Setelah ribuan hari kau lalui, kau masih terkapar dalam titik terendah, kau
masih terpuruk, terlempar luntang-lantung dalam skenario tuhan, air mata tak
usah kau cairkan, karena sudah basi, lamat-lamat air mata tak hanya menjadi explointasi
hari, tiap tetes itu sama sekali tak akan melumat rasa sesalmu mendarah
sekalipun, kau makin terpuruk di hujat, di caci orang-orang di sekitarmu,
ketika Kamboja putih bertaburan tengah malam di sekitar pemakaman, menyeruak
menyerupai barisan hingga ke pintu rumahmu, kau tak dapat lagi mengelak,
memberontak, ketika orang di sekitarmu menuduh engkaulah penganut aliran sesat.
Senja merah di tepi sore
menanti malam yang akan datang, sekawan bangau terbang mengitari sorot matamu,
sementara kau masih mengenang-kenangan yang mulai kadaluarsa, ketika kau harus
berpindah-pindah tempat mencari kesenangan dalam hidup, hampir beberapa kota
kau singgahi, berpijak di tanah yang bukan tanah kelahiranmu, kau
luntang-lantung dalam siang terik, sama sekali kau tak tahu, tak mendengar,
reranting daun mencerca nasibmu, menertawakan hidupmu, terik mentari kau
layari, mengemas barang cepat-cepat, kau kepak ranselmu tanpa kau hiraukan
tarian ilalang yang seakan mengikuti langkahmu. Di Surabaya kau hempaskan
nafasmu untuk beberapa saat, kau ia kan ajakan pamanmu menjadi seorang
penjahit, pada hal sama sekali kau tak bisa menjahit, nampaknya kau sudah
bulatkan tekat, meski sempat seorang ustadz mengajakmu menjadi seorang pengajar
madrasah di kampung, tapi kau tolak mentah-mentah, kau abaikan seperti semilir
angin berlalu, alasanmu sungguh celaka, kau merasa tak sanggup hidup bergantung
pada uang seratus ribu per-bulan, kau merasa risih jika harus melayari hidup
dengan uang itu,
Belum lagi pikiranmu yang kusut, kau tak suka
berada di tengah-tengah anak madrasah yang kumuh, aroma tubuh mereka yang
sering kali tak sedap, kau muak akan semua itu, sombongmu memang mejulang
melebihi langit yang mengatapimu.
Hari terik harus kau tempuh dalam
ruang sempit, pengah bersahabat dengan tiap helai benang, berpacu tanganmu
dengan gulatan mesin yang bisa saja mencengkram tanganmu jika kau tidak
hati-hati, kau harus menahan keringat mu yang ramai-ramai merintik, kau rasakan
juga sakit pinggang yang amat, kau bodoh, sungguh teramat bodoh.
Denting waktu yang berjalan itu menertawakanmu, sholatmu keriput, bungkuk
tanpa kerangka, sepotong surat yasin kau ganti dengan beberapa batang rokok,
kau lakukan itu di belakang senja, pada hal dulu di pesantren kau akrab
bersahabat dengan yasin, sekarang kau bikin kadaluarsa hingga tak layak
konsumsi, jangankan surat yasin, sepotong Al-fatihah untuk gurunda yang kau
sebut Al-Muallim kau singkirkan jauh-jauh, pada hal bila snece itu kembali di
gelar oleh tuhan, pasti masih lekat dalam ingatanmu. Dalam senja merah
Al-Muallim di panggil-Nya atas sebuah janji. Senja itu kau meraung sejadinya,
tangismu berhambur menjelajahi senja, menitik jatuh bersama tangis santri yang
lain, kelopak matamu merah semerah senja, kau sangat merasa kehilangan sosok
yang kau kagumi, penenang batinmu kala risau, tangis mu begitu panjang hingga
ke tempat peristirahatan terakhirnya, kau genggam abu pemakaman, malam itu kau
benar-benar terkapar dalam hening malam, tangismu kau bawa tidur, tapi rupanya
tangismu palsu, topeng kepalsuan yang akhirnya menitik, meski kau tak
membenarkan tangismu saat itu palsu.
***
Setelah ribuan hari kau lalui dan
menjadi alumni terhitung hanya satu kali kau menemuinya dalam ritual ziarah,
kau teramat asing ketika kau kayuh langkah menghitung kerikil di tempat
terakhirnya, kau membeku dalam siang, terik matahari tak kuasa cairkan bekumu,
pasang mata yang menyoroti membuat mu semakin kaku, hingga air matamu jatuh
perlahan, entah rasa rindu yang menggerogoti atau kau larut dalam kenangan,
jarak, waktu yang tak mampu di retas, kau jadikan alasan mengapa kau tak pernah
mengunjunginya dalam ritual ziarah, ziarahmu dingin, Kamboja putih di tempat
pemakaman saksi ziarahmu.
Di luar kira-kira kau seperti
terkupas di siang terik, hidupmu semakin luntang-lantung, beralih tempat dari
satu kota ke kota lain, kau semakin jauh dari Al-Muallim gurunda tercinta. Ritual
ziarah pun tak pernah kau lakukan, kau lebih suka menghirup bau tanah yang naik
bersama hujan di tanah orang, dari pada menyapa Kamboja putih di pemakaman,
kesuksesan yang kau elu-elukan tak pernah tercapai, bahkan oleh instingmu sendiri.
’’Apa nak, kerja di purwokerto, ibumu tak izinkan kau pergi’’
"Aku kan kerja di situ buat cari uang .."
"Tidak..! Tetap tidak izinkan kau pergi" kau kepak barangmu,
mengayuh langkah cepat meninggalkan pulau garam, rupanya kau tak takut durhaka
seperti Malin Kundang, berkelebat di benakmu teman-teman pesantrenmu yang
sukses. Habibi bersanding dengan putri Kiai, sekarang dia menjadi pengajar
tetap di suatu lembaga pendidikan, sedangkan Sodiq teman yang sering kau ejek,
kau usili semaumu, sukses menjadi seorang pedagang. Kau merasa kalah, merasa
tertinggal, langkahmu seakan di ikuti keterpurukan, langit yang mengatapimu
seakan runtuh, kau memang sering melangkah tapi selalu jatuh, kau memang pandai
berlari tapi bumi yang kau tikam terlalu jauh, hingga kau tak sanggup mengejar,
di Purwokerto kau coba bertahan, meski sehari harus kau lewati dengan susah
payah. Subuh pekat kau harus bangun, memotong daging ayam kecil-kecil, hidup di
rantau memang tak seperti hidup di rumah sendiri, tengah hari baru kau selesai,
istirahatpun sebentar karena kau harus menjual dagangan mu hingga larut malam.
Jadi penjual sate, sungguh kau sendiri tak dapat menjelaskan mengapa jalan
itu yang kau tempuh, kau merasa di perlakukan oleh dirimu sendiri, kau melewati
sesuatu yang tak semestinya kau lewati, kau pengecut, pada hal di malam
tertentu seringkali kau tak kuasa membendung air mata hingga jatuh, berkawah
bintang merintih dalam larut, di bawah langit kau jatuhkan sujud, tapi malaikat
pun tahu tangisan mu seringkali palsu.
***
Daun pagi bergoyang, menari kemana langkah angin bertiup, langit berkabut
putih seperti bulu biri-biri, burung pipit berayun-ayun menertawakanmu, kau
kayuh langkah meski sudut di hati mu semakin kusut, kau kembali ke tanah
kelahiranmu, sejauh bangau terbang pasti akan kembali juga. Itulah engkau,
setelah kau lelah dan merasa kalah serta ambisimu menjadi orang sukses tak
pernah tercapai, kau kembali ke tanah yang kau sebut gersang, tanah dimana kau
pernah habiskan separuh malammu di ladang, menggoreng jangkrik di bawah
purnama, bermain dengan tanaman daun tembakau yang menyengat, kini tanah itu
tak berarti bagimu, tanah yang sangat gersang, tanah yang menggersangkan
hidupmu pula, kau tak harapkan apa-apa lagi, hanya menjadi tempat pijakmu saat
kau merasa bosan di bumi orang. Tujuh hari kau lalui, kau merasa bosan di
Purwokerto, kau kepak barangmu cepat-cepat, kau merasa pekerjaan itu tak level
dengan kau, hampir tak ada yang berubah dari sosokmu, kecuali rambut yang kau
pirang kau suka gonta-ganti warna, memang katamu itu trend, pada hal sama
sekali itu tak pantas bagimu sebagai alumni, tapi itulah engkau, egomu amat
kokoh sekokoh kaki langit.
Di rumah kau hempaskan nafa sesukamu, meski merasa sesak menjalari nalarmu,
kau merasa tak betah di kampung, kau tak suka bertemu mentari yang tiba-tiba
menyelinap tinggi di balik rinai dedaunan saat kau bangun, kau tak suka akan
tarian ilalang yang seringkali menggoresi kakimu saat kau kayuh langkah pagi.
"apa yang di harapkan dari desa yang mati seperti ini" tanyamu setiap
saat.
Kau pun sudah muak akan tingkah orang di sekitarmu, yang menatapmu sinis,
beberapa malam terakhir kuntuman Kamboja putih bertaburan di sekitar pemakaman,
menyerupai barisan menyeruak hingga ke pintu rumahmu hampir saja kau tak
percaya pada hal di sekitar pemakaman tak ada pohon Kamboja. Tengah malam
kamboja putih mulai bertaburan menyeruak dengan wangi menyengat, di bawa angin
malam bertabur hingga ke pintu rumahmu, kau pun semakin terpuruk saat orang di
sekitarmu menuduh engkaulah penganut alisan sesat, kembali kau harus melayari
tangis, di hujat, di caci banyak orang, sakit lebih sakit dari kau harus
luntang lantung di tanah orang, yang kau pijak, kau sama sekali tak merasa
penganut arliran sesat, hal yang tak pernah mungkin bagi mu menjadi penganut
sesat, kau tak pernah mandi kembang tujuh rupa di sekitar pemakaman untuk
mensucikan jiwamu, atau hanya melepaskan niat untuk menuntaskan sholat, sama
sekali kau tak pernah melakukan hal yang mendekati ajaran sesat, meski terhitung
jarang mendirikan sholat, kau tak pernah menuntaskan sholatmu dengan sepotong
niat. Namun, Kamboja putih yang bertaburan di tengah malam ke arah rumahmu,
menuntut agar kau tak mengelak, beberapa pasang mata pun pernah menangkap
bayangmu menabur Kamboja putih, kau tak dapat mengelak saat orang di sekitar
menganggapmu penganut aliran sesat, pada hal kau benar-benar tidak.
Malam bertabur bintang, angin
membelai reranting, kau membuka mata mengatur frekuensi nafas sebentar, kau
takut Kamboja putih kembali bertabur di depan rumah, kau takut orang di
sekitarmu terus menuduhmu penganut aliran sesat, kau idiot, kau hanya pikirkan
anggapan mereka, kau tak pernah pikirkan anggapan Allah tentangmu.
Dalam remang Kamboja putih mulai muncul di sekitar pemakaman, satu persatu
mulai bertabur menyeruak dari dalam tanah, bertabur di sekitar pemakaman
seperti malam sebelumnya, lalu merambat menjalar hingga ke rumahmu tepat di
depan pintu. Kau hampir saja tak percaya apa yang telah tergelar malam itu, di
balik rinai kau saksikan sendiri dengan kelopak matamu, matamu mulai nanar, kau
semakin tak percaya ketika seseorang mirip dirimu menabur beberapa kuntum
Kamboja putih, hingga ke pintu rumah. "Siapa pria penabur Kamboja yang
mirip dengan ku itu" kau bertanya sendiri, kau terperengah di pekat malam,
angin semilir tak kuasa menghiburmu, mendadak kau seperti tercekam, pantas saja
jika orang di sekitar menuduhmu penganut aliran sesat, mereka melihat sosokmu
menabur kumtuman Kamboja putih di tengah malam, di benakmu timpukan sesak
menghampiri, muka orang di sekitarmu yang ganas teriakkan mereka yang
menyuruhmu pergi menjauh dari tanah yang kau anggap gersang.
Kini setelah kerikil hidup tak dapat
kau lalui, kau sungkurkan sujud, kau telat begitu banyak hari yang telah kau
telanjangi, hari-harimu bertelanjang tanpa sholat, doa, tumpukan ikhtiar
senjamu terapung dalam asap rokok, kau hanya membakar ambisimu tak cepat-cepat
menjadi orang sukses, kau memang selalu melangkah tapi selalu jatuh, detik ini
kau pun tak tahu kemana kau harus mengayuh langkah, merasa amat terpuruh di
caci banyak orang, tak mungkin jika kau masih bertahan di tanah kelahiranmu,
tanah yang gersang. Kau kayuh langkah pergi dalam merah senja, perlahan kau tak
kuasa menahan air mata yang jatuh menitik, kau tak kuat lagi mendengar caci
maki orang di sekitarmu, melihat tatapan mereka yang sinis, kau pergi di antara
tarian ilalang.
Kau kembali luntang-lantung di tanah orang, dimana pun bumi yang kau pijak
seperti tak ada yang mengharapkanmu, percuma kau menangis karena tangismu basi.
Kamboja tengah malam kian membuat hidupmu makin terpuruk, kau terusir dari
tanah kelahiranmu sendiri, tak ada yang menginginkanmu, kau merasa terabaikan,
kau terkucilkan. Kau harus belajar dari batu karang, tegak kokoh meski di
permainkan deburan ombak, bercermin pada semilir angin, menyapa reranting
hingga melarutkannya dalam tarian, perihal Kamboja putih yang bertabur tengah
malam menyiksakan tanda tanya di sudut hatimu, sampai sekarang kau tak
menemukan jawabannya, kau tak ambil pusing, lalu apa yang telah kau dapatkan
setelah ribuan hari kau lalui dan menjadi alumni?
Kesuksesan yang kau impikan tak pernah
tercapai, kau tak punya apa-apa, kota yang kau pijaki, tempat mencari uang tak
memberikanmu sesuatu hanya mencercamu diam-diam, menertawakanmu. Sedangkan ilmu
yang kau dapatkan di pesantren, mungkin sudah membusuk, karena tak pernah
terpakai dan telah lama tersimpan, lalu apa yang kau dapatkan setelah
luntang-lantung di tanah orang? Wanita ? Kau tak pernah serius, kau
mondar-mandir dari satu cinta ke cinta yang lain, kau hanya iseng, pada hal
bila kau mengikatnya dengan sebuah ikatan perkawinan, sungguh itu jalan terbaik
dari pada kau tak tentu arah. Tapi egomu memang mendidih, kau merasa tak puas
dengan masa mudamu, kau lebih suka terdampar sendiri di rantau, baru setelah
kau merasa kalah, kau mengingat salah khilaf yang kau lakukan, kau tumpahkan
tangis sejadinya, kau memang pengecut.
Tengah malam kau terbangun di suatu malam,
Kamboja putih kembali bertabur di sekitar tempatmu, putih wangi menyengat,
tanyamu menggelantung, pada hal kau sudah tak di kampung, mengapa kamboja putih
selalu mengikuti kemana kau kayuh langkah ? mendadak kau bersimpuh, kau takut
kejadian di kampung tergelar kembali, kau di tuduh penganut aliran sesat. Kamboja
putih seperti mengintaimu, apa yang ia cari dari sosokmu ! malam itu kau tak
henti bertanya pada langit.
Dalam rayuan senja, ilalang hayut
dalam tarian, mengapa sekawan bangau kembali pulang, tiba saatnya kau
benar-benar terpuruk kalah, terkapar dalam titik terendah, kau kembali mengayuh
langkah menemui tarian ilalang yang sering kali menggores langkahmu, kau pulang
untuk yang kesekian kali setelah kau benar-benar kalah, kau redam ambisimu
untuk menjadi orang sukses, duniawimu sampai sekarang belum kau jamah, kemana
kau selama ini ?
Kau berlari mengejar merah senja, tapi luka yang kau dapatkan, kau bertatih berharap mencapai mentari, namun terik
yang menyengat langkah mu. kasihan kau, kau alumni yang paling malang, tak
mampu memiliki satu pilihan dari kesekian pilihan, berapa rintik air mata yang
kau jatuhkan, namun hanya terbuang percuma, berapa banyak hal yang telah kau
lewati, hingga kau tak pernah menemui Al-Muallimmu dalam ritual ziarah, pada
hal jarak dan waktu telah bisa kau retas, sampai kabar paling ngilu kau dengar,
ketika salah satu putra Al-Muallimmu di panggil-Nya atas sebuah janji kau diam
tak berkutik, kau tolol, kau hanya sibuk luntang-lantung di tanah orang,
mengejar sesuatu yang sulit kau kejar, mengayuh langkah pada hal kau sudah tak
sanggup bertatih, kemana kau selama ini ?
Kini setelah ribuan tahun hari kau lalui, kau datang untuk kedua kali
menemuinya dalam ritual ziarah, kau kayuh langkah menghitung kerikil, reranting
daun lusuh berjatuhan di sekitar pemakaman, seakan menyambutmu setelah ribuan
hari tak datang, kau ciut saat beberapa pasang mata menikammu, perlahan kau tak
kuasa membendung air mata ketika satu persatu jatuh, tumpukan kenangan tentang
Al-Muallim tiba-tiba berkelebat di pikiranmu, di luar kira-kira kau seperti menggala
di tengah hari, kau membeku di siang terik. Ziarahmu dingin, karena kau
dapatkan setelah ribuan hari kau lewati, saat kau benar-benar merasa kalah, dan
atas nama kekalahan kau datang ketika seratus hari berlalu, setelah putra
Al-Muallimmu di panggil-Nya, kau telat, kau lewati sesuatu yang tak semestinya
kau lewati, tangis yang kau tumpahkan takkan mampu merubah dan mengulang hari,
sesalmu hanya jadi olokan reranting, kau kalah dalam sandiwara tuhan, kau tak
mampu berbuat apa-apa saat mengunjunginya dalam ritual ziarah, kau hanya bisa
meleh sesaat tanpa kau sadari, angin mendadak risau di sekitar pemakaman
meruntuhkan dedauanan yang mulai lusuh, menggerakkan sesuatu yang bisa di
gerakkan, mendung tipis perlahan mengatapi simpuhmu, beberapa kuntum Kamboja putih
bertabur di sekitar pemakaman.
Di luar instingmu, putih dengan wangi menyengat menyeruak seakan merangkak
ke arahmu, Kamboja yang selama ini mengikutimu kemana kau kayuh langkah pergi,
ingatanmu kembali mengualang peristiwa Kamboja yang bertaburan tengah malam di
pemakaman kampung hingga kau di tuduh penganut alisan sesat, tapi mengapa
kamboja itu kembali bertabur ? tak lama kau seperti melihat seseorang yang
mirip denganmu muncul di antara taburan kamboja, memunguti kamboja itu
perkuntum, lalu menghilang di antara pikiranmu yang masih risau. Apa yang
sebenarnya kamboja putih cari dari sosok mu ? Apakah ia menuntut agar kau
menemui Al muallimmu dalam ritual ziarah ?
Dalam terik kau
hanya bisa meleleh, ziarah mu dingin, karena kau datang setelah kau benar-benar
kalah.
Every time you feel like you, can not go on,
you feel so lost and that you're so alone
All you see is night and darkness all around,
you feel so helples, you can't see which way to go.
Don't despair and never loose hope, couse
Alloh is always by your side.
Insya Allah you'll find your way. Amein
Tidak ada komentar:
Posting Komentar