Minggu, 27 April 2014

Cermin Keberuntungan Wanita Sholehah.

Panas makin menjadi, awan tipis-tipis berarak berlapis-lapis. Seperti sedang berlomba gerak jalan, pas tujuh belas Agustus-an di kantor-kantor halaman balai desa. Suara sound sistem mengalun-ngalun keras mempermainkan gendang telinga seperti ada yang sedang melangsungkan hajatan disana. Sebuah acara besar dalam rangka pengajian akbar reuni sekolah, yang di isi oleh ustad kondang yang sering tampil di acara televisi, ustad muda Mahmud Mathuridi berbakat.
Seorang gadis bernama Sholeha sedang asyik menyudut di bawah pohon cemara yang dahannya tumbuh lebat. Ia berusaha bersembunyi dibalik panas yang siang itu kian menyengat, tak karuan makin membuatnya gerah dan buturan-butiran keringat mulai tertimbun di dalam kerudung manisnya.
Resah, penampilannya akan berubah, ia segera mengeluarkan benda pusaka dari dalam tas silver yang kini tengah bertengger di bahunya. Cermin peninggalan nenek yang sangat berguna baginya yang ia bawa kemanapun ia pergi, sebuah cermin butut yang akan membawanya ke gerbang kemenangan nantinya. Karena sepenuhnya ia sadar, penampilan bagi wanita itu sangat penting nilainya 60% sedangkan pintar bagi wanita nilainya hanya 40%, karena ia tahu kecantiakan pada wanita terletak pada wajahnya, semakin cantik wanita maka akan terangkat nilainya. Sebaliknya wanita yang tak pernah memperhatikan penampilan dan sering asal menjaga kepribadiannya, maka jangan harap kaum lelaki akan melirik atau bahkan menentukan pilihan sebagai pasangan. Adapun bagi kaum Adam, ketampanan lelaki ada pada otaknya, semakin pintar lelaki itu maka nilainya lebih plus. Dan itu pun berlaku hukum kebalikannya, bagi para kaum pria yang otaknya pas-pasan maka ia tak istimewanya dimata orang, apa gunanya pria tampan kalau otaknya isi cebokan air, Setidaknya itulah yang sering ia baca di beberapa buku. 
***
‘’Kepada semua para alumi peserta reuni yang terhormat ! Agar segera beranjak duduk pada bagian kursi kosong yang telah disediakan di arena sebelah utara !!’’ suara peringatan kali ketiga laun keras, memperingati para pengunjung, tentu saja kini ditambah dengan nada yang agak menekan. Maklum, panas mentari makin mencekik. Para pengunjung tak tahan menahan gerah seperti cacing kepanasan. Mereka tak lagi duduk rapi mengikuti garis-garis kursi yang disediakan panitia, karena gerah yang di hasilkan panas matahari, walhasil suara pemberi tahuan itu,  hanya tinggal suara.

            ‘’Aduch panaasss…!! Pliisss … dong…. matahari jangan galak-galak, lagi pula suara bising terdengar dimana-mana, membuat perut lapar, pikiran kacau, jadi nyesel ngak sarapan singkong bakar tadi pas berangkat, nyesel memang kadang selalu datang terlambat, aduh acara ini kapan mulainya ??..’’ Keluh Sholeha dalam hati, kerudung yang ia kenakan makin pucat, sebab ia tak sempat cuci pakaian kemarin, maunya loundry tapi duitnya yang tak bisa kompromi, dompet makin tipis, ‘’nasib…nasib…!’’ sungguh malang nasib itu dompet, susah bener mempertahankan keutuhan isi dompet. Mana ia akhir-akhir ini ia disibukkan kesana-kemari cari kerja. Bawa proposal lamaran masuk keluar kantor. Maklum lulus kuliah dengan nilai baik belum tentu jadi jaminan. Ditambah lagi ia selalu sibuk dengan tugas rumah lain, maunya segera nyuci baju cepat-cepat pas ia punya waktu luang. Eech !! Hujan mengguyur bumi deras tanpa petanda sebelumnya, akibatnya cucian menumpuk bak puncak Himalaya, Mount Everenst. Benar-benar nasib baik tak bersama dirinya.

DAN PADA AKHIRNYA PULA –
            Parade kali ini tak memberikan kesan apa-apa, tanah yang kini ia pijak becek, hampir saja membuat baju merah delima yang ia kenakan kotor kalau saja ia tak hati-hati. Global warning memang edan, ngak ada habis-habisnya, tadi malam hujan mengguyur deras. Ech, tiba-tiba paginya matahari cerah bersinar tanpa noda. Akibatnya hidup sholeha jadi sembrawut, manusianya juga sich yang tak bertanggung jawab jadi pemimpin muka bumi. Memang manusia suka aja kalo bikin kesalahan sama tuhannya. Ngak salah Al Qur’an menyebutkan, segala sesuatu nikmat akan ditambah apabila manusia bersyukur. Eh, malah macem-macem bikin kerusakan dimuka bumi. Penggundulan hutan, buang sampah sembarang, rumah kaca yang akhirnya bikin atmosfer kita bolong-bolong kayak baju maklampir, belum lagi sikap manusia yang yang semau-maunya kepada makhluk lain. Hufft, sungguh ter-la-lu...!!
            Kini, ia memandang kearah sekitar lepas tanpa kedipan. Sedang mengontrol, Tapi ia tetap tak menemukan yang ia cari. Pemuda tampan persis seperti mimpinya tadi malam. Saat ia tidur diatas bantal belang berselaput tikar bekas. Tatapannya kembali ia layangkan pada panggung acara. Tempat ustad Mahmud Mathuridi, ustad kondang yang biasa muncul menjadi penceramah di tivi-tivi terkenal.
Ia pun kembali berfikir, tekatnya makin bulat. Ia harus segera menemukan calon pendamping yang dapat membuat hatinya bergerak cepat, tapi saat ini sepertinya mustahil, semua pengunjung tanpaknya sudah meninggalkan lapangan, ia menoleh keatas, langitpun tanpak gelap, sebentar lagi mungkin hujan akan turun kebawah. Sholeha segera mengangkat sedikit roknya. Setengah berlari menuju halte. Agar ia tak kehujanan saat hujan nanti turun.
Malam itu, jangkrik bernyanyi dibelakang rumah Sholeha, rombongan katak pun menjadi teman duetnya. Perut mereka dikembung-kembungkan agar menghasilkan suara yang tampak merdu. Mungkin mereka tau suasana hati Sholeha saat ini sedang berkambing, upss, salah, maksudnya berkabung, binatang-binatang tersebut mungkin berusaha menghibur namun tak mempan. Sholeha keburu tidur, tentu saja diatas bantal belang yang makin hari, makin tak karuan warnanya. Maklumlah musim penghujan baru melanda negara tercinta Indonesia. Biasanya memang hujan datang setiap saat tanpa memberi komando terlebih dahulu. Tak tentu kapan kadang siang bolong atau saat Sholeha lagi tidur diatas tempat tidurnya. Hujan hanya datang mengganggu, gara-gara genteng bocor yang tiap detik meneteskan air hujan, membuat baju Sholeha basah lagi, nambah gunung lagi.
   Duch sorry !! Aku lupa memperkenalkan siapa itu Sholeha, dengar baik-baik !! Sholeha adalah gadis cantik yang mungkin belum seberuntung teman-temannya yang lain. Yang sudah memiliki calon mereka masing-masing, tapi sholeha bukan perawan tua. Hanya saja ia belum menemukan jodoh yang tepat, ya, hanya belum ?.
Entah, sudah beberapa kali Sholeha menjalin hubungan dengan seorang pria, karena bibinya selalu memaksa ia untuk mencari seorang pendamping hidup, biar ia segera menjelma menjadi sosok yang mandiri. Tapi semuanya tak berujung dengan baik. Mungkin sudah tujuh kali atau delapan kali atau sebelas kali yach !! Sorry aku lupa lagi -

DISUATU SIANG -
‘’Gimana Sholeha, kamu udah ikutin saran tante kan ? jangan buang-buang waktu terlalu lama, ini semua demi kebaikan kamu juga Ha !’’ Tukas tantenya lagi, genit. Berusaha membuat Sholeha nampak jadi lebih bingung karena over dosis dijejali pertanyaan yang sering sekali ia dengar.
‘’Atau kamu mau lihat tante menjodohkan kamu dengan orang pilihan tante ?’’ tawar tantenya keras 
‘’Tante tenang saja yah, tan, aku udah menemukan  pemuda yang cocok kok tan, entar aku kenalin deh sama tante’’ bujuk Sholeha
‘’Ingat Ha ! kamu harus benar-benar serius kali ini’’ suara tante mengingatkan
‘’Baiklah.. Leha akan segera berusaha’’ Sholeha menjawab pasrah.
‘’Oh yah jaga rumah baik-baik mungkin bulan depan tante akan balik kesana, tante masih ada banyak urusan di Pekanbaru’’ Sholeha kemudian menutup pembicaraan lewat handphone tersebut. Hatinya kacau, pikirannya kali ini terbang entah kemana.
Ia kembali bergegas, mendandani wajahnya didepan cermin kecil, ia terus membalik-balikkan posisi cermin yang ia pandangi, melihat dan memastikan dari sudut mana saja ia terlihat menarik. Ia sedang bersiap-siap segera menghadiri pernikahan Retno. Memanyun-manyunkan bibirnya, memastikan lipstiknya menempel dengan sempurna, akan tetap menempel meski badai besar datang.
Sholeha berbisik dihatinya ‘’Tuchkan Sholeha, kamu itu cantik, pria manasih yang ngak mau sama kamu ? Ia berkata pelan di depan cermin. Tapi mengapa kamu belum juga dapat jodoh Sholeha ?‘’ ucapnya membatin. Kali  ini raut wajahnya mulai masam, ia terdiam sejenak kemudian, segera menyaber tas yang berada di depan meja riasnya. Segera pergi buru-buru.
‘’Kalau aku tak bisa mendapatkan satupun dari sekian banyak pemuda dari mereka semua, aku akan menyerahkan hidupku untuk masjid dan juga untuk mendalami ilmu agama’’ ucap Sholeha setengah berjanji, mantap, tanpa dibuat-buat. Tanpa pikir panjang ia melangkahkan kaki lenturnya penuh dengan pesona, ia nampak tersenyum sendiri.
***
Ruang resepsi itu terlihat sangat megah, terbuat dengan dekorasi yang bernuansa Batak dan Sunda, mungkin salah satu dari pasangan berasal dari Batak dan Sunda. Mempelai perempuan dari batak dan perempuannya dari sunda atau laki-laki dari sunda dan yang perempuan dari batak, laki-laki atau perempuan atau sama-sama dari batak dan sunda atau tidak sama sekali. Ah,untuk apa, ia tak mau banyak pikir. Ia menatap kesekitar. Pandangan sorot matanya mecari-cari. Pemuda tampan impiannya selama ini. Tapi sama saja dari yang kemarin, ia tetap tak menemukan apa yang ia cari. Ia mendesah berat ia tertunduk pasrah. Sapaan dari teman-temannya yang sudah menikah hanya menambah mumet pikirannya. Ia seperti berada didalam negri yang tidak duhuni oleh seorang manusia sekalipun. Dengan muka ditekuk ia pun meninggalkan tempat tersebut. Berjalan merayap keluar dengan muka tak ada mood sama sekali.
***
   ''Gimana udah nemu calon yang tepat tidak ? '' Sholeha terbayang akan raut muka bibi dan pamannya yang akan mengintrogasinya lewat pertanyaan-pertanyaan yang membuat ia seakan mual. Ia kali ini benar-benar pasrah. Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat sepuluh menit. Nyanyian kodok yang makin bersahutan keras samasekali tak menarik minat sholeha untuk didengarkan secara seksama. Sepertinya para kodok tersebut gagal lagi menggelar konser buat Sholeha. Kasihan sekali kodok tersebut. He…he….!!!
Angin yang bergerak dingin malah membuat sholeha makin pusing. Segara segera mengambil whudu'. Segera ia membuka mushaf. Dibacanya surat Yusuf. Sudah tiga kali ia mengulang surat itu, namun hatinya masih belum mendapatkan ketengan yang ia impi-impikan.
Malah ia terbawa kantuk yang sangat mengerikan, beberapa kali mulutnya menganga tanpa bentuk yang sempurna. Ia terus menatap wajah wajah jam dinding kamarnya yang terlalu lamban menurutnya. Menginginkan akan berubah menjadi gadis yang sangat cantik seperti dalam kisah nabi Yusuf AS, orang yang melihatnya disetiap acara resepsi akan memotong tangannya sendiri, bukan buah yang sering di sediakan di meja-meja makan. Dalam pesta ulang tahun pun, bukannya kue tart yang akan terpotong bahkan lengan sang empunya sendiri yang akan terpotong.
Mungkin itu yang kini ada dalam benaknya, entah mengapa mencari jodoh dalam waktu singkat membuatnya seakan menghadapi hal yang mengerikan, padahal ia tahu mencari jodoh hukumnya sunah, untuk perempuan yang memang membutuhkan keluarga baru seperti dirinya, namun hal itu malah membuatnya pusing empat belas keliling.
Kini tatapannya makin beku, ia melihat seisi kamar, tatapannya yang tertuju pada benda bening yang dapat memantulkan cahaya, sebuah cermin yang tergeletak di depan meja riasnya, cermin kecil butut peninggalan al marhummah nenek yang selalu ia jaga.
Dan tiba-tiba, tanpa sengaja, tak ada rekayasa, dan sungguh bukan hal yang biasa, Ia mengingat sebuah janji, janji yang tidak sengaja ia katakan saat ia berkaca disana.  Membuat maatnya kini terbelalak, ia sadar akan ucapan yang ia katakan waktu itu, saat ia ingin menghadiri pernikahan sahabatnya, Retno, sebuah janji, walau ia hanya dalam desah panjang, janji yang hakikatnya adalah sebuah hutang yang harus ia bayar, terlebih hutang pada Alloh, yang akhirnya berubah bentuh jadi nadzar, yang hukumnya wajib ia tepati. Kalau tidak ia akan terbakar nanti dalam neraka. Neraka ... yang dikhususkan untuk ..... dengan api yang melilit ...... apa perempuan seperti dirinya bisa tahan .....
Kontan, mengingat janji yang telah ia buat, ia segera beranjak dari tempat ia duduk kekamar tidur. dari kamar tidur ke tempat duduk, dari tempat duduk ke atas lemari, dari atas lemari ke atas genteng, ho ... ho ... dan begitu seterusnya. Pipinya ia usapkan beberapa kali seperti seseorang yang sedang membaca doa keselamatan. Resah, ia kembali mengecup hangat Al Qur’an yang telah ia baca beberapa kali hingga ia bosan juga (ya ia lah bosah, Al Qur’an mah baut di baca dan di tadzabburi, bukan untuk di kecup-kecup) dan segera menyeret langkahnya menuju masjid yang tak jauh dari rumahnya.
Sebenarnya Sholeha sangat takut, ia enggan untuk keluar, malam begitu gelap tanpa taburan bintang di langit. Membuat rasa takutnya makin menggidik, bahkan beberapa kali ia terlihat celingak-celinguk, takut ada wewe gombel atau kutil anak yang ingin berkonsultasi degan dirinya, memastikan bahwa ia sedang aman dari mahluk tuhan yang bernama setan atau mahluk halus serupa lainnya. Namun karena nasi yang telah jadi bubur, bubur jadi nasi lagi, ia menjadi seolah seorang yang berani.
***
            Masjid itu terlihat biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, hanya saja terlihat sebagai bangunan yang sangat tua karena jarang dipakai dan dibersihkan dengan baik, walhasil jadilah masjid tersebut membuat wanita seperti Sholeha menggeleng-geleng heran, ia sadar betul sekarang, manusia seperti dirinya terlalu sibuk dengan urusan dunianya. Mereka sibuk menata tangga emas untuk dibangun di dunia, sedangkan mereka lupa dengan tangga yang akan menghubungkan diri mereka dengan negeri akhirat yang posisinya lebih penting, itulah bodohnya manusia.
Tanpa berpikir panjang Sholeha langsung bertindak cepat, ia segera membersihkan masjid itu dari debu yang membuatnya terlihat kumuh. Ia mulai menyapu, membersihkan sarang laba-laba yang menumpuk disetiap sudut, mengepel serta merapikan peletakan barang yang berada disana.
Setelah bekerja keras, akhirnya Sholeha berhasil menyulap masjid tersebut jadi masjid yang terlihat lebih bagus dan bersih. Usahanya tak sia-sia, ia pun terlelap dalam dzikir yang sangat panjang disana.
***
Menjelang pagi harinya penduduk sekitar merasa seperti diherankan. Mereka semua tercengang akan apa yang telah menimpa masjid mereka, masjid yang kumuh tiba-tiba kini menjadi masjid yang bersih, lebih-lebih ada sesosok wanita yang sedang berdzikir memakai mukena bersemedi didalamnya. Padahal matahari telah lama dalam perjalanannya menuju pusar langit. Wanita itu tak sekali pun menolehkan pandangannya keluar masjid, padahal hati mereka telah disarangi ribuan pertanyaan yang menyesak, mereka yakin wanita yang berada dalam masjid tersebut adalah sesosok bidadari yang turun dari langit, atau ia adalah peri yang lagi kesasar mencari alamat surga, atau hanya sekedar numpang sholat barangkali semalam terus ketiduran. Mereka semua berkumpul tak terkecuali di muka masjid. Sambil bertanya tanya satu sama lain, membuat suasana menjadi sangat gaduh. Hingga membuat sesosok wanita bermukena itu seakan terbangun.
Karena tak tahan menunggu wanita bidadari itu menolehkan pandangan pada mereka, akhirnya salah satu dari mereka ada yang berinisiatif untuk masuk ke dalam masjid dan mengungkap jelas, siapa sebenarnya sosok yang tengah berdzikir khusuk dalam masjid mereka.
Dan karena tak kunjung juga mereka menemukan titik terang, maka salah seorang dari mereka maju, seorang lelaki tua yang mereka anggap mempunyai pangkat dan tetua disana sekedar untuk memastikan, dengan hati berdebar lelaki itu melangkah masuk. Ia tak pernah berfikir sama sekali akan melihat bidadari, kalau hal itu sampai terjadi. Ia akan jadi orang pertama yang melihat bidadari dan itu hal yang sangat fenomenal, bisa jadi ia kan segera menjadi kaya, dapat istri kedua bidadari yang cantik, atau akan dikontrak salah satu stasiun televisi, sebagai orang paling mujur di muka bumi, he..he...’’ pikirnya singkat
Lelaki itu makin mendekat, suara jantungnya makin tak karuan. Kini, ia melihat jelas tangan halus itu sedang berdzikir dengan tasbih yang merlingkar di pergelangannya. Satu, dua, tiga ia mulai memandang wajah berlapis mukena putih itu, wajah tak asing yang sering ia jumpai di sekitar komplek mereka, Sholeha tersipu dengan menundukkan pandangannya. Membuat lelaki itu seakan telah kehilangan jutaan dolar yang jadi semangat hidupnya. Ia mendesah berat, bahkan sangat berat. Sontak ia berteriak keluar masjid, menyuruh agar penduduk membubarkan diri dan memulai aktifitas pagi mereka seperti biasa.
Kini Sholeha menjadi seorang wanita yang taat beribadah, ia tak pernah absen ke masjid. Sehari-hari ia berada di dalam masjid setelah ia menyelesaikan urusan rumah ia menyegerakan diri sibuk mengurus masjid. Sholeha benar-benar sudah menjadi seorang Sholeha yang takut akan tuhannya. Kegiatannya setiap hari selalu dipenuhi dengan ibadah. Setelah sholat subuh usai, ia meneruskannya dengan berzikir memuji keagungan tuhan dengan diselingi doa-doa pagi, lalu setelah itu ia pulang ke tempat kos, untuk mengerjakan semua pekerjaannya dirumah, setelah itu baru lah ia kembali ke masjid, tempat dimana ia dapat bertafakkur lagi.
Kadang ia menangis dan kadang ia teretawa saat ia memnbaca ayat suci Al Qur’an, kontan, hal itu terjadi setiap hari dan membuat penduduk pada menggelengkan kepalanya takjub, selain itu ia sangat sopan dan lemah lembut dalam setiap tutur kata, begitulah kehidupan sholeha sekarang. Ia jadi bahan pembicaraan. Terutama tentang akhlaknya yang seumpama mutiara, he he -
 
Dalam suatu kesempatan para perempuan berlomba lomba menuju masjid dan meramaikannya, mengikuti jejak Sholeha yang selalu khusuk. Tak Cuma itu saja, para lelaki di komplek itu pun kini berlomba-lomba mendirikan masjid khusus untuk lelaki. ’’Mereka seakan tak mau kalah dengan kaum hawa, ’’karena kita adalah kaum adam, yang beradi menunjukkan jati diri’’ ujar seseorang dia antara mereka berteriak.

Saat sore mulai menjelang, sebelum matahari terbit Sholeha memberikan pengajian terhadap mereka, Sholeha seakan telah menjadi pembimbing mereka yang lupa akan tangga akhirat. Menyadarkan betapa mereka telah disibukkan dengan urusan dunia saja, Sholeha seakan menjadi seorang yang menunjukan cahaya terang bagi mereka yang lupa. Sholeha diangkat menjadi seorang mubaligh yang selalu memberikan siraman rohani pada mereka. Dan kini hidupnya hanya ia serahkan hanya untuk dakwah islam semata.
***
Namun entah mengapa, suatu hari ia terlihat murung, ia tahu, saat ini ia sedang diuji. Rasa futur kini sedang melanda ulu hatinya yang sedang kalut. Ia tengah duduk di serambi masjid, sepertinya ia merasa kesepian, walau ia tahu ia tak akan pernah kesepian karena Alloh akan selalu bersamanya. Namun entah mengapa pagi ini ia merasa sangat berat untuk melangkahkan kakinya seperti biasa, kepalanya terasa sangat pusing, pikirannya benar-benar hambar. Sesekali ia layangkan wajahnya menatap langit biru seraya membaca doa. Beberapa saat kemudian ia ingat lagi akan sesuatu, sesuatu yang belum ia dapatkan sampai saat ini, ia menghirup nafas pelan, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas putih tempat mukenanya. Sebuah cermin yang masih saja ia simpan, ia menatap dalam muka cermin itu, yang ia tangkap hanyalah wajah murungnya. Semakin terlihat bahwa ia sudah tak lagi remaja, ia mendesah mengucap istighfar. kemudian menyimpan kembali cermin itu ke dalam tas putihnya. Dan melangkahkan kakinya, pulang menuju rumah.
 Setelah dari rumah, beres-beres. Seperti biasa ia kembali menuju masjid, tapi untuk yang kali ini, ada sesuatu kekuatan yang seakan menyeret langkahnya kembali kesana, padahal ia sedang sakit, panas di suhu badannya bertambah. Ia mencoba mempercepat langkahnya, ia merasa ada sesuatu yang terjadi di masjid. Sesuatu yang sedari tadi menggangu pikirannya.
Tak butuh waktu yang lama ia sudah berada di depan masjid, namun ia sedikit kecewa. Firasat yang dari tadi dirasanya tak terbukti. Ia melangkah dengan gusar. Terus menatap bangunan tua dihadapannya dengan perasaan agak kecewa. Namun ia tetap saja menghitung langkahnya menuju pintu masjid dengan memperbanyak istighfar. Tak ada apa-apa memang di sana. Sesampai di dalam ia segera menggelar sajadahnya. Hendak melakukan sholat dzuha seperti yang biasa ia lakukan disetiap pagi saat matahari sudah sepenggalah naik kepermukaan langit. Melakukan garakan-gerakan sholat sampai selesai dan mengakhirinya dengan salam, ia kemudian berdoa dengan sangat khusuk. Diam-diam ada yang ia pinta khusus dalam sholatnya.

Tiba-tiba dalam keheningan doanya, ada seseorang yang melangkah di belakangnya, dengan suara langkah yang agak dipelankah, hal itu membuat Sholeha sedikit menggidik. Selain itu terdengar suara bisikan yang bergeming disekitarnya.
’’Maaf, kalau saya menggangu !!’’ ucap seorang lelaki yang terdengar lembut menyapanya. Membuatnya membalikkan pandangan wajahnya. Sholeha pun menundukan wajahnya. Sesosok lelaki yang tengah berdiri menghadapnya. Dengan pakaian yang sangat rapi. Ia mengenal wajah tersebut, wajah yang tak sangat tak asing baginya.
’’ Sholeha, memang kamulah orang yang pertama masuk masjid ini!’’ ucapnya dengan singkat tanpa memandang wajah Sholeha.
Sholeha makin heran karena lelaki yang tengah berada dihadapannya itu mengenal namanya, pandangannya tercekat. Ia kehabisan kata, memikirkan kata yang tepat untuk melanjutkan perkataanya.
’’Ya, kamu adalah orang pertama yang datang ke tempat ini. Namun, sebelumnya aku minta maaf telah lancang membuat suatu hal yang seperti ini’’ Ucap lelaki itu melanjutkan perkataan
’’Maksudnya ? aku belum mengerti !’’ timbal Sholeha 
’’Bagi siapa yang masuk masjid pertama kali, aku hendak melamarnya dan menjadikannya sebagai istri, dan itu pun kalau kamu tidak keberatan Sholeha !’’ Ucap lelaki itu dengan nada pelan dan sopan. Sholeha menundukkan pandangan, wajahnya sedikit memerah.
 ’’Sholeha ! maukan kamu menjadi istriku ? kita arungi kehidupan dunia ini bersama untuk menggapai ridho-Nya bersama-sama ?’’ ucap lelaki tampan itu sedikit canggung.
 Sholeha membalikkan pandangannya, ia terdiam ia tak yakin apa yang telah ia dengar barusan. Tubuhnya kikut, tak tahu apa yang harus ia katakan. Ia merasa tak percaya diri. Dikeluarkan dari tasnya sebuah benda rahasia dengan diam-diam. Sebuah cermin tua. Mencoba menemukan wajahnya disana untuk memastikan penampilannya tetap baik-baik saja. Ia tak sanggup membayangkan kalau saja penampilannya kala itu sedang berantakan, Diam-diam pula lelaki itu menangkap tingkahnya yang aneh.
 ’’Kamu tetap cantik sholeha, tahukah kamu, cantik sebenarnya seorang wanita adalah hati yang dihiasi dengan rasa takwalloh. Bukan karena cermin yang menurutmu adalah keberuntungan itu, kau tahukan kalau cermin keberuntungan wanita itu sebenarnya adalah rasa takwalloh dan akhlakul karimah yang baik, jadi kamu tak usah memikirkan apa yang semestinya tak perlu, karena kamu tetap cantik, dengan hatimu’’ ucapnya lembut menyusup kerelung Sholeha. Hingga wajahnya memerah malu
’’Jadi bagaimana ? kamu belum menjawab pertanyaan ku !’’ ucap lelaki itu lagi. Sholeha tetap terdiam kemudian bibirnya gemetar berkata.
’’Kata orang diam itu tandanya mau ??’’ ucapnya malu-malu sambil menatap wajah putih dihadapannya, wajah ustad Mahmud Mathuridi yang sering ia lihat dilayar stasiun-stasiun televisi terkenal.

* Mkd Aan's
2011

1 komentar:

  1. cerpen ini sangat menarik, ceita-cerita ini yang sedang saya cari. Terus semangat menulis cerpen-cerpen bagus seperti itu. Saya tertarik dengan judul ini, saya sering mengunjungi blog-blog keren lainnya juga, salah satunya ini, coba deh kunjungi http://www.inoagroup.com/2014/04/cantik-itu- bukan-alasan-cinta.html

    BalasHapus