Rabu, 02 Desember 2015

Ketika Hujan

Ketika hujan, dan rindu telah akar
Sepi mengiris, rambut basah sedikit-sedikit
Ingatan bergerak kesuatu tempat dan waktu yang jauh
Kemudian akhirnya kesepian yang hanya melilit

Ketika hujan, nyanyian piano
Dan tangan tangan yang bergerak mencengkram bunga-bunga liar
Masa lalu dan ingatan yang terbungkus rapi
Ketika hujan telah bertumpuk dimuka, hujan-hujan bertelur dikeningku bercampur perih.
Seperih diiris kaki-kaki pinus

Ketika hujan, tak juga pulang
Saat bunga-bunga senyummu telah menjadi melankolis di setiap asap
rokok dan secangkir kopi panas dalam imajinasi khayal.
Yang buana, yang kering, dan yang paling kering dari ingatanmu.
Aku juga tak mau sadar dan pulang

Ketika hujan, aku tak juga pulas
Million-million deru, ditabuh bocah-bocah gerimis
Dan aku hanya lahirkan bayi-bayi keluh di bibirmu
Setiap ada waktu, yang aku ingin hanya tidur, dan tidur didadamu sepanjang waktu.
Walau aku akan berlawan hujan
Tapi aku terus tak ingin pulang dan juga sadar
Kalau kamu telah menjadi punya orang

Ketika hujan, aku tak juga bakar kenang
Meski beku, meski serang dingin
Meski kosong, dan selalu saja kesepian -

* Mkd Aan's
2016

Sayap-sayap Hujan


Ketika tidak ada siapapun disini
Dan hujan turun membuatmu luka.
Luka masalalu datang menemuimu, bahkan ketika kau berniat untuk pergi.
Hujan selalu menumbuhkan sesuatu yang tidak tumbuh.
Bahkan tuhan menciptakan hujan untuk menghidupkan kehidupan setelah kematian Kematian yang paling mati.

Seperti kenangan tentangmu. Bukankah itu sudah lama mati.
Namun hujan melahirkannya. Dan kau seakan kembali memulai semuanya.

Kau adalah rapuh dari jiwaku yang selalu ingin terlihat tegar.
Kau adalah bisik dari hatiku yang ingin sunyi.
Seberapa kuatpun aku coba. Namun tiba-tiba hujan datang dan menumbuhkannya kembali.
Menyulapnya kembali menjadi luka yang menganga.

Untuk itulah aku lari.
Di antara lorong-lorong tanpa manusia
Melari di tempias-tempias hujan
Disana aku menumpahkan seribu tangis.
Seribu tangis dan tak akan ada yang tahu.
Karena aku ingin terlihat tegar

Tegar.
Seperti tetes-tetes hujan yang selalu sabar.
Menghapus air mataku, yang jatuh di lorong-lorong.

Karena hujan memberikan luka. Luka yang tak pernah, kau bisa lari Bahkan walau kau berusaha menghangatkannya dengan secangkir kopi Atau tidur diatas tumpukan bantal-bantal empuk

Untuk itulah aku berlari membiarkannya menyatu dengan tubuh hujan. Membiarkannya di sembunyikan sayap-sayap hujan.
Membiarkannya masuk kerelung tanah.
Dan aku pun akan selalu terlihat tegar.

Tegar.
Meski sebenarnya di jiwaku penuh rapuh
Dan sedang tumbuh benalu -

* Mkd Aan's
2016

Minggu, 15 November 2015

Hujan Dan Keterasingan

Kisah seorang pengembara di negeri yang sangat jauh
Tanpa sebilah pedang, tanpa bekal, tapi__
Kemudian tiba-tiba tuhan menurunkan hujan

Hujan menabuh daun-daun |
Satu persatu mulai jatuh. Jatuh__
Hujan dan keterasingan, pada sepuntung rokok oepet gabus
Cendol, dan sebuah lagu hujan bulan november yang gersang

Hujan menabuh lembar genting |
Tempat dimana ia terkurung penuh gelap, sedang diluar air jatuhnya menari nari penuh bakhti, penuh gemuruh pada daun-daun belimbing
Dan di jauh terdengar suara deru motor teburu-buru seperti kilatan petir
Petir jiwa, seperti kemudian seorang kekasih akan hadir pada pernikahan kekasihnya dengan orang lain, kemudian ia terjatuh di sisi jalan, penuh darah, penuh luka.
Masalalu, masa sekolah dulu

Hujan datang menabuh kerah jendela |
Sedang rindu saat subuh mulai bermekaran |
Seseorang dengan ingatan yang masih kekal
Mulai menulis dingin, yang sepi, yang teduh.
Seteduh teduhnya seperti ia tak pernah mendengar ada hujan hinggap mengetuk jendela-jendela, dan tak pernah pula menyalakan suara-suara luka, kecuali angin yang bergerak mati dan nafas-nafas yang amat berat. Seperti sesuatu telah tumbuh lebat di rongga hidungnya.
Kemudian ia sulit bernafas.

Hujan datang menabuh pipi |
Meninggalakan dingin, gelap.
Batik-batik jiwa penuh dengan gambar keterasingan, nasibnya yang selalu di bawa waktu setiap tahun, tanpa ada pasir-pasir, tanpa ada ombak, camar, bintang lain yang mungkin bisa menenggelamkan lukanya menuju palung paling dalam.
Hingga ia tak perlu lagi mendengar apa kata orang
Hingga ia tak perlu lagi meminta belas dan kasihan

Hujan datang menabuh diri |
Berkirim se-rantang dingin berisi cawan-cawan sepi
Karena hujan memang selalu dingin untuk seorang yang berada jauh dari rumah
Dari senyum mbu’ dan nasi jagungnya yang panas
Kemudian tebak__aku hanya akan membawa nyawa diriku sendiri
berbalut dingin, seperti batu.
Sebab hanya kumpulan gerimis, tapi Ahh mengapa datangnya begitu mengiris -


* Mkd Aan's
2016

Melo Pada Gelap

Sebentar lagi |
Kumis malaikat pada gelap,
dan laron-laron pada topi lampu neon,
secangkir kopi tanpa nampan,
Juga tikar-tikar berdebu
Mengajak  kita menari, kita merekam wajah gelap, kita pada dinding-dinding
Kita bergerak maju menyerupai kedipan kunang-kunang
Sedang lorong-lorong desa akan segera di hapus,
Kota-kota akan mati digantikan rintihan nyamuk-nyamuk yang melahirkan anaknya
Dunia ini akan ditenggelamkan beberapa saat, sayangku |
Sebentar lagi, sebuah lagu akan di bawakan malam

Ini lagu kita dan gelap yang merekam, mengajak menari ?

Padahal | kita tidak bisa menari bukan
Tapi tanpa tidak, kita mulai berjingkrak tanpa ijin emak
Emak terlalu sibuk dengan urusan dapur bukan ?
Jadi jangan pernah mengganggu
Bapak juga tengah terbaring lelah |
Didadanya berbagai macam rumput tumbuh,
Matahari-matahari memilin bibit untuk di tananami.
Sebentarlagi ia juga akan membelakangi emak
Mengusap dagunya dan mengajak keranjang, jadi kau jangan merayu

Ini milik kita | jadi tak ada yang boleh mengganggu
Semuanya telah sirna, kita adalah milik diri sendiri dan tuhan,
Kita sudah rampas semuanya, dari malam
Tentang dingin-sunyi-pekat-asap-rokok-dan juga rasa kopi
Malam adalah suara kemerdekaan kita sayang,
Disana aku dapat menidurimu seribu tahun, serupa mimpi dan khayal
Jangan menyalakan bianglala lagi di pipimu,
Sudah banyak kita menanam diri pada siang

Sebentar lagi |
Sebentar lagi, sayang | kita akan segera mati
Dan barulah lagu untukmu akan di hentikan –

* Mkd Aan's
2014