Pada sebuah senja
Kutuliskan tentang sebongkah tanah
Yang kemudian langit mengutus hujan
Menaruh rindu pada pucuk-pucuk gunung,
mengalirkan air pada tiap-tiap liur.
Disana, lautku terhampar luas
Ada layang-layang kertas harga lima ratus,
selancar angin serupa tiupan kertas tungku,
mendung sutra seumpama uban rambut,
pasir seputih susu,
dan tentu saja mentari yang menyamar pada sebuah senja;
Senja yang dilipat hangat pada kutang emasnya,
seketika angin akan menyisir deretan tanaman-tanaman jagung
dan burung akan terbang mencari pelukan hangat induknya.
Pada senja seperti itulah
Ibuku mengutus sepasang camar menuliskan ragunya,
disetiap aku ingin berangkat.
Pada seasin getir takdir, senyumnya manis, kurasa gulali
Menjahit dinding kulitku pada sebuah tulang naga, dan menidurkanku dalam damai.
Pada tanah, tempat aku mencampur angin, debu, hujan dan langit, sewaktu aku melari
Begitulah seterusnya, pada sebuah senja,
Doanya; sampai kapanpun
Terus melahirkan banyak harapan-harapanku -
* Mkd Aan's

Tidak ada komentar:
Posting Komentar