Ketika
tidak ada siapapun disini
Dan hujan
turun membuatmu luka.
Luka
masalalu datang menemuimu, bahkan ketika kau berniat untuk pergi.
Hujan
selalu menumbuhkan sesuatu yang tidak tumbuh.
Bahkan
tuhan menciptakan hujan untuk menghidupkan kehidupan setelah kematian Kematian
yang paling mati.
Seperti
kenangan tentangmu. Bukankah itu sudah lama mati.
Namun
hujan melahirkannya. Dan kau seakan kembali memulai semuanya.
Kau adalah
rapuh dari jiwaku yang selalu ingin terlihat tegar.
Kau adalah
bisik dari hatiku yang ingin sunyi.
Seberapa
kuatpun aku coba. Namun tiba-tiba hujan datang dan menumbuhkannya kembali.
Menyulapnya
kembali menjadi luka yang menganga.
Untuk
itulah aku lari.
Di antara
lorong-lorong tanpa manusia
Melari di
tempias-tempias hujan
Disana aku
menumpahkan seribu tangis.
Seribu
tangis dan tak akan ada yang tahu.
Karena aku
ingin terlihat tegar
Tegar.
Seperti
tetes-tetes hujan yang selalu sabar.
Menghapus
air mataku, yang jatuh di lorong-lorong.
Karena
hujan memberikan luka. Luka yang tak pernah, kau bisa lari Bahkan walau kau
berusaha menghangatkannya dengan secangkir kopi Atau tidur diatas tumpukan
bantal-bantal empuk
Untuk
itulah aku berlari membiarkannya menyatu dengan tubuh hujan. Membiarkannya di
sembunyikan sayap-sayap hujan.
Membiarkannya
masuk kerelung tanah.
Dan aku
pun akan selalu terlihat tegar.
Tegar.
Meski
sebenarnya di jiwaku penuh rapuh
Dan sedang
tumbuh benalu -
* Mkd Aan's
2016

Hujan dan kenangan bukan perpaduan yg sehat untuk orang yg sedang belajar melepaskan..
BalasHapusPuisinya bagus. Terimakasih sudah boleh liat2 blognya 😊
Stay awesome 👏