Jumat, 24 Januari 2014

Lilin-Lilin Hitam

Hujan masih berintik ketika sayup adzan mulai terdengar. Diluar amat gelap, pohon tumbuh menjulang kian menambah gelap, menggulung senja di tapak desa. Air menitik bersama ayunan dedaduanan, diikuti, kemudian langkah kecil yang mulai membising.

            “Ilyas, Ilyas tak mau pergi kesurau kah ? kita bawa mainan, entar kita maen di surau”

“Ilyas, Ilyas !!“ suara yang lain mulai berpadu berantakan, mengakrabi pedesaan yang seakan lenyap. Lenyap karena sunyi. Musim hujan yang menciutkan, tak banyak anak yang pergi kesurau, seperti cerita masa lampau, ketika segerombolan remaja pergi beramai-ramai dengan penerang obor. Sekarang kesurau pun terselip mainan di kantong. waktu kian cepat berlalu, hanya meninggalkan reranting tanpa percakapan.

            Dalam remang gadis itu terus melangkah, menghela nafas. Sesaat lalu melanjutkan langkah. Ia harus memastikan tak ada yang melihatnnya. Wangi parfumnya menyeruak seperti baru saja menghabiskan satu botol parfum.

Ia berhenti di sebelah rumah dengan jendela terbuka. Bola matanya melongo diikuti mulut terbuka heran.

’’what ?’’ kamu mau pergi dengan pakaian seperti ini aminah ?” cercaunya kesal, ia meloncat masuk kedalam kamar. Sedangkan perempuan dedepannya nyaris membeku.

            ‘’Hello ! kita itu bukan emak-emak yang setiap malam harus pasang telinga mendengarkan pengajian bu Ustadzah yang sok suci itu, kita itu waiters Aminah,  kau tak ingin kan dipecat sebelum malam pertama kerjamu”. Cercau gadis itu panjang lebar, kemudian ia melototi wajah Aminah hingga berapa polesan. Aminah tampak putih Barbie di tempat gelap sekilipun. Secepat kilat ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, rupanya gaun merah dengan ukuran transparan, memperlihatkan belahan dada, bagian paha terbuka. Aminah merasa risih dengan gaun itu, kerudung yang tadi di kenakannya dibuang paksa keluar. Bermain dengan angin, dibasahi air. Tak cukup itu, Fatma temannya itu memolesi bibir Aminah hingga Nampak merah menyala, siap membakar bayangan nafsu yang berjejer didekitar Bar, yang memang mudah terbakar.

             Malam itu, mereka benar-benar pergi menuju ke Bar  dengan balutan gaun mini. Setengah tak sadar, Aminah pergi. Yang ia tahu ia terus diseret paksa. Malam pertamanya ia kerja, semoga ia dapatkan segenggam uang. Itu lah yang ia harapkan. Terlihat Bar itu banyak pengunjung. Musik Dj menyambutnya dan meyeretnya untuk have fun. Tapi bukan itu yang ia harapkan, hanya uang, uang dan uang. Didekatnya tampak wanita-wanita seperti dirinya. Nampak seksi dengan farfum menggoda. Bibirnya merah, sama dengan minuman yang diteguk. Yang tak sama hanya mereka adalah pengunjung Bar yang mendekap mesra pasangannya, lalu bersandar nakal dengan pasangannya. Sementara ia hanya seorang waiter yang rela ditunjuk di perintah meski dengan jari tengah sekalipun.

            “Thanks cantik ! segelas minuman ini cukup untuk membuatku mabuk malam ini, dan aku sudah mabuk dibuatmu” para pemesan minuman mencoba menggoda ketika Aminah mengantarkan minuman dengan tangan gemetar. Tatapan pria itu amat jalang, tiap lekuk tubuh Aminah tak luput dari sasarannya.

“Looking some trouble tonight, I will show you for the wide side, like it the last night ot our life we’ll keep dancing till we die” rengekan seksi penyanyi Bar seperti mengokohkan pria itu. Terlihat ia semakin membuat menggoda Aminah.

“Mari kita berdansa nikmati malam ini“ godanya untuk kesekian, namun Aminah mengamininya dengan tanparan keras.

“Pyar ..!!” Seisi ruangan kaget. Sesaat mereka hanya tersenyum sinis.

“Ada apa sih... ?’’         

“Biasa ayam kampung jual mahal“ ujar mereka sambil cekikikan.

            Angin membelai nakal ketika memasuki tengah malam. Rembulan seperti tertawa, seperti meludahi, mencerca dirinya. Ingin sekali gadis membunuh malam dengan pisau tajam tepat di bagian punggung, jika malam adalah seseorang. Tapi malam hanyalah batas waktu. Hanya menjadi pembatas masa, karena malam telah merenggut segalanya, Pun kehormatanya. Dan kepada pria di Bar tadi, ingin sekali Aminah merobek lembaran uang yang disodorkan pria itu. Merobeknya menjadi serpihan, lalu melemparkan kemukanya biar tidak seenaknya ia berkata.

“Ini lembaran uang untukmu dan kita nikmati malam ini“ Tapi mesti banyak hal yang ia pikirkan. Apalah seorang dirinya demi orang yang ia sayangi, yang bergantung hidup kepadanya. Ilyas adik bungsunya, Maryana yang membutuhkan biaya sekolah. Ihsan di pesantren dan demi membahagiakan nenek di usia senja.

            Dalam linangan embun tadi pagi. Ilyas hampir urung ke sekolah, katanya sudah tak tahan lagi kesekolah. Kedua sepatu yang dikenakanya pada bolong. Ia sudah tak kuasa melangkahkan kakinya pelan-pelan, sebab kalau melangkah   dengan kaki terangkat kakinya melorot. Hal yang membuat temannya tertawa lepas. Malah temannya menambahkan katanya sepatu itu Aminah dapat dari hasil memancing di sungai. Semakin Ilyas kesal, semakin menjadi ulah teman temannya. Amarah Ilyas semakin menjadi ketika di meja makan tak ada makanan enak untuk sarapan. Ia sekali-kali ingin sarapan nasi pecel di perempatan jalan dekat rumah. Sebab katanya enak, Mukhlis temannya pernah makan sekali di sana. Bombi yang badannya tambun, pernah sarapan dua kali disitu. Sedangkan Yoga anaknya pak Lurah berkali-kali makan diwarung itu. Hanya dirinya yang belum pernah sama sekali. Bila hal itu di utrakan, pasti Aminah kakaknya, katanya besok kalau ada duit, terpaksa ia berangkat sekolah tanpa sarapan.

‘’Akh, aku lewat aja di warung itu, aku lihat deh orang yang pada makan, siapa tau ikut kenyang.” Pikirnya polos dalam hati.

            Belum lagi mikirin Maryana yang duduk di bangku SMA. Tiap hari lepas pulang sekolah, ia banting piring sana-sini. Sampai saat ini keinginannya belum terpenuhi, rok abu- abunya kepanjangan, panuan, putih sana sini. Kalau ada piket di kelas, teman temannya pada memanggil, disurunya ia mondar-mandir ruang kelas agar sampah kotoran tersapu dengan rok panjangnya. Ia amat malu dengan ejekan itu, ingin ia mengis dan mencaci langit, jika langit punya telinga dan dapat mendengar. Tapi langit hanyalah latar yang mengatapi langkah kemana ia pergi. Ia ingin mempunyai rok yang sama seperti milik mereka, biru kiran minimalis hingga tampak seksi. Dengan begitu ia merasa di anggap hang out dan nge-mall bareng bersama mereka, tapi itu tak mungkin. Aminah kakaknya belum memiliki cukup uang.

            Tentang Ihsan, hampir setahun ini ia berada di pesantren, bergelut ilmu petang malam, terik siang. Aminah lega akhirnya dapat mewujudkan pesan al marhum kedua orang tuanya, agar salah satu adiknya dititipkan di pesantren. Demi itu Aminah sekuat tenaga akan memenuhi kebutuhannya.

Tadi pagi Ihsan nelpon minta kiriman uang untuk beli kitab dan bayar iuran bulanan, padahal sepuluh hari yang lalu ia meminta tambahan uang atas keperluan yang sama. Hidup di pesanren katanya serba duit, makan duit, mandi duit. Aminah maklumi itu, selaut keringat yang harus ia tuangkan, sesamudra air mata yang harus ia teteskan, ia akan lewati itu semua meski terpaksa menjadi waiter, berubah menjadi gadis jalang, biarlah ia menjadi lilin untuk menerangi pekat di sekitar.

            Pagi sebelum embun meleleh, para ibu tetangga mengerumuni tukang sayur langganan, mereka biasa menghabiskan pagi mereka di sana bermenit-menit, bahkan berjam-jam, kemudian memulai selentingan. Aminah datang dengan rambut basah. Biasanya nenek yang pergi belanja, tapi tadi terlihat ibu-ibu mengerumuni rumahnya. Ibu tetangga sebelah entah perlu apa, yang jelas mereka langsung masuk kekamar nenek dan menutup pintu rapat-rapat. Tak mau menggangu, Aminah sendiri yang pergi belanja, menemui embun di sekitar.

“Neng tumben belanja sendiri kemana si nenek,” ibu berbaju biru mulai percakapan. Ibu yang sedari tadi mengedipkan mata pada yang lain ketika Aminah menghampir tempat sayur.

“sekarang jarang kelihatan ya, maklum sudah kerja pulangnya malam lagi, jam dua belas malam ibu-ibu “ tegas ibu-ibu gendut di sampingnya sambil menyenggol ibu yang lain. Tatapan mereka sangat tajam, khas ibu-ibu tukang gossip. Aminah tak dapat berkata-kata apa, menjawab pun percuma. Apalagi dengan keadaan rambut basah begitu.

“Jadi pelayan, ya harus kerja banting tulang untuk biaya adik-adiknya, boleh boleh aja jadi pelayan di Bar, asal jangan plus-plus, benerkan ibu-ibu ?’’ ibu yang lain meneruskan, tak merasa iba atas Aminah. Padahal air matanya mulai meleleh. Ingin Aminah menampar mereka satu persatu lalu merobek mulut mereka jika mulut adalah kertas. Tapi dia hanya seorang Aminah, biarlah menelan pahit dari perbuatannya sendiri, mereka tidak salah, dirinyalah yang amat jalang. Ia berlari menghindari ibu-ibu, berlari hingga langit tak mengatapinya lagi. Ia sakit, lebih sakit dari pada ditusuk sembilu. Salahkah dirinya, membutuhkan derai keringatnya menjelajahi melam di Bar. Ingin Aminah membahagiakan mereka. Tapi mengingat selentingan ibu-ibu tadi, haruskah mengakhiri semua ??

‘’Tidak ..!!’’ dirinya tak akan pernah redup, dalam risaunya, ia semakin berlari menemui ilalang panjang yang menari. Mungkin ingin menghibur dirinya, membelai hatinya.

            Jingga yang cantik. Burung camar berarakan melewati senja indah sekali. Camar-camar itu mungkin seperti dirinya, nenek, Ihsan, Maryana Dan Ilyas. Camar itu terbang hilir mudik mengarungi hamparan langit melambai, menari, bersorak pada kehidupan. Sama halnya dengan Aminah, ia termenung berdiri di dekat jendela menatapi indahnya senja.

Alhamdulillah, kehidupan sudah berkecukupan meneguk bahagia seperti camar. Ilyas sudah membeli dua pasang sepatu. Jadi ia tak perlu melangkah pelan karena takut sepatunya melorot. Aminah juga sekali mengajaknya sarapan nasi pecel di perempatan jalan dekat rumahnya, jadi Ilyas tak perlu menelan ludah kalau misalnya teman-temannya membicarakan tentang nasi pecel. Maryana sekarang tak lagi memecahkan piring-piring seusai sekolah. Seragam putih abu-abunya kini sudah ekstra mini. Sama dengan teman yang lain. Malah ia lebih sibuk sendiri dengan Hp barunya. Maryana sekarang pulang sekolah larut malam di antar segerombol teman yang lain, tapi Aminah kakaknya memaklumi semua itu. Ia adik-adiknya merasakan kebahagian, sedang nenek, akh nenek ternyata amat peduli sama ibu-ibu tetangga. Uang dari Aminah tidak ia guanakan untuk membeli sesuatu yang mewah buat dirinya. Di masa tuanya, nenek mengaku uangnya itu di pinjamkan ke ibu tetangga yang membutuhkan. Pantas saja setiap pagi para tetangga mengantri di depan rumah. Pengorbanan Aminah tidak sia-sia, ia dapat menerangi orang-orang yang ia sayangi, laksana lilin,

            “Kakak ! nenek sudah siapin sarapan, yuk kita kemeja makan ! aku udah gak sabar, soalnya menunya ada ayam goreng” Ilyas tiba-tiba membubarkan lamunan Aminah.

Dia lucu sekali, di tangannya ada sepeotong ayam goreng yang ia genggam. Kalau menunya ayam goreng, ia semangat mengajak yang lain agar cepat-cepat keruang makan. Di meja makan pun ia paling semangat menyantap sarapan, tak perduli yang lain. Aminah amat senang melihatnya.

”Kak Yana gak suka ayam goreng ya ? kok makanannya didiamin ?“ celoteh Ilyas ringan, ia baru sadar rupanya dari tadi Maryana hanya berdiam dimeja makan

“Ia mukamu juga pucat dik, kamu sakit ya ?” teliti Aminah. Dalam tatapannya, muka Maryana tampak pucat.

“Sakit kali, kak ? Tadi pagi saja kak yana muntah-muntah. Atau seperti yang di tivi-tivi, katanya kalau lagi muntah-muntah itu lagi hamil”

‘’Pyaarr..!!’’  Gelas yang diteguknya tiba-tiba jatuh pecah di lantai, suaranya seperti menyalakan kobar kepahitan. Seperti mencabuti jantung secara tiba-tiba. Ada belukar yang mengatap liar pagi itu. Entah mengapa bocah seperti Ilyas bicara seperti itu. Membuat jantung Maryana berhenti berdegup. Berharap semua itu tak akan terjadi pada dirinya, walau dalam hatinya ia lirih berkata “mungkin”.

Datang lagi, kali ini lebih pekat, di langit hanya ada beberapa bintang terlihat. Meski di luar ada langkah kecil anak-anak yang mau pergi ke surau, ingin dirinya terbenam bersama mentari di senja sore.  Namun tak akan pernah terbit lagi untuk esok hari. Untuk apa terbit kalau hanya untuk di caci. Di tangannya sebuah alat tes kehamilan, dan hasilnya pun positif. Maryana benar-benar hamil, hamil di luar nikah. Kenyataan yang tak pernah ia pikirkan meski dalam mimpinya sekalipun. Dirirnya menyesali mengapa ia bergaul dengan temannya yang berpakaian serba mini itu. Pulang sekolah menghabiskan waktu di mall. Belajar kelompok dengan teman pria dalam satu ruangan, bermalam disitu hingga pagi berembun.  penyesalan memang datang di akhir, ingin Maryana menarik mentari dan memutar waktu kembali, namun waktu bukanlah seperti layang-layang yang mudah di tarik ulur mengikuti arah angin.

Kalau sudah begitu, ia merasa rindu rok abu-abu panjangnya. Biasanya dengan itu ia menyapu ruang kelasnya. Kalau temannya usil, perih memang. Tapi saat ini lebih perih. Bagaimana hidupnya di hari esok. Takkan kuasa ia melangkahkan kaki keluar rumah. Pasti para tetangga takkan henti mencaci.  Menganggap dirinya sampah, apalagi kalau sampai kakaknya, Aminah tahu. Sungguh Maryana tak sangup melihat derai air mata kakaknya jatuh untuk kesekian. Terlalu banyak yang ia korbankan. Ia rela menjadi gadis malam untuk menghidupi adik-adiknya. Menahan cacian meski luka hati telah mencapai puncak. Sekarang Maryana menabur aib.

Sangupkah kakaknya menerima kenyataan. Mengapa aib yang ia balas atas pengorbanan kakaknya ? Tapi bagaimanapun ia harus member tahu kenyataan sebenarnya, walau terlampau pahit.

’Yaa Alloh ! Berikanlah jalan terbaik…!!! Hanya menatap hamparan langit dari kejauhan, sekawan camar terbang rendah mengitari  sunrise, terbang tak selincah seperti biasa, camar patah sayap, seperti ada luka yang ia titipkan lewat tiap kepakan sayap.

‘’Ah camar itu mungkin sama dengan diri Aminah’’ menahan rasa sakit, semalam sepulang dari Bar. Maryana adiknya menunggu ia pulang di depan pintu. Dengan linangan air mata pula, ada perasaan tidak enak ketika melihat wajah adiknya dan angin malam menabur bisikan duka.

Malam itu maryana bercerita kalau dirinya hamil. Mendengar itu aminah sangat shock, hamapir terceraabut pingsan, ia tak menyangka adiknya berbuat bejat seperti dirinya. Ingin sekali Aminah menampar adiknya keras keras, lalu menyiramnya dengan air panas seperti didih bara di hati, tetapi sebelum hal itu dilakukan Maryana buru-buru meraih pelukannya berlinang.

“Kak jangan marah ! Yana juga terpukul, tak sanggup jalani ini sendiri. Kalau kakak marah, pada siapa lagi Yana bersandar, ketika orang orang mencaci.

            Hati Aminah perlahan luluh, di luar dedaunan berjatuhan tertiup angin malam, ikut terharu meyaksikan drama perih yang terjadi. Aminah tak kuasa menahan air matanya berlinang, ia semakin mempererat pelukannya, semua telah terjadi, mengapa harus ada luka lagi ?.

Hampir ia meneguk manisnya kehidupan atas sebuah pengorbanan !! Padahal Aminah ingin mengakhiri semuanya, berhenti bekerja sebagai pelayan di Bar, lalu menjual tanah peninggalan al marhum kedua orang tua, uangnya untuk modal usaha. Buka warung untuk menghidupi keluarga, karena ia sudah tak sanggup lagi kerja di Bar tak tahan dengan aroma al kohol, dengan pengujung yang seringkali menggodanya, tapi biarlah. Ia sudah terlanjur membakar dirinya untuk menerangi  pekat di sekitar.

Di luar kira kira, tiba-tiba datang segerombolan ibu-ibu pagi itu, mendesak melangkah ramai-ramai. Nampak raut amarah wajah pada mereka. Mengetahui hal itu Maryana  belari mendekap Aminah, wajahnya begitu pucat, tak henti berlinang Aminah pun mendekap erat adiknya. Ia tak mau ibu-ibu itu menyakiti adiknya.

‘’Begitu cepatkah mereka tahu kalau Maryana hamil, sekarang mereka akan menghakimi ?’’ Wajah mereka seperti wajah malaikat tanpa sayap, menyeramkan. seperti siap menusukkan belati kepada Aminah dan Maryana.

“Mana nenek ? kami sudah tak sanggup lagi dengan beban ini !’’ Satu diantara merela bersuara, yang lain kemudian bersorak mengikuti. Aminah diam, dia sama sekali tak mengerti maksud mereka, namun ia sedikit lega. Mereka  bukan ingin menghakimi Maryana yang hamil. tapi, ada apa dengan nenek, apa maksud mereka ??

“Kami sudah tak tahan dengan beban yang menghimpit selama ini, kami sudah tak sanggup membayar hutang dengan bunga 50 persen dari injaman. Tolong bilang sama nenek !! Bebaskan kami dari bunga-bunga itu..!! Mereka ibu-ibu kompak berteriak. Menjelaskan bagai petir membelah langit di siang hari.

Aminah hampir tak percaya, ternyata selama ini, uang dari dirinya nenek gunakan meminjamkannya pada ibu-ibu tetangga tapi dengan tuntunan bunga yang terlampau besar, sama saja nenek menjadi seorang rentenir.  Seorang lintah darat yang perlahan menghisab darah. Jelas sekali terlihat wajah penuh amarah benci mereka pagi itu. Namun sedikit terobati karena Aminah akan membebaskan mereka dari bunga pinjaman. Sedangkan nenek hanya bisa terdiam, katanya dengan memungut bunga uang pijaman pada mereka, ia dapat meringankan beban keluarga. Ia tak ingin cucu cucunya terkekang dalam garis kemiskinan, mendengar penuturan nenek, Aminah hanya menatap langit. Berharap runtuh dan menamatkan dirinya.

Apalah arti pengorbanannya selama ini, mengapa pengorbanannya hanya menambah pekat disekitar, Maryana hamil, nenek berbalik menjadi seorang rentenir. Tapi tidak, pengorabanannya tak selamanya pekat, ia masih punya Ihsan di pesantren. Ia yakin adiknya itu akan menderang di pesantren laksana ribuan bintang di pelataran langit.

            Mobil mewah terparkir di depan rumah. Di antara rerumputan hijau di halaman. nenek, Aminah, Maryana dan Ilyas pun mengamati lamat-lamat. Berharap dapat mengenali salah satu orang didalamnya.

Ilyas menghampiri mendekat mengelus kaca mobil yang mengkilap sambil loncat-loncat. Baru kali ini ada mobil mewah parkir di depan rumah, tiga orang keluar dari dalam mobil, satu orang yang mereka kenal. Sedangkan dua yang lain tak mereka kenal. Rupanya Ihsan di apit dua pengurus Pesantren. Aminah tersenyum, angin sepoi membelai rambutnya mesra. Tujuh hari lalu Ihsan kasih kabar dari pesantren, katanya ia terpilih mewakili pesantren mengikuti lomba tulis kaligrafi antar pesantren.

Aminah hampir tak percaya sebab setahunya tulisan Ihsan jelek. Tapi sudahlah mungkin Ihsan keluar sebagai pemenang dan membawa pulang piala kerumah untuk membahagiankan keluarga. Aminah larut dalam haru, ia memeluk Ihsan dan menangis dalam pangkuannya.

Pengerbanannya tak sepenuhnya sia-sia, meski tak dapat menerangi nenek, dan maryana, ia masih dapat memijari Ihsan menderang seperti sekarang. Aminah tak ingin melepas pelukannya sampai mentari kembali kepangkuan senja nanti. Ia cukup bangga dengan Ihsan. Hingga akhirnya dua pengurus pesantren melepaskan pelukannya dari Ihsan.  Aminah dibuat meleleh dengan perkataannya.

“Maaf, kami atas nama pengurus Pesantren terpaksa mengeluarkan Ihsan, karena dia banyak melakukan pelanggaran. Berkelahi dan sering bolos. Terakhir ia melakukan pencurian !!“ Seperti belum berakhir perkataan dua pengurus Pesantren, Aminah berderai berlari membawa lukanya pergi. Dia tak ingin langit biru mengatapinya lagi, sebab menerima takdir ini. Ia sungguh tak sanggup, berlari meski ujung ilalang liar membuatnya semakin tergores perih. Selama ini hanya ingin seperti lilin putih, berkorban untuk menerangi pekat sekitar. Tapi mungkin dirinya tak seindah lilin. Pengorbanannya justru membuat gulita orang-orang yang ia sayangi. Nenek jadi rentenir, Maryana hamil, Ihsan dikeluarkan dari pesantren. Semua pengorbanannya sia-sia, semua telah pekat, dan Aminah takkan berhenti berlari bersama tumpukan perih ….

Jika hamparan langit mengatapinya, Di bumi manakah ia bersimpuh ?

*Syamsa Adam
Bogor, 23-04-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar