Minggu, 26 Januari 2014

Temaram Cinta Saudi Arabia

‘’Biarkanlah takdir berjalan dengan tali kekangnya
Dan janganlah engkau tidur kecuali dengan hati yang bersih
Tak ada di antara kerdipan mata dan meleknya
Kecuali Allah kan mengubah dari kondisi ke kondisi lainnya’’

Fatir masih ingat saat Cut Nadia meneruskan kata-kata syairnya, persis saat ia memandang langit pelabuhan sunda tempat ia melabuhkan pandangannya terakhir pada Cut Nadia. Tepat saat ia menghirup nafas panjangnya di kaki geladak kapal yang akan membawa ia dan cintannya mengarungi luas lautan biru. Tempat terakhir ia menghirup aroma segar Andalas hijau dan asap kelapa sawit setelah sekian lama lagi ia akan pergi jauh. Meninggalkan semua kenangan pedihnya. Bersama ambu yang sering menatap langit ditepian magrib dipintu rumah, Randi yang sering kali menasehatinya kala ia sedang gelisah,  terlebihnya Cut Nadia yang tak mungkin bersamanya, bahkan dikehidupan lain. Cut Nadia tak tergantikan senyumnya walau dengan wanita bibir tipis, bermata lebar di iringi bulu-bulu mata yang lentik serta hidung mancung di tanah arab. Yang mungkin akan ia temui saat ia menginjakkan kakinya di bumi arab nanti. ''Astaghfirulloh hal adzim .. !!'' batinnya mendesah mohon ampun. Kapal layar besar segera membawa tubuhnya pergi.
Panas sudah berkurang ke titik rendah, langit mulai memerah, merpati senja berkejar-kejaran diujung bangungan bercorak coklat tua yang menjulang tua.
Mata fandi masih mengekor jejak mereka, seekor merpati yang kini hinggap direranting barada amat jauh dari kelompoknya, ia seakan menemukan dirinya yang kini berada jauh dari keluarga. Bagai merpati yang kini kesepian, seketika dingin malam mulai merambat menyerang, kulitnya yang mungkin sudah terbiasa, dengan panas yang mulai hilang saat senja tiba dan dingin yang makin menyerbu saat matahari mulai menghilang di tepian barat.
Kalau bukan karena pesan terakhir ayah dipembaringan terakhir ia pasti tak akan senekat ini pergi jauh menimba ilmu. Wasiat yang mengharuskan salah satu putranya menimba ilmu ditanah arab. Negeri yang dalam kitab sucinya merupakan negeri makmur dan aman.
Kalau bukan karena ingin meninggalkan kenangan tentang Cut Nadia, semua perih yang ia tinggalkan dipulau nya. Ia pasti lebih memilih hidup dekat bersama ambu. Tapi ia adalah putra tertua yang mestinya memang harus mengalah, menyelesaikan amanah abah dan akhirnya Randi jualah yang menemani ambu di sana, kampung yang sangat ia cintai.
Sudah hampir dua tahun ia berada di Mekah ia mengerti bahwa sebentar lagi tanah Mekah akan diserang rasa dingin yang menggigilkan semua persendiannya, walaupun udara Mekah tidak sedingin seperti di Madinah. Dingin yang akan benar-benar terasa menggigit sendi-sendi ditubuhnya.
Malam bulan Desember merayap pelan, malam yang datang dengan rasa dingin yang tak sebagai mana mestinya. Dinginnya sangat terasa, hingga membuat pori-pori kulitnya mengkerut mengecil. Jaket yang ia kenakan belum mampu sepenuhnya menghilangkan rasa dingin yang kini menyerang tubuhnya yang kini terlihat lebih kurus. Ia sudah pasrah pada udara Mekah yang mungkin tak langsung bersahabat dengan dirinya. Ia sudah siap selama empat bulan kedepan tanah arab akan di serang udara dingin dan angin yang kuat menerpa, terutama saat malam tiba. Kulitnya akan terasa sangat kering disertai dengan tepian bibir yang dingin dan beku, walau tak sampai membuat kulitnya mengelupas. Namun ia harus memakai mousteraizer kulit. Bahkan ia sudah pasrah kalau malam ini ia tak dapat tidur, sebab rasa dingin yang benar-benar mencekam.
Ia mulai membuka-buka ranselnya, membuka-buka lipatan baju yang telah tertata rapi. Mengeluarkan beberapa kumpulan kertas, mencoba mencari sesuatu. Tatapan matanya mulai sayu, saat ia menatap bingkai foto hitam putih. Gambar seseorang jelas terlihat tersenyum padanya, senyum tak asing yang sering menghampirinya kala ia mulai merindu. Rindu yang kunjung sembuh. Bingkai kedua yang ia pandang adalah foto dirinya dengan Randi dan Cut Nadia, yang selalu membuatnya tersenyum meski getir. Ia tahu betul rindu hanya dapat terobati apabila ada sebuah pertemuan. Tangannya tak berhenti mengusap, kadang sesekali ia menciuminya dengan hembusan nafas yang berat, kadang dengan menutup kedua matanya, hal yang aneh yang kadang ia lakukan. Namun hanya hal ini yang dapat membuat ia merasa tubuhnya sedikit hangat kembali, meski merasakan perih.
Ia masih ingat betul, di kampungnya saat ini musim memanen buah semanggi, dengan membawa keranjang besar dipunggung, diantara deretan pohon semanggi yang berjajar memanjang. Dan diantara pekikan para pemulung buah. Hal yang selalu saja dinanti para pekerja kebun seperti ambu dan adiknya Randi. Ia juga ingat jelas saat setiap kali usai musim panen ia pasti akan segera membeli batik Ampan dengan warna yang sangat indah untuk ambu dan seseorang yang buatnya sangat berarti, Cut Nadia. Karena kemudian ia akan segera menangkap senyum Cut Nadia yang membuat hatinya bergetar merasakan aliran syarafnya mengalir tak tentu.
***
''Ambu tahu apa yang kamu rasakan pada Cut Nadia Fan !'' Tiba-tiba kata kata ibunya membuat langkahnya tercekat, suatu ketika seusai berlarian diantara perkebunan Andalas, disuatu sore bersama Cut Nadia, saat ambunya tiba-tiba berada dihadapannya. Memandang tirus ke arahnya dengan topi lebar yang tersemat diatas rambut setengah ubanya. Kata-kata yang menumbuahkan sejuta pertanyaan dalam benaknya. Lalu dengan seketika ia memandang wajah sayu dihadapannya.  Berharap menemukan suatu jawaban yang melabuh disana, hingga ia tak menemukan suatu apapun kecuali raut wajah tua yang makin tua.
''Tapi ambu harap kamu tak berharap banyak padanya, takdir kadang tak selalu sejalan dengan apa yang diharap banyak manusia nak !'' kata kata itu bergitu lembut masuk kedalam relung hatinya, membuat bibirnya tercekat beberapa menit, seakan terhenti apa yang jadi impiannya.
Meluangkan waktu banyak bersama Cut Nadia, berjalan diantara parit kebun yang menjulang, bercanda dibawah rimbun pohon diterik yang menyenga, atau berkejaran sambil memetik bunga-bungaan hujan, dimata ambu, membuatnya selalu berbicara tentang takdir, seakan ia menginginkan Fandy lebih mengetahui lebih banyak tentang garis tangan yang menggambarkan jalan hidup manusia, tentang takdir tuhan yang selalu bersentuhan dengan yang telah tertulis di lauhul mahfud jauh sebelum manusia tercipta. Bahwa manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga naun hasil akhir, tuhan lah yang menentukan hasilnya, tapi, bukankah Alloh tidak akan mengubah sesuatu pada seorang hamba kalau bukan hamba itu sendiri yang mengubahnya. Tapi sikap Ambu seakan menghamparkan suatu misteri yang tak pernah terbayang sebelumnya dalam benak Fandy. Mata ambu selalu nanar saat ia menatap ia berdua dengan Cut Nadia.
Sebenarnya Cut Nadia sudah Fandy anggap sebagai adik kandungnya sendiri, keluarga Cut Nadia dan keluarganya terhitung sangat dekat. Tapi entah apa yang selalu menjalar dan menumbuhi hatinya, ada sesuatu yang selalu saja merambati perasaannya kala matanya menangkap wajah Cut Nadia. Anehnya setiap ia berusaha menepisnyarasa itu, batinnya seakan selalu berontak, terutama saat ia menatap senyum Cut Nadia. senyum yang selalu membuatnya lupa akan takdir.
Bahkan kata-kata ambu sering menghantu disaat malam menjelang. Hingga ia terserang insomnia berat, membuatnya gelisah, matanya sulit untuk ia pejamkan, pikirannya melayang diantara baying-bayang yang belum membuatnya paham. Menjadi misteri yang membangunkan kembang tidurnya, hingga tanpa ia sangka, pernah suatu malam Cut Nadia datang kepadanya dengan air mata berderai.
‘’Bang kenapa abang tinggalin Cut Nadia sendirian disini ! Nadia takut bang !’’ Gadis dihadapannya menangis, sangat jelas air matanya jatuh berderai.
‘’kamu kenapa Cut, sudah tenang abang disini untuk kamu !’’ Fandi mendekati tubuh gadis dihadapannya. ‘’tapi kenapa abang ninggalin Cut terlalu lama, Cut takut disini sendirian. Abang tega sama Cut ! Abang tak pernah mengerti perasaan cut. Abang ngak pernah mau ngerti apa yang cut mau !’’ Cut Nadia memandang lekat lelaki dihadapannya, sambil segugukan. Kemudian membalikan tubuhnya, kakinya bergeser menjauhi tatapan mata Fandi.
‘’Cut mau kemana kau ! Abang ini datang untuk kamu, abang datang untuk menemani kamu Cut. Percayalah ! Abang peduli dan tulus sama kamu’’ Iba Fandi memandang tubuh Cut Nadia yang makin menjauh, menjauhi dirinya. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi pada gadis itu, ia mencoba mengejar langkah Cut Nadia yang mulai menjauh, namun ia dikejutkan. Menatap wajah ambu yang melototinya, seakan mengisyaratkan agar ia menjauhi Cut Nadia. Tangan ambu menarik lengan Cut Nadia menjauhinya, tak disangka dari kegelapan ia melihat al marhum abah dengan Randi. Datang dengan pakaian putih bersih. Ia makin tercengang saat abah dan Randi juga ikut menjauhkannya dari Cut Nadia.
‘’Cut jangan tinggalkan abang sendiri disini ‘’ suaranya tercekat, seperti seseorang yang kedinginan. Ia mencoba menggapai tangan Cut Nadia, makin tak mungkin ia gapai. ‘’maaf kan cut bang …!!!’’
‘’Abang! Abang…’’ ia masih mendengar Cut Nadia memanggil manggil namanya, menghilang.
            Seketika ia terbangun dari mimpinya, teriakan Cut Nadia membuat ia terbangun. Nafasnya masih terengah-engah. Ia mengusap kedua lesung di wajahnya. Seraya beristighfar.
‘’wuuussss…!! Angin masuk dari lembaran jendala menghempas tubuhnya yang baru saja terbangun.
Dingin mulai terasa menghampir. Jam dua malam, ia menatap jam dinding di ujung kamarnya. Segera ia bangun dan kekamar mandi yang berada tak jauh, di ujung ruang bilik berukuran hanya beberapa meter itu. Ia mulai mengguyurkan butiran bening ke wajahnya. melakukan sujud malam.
Hujan mulai mereda. Di pekarangan Fandi tengah sibuk, tetes air yang jatuh dari atap genteng dan pepohonan mulai jatuh pelan berhenti.          
 ''Fandy apa kau benar-benar mencintai Cut Nadia, nak'' pertanyaan satu lagi yang terlontar saat fandy tengah sibuk mengaduk pupuk untuk tanaman kebun. Lantas, pertanyaan itu memaksa Fandy menatap ambu yang mematung dihadapannya.
''Ambu ! Apa yang harus sayajawab'' menghitung gelagap yang kini ia tangkap, ia butuh beberpa detik lebih lama untuk mengutarakan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari bibir tua di hadapannya.
''Aa .. Aa ! A..ku ! Mengapa ambu bertanya itu pada Fandi ?'' ia terlihat gelagapan menjawab pertanyaan itu.
''akh..!! Mengapa jawaban itu yang terlontar dari ku, bodoh !! Mengapa aku tak mengatakannya terus terang bahwa aku mencintai Cut Nadia, agar ambu mengetahui hal yang terjadi sebenarnya, bahwa aku dan Cut Nadia cukup saling mencintai'' Fandi mengutuk dirinya sendiri. Sesaat ia tak berkata apa apa.
''Sudahlah Fan, kamu tak usah menutup diri, ambu sudah tahu kalau kamu mencintai Cut Nadia, ambu sudah melihatnya dari matamu nak, kamu tahu?, bibir memang dapat berkata bohong, tapi tidak untuk matamu, mata tak akan sanggup menyembunyikan sesuatu sepintar apapun kau menyembunyikannya, apalagi ambu memandang mata anak ambu, darah daging yang ambu lahirkan, ambu menyapihnya dua tahun kemudian membesarkannya. Ambu mengerti perasaan mu nak'' Fandi terdiam, jawaban yang tak ia sangka keluar dari perempuan yang sangat ia hormati, ambu juga terdiam.
''Sudahlah Fan, ambu paham, petang nanti ambu ingin bicara padamu dan Randi tentang suatu hal yang sangat penting, ambu harap kamu sudah mengerti banyak lagi akan jalan takdir, nak…!! Kalimat terakhir yang menjadi ujung pekataan ambu benar-benar membuatnya resah, ia mengusapkan jemarinya perlahan kewajahnya yang kini pucat, pikirannya berhambur, ia tangkap disana, langit sore menyergap gelap di ujung barat. Suara adzan mulai mertalu-talu, di gendang telinganya. Pelan.     
            Gelap meranggas, dedaunan mulai diseliput dingin, air hujan menggenang diselokan rerumputan kecil. Tetabuhan dari tubuh kodoh mengusir senyap yang diciptakan malam, dibantu alunan serangga malam yang berkeliar di sekitar kebun. Diruang tengah ambu telah duduk menepi, Randi berada di sebelahnya dan Fandi berada tepat berhadapan dengan ambu, karena kursi Fandi yang memang menghadap searah, membuat Fandi bertatap langsung dengan wajah ambu, yang malam ini terlihat sangat getir. Sesekali ia memandang wajah Fandi. Tak tahu mengapa, tatapan wajahnya berat, seakan menanggung beban berat yang selama bertahun-tahun di tanggungnya sendirian.
''Pertama ambu minta maaf, nak terutama terhadap kamu Fan ! Kadang ambu merasa bersalah setiap kali ambu mengingat hal ini'' ambu tercekat, ucapan pertama ambu benar membuatnya terenyah ragu. beberapa detik bibir ambu terkatup rapat, tak sepatah kata pun keluar dari dalam mulutnya. Fandi memandangnya lekat. Perasaanya mengalir tak tentu. Randi pun menatapnya seakan membantu meringankan beban yang tiba-tiba datang terhadapnya.
''Ambu minta maaf nak !!'' Kali ini air mata ambu terpaksa jatuh, air mata yang ia sejak tadi ia pertahankan. Jari telunjuknya ia sematkan ke ujung hidung, mungkin untuk menahan isakannya.
‘’kalian tahu, Abah kalian sakit-sakitan jauh sebelum ambu mengandung kalian, padahal ekonomi saat itu amatlah sangat paceklik, tak ada hasil kebun yang dapat dipetik, walhasil ayah meninggal tanpa ada pengobatan sama sekali. Hiks ..hikss..'' ucapnya tersekat, air mata ambu berderai makin deras, terlihat sesekali ia mengusap kedua bola matanya yang dipenuhi butiran bening. Kami semua terpaku diam membisu.
            ‘’Saat menjelang detik terakhir ayah kalian meninggal, ia berwasiat, agar ambu selalu menyayangi kalian, dan menuruti apa yang kalian mau, karena ambu sangat tahu dalam hatinya, abah sangat menyayangi kalian. Dan dulu abah kalian mempunyai kenginan untuk menyekolahkan salah seorang anaknya ke tanah arab, ambu tak tahu bagaimana abah bisa berkeinginan seperti itu. Tapi ambu yakin, abah adalah abah yang mengingnkan semua anaknya bahagia.’’ Kata-kata ambu terhenti beberapa saat
‘’Selain itu, abah mempunyai kesepakatan dengan abah Hamdani, abah Cut Nadia. Mereka berdua adalah sahabat akrab sedari kecil, hingga suatu ketika mereka membuat kesepakatan bahwa kelak apabila mereka mempunyai seorang anak laki laki dan perempuan, maka mereka akan menjodohka                                                   n nya. Mereka menganggap dengan inilah persahabatan mereka akan terus berlangsung hingga akhir hayat mereka. Namun, sebelum itu terwujud ayah kalian telah terlebih dulu menghadap yang kuasa'' bibir ambu makin terbata-bata berucap, luka lama itu seakan tergelar kembali kehadapannya. Seakan ia tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
Randi yang berada didekatnya berusaha menenangkan, air mata ambu tak henti berjatuhan. Hingga akhirnya ambu melanjutkan perkataannya.
'' maafkan ambu Fan ini semua adalah salah ambu !! ambu tahu kamu sangat mencintai Cut Nadia. Tapi ada sesuatu yang perlu kau ketahui nak'' ambu berkata pelan
''Dulu saat ambu melahirkan kalian berdua, ambu sakit-sakitan, nyawa ambu hampir saja tak tertolong, namum menatap kalian didunia membuat ambu bersemangat kembali untuk hidup, kalian menambahkan tenaga baru untuk ambu bangkit, namun ada suatu hal, karena kalian anak kembar ambu, ambu tidak bisa menyusui kalian berdua sekaligus, karena kata bidan desa, persediaan ASI ambu tidak cukup untuk menyusui dua anak. Dan ternyata selang beberapa hari kemudian orang tua Cut Nadia melahirkan bayi perempuan. Dengan terpaksa ambu menitipkan Fandi, salah satu dari anak ambu untuk disusui. Jadi maafkan ambu Fandi, ambu tidak tahu kalau di hari kemudian kamu menaruh hati pada Cut Nadia. Ini semua salah ambu, kalian tidak bisa bersama selamanya, karena kalian adalah saudara dalam pandangan islam. sekali lai maafkan ambu nak !!'' kini air mata ambu benar-benar tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menatap kearah Fandi, hingga membuat Fandi terenyah dan memeluk badan kurus dengan erat. Randi menatap keduanya dalam isak tangis.
''Tidak ambu ! tak ada yang perlu disalahkan, Randi mengerti. Ini bukanlah salah ambu. Fandi mengerti ambu, Fandi mengeti..'' ucap Fandi dengan lirih seraya mengagukan wajahnya, diatas kepala ambu yang berada dalam pelukanya.
            Fandi masih menatap langit, ia berharap ini tidak benar-benar terjadi pada dirinya, langkahnya tercekat memaku di suatu halaman rumah, ia tak sanggup. Benar-benar tak sanggup meneruskan langkahnya. Sesekali ia menatap langkah ambu dan Randi yang makin menjauh. Ia menahan air matanya sambil meneruskan langkah yang sempat ia tunda. Ia tak ngin mengecewakan adik kembarnya. Yang kini bejalan di depan rombongan iringan tari serimpi. Dengan jas hitam yang melekat pada tubuhnya. Sebenarna ia ingin pergi dan lari jauh.
Namun entah mengapa, rasanya itu tak mungkin ia lakukan, ia tahu tatapan ambu yang berulang kali tertuju padanya, sedikitnya hal itu mengharapkan Fandi dapat meneima pernikahan Cut Nadia ini. pernikahan yang bukan dengan dirinya. melainkan dengan adik kandungnya sendiri.
Rombongan seketika berhenti tepat di depan halaman ruamah Cut Nadia. Yang kini tengah berdiri manis di depan pintu rumah. Ia menatap wajah Cut Nadia dengan perasaan perih, ia juga melihat jelas air mata yang kini menggenangi bola mata Cut Nadia. Seperti genangan air mata yang kini dirasakannya mau tumpah. Wajah Cut Nadia yang benar-benar membuatnya luka. Luka yang kini menganga lebar.
            Akad nikah segera dimulai, mata ambu segera memandang Fandi, ada iba yan ia rasakan, hingga ia tak kuat menatap wajah sayu ambu. Ia berusaha tetap tenang namun hatinya berontak, ia tak kuasa, air matanya terus keluar tanpa henti. Menjadi saksi di pernikahan Randi dan Cut Nadia adalah hal yang sangat mustahil baginya. Ia beranjak keluar, ke halaman rumah yang memuatnya merasa sebagai makhluk yang sangat asing. Jauh pandanagannya tertuju pada langit yang seakan runtuh menimpanya. Hati nya benar-benar beku, badannya gemigil, pandangannya berputar-putar, air matanya jatuh berderai. Terutama saat akad nikah telah diucapkan. Perih, hatinya benar-benar luka. 
Kini sudah dua tahun ia berada di tanah arab. Ia terus saja memandang bingkai foto ditangannya. Nafasnya berhembus pelan, ia mengucap istighfar beberapa kali. Memasukan kembali foto itu kedalam tas ranselnya. Lembaran kertas usang ia temukan tak jauh dari lipatan baju-bajunya, terjatuh. Ia membuka kemudian membacanya.
Syair dari Cut Nadia yang belum sama sekali sempat ia baca saat di pelabuhan tempat mereka berpisah.
Banyak mata yang tetap melek dan banyak pula yang tidur
Dalam masalah yang mungkin terjadi atau tidak akan terjadi
Tinggalkanlah kesedihan sedapat yang engkau lakukan sebab
Jika engkau terus bersedih engkau akan berubah menjadi gila
Sesungguhnya rabb yang telah mencukupimu sebelumnya
Dia kan mencukupimu besok dan hari-hari mendatang . .

Selang beberapa menit kemudian handphonenya berdering. Membuat tangannya merayapi saku baju. Ia mendapat sebuah pesan singkat. Dari ambu yang berada diseberang sana.
''Fandi!! Kalau kamu bisa pulang secepatnya nak ! Ambu ..! Disini kami sedang dapat musibah Fan ! Randi…!! Randi…Nak… adik kembarmu ! dia kecelakaan. Tertabrak mobil saat sedang mengangkut hasil panen kami, kata dokter kecil kemungkinan ia bisa tetap bertahan hidup, waktunya sudah tak lama lagi. Semoga kamu tabah Fan…!! Pulanglah cepat !! sepertinya ada yang akan Randi sampaikan, sebagai pesan terakhirnya’’
Bola mata Fandi  memandang nanar ke layar handphonenya. Air matanya tak terasa terjatuh satu persatu, apa yang terjadi tuhan ??'' ia mendesah. Seketika ia segera mengepak semua barang barangnya. Tapi mengapa sepertinya ada rasa senang dan harapan yang merasupinya,
''Kenapa ada rasa senang yang merasup padanya ??'' Tapi buru buru perasaan itu  ia tepis, jauh .. sangat jauh sekali.
''Astaghfirulloh hal adzim, aku berlindung kepada-mu ya Allloh dari tipu daya dan godaan syaitan yang terkutuk..'' ucapnya membatin.
 
* Mkd Aan's
2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar