Budaya mendongeng, kini mulai
ditinggalkan para orang tua terhadap anak, kesibukan terhadap karir manata
kerja kerja di luar rumah menjadi alasan mereka meninggal kebiasan menemani
tidur buah hati menjelang mereka tidur. Alasan demi ditujukan demi kelangsungan
hidup sang buah hati yang lebih baik, walaupun hal itu tidak sebenarnya benar. Menata
mimpi-mimpi yang kelak akan membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang berkepribadian
bijaksana, jujur, amanah, berkepemimpinan, gagah, berani, berhati mulia dan
sebagainya, tersebut lebih baik tentunya tanpa meninggalkan kewajiban-kewajiban
pokok bagi anak.
Seorang
anak dilahirkan memang dalam keadaan fitrah, suci, seperti layaknya kertas. Para ahli ilmu jiwa (psikologi) mengkalisifikasikan faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam tiga hal. Pertama,
adalah teori yang mengatakan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh
pembawaan (hederitas) sejak lahir. Hal ini disetarakan adanya kemiripan
antara anak dan orang tua yang di maksudkan karena adanya kesamaan-kesamaan
psikologi, penurunan sifat dan watak. Kedua, perkembangan yang di
sebabkan akan factor sekitar, baik keadaan dan keluarga yangberada di
sekelilingnya.dan ketiga adalah pembentukan dari sifat penurunan dari semenjak
lahir dan factor lingkungan sekitar ia tinggal, maka, tentu saja hal ini
menjadi hal yang saling bersinggungan dimana kedua sifat tersebut dominan
antara yang lain. Tergantung bagai mana keadaan selanjutnya.
Masa
anak-anak merupakan fase pertama perkembangan manusia tumbuh, merawat anak dengan
memberI pehatian kepada mereka pun diistilahkan dengan ‘’hadlanah’’. Yaitu
mengayomi mereka, memberi penghidupan, pendidikan, menjauhkan mereka dari
segala gangguan serta memberikan apa saja yang terbaik terhadap kelangsungan
hidup mereka kelak. Termasuk segala perhatian yang akan membangun keseimbangan
jiwa mereka dengan membangun pemahaman-pemahaman akan kehidupan yang baik dan
berguna. Hal ini dapat di peroleh salah satunya dengan cara, mendongeng bagi
mereka.
Mendongeng
merupakan hal yang tak terlepas dari menceritakan sebuah kisah yang untuk
menidurkan sang buah hati yang baik di lakukan saat siang, namun umumnya
mendongeng dilakukan para orang tua menjelang sang anak tidur diwaktu malam.
Hal ini dikarenakan waktu malam merupakan waktu senggang di mana anak rehat
dari aktifitas yang dilakukannya selama seharian. Tentunya hal ini merupakan
hal yang teramat penting bagi anak yang memapaki masa pertumbuhan, utamanya
mental. Dengan menceritakan sebuah kisah yang penuh dengan sarat kepahlawanan,
kepemimpinan, dan kebijaksanaan para orang tua dapat menjadi sebuah cerita yang
secara tidak langsung akan menjadikan jiwa emosional anak, membayangkan sosok
seorang pemimpin yang berjiwa pahlawan dan bijaksana. Dengan mendengarkan
dongeng maka secara tidak sengja sang anak akan menemukan sebuah sosok bayangan
yang sesuai dengan apa yang telah ia tangkap dari sebuah cerita. Hal ini dapat
memberikan tunjangan yang baik hingga anak pun menjadikan sebuah dongeng
tersebut sebagai acuan dengan mengambil dari inti sebuah cerita, misalkan saja
seperti dongeng Pinokio yang akan mendapatkan balasan, pada setiap kali ia
berbohong, yakni hidungnya kan bertambah panjang. Hal ini membuat anak menjadi
takut untuk berbohong kepada orang lain. Atau bila mana orang tua mengingin kan
sosok buah hati yang mempunyai kemampuan berkepemimpinan, bijaksana, gagah dan
sebagainya maka sebagai sajian dongeng kisah Rosullulloh Saw saat memimpin umat
islam membangun agama dalam peperangan melawan orang kafir menjadi pilihan, Hal
itu pula yang dilakukan apabila orang tua menginginkan pribadi yang pemaaf, baik,
jujur, sopan dan rendah hati maka sang orang tua hendaknnya menyuguhkan sebuah
cerita yang syarat akan nilai nilai pemaaf, sopan, dan jujur seperti halnya
menceritakan sosok Rosullulloh Saw di masa kanak-kanak beliau. Jadi pada
berbagi kesempatan mendongeng adalah saat yang tepat untuk memberikan motimasi
dan pesan pesan positif yang nantinya dapat membangun jiwa anak. Sebab dalam
mendongeng orang tua dapat memberikan masukan terhadap spirit dan jiwa ank
untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan orang tua. Sang orang tua
dapat mendidik anak sesuai apa yang diinginkan mereka, entah itu pribadi yang bijaksana,
gagah, feminim atau pun lain sebagainya.
Hadist riwayat Bukhari dari Abu Hurairah ‘’setiap anak yang
dilahirkan beraqda dalam kondisi suci, lalu kedua orang tuanyalah yang akan
menjadikannya yahudi, nasrani dan majusi’’
Namun,
dalam mendongeng, hendaknya orang tua memilih cerita yang tepat dalam
mendongeng, sebab pada saat usia yang sangat dini jiwa anak sangatlah labil, ia
akan senantisa peka terhadap apa yang ia lihat dan yang ia dengar. Mendongeng
yang baik bisa di sarikan dari hal-hal yang bersumberdari hal yang baik pula,
sebagaimana cerita-cerita para nabi, auliya’, para tokoh sufi, atau pun
cerita-cerita yang mampu membawanya kearah yang baik. Baik itu tokoh kartun
ataupun cerita rakyat. Seperti halnya, seseorang yang baik seperti para
pangeran akan mendapatkan kebahagiaan dan yang jahat seperti nenek sihir akan
binasa dan menderita selama-lamanya. Karena itu, untuk mendukung perkembangan
yang nantinya akan membangunkan alam bawah sadar anak akan pentingnya menjadi
orang baik dan ruginya menjadi orang yang berpribadi jelek. Maka lebih utamanya
anak hendaklah dalam dongeng selalu di suguhkan akan pentingnya hidup yang
berpedoman pada hadist dan Al Qur’an. Agar pada masa labil mereka mendapatkan
suatu pengangan dari sumber yang baik, yang tujuannya sebagai pemantapan aqidah
dan iman.
Dalam
dalam kitab ihya’ ulumuddin imam Al Ghazali berpendapat,
‘’Hendaknya seorang anak kecil diajarkan
akan al Qur’an, Hadist, dan biografi orang-orang baik dan kemudian hukum-hukum
islam.
Adapun ibnu Khuldum mengatakan:
mengajarkan al Qur’an merupakan dasar pelajaran dalam semua system pelajaran di
berbagai Negara islam, karena hal itu merupan salah satu syi’aragama yang
berpengaruh terhadap proses pemantapan aqidah dan iman’’.
Selain
itu adanya budaya mendongeng dapat mengikat pertalian antara hubungan orang tua
dan anak yang saling melekat dan membutuhkan. Dimana pada saat mendongeng, akan
terjalin sebuah kontraksi positif yang terjadi antara orang tua dan anak, hal
ini pula yang nantinya kan
menjadikan jiwa anak merasa sangat membuttuhkan sosok orang tua di masa depan
saat ia beranjak dewasa, maka dengan sendirinya orang tua akan menjadi tempat
peraduan pertama. Terutama jika sang anak mempunyai sebuah masalah, sebagai
mana kontraksi tersebut telah terjalin dari sejak kecil.
Seiring
berkembangnya zaman, kini anak-anak lebih memilih hal yang berbau teknologi,
game, playstation, dan lain sebagainya. Terlebih saat ini mereka makin dengan mudah
dapat menggunakan perangkat game, baik itu online dari perangkat internet yang bisa di
bawa kemana-mana dengan handphone seluler mereka atau pun yang biasa di
sediakan di tempat bermain. Maka, Hal ini harus menjadi garis besar yang harus
selalu di pantau oleh orang tua agar jiwa anak tidak tergantung, terutama untuk
mengantisipasi sesuatu yang akan merusak moralnya dan akhlaknya. Sebagaimana
orang tua merupakan pembimbing, tempat berlabuh anak dalam segala hal, tempat
anak menerima asuhan dan didikan yang baik. Dan untuk menjadikannya sosok yang
baik, tentu saja hal itu hanya dapat di hasilkan hanya dengan didikan yang
baik. Karena pada masanya orang tualah yang pertama kali kelak akan di
pertanyakan bagai mana mereka mendidik anak-anak mereka.
Imam
al Ghazali berkata : ‘’anak itu merupakan amanah tuhan bagi kedua orang tuanya,
hatinya bersih bagai mutia yang indah bersahaja, bersih dari dari setiap
lukisan dan gambar. Ia menerima setiap yang dilukiskan, cenderung kepada apa
saja yang di arahkan kepadanya. Jika ia di biasakan belajar dengan baik, ia
akan tumbuh menjadi baik, beruntung di dunia dan akhirat. Kedua orang tuanya,
semua gurunya, pengajar dan pendidik sama-sama mendapt pahala. Dan jika ia di
biasakan melakukan kejelekan dan diabaikan sebagaimana hewan, ia akan celaka
dan rusak dan dosanya akan menimpa pengasuh dan kedua orang tuanya’’
Ibnu
jarir dan ibnu mundzir meriwayatkan hadist dari ibnu mas’ud ra bahwa nabi
bersabda : ‘’taatlah kamu kepada Alloh dan takutlah kalian semua berbuat
maksiat terhadapnya. Perintahkanlah semua anakmu untuk mengerjakan suruhan dan
menjauhi larangannya. Karena hal itu merupakan benteng bagi mereka dan bagimu
dari api nereka’’
* Mkd Aan's 1
2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar