‘’ya Alloh Tuhanku maafkan lah dia, sesungguhnya ia tidak
mengetahui apa-apa’’
Pada
dasarnya islam adalah sebuah agama yang dibangaun atas prinsip kesaeimbangan
dan kekesederhanaan, yang meliputi hala akidah (keyakinan) ibadah (amal) akhlak
maupun tingkah laku. Maka dari itu dalam islam tak ada yang membelitkan ataupun
menjuruskan seseorang hamba. Karena islam bagaikan ril yang mengantar manusia
ke kehidupan kesungguhan dengan sederhana, teratur serta aturan yang terarah.
Hal itu pula yang menjadi tuntunan dalam islam, menjadi manusia yang terdiri
dari sifat baik dengan akhlak sempurna.
Dunia, lahan yang tak pernah putus akan segala hal yang
datang dan pergi, susah, sedih, senang. Karena masalah terkadang datang tanpa
diduga, dan kedamaian kadang tercipta tanpa kita sadari. Hal tersebut akan selalu hadir membentuk
sebuah jalan takdir yang terus melaju.
Ketika himpitan dunia datang, membuat manusia berduka,
maka tersenyum bersyukur akan membuat manusia lebih baik. Begitu pula apabila
kebahagian datang, maka jalan tersenyum penuh syukur lebih baik dari pada
membiarkan diri terlena dalam kebahagiaan yang kadang akan memabukkan. Maka
dari itu senyum merupakan hal yang selalu ditampakkan Rosululloh
Saw dalam setiap perangai. Rosululloh Saw
sendiri sesekali tertawa hingga tampak sedikit gerahamnya.
Manusia diciptakan oleh Alloh SWT
sebagai makhluk untuk menyembah dan mengiikuti aturan Alloh SWT. Bertawakkal
akan segala cobaan yang datang, agar mereka menjadi makhluk yang pulang ke
akhirat dengan pakaian islam iman, ikhsan. Semua itu tak akan terlaksana
apabila ia mencerca cobaan, ujian dan kufur tanpa mensyukuri apa yang Alloh
tetapkan untuk mereka para manusia.
‘’Sesungguhnya,
Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak
mengujinya’[‘ (QS. Al-Insan: 2)
Karena dunia memang ladang ujian,
maka berikut adalah kiat yang Insyaalloh akan membuat hati lebih
menerima apa yang telah ditetapkan Alloh sebagai jalan takdir, bersabar dan
tersenyum penuh syukur atas cobaan datang.
- Yakin takdir Alloh SWT adalah hal terbaik
Takdir
setiap makhluk sudah di tetapkan jauh sebelum mereka diciptakan,
‘’Kami
telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.’’ (QS.
Az-Zukhruf: 32)
Alloh, tuhan yang menguasai
alam semessta beserta segala isinya, manusia diciptakan pun disebabkan
semata-mata untuk menyembah terhadap dzat yang menciptakannya. Hal tersebut
sudah menjadi tatanan yang harus terpenuhi dari seorang makhluk hasil ciptaan,
mengabdi, menyembah, bersyukur, dan menerima apa yang telah ditetapkan
pencipta, dalam basmalah pun telah disinggiung akan sifat Alloh SWT yang agung,
sebagai dzat yang maha pengasih dan penyayang. Maka apapun yang telah di
berikan Alloh pada makhluk itulah yang terbaik. Bahkan dalam hadist nabi
disebutkan
‘’ketika
Alloh mencintai seorang hamba maka alloh kan mengujinya dengan bencana, bila
sabar maka Alloh akan memilihnya’’
Alloh akan selalu
bersama dengan hambanya yang selalu menerima akan ketetapan qadha’ dan qadhar
Alloh, dan Alloh SWT akan menjadikannya hamba yang beruntung.
Dalam
hadist lain Rosululloh Saw bersabda tentang keutamaan orang yang menerima
takdir Alloh. Bagi mereka, ditumbuhkan sayap dibelakang bahunya, mereka terbang
bersenang-senang, terang dari kuburan mereka menuju surge. Hingga membuat
malaikat bertanya-tanya kepada mereka, ‘’apakah mereka melihat hisab, shiroth
dan neraka jahannam ?’’ dan mereka pun menjawab, bahwa mereka tidak melihat
apapun. Malaikat bertanya lagi, dari mana mereka, Dan mereka menyebutkan bahwa
mereka adalah golongan umat Rosululloh Saw, yang ketika berada di dunia
melalukan dua hal. Yaitu, bilamana mereka sendirian, mereka malu berbuat
durhaka kepada Alloh, dan mereka selalu ridho atas apapun yang telah Alloh
berikan kepada mereka, walaupun sedikit. Sehingga bagi mereka adalah kenikmatan
surga tanpa melalui proses apapun.
- Tersenyumlah bila dapatkan musibah
Senyuman
adalah awal jalan terciptanya sebuah kekuatan menuju kesempurnaan, karena hanya
dengan tersenyum terhadap musibah yang datangnya dari Alloh SWT, maka ia telah
membiarkan masalah itu masuk dalam hidupnya dengan keadaan rela. Adapun
bersyukur adalah jalan menjadikan masalah tersebut menjadi mudah tertasi. Dalam
Faidhul Khathir, Ahmad Amin menjabarkan akan : "Orang yang murah
tersenyum menjalani hidup bukan hanya orang yang mampu membahagiakan bagi
dirinya, tapi ia adalah orang yang juga mampu berbuat, mampu memikul sebuah
tanggung jawab, tangguh menghadapi cobaan dan memecahkan segala masalah, serta
orang yang paling mampu menciptakan hal yang penuh manfaat bagi diri sendiri
dan bagi orang lain’’ Dalam Al Qur’an disebutkan,
‘’Sebab
itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu
termasuk orang-orang yang bersyukur.’’42 (QS. Al-A'raf: 144)
- Membuang rasa cemas
Maka
sebaliknya tersenyum. Keberadaan rasa cemas, yang merupakan ujung menuju
kesensaraan, kelumpuhan hati dan keputusasaan berkepanjangan. Karena masalah
datangnya dari Alloh SWT, sudah selayaknya manusia meminta penyelesaiannya
kepada Alloh SWT, bukan dengan menjadikannya sebagai sebuah beban kecemasan, di
sebabkan keberadaan cemas yang dapat merusak hidup dan impian. Rasa cemas harus
dicegah dengan banyaknya berdzikir.
‘’ kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat
Allah’’ (Qs. Az Zumar 23)
Maka hendaknya manusia
melansir rasa cemas, baik dari datangnya sebuah nikmat yang dikufurkan ataupun
dari datangnya musibah yang di elu-elukan. Karena rasa cemas timbul dari diri
manusia sendiri, bukan dari Alloh SWT.
‘’Mereka
dicemaskan oleh diri mereka sendiri’’ (QS. Ali 'Imran: 154)
Dalam sebuah hadits
Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya
aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela: keluhan tatkala
mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat musibah."
- Mengendalikan emosi
Emosi
adalah hal paling fitrah yang ada dalam diri manusia, karena emosi yang menjadi
penggerak manusia, terutama di saat manusia berada dalam sebuah keadaan yang
menyenangkan ataupun sesuatu yang menyedihkan. Emosi pula yang kerap menjadikan
manusia sebagai hamba yang bersyukur ataupun hamba yang kufur akan nikmat dan
musibah. Tentulah keberadaan emosi harus diukur, tidak boleh melebihi kadar
seimabang. Dari hal ini mengendalikan emosi merupakan hal penting untuk
menyetarakan datangnya sebuah nikmat ataupun musibah. Emosi yang Dalam Al
Qur’an di sebutkan.
‘’(Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang
luput dan kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu’’ (QS. Al-Hadid: 23)
Bersedih
adalah milik pantas bagi semua manusia, Abu Bakar pun pernah bersedih, saat ia
berada bersama Rosululloh Saw dalam gua Tsur, karena khawatir terjadi
orang suruhan Qurays mengetahui keberadaan mereka dalam gua. Begitu pula dengan
bergembira akan datangnya kebahagiaan, seperti saat Rosululloh
Saw pernah sesekali bercanda dengan seorang perempuan tuayang
tidak akan masuk surge melainkah akan kembali muda.
Namun
lain halnya apabila duka itu semakin menjadi dan menjadi bumerang pada diri
sendiri, ataupun senyum bahagia menjadi tawa yang berlebihan, yang membuat hati
menjadi kerasnya hati. Sebagaimana ada pepatah Arab mengatakan "Janganlah engkau banyak
tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati."
- Sabar, Pasrahkan diri pada Alloh
Musibah
memang adalah hal yang selalu ada, menghias kehidupan manusia. Sehingga tak ada
seorang pun manusia yang tak pernah merasakan sulitnya dihimpit masalah. Atha'
ibn Rabah, orang alim pada zamannya adalah penah menjadi budak berkulit hitam,
berhidung pesek, lumpuh tangannya, dan berambut keriting. Begitu pula Bilal bin
Rabab, muadzin rosululloh yangmengumandsangkan kalimat suci saat Fathi Mekah,
adalah mantan budak kulit hitam yang pernah diseret di padang pasir panas dan dilembari batu, hingga
tubuhnya hangus penuh luka. Namun mereka menjalani ketetapan Alloh tersebut
dengan penuh rasa sabar.
Karena
itu, sifat yang terbaik saat menghadapi masalah adalah berkumpul dalam
kesabaran, kesabaran adalah ujung tombak untuk mengakhiri segala masalah,
Rosululloh Saw pun menyempurnakan penyebaran islam agama islam di bumi arab hingga menyebar ke
seluruh belahan dunia karena Rosululloh Saw selalu menanamkan sifat sabar pada dirinya
dan juga para sahabat dari berbagai kecaman, penghinaan, serta gangguan dari
orang orang Arab bahkan dari kerabat dekat beliau, itu sebabnya Islam menjadi
sesuatu yang kokoh. Karena bertumpu akan kesabaran atas musibah yang datang.
Maka dari itulah, Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya
kesabaran itu ada pada benturan yang pertama."
- Berdoa bila mendapatkan musibah
Hendaknya
seorang mukmin adalah seseorang yang selalu berdoa akan nikmat yang datang dan
musinah yang menjelang, manis ataupun pahit yang ia rasakan. Karena ketetapan
dan garis ketentuan datangnya dari Alloh yang menciptakan manusia, bukan datang
dari kuasa manisia yang hina dan bersifat dhaif. Karena dengan begitu ia akan
mengembalikan apa yang datang dari Alloh dan mengharap penyelesaiannya dari
Alloh pula. Dalam Al Qur’an di sebutkan.
‘’Segala
puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.’’(QS. Fathir: 34)
Sayyidina Ali
Karomahullohu wajhah penah berdoa ,
"Semoga
jalan keluar terbuka, semoga dapat mengobati jiwa kita dengan doa. Janganlah
kalian berputus asa manakala kecemasan datang menimpa jiwa, Saat paling dekat
dengan jalan keluar adalah ketika telah terbentur pada putus asa."
‘’Cukuplah
Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (Qs.
Ali Imron 173)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar