Sebentar
lagi |
Kumis
malaikat pada gelap,
dan
laron-laron pada topi lampu neon,
secangkir
kopi tanpa nampan,
Juga
tikar-tikar berdebu
Mengajak kita menari, kita merekam wajah gelap, kita
pada dinding-dinding
Kita
bergerak maju menyerupai kedipan kunang-kunang
Sedang
lorong-lorong desa akan segera di hapus,
Kota-kota
akan mati digantikan rintihan nyamuk-nyamuk yang melahirkan anaknya
Dunia ini
akan ditenggelamkan beberapa saat, sayangku |
Sebentar
lagi, sebuah lagu akan di bawakan malam
Ini lagu
kita dan gelap yang merekam, mengajak menari ?
Padahal |
kita tidak bisa menari bukan
Tapi tanpa
tidak, kita mulai berjingkrak tanpa ijin emak
Emak
terlalu sibuk dengan urusan dapur bukan ?
Jadi
jangan pernah mengganggu
Bapak juga
tengah terbaring lelah |
Didadanya
berbagai macam rumput tumbuh,
Matahari-matahari
memilin bibit untuk di tananami.
Sebentarlagi
ia juga akan membelakangi emak
Mengusap
dagunya dan mengajak keranjang, jadi kau jangan merayu
Ini milik
kita | jadi tak ada yang boleh mengganggu
Semuanya
telah sirna, kita adalah milik diri sendiri dan tuhan,
Kita sudah
rampas semuanya, dari malam
Tentang
dingin-sunyi-pekat-asap-rokok-dan juga rasa kopi
Malam
adalah suara kemerdekaan kita sayang,
Disana aku
dapat menidurimu seribu tahun, serupa mimpi dan khayal
Jangan
menyalakan bianglala lagi di pipimu,
Sudah
banyak kita menanam diri pada siang
Sebentar
lagi |
Sebentar
lagi, sayang | kita akan segera mati
Dan
barulah lagu untukmu akan di hentikan –
* Mkd Aan's
2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar