Sabtu, 25 Januari 2014

Because You

''Why you leave me ..
I still remember when you strom to my ear . .
Your mustache, and your lip
and all of your body.
I still blue when yo never say me  good bye . .
And can't breathe whithout you inside of me.
Nino ! I can't …
I can't stop loving you !
''Nino !! Tunggu !! jangan pergi'' gadis itu mendesah dan berlari dalam linang panjang
''Jangan tinggal kan aku sendiri !!'' Pipit berlari ditengah hujan deras yang tengah mengguyur deras. Kakinya tak kuasa lagi melangkah.
Langit mulai menggelap hitam, mendung berserakan disana, hujan turun marah habis–habisan buat hatinya makin tercabik. Saat menatap mobil jip biru yang berlalu makin jauh diujung jalan.
Lelah, ia menatap genangan air dihadapannya, raut wajahnya yang lecek, rambut kecil dikeningnya terurai basah. Matanya mulai sembab, nafasnya lalu mendesah. Seragam sekolah masih ia kenakan. Ia tak menyangka Nino meninggalkannya begitu cepat. Bahkan tanpa sepatah kata. Ia sedih, kalau saja suaranya bisa menggema keras pasti ia akan segera berteriak sejadinya. Tapi, ia hanya tak kuasa.
Tak enak memang menjadi cewek cupu sepertinya. Ia masih merasakan sakit sambil menatap wajahnya digenangan air yang berada diihadaannya, begitu rapuh dirinya hanya karena Nino pergi ia rela hujan-hujanan dan membiarkan tubuhnya gemigil diterpa hujan. Baginya Nino adalah segalanya. Cewek cupu seperti Pipit, tak pernah merasakan indahnya cinta. Ia terlalu pendiam ditambah lagi kaca mata tebal yang masih bertenggeng di atas unjung batang hidungnya.
Namun saat ia kenal dengan Nino semuanya berubah. Hidupnya seakan bermakna. Ada rasa setiap saat yang kadang datang menyerbu ulu hatinya, entah rasa apa itu. Padahal baru seminggu yang lalu ia kenalan dengan nino. tapi Nino berbeda. Nino segera mengisi kekosongan dalam kehidupan pipit. Sebuah rasa yang mampu membuat seseorang lupa waktu, Makan tak enak, Minum tak jadi, tidur tak nyenyak. Namun semua itu tak masalah, hal itu justru sangat menyenangkan.
‘’Namun semua itu berubah dalam hitungan jam saja. Kau pergi pergi jauh dan aku menangis sejadinya, entah pada siapa ??  Nino !! aku sayang kamu. Selamanya !!’’
''Demi kamu aku menolak saat teman-teman mengajak ku mencari pasangan, tapi sekarang kamu malah pergi meninggalkanku?''
''Nino !! kau adalah hidupku, nyawa dan ujung nafasku !! tapi mengapa engkau pergi meninggalkanku !!'' rintihnya lagi dalam rinai hujan.
''Semua temen-temen sekolah. Mereka semua pada menjauhi ku, tapi denganmu aku tak pernah merasakan sedikitpun hal itu. Kau berbeda, kata teman-temanku aku terlalu menutup diri, telalu pintar menyembunyikan perasaan, terlalu jaim !! tapi denganmu, kau tak pernah mengungkit semua kekurangan ku, itulah perbedaanmu dengan semua teman-temanku''.
***
Malam sudah mulai nampak gelap, dua hari kepergianmu. Perut rasanya sudah sangat lapar, dunia rasanya berputar-putar. Pintu kamar sudah aku kunci rapat setelah kau pergi, aku tak bersemangat hidup lagi.
''Pit !! udahan dong marahnya sama mama sayang, kamu makan yach ! udah dua hari kamu ngak makan dan mengunci diri dikamar. Ini semua demi kebaikan kamu Pit !! Kamu tahu kan tak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya sayang..!! apa lagi kamu anak semata wayang mama. Apa kamu ngak kasihan sama mama ??'' ucap mama dari balik pintu. Desahnya kini mulai menyentuh. Perutnya sudah dari tadi menggerutu. Tapi terlanjur ia benar-benar sakit.
Sebenarnya Pipit ingin melaksanakan adegan film remaja. Ingin kabur jauh dari rumah, seperti Nikita Willly artis pujaannya, tapi kerumah siapa ? ia tak punya kerabat diluar kota ? masak luntang-lantung dijalan ? Ogah ah !'' ucapnya
Atau memecakan gelas seperti yang puisi bintang papan atas pemeran cinta Dian Sasto Wardoyo dalam serial film Ada Apa Dengan Cinta, tapi gelas siapa cin !! gelas mama ?? kasian mama harus kehilangan gelas gara-gara Nino. Akhirnya ia putuskan untuk diam saja dalam kamar meratapi kepergian nino.
Dan akhirnya ia tak mau juga menjawab panggilan mamanya. Hingga suara panggilan mamanya itu berakhir. Membuat pipit sedikit menyesal menggerutkan dahi, sambil memegangi perutnya.   
''Braaakk !!!'' Pintu terbuka tiba-tiba. Mata pipit terbelalak, ia mendapati papa dan mamanya. Papa hanya menggeleng sejenak kemudian beranjak pergi. Kini hanya tinggal mama yang berdiri memaku di depan pintu kamar.
''Pipit mama punya kejutan ni'' ucap mama sambil menggendong seekor anak kucing.
 ''Cukup ma ! jangan harap dengan membelikan anak kucing baru, aku dapat melupakan Nino, asal mama tahu aja ! Nino tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun.'' ucap Pipit dengan Nada tinggi. Melihat mamanya datang dengan menggendong seekor anak kucing dalam pelukannya.
''Pit besok sore kita akan kedatangan tamu dari Bandung, sepupumu akan tinggal disini untuk beberapa bulan, ada tugas sekolah yang mengharuskan ia tinggal, atau mungkin kalau ia betah nanti ia akan tinggal bersama-sama dengan kita nanti. Mama harap kamu bisa membuat dia betah disini.                                              
''Apa lagi yang mama mau dari Pipit !! Belum puas mama memisahkan Pipit dari Nino, mam ! Sudah menyakiti perasaan Pipit. Mama kan udah tahu kalo Nino adalah segalanya buat Pipit''
''Ini semua demi kebaikan mu pit ! mama sayang sama kamu !!'' ucap mama lirih
''Pipit tahu ma ! kalo mama sama papa diam-diam mau menjodohkan Pipit dengan sepupu mama yang dari Bandung itu kan ? Pipit dengar sendiri mama dan papa bicara berdua. karena itulah mama dan papa berencana untuk menjauhkan pipit dengan Nino dengan cara menjual Nino ke orang lain. Mengapa mama dan papa tega sama Pipit !'' teriak Pipit diiringi dengan tangis berderai.
''Ini semua yang terbaik untuk mu pit''
''Terbaik dari mana ma ?'' ucapnya.
''Apa kamu tak tau Pit, apa yang dikatakan tetangga tentang kamu. Mereka bilang kamu sudah sakit jiwa nak !! bahkan mereka berani membicarakannya didepan mama, tentang kamu yang selalu berdua dengan Nino kemana pun kamu pergi, kamu makan dan kencan dengan Nino seakan-akan kamu menganggap Nino itu adalah manusia dan pacarmu. Apa kamu tak sadar nak, kalau nino itu hanya lah seekor anak kucing …'' ucap mama tercekat. Ia memandang wajah pipit yang mulai mendekatinya.
''Apa itu yang kamu anggap waras ?!'' ucap mama lagi seakan meminta pengertian sesosok dihadapannya.
''Sudah ma !! Pipit sudah muak !!'' ucapnya sambil menubruk tubuh mama yang tengah berdiri didepan pintu kamar. kemudian ia lari menjauh, keluar rumah.
***
Keesokan harinya ..
''Pipit ngak mau keluar !! ngak mau sekolah !! ngak mau makan, minum, mandi. sudah cukup mama ngatur Pipit lagi, Pipit bukan anak kecil lagi, pipit sudah besar. Mama dan papa tak usah ikut campur lagi dalam kehidupan Pipit.'' teriaknya dari dalam kamar. Dari kemarin ia mulai mengunci diri lagi dalam kamar. Mama bingung membujuk, papa juga pusing menghadapinya.
''Dan satu lagi ma ! ngak usah ngenalin aku sama sepupu mama yang mama bangga banggakan itu, aku ngak mau tau dan ngak mau kenal sama dia, kalo perlu bilang juga sama dia sampai mati pun aku ngak bakal baik-baikin, apalagi sampai terima dia sebagai tunangan Pipit. Kalo perlu mama sama papa aja yang tunangan sama dia'' tambahnya lagi, dengan suara serak.
''Oke Pit ! terserah apa mau kamu nak, akan papa turuti, tapi papa mohon sekarang kamu keluar. Fami sudah menunggu kamu. Tolong kamu hormati dia sebagai tamu. dia sekarang berada disamping papa. Tolong papa mohon buka pintunya sekarang. Apa kamu mau papa nanti malu didepan saudara papa karena kamu tidak menghargai kedatangan anaknya’’ ucap papa setengah memohon
‘’Ada satu lagi Pit ! papa sudah membawa kembali Nino lagi buat kamu sayang'' ucap papa mengiba.
''Meong…'' terdengar suara lembut Nino dari balik pintu.
Dengan langkah cepat Pipit melangkahkan kakinya dan segera membuka pintu.
***
Ia mendapati wajah papa, mamanya dan Nino yang melompat kearahnya. Tak lama dari balik pintu, berdiri seorang pemuda tampan dengan tubuh jenjang menatap kearahnya. Wajah manisnya tersenyum simpul, manis senyumnya makin terlihat menggoda. membuat mata Pipit tak berkedip, mulutnya menganga. Seketika tubuhnya bergetar tak karuan. Ada perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan dengan Nino sekalipun. Rasa yang menghadirkan greget yang menjalar keseluruh tubuhnya, tubuhnya kaku. 
''Kenalkan nama saya Fami'' ucap pemuda itu sambil menjulurkan tangan putihnya
Pipit tetap melongo diam. Tubuhnya makin kaku. Pipinya merah menyala, malu.
''Inikah rasanya cinta'' ucapnya lirih sambil melepas kan Nino dari pelukannya, ia pun menatap pemuda itu dengan tatapan kejang-kejang, forever -

*Mkd Aan's

2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar