Panas makin
menjadi, awan tipis-tipis berarak berlapis-lapis. Seperti sedang berlomba gerak
jalan, pas tujuh belas Agustus-an di kantor-kantor halaman balai desa. Suara
sound sistem mengalun-ngalun keras mempermainkan gendang telinga seperti ada
yang sedang melangsungkan hajatan disana. Sebuah acara besar dalam rangka
pengajian akbar reuni sekolah, yang di isi oleh ustad kondang yang sering
tampil di acara televisi, ustad muda Mahmud Mathuridi berbakat.
Seorang gadis
bernama Sholeha sedang asyik menyudut di bawah pohon cemara yang dahannya tumbuh
lebat. Ia berusaha bersembunyi dibalik panas yang siang itu kian menyengat, tak
karuan makin membuatnya gerah dan buturan-butiran keringat mulai tertimbun di
dalam kerudung manisnya.
Resah,
penampilannya akan berubah, ia segera mengeluarkan benda pusaka dari dalam tas
silver yang kini tengah bertengger di bahunya. Cermin peninggalan nenek yang
sangat berguna baginya yang ia bawa kemanapun ia pergi, sebuah cermin butut
yang akan membawanya ke gerbang kemenangan nantinya. Karena sepenuhnya ia
sadar, penampilan bagi wanita itu sangat penting nilainya 60% sedangkan pintar
bagi wanita nilainya hanya 40%, karena ia tahu kecantiakan pada wanita terletak
pada wajahnya, semakin cantik wanita maka akan terangkat nilainya. Sebaliknya
wanita yang tak pernah memperhatikan penampilan dan sering asal menjaga
kepribadiannya, maka jangan harap kaum lelaki akan melirik atau bahkan
menentukan pilihan sebagai pasangan. Adapun bagi kaum Adam, ketampanan lelaki
ada pada otaknya, semakin pintar lelaki itu maka nilainya lebih plus. Dan itu
pun berlaku hukum kebalikannya, bagi para kaum pria yang otaknya pas-pasan maka
ia tak istimewanya dimata orang, apa gunanya pria tampan kalau otaknya isi
cebokan air, Setidaknya itulah yang sering ia baca di beberapa buku.
***
‘’Kepada semua para alumi peserta reuni yang terhormat ! Agar segera
beranjak duduk pada bagian kursi kosong yang telah disediakan di arena sebelah
utara !!’’ suara peringatan kali ketiga laun keras, memperingati para
pengunjung, tentu saja kini ditambah dengan nada yang agak menekan. Maklum,
panas mentari makin mencekik. Para pengunjung tak tahan menahan gerah seperti
cacing kepanasan. Mereka tak lagi duduk rapi mengikuti garis-garis kursi yang
disediakan panitia, karena gerah yang di hasilkan panas matahari, walhasil suara
pemberi tahuan itu, hanya tinggal suara.
‘’Aduch panaasss…!! Pliisss … dong….
matahari jangan galak-galak, lagi pula suara bising terdengar dimana-mana,
membuat perut lapar, pikiran kacau, jadi nyesel ngak sarapan singkong bakar
tadi pas berangkat, nyesel memang kadang selalu datang terlambat, aduh acara
ini kapan mulainya ??..’’ Keluh Sholeha dalam hati, kerudung yang ia kenakan
makin pucat, sebab ia tak sempat cuci pakaian kemarin, maunya loundry tapi
duitnya yang tak bisa kompromi, dompet makin tipis, ‘’nasib…nasib…!’’ sungguh
malang nasib itu dompet, susah bener mempertahankan keutuhan isi dompet. Mana
ia akhir-akhir ini ia disibukkan kesana-kemari cari kerja. Bawa proposal
lamaran masuk keluar kantor. Maklum lulus kuliah dengan nilai baik belum tentu
jadi jaminan. Ditambah lagi ia selalu sibuk dengan tugas rumah lain, maunya
segera nyuci baju cepat-cepat pas ia punya waktu luang. Eech !! Hujan mengguyur
bumi deras tanpa petanda sebelumnya, akibatnya cucian menumpuk bak puncak
Himalaya, Mount Everenst. Benar-benar nasib baik tak bersama dirinya.
DAN PADA AKHIRNYA
PULA –
Parade kali ini tak memberikan kesan
apa-apa, tanah yang kini ia pijak becek, hampir saja membuat baju merah delima
yang ia kenakan kotor kalau saja ia tak hati-hati. Global warning memang edan,
ngak ada habis-habisnya, tadi malam hujan mengguyur deras. Ech, tiba-tiba
paginya matahari cerah bersinar tanpa noda. Akibatnya hidup sholeha jadi sembrawut,
manusianya juga sich yang tak bertanggung jawab jadi pemimpin muka bumi. Memang
manusia suka aja kalo bikin kesalahan sama tuhannya. Ngak salah Al Qur’an
menyebutkan, segala sesuatu nikmat akan ditambah apabila manusia bersyukur.
Eh, malah macem-macem bikin kerusakan dimuka bumi. Penggundulan hutan, buang
sampah sembarang, rumah kaca yang akhirnya bikin atmosfer kita bolong-bolong
kayak baju maklampir, belum lagi sikap manusia yang yang semau-maunya kepada
makhluk lain. Hufft, sungguh ter-la-lu...!!
Kini, ia memandang
kearah sekitar lepas tanpa kedipan. Sedang mengontrol, Tapi ia tetap tak
menemukan yang ia cari. Pemuda tampan persis seperti mimpinya tadi malam. Saat
ia tidur diatas bantal belang berselaput tikar bekas. Tatapannya kembali ia
layangkan pada panggung acara. Tempat ustad Mahmud Mathuridi,
ustad kondang yang biasa muncul menjadi penceramah di tivi-tivi terkenal.
Ia pun kembali berfikir, tekatnya makin
bulat. Ia harus segera menemukan calon pendamping yang dapat membuat hatinya
bergerak cepat, tapi saat ini sepertinya mustahil, semua pengunjung tanpaknya
sudah meninggalkan lapangan, ia menoleh keatas, langitpun tanpak gelap,
sebentar lagi mungkin hujan akan turun kebawah. Sholeha segera mengangkat sedikit
roknya. Setengah berlari menuju halte. Agar ia tak kehujanan saat hujan nanti
turun.
Malam itu, jangkrik bernyanyi dibelakang
rumah Sholeha, rombongan katak pun menjadi teman duetnya. Perut mereka
dikembung-kembungkan agar menghasilkan suara yang tampak merdu. Mungkin mereka
tau suasana hati Sholeha saat ini sedang berkambing, upss, salah, maksudnya
berkabung, binatang-binatang tersebut mungkin berusaha menghibur namun tak
mempan. Sholeha keburu tidur, tentu saja diatas bantal belang yang makin hari,
makin tak karuan warnanya. Maklumlah musim penghujan baru melanda negara
tercinta Indonesia. Biasanya memang hujan datang setiap saat tanpa memberi
komando terlebih dahulu. Tak tentu kapan kadang siang bolong atau saat Sholeha
lagi tidur diatas tempat tidurnya. Hujan hanya datang mengganggu, gara-gara
genteng bocor yang tiap detik meneteskan air hujan, membuat baju Sholeha basah
lagi, nambah gunung lagi.
Duch
sorry !! Aku lupa memperkenalkan siapa itu Sholeha, dengar baik-baik !! Sholeha
adalah gadis cantik yang mungkin belum seberuntung teman-temannya yang lain.
Yang sudah memiliki calon mereka masing-masing, tapi sholeha bukan perawan tua.
Hanya saja ia belum menemukan jodoh yang tepat, ya, hanya belum ?.
Entah, sudah beberapa kali Sholeha menjalin hubungan
dengan seorang pria, karena bibinya selalu memaksa ia untuk mencari seorang
pendamping hidup, biar ia segera menjelma menjadi sosok yang mandiri. Tapi
semuanya tak berujung dengan baik. Mungkin sudah tujuh kali atau delapan kali
atau sebelas kali yach !! Sorry aku lupa lagi -
DISUATU
SIANG -
‘’Gimana Sholeha, kamu udah ikutin saran
tante kan ? jangan buang-buang waktu terlalu lama, ini semua demi kebaikan kamu
juga Ha !’’ Tukas tantenya lagi, genit. Berusaha membuat Sholeha nampak jadi
lebih bingung karena over dosis dijejali pertanyaan yang sering sekali ia
dengar.
‘’Atau kamu mau lihat tante menjodohkan kamu
dengan orang pilihan tante ?’’ tawar tantenya keras
‘’Tante tenang saja yah, tan, aku udah
menemukan pemuda yang cocok kok tan,
entar aku kenalin deh sama tante’’ bujuk Sholeha
‘’Ingat Ha ! kamu harus benar-benar serius
kali ini’’ suara tante mengingatkan
‘’Baiklah.. Leha akan segera berusaha’’
Sholeha menjawab pasrah.
‘’Oh yah jaga rumah baik-baik mungkin bulan
depan tante akan balik kesana, tante masih ada banyak urusan di Pekanbaru’’
Sholeha kemudian menutup pembicaraan lewat handphone tersebut. Hatinya kacau,
pikirannya kali ini terbang entah kemana.
Ia kembali bergegas, mendandani wajahnya
didepan cermin kecil, ia terus membalik-balikkan posisi cermin yang ia
pandangi, melihat dan memastikan dari sudut mana saja ia terlihat menarik. Ia
sedang bersiap-siap segera menghadiri pernikahan Retno. Memanyun-manyunkan
bibirnya, memastikan lipstiknya menempel dengan sempurna, akan tetap menempel
meski badai besar datang.
Sholeha berbisik dihatinya ‘’Tuchkan Sholeha,
kamu itu cantik, pria manasih yang ngak mau sama kamu ? Ia berkata pelan di
depan cermin. Tapi mengapa kamu belum juga dapat jodoh Sholeha ?‘’ ucapnya
membatin. Kali ini raut wajahnya mulai
masam, ia terdiam sejenak kemudian, segera menyaber tas yang berada di depan
meja riasnya. Segera pergi buru-buru.
‘’Kalau aku tak bisa mendapatkan satupun dari
sekian banyak pemuda dari mereka semua, aku akan menyerahkan hidupku untuk masjid
dan juga untuk mendalami ilmu agama’’ ucap Sholeha setengah berjanji, mantap,
tanpa dibuat-buat. Tanpa pikir panjang ia melangkahkan kaki lenturnya penuh
dengan pesona, ia nampak tersenyum sendiri.
***
Ruang resepsi itu terlihat sangat megah,
terbuat dengan dekorasi yang bernuansa Batak dan Sunda, mungkin salah satu dari
pasangan berasal dari Batak dan Sunda. Mempelai perempuan dari batak dan
perempuannya dari sunda atau laki-laki dari sunda dan yang perempuan dari batak,
laki-laki atau perempuan atau sama-sama dari batak dan sunda atau tidak sama
sekali. Ah,untuk apa, ia tak mau banyak pikir. Ia menatap kesekitar. Pandangan
sorot matanya mecari-cari. Pemuda tampan impiannya selama ini. Tapi sama saja
dari yang kemarin, ia tetap tak menemukan apa yang ia cari. Ia mendesah berat
ia tertunduk pasrah. Sapaan dari teman-temannya yang sudah menikah hanya
menambah mumet pikirannya. Ia seperti berada didalam negri yang tidak duhuni
oleh seorang manusia sekalipun. Dengan muka ditekuk ia pun meninggalkan tempat
tersebut. Berjalan merayap keluar dengan muka tak ada mood sama sekali.
***
''Gimana
udah nemu calon yang tepat tidak ? '' Sholeha terbayang akan raut muka bibi dan
pamannya yang akan mengintrogasinya lewat pertanyaan-pertanyaan yang membuat ia
seakan mual. Ia kali ini benar-benar pasrah. Jam menunjukkan pukul setengah
sepuluh lewat sepuluh menit. Nyanyian kodok yang makin bersahutan keras
samasekali tak menarik minat sholeha untuk didengarkan secara seksama.
Sepertinya para kodok tersebut gagal lagi menggelar konser buat Sholeha.
Kasihan sekali kodok tersebut. He…he….!!!
Angin yang bergerak dingin malah membuat
sholeha makin pusing. Segara segera mengambil whudu'. Segera ia membuka mushaf.
Dibacanya surat Yusuf. Sudah tiga kali ia mengulang surat itu, namun hatinya
masih belum mendapatkan ketengan yang ia impi-impikan.
Malah ia terbawa
kantuk yang sangat mengerikan, beberapa kali mulutnya menganga tanpa bentuk
yang sempurna. Ia terus menatap wajah wajah jam dinding kamarnya yang terlalu
lamban menurutnya. Menginginkan akan berubah menjadi gadis yang sangat cantik
seperti dalam kisah nabi Yusuf AS, orang yang melihatnya disetiap acara resepsi
akan memotong tangannya sendiri, bukan buah yang sering di sediakan di
meja-meja makan. Dalam pesta ulang tahun pun, bukannya kue tart yang akan
terpotong bahkan lengan sang empunya sendiri yang akan terpotong.
Mungkin itu yang
kini ada dalam benaknya, entah mengapa mencari jodoh dalam waktu singkat
membuatnya seakan menghadapi hal yang mengerikan, padahal ia tahu mencari jodoh
hukumnya sunah, untuk perempuan yang memang membutuhkan keluarga baru seperti
dirinya, namun hal itu malah membuatnya pusing empat belas keliling.
Kini tatapannya
makin beku, ia melihat seisi kamar, tatapannya yang tertuju pada benda bening
yang dapat memantulkan cahaya, sebuah cermin yang tergeletak di depan meja
riasnya, cermin kecil butut peninggalan al marhummah nenek yang selalu ia jaga.
Dan tiba-tiba,
tanpa sengaja, tak ada rekayasa, dan sungguh bukan hal yang biasa, Ia mengingat
sebuah janji, janji yang tidak sengaja ia katakan saat ia berkaca disana. Membuat maatnya kini terbelalak, ia sadar
akan ucapan yang ia katakan waktu itu, saat ia ingin menghadiri pernikahan
sahabatnya, Retno, sebuah janji, walau ia hanya dalam desah panjang, janji yang
hakikatnya adalah sebuah hutang yang harus ia bayar, terlebih hutang pada
Alloh, yang akhirnya berubah bentuh jadi nadzar, yang hukumnya wajib ia tepati.
Kalau tidak ia akan terbakar nanti dalam neraka. Neraka ... yang dikhususkan
untuk ..... dengan api yang melilit ...... apa perempuan seperti dirinya bisa
tahan .....
Kontan, mengingat
janji yang telah ia buat, ia segera beranjak dari tempat ia duduk kekamar
tidur. dari kamar tidur ke tempat duduk, dari tempat duduk ke atas lemari, dari
atas lemari ke atas genteng, ho ... ho ... dan begitu seterusnya. Pipinya ia
usapkan beberapa kali seperti seseorang yang sedang membaca doa keselamatan.
Resah, ia kembali mengecup hangat Al Qur’an yang telah ia baca beberapa kali
hingga ia bosan juga (ya ia lah bosah, Al Qur’an mah baut di baca dan di
tadzabburi, bukan untuk di kecup-kecup) dan segera menyeret langkahnya menuju
masjid yang tak jauh dari rumahnya.
Sebenarnya
Sholeha sangat takut, ia enggan untuk keluar, malam begitu gelap tanpa taburan
bintang di langit. Membuat rasa takutnya makin menggidik, bahkan beberapa kali
ia terlihat celingak-celinguk, takut ada wewe gombel atau kutil anak yang ingin
berkonsultasi degan dirinya, memastikan bahwa ia sedang aman dari mahluk tuhan
yang bernama setan atau mahluk halus serupa lainnya. Namun karena nasi yang
telah jadi bubur, bubur jadi nasi lagi, ia menjadi seolah seorang yang berani.
***
Masjid
itu terlihat biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, hanya saja terlihat
sebagai bangunan yang sangat tua karena jarang dipakai dan dibersihkan dengan
baik, walhasil jadilah masjid tersebut membuat wanita seperti Sholeha
menggeleng-geleng heran, ia sadar betul sekarang, manusia seperti dirinya
terlalu sibuk dengan urusan dunianya. Mereka sibuk menata tangga emas untuk
dibangun di dunia, sedangkan mereka lupa dengan tangga yang akan menghubungkan
diri mereka dengan negeri akhirat yang posisinya lebih penting, itulah bodohnya
manusia.
Tanpa berpikir panjang Sholeha langsung bertindak cepat, ia segera
membersihkan masjid itu dari debu yang membuatnya terlihat kumuh. Ia mulai
menyapu, membersihkan sarang laba-laba yang menumpuk disetiap sudut, mengepel
serta merapikan peletakan barang yang berada disana.
Setelah bekerja keras, akhirnya Sholeha berhasil menyulap masjid tersebut
jadi masjid yang terlihat lebih bagus dan bersih. Usahanya tak sia-sia, ia pun
terlelap dalam dzikir yang sangat panjang disana.
***
Menjelang pagi harinya penduduk sekitar merasa seperti diherankan. Mereka
semua tercengang akan apa yang telah menimpa masjid mereka, masjid yang kumuh
tiba-tiba kini menjadi masjid yang bersih, lebih-lebih ada sesosok wanita yang
sedang berdzikir memakai mukena bersemedi didalamnya. Padahal matahari telah
lama dalam perjalanannya menuju pusar langit. Wanita itu tak sekali pun
menolehkan pandangannya keluar masjid, padahal hati mereka telah disarangi
ribuan pertanyaan yang menyesak, mereka yakin wanita yang berada dalam masjid
tersebut adalah sesosok bidadari yang turun dari langit, atau ia adalah peri
yang lagi kesasar mencari alamat surga, atau hanya sekedar numpang sholat
barangkali semalam terus ketiduran. Mereka semua berkumpul tak terkecuali di
muka masjid. Sambil bertanya tanya satu sama lain, membuat suasana menjadi
sangat gaduh. Hingga membuat sesosok wanita bermukena itu seakan terbangun.
Karena tak tahan menunggu wanita bidadari itu menolehkan pandangan pada
mereka, akhirnya salah satu dari mereka ada yang berinisiatif untuk masuk ke
dalam masjid dan mengungkap jelas, siapa sebenarnya sosok yang tengah berdzikir
khusuk dalam masjid mereka.
Dan karena tak
kunjung juga mereka menemukan titik terang, maka salah seorang dari mereka
maju, seorang lelaki tua yang mereka anggap mempunyai pangkat dan tetua disana
sekedar untuk memastikan, dengan hati berdebar lelaki itu melangkah masuk. Ia
tak pernah berfikir sama sekali akan melihat bidadari, kalau hal itu sampai
terjadi. Ia akan jadi orang pertama yang melihat bidadari dan itu hal yang
sangat fenomenal, bisa jadi ia kan segera menjadi kaya, dapat istri kedua
bidadari yang cantik, atau akan dikontrak salah satu stasiun televisi, sebagai
orang paling mujur di muka bumi, he..he...’’ pikirnya singkat
Lelaki itu makin
mendekat, suara jantungnya makin tak karuan. Kini, ia melihat jelas tangan
halus itu sedang berdzikir dengan tasbih yang merlingkar di pergelangannya.
Satu, dua, tiga ia mulai memandang wajah berlapis mukena putih itu, wajah tak
asing yang sering ia jumpai di sekitar komplek mereka, Sholeha tersipu dengan
menundukkan pandangannya. Membuat lelaki itu seakan telah kehilangan jutaan
dolar yang jadi semangat hidupnya. Ia mendesah berat, bahkan sangat berat.
Sontak ia berteriak keluar masjid, menyuruh agar penduduk membubarkan diri dan
memulai aktifitas pagi mereka seperti biasa.
Kini Sholeha
menjadi seorang wanita yang taat beribadah, ia tak pernah absen ke masjid.
Sehari-hari ia berada di dalam masjid setelah ia menyelesaikan urusan rumah ia
menyegerakan diri sibuk mengurus masjid. Sholeha benar-benar sudah menjadi
seorang Sholeha yang takut akan tuhannya. Kegiatannya setiap hari selalu
dipenuhi dengan ibadah. Setelah sholat subuh usai, ia meneruskannya dengan
berzikir memuji keagungan tuhan dengan diselingi doa-doa pagi, lalu setelah itu
ia pulang ke tempat kos, untuk mengerjakan semua pekerjaannya dirumah, setelah
itu baru lah ia kembali ke masjid, tempat dimana ia dapat bertafakkur lagi.
Kadang ia
menangis dan kadang ia teretawa saat ia memnbaca ayat suci Al Qur’an, kontan,
hal itu terjadi setiap hari dan membuat penduduk pada menggelengkan kepalanya
takjub, selain itu ia sangat sopan dan lemah lembut dalam setiap tutur kata,
begitulah kehidupan sholeha sekarang. Ia jadi bahan pembicaraan. Terutama tentang
akhlaknya yang seumpama mutiara, he he -
Dalam suatu
kesempatan para perempuan berlomba lomba menuju masjid dan meramaikannya,
mengikuti jejak Sholeha yang selalu khusuk. Tak Cuma itu saja, para lelaki di
komplek itu pun kini berlomba-lomba mendirikan masjid khusus untuk lelaki.
’’Mereka seakan tak mau kalah dengan kaum hawa, ’’karena kita adalah kaum adam,
yang beradi menunjukkan jati diri’’ ujar seseorang dia antara mereka berteriak.
Saat sore mulai
menjelang, sebelum matahari terbit Sholeha memberikan pengajian terhadap
mereka, Sholeha seakan telah menjadi pembimbing mereka yang lupa akan tangga
akhirat. Menyadarkan betapa mereka telah disibukkan dengan urusan dunia saja,
Sholeha seakan menjadi seorang yang menunjukan cahaya terang bagi mereka yang
lupa. Sholeha diangkat menjadi seorang mubaligh yang selalu memberikan siraman
rohani pada mereka. Dan kini hidupnya hanya ia serahkan hanya untuk dakwah
islam semata.
***
Namun entah
mengapa, suatu hari ia terlihat murung, ia tahu, saat ini ia sedang diuji. Rasa
futur kini sedang melanda ulu hatinya yang sedang kalut. Ia tengah duduk di
serambi masjid, sepertinya ia merasa kesepian, walau ia tahu ia tak akan pernah
kesepian karena Alloh akan selalu bersamanya. Namun entah mengapa pagi ini ia
merasa sangat berat untuk melangkahkan kakinya seperti biasa, kepalanya terasa
sangat pusing, pikirannya benar-benar hambar. Sesekali ia layangkan wajahnya
menatap langit biru seraya membaca doa. Beberapa saat kemudian ia ingat lagi
akan sesuatu, sesuatu yang belum ia dapatkan sampai saat ini, ia menghirup
nafas pelan, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas putih tempat
mukenanya. Sebuah cermin yang masih saja ia simpan, ia menatap dalam muka
cermin itu, yang ia tangkap hanyalah wajah murungnya. Semakin terlihat bahwa ia
sudah tak lagi remaja, ia mendesah mengucap istighfar. kemudian menyimpan
kembali cermin itu ke dalam tas putihnya. Dan melangkahkan kakinya, pulang
menuju rumah.
Setelah dari rumah, beres-beres. Seperti biasa
ia kembali menuju masjid, tapi untuk yang kali ini, ada sesuatu kekuatan yang
seakan menyeret langkahnya kembali kesana, padahal ia sedang sakit, panas di
suhu badannya bertambah. Ia mencoba mempercepat langkahnya, ia merasa ada
sesuatu yang terjadi di masjid. Sesuatu yang sedari tadi menggangu pikirannya.
Tak butuh waktu
yang lama ia sudah berada di depan masjid, namun ia sedikit kecewa. Firasat
yang dari tadi dirasanya tak terbukti. Ia melangkah dengan gusar. Terus menatap
bangunan tua dihadapannya dengan perasaan agak kecewa. Namun ia tetap saja
menghitung langkahnya menuju pintu masjid dengan memperbanyak istighfar. Tak
ada apa-apa memang di sana. Sesampai di dalam ia segera menggelar sajadahnya.
Hendak melakukan sholat dzuha seperti yang biasa ia lakukan disetiap pagi saat
matahari sudah sepenggalah naik kepermukaan langit. Melakukan garakan-gerakan
sholat sampai selesai dan mengakhirinya dengan salam, ia kemudian berdoa dengan
sangat khusuk. Diam-diam ada yang ia pinta khusus dalam sholatnya.
Tiba-tiba dalam
keheningan doanya, ada seseorang yang melangkah di belakangnya, dengan suara
langkah yang agak dipelankah, hal itu membuat Sholeha sedikit menggidik. Selain
itu terdengar suara bisikan yang bergeming disekitarnya.
’’Maaf, kalau
saya menggangu !!’’ ucap seorang lelaki yang terdengar lembut menyapanya.
Membuatnya membalikkan pandangan wajahnya. Sholeha pun menundukan wajahnya.
Sesosok lelaki yang tengah berdiri menghadapnya. Dengan pakaian yang sangat
rapi. Ia mengenal wajah tersebut, wajah yang tak sangat tak asing baginya.
’’ Sholeha,
memang kamulah orang yang pertama masuk masjid ini!’’ ucapnya dengan singkat
tanpa memandang wajah Sholeha.
Sholeha makin
heran karena lelaki yang tengah berada dihadapannya itu mengenal namanya,
pandangannya tercekat. Ia kehabisan kata, memikirkan kata yang tepat untuk
melanjutkan perkataanya.
’’Ya, kamu adalah
orang pertama yang datang ke tempat ini. Namun, sebelumnya aku minta maaf telah
lancang membuat suatu hal yang seperti ini’’ Ucap lelaki itu melanjutkan
perkataan
’’Maksudnya ? aku
belum mengerti !’’ timbal Sholeha
’’Bagi siapa yang
masuk masjid pertama kali, aku hendak melamarnya dan menjadikannya sebagai
istri, dan itu pun kalau kamu tidak keberatan Sholeha !’’ Ucap lelaki itu
dengan nada pelan dan sopan. Sholeha menundukkan pandangan, wajahnya sedikit
memerah.
’’Sholeha ! maukan kamu menjadi istriku ? kita
arungi kehidupan dunia ini bersama untuk menggapai ridho-Nya bersama-sama ?’’
ucap lelaki tampan itu sedikit canggung.
Sholeha membalikkan pandangannya, ia terdiam
ia tak yakin apa yang telah ia dengar barusan. Tubuhnya kikut, tak tahu apa
yang harus ia katakan. Ia merasa tak percaya diri. Dikeluarkan dari tasnya
sebuah benda rahasia dengan diam-diam. Sebuah cermin tua. Mencoba menemukan
wajahnya disana untuk memastikan penampilannya tetap baik-baik saja. Ia tak
sanggup membayangkan kalau saja penampilannya kala itu sedang berantakan, Diam-diam
pula lelaki itu menangkap tingkahnya yang aneh.
’’Kamu tetap cantik sholeha, tahukah kamu,
cantik sebenarnya seorang wanita adalah hati yang dihiasi dengan rasa
takwalloh. Bukan karena cermin yang menurutmu adalah keberuntungan itu, kau
tahukan kalau cermin keberuntungan wanita itu sebenarnya adalah rasa takwalloh
dan akhlakul karimah yang baik, jadi kamu tak usah memikirkan apa yang
semestinya tak perlu, karena kamu tetap cantik, dengan hatimu’’ ucapnya lembut
menyusup kerelung Sholeha. Hingga wajahnya memerah malu
’’Jadi bagaimana
? kamu belum menjawab pertanyaan ku !’’ ucap lelaki itu lagi. Sholeha tetap
terdiam kemudian bibirnya gemetar berkata.
’’Kata orang diam
itu tandanya mau ??’’ ucapnya malu-malu sambil menatap wajah putih
dihadapannya, wajah ustad Mahmud Mathuridi yang sering ia lihat dilayar stasiun-stasiun
televisi terkenal.
* Mkd Aan's
2011

cerpen ini sangat menarik, ceita-cerita ini yang sedang saya cari. Terus semangat menulis cerpen-cerpen bagus seperti itu. Saya tertarik dengan judul ini, saya sering mengunjungi blog-blog keren lainnya juga, salah satunya ini, coba deh kunjungi http://www.inoagroup.com/2014/04/cantik-itu- bukan-alasan-cinta.html
BalasHapus