Dan janganlah engkau tidur kecuali dengan
hati yang bersih
Tak ada di antara kerdipan mata dan
meleknya
Kecuali Allah kan
mengubah dari kondisi ke kondisi lainnya’’
Fatir masih ingat saat Cut Nadia
meneruskan kata-kata syairnya, persis saat ia memandang langit pelabuhan sunda
tempat ia melabuhkan pandangannya terakhir pada Cut Nadia. Tepat saat ia
menghirup nafas panjangnya di kaki geladak kapal yang akan membawa ia dan
cintannya mengarungi luas lautan biru. Tempat terakhir ia menghirup aroma segar
Andalas hijau dan asap kelapa sawit setelah sekian lama lagi ia akan pergi
jauh. Meninggalkan semua kenangan pedihnya. Bersama ambu yang sering menatap
langit ditepian magrib dipintu rumah, Randi yang sering kali menasehatinya kala
ia sedang gelisah, terlebihnya Cut Nadia
yang tak mungkin bersamanya, bahkan dikehidupan lain. Cut Nadia tak tergantikan
senyumnya walau dengan wanita bibir tipis, bermata lebar di iringi bulu-bulu
mata yang lentik serta hidung mancung di tanah arab. Yang mungkin akan ia temui
saat ia menginjakkan kakinya di bumi arab nanti. ''Astaghfirulloh hal adzim ..
!!'' batinnya mendesah mohon ampun. Kapal layar besar segera membawa tubuhnya
pergi.
Panas sudah berkurang ke titik rendah,
langit mulai memerah, merpati senja berkejar-kejaran diujung bangungan bercorak
coklat tua yang menjulang tua.
Mata fandi masih mengekor jejak mereka, seekor
merpati yang kini hinggap direranting barada amat jauh dari kelompoknya, ia
seakan menemukan dirinya yang kini berada jauh dari keluarga. Bagai merpati
yang kini kesepian, seketika dingin malam mulai merambat menyerang, kulitnya
yang mungkin sudah terbiasa, dengan panas yang mulai hilang saat senja tiba dan
dingin yang makin menyerbu saat matahari mulai menghilang di tepian barat.
Kalau bukan karena pesan terakhir ayah
dipembaringan terakhir ia pasti tak akan senekat ini pergi jauh menimba ilmu.
Wasiat yang mengharuskan salah satu putranya menimba ilmu ditanah arab. Negeri
yang dalam kitab sucinya merupakan negeri makmur dan aman.
Kalau bukan karena ingin meninggalkan
kenangan tentang Cut Nadia, semua perih yang ia tinggalkan dipulau nya. Ia
pasti lebih memilih hidup dekat bersama ambu. Tapi ia adalah putra tertua yang
mestinya memang harus mengalah, menyelesaikan amanah abah dan akhirnya Randi
jualah yang menemani ambu di sana, kampung yang sangat ia cintai.
Sudah hampir dua tahun ia berada di Mekah
ia mengerti bahwa sebentar lagi tanah Mekah akan diserang rasa dingin yang
menggigilkan semua persendiannya, walaupun udara Mekah tidak sedingin seperti
di Madinah. Dingin yang akan benar-benar terasa menggigit sendi-sendi
ditubuhnya.
Malam bulan Desember merayap pelan, malam
yang datang dengan rasa dingin yang tak sebagai mana mestinya. Dinginnya sangat
terasa, hingga membuat pori-pori kulitnya mengkerut mengecil. Jaket yang ia
kenakan belum mampu sepenuhnya menghilangkan rasa dingin yang kini menyerang
tubuhnya yang kini terlihat lebih kurus. Ia sudah pasrah pada udara Mekah yang
mungkin tak langsung bersahabat dengan dirinya. Ia sudah siap selama empat
bulan kedepan tanah arab akan di serang udara dingin dan angin yang kuat
menerpa, terutama saat malam tiba. Kulitnya akan terasa sangat kering disertai
dengan tepian bibir yang dingin dan beku, walau tak sampai membuat kulitnya
mengelupas. Namun ia harus memakai mousteraizer kulit. Bahkan ia sudah pasrah
kalau malam ini ia tak dapat tidur, sebab rasa dingin yang benar-benar
mencekam.
Ia mulai membuka-buka ranselnya,
membuka-buka lipatan baju yang telah tertata rapi. Mengeluarkan beberapa
kumpulan kertas, mencoba mencari sesuatu. Tatapan matanya mulai sayu, saat ia
menatap bingkai foto hitam putih. Gambar seseorang jelas terlihat tersenyum
padanya, senyum tak asing yang sering menghampirinya kala ia mulai merindu.
Rindu yang kunjung sembuh. Bingkai kedua yang ia pandang adalah foto dirinya
dengan Randi dan Cut Nadia, yang selalu membuatnya tersenyum meski getir. Ia
tahu betul rindu hanya dapat terobati apabila ada sebuah pertemuan. Tangannya
tak berhenti mengusap, kadang sesekali ia menciuminya dengan hembusan nafas
yang berat, kadang dengan menutup kedua matanya, hal yang aneh yang kadang ia
lakukan. Namun hanya hal ini yang dapat membuat ia merasa tubuhnya sedikit
hangat kembali, meski merasakan perih.
Ia masih ingat betul, di kampungnya saat
ini musim memanen buah semanggi, dengan membawa keranjang besar dipunggung,
diantara deretan pohon semanggi yang berjajar memanjang. Dan diantara pekikan
para pemulung buah. Hal yang selalu saja dinanti para pekerja kebun seperti
ambu dan adiknya Randi. Ia juga ingat jelas saat setiap kali usai musim panen
ia pasti akan segera membeli batik Ampan dengan warna yang sangat indah untuk
ambu dan seseorang yang buatnya sangat berarti, Cut Nadia. Karena kemudian ia
akan segera menangkap senyum Cut Nadia yang membuat hatinya bergetar merasakan
aliran syarafnya mengalir tak tentu.
***
''Ambu tahu apa yang kamu rasakan pada
Cut Nadia Fan !'' Tiba-tiba kata kata ibunya membuat langkahnya tercekat, suatu
ketika seusai berlarian diantara perkebunan Andalas, disuatu sore bersama Cut
Nadia, saat ambunya tiba-tiba berada dihadapannya. Memandang tirus ke arahnya
dengan topi lebar yang tersemat diatas rambut setengah ubanya. Kata-kata yang
menumbuahkan sejuta pertanyaan dalam benaknya. Lalu dengan seketika ia
memandang wajah sayu dihadapannya.
Berharap menemukan suatu jawaban yang melabuh disana, hingga ia tak
menemukan suatu apapun kecuali raut wajah tua yang makin tua.
''Tapi ambu harap kamu tak berharap
banyak padanya, takdir kadang tak selalu sejalan dengan apa yang diharap banyak
manusia nak !'' kata kata itu bergitu lembut masuk kedalam relung hatinya,
membuat bibirnya tercekat beberapa menit, seakan terhenti apa yang jadi
impiannya.
Meluangkan waktu banyak bersama Cut
Nadia, berjalan diantara parit kebun yang menjulang, bercanda dibawah rimbun
pohon diterik yang menyenga, atau berkejaran sambil memetik bunga-bungaan
hujan, dimata ambu, membuatnya selalu berbicara tentang takdir, seakan ia
menginginkan Fandy lebih mengetahui lebih banyak tentang garis tangan yang
menggambarkan jalan hidup manusia, tentang takdir tuhan yang selalu bersentuhan
dengan yang telah tertulis di lauhul mahfud jauh sebelum manusia tercipta.
Bahwa manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga naun hasil akhir, tuhan lah
yang menentukan hasilnya, tapi, bukankah Alloh tidak akan mengubah sesuatu pada
seorang hamba kalau bukan hamba itu sendiri yang mengubahnya. Tapi sikap Ambu
seakan menghamparkan suatu misteri yang tak pernah terbayang sebelumnya dalam
benak Fandy. Mata ambu selalu nanar saat ia menatap ia berdua dengan Cut Nadia.
Sebenarnya Cut Nadia sudah Fandy anggap
sebagai adik kandungnya sendiri, keluarga Cut Nadia dan keluarganya terhitung
sangat dekat. Tapi entah apa yang selalu menjalar dan menumbuhi hatinya, ada
sesuatu yang selalu saja merambati perasaannya kala matanya menangkap wajah Cut
Nadia. Anehnya setiap ia berusaha menepisnyarasa itu, batinnya seakan selalu
berontak, terutama saat ia menatap senyum Cut Nadia. senyum yang selalu membuatnya
lupa akan takdir.
Bahkan kata-kata ambu sering menghantu
disaat malam menjelang. Hingga ia terserang insomnia berat, membuatnya gelisah,
matanya sulit untuk ia pejamkan, pikirannya melayang diantara baying-bayang
yang belum membuatnya paham. Menjadi misteri yang membangunkan kembang
tidurnya, hingga tanpa ia sangka, pernah suatu malam Cut Nadia datang kepadanya
dengan air mata berderai.
‘’Bang kenapa abang tinggalin Cut Nadia
sendirian disini ! Nadia takut bang !’’ Gadis dihadapannya menangis, sangat
jelas air matanya jatuh berderai.
‘’kamu kenapa Cut, sudah tenang abang
disini untuk kamu !’’ Fandi mendekati tubuh gadis dihadapannya. ‘’tapi kenapa
abang ninggalin Cut terlalu lama, Cut takut disini sendirian. Abang tega sama
Cut ! Abang tak pernah mengerti perasaan cut. Abang ngak pernah mau ngerti apa
yang cut mau !’’ Cut Nadia memandang lekat lelaki dihadapannya, sambil
segugukan. Kemudian membalikan tubuhnya, kakinya bergeser menjauhi tatapan mata
Fandi.
‘’Cut mau kemana kau ! Abang ini datang untuk
kamu, abang datang untuk menemani kamu Cut. Percayalah ! Abang peduli dan tulus
sama kamu’’ Iba Fandi memandang tubuh Cut Nadia yang makin menjauh, menjauhi
dirinya. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi pada gadis itu, ia mencoba
mengejar langkah Cut Nadia yang mulai menjauh, namun ia dikejutkan. Menatap
wajah ambu yang melototinya, seakan mengisyaratkan agar ia menjauhi Cut Nadia.
Tangan ambu menarik lengan Cut Nadia menjauhinya, tak disangka dari kegelapan
ia melihat al marhum abah dengan Randi. Datang dengan pakaian putih bersih. Ia
makin tercengang saat abah dan Randi juga ikut menjauhkannya dari Cut Nadia.
‘’Cut jangan tinggalkan abang sendiri
disini ‘’ suaranya tercekat, seperti seseorang yang kedinginan. Ia mencoba
menggapai tangan Cut Nadia, makin tak mungkin ia gapai. ‘’maaf kan cut bang
…!!!’’
‘’Abang! Abang…’’ ia masih mendengar Cut
Nadia memanggil manggil namanya, menghilang.
Seketika
ia terbangun dari mimpinya, teriakan Cut Nadia membuat ia terbangun. Nafasnya
masih terengah-engah. Ia mengusap kedua lesung di wajahnya. Seraya
beristighfar.
‘’wuuussss…!! Angin masuk dari lembaran jendala
menghempas tubuhnya yang baru saja terbangun.
Dingin mulai terasa menghampir. Jam dua
malam, ia menatap jam dinding di ujung kamarnya. Segera ia bangun dan kekamar
mandi yang berada tak jauh, di ujung ruang bilik berukuran hanya beberapa meter
itu. Ia mulai mengguyurkan butiran bening ke wajahnya. melakukan sujud malam.
Hujan mulai mereda. Di pekarangan Fandi
tengah sibuk, tetes air yang jatuh dari atap genteng dan pepohonan mulai jatuh
pelan berhenti.
''Fandy apa kau benar-benar mencintai Cut
Nadia, nak'' pertanyaan satu lagi yang terlontar saat fandy tengah sibuk
mengaduk pupuk untuk tanaman kebun. Lantas, pertanyaan itu memaksa Fandy
menatap ambu yang mematung dihadapannya.
''Ambu ! Apa yang harus sayajawab''
menghitung gelagap yang kini ia tangkap, ia butuh beberpa detik lebih lama
untuk mengutarakan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang tiba-tiba terlontar
dari bibir tua di hadapannya.
''Aa .. Aa ! A..ku ! Mengapa ambu
bertanya itu pada Fandi ?'' ia terlihat gelagapan menjawab pertanyaan itu.
''akh..!! Mengapa jawaban itu yang
terlontar dari ku, bodoh !! Mengapa aku tak mengatakannya terus terang bahwa
aku mencintai Cut Nadia, agar ambu mengetahui hal yang terjadi sebenarnya,
bahwa aku dan Cut Nadia cukup saling mencintai'' Fandi mengutuk dirinya
sendiri. Sesaat ia tak berkata apa apa.
''Sudahlah Fan, kamu tak usah menutup
diri, ambu sudah tahu kalau kamu mencintai Cut Nadia, ambu sudah melihatnya
dari matamu nak, kamu tahu?, bibir memang dapat berkata bohong, tapi tidak
untuk matamu, mata tak akan sanggup menyembunyikan sesuatu sepintar apapun kau
menyembunyikannya, apalagi ambu memandang mata anak ambu, darah daging yang
ambu lahirkan, ambu menyapihnya dua tahun kemudian membesarkannya. Ambu
mengerti perasaan mu nak'' Fandi terdiam, jawaban yang tak ia sangka keluar
dari perempuan yang sangat ia hormati, ambu juga terdiam.
''Sudahlah Fan, ambu paham, petang nanti
ambu ingin bicara padamu dan Randi tentang suatu hal yang sangat penting, ambu
harap kamu sudah mengerti banyak lagi akan jalan takdir, nak…!! Kalimat
terakhir yang menjadi ujung pekataan ambu benar-benar membuatnya resah, ia
mengusapkan jemarinya perlahan kewajahnya yang kini pucat, pikirannya
berhambur, ia tangkap disana, langit sore menyergap gelap di ujung barat. Suara
adzan mulai mertalu-talu, di gendang telinganya. Pelan.
Gelap
meranggas, dedaunan mulai diseliput dingin, air hujan menggenang diselokan
rerumputan kecil. Tetabuhan dari tubuh kodoh mengusir senyap yang diciptakan
malam, dibantu alunan serangga malam yang berkeliar di sekitar kebun. Diruang
tengah ambu telah duduk menepi, Randi berada di sebelahnya dan Fandi berada
tepat berhadapan dengan ambu, karena kursi Fandi yang memang menghadap searah,
membuat Fandi bertatap langsung dengan wajah ambu, yang malam ini terlihat
sangat getir. Sesekali ia memandang wajah Fandi. Tak tahu mengapa, tatapan
wajahnya berat, seakan menanggung beban berat yang selama bertahun-tahun di tanggungnya
sendirian.
''Pertama ambu minta maaf, nak terutama
terhadap kamu Fan ! Kadang ambu merasa bersalah setiap kali ambu mengingat hal
ini'' ambu tercekat, ucapan pertama ambu benar membuatnya terenyah ragu.
beberapa detik bibir ambu terkatup rapat, tak sepatah kata pun keluar dari
dalam mulutnya. Fandi memandangnya lekat. Perasaanya mengalir tak tentu. Randi
pun menatapnya seakan membantu meringankan beban yang tiba-tiba datang
terhadapnya.
''Ambu minta maaf nak !!'' Kali ini air
mata ambu terpaksa jatuh, air mata yang ia sejak tadi ia pertahankan. Jari
telunjuknya ia sematkan ke ujung hidung, mungkin untuk menahan isakannya.
‘’kalian tahu, Abah kalian sakit-sakitan jauh
sebelum ambu mengandung kalian, padahal ekonomi saat itu amatlah sangat
paceklik, tak ada hasil kebun yang dapat dipetik, walhasil ayah meninggal tanpa
ada pengobatan sama sekali. Hiks ..hikss..'' ucapnya tersekat, air mata ambu
berderai makin deras, terlihat sesekali ia mengusap kedua bola matanya yang
dipenuhi butiran bening. Kami semua terpaku diam membisu.
‘’Saat
menjelang detik terakhir ayah kalian meninggal, ia berwasiat, agar ambu selalu
menyayangi kalian, dan menuruti apa yang kalian mau, karena ambu sangat tahu
dalam hatinya, abah sangat menyayangi kalian. Dan dulu abah kalian mempunyai
kenginan untuk menyekolahkan salah seorang anaknya ke tanah arab, ambu tak tahu
bagaimana abah bisa berkeinginan seperti itu. Tapi ambu yakin, abah adalah abah
yang mengingnkan semua anaknya bahagia.’’ Kata-kata ambu terhenti beberapa saat
‘’Selain itu, abah mempunyai kesepakatan
dengan abah Hamdani, abah Cut Nadia. Mereka berdua adalah sahabat akrab sedari
kecil, hingga suatu ketika mereka membuat kesepakatan bahwa kelak apabila
mereka mempunyai seorang anak laki laki dan perempuan, maka mereka akan
menjodohka
n nya. Mereka menganggap dengan inilah persahabatan mereka akan terus
berlangsung hingga akhir hayat mereka. Namun, sebelum itu terwujud ayah kalian telah
terlebih dulu menghadap yang kuasa'' bibir ambu makin terbata-bata berucap,
luka lama itu seakan tergelar kembali kehadapannya. Seakan ia tak sanggup untuk
melanjutkan perkataannya.
Randi yang berada didekatnya berusaha
menenangkan, air mata ambu tak henti berjatuhan. Hingga akhirnya ambu melanjutkan
perkataannya.
'' maafkan ambu Fan ini semua adalah
salah ambu !! ambu tahu kamu sangat mencintai Cut Nadia. Tapi ada sesuatu yang
perlu kau ketahui nak'' ambu berkata pelan
''Dulu saat ambu melahirkan kalian
berdua, ambu sakit-sakitan, nyawa ambu hampir saja tak tertolong, namum menatap
kalian didunia membuat ambu bersemangat kembali untuk hidup, kalian menambahkan
tenaga baru untuk ambu bangkit, namun ada suatu hal, karena kalian anak kembar
ambu, ambu tidak bisa menyusui kalian berdua sekaligus, karena kata bidan desa,
persediaan ASI ambu tidak cukup untuk menyusui dua anak. Dan ternyata selang
beberapa hari kemudian orang tua Cut Nadia melahirkan bayi perempuan. Dengan
terpaksa ambu menitipkan Fandi, salah satu dari anak ambu untuk disusui. Jadi
maafkan ambu Fandi, ambu tidak tahu kalau di hari kemudian kamu menaruh hati
pada Cut Nadia. Ini semua salah ambu, kalian tidak bisa bersama selamanya,
karena kalian adalah saudara dalam pandangan islam. sekali lai maafkan ambu nak
!!'' kini air mata ambu benar-benar tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia
menatap kearah Fandi, hingga membuat Fandi terenyah dan memeluk badan kurus
dengan erat. Randi menatap keduanya dalam isak tangis.
''Tidak ambu ! tak ada yang perlu
disalahkan, Randi mengerti. Ini bukanlah salah ambu. Fandi mengerti ambu, Fandi
mengeti..'' ucap Fandi dengan lirih seraya mengagukan wajahnya, diatas kepala
ambu yang berada dalam pelukanya.
Fandi
masih menatap langit, ia berharap ini tidak benar-benar terjadi pada dirinya,
langkahnya tercekat memaku di suatu halaman rumah, ia tak sanggup. Benar-benar
tak sanggup meneruskan langkahnya. Sesekali ia menatap langkah ambu dan Randi
yang makin menjauh. Ia menahan air matanya sambil meneruskan langkah yang
sempat ia tunda. Ia tak ngin mengecewakan adik kembarnya. Yang kini bejalan di
depan rombongan iringan tari serimpi. Dengan jas hitam yang melekat pada
tubuhnya. Sebenarna ia ingin pergi dan lari jauh.
Namun entah mengapa, rasanya itu tak
mungkin ia lakukan, ia tahu tatapan ambu yang berulang kali tertuju padanya,
sedikitnya hal itu mengharapkan Fandi dapat meneima pernikahan Cut Nadia ini.
pernikahan yang bukan dengan dirinya. melainkan dengan adik kandungnya sendiri.
Rombongan seketika berhenti tepat di
depan halaman ruamah Cut Nadia. Yang kini tengah berdiri manis di depan pintu
rumah. Ia menatap wajah Cut Nadia dengan perasaan perih, ia juga melihat jelas
air mata yang kini menggenangi bola mata Cut Nadia. Seperti genangan air mata
yang kini dirasakannya mau tumpah. Wajah Cut Nadia yang benar-benar membuatnya
luka. Luka yang kini menganga lebar.
Akad
nikah segera dimulai, mata ambu segera memandang Fandi, ada iba yan ia rasakan,
hingga ia tak kuat menatap wajah sayu ambu. Ia berusaha tetap tenang namun
hatinya berontak, ia tak kuasa, air matanya terus keluar tanpa henti. Menjadi
saksi di pernikahan Randi dan Cut Nadia adalah hal yang sangat mustahil
baginya. Ia beranjak keluar, ke halaman rumah yang memuatnya merasa sebagai makhluk
yang sangat asing. Jauh pandanagannya tertuju pada langit yang seakan runtuh
menimpanya. Hati nya benar-benar beku, badannya gemigil, pandangannya
berputar-putar, air matanya jatuh berderai. Terutama saat akad nikah telah
diucapkan. Perih, hatinya benar-benar luka.
Kini sudah dua tahun ia berada di tanah
arab. Ia terus saja memandang bingkai foto ditangannya. Nafasnya berhembus
pelan, ia mengucap istighfar beberapa kali. Memasukan kembali foto itu kedalam
tas ranselnya. Lembaran kertas usang ia temukan tak jauh dari lipatan
baju-bajunya, terjatuh. Ia membuka kemudian membacanya.
Syair dari Cut Nadia yang belum sama
sekali sempat ia baca saat di pelabuhan tempat mereka berpisah.
Banyak mata yang tetap melek dan banyak
pula yang tidur
Dalam masalah yang mungkin terjadi atau
tidak akan terjadi
Tinggalkanlah kesedihan sedapat yang
engkau lakukan sebab
Sesungguhnya rabb yang telah mencukupimu sebelumnya
Dia kan mencukupimu besok dan hari-hari mendatang
. .
Selang beberapa menit kemudian handphonenya
berdering. Membuat tangannya merayapi saku baju. Ia mendapat sebuah pesan
singkat. Dari ambu yang berada diseberang sana.
''Fandi!! Kalau kamu bisa pulang secepatnya nak
! Ambu ..! Disini kami sedang dapat musibah Fan ! Randi…!! Randi…Nak… adik
kembarmu ! dia kecelakaan. Tertabrak mobil saat sedang mengangkut hasil panen
kami, kata dokter kecil kemungkinan ia bisa tetap bertahan hidup, waktunya
sudah tak lama lagi. Semoga kamu tabah Fan…!! Pulanglah cepat !! sepertinya ada
yang akan Randi sampaikan, sebagai pesan terakhirnya’’
Bola mata Fandi
memandang nanar ke layar handphonenya. Air matanya tak terasa terjatuh
satu persatu, apa yang terjadi tuhan ??'' ia mendesah. Seketika ia segera
mengepak semua barang barangnya. Tapi mengapa sepertinya ada rasa senang dan
harapan yang merasupinya,
''Kenapa ada rasa senang yang merasup padanya
??'' Tapi buru buru perasaan itu ia
tepis, jauh .. sangat jauh sekali.
''Astaghfirulloh hal adzim, aku berlindung
kepada-mu ya Allloh dari tipu daya dan godaan syaitan yang terkutuk..'' ucapnya
membatin.
* Mkd Aan's
2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar