Duhai cinta,
tak boleh kau menenggelamkan aku
Dalam madu-laba-laba
kebisuan
Sejuta kata
Tanya yang aku telah lemparkan pada buih laut timur
entah ini
mentari keberapa, yang mengajarkan aku berlari
memijaki
rumput-rumput kering
menganyam
tikar dan di jadikan keranda
memenuhi
mayat-mayat yang dibungkus dengan lelah
yang dibuang
oleh kayuhku menjalani hidup
Tuhan,
ini adalah
peperangan ku dengan waktu
darah-darah
yang kusebuti dalam nisan, adalah
Lubang laporan
pembuangan waktu,
yang tak
dapat di tarik lagi ujung rambutnya
Oleh
bayi-bayi malam, dimana tidurku yang jadi sampah
Dan
bangunku, jadi tong yang kosong
Sebab aku
bertarung memuji
Dunia yang
kau sebut poros, anus yang tak berujung, sepanjang aku berdoa
Rangkai kata
sepi, untuk seluruh buai yang diputarkan pada takdir
Dipergelangan
kakiku
Dan saat aku
melangkah, duduk, berdiri dan memberontak
Inilah, purba
yang tak menemukan moyang
Yang ingin disembah,
menanyai musim jalanku
Dan sebesar
apapun aku berteriak dan menerjang
Keranjang
dunia berodaku
Tuhan selalu
saja menang dalam permainannya
Tidak boleh
tidak,
Ahh !! katanya -
*Mkd Aan's
2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar