Minggu, 27 April 2014

Disaat Langit Merah Jambu

Pohon aren bergoyang-goyang, terkoyak kekanan kiri dipaksa angin malam bergerak mengikuti parodi malam. Dingin semakin menjadi. Awan–awan hitam menguasai tubuh langit. Tak secuil pun cahaya rembulan tampak menyinari. Derap langkah kaki sudah tak terdengar. Walaupun suara seruan heboh para penduduk yang senang bergosip tat kala malam menjelang sudah tak terdengar lagi, sunyi. Hanya beberapa orang berpakaian hijau tua tampak mondar mandir, sibuk menjaga keamanan malam.

Angin berbisik memainkan batang batang lusuh Aren lagi, sebuah gibuk yang masuh tampak sunyi.

''Mas jangan menyalahkan aku terus dong mas !! Bagimana pun ini semua juga kesalahanmu. Kok kerjanya hanya marah. Kalo terus-terusan begini kita berhenti saja. Suara perempuan masuh terdengar nyaring meski masih laun terdengar.

''Kan kamu yang bertungas menjaga lilin, kalau kamu benar-benar menjaganya pasti lilin itu takkan mati begitu saja.'' Suara itu terdengar sangat kekar.

''Sudahlah kalo begini terus antarkan saja aku kerumah abah, aku mau pulang saja, sudah tak sanggup rasanya hidup tertekan. Dasar lelaki tak bertanggung jawab'' ia senggugukan, kemudian melanjutkan perkataannya.

''Nyesel rasanya kawin sama laki-laki yang tak punya apa-apa, bahkan pekerjaanpun tak punya setiap hari harus mendengar hinaan orang, jadi bahan gosip. Mas tak pernah tahu mau Narti mas, ingin rasanya absen jadi bahan omongan warga. Setiap hari Narti harus merasakan hal itu mas !! wes pokoknya balikin aku ke abah atau aku akan balik sendiri kesana’’ perempuan itu terisak. Pohon aren terus bergerak gerak bebas menyaksikan mereka berdua. Tak lama sang lelaki mendekati perempuan tersebut membelai rambutnya dan membiarkan tangisnnya tumpah dalam pelukan pundak lapang kekarnya.

***

Malam terus berlanjut dalam jerit angin, lekat makin gelap nampak. Kali ini tanpa derap kaki terdengar sedikitpun. Beberapa orang hansip yang biasa terjaga juga mulai terbuai angin yang membawa kantuk, berselimut dengan buntalan sarung untuk menutupi dingin yang menggigiti kulit mereka. Seorang wanita yang baru saja menyeka air matanya kini mulai menyalakan lilin dalam gelap yang kini bersarang dalam gubuk kumuhnya. Disebuah kamar berukuran kecil yang nampak sangat gelap, lampu petromak sengaja ia matikan. Sementara sang pria mulai bersiap-siap. Ia dudut di salah satu sudut kamar tak jauh dari daun pintu gubuk bambu yang bolong-bolong. Mulutnya komat kamit membaca sesuatu. Menggerakan suatu bacaan yang tak lazim. Tak lama berselang sesuatu yang aneh nampak terjadi. Ia terlihat gemetar, sang istri yang memperhatikan seakan sudah terbiasa. Ia tetap tenang menjaga nyala lilin yang baru saja ia sulutkan api yang terus membakar batang lilin. Malam pun tetap berlanjut

Ia menatap nanar nyala lilin tersebut dengan mata berkaca-kaca. Tatapannya sepi, serpihan kesedihan yang lama bertumpuk. Kini mulai timbul bola matanya yang remang-remang dipenuihi kabut tebal. Pintu jendela terbuka di hembus angin. Tampak hanya separuh rembulan bertengger di puncak Aren. Ia kemudian mengalihkan pandangan keluar jendela. Memastikan lelaki yang tadi bersamanya benar-benar menghilang ditelan malam. Matanya makin meleleh, setengah berharap laki-laki yang baru saja berlari jauh itu kembali membawa sesuatu yang berharga.

***

Disenja merah jambu perempuan itu sempat menangis. Menumpahkan segala keinginan nya pada umi dan abahnya …

''Laki-laki seperti apa yang kamu harapkan dan kamu pilih sebagai suami kamu itu ndok ! apa kamu tidak lihat apa yang ia kerjakan. Tiap malam kerjanya Cuma nongkrong bergadang. Ia tak punya pekerjaan yang tetap yang bisa kamu banggakan neng..!! Kalo kamu tetap ngotot untuk hidup dengannya kamu sama anakmu itu mau tak kasih makan apa ??'' 

‘’Tapi abah ! Eneng mencintainya abah, abah tidak mengerti apa yang eneng rasakan sama mas Hilman . Dan mas Hilman juga sangat mencintai Narti, bah !'' Isak gadis itu dengan nada tinggi.

''Memang hidup ini akan bahagia jika hanya bermodal cinta neng. Apa rumah tangga kalian mau dikasih makan sama cinta. Sadar neng !! dia itu tak pantas untuk kamu'' bola mata abahnya makin memerah, semerah senja. Gadis itu menangis tersedu.

Kemudian ia berlari keluar rumah menatam awan yang mulai nampak menghitam. Menghindari tatapan mata yang lain. Tatapan umi yang syahdu. Yang tengah berdiri tak jauh dari abahnya. Tatapannya makin kusut kelabu, bola matanya tampak mengitari serabut merah yang makin jelas tak berbekas. Tertegun sesaat kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar.

''Kamu itu kok bodoh neng, kenapa kamu tolak lamaran pemuda yang silih berganti datang padamu. Kamu tahu kan mereka, semua orang juga pada tahu Kang Khoiruddin, Ghofur, Sudur, mereka itu kurang apa neng ? siapa yang tak kenal mereka ? mereka juga orang baik, jadi apakah yang seperti begajulan tak jelas itu yang kamu mau. Pemuda awut-awutan yang tak jelas profesinya apa'' dada perempuan itu makin sesak dibelakang pintu kamar triplek ia menyandarkan tubuhnya. menumpahkan semua air matanya agar ia puas. Terdengar suara lagi dari luar kamar

''Kamu dengar neng, takkan ada orang tua yang mau mencelakakan anak-anaknya sendiri. Semua orang tua itu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.'' suara itu lamat-lamat hilang.

***

Ia kembali tersadar dari lamunannya, ditatapnya lilin dihadapannya. Angin berhembus. Beranjak segera ia menutup jendela kamarnya. Wangi kembang tujuh rupa menyeruak menyesaki batang hidungnya. Serpihan air matanya lurus turun. Ingatannya kembali tergelar

''Pokoknya eneng ingin menikah dengan mas Hilman. Abah tidak pernah tahu bagaimana perasaan eneng. Eneng cinta sama mas Hilman'' senja merah jambu lagi yang menggelar bayangan masa lalu nya

''Kalo cuma masalah cinta, dengan siapapun kamu menikah neng, kamu kelak pasti akan mencintainya. Bukankah abah sama umimu juga menikah dalam keadaan tidak saling mencintai neng ! tapi kini kami saling mencintai neng. Dan kamu lahir juga toh kedunia ini !'' bantah abah tak mau kalah.

''Kalo pun abah tak setuju dengan kemauan eneng, tak apa, yang penting umi setuju dengan eneng !!'' ucap gadis itu lagi. Sambil menatap wajah berkerudung dihadapannya. Dengan penuh harap wanita paaruh baya dihadapannya akan mengangguk, namun perempuan itu tetap saja diam diam. Tak tahan menahan perih ia meningalkan mereka. Masuk kedalam kamar.

***

Sesuatu yang ajaib terjadi, sejumlah uang dan beberapa perhiasan mahal berserakan di hadapannya membuat perempuan itu terkejut. Ia menggunjing sebuah senyum. Ditatapnya kembali lilin keberuntungannya. Segerapun ia berlari menuju ambang pintu, membukanya perlahan dengan senyum tak henti diwajahnya. Ia kemudian menatap remang-remang gelap di hadapan rumahnya. Sesuatu bergerak-gerak diantara semak belukar perkebunan aren. Ia berlari lagi kedalam rumah. Kali ini ia memadamkan lilin dihadapannya, langkahnya kemudian ia seret kembali ke ambang pintu. Suaminya telah nampak. merangkul dan memeluk tubuhnya. Ia tersenyum lagi walau batinya menolak.

Cicit burung pagi berceloteh, seakan mengatur dzikir dalam denyut pagi yang masih bertabur titik embun mondar mandir diudara menyambut panas mentari yang akan segera muncul.

Beberapa orang penduduk berlarian menyerbu tukang sayur, tugas saban hari yang mesti terjadi. Berburu bahan belanja, juga bahan gossip yang masih hangat. Namun kali ini nampaknya ada sesuatu yang istimewa. Mereka digegerkan dengan sebuah berita heboh.

''Astaga-naga rumah Haji Maimun digondol maling, syukuur dech…!!'' seorang perempuan berambut pendek memonyong-monyongkan mulut tebalnya.

''Yang saya dengar sih begitu !'' ucap ringkas si tukang sayur sambil mengkipas kipas batang kangkung yang masih terlihat segar.

''Tapi yak ok aneh yang bu?'' tukasnya lagi

''Aneh gimana yang bang '' imbuh yang lain bersemangat.

''Ya aneh saja, bukankah setiap malam ada satpam yang menjaga rumah mewah itu, pake pagar besi lagi. Juga kan disekitar samping rumah itu dipasang tembok besar pake kawat berduri lagi, kan aneh. Bagaimana bisa maling itu dengan mudahnya keluar masuk rumah itu dengan sangat mudahnya, tanpa jejak sedikitpun lagi. Itu kan tak masuk diakal'' ucap tukang sayur itu panjang lebar.

''Itu sih saya malah bersyukur bang ! haji Maksum itu kan orangnya kaya, sudah naik haji tiga kali pula, Eh, bukannya jadi orang yang dermawan malah pelitnya minta ampun, sambong lagi. Pokoknya biar saja deh orang seperti dia rumahnya dibobol maling, kalo perlu biar jatuh miskin orang seperti dia. Masak haji kelakuannya kok seperti itu !!'' tak mau kalah seorang ibu-ibu berkomertar pedas.

''Eh ibu tadak boleh bicara seperti itu, seharusnya kita itu kan prihatin sama mereka'' tambah yang lain lagi.

''Tapi kalo dipikir-pikir aneh juga ya bang, kok bisa malingnya lolos begitu saja tanpa jejak sedikit pun. Jangan-jangan bukannya maling, kampung kita ini ada yang piara tuyul, kalo benar begitu kita harus ekstra waspada ini'' ucap si ramput pendek.

''Tuyul ?? jangan dech…!! Amit-amit cabang Upin-Ipin''         

''Jangan-jangan si orang baru itu lagi''

''Siapa bu? itu lho, Hilman dan Narti mereka itu kan gembel kelas kakap'' celoteh si rambut pendek lagi.

'' Kalau begitu kita harus bertindak cepat ni'' ucap yang lain

''Ya udahlah, saya belanja ini dulu yang bang, tapi utang dulu ya'' salah seorang ibu menyudahi.

''Saya juga deh bang, makasih beritanya ya bang..!'' si rambut pendek bersiap pergi. Sang penjual sayur mengusap-usap topi lusuhnya.

***

Di lain tempat seorang perempuan menangis, ia menghampiri lelaki yang sedang sibuk menghisap batang rokok lintingnya, dilihatnya perempuan itu, kelopak matanya sembab.

''Narti, ada apa denganmu neng ?'' ucap lelaki disamping nya.

''Narti kangen sama abah dan umi mas. Ucap gadis itu mengusap air matanya.

''Sudahlah narti lupakan saja mereka jangan kamu ingat-ingat lagi. Mereka kan sudah merelakan kamu ikut dengan ku'' ucap lelaki itu seraya membelai rambut panjang gadis disampingnya itu.

''Abang tak pernah tau bangiamana perasaan Narti, Narti anak satu-satunya yang mereka miliki bang, lagi pula sekarang narti sudah bosan hidup dalam ketakutan seperti ini mas. Narti juga tak sanggup lagi dengan omongan warga kampung ini pada kita, Narti tak bisa terus terusan begini. Narti ingin hidup normal mas, seperti keluarga yang lain mas, mas ngerti kan perasaan Narti'' gadis itu senggugukan. Air matanya meleleh .

''Narti, abang tahu kehidupan yang kamu inginkan neng, kamu juga tahu abang sangat mencintai mu lebih dari apapun, apapun pilihan Narti akan abang turuti demi kebahagiaan mu Narti, abang tak mau lagi kamu menangis neng, abang sangat mencintai mu neng..'' sanggup lelaki itu sambil mendekap tubuh Narti.



Beberap hari sebelumnya.

Burung-burung pipit masih berceloteh diantara rumput liar saat perempuan itu melangkahkan kaki gontai dijalan setapak kampung. Ia melangkah dengan menundukan wajahnya. Tas berisi baju dan beberapa bahan makanan ia tenteng dengan renyah. Beberapa pasang mata menatapnya sinis. Ia tetap melangkahkan kainya.

''Lihat ibu-ibu, ngak biasanya perempuan gembel itu belanja sebanyak itu. Buakannya ia itu keluarga yang banyak utang ya. Pasti hasil dari piara tuyul tu ibu-ibu..!! amit-amit cabang Upin-Ipin'' si rambut pendek memanyun-manyunkan bibirnya dengan kipas bambu yang ia kebas-kebaskan kewajah penuh jerawatnya.

''Kasian ya bu gembel hidupnya selalu susah. Ingin hidup enak harus piara tuyul.. ha…ha…ha…'' cibir yang lain lagi. Narti tersentak, tak terasa air matanya jatuh menetes, wajahnya menoleh sesaat keasal suara, tangisnya tumpah.

Ia melangkah dengan mata berair –

***

            Malam beranjak penuh kepermukaan langit, beberapa binatang binatang kecil beterbangan mencari cahaya terang. Narti menatap wajah yang kini ada dihadapannya. Sorot matanya mengandung luka yang amat berat. Berat sekali

Baru saja ia mendengar lagi permohonan yang sulit untuk ia kabulkan dari lelaki dihadapannya itu. Persis seperti malam-malam sebelumnya.

‘’Abang mohon pengertian kamu neng, abang mohon kerelaan kamu malam ini saja. Abang janji abang tak akan meengulangi hal ini lagi. Abang janji akan berhenti. Kita bisa cari pekerjaan lain dan bisa pindah jauh dari sini. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Abang yakin malam ini akan berhasil, ini juga kan untuk modal usaha kita kelak, untuk anak-anak kita. Abang mohon ini adalah yang terakhir Narti, yang terakhir kalinya’’ ucap suara pria itu memohon. Tetap dengan sorot mata yang tak mampu Narti menolaknya. Tangan lelaki itu mengusap-usap perut Narti yang makin membuncit. Hingga membuat Narti terpaksa tersenyum, ia menganggukkan wajahnya pelan. Membuat pria di hadapannya bergegas cepat sebelum ia mengecup kening Narti.

            Sedangkan perempuan itu kini melangkah, membalikkan tubuhnya masuk kedalam rumah. Ia mengambil peralatan yang ia perlukan, tak lupa ia juga mulai menyalakan batang lilin seraya menatap wajah di hadapannya. Wajah Hilman kini tercahayai cahaya lilin, membuat Narti kini menghambur ke hadapannya dan memeluk lelaki itu erat.

‘’Hati-hati bang, doa Narti selalu bersamamu’’ ucapnya lirih.

Lelaki itu mulai keluar, setengah berlari menuju belukar, hingga ia merasakan sesuatu yang terjadi padanya, tubuhnya mengecil, dan pandangannya makin peka terhadap sesuatu, kini ia bisa leluasa bergerak dan membelokkan tubuhnya dengan mudah, berlari dan menghilang dalam sekejap. Menghambat waktu dan menyelinap dalam gelap.

Kini ia sudah berada rumah mewah, yang telah menjadi targetnya kali ini. Ia menahan pandangannya kebeberapa sudut, menerka tempat teraman yang akan ia lalui. Beberapa orang penjaga yang sedang bermain kartu dan seorang lagi yang berkeliling sambil membawa secangkir kopi pahit, mungkin untuk membuat matanya tetap melek, agar tak mudah terbuai malam. Segera ia berputar-putar dan mengendus-enduskan kepalanya ketanah, juga beberapa kakinya yang di hentak-hentakkan. Sampai kemudian hal aneh pun mulai terjadi.

Entah apa, angin mulai berhembus berbeda, rasa kantuk tiba-tiba menyerang mereka yang sedang berjaga. Beberapa kali mereka terlihat menguap. Dan menundukkan pandangan yang mereka tahan untuk terbuka.

            Sosok Hilman kini dengan leluasa berlari dan merangkak masuk melewati lubang yang amat kecil, namun tak apa ! ia sudah dapat membentuk tubuhnya dengan cepat. Hingga dengan mudah ia melewati penjaga tanpa rasa sulit. Dengan sangat lekas pula ia masuk kedalam rumah mewah tersebut sambil memekakan penglihatannya. Disemua sudut ia periksa, dan ia yakin seperti sebelumnya, dalam sebuah lemari papan kayu ia merasakan apa yang ia cari ada disana.

            Sedang di lain tempat perempuan itu komat-kamit membaca sesuatu, bibirnya gemeretak. Ia juga berdoa dalam hati, entah pada siapa. Ia mungkin sudah lupa cara berdoa. Beberapa detik kemudian ia labuhkan pandangannya keluar, langit tampak hitam tebal dan angin tak henti menghembus kencang. Entah mengapa malam ini ia nampak sangat gamang. Ia khawatir akan nasib suaminya, resah mulai menyergapnya entah dari mana rasa itu seakan memaksanya untuk menyusul suaminya. Ia terus menatap lilin dihadapannya dengan dada bergemuruh. Rasa cemas itu tak sedikitpun hilang meski ia berusaha untuk tetap tenang, seiring angin yang terus berhembus, desah nafasnya tak kunjung sirna.

Ia bangkit seketika dan membuka pintu rumah. Melangkahkan kakinya dengan cepat. Tak jauh, ia membalikkan wajahnya kebelakang, lilin yang sedari tadi di jaganya kini tertiup angin, padam seketika. Hanya gempulan sedikit asap tertahan diatasnya. Ia tersentak.

Perempuan itu menjerit sejadinya, ia sadar apa yang telah terjadi, sesuatu akan terjadi menimpa suaminya. Sesuatu yang tidak ia inginkan sama sekali.

Ia mencoba berlari sekuat tenaga, menyusup dalam malam di antara belukar yang kian menjalar, lukanya kini telah menjalari para belukar malam, yang akan segera menelan tubuhnya, kakinya tak mau berhenti hingga ia menemukan kemana suaminya pergi, tangis terus berderai mengikuti ayunan langkahnya. Sesekali ia seka air mata yang tak henti mengalir. Ia berjalan tanpa rasa takut sekalipun, ia merasa menyesal telah membiarkan suaminya pergi, terlebih saat ia menyetujui awal ketika suaminya meminta diri untuk pergi ke gunung Kidul, mencari pesugiahan. Tepat saat senja diawal langit mulai merah seperti jambu. Awal dimana kehidupannya mulai hitam. Yang menyebabkan ini semua terjadi. Kaya dengan cepat dengan harta yang terus mengalir, hingga sholat yang iua tegakkan ia tanggalkan, puasa senin kamis yang sering sekali ia lakukan hanya jadi cerita lama, ia telah korbankan semuanya, dan kini hanya ada tangis yang berbuah didadanya.

Ia terhenti, saat ia mendapati keramaian penduduk yang sedang mengejar, derap langkah yang membuat malam tak lagi sunyi, ia melihat jelas mereka marah seperti merah awal malam, mengumpat, melempar, menghujam sesuatu yang berlari di depannya dengan penuh amarah.

‘’Kejar…’’

‘’Bunuuuuhh… !!’’ mereka berteriak.

‘’Kejar… bunuh dia ! jangan biar kan ia berkeliaran lagi !’’ seseorang menyuarak seraya melempar sebuah batang kayu.

‘’Bunuh jangan biar kan babi itu lolos’’

‘’Babi ..’’ ucap yang lain lagi, dengan nada tinggi.

‘’Kejar…’’

‘’Bunuuuuhh… !!’’ mereka semua berteriak.

‘’Bakar saja sampai gosong !!’’ ucap yang lain lagi

Sedangkan perempuan itu terus menangis. Ia melihat dengan jelas semua kejadian itu tergelar di hadapannya. Ia melihat suaminya telah tidak berdaya. Hingga wujudnya kembali seperti semula. Dengan wajah penuh luka, darah bercecer di mana-mana, ia melihat seseorang penduduk yang membawa parang menusuk dada suaminya sambil mencincang lengannya. Tangisnya makin pecah. Tak henti air matanya mengalir. Sangat deras.

Di balik rimbun dedaunan pohon, ia berdiri sambil menahan tangis. Hingga ia sadar sesosok mata menangkap tubuhnya yang tengah bersembunyi. Sesosok yang sedari tadi menahan amarah bersama ratusan warga.

Tersentak, ia berlari menjauh, kikuk badannya sulit untuk digerakkan. Ia sadar kali ini ia akan jadi sasaran selanjutnya. Menjadi amukan warga yang telah kalap dimakan api amarah, ia mencoba untuk berlari. Namun ia terjatuh, akar pepohonan membantunya untuk terjatuh. Ia terkapar ditanah, sepintas mengingat wajah umi dan abah yang kini tersenyum padanya, ia mencoba bangkit lagi, mengayun langkah dalam gelap. Seraya berdoa memohon ampun pada tuhan, atau entah pada siapa. Ia ingat betul dulu abah yang mengajarinya baca dua kalimat syahadat waktu kecil, sambil ia berlari ditengah kejaran warga yang terus mengejar. Ia ingin bertobat, namun apakah taubatnya diterima di saat seperti ini, seperti di saat Fir’aun tenggelam dalam kematian di mulut laut merah.

Apakah Alloh akan mengampuninya, karena saat ini ia benar-benar menyesal meminta ampunan.

Ya ! ia berhasil membaca dua kalimat syahadat seperti petuah abahnya dahulu, namun kali ini Narti merasakan perih, belati tajam kini menembus perut buncitnya. Apakah Alloh akan mengampuninya ?

Ia mengingat saat ia kabur lari dari dekapan umi dan abahnya, saat langit semerah jambu. Untuk menikah dengan Hilman. Kini ia berharab hal yang sama, ia ingin lari, namun yang ia tangkap hanya gelap dilangit, tak ada langit merah jambu yang dulu merona tersenyum padanya. Kemana langit merah jambu itu, langit yang ia anggap selalu memberikan harapan padanya, kini narti tak menemukannya.

Hanya tangan tangan kasar yang kini mulai menyergap ingin menusukkan mulut monyong sebuah belati.

Dan ia terus berlari, berharap masih bisa selamat. 


* Mkd Aan's

2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar