Minggu, 27 April 2014

Di Bawah Lindungan Tong Sampah

Panas makin mengganas, kampung kecil yang malang. Penuh dengan bangunan tua dan gedung-gedung yang hampir roboh. Bau sampah membusuk karna sering tenggelam bersama arus sungai yang tak mengalir yang jadi pembatas kampung, hingga akhirnya tersangkut, tereliminasi disetiap selokan-selokan kecil yang menjorok kerumah-rumah tua yang hampir roboh, Atau gedung-gedung yang sudah compang camping berlapis jamur.
Bau busuk juga dibantu dengan gantungan jemuran-jemuran baju yang berada disepanjang bangunann-bangunan tua, tak juga megering sebab hujan selalu turun. Persis seperti bau ikan asin yang kehujanan.
’’Asyik !! gratis sholat sepanjang hidup. Ngak usah capek-capewk telungkup dan sujud setiap hari’’
Maisyaroh melonjak-lonjak, girang saat tuhan memberikan pengumuman baru yang katanya baru saja ada Malaikat Jibril membisikkan risalah tersebut pada dirinya.
***
Penduduk berkumpul penuh girang, wajah tak karuan membius membentuk wajah mereka, keringat mereka menguap, bau busuk. Melonjak-lonjak persis baru saja menang undian togel, wajah tak asing yang berada diatas podium abu-abu tua, aku sangat mengenalnya mata merah menyala yang selalu membuah tubuhku menggigil sejak aku mengenalnya. Kini ia berdiri gagah diatas podium, aku melonjak-lonjak terus mengikuti gerak girang para penduduk. Suara orang yan berada dalam podium, kini mulai serak mengalun-ngalun membakar gelora gemuruh yang hadir, penduduk pemukiman kumuh.
Masih diatas podium abu-abu, wajah lelaki 32 tahun itu kini lamat-lamat menatapku. Tatapan yang masih ia pertahan kan sejak dulu pertama aku mengenalnya. Manis dan menjengkelkan. Persis seperti saat sekolah di Madrasah Ibtidaiyyah dulu, ia memang senang menatap wajahku, terutama mata coklatku yang katanya seperti bule. Atau bulat wajahku yang katanya seperti bundar rembulan malam tanggal lima belas. Aku selalu ingat hal itu, tak pernah sedikitpun hilang. Rambut keriting agak kecoklatan karena sering berkeliaran di bawah matahari, saat memakai kopiah putih manis saat ia kenakan, pemberian mendiang ayahnya yang kini telah meninggal, maklum ayahnya adalah guru ngaji satu-satunya dikampung dan ia adalah putra mahkota yang akan mewarisi kedudukan ayahnya kelak. Sayang, ayahnya meninggal saat ia masih belum remaja.
Selain itu ia adalah anak laki-laki yang sangat pintar mungkin kalau ia hidup dizaman para ilmuan ia juga akan menciptakan exsperimen-exsperimen penting. Semua pelajaran yang membuat pusing kepala ia cepat menghafalnya bahkan diluar kepala, dan dapat ia bacakan kembali saat ia berlari dan main main kejar-kejaran denganku. Ia gemar membaca sejarah nabi, dan juga buku-buku sejarah tentang Auliya zaman dulu. Kemudian usai ia membacanya, dengan bersemangat ia menceritakan apa yang ia baca kepadaku, dengan seksama aku mendengarkannya, walaupun kadang aku merasa jengkel, aku tak suka cerita itu, tak seru seperti cerita dongeng yang diceritakan emak dulu. Ku rasa ia adalah anak yang paling pintar yang ku kenal.
Kemudian saat musim kemarau meranggas, dimana dedaunan-dedaunan Kanoi jatuh satu persatu berguguran. Saat ia tumbuh jadi pemuda yang gagah yang banyak dipuji-puji orang. Dengan sangat berani ia datang kerumah orang tuaku. Memintaku untuk dijadikannya seorang istri. Bukan main aku sangat senang mendengarnya. Tak lain karena aku juga mencintainya. Namun, tak lama setelah ia melempar seyum padaku dan mengikatku dengan janji yang aku tak tahu akan ia tepati atau tidak. Ia pergi, tepat saat senja memerah di ujungbarat dan dedaunan konoi mulai rontok satu persatu.
Dalam seyum kemarau itu hatiku gersang meranggas, persis seperti dedaunan Konoi yang berserakan ditanah. Dalam senyuman malam pun saat hujan awal penghujan tiba, dimana bau sampah menyeruak ia melambaikan tangan. Aku menatap jelas saat ia pergi meninggalkanku dalam rintik, bersatu padu air mataku dengan air mata hujan yang mulai tumpah, Ia dapat beasiswa belajar ke luar negri.
***
Dan dalam tahun-tahun yang belum terlewatkan, dalam suasana yang masih saja sama, dimana tong sampah besi dimana-mana, namun tak berisi sampah sebagai mana mestinya, penduduk menyulapnya menjadi tempat air untuk mandi atau memasak atau sebagai tempat penyimpanan kardus-kardus tebal yang biasa digunakan untuk alas tidur. Aku selalu menatap hal itu setiap sore. Diatas puing tembok bangunan yang sudah tinggal kerangka, duduk melihat mentari menyapu siang. Lewat doa-doa angin yang membelai ujung-ujung rambut. Hingga ada suara yang kadang selalu mengganggu. 
’’Maisaroh !! begini kah kerja kau setiap hari, sampai kapan ?? Apa kamu tidak mendengar siaran diradio kemarin? kiamat akan terjadi di tahun 2012, kalau kau tak segera menikah mau jadi apa ?’’ Rambut wanita yang sudah hampir memutih semua tersebut mengakhirui petualangan alam khayalku. Saat itu terjadi maka diam adalah hal yang selalu jadi senjata saat pertanyaan-pertanyaan itu mulai menyesak. Hingga aku tak kuat.
’’Lihat kau itu ! cobalah sesekali kau berkaca, kau mau seperti perempuan itu ?’’ wanita itu terus menyerang ku dengan sejuta pertanyaan yang tak mungkin aku dapat menjawabnya. Sambil menunjuk pada seorang wanita paruh baya yang tengah meyuapi bayi kecil dalam ayunan. Paijem, Kini pubuhnya kurus, sibuk mengurusi anak-anak tetangga, ia tak pernah menikah, dan jadi perawan tua yang tak pernah dilirik. Sesaat Paijem menatapku, nampaknya ia sadar tengah aku pandangi. Aku buru-buru mengalihkan pandangan pada wanita tua yang tengah mengoceh pada ku. Ia mengelus-elus dadanya yang sudah keriput, kemudian terdengar suara batuk menggerang tertahan.
Kalau melihat wanita tua itu aku aku jadi ingat bapak, wasiatnya yang membuatku tinggal bersama wanita tua ini. Bapak tertabrak kereka api saat memungut sampah unuk dijual, sedangkan emak kena serangan jantung saat tahu bapak kecelakaan. Mereka semua pergi meninggalkanku bersama wanita tua ini, saudara tiri bapak.
***
Dari atas podium abu-abu. Lelaki itu terus menatapku tanpa kedip. kalau aku mengingat lelaki itu, maka aku akan mengingat rentetan pemuda yang ngantri melamarku. Dimana disetiap pagi mereka akan berbaris didepan rumah bunga-bunga yang mereka bawa agar mereka diterima. Dan, aku hanya dapat mengerutkan dahi. Tak satupun aku melihat wajah mereka apalagi harus menentukan pilihan pada salah satunya. Hanya pemuda yang pertama kali melamarku yang aku tunggu-tunggu.
Kini, saat ia turun dari atas podium, lelaki itu disambut dengan tepuk tangan para penduduk kampung. Tangannya dicium-cium banyak orang hingga tangannya penuh keringat yang bercucur deras dari para penduduk. Ia juga menaburkan setumpuk uang dari dalam kopor besar.
Aku ingat betul tentang lelaki ini, Saat pertama ia menginjakkan lagi kakinya kembali ke kampung kumuh ini. Ia datang dengan diiringi mobil-mobil bagus yang berjejer panjang saat parkir dijalan kampung. Saat berjalan ia di pagari para orang bertubuh besar. Hingga, semua orang menyambutnya bertepuk-tepuk dan mebuka mulut mereka lebar-lebar. Setelah berpidato panjang lebar ia  turun gagah, jas hitam dan surban berwarna keemasan yang ia kenakan membuatnya tanpak seperti orang yang berderajat tinggi.
Dan tanpa kusadari, pria itu sekarang mendekat. Dan tiba-tiba secepat kilat tangannya yang menyambarkan aku dan menariknya masuk kedalam mobil.
’’Sudah lama aku meninggalkanmu manis !! kenapa kamu tak jua berkeluarga ?’’ ia merapatkan duduknya disebelahku di dalam mobil Jaguar berwarna hitam. Ia menatap kepadaku, mata merahnya masih sama seperti dulu, sambil mempererat pegangan tangannya. Tak sepatah katapun aku katakan padanya, saat itu aku harap diamku dapat membuatnya paham kalau aku saat ini aku masih saja menunggunya. Tak lama ada senyum tipis yang membalut semilir diwajahnya.
Senyum yang tak bisa aku tahan kalau aku terus melihatnya, senyuman yang masih jua sama seperti dulu, penuh rasa greget yang kemudian mengalir dalam aliran darah dan syaraf.
’’Aku tahu Maisyaroh !! bagai mana perasaanmu’’ ia berucap sambil sesekali membuang pandangannya ke luar kaca buram pintu mobil, Kemudian ia menutupnya.
’’Kamu masih saja menunggu ku kan ??’’ tangan kekarnya kembali merangkul bahu krempengku. Aku mengangguk mengiyakan, kemudian ia makin menatap, wajahnya ia dekatkan pada telingaku seraya berbisik. Kata-kata yang tak bisa aku ceritakan saat ini. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Tatap matanya begitu lekat sekaligus menggoda. saat itu, di sore yang makin menjemput malam dipucuk bangunan-bangunan roboh, juga dipenuhi kalong-kalong hitam serta ribut penduduk yang sedang berebut uang dan makanan, kami sedang sibuk, tidak sedikitpun mereka kami hiraukan.
Seminggu kemudian, kertas karton bertulis kalimat sanjungan diacung-acungkan keatas oleh tangan-tangan penduduk yang tengah bersemangat. mereka sedang menunggu tuhan memberikan siraman rohani kepada mereka, ruang mereka semakin sempit dan ramai, tak ada jalanan yang lowong sedikitpun. Bergilir mereka satu-persatu mengeguk air suci yang memang disediakan untuk minum bagi para penduduk dan warga sekitar, sebagian diantara mereka saling berebut sambil menarik-narik lengan baju, konon, air yang dapat membawa berkah, memudahkan memperoleh rezaki dan mengobati segala macam penyakit apa saja, mampu mengalahkan khasiat air zam-zam.
Mobil-mobil mewah kembali berdatangan menjajaki jalanan kumuh berlumpur maklum hujan tadi malam mendera, dan siang tadi panas kian mencekik kerongkongan dan sekarang tampak awan tebal kelabu berlapis-lapis menyerbu langit yang biru, tanda hujan akan segera turun. ’’Global warming memang edan’’. Langit cerah tak jadi jaminan seharian akan tak turun hujan. Mobil yang biasa menaburkan uang seperti barang mainan. ’’tapi, manusia ternyata lebih edan’’ Karpet merah yang dari tadi siang dihamparkan mewah terlihat, disana sini bunga melati bertapuran tidak lupa lili dan kantil putih juga kamboja, memberi kombinasi wewangian yang benar-benar membius hidung mengalahkan bau air selokan yang biasa busuk menyeruak. Tak lupa para wanita yang hadir memakai warna senada, warna putih dengan disemat bunga kamboja didaun teling sebelah kiri dan rambut terurai tanpa pengikat, ajaran yang baru para wanita terima. Syaitan masuk lewat telinga kiri makanya bunga kamboja harus tetap bertengger disana, termasuk juga aku. Setelah dinanti-nanti tuhan datang dengan baju putih yang nampak cemerlang. Dikepalanya telah diikat mahkota bunga yang indah menghias seperti ditoko-toko bunga mahal, kulihat jelas lelaki yang mereka sebut tuhan. Lelaki yang menganggapku sebagai istri sah, terutama saat berada dalam mobil jaguar hitam atau mobil-mobil mewah lainnya, Ia nampak gagah.
Sang tuhan memberikan aba-aba. Acara sudah bisa dimulai. Dengan tegap ia berdiri di atas sana. Namun, ada gundah yang jelas menusukku, tentang lelaki ku, lelaki yang disebut penduduk sebagai tuhan. Jelas aku lihat diremang-remang ia berdua menatap telaga yang dipenuhi bunga teratai. Jelas itu dirinya, bayangan itu aku tangkap ketika hendak memungut baju dijemuran.
Disore remang itu, ia bercumbu. Namun aku sedikit tak yakin. Hingga aku melihat Kunti, perawan yang baru saja naik daun dan banyak dibicarakan orang, tengah berduaan dengan teman lelaki ku. Merasa kesal langsung ku lempar daster berwarna jingga yang baru aku pungut dari jepitan kemuka mereka berdua. Serentak mereka terkejut, tak kuat aku lari sambil menahan isak tangis.
Kini ia menahan pandang sekaligus mengarahkan tatapan mata nya terhadapku. Terkejut, saat ku dapat suaranya mengalun-ngalun.
’’Ia bilang segala sesuatu yang menyulitkan bagi manusia harus ditebas habis, sholat, puasa, mengaji saat kecil dulu, haji dan apapun itu. Katanya nabi Adam tak perlu menikah dengan siti hawa, sereka suka-sama suka, yang penting ada cinta.’’
Maka saat itu, aku tak tahu seberapa penting diriku dalam kehidupannya, kehidupan lelaki yang orang sembah-sembah sebagai tuhan. Sakit hati aku mendengarnya. Karena aku sangat mencintainya, ingin seutuhnya jadi miliknya.
Semua bertepuk tepuk, hingga akhirnya uang bertabur dari atas podium seperti berjatuhan dari langit, kecuali aku yang merasa di hianati, tak tahan lagi mendengar segala khutbah keagamaannya.
Aku lari menjauh, hingga mulut tuhan memanggilku dengan pengeras suara. Ia menyebut namaku, agar aku tak pergi meningalkan dirinya. Segera ia turun dari atas podium diiringi orang-orang yang saling pandang satu sama lain. Lalu kudengar bisikan halus dari bibirnya
’’Maisyaroh !! kamu adalah satu satunya yang aku cintai, percayalah !!’’
 Ia mendekatkan tubuhnya padaku. Dalam pelukannya, tak terlalu jauh kulihat wajah cemburu Kunti melirik dari balik pohon kenari tua, ia mengkucek-kucek ujung bajunya.
Bebrapa minggu berlalu.
***
Setiap hari yang datang semakin membeludak, bukan hanya dalam kampong, bahkan dari luar kampungpun berbondong-bondong mengikuti acara yang kita sebut siraman rohani langsung dari tuhan. Suara tuhan mulai kering, ia masih berdiri diatas podim abu-abu, suaranya pun kini makin sempit. Kalah dengan rauman penduduk yang sedang marah. Yang mereka tunggu adalah mobil-mobil mewah yang biasa datang membawa kopor-kopor uang. Sudah dua hari belakangan ini, entah mengapa mereka tak juga hadir. Tuhan sudah menelpon mereka, bahkan telah mengirimkan surat pada mereka. Aku yang tengah duduk disebelah podium selaku sekertaris tuhan juga merasa resah. Kalau begini, aku berpikir kita akan diamuk massa. Hingga kemudian mobil yang ditunggu tak juga datang, tuhan segera memberikan titah agar mereka meneguk air suci, ia bilang rahmat akan datang jika meneguknya, rezeki akan mengalr deras. Mereka diam sejenak, dan tak lama mereka berlari berebut langkah merebut gayung diatas gentong yang berisi air suci, sesaat tuhan merasa lega. Kulihat kini senyum dibibirnya. Hingga akhirnya aku paham. Mereka sudah hilang kesadaran.
***
Malam mencekik para bintang lewat dentuman tabuh yang baru saja di tabuh keras. Nyala api memeluk gelap malam hingga berakhir dalam terang. Parit kecil yang menghasilkan gemuruh gemericik genangan air yang mengalir menghempas bebatuan cadas yang nampak tajam nampak mengerikan. Dingin pekat menyelubung seakan menggigit masuk kesela-sela pori-pori.
Beberapa bola mata menyala terpantul nyala api obor yang tengah melayang-layang. Langkah kaki telanjang menginjak tanah penuh rerumputan tidur. Malam itu, malam mengerikan yang pernah ada dalam hidupku. Beberapa rombongan orang tak dikenal masuk kelam kampung, kudengar langkah mereka ribut diluar rumah. Jelas teriakan mereka menggaung dalam pelukan malam yang makin sunyi
’’Allohu Akbar..’’
‘’Allohu Akbaaaar...’’    
’’Allohu Akbaarrr...!!!’’ kalimat yang mereka lengkingkan keras dan berulang ulang.
’’Allohu Akbar..’’ Allohu Akbaaaar..!!’’ 
‘’Ada apa ini ?’’ saat itu aku bertanya tanya. Dan tak mampu aku jawab.
Lelaki yang berada disampingku juga merasakan kekhawatiran yang hebat. Tak lama ia segera bangun dan mengambil parang yang tergantung di bilik bambu. Sedang kobar api di luar rumah makin membersar.
’’Allohu Akbaaaar..!!’’ mereka membakar segala pemukiman yang ada seraya mengumandangkan kalimat yang sama, linglung aku mendekati lelaki yang baru saja terbangun. memaksanya agar tak meninggalkanku didalam rumah sendirian. Kutarik tangan nya dengan segala kekuatan yang aku miliki, sambil mengusap keningnya yang penuh dengan keringat.
Namun ia menghempaskan aku hingga terjatuh. kemudian ia tersenyum dan keluar meninggalkanku. Kini aku sendiri dalam rumah, kulihat bilik rumah yang hampir terbakar, ada yang sengaja membakar rumah ini. Tiba-tiba ku ingat wanita tua yang selalu membujukku untuk menikah, ‘’kemana dia ??’’ aku mencoba mencari melngkah cepat keluar rumah, puing-puing bangunan penuh kobaran api berjatuhan dari tempat yang sering ku menunggui sore.
‘’Kemana dia ?’’ baru saat ini aku peduli dengannya, aku terus berlari.
’’Allohu akbar ..!’’ kalimat itu terus menggaung.
Kulihat beberapa orang ditusuk, ditendang bahkan dibakar hidup-hidup atau dicincang dengan parang atau cangkul. Aku terus menjerit setelah tahu diantaranya adalah orang yang kampung ini menyebutnya tuhan. teman mengajiku dulu yang pintar, juga orang yang sangat aku cintai, aku terus berlari dengan tangis.
Seseorang berparang mengejarku. Hingga aku terjatuh terpelanting keselokan yang sangat kotor, nafasku kini terengah-engah.
Hingga kulihat tong sampah yang besar. Seorang anak kecil sedang berlindung didalamnya penuh ketakutan, seakan ia memanggilku dengan senyum, aku mendekatinya. Dan masuk kedalamnya. Ia juga menyebut-nyebut nama ibu, mungkin ia sangat ketakutan. Maka aku memeluk tubuhnya erat, ia menangis, desah nafasnya tak teratur. Aku mendengar ia menyebut asma Alloh. Hingga aku tersentak dibuatnya. Dadaku rasa bergetar. Aku memandanginya lekat dan memeluknya erat.
Hingga aku tertidur dan saat pagi matahari membangunkanku dengan sinarnya. Aku sangat terkejut, anak kecil itu sudah tak ada. Ia menghilang dan tak ku tahu sedikitpun jejaknya. Kurasa ia adalah malaikat yang turun untuk mengingatkan aku.
Kini aku sadar. betapa dulu waktu kecil aku memuja-Nya, tapi aku meninggalkan-Nya. Dan kini Ia menyentuhku setelah lama aku sangat kotor. Hingga dalam tong sampah, aku benar benar jadi sampah!
 Aku sampah ! Kampung itu ?.. penduduk ?.. kekasihku ?...
Semua dipenuhi.. sampah...
Disebuah bangku kosong. Maisyaroh menundukkan pandangannya, air matanya berderai jatuh satu persatu di pipi cantiknya. Tertunduk ia menahan isakkan yang bergemuruh dalam dadanya. Ia menatap wajah polisi tampan bertubuh gagah dihadapannya yang sedang mengintrogasinya. Setelah menceritakan apa yang telah ia alami selama ini, tangisnya makin pecah ia menatap perutnya yang tengah membesar.

* Mkd Aan's
2012

1 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


    BalasHapus