Pohon aren bergoyang-goyang, terkoyak kekanan
kiri dipaksa angin malam bergerak mengikuti parodi malam. Dingin semakin
menjadi. Awan–awan hitam menguasai tubuh langit. Tak secuil pun cahaya rembulan
tampak menyinari. Derap langkah kaki sudah tak terdengar. Walaupun suara seruan
heboh para penduduk yang senang bergosip tat kala malam menjelang sudah tak
terdengar lagi, sunyi. Hanya beberapa orang berpakaian hijau tua tampak mondar
mandir, sibuk menjaga keamanan malam.
Angin berbisik memainkan batang batang lusuh
Aren lagi, sebuah gibuk yang masuh tampak sunyi.
''Mas jangan menyalahkan
aku terus dong mas !! Bagimana pun ini semua juga kesalahanmu. Kok kerjanya
hanya marah. Kalo terus-terusan begini kita berhenti saja. Suara perempuan
masuh terdengar nyaring meski masih laun terdengar.
''Kan
kamu yang bertungas menjaga lilin, kalau kamu benar-benar menjaganya pasti
lilin itu takkan mati begitu saja.'' Suara itu terdengar sangat kekar.
''Sudahlah
kalo begini terus antarkan saja aku kerumah abah, aku mau pulang saja, sudah
tak sanggup rasanya hidup tertekan. Dasar lelaki tak bertanggung jawab'' ia
senggugukan, kemudian melanjutkan perkataannya.
''Nyesel
rasanya kawin sama laki-laki yang tak punya apa-apa, bahkan pekerjaanpun tak
punya setiap hari harus mendengar hinaan orang, jadi bahan gosip. Mas tak
pernah tahu mau Narti mas, ingin rasanya absen jadi bahan omongan warga. Setiap
hari Narti harus merasakan hal itu mas !! wes pokoknya balikin aku ke abah atau
aku akan balik sendiri kesana’’ perempuan itu terisak. Pohon aren terus
bergerak gerak bebas menyaksikan mereka berdua. Tak lama sang lelaki mendekati
perempuan tersebut membelai rambutnya dan membiarkan tangisnnya tumpah dalam
pelukan pundak lapang kekarnya.
***
Malam
terus berlanjut dalam jerit angin, lekat makin gelap nampak. Kali ini tanpa
derap kaki terdengar sedikitpun. Beberapa orang hansip yang biasa terjaga juga
mulai terbuai angin yang membawa kantuk, berselimut dengan buntalan sarung
untuk menutupi dingin yang menggigiti kulit mereka. Seorang wanita yang baru
saja menyeka air matanya kini mulai menyalakan lilin dalam gelap yang kini
bersarang dalam gubuk kumuhnya. Disebuah kamar berukuran kecil yang nampak
sangat gelap, lampu petromak sengaja ia matikan. Sementara sang pria mulai
bersiap-siap. Ia dudut di salah satu sudut kamar tak jauh dari daun pintu gubuk
bambu yang bolong-bolong. Mulutnya komat kamit membaca sesuatu. Menggerakan
suatu bacaan yang tak lazim. Tak lama berselang sesuatu yang aneh nampak
terjadi. Ia terlihat gemetar, sang istri yang memperhatikan seakan sudah
terbiasa. Ia tetap tenang menjaga nyala lilin yang baru saja ia sulutkan api
yang terus membakar batang lilin. Malam pun tetap berlanjut
Ia
menatap nanar nyala lilin tersebut dengan mata berkaca-kaca. Tatapannya sepi,
serpihan kesedihan yang lama bertumpuk. Kini mulai timbul bola matanya yang
remang-remang dipenuihi kabut tebal. Pintu jendela terbuka di hembus angin.
Tampak hanya separuh rembulan bertengger di puncak Aren. Ia kemudian
mengalihkan pandangan keluar jendela. Memastikan lelaki yang tadi bersamanya
benar-benar menghilang ditelan malam. Matanya makin meleleh, setengah berharap
laki-laki yang baru saja berlari jauh itu kembali membawa sesuatu yang
berharga.
***
Disenja
merah jambu perempuan itu sempat menangis. Menumpahkan segala keinginan nya
pada umi dan abahnya …
''Laki-laki
seperti apa yang kamu harapkan dan kamu pilih sebagai suami kamu itu ndok ! apa
kamu tidak lihat apa yang ia kerjakan. Tiap malam kerjanya Cuma nongkrong
bergadang. Ia tak punya pekerjaan yang tetap yang bisa kamu banggakan neng..!! Kalo
kamu tetap ngotot untuk hidup dengannya kamu sama anakmu itu mau tak kasih
makan apa ??''
‘’Tapi
abah ! Eneng mencintainya abah, abah tidak mengerti apa yang eneng rasakan sama
mas Hilman . Dan mas Hilman juga sangat mencintai Narti, bah !'' Isak gadis itu
dengan nada tinggi.
''Memang
hidup ini akan bahagia jika hanya bermodal cinta neng. Apa rumah tangga kalian
mau dikasih makan sama cinta. Sadar neng !! dia itu tak pantas untuk kamu''
bola mata abahnya makin memerah, semerah senja. Gadis itu menangis tersedu.
Kemudian
ia berlari keluar rumah menatam awan yang mulai nampak menghitam. Menghindari
tatapan mata yang lain. Tatapan umi yang syahdu. Yang tengah berdiri tak jauh
dari abahnya. Tatapannya makin kusut kelabu, bola matanya tampak mengitari
serabut merah yang makin jelas tak berbekas. Tertegun sesaat kemudian ia
kembali masuk ke dalam kamar.
''Kamu
itu kok bodoh neng, kenapa kamu tolak lamaran pemuda yang silih berganti datang
padamu. Kamu tahu kan mereka, semua orang juga pada tahu Kang Khoiruddin, Ghofur,
Sudur, mereka itu kurang apa neng ? siapa yang tak kenal mereka ? mereka juga
orang baik, jadi apakah yang seperti begajulan tak jelas itu yang kamu mau.
Pemuda awut-awutan yang tak jelas profesinya apa'' dada perempuan itu makin
sesak dibelakang pintu kamar triplek ia menyandarkan tubuhnya. menumpahkan
semua air matanya agar ia puas. Terdengar suara lagi dari luar kamar
''Kamu
dengar neng, takkan ada orang tua yang mau mencelakakan anak-anaknya sendiri.
Semua orang tua itu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.'' suara itu
lamat-lamat hilang.
***
Ia
kembali tersadar dari lamunannya, ditatapnya lilin dihadapannya. Angin
berhembus. Beranjak segera ia menutup jendela kamarnya. Wangi kembang tujuh
rupa menyeruak menyesaki batang hidungnya. Serpihan air matanya lurus turun.
Ingatannya kembali tergelar
''Pokoknya
eneng ingin menikah dengan mas Hilman. Abah tidak pernah tahu bagaimana perasaan
eneng. Eneng cinta sama mas Hilman'' senja merah jambu lagi yang menggelar
bayangan masa lalu nya
''Kalo
cuma masalah cinta, dengan siapapun kamu menikah neng, kamu kelak pasti akan
mencintainya. Bukankah abah sama umimu juga menikah dalam keadaan tidak saling
mencintai neng ! tapi kini kami saling mencintai neng. Dan kamu lahir juga toh
kedunia ini !'' bantah abah tak mau kalah.
''Kalo
pun abah tak setuju dengan kemauan eneng, tak apa, yang penting umi setuju
dengan eneng !!'' ucap gadis itu lagi. Sambil menatap wajah berkerudung
dihadapannya. Dengan penuh harap wanita paaruh baya dihadapannya akan
mengangguk, namun perempuan itu tetap saja diam diam. Tak tahan menahan perih
ia meningalkan mereka. Masuk kedalam kamar.
***
Sesuatu
yang ajaib terjadi, sejumlah uang dan beberapa perhiasan mahal berserakan di
hadapannya membuat perempuan itu terkejut. Ia menggunjing sebuah senyum.
Ditatapnya kembali lilin keberuntungannya. Segerapun ia berlari menuju ambang
pintu, membukanya perlahan dengan senyum tak henti diwajahnya. Ia kemudian
menatap remang-remang gelap di hadapan rumahnya. Sesuatu bergerak-gerak
diantara semak belukar perkebunan aren. Ia berlari lagi kedalam rumah. Kali ini
ia memadamkan lilin dihadapannya, langkahnya kemudian ia seret kembali ke ambang
pintu. Suaminya telah nampak. merangkul dan memeluk tubuhnya. Ia tersenyum lagi
walau batinya menolak.
Cicit
burung pagi berceloteh, seakan mengatur dzikir dalam denyut pagi yang masih
bertabur titik embun mondar mandir diudara menyambut panas mentari yang akan
segera muncul.
Beberapa
orang penduduk berlarian menyerbu tukang sayur, tugas saban hari yang mesti
terjadi. Berburu bahan belanja, juga bahan gossip yang masih hangat. Namun kali
ini nampaknya ada sesuatu yang istimewa. Mereka digegerkan dengan sebuah berita
heboh.
''Astaga-naga
rumah Haji Maimun digondol maling, syukuur dech…!!'' seorang perempuan berambut
pendek memonyong-monyongkan mulut tebalnya.
''Yang
saya dengar sih begitu !'' ucap ringkas si tukang sayur sambil mengkipas kipas
batang kangkung yang masih terlihat segar.
''Tapi
yak ok aneh yang bu?'' tukasnya lagi
''Aneh
gimana yang bang '' imbuh yang lain bersemangat.
''Ya aneh
saja, bukankah setiap malam ada satpam yang menjaga rumah mewah itu, pake pagar
besi lagi. Juga kan disekitar samping rumah itu dipasang tembok besar pake
kawat berduri lagi, kan aneh. Bagaimana bisa maling itu dengan mudahnya keluar
masuk rumah itu dengan sangat mudahnya, tanpa jejak sedikitpun lagi. Itu kan
tak masuk diakal'' ucap tukang sayur itu panjang lebar.
''Itu sih
saya malah bersyukur bang ! haji Maksum itu kan orangnya kaya, sudah naik haji
tiga kali pula, Eh, bukannya jadi orang yang dermawan malah pelitnya minta
ampun, sambong lagi. Pokoknya biar saja deh orang seperti dia rumahnya dibobol
maling, kalo perlu biar jatuh miskin orang seperti dia. Masak haji kelakuannya
kok seperti itu !!'' tak mau kalah seorang ibu-ibu berkomertar pedas.
''Eh ibu
tadak boleh bicara seperti itu, seharusnya kita itu kan prihatin sama mereka''
tambah yang lain lagi.
''Tapi
kalo dipikir-pikir aneh juga ya bang, kok bisa malingnya lolos begitu saja
tanpa jejak sedikit pun. Jangan-jangan bukannya maling, kampung kita ini ada
yang piara tuyul, kalo benar begitu kita harus ekstra waspada ini'' ucap si
ramput pendek.
''Tuyul
?? jangan dech…!! Amit-amit cabang Upin-Ipin''
''Jangan-jangan
si orang baru itu lagi''
''Siapa
bu? itu lho, Hilman dan Narti mereka itu kan gembel kelas kakap'' celoteh si
rambut pendek lagi.
'' Kalau
begitu kita harus bertindak cepat ni'' ucap yang lain
''Ya
udahlah, saya belanja ini dulu yang bang, tapi utang dulu ya'' salah seorang
ibu menyudahi.
''Saya
juga deh bang, makasih beritanya ya bang..!'' si rambut pendek bersiap pergi.
Sang penjual sayur mengusap-usap topi lusuhnya.
***
Di lain
tempat seorang perempuan menangis, ia menghampiri lelaki yang sedang sibuk
menghisap batang rokok lintingnya, dilihatnya perempuan itu, kelopak matanya
sembab.
''Narti,
ada apa denganmu neng ?'' ucap lelaki disamping nya.
''Narti
kangen sama abah dan umi mas. Ucap gadis itu mengusap air matanya.
''Sudahlah
narti lupakan saja mereka jangan kamu ingat-ingat lagi. Mereka kan sudah
merelakan kamu ikut dengan ku'' ucap lelaki itu seraya membelai rambut panjang
gadis disampingnya itu.
''Abang
tak pernah tau bangiamana perasaan Narti, Narti anak satu-satunya yang mereka
miliki bang, lagi pula sekarang narti sudah bosan hidup dalam ketakutan seperti
ini mas. Narti juga tak sanggup lagi dengan omongan warga kampung ini pada
kita, Narti tak bisa terus terusan begini. Narti ingin hidup normal mas,
seperti keluarga yang lain mas, mas ngerti kan perasaan Narti'' gadis itu
senggugukan. Air matanya meleleh .
''Narti,
abang tahu kehidupan yang kamu inginkan neng, kamu juga tahu abang sangat
mencintai mu lebih dari apapun, apapun pilihan Narti akan abang turuti demi
kebahagiaan mu Narti, abang tak mau lagi kamu menangis neng, abang sangat
mencintai mu neng..'' sanggup lelaki itu sambil mendekap tubuh Narti.
Beberap hari sebelumnya.
Burung-burung
pipit masih berceloteh diantara rumput liar saat perempuan itu melangkahkan
kaki gontai dijalan setapak kampung. Ia melangkah dengan menundukan wajahnya.
Tas berisi baju dan beberapa bahan makanan ia tenteng dengan renyah. Beberapa
pasang mata menatapnya sinis. Ia tetap melangkahkan kainya.
''Lihat
ibu-ibu, ngak biasanya perempuan gembel itu belanja sebanyak itu. Buakannya ia
itu keluarga yang banyak utang ya. Pasti hasil dari piara tuyul tu ibu-ibu..!!
amit-amit cabang Upin-Ipin'' si rambut pendek memanyun-manyunkan bibirnya
dengan kipas bambu yang ia kebas-kebaskan kewajah penuh jerawatnya.
''Kasian
ya bu gembel hidupnya selalu susah. Ingin hidup enak harus piara tuyul..
ha…ha…ha…'' cibir yang lain lagi. Narti tersentak, tak terasa air matanya jatuh
menetes, wajahnya menoleh sesaat keasal suara, tangisnya tumpah.
Ia melangkah dengan mata berair –
***
Malam
beranjak penuh kepermukaan langit, beberapa binatang binatang kecil beterbangan
mencari cahaya terang. Narti menatap wajah yang kini ada dihadapannya. Sorot matanya
mengandung luka yang amat berat. Berat sekali
Baru saja
ia mendengar lagi permohonan yang sulit untuk ia kabulkan dari lelaki dihadapannya
itu. Persis seperti malam-malam sebelumnya.
‘’Abang
mohon pengertian kamu neng, abang mohon kerelaan kamu malam ini saja. Abang
janji abang tak akan meengulangi hal ini lagi. Abang janji akan berhenti. Kita
bisa cari pekerjaan lain dan bisa pindah jauh dari sini. Kita mulai semuanya
dari awal lagi. Abang yakin malam ini akan berhasil, ini juga kan untuk modal usaha
kita kelak, untuk anak-anak kita. Abang mohon ini adalah yang terakhir Narti,
yang terakhir kalinya’’ ucap suara pria itu memohon. Tetap dengan sorot mata
yang tak mampu Narti menolaknya. Tangan lelaki itu mengusap-usap perut Narti
yang makin membuncit. Hingga membuat Narti terpaksa tersenyum, ia menganggukkan
wajahnya pelan. Membuat pria di hadapannya bergegas cepat sebelum ia mengecup
kening Narti.
Sedangkan
perempuan itu kini melangkah, membalikkan tubuhnya masuk kedalam rumah. Ia
mengambil peralatan yang ia perlukan, tak lupa ia juga mulai menyalakan batang
lilin seraya menatap wajah di hadapannya. Wajah Hilman kini tercahayai cahaya
lilin, membuat Narti kini menghambur ke hadapannya dan memeluk lelaki itu erat.
‘’Hati-hati
bang, doa Narti selalu bersamamu’’ ucapnya lirih.
Lelaki
itu mulai keluar, setengah berlari menuju belukar, hingga ia merasakan sesuatu
yang terjadi padanya, tubuhnya mengecil, dan pandangannya makin peka terhadap
sesuatu, kini ia bisa leluasa bergerak dan membelokkan tubuhnya dengan mudah,
berlari dan menghilang dalam sekejap. Menghambat waktu dan menyelinap dalam
gelap.
Kini ia
sudah berada rumah mewah, yang telah menjadi targetnya kali ini. Ia menahan
pandangannya kebeberapa sudut, menerka tempat teraman yang akan ia lalui. Beberapa
orang penjaga yang sedang bermain kartu dan seorang lagi yang berkeliling
sambil membawa secangkir kopi pahit, mungkin untuk membuat matanya tetap melek,
agar tak mudah terbuai malam. Segera ia berputar-putar dan mengendus-enduskan
kepalanya ketanah, juga beberapa kakinya yang di hentak-hentakkan. Sampai
kemudian hal aneh pun mulai terjadi.
Entah
apa, angin mulai berhembus berbeda, rasa kantuk tiba-tiba menyerang mereka yang
sedang berjaga. Beberapa kali mereka terlihat menguap. Dan menundukkan pandangan
yang mereka tahan untuk terbuka.
Sosok
Hilman kini dengan leluasa berlari dan merangkak masuk melewati lubang yang
amat kecil, namun tak apa ! ia sudah dapat membentuk tubuhnya dengan cepat.
Hingga dengan mudah ia melewati penjaga tanpa rasa sulit. Dengan sangat lekas
pula ia masuk kedalam rumah mewah tersebut sambil memekakan penglihatannya.
Disemua sudut ia periksa, dan ia yakin seperti sebelumnya, dalam sebuah lemari
papan kayu ia merasakan apa yang ia cari ada disana.
Sedang
di lain tempat perempuan itu komat-kamit membaca sesuatu, bibirnya gemeretak.
Ia juga berdoa dalam hati, entah pada siapa. Ia mungkin sudah lupa cara berdoa.
Beberapa detik kemudian ia labuhkan pandangannya keluar, langit tampak hitam
tebal dan angin tak henti menghembus kencang. Entah mengapa malam ini ia nampak
sangat gamang. Ia khawatir akan nasib suaminya, resah mulai menyergapnya entah
dari mana rasa itu seakan memaksanya untuk menyusul suaminya. Ia terus menatap
lilin dihadapannya dengan dada bergemuruh. Rasa cemas itu tak sedikitpun hilang
meski ia berusaha untuk tetap tenang, seiring angin yang terus berhembus, desah
nafasnya tak kunjung sirna.
Ia
bangkit seketika dan membuka pintu rumah. Melangkahkan kakinya dengan cepat.
Tak jauh, ia membalikkan wajahnya kebelakang, lilin yang sedari tadi di jaganya
kini tertiup angin, padam seketika. Hanya gempulan sedikit asap tertahan
diatasnya. Ia tersentak.
Perempuan
itu menjerit sejadinya, ia sadar apa yang telah terjadi, sesuatu akan terjadi
menimpa suaminya. Sesuatu yang tidak ia inginkan sama sekali.
Ia
mencoba berlari sekuat tenaga, menyusup dalam malam di antara belukar yang kian
menjalar, lukanya kini telah menjalari para belukar malam, yang akan segera
menelan tubuhnya, kakinya tak mau berhenti hingga ia menemukan kemana suaminya
pergi, tangis terus berderai mengikuti ayunan langkahnya. Sesekali ia seka air
mata yang tak henti mengalir. Ia berjalan tanpa rasa takut sekalipun, ia merasa
menyesal telah membiarkan suaminya pergi, terlebih saat ia menyetujui awal
ketika suaminya meminta diri untuk pergi ke gunung Kidul, mencari pesugiahan.
Tepat saat senja diawal langit mulai merah seperti jambu. Awal dimana
kehidupannya mulai hitam. Yang menyebabkan ini semua terjadi. Kaya dengan cepat
dengan harta yang terus mengalir, hingga sholat yang iua tegakkan ia
tanggalkan, puasa senin kamis yang sering sekali ia lakukan hanya jadi cerita
lama, ia telah korbankan semuanya, dan kini hanya ada tangis yang berbuah
didadanya.
Ia
terhenti, saat ia mendapati keramaian penduduk yang sedang mengejar, derap
langkah yang membuat malam tak lagi sunyi, ia melihat jelas mereka marah
seperti merah awal malam, mengumpat, melempar, menghujam sesuatu yang berlari
di depannya dengan penuh amarah.
‘’Kejar…’’
‘’Bunuuuuhh…
!!’’ mereka berteriak.
‘’Kejar…
bunuh dia ! jangan biar kan ia berkeliaran lagi !’’ seseorang menyuarak seraya
melempar sebuah batang kayu.
‘’Bunuh jangan
biar kan babi itu lolos’’
‘’Babi
..’’ ucap yang lain lagi, dengan nada tinggi.
‘’Kejar…’’
‘’Bunuuuuhh…
!!’’ mereka semua berteriak.
‘’Bakar saja
sampai gosong !!’’ ucap yang lain lagi
Sedangkan
perempuan itu terus menangis. Ia melihat dengan jelas semua kejadian itu
tergelar di hadapannya. Ia melihat suaminya telah tidak berdaya. Hingga wujudnya
kembali seperti semula. Dengan wajah penuh luka, darah bercecer di mana-mana,
ia melihat seseorang penduduk yang membawa parang menusuk dada suaminya sambil
mencincang lengannya. Tangisnya makin pecah. Tak henti air matanya mengalir.
Sangat deras.
Di balik
rimbun dedaunan pohon, ia berdiri sambil menahan tangis. Hingga ia sadar
sesosok mata menangkap tubuhnya yang tengah bersembunyi. Sesosok yang sedari
tadi menahan amarah bersama ratusan warga.
Tersentak,
ia berlari menjauh, kikuk badannya sulit untuk digerakkan. Ia sadar kali ini ia
akan jadi sasaran selanjutnya. Menjadi amukan warga yang telah kalap dimakan
api amarah, ia mencoba untuk berlari. Namun ia terjatuh, akar pepohonan
membantunya untuk terjatuh. Ia terkapar ditanah, sepintas mengingat wajah umi
dan abah yang kini tersenyum padanya, ia mencoba bangkit lagi, mengayun langkah
dalam gelap. Seraya berdoa memohon ampun pada tuhan, atau entah pada siapa. Ia
ingat betul dulu abah yang mengajarinya baca dua kalimat syahadat waktu kecil,
sambil ia berlari ditengah kejaran warga yang terus mengejar. Ia ingin
bertobat, namun apakah taubatnya diterima di saat seperti ini, seperti di saat
Fir’aun tenggelam dalam kematian di mulut laut merah.
Apakah
Alloh akan mengampuninya, karena saat ini ia benar-benar menyesal meminta
ampunan.
Ya ! ia berhasil membaca dua kalimat syahadat
seperti petuah abahnya dahulu, namun kali ini Narti merasakan perih, belati
tajam kini menembus perut buncitnya. Apakah Alloh akan mengampuninya ?
Ia mengingat saat ia kabur lari dari dekapan
umi dan abahnya, saat langit semerah jambu. Untuk menikah dengan Hilman. Kini
ia berharab hal yang sama, ia ingin lari, namun yang ia tangkap hanya gelap
dilangit, tak ada langit merah jambu yang dulu merona tersenyum padanya. Kemana
langit merah jambu itu, langit yang ia anggap selalu memberikan harapan
padanya, kini narti tak menemukannya.
Hanya tangan tangan kasar yang kini mulai menyergap
ingin menusukkan mulut monyong sebuah belati.
Dan ia terus berlari, berharap masih bisa
selamat.
* Mkd Aan's
2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar