Selasa, 21 Oktober 2014

Nabi Lebih Memilih Bersabar Dan Tersenyum

‘’ya Alloh Tuhanku maafkan lah dia, sesungguhnya ia tidak mengetahui apa-apa’’
Pada dasarnya islam adalah sebuah agama yang dibangaun atas prinsip kesaeimbangan dan kekesederhanaan, yang meliputi hala akidah (keyakinan) ibadah (amal) akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu dalam islam tak ada yang membelitkan ataupun menjuruskan seseorang hamba. Karena islam bagaikan ril yang mengantar manusia ke kehidupan kesungguhan dengan sederhana, teratur serta aturan yang terarah. Hal itu pula yang menjadi tuntunan dalam islam, menjadi manusia yang terdiri dari sifat baik dengan akhlak sempurna.
            Dunia, lahan yang tak pernah putus akan segala hal yang datang dan pergi, susah, sedih, senang. Karena masalah terkadang datang tanpa diduga, dan kedamaian kadang tercipta tanpa kita sadari.  Hal tersebut akan selalu hadir membentuk sebuah jalan takdir yang terus melaju.
            Ketika himpitan dunia datang, membuat manusia berduka, maka tersenyum bersyukur akan membuat manusia lebih baik. Begitu pula apabila kebahagian datang, maka jalan tersenyum penuh syukur lebih baik dari pada membiarkan diri terlena dalam kebahagiaan yang kadang akan memabukkan. Maka dari itu senyum merupakan hal yang selalu ditampakkan Rosululloh Saw dalam setiap perangai. Rosululloh Saw sendiri sesekali tertawa hingga tampak sedikit gerahamnya.
            Manusia diciptakan oleh Alloh SWT sebagai makhluk untuk menyembah dan mengiikuti aturan Alloh SWT. Bertawakkal akan segala cobaan yang datang, agar mereka menjadi makhluk yang pulang ke akhirat dengan pakaian islam iman, ikhsan. Semua itu tak akan terlaksana apabila ia mencerca cobaan, ujian dan kufur tanpa mensyukuri apa yang Alloh tetapkan untuk mereka para manusia.
‘’Sesungguhnya, Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya’[‘ (QS. Al-Insan: 2)
            Karena dunia memang ladang ujian, maka berikut adalah kiat yang Insyaalloh akan membuat hati lebih menerima apa yang telah ditetapkan Alloh sebagai jalan takdir, bersabar dan tersenyum penuh syukur atas cobaan datang. 

  • Yakin takdir Alloh SWT adalah hal terbaik
Takdir setiap makhluk sudah di tetapkan jauh sebelum mereka diciptakan,
‘’Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.’’ (QS. Az-Zukhruf: 32)
 Alloh, tuhan yang menguasai alam semessta beserta segala isinya, manusia diciptakan pun disebabkan semata-mata untuk menyembah terhadap dzat yang menciptakannya. Hal tersebut sudah menjadi tatanan yang harus terpenuhi dari seorang makhluk hasil ciptaan, mengabdi, menyembah, bersyukur, dan menerima apa yang telah ditetapkan pencipta, dalam basmalah pun telah disinggiung akan sifat Alloh SWT yang agung, sebagai dzat yang maha pengasih dan penyayang. Maka apapun yang telah di berikan Alloh pada makhluk itulah yang terbaik. Bahkan dalam hadist nabi disebutkan
‘’ketika Alloh mencintai seorang hamba maka alloh kan mengujinya dengan bencana, bila sabar maka Alloh akan memilihnya’’
Alloh akan selalu bersama dengan hambanya yang selalu menerima akan ketetapan qadha’ dan qadhar Alloh, dan Alloh SWT akan menjadikannya hamba yang beruntung.
Dalam hadist lain Rosululloh Saw bersabda tentang keutamaan orang yang menerima takdir Alloh. Bagi mereka, ditumbuhkan sayap dibelakang bahunya, mereka terbang bersenang-senang, terang dari kuburan mereka menuju surge. Hingga membuat malaikat bertanya-tanya kepada mereka, ‘’apakah mereka melihat hisab, shiroth dan neraka jahannam ?’’ dan mereka pun menjawab, bahwa mereka tidak melihat apapun. Malaikat bertanya lagi, dari mana mereka, Dan mereka menyebutkan bahwa mereka adalah golongan umat Rosululloh Saw, yang ketika berada di dunia melalukan dua hal. Yaitu, bilamana mereka sendirian, mereka malu berbuat durhaka kepada Alloh, dan mereka selalu ridho atas apapun yang telah Alloh berikan kepada mereka, walaupun sedikit. Sehingga bagi mereka adalah kenikmatan surga tanpa melalui proses apapun.

  • Tersenyumlah bila dapatkan musibah
Senyuman adalah awal jalan terciptanya sebuah kekuatan menuju kesempurnaan, karena hanya dengan tersenyum terhadap musibah yang datangnya dari Alloh SWT, maka ia telah membiarkan masalah itu masuk dalam hidupnya dengan keadaan rela. Adapun bersyukur adalah jalan menjadikan masalah tersebut menjadi mudah tertasi. Dalam Faidhul Khathir, Ahmad Amin menjabarkan akan : "Orang yang murah tersenyum menjalani hidup bukan hanya orang yang mampu membahagiakan bagi dirinya, tapi ia adalah orang yang juga mampu berbuat, mampu memikul sebuah tanggung jawab, tangguh menghadapi cobaan dan memecahkan segala masalah, serta orang yang paling mampu menciptakan hal yang penuh manfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain’’ Dalam Al Qur’an disebutkan,
‘’Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.’’42 (QS. Al-A'raf: 144)

  • Membuang rasa cemas
Maka sebaliknya tersenyum. Keberadaan rasa cemas, yang merupakan ujung menuju kesensaraan, kelumpuhan hati dan keputusasaan berkepanjangan. Karena masalah datangnya dari Alloh SWT, sudah selayaknya manusia meminta penyelesaiannya kepada Alloh SWT, bukan dengan menjadikannya sebagai sebuah beban kecemasan, di sebabkan keberadaan cemas yang dapat merusak hidup dan impian. Rasa cemas harus dicegah dengan banyaknya berdzikir.
‘’ kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah’’ (Qs. Az Zumar 23) 
Maka hendaknya manusia melansir rasa cemas, baik dari datangnya sebuah nikmat yang dikufurkan ataupun dari datangnya musibah yang di elu-elukan. Karena rasa cemas timbul dari diri manusia sendiri, bukan dari Alloh SWT.
‘’Mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri’’ (QS. Ali 'Imran: 154)
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela: keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat musibah."

  • Mengendalikan emosi
Emosi adalah hal paling fitrah yang ada dalam diri manusia, karena emosi yang menjadi penggerak manusia, terutama di saat manusia berada dalam sebuah keadaan yang menyenangkan ataupun sesuatu yang menyedihkan. Emosi pula yang kerap menjadikan manusia sebagai hamba yang bersyukur ataupun hamba yang kufur akan nikmat dan musibah. Tentulah keberadaan emosi harus diukur, tidak boleh melebihi kadar seimabang. Dari hal ini mengendalikan emosi merupakan hal penting untuk menyetarakan datangnya sebuah nikmat ataupun musibah. Emosi yang Dalam Al Qur’an di sebutkan.
‘’(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dan kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu’’ (QS. Al-Hadid: 23)
Bersedih adalah milik pantas bagi semua manusia, Abu Bakar pun pernah bersedih, saat ia berada bersama Rosululloh Saw dalam gua Tsur, karena khawatir terjadi orang suruhan Qurays mengetahui keberadaan mereka dalam gua. Begitu pula dengan bergembira akan datangnya kebahagiaan, seperti saat Rosululloh Saw pernah sesekali bercanda dengan seorang perempuan tuayang tidak akan masuk surge melainkah akan kembali muda.
Namun lain halnya apabila duka itu semakin menjadi dan menjadi bumerang pada diri sendiri, ataupun senyum bahagia menjadi tawa yang berlebihan, yang membuat hati menjadi kerasnya hati. Sebagaimana ada pepatah Arab mengatakan  "Janganlah engkau banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati."

  • Sabar, Pasrahkan diri pada Alloh
Musibah memang adalah hal yang selalu ada, menghias kehidupan manusia. Sehingga tak ada seorang pun manusia yang tak pernah merasakan sulitnya dihimpit masalah. Atha' ibn Rabah, orang alim pada zamannya adalah penah menjadi budak berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya, dan berambut keriting. Begitu pula Bilal bin Rabab, muadzin rosululloh yangmengumandsangkan kalimat suci saat Fathi Mekah, adalah mantan budak kulit hitam yang pernah diseret di padang pasir panas dan dilembari batu, hingga tubuhnya hangus penuh luka. Namun mereka menjalani ketetapan Alloh tersebut dengan penuh rasa sabar.
Karena itu, sifat yang terbaik saat menghadapi masalah adalah berkumpul dalam kesabaran, kesabaran adalah ujung tombak untuk mengakhiri segala masalah, Rosululloh Saw pun menyempurnakan penyebaran islam  agama islam di bumi arab hingga menyebar ke seluruh belahan dunia karena Rosululloh Saw selalu menanamkan sifat sabar pada dirinya dan juga para sahabat dari berbagai kecaman, penghinaan, serta gangguan dari orang orang Arab bahkan dari kerabat dekat beliau, itu sebabnya Islam menjadi sesuatu yang kokoh. Karena bertumpu akan kesabaran atas musibah yang datang. Maka dari itulah, Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya kesabaran itu ada pada benturan yang pertama."

  • Berdoa bila mendapatkan musibah
Hendaknya seorang mukmin adalah seseorang yang selalu berdoa akan nikmat yang datang dan musinah yang menjelang, manis ataupun pahit yang ia rasakan. Karena ketetapan dan garis ketentuan datangnya dari Alloh yang menciptakan manusia, bukan datang dari kuasa manisia yang hina dan bersifat dhaif. Karena dengan begitu ia akan mengembalikan apa yang datang dari Alloh dan mengharap penyelesaiannya dari Alloh pula. Dalam Al Qur’an di sebutkan.

‘’Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.’’(QS. Fathir: 34)
Sayyidina Ali Karomahullohu wajhah penah berdoa ,
"Semoga jalan keluar terbuka, semoga dapat mengobati jiwa kita dengan doa. Janganlah kalian berputus asa manakala kecemasan datang menimpa jiwa, Saat paling dekat dengan jalan keluar adalah ketika telah terbentur pada putus asa."
‘’Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (Qs. Ali Imron 173)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar