Minggu, 15 November 2015

Melo Pada Gelap

Sebentar lagi |
Kumis malaikat pada gelap,
dan laron-laron pada topi lampu neon,
secangkir kopi tanpa nampan,
Juga tikar-tikar berdebu
Mengajak  kita menari, kita merekam wajah gelap, kita pada dinding-dinding
Kita bergerak maju menyerupai kedipan kunang-kunang
Sedang lorong-lorong desa akan segera di hapus,
Kota-kota akan mati digantikan rintihan nyamuk-nyamuk yang melahirkan anaknya
Dunia ini akan ditenggelamkan beberapa saat, sayangku |
Sebentar lagi, sebuah lagu akan di bawakan malam

Ini lagu kita dan gelap yang merekam, mengajak menari ?

Padahal | kita tidak bisa menari bukan
Tapi tanpa tidak, kita mulai berjingkrak tanpa ijin emak
Emak terlalu sibuk dengan urusan dapur bukan ?
Jadi jangan pernah mengganggu
Bapak juga tengah terbaring lelah |
Didadanya berbagai macam rumput tumbuh,
Matahari-matahari memilin bibit untuk di tananami.
Sebentarlagi ia juga akan membelakangi emak
Mengusap dagunya dan mengajak keranjang, jadi kau jangan merayu

Ini milik kita | jadi tak ada yang boleh mengganggu
Semuanya telah sirna, kita adalah milik diri sendiri dan tuhan,
Kita sudah rampas semuanya, dari malam
Tentang dingin-sunyi-pekat-asap-rokok-dan juga rasa kopi
Malam adalah suara kemerdekaan kita sayang,
Disana aku dapat menidurimu seribu tahun, serupa mimpi dan khayal
Jangan menyalakan bianglala lagi di pipimu,
Sudah banyak kita menanam diri pada siang

Sebentar lagi |
Sebentar lagi, sayang | kita akan segera mati
Dan barulah lagu untukmu akan di hentikan –

* Mkd Aan's
2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar