I still remember when you strom to my ear . .
Your mustache, and your lip
and all of your body.
I still blue when yo never say me
good bye . .
And can't breathe whithout you inside of me.
Nino ! I can't …
I can't stop loving you !
''Nino !! Tunggu !! jangan pergi'' gadis itu mendesah dan berlari
dalam linang panjang
''Jangan tinggal kan aku sendiri !!'' Pipit berlari ditengah hujan
deras yang tengah mengguyur deras. Kakinya tak kuasa lagi melangkah.
Langit mulai menggelap hitam, mendung berserakan disana, hujan
turun marah habis–habisan buat hatinya makin tercabik. Saat menatap mobil jip
biru yang berlalu makin jauh diujung jalan.
Lelah, ia menatap genangan air
dihadapannya, raut wajahnya yang lecek, rambut kecil dikeningnya terurai basah.
Matanya mulai sembab, nafasnya lalu mendesah. Seragam sekolah masih ia kenakan.
Ia tak menyangka Nino meninggalkannya begitu cepat. Bahkan tanpa sepatah kata.
Ia sedih, kalau saja suaranya bisa menggema keras pasti ia akan segera berteriak
sejadinya. Tapi, ia hanya tak kuasa.
Tak enak memang menjadi cewek cupu
sepertinya. Ia masih merasakan sakit sambil menatap wajahnya digenangan air
yang berada diihadaannya, begitu rapuh dirinya hanya karena Nino pergi ia rela
hujan-hujanan dan membiarkan tubuhnya gemigil diterpa hujan. Baginya Nino
adalah segalanya. Cewek cupu seperti Pipit, tak pernah merasakan indahnya
cinta. Ia terlalu pendiam ditambah lagi kaca mata tebal yang masih bertenggeng
di atas unjung batang hidungnya.
Namun saat ia kenal dengan Nino semuanya
berubah. Hidupnya seakan bermakna. Ada rasa setiap saat yang kadang datang
menyerbu ulu hatinya, entah rasa apa itu. Padahal baru seminggu yang lalu ia
kenalan dengan nino. tapi Nino berbeda. Nino segera mengisi kekosongan dalam
kehidupan pipit. Sebuah rasa yang mampu membuat seseorang lupa waktu, Makan tak
enak, Minum tak jadi, tidur tak nyenyak. Namun semua itu tak masalah, hal itu
justru sangat menyenangkan.
‘’Namun semua itu berubah dalam hitungan
jam saja. Kau pergi pergi jauh dan aku menangis sejadinya, entah pada siapa
?? Nino !! aku sayang kamu. Selamanya !!’’
''Demi kamu aku menolak saat teman-teman
mengajak ku mencari pasangan, tapi sekarang kamu malah pergi meninggalkanku?''
''Nino !! kau adalah hidupku, nyawa dan
ujung nafasku !! tapi mengapa engkau pergi meninggalkanku !!'' rintihnya lagi
dalam rinai hujan.
''Semua temen-temen sekolah. Mereka semua
pada menjauhi ku, tapi denganmu aku tak pernah merasakan sedikitpun hal itu.
Kau berbeda, kata teman-temanku aku terlalu menutup diri, telalu pintar
menyembunyikan perasaan, terlalu jaim !! tapi denganmu, kau tak pernah
mengungkit semua kekurangan ku, itulah perbedaanmu dengan semua teman-temanku''.
***
Malam sudah mulai nampak gelap, dua hari
kepergianmu. Perut rasanya sudah sangat lapar, dunia rasanya berputar-putar.
Pintu kamar sudah aku kunci rapat setelah kau pergi, aku tak bersemangat hidup
lagi.
''Pit !! udahan dong marahnya sama mama
sayang, kamu makan yach ! udah dua hari kamu ngak makan dan mengunci diri
dikamar. Ini semua demi kebaikan kamu Pit !! Kamu tahu kan tak ada orang tua
yang mau menjerumuskan anaknya sayang..!! apa lagi kamu anak semata wayang
mama. Apa kamu ngak kasihan sama mama ??'' ucap mama dari balik pintu. Desahnya
kini mulai menyentuh. Perutnya sudah dari tadi menggerutu. Tapi terlanjur ia
benar-benar sakit.
Sebenarnya Pipit ingin melaksanakan
adegan film remaja. Ingin kabur jauh dari rumah, seperti Nikita Willly artis
pujaannya, tapi kerumah siapa ? ia tak punya kerabat diluar kota ? masak
luntang-lantung dijalan ? Ogah ah !'' ucapnya
Atau memecakan gelas seperti yang puisi
bintang papan atas pemeran cinta Dian Sasto Wardoyo dalam serial film Ada Apa
Dengan Cinta, tapi gelas siapa cin !! gelas mama ?? kasian mama harus
kehilangan gelas gara-gara Nino. Akhirnya ia putuskan untuk diam saja dalam
kamar meratapi kepergian nino.
Dan akhirnya ia tak mau juga menjawab
panggilan mamanya. Hingga suara panggilan mamanya itu berakhir. Membuat pipit
sedikit menyesal menggerutkan dahi, sambil memegangi perutnya.
''Braaakk !!!'' Pintu terbuka tiba-tiba. Mata pipit terbelalak, ia
mendapati papa dan mamanya. Papa hanya menggeleng sejenak kemudian beranjak
pergi. Kini hanya tinggal mama yang berdiri memaku di depan pintu kamar.
''Pipit mama punya kejutan ni'' ucap mama sambil menggendong seekor
anak kucing.
''Cukup ma ! jangan harap
dengan membelikan anak kucing baru, aku dapat melupakan Nino, asal mama tahu
aja ! Nino tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun.'' ucap Pipit dengan Nada
tinggi. Melihat mamanya datang dengan menggendong seekor anak kucing dalam
pelukannya.
''Pit besok sore kita akan kedatangan tamu dari Bandung, sepupumu
akan tinggal disini untuk beberapa bulan, ada tugas sekolah yang mengharuskan
ia tinggal, atau mungkin kalau ia betah nanti ia akan tinggal bersama-sama
dengan kita nanti. Mama harap kamu bisa membuat dia betah disini.
''Apa lagi yang mama mau dari Pipit !! Belum puas mama memisahkan
Pipit dari Nino, mam ! Sudah menyakiti perasaan Pipit. Mama kan udah tahu kalo
Nino adalah segalanya buat Pipit''
''Ini semua demi kebaikan mu pit ! mama sayang sama kamu !!'' ucap
mama lirih
''Pipit tahu ma ! kalo mama sama papa diam-diam mau menjodohkan
Pipit dengan sepupu mama yang dari Bandung itu kan ? Pipit dengar sendiri mama
dan papa bicara berdua. karena itulah mama dan papa berencana untuk menjauhkan
pipit dengan Nino dengan cara menjual Nino ke orang lain. Mengapa mama dan papa
tega sama Pipit !'' teriak Pipit diiringi dengan tangis berderai.
''Ini semua yang terbaik untuk mu pit''
''Terbaik dari mana ma ?'' ucapnya.
''Apa kamu tak tau Pit, apa yang dikatakan tetangga tentang kamu.
Mereka bilang kamu sudah sakit jiwa nak !! bahkan mereka berani membicarakannya
didepan mama, tentang kamu yang selalu berdua dengan Nino kemana pun kamu
pergi, kamu makan dan kencan dengan Nino seakan-akan kamu menganggap Nino itu
adalah manusia dan pacarmu. Apa kamu tak sadar nak, kalau nino itu hanya lah
seekor anak kucing …'' ucap mama tercekat. Ia memandang wajah pipit yang mulai
mendekatinya.
''Apa itu yang kamu anggap waras ?!'' ucap mama lagi seakan meminta
pengertian sesosok dihadapannya.
''Sudah ma !! Pipit sudah muak !!'' ucapnya sambil menubruk tubuh
mama yang tengah berdiri didepan pintu kamar. kemudian ia lari menjauh, keluar
rumah.
***
Keesokan harinya ..
''Pipit ngak mau keluar !! ngak mau sekolah !! ngak mau makan,
minum, mandi. sudah cukup mama ngatur Pipit lagi, Pipit bukan anak kecil lagi,
pipit sudah besar. Mama dan papa tak usah ikut campur lagi dalam kehidupan Pipit.''
teriaknya dari dalam kamar. Dari kemarin ia mulai mengunci diri lagi dalam
kamar. Mama bingung membujuk, papa juga pusing menghadapinya.
''Dan satu lagi ma ! ngak usah ngenalin aku sama sepupu mama yang
mama bangga banggakan itu, aku ngak mau tau dan ngak mau kenal sama dia, kalo
perlu bilang juga sama dia sampai mati pun aku ngak bakal baik-baikin, apalagi
sampai terima dia sebagai tunangan Pipit. Kalo perlu mama sama papa aja yang
tunangan sama dia'' tambahnya lagi, dengan suara serak.
''Oke Pit ! terserah apa mau kamu nak, akan papa turuti, tapi papa
mohon sekarang kamu keluar. Fami sudah menunggu kamu. Tolong kamu hormati dia
sebagai tamu. dia sekarang berada disamping papa. Tolong papa mohon buka
pintunya sekarang. Apa kamu mau papa nanti malu didepan saudara papa karena
kamu tidak menghargai kedatangan anaknya’’ ucap papa setengah memohon
‘’Ada satu lagi Pit ! papa sudah membawa kembali Nino lagi buat
kamu sayang'' ucap papa mengiba.
''Meong…'' terdengar suara lembut Nino dari balik pintu.
Dengan langkah cepat Pipit melangkahkan kakinya dan segera membuka
pintu.
***
Ia mendapati wajah papa, mamanya dan Nino yang melompat kearahnya.
Tak lama dari balik pintu, berdiri seorang pemuda tampan dengan tubuh jenjang
menatap kearahnya. Wajah manisnya tersenyum simpul, manis senyumnya makin
terlihat menggoda. membuat mata Pipit tak berkedip, mulutnya menganga. Seketika
tubuhnya bergetar tak karuan. Ada perasaan yang tak pernah ia rasakan
sebelumnya. Bahkan dengan Nino sekalipun. Rasa yang menghadirkan greget yang
menjalar keseluruh tubuhnya, tubuhnya kaku.
''Kenalkan nama saya Fami'' ucap pemuda itu sambil menjulurkan
tangan putihnya
Pipit tetap melongo diam. Tubuhnya makin kaku. Pipinya merah
menyala, malu.
''Inikah rasanya cinta'' ucapnya lirih sambil melepas kan Nino dari
pelukannya, ia pun menatap pemuda itu dengan tatapan kejang-kejang, forever -
*Mkd Aan's
2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar