Minggu, 26 Januari 2014

Senja Di Tanah Ibu



Pada sebuah senja
Kutuliskan tentang sebongkah tanah
Yang kemudian langit mengutus hujan
Menaruh rindu pada pucuk-pucuk gunung,
mengalirkan air pada tiap-tiap liur.
Disana, lautku terhampar luas
Ada layang-layang kertas harga lima ratus,
selancar angin serupa tiupan kertas tungku,
mendung sutra seumpama uban rambut,
pasir seputih susu,
dan tentu saja mentari yang menyamar pada sebuah senja;
Senja yang dilipat hangat pada kutang emasnya,
seketika angin akan menyisir deretan tanaman-tanaman jagung
dan burung akan terbang mencari pelukan hangat induknya.

Pada senja seperti itulah
Ibuku mengutus sepasang camar menuliskan ragunya,
disetiap aku ingin berangkat.
Pada seasin getir takdir, senyumnya manis, kurasa gulali
Menjahit dinding kulitku pada sebuah tulang naga, dan menidurkanku dalam damai.
Pada tanah, tempat aku mencampur angin, debu, hujan dan langit, sewaktu aku melari

Begitulah seterusnya, pada sebuah senja,
Doanya; sampai kapanpun
Terus melahirkan banyak harapan-harapanku -


* Mkd Aan's

2013

Temaram Cinta Saudi Arabia

‘’Biarkanlah takdir berjalan dengan tali kekangnya
Dan janganlah engkau tidur kecuali dengan hati yang bersih
Tak ada di antara kerdipan mata dan meleknya
Kecuali Allah kan mengubah dari kondisi ke kondisi lainnya’’

Fatir masih ingat saat Cut Nadia meneruskan kata-kata syairnya, persis saat ia memandang langit pelabuhan sunda tempat ia melabuhkan pandangannya terakhir pada Cut Nadia. Tepat saat ia menghirup nafas panjangnya di kaki geladak kapal yang akan membawa ia dan cintannya mengarungi luas lautan biru. Tempat terakhir ia menghirup aroma segar Andalas hijau dan asap kelapa sawit setelah sekian lama lagi ia akan pergi jauh. Meninggalkan semua kenangan pedihnya. Bersama ambu yang sering menatap langit ditepian magrib dipintu rumah, Randi yang sering kali menasehatinya kala ia sedang gelisah,  terlebihnya Cut Nadia yang tak mungkin bersamanya, bahkan dikehidupan lain. Cut Nadia tak tergantikan senyumnya walau dengan wanita bibir tipis, bermata lebar di iringi bulu-bulu mata yang lentik serta hidung mancung di tanah arab. Yang mungkin akan ia temui saat ia menginjakkan kakinya di bumi arab nanti. ''Astaghfirulloh hal adzim .. !!'' batinnya mendesah mohon ampun. Kapal layar besar segera membawa tubuhnya pergi.
Panas sudah berkurang ke titik rendah, langit mulai memerah, merpati senja berkejar-kejaran diujung bangungan bercorak coklat tua yang menjulang tua.
Mata fandi masih mengekor jejak mereka, seekor merpati yang kini hinggap direranting barada amat jauh dari kelompoknya, ia seakan menemukan dirinya yang kini berada jauh dari keluarga. Bagai merpati yang kini kesepian, seketika dingin malam mulai merambat menyerang, kulitnya yang mungkin sudah terbiasa, dengan panas yang mulai hilang saat senja tiba dan dingin yang makin menyerbu saat matahari mulai menghilang di tepian barat.
Kalau bukan karena pesan terakhir ayah dipembaringan terakhir ia pasti tak akan senekat ini pergi jauh menimba ilmu. Wasiat yang mengharuskan salah satu putranya menimba ilmu ditanah arab. Negeri yang dalam kitab sucinya merupakan negeri makmur dan aman.
Kalau bukan karena ingin meninggalkan kenangan tentang Cut Nadia, semua perih yang ia tinggalkan dipulau nya. Ia pasti lebih memilih hidup dekat bersama ambu. Tapi ia adalah putra tertua yang mestinya memang harus mengalah, menyelesaikan amanah abah dan akhirnya Randi jualah yang menemani ambu di sana, kampung yang sangat ia cintai.
Sudah hampir dua tahun ia berada di Mekah ia mengerti bahwa sebentar lagi tanah Mekah akan diserang rasa dingin yang menggigilkan semua persendiannya, walaupun udara Mekah tidak sedingin seperti di Madinah. Dingin yang akan benar-benar terasa menggigit sendi-sendi ditubuhnya.
Malam bulan Desember merayap pelan, malam yang datang dengan rasa dingin yang tak sebagai mana mestinya. Dinginnya sangat terasa, hingga membuat pori-pori kulitnya mengkerut mengecil. Jaket yang ia kenakan belum mampu sepenuhnya menghilangkan rasa dingin yang kini menyerang tubuhnya yang kini terlihat lebih kurus. Ia sudah pasrah pada udara Mekah yang mungkin tak langsung bersahabat dengan dirinya. Ia sudah siap selama empat bulan kedepan tanah arab akan di serang udara dingin dan angin yang kuat menerpa, terutama saat malam tiba. Kulitnya akan terasa sangat kering disertai dengan tepian bibir yang dingin dan beku, walau tak sampai membuat kulitnya mengelupas. Namun ia harus memakai mousteraizer kulit. Bahkan ia sudah pasrah kalau malam ini ia tak dapat tidur, sebab rasa dingin yang benar-benar mencekam.
Ia mulai membuka-buka ranselnya, membuka-buka lipatan baju yang telah tertata rapi. Mengeluarkan beberapa kumpulan kertas, mencoba mencari sesuatu. Tatapan matanya mulai sayu, saat ia menatap bingkai foto hitam putih. Gambar seseorang jelas terlihat tersenyum padanya, senyum tak asing yang sering menghampirinya kala ia mulai merindu. Rindu yang kunjung sembuh. Bingkai kedua yang ia pandang adalah foto dirinya dengan Randi dan Cut Nadia, yang selalu membuatnya tersenyum meski getir. Ia tahu betul rindu hanya dapat terobati apabila ada sebuah pertemuan. Tangannya tak berhenti mengusap, kadang sesekali ia menciuminya dengan hembusan nafas yang berat, kadang dengan menutup kedua matanya, hal yang aneh yang kadang ia lakukan. Namun hanya hal ini yang dapat membuat ia merasa tubuhnya sedikit hangat kembali, meski merasakan perih.
Ia masih ingat betul, di kampungnya saat ini musim memanen buah semanggi, dengan membawa keranjang besar dipunggung, diantara deretan pohon semanggi yang berjajar memanjang. Dan diantara pekikan para pemulung buah. Hal yang selalu saja dinanti para pekerja kebun seperti ambu dan adiknya Randi. Ia juga ingat jelas saat setiap kali usai musim panen ia pasti akan segera membeli batik Ampan dengan warna yang sangat indah untuk ambu dan seseorang yang buatnya sangat berarti, Cut Nadia. Karena kemudian ia akan segera menangkap senyum Cut Nadia yang membuat hatinya bergetar merasakan aliran syarafnya mengalir tak tentu.
***
''Ambu tahu apa yang kamu rasakan pada Cut Nadia Fan !'' Tiba-tiba kata kata ibunya membuat langkahnya tercekat, suatu ketika seusai berlarian diantara perkebunan Andalas, disuatu sore bersama Cut Nadia, saat ambunya tiba-tiba berada dihadapannya. Memandang tirus ke arahnya dengan topi lebar yang tersemat diatas rambut setengah ubanya. Kata-kata yang menumbuahkan sejuta pertanyaan dalam benaknya. Lalu dengan seketika ia memandang wajah sayu dihadapannya.  Berharap menemukan suatu jawaban yang melabuh disana, hingga ia tak menemukan suatu apapun kecuali raut wajah tua yang makin tua.
''Tapi ambu harap kamu tak berharap banyak padanya, takdir kadang tak selalu sejalan dengan apa yang diharap banyak manusia nak !'' kata kata itu bergitu lembut masuk kedalam relung hatinya, membuat bibirnya tercekat beberapa menit, seakan terhenti apa yang jadi impiannya.
Meluangkan waktu banyak bersama Cut Nadia, berjalan diantara parit kebun yang menjulang, bercanda dibawah rimbun pohon diterik yang menyenga, atau berkejaran sambil memetik bunga-bungaan hujan, dimata ambu, membuatnya selalu berbicara tentang takdir, seakan ia menginginkan Fandy lebih mengetahui lebih banyak tentang garis tangan yang menggambarkan jalan hidup manusia, tentang takdir tuhan yang selalu bersentuhan dengan yang telah tertulis di lauhul mahfud jauh sebelum manusia tercipta. Bahwa manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga naun hasil akhir, tuhan lah yang menentukan hasilnya, tapi, bukankah Alloh tidak akan mengubah sesuatu pada seorang hamba kalau bukan hamba itu sendiri yang mengubahnya. Tapi sikap Ambu seakan menghamparkan suatu misteri yang tak pernah terbayang sebelumnya dalam benak Fandy. Mata ambu selalu nanar saat ia menatap ia berdua dengan Cut Nadia.
Sebenarnya Cut Nadia sudah Fandy anggap sebagai adik kandungnya sendiri, keluarga Cut Nadia dan keluarganya terhitung sangat dekat. Tapi entah apa yang selalu menjalar dan menumbuhi hatinya, ada sesuatu yang selalu saja merambati perasaannya kala matanya menangkap wajah Cut Nadia. Anehnya setiap ia berusaha menepisnyarasa itu, batinnya seakan selalu berontak, terutama saat ia menatap senyum Cut Nadia. senyum yang selalu membuatnya lupa akan takdir.
Bahkan kata-kata ambu sering menghantu disaat malam menjelang. Hingga ia terserang insomnia berat, membuatnya gelisah, matanya sulit untuk ia pejamkan, pikirannya melayang diantara baying-bayang yang belum membuatnya paham. Menjadi misteri yang membangunkan kembang tidurnya, hingga tanpa ia sangka, pernah suatu malam Cut Nadia datang kepadanya dengan air mata berderai.
‘’Bang kenapa abang tinggalin Cut Nadia sendirian disini ! Nadia takut bang !’’ Gadis dihadapannya menangis, sangat jelas air matanya jatuh berderai.
‘’kamu kenapa Cut, sudah tenang abang disini untuk kamu !’’ Fandi mendekati tubuh gadis dihadapannya. ‘’tapi kenapa abang ninggalin Cut terlalu lama, Cut takut disini sendirian. Abang tega sama Cut ! Abang tak pernah mengerti perasaan cut. Abang ngak pernah mau ngerti apa yang cut mau !’’ Cut Nadia memandang lekat lelaki dihadapannya, sambil segugukan. Kemudian membalikan tubuhnya, kakinya bergeser menjauhi tatapan mata Fandi.
‘’Cut mau kemana kau ! Abang ini datang untuk kamu, abang datang untuk menemani kamu Cut. Percayalah ! Abang peduli dan tulus sama kamu’’ Iba Fandi memandang tubuh Cut Nadia yang makin menjauh, menjauhi dirinya. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi pada gadis itu, ia mencoba mengejar langkah Cut Nadia yang mulai menjauh, namun ia dikejutkan. Menatap wajah ambu yang melototinya, seakan mengisyaratkan agar ia menjauhi Cut Nadia. Tangan ambu menarik lengan Cut Nadia menjauhinya, tak disangka dari kegelapan ia melihat al marhum abah dengan Randi. Datang dengan pakaian putih bersih. Ia makin tercengang saat abah dan Randi juga ikut menjauhkannya dari Cut Nadia.
‘’Cut jangan tinggalkan abang sendiri disini ‘’ suaranya tercekat, seperti seseorang yang kedinginan. Ia mencoba menggapai tangan Cut Nadia, makin tak mungkin ia gapai. ‘’maaf kan cut bang …!!!’’
‘’Abang! Abang…’’ ia masih mendengar Cut Nadia memanggil manggil namanya, menghilang.
            Seketika ia terbangun dari mimpinya, teriakan Cut Nadia membuat ia terbangun. Nafasnya masih terengah-engah. Ia mengusap kedua lesung di wajahnya. Seraya beristighfar.
‘’wuuussss…!! Angin masuk dari lembaran jendala menghempas tubuhnya yang baru saja terbangun.
Dingin mulai terasa menghampir. Jam dua malam, ia menatap jam dinding di ujung kamarnya. Segera ia bangun dan kekamar mandi yang berada tak jauh, di ujung ruang bilik berukuran hanya beberapa meter itu. Ia mulai mengguyurkan butiran bening ke wajahnya. melakukan sujud malam.
Hujan mulai mereda. Di pekarangan Fandi tengah sibuk, tetes air yang jatuh dari atap genteng dan pepohonan mulai jatuh pelan berhenti.          
 ''Fandy apa kau benar-benar mencintai Cut Nadia, nak'' pertanyaan satu lagi yang terlontar saat fandy tengah sibuk mengaduk pupuk untuk tanaman kebun. Lantas, pertanyaan itu memaksa Fandy menatap ambu yang mematung dihadapannya.
''Ambu ! Apa yang harus sayajawab'' menghitung gelagap yang kini ia tangkap, ia butuh beberpa detik lebih lama untuk mengutarakan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari bibir tua di hadapannya.
''Aa .. Aa ! A..ku ! Mengapa ambu bertanya itu pada Fandi ?'' ia terlihat gelagapan menjawab pertanyaan itu.
''akh..!! Mengapa jawaban itu yang terlontar dari ku, bodoh !! Mengapa aku tak mengatakannya terus terang bahwa aku mencintai Cut Nadia, agar ambu mengetahui hal yang terjadi sebenarnya, bahwa aku dan Cut Nadia cukup saling mencintai'' Fandi mengutuk dirinya sendiri. Sesaat ia tak berkata apa apa.
''Sudahlah Fan, kamu tak usah menutup diri, ambu sudah tahu kalau kamu mencintai Cut Nadia, ambu sudah melihatnya dari matamu nak, kamu tahu?, bibir memang dapat berkata bohong, tapi tidak untuk matamu, mata tak akan sanggup menyembunyikan sesuatu sepintar apapun kau menyembunyikannya, apalagi ambu memandang mata anak ambu, darah daging yang ambu lahirkan, ambu menyapihnya dua tahun kemudian membesarkannya. Ambu mengerti perasaan mu nak'' Fandi terdiam, jawaban yang tak ia sangka keluar dari perempuan yang sangat ia hormati, ambu juga terdiam.
''Sudahlah Fan, ambu paham, petang nanti ambu ingin bicara padamu dan Randi tentang suatu hal yang sangat penting, ambu harap kamu sudah mengerti banyak lagi akan jalan takdir, nak…!! Kalimat terakhir yang menjadi ujung pekataan ambu benar-benar membuatnya resah, ia mengusapkan jemarinya perlahan kewajahnya yang kini pucat, pikirannya berhambur, ia tangkap disana, langit sore menyergap gelap di ujung barat. Suara adzan mulai mertalu-talu, di gendang telinganya. Pelan.     
            Gelap meranggas, dedaunan mulai diseliput dingin, air hujan menggenang diselokan rerumputan kecil. Tetabuhan dari tubuh kodoh mengusir senyap yang diciptakan malam, dibantu alunan serangga malam yang berkeliar di sekitar kebun. Diruang tengah ambu telah duduk menepi, Randi berada di sebelahnya dan Fandi berada tepat berhadapan dengan ambu, karena kursi Fandi yang memang menghadap searah, membuat Fandi bertatap langsung dengan wajah ambu, yang malam ini terlihat sangat getir. Sesekali ia memandang wajah Fandi. Tak tahu mengapa, tatapan wajahnya berat, seakan menanggung beban berat yang selama bertahun-tahun di tanggungnya sendirian.
''Pertama ambu minta maaf, nak terutama terhadap kamu Fan ! Kadang ambu merasa bersalah setiap kali ambu mengingat hal ini'' ambu tercekat, ucapan pertama ambu benar membuatnya terenyah ragu. beberapa detik bibir ambu terkatup rapat, tak sepatah kata pun keluar dari dalam mulutnya. Fandi memandangnya lekat. Perasaanya mengalir tak tentu. Randi pun menatapnya seakan membantu meringankan beban yang tiba-tiba datang terhadapnya.
''Ambu minta maaf nak !!'' Kali ini air mata ambu terpaksa jatuh, air mata yang ia sejak tadi ia pertahankan. Jari telunjuknya ia sematkan ke ujung hidung, mungkin untuk menahan isakannya.
‘’kalian tahu, Abah kalian sakit-sakitan jauh sebelum ambu mengandung kalian, padahal ekonomi saat itu amatlah sangat paceklik, tak ada hasil kebun yang dapat dipetik, walhasil ayah meninggal tanpa ada pengobatan sama sekali. Hiks ..hikss..'' ucapnya tersekat, air mata ambu berderai makin deras, terlihat sesekali ia mengusap kedua bola matanya yang dipenuhi butiran bening. Kami semua terpaku diam membisu.
            ‘’Saat menjelang detik terakhir ayah kalian meninggal, ia berwasiat, agar ambu selalu menyayangi kalian, dan menuruti apa yang kalian mau, karena ambu sangat tahu dalam hatinya, abah sangat menyayangi kalian. Dan dulu abah kalian mempunyai kenginan untuk menyekolahkan salah seorang anaknya ke tanah arab, ambu tak tahu bagaimana abah bisa berkeinginan seperti itu. Tapi ambu yakin, abah adalah abah yang mengingnkan semua anaknya bahagia.’’ Kata-kata ambu terhenti beberapa saat
‘’Selain itu, abah mempunyai kesepakatan dengan abah Hamdani, abah Cut Nadia. Mereka berdua adalah sahabat akrab sedari kecil, hingga suatu ketika mereka membuat kesepakatan bahwa kelak apabila mereka mempunyai seorang anak laki laki dan perempuan, maka mereka akan menjodohka                                                   n nya. Mereka menganggap dengan inilah persahabatan mereka akan terus berlangsung hingga akhir hayat mereka. Namun, sebelum itu terwujud ayah kalian telah terlebih dulu menghadap yang kuasa'' bibir ambu makin terbata-bata berucap, luka lama itu seakan tergelar kembali kehadapannya. Seakan ia tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
Randi yang berada didekatnya berusaha menenangkan, air mata ambu tak henti berjatuhan. Hingga akhirnya ambu melanjutkan perkataannya.
'' maafkan ambu Fan ini semua adalah salah ambu !! ambu tahu kamu sangat mencintai Cut Nadia. Tapi ada sesuatu yang perlu kau ketahui nak'' ambu berkata pelan
''Dulu saat ambu melahirkan kalian berdua, ambu sakit-sakitan, nyawa ambu hampir saja tak tertolong, namum menatap kalian didunia membuat ambu bersemangat kembali untuk hidup, kalian menambahkan tenaga baru untuk ambu bangkit, namun ada suatu hal, karena kalian anak kembar ambu, ambu tidak bisa menyusui kalian berdua sekaligus, karena kata bidan desa, persediaan ASI ambu tidak cukup untuk menyusui dua anak. Dan ternyata selang beberapa hari kemudian orang tua Cut Nadia melahirkan bayi perempuan. Dengan terpaksa ambu menitipkan Fandi, salah satu dari anak ambu untuk disusui. Jadi maafkan ambu Fandi, ambu tidak tahu kalau di hari kemudian kamu menaruh hati pada Cut Nadia. Ini semua salah ambu, kalian tidak bisa bersama selamanya, karena kalian adalah saudara dalam pandangan islam. sekali lai maafkan ambu nak !!'' kini air mata ambu benar-benar tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menatap kearah Fandi, hingga membuat Fandi terenyah dan memeluk badan kurus dengan erat. Randi menatap keduanya dalam isak tangis.
''Tidak ambu ! tak ada yang perlu disalahkan, Randi mengerti. Ini bukanlah salah ambu. Fandi mengerti ambu, Fandi mengeti..'' ucap Fandi dengan lirih seraya mengagukan wajahnya, diatas kepala ambu yang berada dalam pelukanya.
            Fandi masih menatap langit, ia berharap ini tidak benar-benar terjadi pada dirinya, langkahnya tercekat memaku di suatu halaman rumah, ia tak sanggup. Benar-benar tak sanggup meneruskan langkahnya. Sesekali ia menatap langkah ambu dan Randi yang makin menjauh. Ia menahan air matanya sambil meneruskan langkah yang sempat ia tunda. Ia tak ngin mengecewakan adik kembarnya. Yang kini bejalan di depan rombongan iringan tari serimpi. Dengan jas hitam yang melekat pada tubuhnya. Sebenarna ia ingin pergi dan lari jauh.
Namun entah mengapa, rasanya itu tak mungkin ia lakukan, ia tahu tatapan ambu yang berulang kali tertuju padanya, sedikitnya hal itu mengharapkan Fandi dapat meneima pernikahan Cut Nadia ini. pernikahan yang bukan dengan dirinya. melainkan dengan adik kandungnya sendiri.
Rombongan seketika berhenti tepat di depan halaman ruamah Cut Nadia. Yang kini tengah berdiri manis di depan pintu rumah. Ia menatap wajah Cut Nadia dengan perasaan perih, ia juga melihat jelas air mata yang kini menggenangi bola mata Cut Nadia. Seperti genangan air mata yang kini dirasakannya mau tumpah. Wajah Cut Nadia yang benar-benar membuatnya luka. Luka yang kini menganga lebar.
            Akad nikah segera dimulai, mata ambu segera memandang Fandi, ada iba yan ia rasakan, hingga ia tak kuat menatap wajah sayu ambu. Ia berusaha tetap tenang namun hatinya berontak, ia tak kuasa, air matanya terus keluar tanpa henti. Menjadi saksi di pernikahan Randi dan Cut Nadia adalah hal yang sangat mustahil baginya. Ia beranjak keluar, ke halaman rumah yang memuatnya merasa sebagai makhluk yang sangat asing. Jauh pandanagannya tertuju pada langit yang seakan runtuh menimpanya. Hati nya benar-benar beku, badannya gemigil, pandangannya berputar-putar, air matanya jatuh berderai. Terutama saat akad nikah telah diucapkan. Perih, hatinya benar-benar luka. 
Kini sudah dua tahun ia berada di tanah arab. Ia terus saja memandang bingkai foto ditangannya. Nafasnya berhembus pelan, ia mengucap istighfar beberapa kali. Memasukan kembali foto itu kedalam tas ranselnya. Lembaran kertas usang ia temukan tak jauh dari lipatan baju-bajunya, terjatuh. Ia membuka kemudian membacanya.
Syair dari Cut Nadia yang belum sama sekali sempat ia baca saat di pelabuhan tempat mereka berpisah.
Banyak mata yang tetap melek dan banyak pula yang tidur
Dalam masalah yang mungkin terjadi atau tidak akan terjadi
Tinggalkanlah kesedihan sedapat yang engkau lakukan sebab
Jika engkau terus bersedih engkau akan berubah menjadi gila
Sesungguhnya rabb yang telah mencukupimu sebelumnya
Dia kan mencukupimu besok dan hari-hari mendatang . .

Selang beberapa menit kemudian handphonenya berdering. Membuat tangannya merayapi saku baju. Ia mendapat sebuah pesan singkat. Dari ambu yang berada diseberang sana.
''Fandi!! Kalau kamu bisa pulang secepatnya nak ! Ambu ..! Disini kami sedang dapat musibah Fan ! Randi…!! Randi…Nak… adik kembarmu ! dia kecelakaan. Tertabrak mobil saat sedang mengangkut hasil panen kami, kata dokter kecil kemungkinan ia bisa tetap bertahan hidup, waktunya sudah tak lama lagi. Semoga kamu tabah Fan…!! Pulanglah cepat !! sepertinya ada yang akan Randi sampaikan, sebagai pesan terakhirnya’’
Bola mata Fandi  memandang nanar ke layar handphonenya. Air matanya tak terasa terjatuh satu persatu, apa yang terjadi tuhan ??'' ia mendesah. Seketika ia segera mengepak semua barang barangnya. Tapi mengapa sepertinya ada rasa senang dan harapan yang merasupinya,
''Kenapa ada rasa senang yang merasup padanya ??'' Tapi buru buru perasaan itu  ia tepis, jauh .. sangat jauh sekali.
''Astaghfirulloh hal adzim, aku berlindung kepada-mu ya Allloh dari tipu daya dan godaan syaitan yang terkutuk..'' ucapnya membatin.
 
* Mkd Aan's
2012

Sang Pendusta

Kau menampakkan kecantikan
Dari balik sejuta topeng
Padahal kau tahu itu kebohomgan besar
Kadang kau menjadi cinderella
Yang menari dengan sepatu kaca
Atau menjelama menjadi srikadi
Yang merayu dengan paras bulan sabit
Namun..
Jangan sekali kali kau bersembunyi dalam topeng layla
Karena ku tahu
Kau tertawa dengan kekeh mak lampir
Sungguh  !
Kau berdusta dari seribu bait al fiah ibnu malik
Padahal kau telah tahu perbedaan
Makrifat dan nakiroh
Dari satu kehidupan
Satu harapan
Dari satu yang terbuang dari dua
Antara putih dan hitam
Antara fardu dan haram
Yang kau sebut atas nama tuhan -

*Mkd Aan's
2009

Kutemukan Alamat Baru mu

Kutemukan alamat baru mu !
Disebuah malam
Saat kelopak kamboja tidur
Berselimut angin sangat dingin

Kutemukan alamat baru mu !
Ditepian sepi
Saat diri butuh pelajaran
Lupa nikmat tuhan

Kutemukan alamat baru mu !
Di awal gerimis senja
Saat tanah-tanah berguncang penuh tangis
Gemuruh, air mata anak-anakmu

Akhirnya 
Kutemukan alamat baru mu !
Di batu nisan putih
Astah, pemakaman ke' keke'
Yang penuh linangan

*Mkd Aan's
2010

Sabtu, 25 Januari 2014

Because You

''Why you leave me ..
I still remember when you strom to my ear . .
Your mustache, and your lip
and all of your body.
I still blue when yo never say me  good bye . .
And can't breathe whithout you inside of me.
Nino ! I can't …
I can't stop loving you !
''Nino !! Tunggu !! jangan pergi'' gadis itu mendesah dan berlari dalam linang panjang
''Jangan tinggal kan aku sendiri !!'' Pipit berlari ditengah hujan deras yang tengah mengguyur deras. Kakinya tak kuasa lagi melangkah.
Langit mulai menggelap hitam, mendung berserakan disana, hujan turun marah habis–habisan buat hatinya makin tercabik. Saat menatap mobil jip biru yang berlalu makin jauh diujung jalan.
Lelah, ia menatap genangan air dihadapannya, raut wajahnya yang lecek, rambut kecil dikeningnya terurai basah. Matanya mulai sembab, nafasnya lalu mendesah. Seragam sekolah masih ia kenakan. Ia tak menyangka Nino meninggalkannya begitu cepat. Bahkan tanpa sepatah kata. Ia sedih, kalau saja suaranya bisa menggema keras pasti ia akan segera berteriak sejadinya. Tapi, ia hanya tak kuasa.
Tak enak memang menjadi cewek cupu sepertinya. Ia masih merasakan sakit sambil menatap wajahnya digenangan air yang berada diihadaannya, begitu rapuh dirinya hanya karena Nino pergi ia rela hujan-hujanan dan membiarkan tubuhnya gemigil diterpa hujan. Baginya Nino adalah segalanya. Cewek cupu seperti Pipit, tak pernah merasakan indahnya cinta. Ia terlalu pendiam ditambah lagi kaca mata tebal yang masih bertenggeng di atas unjung batang hidungnya.
Namun saat ia kenal dengan Nino semuanya berubah. Hidupnya seakan bermakna. Ada rasa setiap saat yang kadang datang menyerbu ulu hatinya, entah rasa apa itu. Padahal baru seminggu yang lalu ia kenalan dengan nino. tapi Nino berbeda. Nino segera mengisi kekosongan dalam kehidupan pipit. Sebuah rasa yang mampu membuat seseorang lupa waktu, Makan tak enak, Minum tak jadi, tidur tak nyenyak. Namun semua itu tak masalah, hal itu justru sangat menyenangkan.
‘’Namun semua itu berubah dalam hitungan jam saja. Kau pergi pergi jauh dan aku menangis sejadinya, entah pada siapa ??  Nino !! aku sayang kamu. Selamanya !!’’
''Demi kamu aku menolak saat teman-teman mengajak ku mencari pasangan, tapi sekarang kamu malah pergi meninggalkanku?''
''Nino !! kau adalah hidupku, nyawa dan ujung nafasku !! tapi mengapa engkau pergi meninggalkanku !!'' rintihnya lagi dalam rinai hujan.
''Semua temen-temen sekolah. Mereka semua pada menjauhi ku, tapi denganmu aku tak pernah merasakan sedikitpun hal itu. Kau berbeda, kata teman-temanku aku terlalu menutup diri, telalu pintar menyembunyikan perasaan, terlalu jaim !! tapi denganmu, kau tak pernah mengungkit semua kekurangan ku, itulah perbedaanmu dengan semua teman-temanku''.
***
Malam sudah mulai nampak gelap, dua hari kepergianmu. Perut rasanya sudah sangat lapar, dunia rasanya berputar-putar. Pintu kamar sudah aku kunci rapat setelah kau pergi, aku tak bersemangat hidup lagi.
''Pit !! udahan dong marahnya sama mama sayang, kamu makan yach ! udah dua hari kamu ngak makan dan mengunci diri dikamar. Ini semua demi kebaikan kamu Pit !! Kamu tahu kan tak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya sayang..!! apa lagi kamu anak semata wayang mama. Apa kamu ngak kasihan sama mama ??'' ucap mama dari balik pintu. Desahnya kini mulai menyentuh. Perutnya sudah dari tadi menggerutu. Tapi terlanjur ia benar-benar sakit.
Sebenarnya Pipit ingin melaksanakan adegan film remaja. Ingin kabur jauh dari rumah, seperti Nikita Willly artis pujaannya, tapi kerumah siapa ? ia tak punya kerabat diluar kota ? masak luntang-lantung dijalan ? Ogah ah !'' ucapnya
Atau memecakan gelas seperti yang puisi bintang papan atas pemeran cinta Dian Sasto Wardoyo dalam serial film Ada Apa Dengan Cinta, tapi gelas siapa cin !! gelas mama ?? kasian mama harus kehilangan gelas gara-gara Nino. Akhirnya ia putuskan untuk diam saja dalam kamar meratapi kepergian nino.
Dan akhirnya ia tak mau juga menjawab panggilan mamanya. Hingga suara panggilan mamanya itu berakhir. Membuat pipit sedikit menyesal menggerutkan dahi, sambil memegangi perutnya.   
''Braaakk !!!'' Pintu terbuka tiba-tiba. Mata pipit terbelalak, ia mendapati papa dan mamanya. Papa hanya menggeleng sejenak kemudian beranjak pergi. Kini hanya tinggal mama yang berdiri memaku di depan pintu kamar.
''Pipit mama punya kejutan ni'' ucap mama sambil menggendong seekor anak kucing.
 ''Cukup ma ! jangan harap dengan membelikan anak kucing baru, aku dapat melupakan Nino, asal mama tahu aja ! Nino tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun.'' ucap Pipit dengan Nada tinggi. Melihat mamanya datang dengan menggendong seekor anak kucing dalam pelukannya.
''Pit besok sore kita akan kedatangan tamu dari Bandung, sepupumu akan tinggal disini untuk beberapa bulan, ada tugas sekolah yang mengharuskan ia tinggal, atau mungkin kalau ia betah nanti ia akan tinggal bersama-sama dengan kita nanti. Mama harap kamu bisa membuat dia betah disini.                                              
''Apa lagi yang mama mau dari Pipit !! Belum puas mama memisahkan Pipit dari Nino, mam ! Sudah menyakiti perasaan Pipit. Mama kan udah tahu kalo Nino adalah segalanya buat Pipit''
''Ini semua demi kebaikan mu pit ! mama sayang sama kamu !!'' ucap mama lirih
''Pipit tahu ma ! kalo mama sama papa diam-diam mau menjodohkan Pipit dengan sepupu mama yang dari Bandung itu kan ? Pipit dengar sendiri mama dan papa bicara berdua. karena itulah mama dan papa berencana untuk menjauhkan pipit dengan Nino dengan cara menjual Nino ke orang lain. Mengapa mama dan papa tega sama Pipit !'' teriak Pipit diiringi dengan tangis berderai.
''Ini semua yang terbaik untuk mu pit''
''Terbaik dari mana ma ?'' ucapnya.
''Apa kamu tak tau Pit, apa yang dikatakan tetangga tentang kamu. Mereka bilang kamu sudah sakit jiwa nak !! bahkan mereka berani membicarakannya didepan mama, tentang kamu yang selalu berdua dengan Nino kemana pun kamu pergi, kamu makan dan kencan dengan Nino seakan-akan kamu menganggap Nino itu adalah manusia dan pacarmu. Apa kamu tak sadar nak, kalau nino itu hanya lah seekor anak kucing …'' ucap mama tercekat. Ia memandang wajah pipit yang mulai mendekatinya.
''Apa itu yang kamu anggap waras ?!'' ucap mama lagi seakan meminta pengertian sesosok dihadapannya.
''Sudah ma !! Pipit sudah muak !!'' ucapnya sambil menubruk tubuh mama yang tengah berdiri didepan pintu kamar. kemudian ia lari menjauh, keluar rumah.
***
Keesokan harinya ..
''Pipit ngak mau keluar !! ngak mau sekolah !! ngak mau makan, minum, mandi. sudah cukup mama ngatur Pipit lagi, Pipit bukan anak kecil lagi, pipit sudah besar. Mama dan papa tak usah ikut campur lagi dalam kehidupan Pipit.'' teriaknya dari dalam kamar. Dari kemarin ia mulai mengunci diri lagi dalam kamar. Mama bingung membujuk, papa juga pusing menghadapinya.
''Dan satu lagi ma ! ngak usah ngenalin aku sama sepupu mama yang mama bangga banggakan itu, aku ngak mau tau dan ngak mau kenal sama dia, kalo perlu bilang juga sama dia sampai mati pun aku ngak bakal baik-baikin, apalagi sampai terima dia sebagai tunangan Pipit. Kalo perlu mama sama papa aja yang tunangan sama dia'' tambahnya lagi, dengan suara serak.
''Oke Pit ! terserah apa mau kamu nak, akan papa turuti, tapi papa mohon sekarang kamu keluar. Fami sudah menunggu kamu. Tolong kamu hormati dia sebagai tamu. dia sekarang berada disamping papa. Tolong papa mohon buka pintunya sekarang. Apa kamu mau papa nanti malu didepan saudara papa karena kamu tidak menghargai kedatangan anaknya’’ ucap papa setengah memohon
‘’Ada satu lagi Pit ! papa sudah membawa kembali Nino lagi buat kamu sayang'' ucap papa mengiba.
''Meong…'' terdengar suara lembut Nino dari balik pintu.
Dengan langkah cepat Pipit melangkahkan kakinya dan segera membuka pintu.
***
Ia mendapati wajah papa, mamanya dan Nino yang melompat kearahnya. Tak lama dari balik pintu, berdiri seorang pemuda tampan dengan tubuh jenjang menatap kearahnya. Wajah manisnya tersenyum simpul, manis senyumnya makin terlihat menggoda. membuat mata Pipit tak berkedip, mulutnya menganga. Seketika tubuhnya bergetar tak karuan. Ada perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan dengan Nino sekalipun. Rasa yang menghadirkan greget yang menjalar keseluruh tubuhnya, tubuhnya kaku. 
''Kenalkan nama saya Fami'' ucap pemuda itu sambil menjulurkan tangan putihnya
Pipit tetap melongo diam. Tubuhnya makin kaku. Pipinya merah menyala, malu.
''Inikah rasanya cinta'' ucapnya lirih sambil melepas kan Nino dari pelukannya, ia pun menatap pemuda itu dengan tatapan kejang-kejang, forever -

*Mkd Aan's

2010

Jumat, 24 Januari 2014

Maulana

Rembulan
Di jejaring malam
Seirig bisu memasung gelap
Hanya awan berarak, lari menjalari langit
Hanya mulut tertutup mengharap sunyi
Rembulan tampan tanpa tandan
Diujung reranting lambaian hijau dedaunan
Ditarian angin gending kegamangan
Menungkuk sujud kebilik paling senyap
Menangis bagai air mata hujan
Tangismu meman datang seiring peredaran
Maulana
Melangkah seumpama waktu
Menyeret kisah ke dalam beku
Membuat ku menepi mengsahkan lalu
Di himpitan awal pintu rambu waktu
Menuju singgah awal puting bulan kehidupan
Maulana
Pecah..
Kau pasti mendengar kesahku
Tagis juga sedih
Aku mengadu
Rukuk sujud tirakatku tak pernah cukup
Tuk tebus dosa lagi aku mengadu
Zahir dzahir ku tak cukup menuju putihku
Maulana
Jantung syair mu menusuk
Diraut wajah noda hitam
Tangan kaki dan tulang belulang
Yang akan dipertanyakan saat perhitungan
Maulana
Hadirlah sekali dan kali
Datang di akhir senja usia
Diawal awan merah malam
Saat tangis makin menganga
Saat tangis tak lagi berguna
Saat nyawa tak mampu tangung dosa
Diujung tatap mata kuasa
Sang maulana
yang mendengar permintaanku
jangan putuskan rahmatmu -

*Mkd Aan's
2011

Ayah

Engkau kemana ?

Tadi pagi aku cari-cari

Seperti pengembala yang sedang kehilangan anak sapi

Tadi siang pun, aku lihat sepeda usang penuh debu

Hingga aku mengantuk, ingat selalu seribu pesanmu

Lelah juga, aku tak mau lelah !

Titik .. !!

Sore ini, tabuh rebana mu tengah basah dalam tangisan.

Hingga mengkoyak-koyak hati menjadi beling-beling pecahan

Ayah…!!  Aku haus …

Aku rindu senyum hangat teh hijau suguhan bibirmu

Kemarau panjang melapisi baja hati yang kedinginan

Seperti beduk yang tak henti memukul kegelisahan.

Ini malam jum’at, ayah !!…

Pulang …pulang …

Aku buatkan engkau satu hidangan spesial

Satu bait yasin ..

Tak henti mendendangkan isakan -


*Puisi ditulis bersama cerpen ''Rembulan Terakhir Di mata Ayah'' untuk mengenang senja pada peristiwa, 7 syawal 1433 H, saat kematian ayah, sahabat Badruddin, Karpote, Blega-Bangkalan, semoga amal baik beliu di terima di sisi Alloh Swt, Amin -