Selasa, 21 Oktober 2014

Mendongeng Sebelum Tidur Bangunkan Karakter Anak


            Budaya mendongeng, kini mulai ditinggalkan para orang tua terhadap anak, kesibukan terhadap karir manata kerja kerja di luar rumah menjadi alasan mereka meninggal kebiasan menemani tidur buah hati menjelang mereka tidur. Alasan demi ditujukan demi kelangsungan hidup sang buah hati yang lebih baik, walaupun hal itu tidak sebenarnya benar. Menata mimpi-mimpi yang kelak akan membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang berkepribadian bijaksana, jujur, amanah, berkepemimpinan, gagah, berani, berhati mulia dan sebagainya, tersebut lebih baik tentunya tanpa meninggalkan kewajiban-kewajiban pokok bagi anak.

Seorang anak dilahirkan memang dalam keadaan fitrah, suci, seperti layaknya kertas. Para ahli ilmu jiwa (psikologi) mengkalisifikasikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam tiga hal. Pertama, adalah teori yang mengatakan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaan (hederitas) sejak lahir. Hal ini disetarakan adanya kemiripan antara anak dan orang tua yang di maksudkan karena adanya kesamaan-kesamaan psikologi, penurunan sifat dan watak. Kedua, perkembangan yang di sebabkan akan factor sekitar, baik keadaan dan keluarga yangberada di sekelilingnya.dan ketiga adalah pembentukan dari sifat penurunan dari semenjak lahir dan factor lingkungan sekitar ia tinggal, maka, tentu saja hal ini menjadi hal yang saling bersinggungan dimana kedua sifat tersebut dominan antara yang lain. Tergantung bagai mana keadaan selanjutnya.

Masa anak-anak merupakan fase pertama perkembangan manusia tumbuh, merawat anak dengan memberI pehatian kepada mereka pun diistilahkan dengan ‘’hadlanah’’. Yaitu mengayomi mereka, memberi penghidupan, pendidikan, menjauhkan mereka dari segala gangguan serta memberikan apa saja yang terbaik terhadap kelangsungan hidup mereka kelak. Termasuk segala perhatian yang akan membangun keseimbangan jiwa mereka dengan membangun pemahaman-pemahaman akan kehidupan yang baik dan berguna. Hal ini dapat di peroleh salah satunya dengan cara, mendongeng bagi mereka.

Mendongeng merupakan hal yang tak terlepas dari menceritakan sebuah kisah yang untuk menidurkan sang buah hati yang baik di lakukan saat siang, namun umumnya mendongeng dilakukan para orang tua menjelang sang anak tidur diwaktu malam. Hal ini dikarenakan waktu malam merupakan waktu senggang di mana anak rehat dari aktifitas yang dilakukannya selama seharian. Tentunya hal ini merupakan hal yang teramat penting bagi anak yang memapaki masa pertumbuhan, utamanya mental. Dengan menceritakan sebuah kisah yang penuh dengan sarat kepahlawanan, kepemimpinan, dan kebijaksanaan para orang tua dapat menjadi sebuah cerita yang secara tidak langsung akan menjadikan jiwa emosional anak, membayangkan sosok seorang pemimpin yang berjiwa pahlawan dan bijaksana. Dengan mendengarkan dongeng maka secara tidak sengja sang anak akan menemukan sebuah sosok bayangan yang sesuai dengan apa yang telah ia tangkap dari sebuah cerita. Hal ini dapat memberikan tunjangan yang baik hingga anak pun menjadikan sebuah dongeng tersebut sebagai acuan dengan mengambil dari inti sebuah cerita, misalkan saja seperti dongeng Pinokio yang akan mendapatkan balasan, pada setiap kali ia berbohong, yakni hidungnya kan bertambah panjang. Hal ini membuat anak menjadi takut untuk berbohong kepada orang lain. Atau bila mana orang tua mengingin kan sosok buah hati yang mempunyai kemampuan berkepemimpinan, bijaksana, gagah dan sebagainya maka sebagai sajian dongeng kisah Rosullulloh Saw saat memimpin umat islam membangun agama dalam peperangan melawan orang kafir menjadi pilihan, Hal itu pula yang dilakukan apabila orang tua menginginkan pribadi yang pemaaf, baik, jujur, sopan dan rendah hati maka sang orang tua hendaknnya menyuguhkan sebuah cerita yang syarat akan nilai nilai pemaaf, sopan, dan jujur seperti halnya menceritakan sosok Rosullulloh Saw di masa kanak-kanak beliau. Jadi pada berbagi kesempatan mendongeng adalah saat yang tepat untuk memberikan motimasi dan pesan pesan positif yang nantinya dapat membangun jiwa anak. Sebab dalam mendongeng orang tua dapat memberikan masukan terhadap spirit dan jiwa ank untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan orang tua. Sang orang tua dapat mendidik anak sesuai apa yang diinginkan mereka, entah itu pribadi yang bijaksana, gagah, feminim atau pun lain sebagainya.    

Hadist riwayat Bukhari dari Abu Hurairah ‘’setiap anak yang dilahirkan beraqda dalam kondisi suci, lalu kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani dan majusi’’

Namun, dalam mendongeng, hendaknya orang tua memilih cerita yang tepat dalam mendongeng, sebab pada saat usia yang sangat dini jiwa anak sangatlah labil, ia akan senantisa peka terhadap apa yang ia lihat dan yang ia dengar. Mendongeng yang baik bisa di sarikan dari hal-hal yang bersumberdari hal yang baik pula, sebagaimana cerita-cerita para nabi, auliya’, para tokoh sufi, atau pun cerita-cerita yang mampu membawanya kearah yang baik. Baik itu tokoh kartun ataupun cerita rakyat. Seperti halnya, seseorang yang baik seperti para pangeran akan mendapatkan kebahagiaan dan yang jahat seperti nenek sihir akan binasa dan menderita selama-lamanya. Karena itu, untuk mendukung perkembangan yang nantinya akan membangunkan alam bawah sadar anak akan pentingnya menjadi orang baik dan ruginya menjadi orang yang berpribadi jelek. Maka lebih utamanya anak hendaklah dalam dongeng selalu di suguhkan akan pentingnya hidup yang berpedoman pada hadist dan Al Qur’an. Agar pada masa labil mereka mendapatkan suatu pengangan dari sumber yang baik, yang tujuannya sebagai pemantapan aqidah dan iman.

Dalam dalam kitab ihya’ ulumuddin imam Al Ghazali berpendapat,

‘’Hendaknya seorang anak kecil diajarkan akan al Qur’an, Hadist, dan biografi orang-orang baik dan kemudian hukum-hukum islam.

Adapun ibnu Khuldum mengatakan: mengajarkan al Qur’an merupakan dasar pelajaran dalam semua system pelajaran di berbagai Negara islam, karena hal itu merupan salah satu syi’aragama yang berpengaruh terhadap proses pemantapan aqidah dan iman’’.

Selain itu adanya budaya mendongeng dapat mengikat pertalian antara hubungan orang tua dan anak yang saling melekat dan membutuhkan. Dimana pada saat mendongeng, akan terjalin sebuah kontraksi positif yang terjadi antara orang tua dan anak, hal ini pula yang nantinya kan menjadikan jiwa anak merasa sangat membuttuhkan sosok orang tua di masa depan saat ia beranjak dewasa, maka dengan sendirinya orang tua akan menjadi tempat peraduan pertama. Terutama jika sang anak mempunyai sebuah masalah, sebagai mana kontraksi tersebut telah terjalin dari sejak kecil.

Seiring berkembangnya zaman, kini anak-anak lebih memilih hal yang berbau teknologi, game, playstation, dan lain sebagainya. Terlebih saat ini mereka makin dengan mudah dapat menggunakan perangkat game, baik itu  online dari perangkat internet yang bisa di bawa kemana-mana dengan handphone seluler mereka atau pun yang biasa di sediakan di tempat bermain. Maka, Hal ini harus menjadi garis besar yang harus selalu di pantau oleh orang tua agar jiwa anak tidak tergantung, terutama untuk mengantisipasi sesuatu yang akan merusak moralnya dan akhlaknya. Sebagaimana orang tua merupakan pembimbing, tempat berlabuh anak dalam segala hal, tempat anak menerima asuhan dan didikan yang baik. Dan untuk menjadikannya sosok yang baik, tentu saja hal itu hanya dapat di hasilkan hanya dengan didikan yang baik. Karena pada masanya orang tualah yang pertama kali kelak akan di pertanyakan bagai mana mereka mendidik anak-anak mereka.

Imam al Ghazali berkata : ‘’anak itu merupakan amanah tuhan bagi kedua orang tuanya, hatinya bersih bagai mutia yang indah bersahaja, bersih dari dari setiap lukisan dan gambar. Ia menerima setiap yang dilukiskan, cenderung kepada apa saja yang di arahkan kepadanya. Jika ia di biasakan belajar dengan baik, ia akan tumbuh menjadi baik, beruntung di dunia dan akhirat. Kedua orang tuanya, semua gurunya, pengajar dan pendidik sama-sama mendapt pahala. Dan jika ia di biasakan melakukan kejelekan dan diabaikan sebagaimana hewan, ia akan celaka dan rusak dan dosanya akan menimpa pengasuh dan kedua orang tuanya’’

Ibnu jarir dan ibnu mundzir meriwayatkan hadist dari ibnu mas’ud ra bahwa nabi bersabda : ‘’taatlah kamu kepada Alloh dan takutlah kalian semua berbuat maksiat terhadapnya. Perintahkanlah semua anakmu untuk mengerjakan suruhan dan menjauhi larangannya. Karena hal itu merupakan benteng bagi mereka dan bagimu dari api nereka’’

* Mkd Aan's 1
2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar