju putih yang nampak cemerlang. Dikepalanya telah diikat
mahkota bunga yang indah menghias seperti ditoko-toko bunga mahal, kulihat
jelas lelaki yang mereka sebut tuhan. Lelaki yang menganggapku sebagai istri
sah, terutama saat berada dalam mobil jaguar hitam atau mobil-mobil mewah
lainnya, Ia nampak gagah.
Sang
tuhan memberikan aba-aba. Acara sudah bisa dimulai. Dengan tegap ia berdiri di
atas sana. Namun, ada gundah yang jelas menusukku, tentang lelaki ku, lelaki
yang disebut penduduk sebagai tuhan. Jelas aku lihat diremang-remang ia berdua
menatap telaga yang dipenuhi bunga teratai. Jelas itu dirinya, bayangan itu aku
tangkap ketika hendak memungut baju dijemuran.
Disore
remang itu, ia bercumbu. Namun aku sedikit tak yakin. Hingga aku melihat Kunti,
perawan yang baru saja naik daun dan banyak dibicarakan orang, tengah berduaan
dengan teman lelaki ku. Merasa kesal langsung ku lempar daster berwarna jingga
yang baru aku pungut dari jepitan kemuka mereka berdua. Serentak mereka
terkejut, tak kuat aku lari sambil menahan isak tangis.
Kini ia
menahan pandang sekaligus mengarahkan tatapan mata nya terhadapku. Terkejut,
saat ku dapat suaranya mengalun-ngalun.
’’Ia bilang
segala sesuatu yang menyulitkan bagi manusia harus ditebas habis, sholat,
puasa, mengaji saat kecil dulu, haji dan apapun itu. Katanya nabi Adam tak
perlu menikah dengan siti hawa, sereka suka-sama suka, yang penting ada
cinta.’’
Maka saat itu, aku tak tahu seberapa
penting diriku dalam kehidupannya, kehidupan lelaki yang orang sembah-sembah
sebagai tuhan. Sakit hati aku mendengarnya. Karena aku sangat mencintainya,
ingin seutuhnya jadi miliknya.
Semua bertepuk tepuk, hingga akhirnya uang
bertabur dari atas podium seperti berjatuhan dari langit, kecuali aku yang
merasa di hianati, tak tahan lagi mendengar segala khutbah keagamaannya.
Aku lari menjauh, hingga mulut tuhan
memanggilku dengan pengeras suara. Ia menyebut namaku, agar aku tak pergi
meningalkan dirinya. Segera ia turun dari atas podium diiringi orang-orang yang
saling pandang satu sama lain. Lalu kudengar bisikan halus dari bibirnya
’’Maisyaroh !! kamu adalah satu satunya yang
aku cintai, percayalah !!’’
Ia mendekatkan
tubuhnya padaku. Dalam pelukannya, tak terlalu jauh kulihat wajah cemburu Kunti
melirik dari balik pohon kenari tua, ia mengkucek-kucek ujung bajunya.
Bebrapa
minggu berlalu.
***
Setiap
hari yang datang semakin membeludak, bukan hanya dalam kampong, bahkan dari
luar kampungpun berbondong-bondong mengikuti acara yang kita sebut siraman
rohani langsung dari tuhan. Suara tuhan mulai kering, ia masih berdiri diatas
podim abu-abu, suaranya pun kini makin sempit. Kalah dengan rauman penduduk
yang sedang marah. Yang mereka tunggu adalah mobil-mobil mewah yang biasa
datang membawa kopor-kopor uang. Sudah dua hari belakangan ini, entah mengapa
mereka tak juga hadir. Tuhan sudah menelpon mereka, bahkan telah mengirimkan
surat pada mereka. Aku yang tengah duduk disebelah podium selaku sekertaris
tuhan juga merasa resah. Kalau begini, aku berpikir kita akan diamuk massa.
Hingga kemudian mobil yang ditunggu tak juga datang, tuhan segera memberikan
titah agar mereka meneguk air suci, ia bilang rahmat akan datang jika
meneguknya, rezeki akan mengalr deras. Mereka diam sejenak, dan tak lama mereka
berlari berebut langkah merebut gayung diatas gentong yang berisi air suci,
sesaat tuhan merasa lega. Kulihat kini senyum dibibirnya. Hingga akhirnya aku
paham. Mereka sudah hilang kesadaran.
***
Malam
mencekik para bintang lewat dentuman tabuh yang baru saja di tabuh keras. Nyala
api memeluk gelap malam hingga berakhir dalam terang. Parit kecil yang menghasilkan
gemuruh gemericik genangan air yang mengalir menghempas bebatuan cadas yang
nampak tajam nampak mengerikan. Dingin pekat menyelubung seakan menggigit masuk
kesela-sela pori-pori.
Beberapa
bola mata menyala terpantul nyala api obor yang tengah melayang-layang. Langkah
kaki telanjang menginjak tanah penuh rerumputan tidur. Malam itu, malam
mengerikan yang pernah ada dalam hidupku. Beberapa rombongan orang tak dikenal
masuk kelam kampung, kudengar langkah mereka ribut diluar rumah. Jelas teriakan
mereka menggaung dalam pelukan malam yang makin sunyi
’’Allohu
Akbar..’’
‘’Allohu
Akbaaaar...’’
’’Allohu
Akbaarrr...!!!’’ kalimat yang mereka lengkingkan keras dan berulang ulang.
’’Allohu
Akbar..’’ Allohu Akbaaaar..!!’’
‘’Ada apa
ini ?’’ saat itu aku bertanya tanya. Dan tak mampu aku jawab.
Lelaki yang
berada disampingku juga merasakan kekhawatiran yang hebat. Tak lama ia segera
bangun dan mengambil parang yang tergantung di bilik bambu. Sedang kobar api di
luar rumah makin membersar.
’’Allohu
Akbaaaar..!!’’ mereka membakar segala pemukiman yang ada seraya mengumandangkan
kalimat yang sama, linglung aku mendekati lelaki yang baru saja terbangun. memaksanya
agar tak meninggalkanku didalam rumah sendirian. Kutarik tangan nya dengan
segala kekuatan yang aku miliki, sambil mengusap keningnya yang penuh dengan
keringat.
Namun ia menghempaskan aku hingga
terjatuh. kemudian ia tersenyum dan keluar meninggalkanku. Kini aku sendiri
dalam rumah, kulihat bilik rumah yang hampir terbakar, ada yang sengaja
membakar rumah ini. Tiba-tiba ku ingat wanita tua yang selalu membujukku untuk
menikah, ‘’kemana dia ??’’ aku mencoba mencari melngkah cepat keluar rumah,
puing-puing bangunan penuh kobaran api berjatuhan dari tempat yang sering ku
menunggui sore.
‘’Kemana
dia ?’’ baru saat ini aku peduli dengannya, aku terus berlari.
’’Allohu
akbar ..!’’ kalimat itu terus menggaung.
Kulihat
beberapa orang ditusuk, ditendang bahkan dibakar hidup-hidup atau dicincang
dengan parang atau cangkul. Aku terus menjerit setelah tahu diantaranya adalah
orang yang kampung ini menyebutnya tuhan. teman mengajiku dulu yang pintar,
juga orang yang sangat aku cintai, aku terus berlari dengan tangis.
Seseorang
berparang mengejarku. Hingga aku terjatuh terpelanting keselokan yang sangat
kotor, nafasku kini terengah-engah.
Hingga
kulihat tong sampah yang besar. Seorang anak kecil sedang berlindung didalamnya
penuh ketakutan, seakan ia memanggilku dengan senyum, aku mendekatinya. Dan
masuk kedalamnya. Ia juga menyebut-nyebut nama ibu, mungkin ia sangat
ketakutan. Maka aku memeluk tubuhnya erat, ia menangis, desah nafasnya tak
teratur. Aku mendengar ia menyebut asma Alloh. Hingga aku tersentak dibuatnya.
Dadaku rasa bergetar. Aku memandanginya lekat dan memeluknya erat.
Hingga aku tertidur dan saat pagi
matahari membangunkanku dengan sinarnya. Aku sangat terkejut, anak kecil itu
sudah tak ada. Ia menghilang dan tak ku tahu sedikitpun jejaknya. Kurasa ia
adalah malaikat yang turun untuk mengingatkan aku.
Kini aku
sadar. betapa dulu waktu kecil aku memuja-Nya, tapi aku meninggalkan-Nya. Dan
kini Ia menyentuhku setelah lama aku sangat kotor. Hingga dalam tong sampah,
aku benar benar jadi sampah!
Aku sampah ! Kampung itu ?.. penduduk ?..
kekasihku ?...
Semua
dipenuhi.. sampah...
Disebuah bangku
kosong. Maisyaroh menundukkan pandangannya, air matanya berderai jatuh satu
persatu di pipi cantiknya. Tertunduk ia menahan isakkan yang bergemuruh dalam
dadanya. Ia menatap wajah polisi tampan bertubuh gagah dihadapannya yang sedang
mengintrogasinya. Setelah menceritakan apa yang telah ia alami selama ini,
tangisnya makin pecah ia menatap perutnya yang tengah membesar.
* Mkd Aan's
2012

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل
BalasHapusKAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل
KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل