Nenek
tujuh puluh tahunan itu masih khusyuk dengan lembaran yang di baca mulutnya,
tak pernah berhenti berpacu dengan gemerlap lampu diskotik. Meski ia harus
mengingat luka puluhan tahun lalu. Ia kekarkan tenaga untuk sampai ke diskotik
meski dengan langkah tertatih. Akh, semua telah berubah, waktu seperti cepat
berlalu.
Disekitarnya,
gadis-gadis belia berhamburan dengan wangi parfum menggoda. Menatap tajam
berbisik satu dengan yang lain. Rok mini dengan bibir yang di merah-merahi
mengakrabi riak gadis penghibur seperti mereka, menari dengan pasangan
masing-masing, melepaskan malam dengan binal. Meski beberapa pasang mata para
pria membusurnya nakal, nenek itu tetap melanjutkan ritualnya.
Mereka
tampak tertawa mengucilkan, mereka pikir, siapa yang mau kencan dengan nenek
peot macam dirinya ? tak lama beberapa pria dengan baju loreng-loreng
menggemparkan.
’’Razia,
kami akan merazia tempat ini !’’begitu ucap pria gagah itu lalu memaksa paksa
nenek masuk mobil razia, nenek melawan memberontak, ia mengerang berusaha
melepaskan genggaman tangan pria gagah itu.
’’Craass
!’’ Baju sang aparat robek bagian tangan akibat cakaran nenek. mengingatkan
nenek pada kepingan luka di masa lalu.
***
Masuk
Saufa, masuk biar ayah yang mrenghadapi mereka, lebih baik ayah mandi darah
dari pada kau jadi pemuas nafsu mereka’’ cercau Syamsul berteriak, pintu di
tutupnya rapat-rapat. Saufa bersembunyi di kolong meja.
Mereka
datang lagi, padahal masih remang, rupanya mereka mengambil jatah pagi lebih
awal. Lelaki-lelaki tegap berambut pirang, berbadan bidang. Mereka memang
berkuasa, bahkan kalau melawan bisa saja Syamsul tidak dapat melihat mentari
hari itu. Sunyi senyap bagai kota mati, mereka mungkin sudah tahu, bahwa
kolonel belanda itu datang menyerang, semua pintu warga tertutup. Hanya ada
sebagian saja mengintip dari balik tirai bambu. Empat pemuda berlari gagah,
mereka para kolonel Belanda, anak buah Stopher Nelwan, yang tak hanya menjajah
negara, tapi juga hati dalam kabut remang. Seorang pemuda mondar-mandir dengan
senjata pistol panjang, mencari celah rumah yang dapat di masuki. Graham Ivander,
kulit putih, rambut panjang pirang, ia memang terkenal sadis, tak ada yang
selamat dari bidikannya, ia yang paling ditakuti, tak ada rakyat batavia yang
berani menyelinap di balik mentari bila kerja paksa di mulai. Semua harus
teteskan derai keringat, kalau tidak, peluru tepat kesasaran. Sementara dua di
antara mereka, Bavarley Crenkas dan Gillian Hanburg, dua bersaudara berbadan
tambun, dua bersaudara yang haus gadis Batavia, ia tak pernah loloskan gadis
Batavia dalam cengkramannya.
Beberapa
hari terakhir mereka mengintai keberadaan Saufa, gadis cantik berparas menawan,
sementara pria yang satunya, Saufa menatapnya dari kejauhan, dari lubang kecil
ayaman bambu, pria tampan berwajah sendu, Saufa seringkali menatap ada
kepediahan dalam sorot matanya, mata pria tampan itu selalu berkaca-kaca tiap
melihat rakyat Batavia di cambuk. Tapi garis keturunan tak mampu menutupi
kebencian Saufa pada pria itu. Ia adalah Thomas Nelwan, putra satu-satunya
Stopher Nelwan, pimpinan kolonel Belanda. Masih lekat dalam ingatan Saufa
bagaimana para kolonel itu menghabisi nyawa ibunya secara sadis. Tepat seperti
remang pagi, Bavarley dan William begitu marahnya mendapati Saufa tidak ada di
rumah, saat itu Rusmanah menjadi korban keganasan mereka, tak banyak yang
dilakukan Thomas, ia hanya berdiri mematung menyaksikan peristiwa itu. Iba
hanya ditautkan lewat air mata, kalau memang ia punya sedikit iba, mengapa ia
tidak melarang Bavarley ? bagaimana pun ia adalah putra Stopher Nelwan, tentu
perintahnya akan di dengar. Atau sama saja, Thomas sama bejatnya dengan mereka
?
Langit
bergemuruh saat Saufa pulang ambil air whudu’. Di goresnya sebatang daun pisang
sebagai penutup kepala, angin berderai kencang seperti akan turun hujan. Semoga
cepat turun hujan, rakyat Batavia sudah tak tahan dililt kelaparan. Tanah yang
mereka tanami, semua habis dirampas oleh penjajah. Badan kering kerontang
sebagaimana tanah yang dipijaki Saufa sekarang. Bergemerisik tandus tiap kali
dipijaki, tanpa sadar seseorang telah menguntitnya. Ia semakin mempercepat
langkah tak mau nyawanya melayang, atau kehormatannya tercabut, seperti halnya
gadis-gadis lain.
’’Wacht
me meisje !’’ teriak seseorang di belakangnya.
Mengetahui itu kolonil Belanda, Saufa mempercepat langkah. Sepuluh kali lebih
cepat. Bagaimana kalau ia adalah Bavarley,
malam yang mencekam menyamarkan pandangan Saufa, entah siapa yang
menjejaki dari belakang.
Di
depannya, pria itu tiba-tiba muncul. Tinggi putih menghalangi langkah Saufa.
Gadis itu menjerit, apa yang akan Thomas lakukan kepadanya?
’’Maaf
tuan, mengapa tuan menghalangi langkah saya, apakah anda akan mengulang hal
yang sama dengan membunuhku ? silahkan lakukan itu, bila membuat hati tuan
puas’’ Saufa menatap pria di depannya. Ia jatuhkan air mata. Bukan untuk
mengiba, tapi karna tersurat.
’’Bertahun
saya hidup dalam ketakutan. Dari pertama telahir ke dunia, aku tak pernah
merasakan hangat tanah airku, kau rampas tanah kelahiranku, kau kikis tenaga
kami. Dan apakah kau membunuhku malam ini ?’’ Saufa mengalihkan tatapan, ia menyadari mata Thomas
mulai berkaca-kaca. Ingin sebenarnya Saufa mencaci lebih pria di depannya. Tapi
apa artinya cacian bagi anak tuan belanda macam Thomas. Malam itu ia
benar-benar pasrah kalau harus mati di tangan pria tampan itu. Tapi tidak untuk
kehormatannya sebagai wanita. Namun Saufa hanya gadis biasa, dia sama sekali
tidak pernah tahu sama sekali gejolak hati seorang Thomas. Bertahun pula Thomas
mengendam luka yang sama, ia harus turuti perintah ayahnya, Stopher Nelwan.
Meski hatinya kokoh menolak. Hidup dalam lingkungan yang bertentangan dengan
nuraninya. Bagaimana Thomas harus tertawa lebar melihat pembantaian terhadap
rakyat Batavia. Padahal dalam hati, air mata ia jatuhkan. Siapa yang mau
dilahirkan menjadi putra seorang Zionis ?? malam tercabut.
Tamparan
keras itu masih amat perih. Akh, muaknya telah mencapai titik puncak. Bavarley
memang selalu ada di mana-mana, kedua bola matanya selalu mengintai,
memata-matai. Meski dalam gelap sekalipun. Sama sekali Thomas tak mengapa jika
dirinya dianggap sebagai penghianat. Tapi apa yang dibuat ayahandanya sudah
kelewat batas, di depan para kolonel Thomas di adili. Di seret di hadapan
banyak orang. Ibundanya Elizabeth Burg tak dapat berbuat banyak. Hanya terdiam
melihat putranya di tampar dengan ayahnya sendiri, Stopher Nelwan.
’’Benar
kau mencintai Saufa Thomas ?’’ Thomas bersimpuh diam, sekelebat ia melihat
Bavarley menyeringai tertawa. Pasti
dialah yang melaporkan pertemuannya dengan Saufa. Bukan tak mungkin, karena
selama ini Bavarley juga mengincar Saufa. Kalau begitu, apakah ia mendengarkan
pengakuan Thomas kalau putra Stopher Nelwan itu mengagumi sosok Saufa ?
’’Kau
tak boleh mencintainya, kita ini berbeda. Dengan mereka. Kecantikan gadis
Batavia itu bukan untuk di cintai tapi untuk di nikmati, kau mengerti putraku ?’’
tuan Stopher Nelwan marah, selama ini ia tak pernah melarang anak buahnya
termasuk putranya untuk mengagumi gadis Batavia. Tapi bukan untuk di cintai.
Hanya menikmatinya, baginya rakyat Batavia harus selalu terinjak di bawah.
Thomas harus selalu mengerti peraturan itu. Stopher Nelwan pun tak habis pikir
bagaimana putranya itu berpaling kelain hati. Tak puaskah ia menikahi Tamar
Glowlish, gadis asli Belanda. Perempuan yang dinikahinya enam tahun silam. Bila
di bandingkan, Tamar jauh lebih cantik, ia sudah memenuhi kreteria seorang
wanita. Schoonheid, Hersenen, Gedray apa karena Tamar tak bisa memberikan keturunan ? pikir
Stopher Nelwan mengawang. Tatapannya menajam membentuk kening bergaris.
Benang
merah tak boleh putus. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah
penantian, Thomas adalah putra satu-satunya. Kalau bukan kepada Thomas, kepada
siapa lagi ia mengharapkan keturunan. Untuk meneruskan kuasanya di Batavia. Tak
mungkin sepenuhnya ia mempercayai Thomas yang dianggapnya selama ini tidak
becus. Anak itu terlalu membangkang. Lebih memihak pada rakyat Batavia.
***
’’Tidurlah
nak ! jangan cepat bangun, ini zaman perang. Bangun lah baru kalau mereka pergi
dari tanah kita’’ Saufa mengenang Al Marhumah ibunya. Biasanya sebelum tidur
kata-kata itulah yang dinyanyikan Rusmanah pada putrinya, Saufa. Lalu mereka
menangis berdua. Entah kapankah perang itu akan berakhir. Sampai saat ini Saufa
masih hidup dalam ketakutan. Tak ada tanda perang akan usai, kecuali kalau
semua rakyat Batavia binasa. Baru perang itu akan usai. Perang telah
membelenggu dirinya. Tak dapat melangkah kemana, bahkan hanya untuk mencarikan
obat bagi ayahnya pun tidak bisa. Tiga hari terakhir Syamsul ayahnya demam
tinggi. Badannya dikuras para kolonel Belanda untuk tanam paksa di tanah yang
luasnya hektaran. Berjemur kokoh di bawah terik, tak ada istirahat sedetik atau
cambuk mengenai punggung. Sering lelaki tua itu mengigau. Ia inginkan
kedamaian. Pergi menemui Rusmanah yang menantinya disana. Saufa hanya perih
mendengarnya. Ia tak kuat membayangkan bila ayahnya pergi meninggalkannya.
Dari
balik tempat ia berbaring, Saufa seperti mendengar sebuah erangan, erangan
ayahnyakah ?
Erangan
itu lamat-lamat semakin nyaring mengerang. Saufa berlari mendekat, takut
sesuatu terjadi pada ayahnya. Gubuk tanpa penerang semakin menyulitkan
pandangannya. Ingin berteriak tak mampu. Ketakutan itu melenyapkan semua
kuasanya. Pintu bilik terbuka, Saufa terkejut kaget, dua lelaki itu datang
lagi. Berpakaian serba hitam dengan penutup wajah. Di tangannya pisau tajam
menyilaukan, siap dihunuskan. Sepertinya Saufa tahu siapa mereka. Bavarley dan
Gilliam. Dua bersaudara yang amat kejam. Gilliam mencekek leher ayahnya, Saufa
menjerit.
’’Lari
Saufa ! Lari !’’ Dalam erangan, Syamsul berteriak memerintah. Ia tak ingin
anaknya itu jadi korban kebiadaban mereka berdua.
Meski
berat meninggalkan ayahnya, Saufa berlari menjauh menuju belakang gubuk.
Mengetahui hal itu, Bavarley melesat mengikuti. Ia tak ingin mangsanya lolos.
Dalam hatinya ia puas menyeringai. Ia tahu apa yang harus ia lakukan pada Saufa.
Pikirnya, biarlah si Gilliam adiknya yang mengurus si tua bangka Syamsul.
’’Haha
ha..! mau lari kemana kau cantik ?’’ suara Bavarley liar. Ia tak kalah cepat
mengikuti langkah Saufa. Menerobos malam, belukar yang menghalangi jalan. Dan
Saufa, kasihan sekali gadis itu, ia pun tak tahu kemana langkahnya pergi, ia
hanya mengirim lukanya lewat air mata yang jatuh ke tanah, sementara Bavarley
makin mendekat. Siap mengeluarkan taring untuk menerkamnya.
’’Craassh
!!’’ pria tambun itu meraih tangan Saufa, ia berhasil mengejar. Saufa berusaha
berontak sekuat tenaga, berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan Bavarley.
Berhasil, pria belanda itu berhasil terpelanting.
’’Aaggghh..!!’’
geramnya kesakitan.
Namun
hal itu tak membuat nyalinya surut, malah semakin ganas, dengan kekarnya
Bavarley bangkit. Senyumnya merekah. Ia yakin malam ini akan mendapatkan Saufa.
’’Hahaha..!!’’
ia kembali mengejar lebih cepat. Rupanya tenaganya masih utuh. Ia melewati
belukar-belukar tajam, sementara Saufa mulai lunglai. Tenaganya terkuras tak
bisa berlari lebih. Di liriknya
Bavarley semakin dekat, akhirnya Bavarley berhasil meraih tangan Saufa untuk
yang kesekian kali. Bavarley menggenggamnya erat sembari
tersenyum menyeringai. Saufa, tak dapat berbuat banyak, memberontak pun
percuma. Matanya sayup menatapi langit.
‘’Ya Alloh
runtuhkanlah langit malam ini, lebih baik aku mati dari pada melayani pria
bejat ini’’ langit hanya menyaksikan.
***
Dua tahun berlalu, kamboja putih
mengatapi simpuh mereka di atas gundukan tanah, pria itu memegang erat tangan
gadis di sampingnya. Berusaha menenangkan gundah yang di telannya. Burung-burung
beterbangan, tak ada yang berubah, semua seperti dua tahun silam. Batavia masih
di bawah tangan kekuasaan Kolonel. Gundukan tanah yang betebaran adalah bukti
kalau mereka masih berkuasa, gundukan dimana rakyat Batavia di kuburkan. Dari kejauhan
Gillian Hanburg mengawasi mereka berdua. Tangan ia genggamnya erat. Sorot
matanya erat menyala. Darah harus di balas darah. Meski ia puas menghabisi
Syamsul malam itu, dua tahun silam. Tapi itu sama sekali tak dapat menebus
amarahnya. Ia amat marah, dendamnya membara. Ia masih tak rela menerima
kepergian Bavarley kakaknya. Malam yang sial, entah bagaimana bisa Bavarley
yang bertubuh kokoh, tinggi dan bertampang bringas, harus takluk dan mati
ditangan seorang Saufa. Punya ilmu apa gadis itu ? yang Gillian tahu, ia sudah
menemukan kakaknya terkapar di atas belukar dengan lumuran darah di bagian
kepala. Sedangkan Saufa, sialnya gadis itu pergi entah kemana, malam itu
Gillian berusaha mengejar, tapi Saufa sudah pergi jauh setelah menghabisi nyawa
Baverley. Kini setelah dua tahun berlalu, Gillian Hanburg tak kan
melepaskannya. Apalagi harus membiarkan mereka berdua bahagia. ‘’Cuih !’’
Gillian tak sudi.
Sekarang Thomas bukan siapa-siapa,
bukan putra tuan yang harus di hormati. Ia tak lagi seorang pangeran yang
berlindung di balik nama besar Nelwan. Stopher Nelwan tak lagi menganggap
Thomas sebagai putra, setelah Thomas memilih Saufa dan menceraikan Tamar
Glowlish, gadis asli Belanda.
‘’Silahkan kau angkat kaki Thomas, mulai saat
ini tak ada ikatan darah di antara kita, kau bukan purta ku lagi. Bukan
siapa-siapa. Sekali kau melangkah dari sini, kau adalah rakyat Batavia yang
semestinya kita jajah. Tuan Stopher murka di saksikan seluruh anak buahnya.
Tampak Gilliam tersenyum puas diantara mereka. Tamar mantan istrinya menangis
lunglai. Ia amat masih mencintai pria bermata hijau itu. Tapi harus bagaimana,
Thomas lebih memilih gadis muslim macam Saufa. Namun bagi Tamar semua tak
berhenti di sini. Pantang baginya memadamkan bara hati di sini.
Thomas tekatkan pergi, sama sekali
ia tak menoleh ke belakang. Ia tak ingin keputusannya luluh melihat tangis
ibundanya, Elizabet burg apalagi ia sempat melihat air mata di kedua mata
ayahnya Stopher Nelwan. Ia pasti merasa terpukul atas keputusan dirinya. Namun
terap berusaha tegar dan keras di hadapan anak buahnya.
Tak ada ikatan darah lagi. Tuan Stopher
Nelwan sudah menganggap Thomas bukan sebagai putranya, melainkan seorang rakyat
Batavia sebagai musuhnya. Tak mudah bagi Thomas meyakinkan Saufa agar
menerimanya, apalagi ia adalah putra dari seorang Stopher Nelwan, pimpinan para
kolonel yang selama ini berlaku kejam. Terhadap rakyat Batavia atau secara
tidak langsung ia juga membunuh kedua orang tua Saufa, Syamsul dan Rusmanah,
lewat kedua kaki tangannya, Baverlay dan Gillian Hunburg.
‘’Jangan gila kau tuan ! Belum puaskah kau
luluh lantakkan keluargaku. Kau mesti tahu siapa dirimu, masih berani kau
meminangku. Setelah apa yang kau perbuat pada keluargaku’’ begitulah jawaban
Saufa menanggapi pinangan Thomas. Belum sembuh luka hatinya atas kematian
ayahnya. Dengan seenaknya pria belanda itu menemui dirinya.
‘’Aku tidak main-main nona, selama
ini aku tidak berpihak pada mereka, aku muak mengikuti hidup mereka. Dan saat
ini aku memutuskan pergi meninggalkan keluargaku. Tidak ada lagi nama Nelwan
pada diriku, sekarang aku musuh mereka, rakyat Batavia, percayalah’’ Thomas
meyakinkan Saufa, gadis itu diam mematung, kemudian saling menatap pandang. Hal
yang selama ini mereka lakukan meski hanya dalam curian.
Saufa akhirnya menerima pinangan Thomas,
mereka tak pernah lagi menoleh ke belakang, membuka lembaran baru masih banyak
yang harus dilalui, mereka harus menghadapi Stopher Nelwan, tuan yang menentang
hubungan mereka berdua.
Di pemakaman ayahnya Syamsul, Saufa
dan Thomas kembali mengenang masa lalu. Thomas masih ingat bagaimana dua tahun
silam Syamsul pernah memeluknya, agar ia menghentikan peperangan terhadap
rakyat Batavia. Tapi sampai saat ini pun ia tak dapat berbuat banyak, meski ia
adalah putra seorang Stopher Nelwan. Apalagi dengan keadaan berbalik seperti
sekarang, ia adalah musuh bagi ayahnya sendiri, Stopher Nelwan. Kini Thomas
hanyalah rakyat biasa yang juga hidup dalam ketakutan. Stopher takkan pernah
membiarkan hidupnya bahagia dengan Saufa, belum lagi kalau ia tahu kalau saat
ini Saufa sedang hamil. Pasti tuan Stopher akan semakin mengincar
mereka.bukankah selama ini tuan Stopher Nelwan menginginkan cucu darinya.
Pikiran Thomas berkecambuk, tak ingin sesuatu terjadi menimpa keluarganya. Di
peluknya Saufa di tempat pemakaman itu. Mereka tiada menyadari bahwa sedari
tadi, Gillian Hunburg mengintai mereka, tatapan membusur. Ada dendam dalam
sorotannya.
Malam itu Saufa tidak dapat
melelapkan mata, seperti ada beban yang membuat kornea matanya tidak bisa
terpejam. Pikirannya berkelebat, dari tadi ia seperti melihat seseorang
berkelebat di antara bilik rumah. Dilihat Thomas tidur nyenyak di sampingnya,
ia tak tega membangunkannya. Sementara bayangan di luar sangat menakutkan.
Perutnya juga terasa sakit, itu yang menjadikannya malas memeriksa keluar, ia
baru sadar kalau saat itulah kelahiran anak yang di kandungnya. Ia mencoba
bangkit, tapi percuma tangannya tak cukup, sementara sakitnya semakin perih.
Thomas akhirnya terbangun mendengar jeritan
Saufa, ditatapnya perempuan itu lekat. Entah mengapa Thomas ingin menatap wajah
istrinya itu lebih malam itu. Belum cukupkan selama ini dua tahun, pandangannya
begitu tajam. Hingga meluruhkan dua titik. Titik air mata dan duka. Thomas baru
tersadar saat Saufa menjerit keras menahan sakit. Pria Belanda itu risau,
berlari keluar menerobos tengah malam.
Ia berlari, berlari tanpa alat penerang,
mencari bantuan untuk kelahiran istrinya. Berlari, menikam bumi yang ada di
depannya. Berlari, tapi ada yang menghentikan langkahnya. Belati tajam melesat
kearah tubuhnya. Thomas tak tahu dari mana arah belati itu datang. Namun sempat
ia melihat pria tambun berkelebat di depannya. Sebelum akhirnya menatap malam
begitu pekat.
***
Gillian Hunburg menyeringai di
antara mereka, gerimis hujan mengiringi tangis Saufa. Ia tak peduli siapa yang
datang. Diliriknya Gillian membelakanginya di pemakaman itu, apakan pria tambun
itu turut berduka atas kematian Thomas, padahal nampak di wajahnya ia berkicau
girang. Tak seutuhnya air mata itu luka, apalagi air mata seorang Gillian, pria
itu ikut hadir di pemakaman Thomas. Entah untuk berduka atau bersuka.
Angin pagi kadang membawa kenyataan
pahit, semalaman Saufa menantikan suaminya kembali, menahan sakit perutnya
hingga fajar. Namun begitu ia membuka pintu, Thomas terbujur kaku berlumuran
darah. Rupanya ada orang sengaja mengirim jazad suaminya. Saufa tak kuat
menahan tangis. Peristiwa dua tahun lalu kini terulang kembali, saat orang yang
ia cintai meninggalkan dirinya.
Tapi siapa yang membunuh Thomas ? Gillian kah
atau malah Stopher Nelwan, ayah kandung Thomas sendiri. Di pemakaman itu tak
hanya Gillian yang datang. Stopher Nelwan dan Elizabeth Burg pun mengiringi
kepergian Thomas, serta beberapa kolonel Belanda lainnya. Namun tak tampak
gadis Belanda mantan istri Thomas, Tamar Glowlish. Upacara pemakaman
berlangsung haru, ibunda Thomas mungkin amat terpukul atas kepergian Thomas,
Elizabeth jatuh pingsan dalam pangkuan Stopher. Lelaki pimpinan Belanda itu
berkaca-kaca seperti air mata Saufa, rasanya tak mungkin tuan Stopher membunuh
Thomas. Semarah apapun dirinya itu, sangat terlihat saat Stopher Nelwan memeluk
tanah pemakaman terakhir putranya. Menyebelahi makam ayah Saufa, Syamsul.
Suasana hening pecah. Terdengar
tangisan bayi dari pangkuan Saufa. Semalam Saufa melahirkan tanpa bantuan siapa
pun, bayi laki-laki yang di beri nama Fatah Nelwan. Sebuah nama pemberian
Thomas sebelum ia meninggal. Katanya Fatah adalah sebuah kemenangan, semoga
kelak menjadi kemenangan bagi rakyat Batavia sedangkan Nelwan adalah nama
keturunan keluarga Thomas dari keluarga, meski terusir dari keluarga. Thomas
tak ingin melepaskan nama itu, ia masih menganggap kalau darah yang mengalir
dalam tubuhnya adalah darah dari keturunan Nelwan. Mendengar tangisan bayi,
Tuan Stopher Nelwan bangkit dari tanah pemakaman Thomas, di perhatikan bayi
mungil itu.
‘’Cucuku, ini adalah cucuku ! benar,
lihat matanya hijau mirip Thomas’’ ceracau tuan Stopher girang, Elizabeth
istrinya menyambutnya dengan merampas bayi mungil itu dari dekapan Saufa.
‘’Jangan ambil Fatah Nelwan dariku. Ingat tuan,
anda telah memutuskan hubungan darah dengan Thomas. Jadi Fatah bukan
siapa-siapa anda’’ Saufa memberontak, mukanya pucat karena melahirkan semalam.
Namun berontaknya hanya membuat tuan Stopher Nelwan tertawa puas di saksikan
anak buahnya di pemakaman Thomas.
‘’Kau gila nona, perhatikan siapa nama bayi
ini ! Fatah Nelwan itu berarti Thomas putraku, tak bisa lepas dari darah
Nelwan. Sekarang pengawal ! Bawa perempuan ini keluar dari tanah Batavia, buang
dia jauh-jauh !’’ Perintah tuan Stopher. Secepat kilat tangan para kolonel itu
segera meraih tangan Saufa, dan menyeretnya kuat-kuat. Gadis itu tak dapat
berbuat banyak, hanya menatap Fatah anaknya yang berada di pangkuan Elizabeth.
Tatapan terakhir, sebelum ia terbuang dari tanah Batavia. Para kolonel menyeretnya
menjauh dari pemakaman.
***
Kini, setelah puluhan tahun berlalu.
Semua telah berubah. Batavia bukan kering kumuh seperti dulu. Bangunan menjelma
kokoh megah dengan gedung pencakar langit. Ia tak lagi muda, tak lagi menawan,
tak lagi digilai banyak pria, seperti ketika Thomas, Baverlay, dan Gillian
bertekuk lutut. Mengaguminya. Kedatangannya hanya ingin menemui Thomas
suaminya dan juga ayahnya dalam ritual ziarah. Esok jika ia di panggil yang
kuasa, Saufa ingin tempat peristirahatannya bersebelahan dengan makam Thomas.
Namun apa yang terjadi hanya menambah duka, pemakaman yang dulu luas sekarang
berubah bangunan mewah diskotik, tempat pelacuran. Dimana gadis belia
memamerkan lekuk tubuh, inikah kemerdekaan negri ini. Meski begitu Saufa masih
tekatkan masuk kedalam, membaca doa untuk Thomas.
Sama sekali ia tak merasa risih
meski beberapa pasang mata membusurnya. Baginya tampat itu masih pemakaman
tempat terakhir suaminya, bukan tempat pelacuran seperti sekarang.
Sampai suatu ketika pria-pria
gagah berbaju loreng datang dan memburu para pengunjung. Nenek Saufa tak dapat
mengelak, tak dapat berlari. Ia hanya seorang nenek renta yang tak punya tenaga.
Hingga ia pasrah ketika diseret lelaki gagah bermata hijau, menuju mobil razia.
‘’Craaasshh !!’’ Nenek Saufa
memberontak menarik ujung baju sang aparat, hingga robek bagian tangan. Ada
tanda lahir di tangan aparat itu. Tanda lahir yang sama persis seperti tanda
lahir Fatah Nelwan anaknya yang direbut paksa Stopher Nelwan puluhan tahun
lalu. Mendadak benak nenek Saufa dipenuhi tanda Tanya. Siapa sebenarnya pria
gagah itu ?
Tak
lama satu aparat lagi datang mendekat.
‘’Maaf, biar saya saja yang menyeret
nenek tua ini tuan Fatah Nelwan’’
(1)
Wacht me meisje : Tunggu aku nona !
(2)
Schoonheid, Hersenen, Gedrag : cantik,
pintar, berkepribadian
Bersambung …
Syamsa Adam
Bogor,
05-05-2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar