Hujan masih
berintik ketika sayup adzan mulai terdengar. Diluar amat gelap, pohon tumbuh
menjulang kian menambah gelap, menggulung senja di tapak desa. Air menitik
bersama ayunan dedaduanan, diikuti, kemudian langkah kecil yang mulai
membising.
“Ilyas,
Ilyas tak mau pergi kesurau kah ? kita bawa mainan, entar kita maen di surau”
“Ilyas, Ilyas !!“ suara yang lain mulai berpadu
berantakan, mengakrabi pedesaan yang seakan lenyap. Lenyap karena sunyi. Musim hujan
yang menciutkan, tak banyak anak yang pergi kesurau, seperti cerita masa
lampau, ketika segerombolan remaja pergi beramai-ramai dengan penerang obor.
Sekarang kesurau pun terselip mainan di kantong. waktu kian cepat berlalu,
hanya meninggalkan reranting tanpa percakapan.
Dalam
remang gadis itu terus melangkah, menghela nafas. Sesaat lalu melanjutkan
langkah. Ia harus memastikan tak ada yang melihatnnya. Wangi parfumnya
menyeruak seperti baru saja menghabiskan satu botol parfum.
Ia berhenti di
sebelah rumah dengan jendela terbuka. Bola matanya melongo diikuti mulut
terbuka heran.
’’what ?’’ kamu
mau pergi dengan pakaian seperti ini aminah ?” cercaunya kesal, ia meloncat masuk
kedalam kamar. Sedangkan perempuan dedepannya nyaris membeku.
‘’Hello ! kita itu bukan emak-emak
yang setiap malam harus pasang telinga mendengarkan pengajian bu Ustadzah yang
sok suci itu, kita itu waiters Aminah,
kau tak ingin kan dipecat sebelum malam pertama kerjamu”. Cercau gadis
itu panjang lebar, kemudian ia melototi wajah Aminah hingga berapa polesan.
Aminah tampak putih Barbie di tempat gelap sekilipun. Secepat kilat ia mengeluarkan
sesuatu dari dalam tas, rupanya gaun merah dengan ukuran transparan,
memperlihatkan belahan dada, bagian paha terbuka. Aminah merasa risih dengan
gaun itu, kerudung yang tadi di kenakannya dibuang paksa keluar. Bermain dengan
angin, dibasahi air. Tak cukup itu, Fatma temannya itu memolesi bibir Aminah
hingga Nampak merah menyala, siap membakar bayangan nafsu yang berjejer
didekitar Bar, yang memang mudah terbakar.
Malam itu, mereka benar-benar pergi menuju ke
Bar dengan balutan gaun mini. Setengah
tak sadar, Aminah pergi. Yang ia tahu ia terus diseret paksa. Malam pertamanya
ia kerja, semoga ia dapatkan segenggam uang. Itu lah yang ia harapkan. Terlihat
Bar itu banyak pengunjung. Musik Dj menyambutnya dan meyeretnya untuk have fun.
Tapi bukan itu yang ia harapkan, hanya uang, uang dan uang. Didekatnya tampak
wanita-wanita seperti dirinya. Nampak seksi dengan farfum menggoda. Bibirnya merah,
sama dengan minuman yang diteguk. Yang tak sama hanya mereka adalah pengunjung
Bar yang mendekap mesra pasangannya, lalu bersandar nakal dengan pasangannya.
Sementara ia hanya seorang waiter yang rela ditunjuk di perintah meski dengan
jari tengah sekalipun.
“Thanks cantik ! segelas minuman ini
cukup untuk membuatku mabuk malam ini, dan aku sudah mabuk dibuatmu” para
pemesan minuman mencoba menggoda ketika Aminah mengantarkan minuman dengan
tangan gemetar. Tatapan pria itu amat jalang, tiap lekuk tubuh Aminah tak luput
dari sasarannya.
“Looking some trouble tonight, I will show
you for the wide side, like it the last night ot our life we’ll keep dancing
till we die” rengekan seksi penyanyi Bar seperti mengokohkan pria itu. Terlihat
ia semakin membuat menggoda Aminah.
“Mari
kita berdansa nikmati malam ini“ godanya untuk
kesekian, namun Aminah mengamininya dengan tanparan keras.
“Pyar ..!!” Seisi
ruangan kaget. Sesaat mereka hanya tersenyum sinis.
“Ada apa sih... ?’’
“Biasa ayam
kampung jual mahal“ ujar mereka sambil cekikikan.
Angin
membelai nakal ketika memasuki tengah malam. Rembulan seperti tertawa, seperti
meludahi, mencerca dirinya. Ingin sekali gadis membunuh malam dengan pisau
tajam tepat di bagian punggung, jika malam adalah seseorang. Tapi malam
hanyalah batas waktu. Hanya menjadi pembatas masa, karena malam telah merenggut
segalanya, Pun kehormatanya. Dan
kepada pria di Bar tadi, ingin sekali Aminah merobek
lembaran uang yang disodorkan pria itu. Merobeknya menjadi serpihan, lalu
melemparkan kemukanya biar tidak seenaknya ia berkata.
“Ini lembaran uang
untukmu dan kita nikmati malam ini“ Tapi mesti banyak hal yang ia pikirkan.
Apalah seorang dirinya demi orang yang ia sayangi, yang bergantung hidup
kepadanya. Ilyas adik bungsunya, Maryana yang membutuhkan biaya sekolah. Ihsan
di pesantren dan demi membahagiakan nenek di usia senja.
Dalam
linangan embun tadi pagi. Ilyas hampir urung ke sekolah, katanya sudah tak tahan lagi kesekolah.
Kedua sepatu yang dikenakanya pada bolong. Ia sudah tak kuasa melangkahkan
kakinya pelan-pelan, sebab kalau melangkah dengan kaki terangkat kakinya melorot. Hal yang membuat temannya tertawa lepas. Malah temannya menambahkan katanya sepatu itu Aminah dapat dari hasil memancing
di sungai. Semakin Ilyas kesal, semakin menjadi ulah teman temannya. Amarah Ilyas
semakin menjadi ketika di meja makan tak ada makanan enak untuk sarapan. Ia sekali-kali
ingin sarapan nasi pecel di perempatan jalan dekat rumah. Sebab katanya enak,
Mukhlis temannya pernah makan sekali di sana. Bombi yang badannya
tambun, pernah sarapan dua kali disitu. Sedangkan Yoga anaknya pak Lurah
berkali-kali makan diwarung itu. Hanya dirinya yang belum pernah sama sekali.
Bila hal itu di utrakan, pasti Aminah kakaknya, katanya besok kalau ada duit,
terpaksa ia berangkat sekolah tanpa sarapan.
‘’Akh, aku lewat aja di warung itu, aku lihat deh orang yang pada makan, siapa tau ikut kenyang.” Pikirnya polos dalam hati.
Belum
lagi mikirin Maryana yang duduk di bangku SMA. Tiap hari lepas pulang sekolah,
ia banting piring sana-sini. Sampai saat ini keinginannya belum terpenuhi, rok
abu- abunya kepanjangan, panuan, putih sana sini. Kalau ada piket di kelas,
teman temannya pada memanggil, disurunya ia mondar-mandir ruang kelas agar
sampah kotoran tersapu dengan rok panjangnya. Ia amat malu dengan ejekan itu,
ingin ia mengis dan mencaci langit, jika langit punya telinga dan dapat
mendengar. Tapi
langit hanyalah latar yang mengatapi langkah kemana ia
pergi. Ia
ingin mempunyai rok yang sama seperti milik mereka, biru kiran minimalis hingga tampak seksi. Dengan begitu ia merasa
di anggap hang out dan nge-mall bareng bersama mereka, tapi itu tak mungkin. Aminah kakaknya belum memiliki cukup uang.
Tentang
Ihsan, hampir setahun ini ia berada di pesantren, bergelut ilmu petang malam,
terik siang. Aminah lega akhirnya dapat mewujudkan pesan al marhum kedua orang tuanya,
agar salah satu adiknya dititipkan di pesantren. Demi itu Aminah sekuat tenaga
akan memenuhi kebutuhannya.
Tadi pagi Ihsan
nelpon minta kiriman uang untuk beli kitab dan bayar iuran bulanan, padahal
sepuluh hari yang lalu ia meminta tambahan uang atas keperluan yang sama. Hidup di pesanren
katanya serba duit, makan duit, mandi duit. Aminah maklumi itu, selaut keringat
yang harus ia tuangkan, sesamudra air mata yang harus ia teteskan, ia akan lewati
itu semua meski terpaksa menjadi waiter, berubah menjadi gadis jalang, biarlah
ia menjadi lilin untuk menerangi pekat di sekitar.
Pagi sebelum embun meleleh, para ibu
tetangga mengerumuni tukang sayur langganan, mereka biasa menghabiskan pagi
mereka di sana bermenit-menit, bahkan berjam-jam, kemudian memulai selentingan.
Aminah datang dengan rambut basah. Biasanya nenek yang pergi belanja, tapi tadi
terlihat ibu-ibu mengerumuni rumahnya. Ibu tetangga sebelah entah perlu apa,
yang jelas mereka langsung masuk kekamar nenek dan menutup pintu rapat-rapat.
Tak mau menggangu, Aminah sendiri yang pergi belanja, menemui embun di sekitar.
“Neng tumben belanja sendiri kemana si
nenek,” ibu berbaju biru mulai percakapan. Ibu yang sedari tadi mengedipkan
mata pada yang lain ketika Aminah menghampir tempat sayur.
“sekarang jarang kelihatan ya, maklum sudah
kerja pulangnya malam lagi, jam dua belas malam ibu-ibu “ tegas ibu-ibu gendut
di sampingnya sambil menyenggol ibu yang lain. Tatapan mereka sangat tajam,
khas ibu-ibu tukang gossip. Aminah tak dapat berkata-kata apa, menjawab pun
percuma. Apalagi dengan keadaan rambut basah begitu.
“Jadi pelayan, ya harus kerja banting tulang
untuk biaya adik-adiknya, boleh boleh aja jadi pelayan di Bar, asal jangan
plus-plus, benerkan ibu-ibu ?’’ ibu yang lain meneruskan, tak merasa iba atas
Aminah. Padahal air matanya mulai meleleh. Ingin Aminah menampar mereka satu
persatu lalu merobek mulut mereka jika mulut adalah kertas. Tapi dia hanya
seorang Aminah, biarlah menelan pahit dari perbuatannya sendiri, mereka tidak
salah, dirinyalah yang amat jalang. Ia berlari menghindari ibu-ibu, berlari
hingga langit tak mengatapinya lagi. Ia sakit, lebih sakit dari pada ditusuk
sembilu. Salahkah dirinya, membutuhkan derai keringatnya menjelajahi melam di
Bar. Ingin Aminah membahagiakan mereka. Tapi mengingat selentingan ibu-ibu tadi,
haruskah mengakhiri semua ??
‘’Tidak ..!!’’ dirinya tak akan pernah redup,
dalam risaunya, ia semakin berlari menemui ilalang panjang yang menari. Mungkin
ingin menghibur dirinya, membelai hatinya.
Jingga yang cantik. Burung camar
berarakan melewati senja indah sekali. Camar-camar itu mungkin seperti dirinya,
nenek, Ihsan, Maryana Dan Ilyas. Camar itu terbang hilir mudik mengarungi
hamparan langit melambai, menari, bersorak pada kehidupan. Sama halnya dengan
Aminah, ia termenung berdiri di dekat jendela menatapi indahnya senja.
Alhamdulillah, kehidupan sudah berkecukupan
meneguk bahagia seperti camar. Ilyas sudah membeli dua pasang sepatu. Jadi ia
tak perlu melangkah pelan karena takut sepatunya melorot. Aminah juga sekali
mengajaknya sarapan nasi pecel di perempatan jalan dekat rumahnya, jadi Ilyas
tak perlu menelan ludah kalau misalnya teman-temannya membicarakan tentang nasi
pecel. Maryana sekarang tak lagi memecahkan piring-piring seusai sekolah.
Seragam putih abu-abunya kini sudah ekstra mini. Sama dengan teman yang lain.
Malah ia lebih sibuk sendiri dengan Hp barunya. Maryana sekarang pulang sekolah
larut malam di antar segerombol teman yang lain, tapi Aminah kakaknya memaklumi
semua itu. Ia adik-adiknya merasakan kebahagian, sedang nenek, akh nenek
ternyata amat peduli sama ibu-ibu tetangga. Uang dari Aminah tidak ia guanakan
untuk membeli sesuatu yang mewah buat dirinya. Di masa tuanya, nenek mengaku
uangnya itu di pinjamkan ke ibu tetangga yang membutuhkan. Pantas saja setiap
pagi para tetangga mengantri di depan rumah. Pengorbanan Aminah tidak sia-sia,
ia dapat menerangi orang-orang yang ia sayangi, laksana lilin,
“Kakak ! nenek sudah siapin sarapan,
yuk kita kemeja makan ! aku udah gak sabar, soalnya menunya ada ayam goreng” Ilyas
tiba-tiba membubarkan lamunan Aminah.
Dia lucu sekali, di tangannya ada sepeotong
ayam goreng yang ia genggam. Kalau menunya ayam goreng, ia semangat mengajak
yang lain agar cepat-cepat keruang makan. Di meja makan pun ia paling semangat
menyantap sarapan, tak perduli yang lain. Aminah amat senang melihatnya.
”Kak Yana gak suka ayam goreng ya ? kok
makanannya didiamin ?“ celoteh Ilyas ringan, ia baru sadar rupanya dari tadi
Maryana hanya berdiam dimeja makan
“Ia mukamu juga pucat dik, kamu sakit ya ?”
teliti Aminah. Dalam tatapannya, muka Maryana tampak pucat.
“Sakit kali, kak ? Tadi pagi saja kak yana
muntah-muntah. Atau seperti yang di tivi-tivi, katanya kalau lagi muntah-muntah
itu lagi hamil”
‘’Pyaarr..!!’’ Gelas yang diteguknya tiba-tiba jatuh pecah
di lantai, suaranya seperti menyalakan kobar kepahitan. Seperti mencabuti
jantung secara tiba-tiba. Ada belukar yang mengatap liar pagi itu. Entah
mengapa bocah seperti Ilyas bicara seperti itu. Membuat jantung Maryana
berhenti berdegup. Berharap semua itu tak akan terjadi pada dirinya, walau
dalam hatinya ia lirih berkata “mungkin”.
Datang lagi, kali ini lebih pekat, di langit
hanya ada beberapa bintang terlihat. Meski di luar ada langkah kecil anak-anak
yang mau pergi ke surau, ingin dirinya terbenam bersama mentari di senja sore. Namun tak akan pernah terbit lagi untuk esok
hari. Untuk apa terbit kalau hanya untuk di caci. Di tangannya sebuah alat tes
kehamilan, dan hasilnya pun positif. Maryana benar-benar hamil, hamil di luar
nikah. Kenyataan yang tak pernah ia pikirkan meski dalam mimpinya sekalipun.
Dirirnya menyesali mengapa ia bergaul dengan temannya yang berpakaian serba
mini itu. Pulang sekolah menghabiskan waktu di mall. Belajar kelompok dengan
teman pria dalam satu ruangan, bermalam disitu hingga pagi berembun. penyesalan memang datang di akhir, ingin Maryana
menarik mentari dan memutar waktu kembali, namun waktu bukanlah seperti layang-layang
yang mudah di tarik ulur mengikuti arah angin.
Kalau sudah begitu, ia merasa rindu rok
abu-abu panjangnya. Biasanya dengan itu ia menyapu ruang kelasnya. Kalau temannya
usil, perih memang. Tapi saat ini lebih perih. Bagaimana hidupnya di hari esok.
Takkan kuasa ia melangkahkan kaki keluar rumah. Pasti para tetangga takkan henti
mencaci. Menganggap dirinya sampah, apalagi
kalau sampai kakaknya, Aminah tahu. Sungguh Maryana tak sangup melihat derai
air mata kakaknya jatuh untuk kesekian. Terlalu banyak yang ia korbankan. Ia rela
menjadi gadis malam untuk menghidupi adik-adiknya. Menahan cacian meski luka
hati telah mencapai puncak. Sekarang Maryana menabur aib.
Sangupkah kakaknya menerima kenyataan.
Mengapa aib yang ia balas atas pengorbanan kakaknya ? Tapi bagaimanapun ia
harus member tahu kenyataan sebenarnya, walau terlampau pahit.
’Yaa Alloh ! Berikanlah jalan terbaik…!!!
Hanya menatap hamparan langit dari kejauhan, sekawan camar terbang rendah
mengitari sunrise, terbang tak selincah
seperti biasa, camar patah sayap, seperti ada luka yang ia titipkan lewat tiap
kepakan sayap.
‘’Ah camar itu mungkin sama dengan diri
Aminah’’ menahan rasa sakit, semalam sepulang dari Bar. Maryana adiknya menunggu
ia pulang di depan pintu. Dengan linangan air mata pula, ada perasaan tidak
enak ketika melihat wajah adiknya dan angin malam menabur bisikan duka.
Malam itu maryana bercerita kalau dirinya
hamil. Mendengar itu aminah sangat shock, hamapir terceraabut pingsan, ia tak
menyangka adiknya berbuat bejat seperti dirinya. Ingin sekali Aminah menampar
adiknya keras keras, lalu menyiramnya dengan air panas seperti didih bara di
hati, tetapi sebelum hal itu dilakukan Maryana buru-buru meraih pelukannya
berlinang.
“Kak jangan marah ! Yana juga terpukul, tak
sanggup jalani ini sendiri. Kalau kakak marah, pada siapa lagi Yana bersandar,
ketika orang orang mencaci.
Hati Aminah perlahan luluh, di luar
dedaunan berjatuhan tertiup angin malam, ikut terharu meyaksikan drama perih
yang terjadi. Aminah tak kuasa menahan air matanya berlinang, ia semakin
mempererat pelukannya, semua telah terjadi, mengapa harus ada luka lagi ?.
Hampir ia meneguk manisnya kehidupan atas
sebuah pengorbanan !! Padahal Aminah ingin mengakhiri semuanya, berhenti
bekerja sebagai pelayan di Bar, lalu menjual tanah peninggalan al marhum kedua
orang tua, uangnya untuk modal usaha. Buka warung untuk menghidupi keluarga,
karena ia sudah tak sanggup lagi kerja di Bar tak tahan dengan aroma al kohol,
dengan pengujung yang seringkali menggodanya, tapi biarlah. Ia sudah terlanjur
membakar dirinya untuk menerangi pekat
di sekitar.
Di luar kira kira, tiba-tiba datang segerombolan
ibu-ibu pagi itu, mendesak melangkah ramai-ramai. Nampak raut amarah wajah pada
mereka. Mengetahui hal itu Maryana belari mendekap Aminah, wajahnya begitu pucat,
tak henti berlinang Aminah pun mendekap erat adiknya. Ia tak mau ibu-ibu itu
menyakiti adiknya.
‘’Begitu cepatkah mereka tahu kalau Maryana
hamil, sekarang mereka akan menghakimi ?’’ Wajah mereka seperti wajah malaikat
tanpa sayap, menyeramkan. seperti siap menusukkan belati kepada Aminah dan
Maryana.
“Mana nenek ? kami sudah tak sanggup lagi
dengan beban ini !’’ Satu diantara merela bersuara, yang lain kemudian bersorak
mengikuti. Aminah diam, dia sama sekali tak mengerti maksud mereka, namun ia
sedikit lega. Mereka bukan ingin menghakimi
Maryana yang hamil. tapi, ada apa dengan nenek, apa maksud mereka ??
“Kami sudah tak tahan dengan beban yang
menghimpit selama ini, kami sudah tak sanggup membayar hutang dengan bunga 50
persen dari injaman. Tolong bilang sama nenek !! Bebaskan kami dari bunga-bunga
itu..!! Mereka ibu-ibu kompak berteriak. Menjelaskan bagai petir membelah
langit di siang hari.
Aminah hampir tak percaya, ternyata selama
ini, uang dari dirinya nenek gunakan meminjamkannya pada ibu-ibu tetangga tapi
dengan tuntunan bunga yang terlampau besar, sama saja nenek menjadi seorang
rentenir. Seorang lintah darat yang
perlahan menghisab darah. Jelas sekali terlihat wajah penuh amarah benci mereka
pagi itu. Namun sedikit terobati karena Aminah akan membebaskan mereka dari
bunga pinjaman. Sedangkan nenek hanya bisa terdiam, katanya dengan memungut
bunga uang pijaman pada mereka, ia dapat meringankan beban keluarga. Ia tak
ingin cucu cucunya terkekang dalam garis kemiskinan, mendengar penuturan nenek,
Aminah hanya menatap langit. Berharap runtuh dan menamatkan dirinya.
Apalah arti pengorbanannya selama ini,
mengapa pengorbanannya hanya menambah pekat disekitar, Maryana hamil, nenek
berbalik menjadi seorang rentenir. Tapi tidak, pengorabanannya tak selamanya
pekat, ia masih punya Ihsan di pesantren. Ia yakin adiknya itu akan menderang
di pesantren laksana ribuan bintang di pelataran langit.
Mobil mewah terparkir di depan rumah.
Di antara rerumputan hijau di halaman. nenek, Aminah, Maryana dan Ilyas pun
mengamati lamat-lamat. Berharap dapat mengenali salah satu orang didalamnya.
Ilyas menghampiri mendekat mengelus kaca
mobil yang mengkilap sambil loncat-loncat. Baru kali ini ada mobil mewah parkir
di depan rumah, tiga orang keluar dari dalam mobil, satu orang yang mereka kenal.
Sedangkan dua yang lain tak mereka kenal. Rupanya Ihsan di apit dua pengurus
Pesantren. Aminah tersenyum, angin sepoi membelai rambutnya mesra. Tujuh hari
lalu Ihsan kasih kabar dari pesantren, katanya ia terpilih mewakili pesantren
mengikuti lomba tulis kaligrafi antar pesantren.
Aminah hampir tak percaya sebab setahunya
tulisan Ihsan jelek. Tapi sudahlah mungkin Ihsan keluar sebagai pemenang dan
membawa pulang piala kerumah untuk membahagiankan keluarga. Aminah larut dalam
haru, ia memeluk Ihsan dan menangis dalam pangkuannya.
Pengerbanannya tak sepenuhnya sia-sia, meski
tak dapat menerangi nenek, dan maryana, ia masih dapat memijari Ihsan menderang
seperti sekarang. Aminah tak ingin melepas pelukannya sampai mentari kembali
kepangkuan senja nanti. Ia cukup bangga dengan Ihsan. Hingga akhirnya dua
pengurus pesantren melepaskan pelukannya dari Ihsan. Aminah dibuat meleleh dengan perkataannya.
“Maaf, kami atas nama pengurus Pesantren
terpaksa mengeluarkan Ihsan, karena dia banyak melakukan pelanggaran. Berkelahi
dan sering bolos. Terakhir ia melakukan pencurian !!“ Seperti belum berakhir
perkataan dua pengurus Pesantren, Aminah berderai berlari membawa lukanya pergi.
Dia tak ingin langit biru mengatapinya lagi, sebab menerima takdir ini. Ia sungguh
tak sanggup, berlari meski ujung ilalang liar membuatnya semakin tergores perih.
Selama ini hanya ingin seperti lilin putih, berkorban untuk menerangi pekat
sekitar. Tapi mungkin dirinya tak seindah lilin. Pengorbanannya justru membuat
gulita orang-orang yang ia sayangi. Nenek jadi rentenir, Maryana hamil, Ihsan
dikeluarkan dari pesantren. Semua pengorbanannya sia-sia, semua telah pekat,
dan Aminah takkan berhenti berlari bersama tumpukan perih ….
Jika
hamparan langit mengatapinya, Di bumi manakah ia bersimpuh ?
*Syamsa Adam
Bogor, 23-04-2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar