Jumat, 24 Januari 2014

Maulana

Rembulan
Di jejaring malam
Seirig bisu memasung gelap
Hanya awan berarak, lari menjalari langit
Hanya mulut tertutup mengharap sunyi
Rembulan tampan tanpa tandan
Diujung reranting lambaian hijau dedaunan
Ditarian angin gending kegamangan
Menungkuk sujud kebilik paling senyap
Menangis bagai air mata hujan
Tangismu meman datang seiring peredaran
Maulana
Melangkah seumpama waktu
Menyeret kisah ke dalam beku
Membuat ku menepi mengsahkan lalu
Di himpitan awal pintu rambu waktu
Menuju singgah awal puting bulan kehidupan
Maulana
Pecah..
Kau pasti mendengar kesahku
Tagis juga sedih
Aku mengadu
Rukuk sujud tirakatku tak pernah cukup
Tuk tebus dosa lagi aku mengadu
Zahir dzahir ku tak cukup menuju putihku
Maulana
Jantung syair mu menusuk
Diraut wajah noda hitam
Tangan kaki dan tulang belulang
Yang akan dipertanyakan saat perhitungan
Maulana
Hadirlah sekali dan kali
Datang di akhir senja usia
Diawal awan merah malam
Saat tangis makin menganga
Saat tangis tak lagi berguna
Saat nyawa tak mampu tangung dosa
Diujung tatap mata kuasa
Sang maulana
yang mendengar permintaanku
jangan putuskan rahmatmu -

*Mkd Aan's
2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar