Jumat, 24 Januari 2014

Ziarah 1


Nenek tujuh puluh tahunan itu masih khusyuk dengan lembaran yang di baca mulutnya, tak pernah berhenti berpacu dengan gemerlap lampu diskotik. Meski ia harus mengingat luka puluhan tahun lalu. Ia kekarkan tenaga untuk sampai ke diskotik meski dengan langkah tertatih. Akh, semua telah berubah, waktu seperti cepat berlalu.
Disekitarnya, gadis-gadis belia berhamburan dengan wangi parfum menggoda. Menatap tajam berbisik satu dengan yang lain. Rok mini dengan bibir yang di merah-merahi mengakrabi riak gadis penghibur seperti mereka, menari dengan pasangan masing-masing, melepaskan malam dengan binal. Meski beberapa pasang mata para pria membusurnya nakal, nenek itu tetap melanjutkan ritualnya.
Mereka tampak tertawa mengucilkan, mereka pikir, siapa yang mau kencan dengan nenek peot macam dirinya ? tak lama beberapa pria dengan baju loreng-loreng menggemparkan.
’’Razia, kami akan merazia tempat ini !’’begitu ucap pria gagah itu lalu memaksa paksa nenek masuk mobil razia, nenek melawan memberontak, ia mengerang berusaha melepaskan genggaman tangan pria gagah itu.
’’Craass !’’ Baju sang aparat robek bagian tangan akibat cakaran nenek. mengingatkan nenek pada kepingan luka di masa lalu.
***
Masuk Saufa, masuk biar ayah yang mrenghadapi mereka, lebih baik ayah mandi darah dari pada kau jadi pemuas nafsu mereka’’ cercau Syamsul berteriak, pintu di tutupnya rapat-rapat. Saufa bersembunyi di kolong meja.
Mereka datang lagi, padahal masih remang, rupanya mereka mengambil jatah pagi lebih awal. Lelaki-lelaki tegap berambut pirang, berbadan bidang. Mereka memang berkuasa, bahkan kalau melawan bisa saja Syamsul tidak dapat melihat mentari hari itu. Sunyi senyap bagai kota mati, mereka mungkin sudah tahu, bahwa kolonel belanda itu datang menyerang, semua pintu warga tertutup. Hanya ada sebagian saja mengintip dari balik tirai bambu. Empat pemuda berlari gagah, mereka para kolonel Belanda, anak buah Stopher Nelwan, yang tak hanya menjajah negara, tapi juga hati dalam kabut remang. Seorang pemuda mondar-mandir dengan senjata pistol panjang, mencari celah rumah yang dapat di masuki. Graham Ivander, kulit putih, rambut panjang pirang, ia memang terkenal sadis, tak ada yang selamat dari bidikannya, ia yang paling ditakuti, tak ada rakyat batavia yang berani menyelinap di balik mentari bila kerja paksa di mulai. Semua harus teteskan derai keringat, kalau tidak, peluru tepat kesasaran. Sementara dua di antara mereka, Bavarley Crenkas dan Gillian Hanburg, dua bersaudara berbadan tambun, dua bersaudara yang haus gadis Batavia, ia tak pernah loloskan gadis Batavia dalam cengkramannya.
Beberapa hari terakhir mereka mengintai keberadaan Saufa, gadis cantik berparas menawan, sementara pria yang satunya, Saufa menatapnya dari kejauhan, dari lubang kecil ayaman bambu, pria tampan berwajah sendu, Saufa seringkali menatap ada kepediahan dalam sorot matanya, mata pria tampan itu selalu berkaca-kaca tiap melihat rakyat Batavia di cambuk. Tapi garis keturunan tak mampu menutupi kebencian Saufa pada pria itu. Ia adalah Thomas Nelwan, putra satu-satunya Stopher Nelwan, pimpinan kolonel Belanda. Masih lekat dalam ingatan Saufa bagaimana para kolonel itu menghabisi nyawa ibunya secara sadis. Tepat seperti remang pagi, Bavarley dan William begitu marahnya mendapati Saufa tidak ada di rumah, saat itu Rusmanah menjadi korban keganasan mereka, tak banyak yang dilakukan Thomas, ia hanya berdiri mematung menyaksikan peristiwa itu. Iba hanya ditautkan lewat air mata, kalau memang ia punya sedikit iba, mengapa ia tidak melarang Bavarley ? bagaimana pun ia adalah putra Stopher Nelwan, tentu perintahnya akan di dengar. Atau sama saja, Thomas sama bejatnya dengan mereka ?
Langit bergemuruh saat Saufa pulang ambil air whudu’. Di goresnya sebatang daun pisang sebagai penutup kepala, angin berderai kencang seperti akan turun hujan. Semoga cepat turun hujan, rakyat Batavia sudah tak tahan dililt kelaparan. Tanah yang mereka tanami, semua habis dirampas oleh penjajah. Badan kering kerontang sebagaimana tanah yang dipijaki Saufa sekarang. Bergemerisik tandus tiap kali dipijaki, tanpa sadar seseorang telah menguntitnya. Ia semakin mempercepat langkah tak mau nyawanya melayang, atau kehormatannya tercabut, seperti halnya gadis-gadis lain.
’’Wacht me meisje !’’ teriak seseorang di belakangnya. Mengetahui itu kolonil Belanda, Saufa mempercepat langkah. Sepuluh kali lebih cepat. Bagaimana kalau ia adalah Bavarley,  malam yang mencekam menyamarkan pandangan Saufa, entah siapa yang menjejaki dari belakang.
Di depannya, pria itu tiba-tiba muncul. Tinggi putih menghalangi langkah Saufa. Gadis itu menjerit, apa yang akan Thomas lakukan kepadanya?
’’Maaf tuan, mengapa tuan menghalangi langkah saya, apakah anda akan mengulang hal yang sama dengan membunuhku ? silahkan lakukan itu, bila membuat hati tuan puas’’ Saufa menatap pria di depannya. Ia jatuhkan air mata. Bukan untuk mengiba, tapi karna tersurat.
’’Bertahun saya hidup dalam ketakutan. Dari pertama telahir ke dunia, aku tak pernah merasakan hangat tanah airku, kau rampas tanah kelahiranku, kau kikis tenaga kami. Dan apakah kau membunuhku malam ini ?’’ Saufa  mengalihkan tatapan, ia menyadari mata Thomas mulai berkaca-kaca. Ingin sebenarnya Saufa mencaci lebih pria di depannya. Tapi apa artinya cacian bagi anak tuan belanda macam Thomas. Malam itu ia benar-benar pasrah kalau harus mati di tangan pria tampan itu. Tapi tidak untuk kehormatannya sebagai wanita. Namun Saufa hanya gadis biasa, dia sama sekali tidak pernah tahu sama sekali gejolak hati seorang Thomas. Bertahun pula Thomas mengendam luka yang sama, ia harus turuti perintah ayahnya, Stopher Nelwan. Meski hatinya kokoh menolak. Hidup dalam lingkungan yang bertentangan dengan nuraninya. Bagaimana Thomas harus tertawa lebar melihat pembantaian terhadap rakyat Batavia. Padahal dalam hati, air mata ia jatuhkan. Siapa yang mau dilahirkan menjadi putra seorang Zionis ?? malam tercabut.
Tamparan keras itu masih amat perih. Akh, muaknya telah mencapai titik puncak. Bavarley memang selalu ada di mana-mana, kedua bola matanya selalu mengintai, memata-matai. Meski dalam gelap sekalipun. Sama sekali Thomas tak mengapa jika dirinya dianggap sebagai penghianat. Tapi apa yang dibuat ayahandanya sudah kelewat batas, di depan para kolonel Thomas di adili. Di seret di hadapan banyak orang. Ibundanya Elizabeth Burg tak dapat berbuat banyak. Hanya terdiam melihat putranya di tampar dengan ayahnya sendiri, Stopher Nelwan.
’’Benar kau mencintai Saufa Thomas ?’’ Thomas bersimpuh diam, sekelebat ia melihat Bavarley menyeringai tertawa. Pasti dialah yang melaporkan pertemuannya dengan Saufa. Bukan tak mungkin, karena selama ini Bavarley juga mengincar Saufa. Kalau begitu, apakah ia mendengarkan pengakuan Thomas kalau putra Stopher Nelwan itu mengagumi sosok Saufa ?
’’Kau tak boleh mencintainya, kita ini berbeda. Dengan mereka. Kecantikan gadis Batavia itu bukan untuk di cintai tapi untuk di nikmati, kau mengerti putraku ?’’ tuan Stopher Nelwan marah, selama ini ia tak pernah melarang anak buahnya termasuk putranya untuk mengagumi gadis Batavia. Tapi bukan untuk di cintai. Hanya menikmatinya, baginya rakyat Batavia harus selalu terinjak di bawah. Thomas harus selalu mengerti peraturan itu. Stopher Nelwan pun tak habis pikir bagaimana putranya itu berpaling kelain hati. Tak puaskah ia menikahi Tamar Glowlish, gadis asli Belanda. Perempuan yang dinikahinya enam tahun silam. Bila di bandingkan, Tamar jauh lebih cantik, ia sudah memenuhi kreteria seorang wanita. Schoonheid, Hersenen, Gedray apa karena Tamar tak bisa memberikan keturunan ? pikir Stopher Nelwan mengawang. Tatapannya menajam membentuk kening bergaris.
Benang merah tak boleh putus. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah penantian, Thomas adalah putra satu-satunya. Kalau bukan kepada Thomas, kepada siapa lagi ia mengharapkan keturunan. Untuk meneruskan kuasanya di Batavia. Tak mungkin sepenuhnya ia mempercayai Thomas yang dianggapnya selama ini tidak becus. Anak itu terlalu membangkang. Lebih memihak pada rakyat Batavia.
***
’’Tidurlah nak ! jangan cepat bangun, ini zaman perang. Bangun lah baru kalau mereka pergi dari tanah kita’’ Saufa mengenang Al Marhumah ibunya. Biasanya sebelum tidur kata-kata itulah yang dinyanyikan Rusmanah pada putrinya, Saufa. Lalu mereka menangis berdua. Entah kapankah perang itu akan berakhir. Sampai saat ini Saufa masih hidup dalam ketakutan. Tak ada tanda perang akan usai, kecuali kalau semua rakyat Batavia binasa. Baru perang itu akan usai. Perang telah membelenggu dirinya. Tak dapat melangkah kemana, bahkan hanya untuk mencarikan obat bagi ayahnya pun tidak bisa. Tiga hari terakhir Syamsul ayahnya demam tinggi. Badannya dikuras para kolonel Belanda untuk tanam paksa di tanah yang luasnya hektaran. Berjemur kokoh di bawah terik, tak ada istirahat sedetik atau cambuk mengenai punggung. Sering lelaki tua itu mengigau. Ia inginkan kedamaian. Pergi menemui Rusmanah yang menantinya disana. Saufa hanya perih mendengarnya. Ia tak kuat membayangkan bila ayahnya pergi meninggalkannya.
Dari balik tempat ia berbaring, Saufa seperti mendengar sebuah erangan, erangan ayahnyakah ?
Erangan itu lamat-lamat semakin nyaring mengerang. Saufa berlari mendekat, takut sesuatu terjadi pada ayahnya. Gubuk tanpa penerang semakin menyulitkan pandangannya. Ingin berteriak tak mampu. Ketakutan itu melenyapkan semua kuasanya. Pintu bilik terbuka, Saufa terkejut kaget, dua lelaki itu datang lagi. Berpakaian serba hitam dengan penutup wajah. Di tangannya pisau tajam menyilaukan, siap dihunuskan. Sepertinya Saufa tahu siapa mereka. Bavarley dan Gilliam. Dua bersaudara yang amat kejam. Gilliam mencekek leher ayahnya, Saufa menjerit.
’’Lari Saufa ! Lari !’’ Dalam erangan, Syamsul berteriak memerintah. Ia tak ingin anaknya itu jadi korban kebiadaban mereka berdua.
Meski berat meninggalkan ayahnya, Saufa berlari menjauh menuju belakang gubuk. Mengetahui hal itu, Bavarley melesat mengikuti. Ia tak ingin mangsanya lolos. Dalam hatinya ia puas menyeringai. Ia tahu apa yang harus ia lakukan pada Saufa. Pikirnya, biarlah si Gilliam adiknya yang mengurus si tua bangka Syamsul.
’’Haha ha..! mau lari kemana kau cantik ?’’ suara Bavarley liar. Ia tak kalah cepat mengikuti langkah Saufa. Menerobos malam, belukar yang menghalangi jalan. Dan Saufa, kasihan sekali gadis itu, ia pun tak tahu kemana langkahnya pergi, ia hanya mengirim lukanya lewat air mata yang jatuh ke tanah, sementara Bavarley makin mendekat. Siap mengeluarkan taring untuk menerkamnya.
’’Craassh !!’’ pria tambun itu meraih tangan Saufa, ia berhasil mengejar. Saufa berusaha berontak sekuat tenaga, berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan Bavarley. Berhasil, pria belanda itu berhasil terpelanting.
’’Aaggghh..!!’’ geramnya kesakitan.
Namun hal itu tak membuat nyalinya surut, malah semakin ganas, dengan kekarnya Bavarley bangkit. Senyumnya merekah. Ia yakin malam ini akan mendapatkan Saufa.
’’Hahaha..!!’’ ia kembali mengejar lebih cepat. Rupanya tenaganya masih utuh. Ia melewati belukar-belukar tajam, sementara Saufa mulai lunglai. Tenaganya terkuras tak bisa berlari lebih. Di liriknya Bavarley semakin dekat, akhirnya Bavarley berhasil meraih tangan Saufa untuk yang kesekian kali. Bavarley menggenggamnya erat sembari tersenyum menyeringai. Saufa, tak dapat berbuat banyak, memberontak pun percuma. Matanya sayup menatapi langit.
‘’Ya Alloh runtuhkanlah langit malam ini, lebih baik aku mati dari pada melayani pria bejat ini’’ langit hanya menyaksikan.
***
            Dua tahun berlalu, kamboja putih mengatapi simpuh mereka di atas gundukan tanah, pria itu memegang erat tangan gadis di sampingnya. Berusaha menenangkan gundah yang di telannya. Burung-burung beterbangan, tak ada yang berubah, semua seperti dua tahun silam. Batavia masih di bawah tangan kekuasaan Kolonel. Gundukan tanah yang betebaran adalah bukti kalau mereka masih berkuasa, gundukan dimana rakyat Batavia di kuburkan. Dari kejauhan Gillian Hanburg mengawasi mereka berdua. Tangan ia genggamnya erat. Sorot matanya erat menyala. Darah harus di balas darah. Meski ia puas menghabisi Syamsul malam itu, dua tahun silam. Tapi itu sama sekali tak dapat menebus amarahnya. Ia amat marah, dendamnya membara. Ia masih tak rela menerima kepergian Bavarley kakaknya. Malam yang sial, entah bagaimana bisa Bavarley yang bertubuh kokoh, tinggi dan bertampang bringas, harus takluk dan mati ditangan seorang Saufa. Punya ilmu apa gadis itu ? yang Gillian tahu, ia sudah menemukan kakaknya terkapar di atas belukar dengan lumuran darah di bagian kepala. Sedangkan Saufa, sialnya gadis itu pergi entah kemana, malam itu Gillian berusaha mengejar, tapi Saufa sudah pergi jauh setelah menghabisi nyawa Baverley. Kini setelah dua tahun berlalu, Gillian Hanburg tak kan melepaskannya. Apalagi harus membiarkan mereka berdua bahagia. ‘’Cuih !’’ Gillian tak sudi.
            Sekarang Thomas bukan siapa-siapa, bukan putra tuan yang harus di hormati. Ia tak lagi seorang pangeran yang berlindung di balik nama besar Nelwan. Stopher Nelwan tak lagi menganggap Thomas sebagai putra, setelah Thomas memilih Saufa dan menceraikan Tamar Glowlish, gadis asli Belanda.
‘’Silahkan kau angkat kaki Thomas, mulai saat ini tak ada ikatan darah di antara kita, kau bukan purta ku lagi. Bukan siapa-siapa. Sekali kau melangkah dari sini, kau adalah rakyat Batavia yang semestinya kita jajah. Tuan Stopher murka di saksikan seluruh anak buahnya. Tampak Gilliam tersenyum puas diantara mereka. Tamar mantan istrinya menangis lunglai. Ia amat masih mencintai pria bermata hijau itu. Tapi harus bagaimana, Thomas lebih memilih gadis muslim macam Saufa. Namun bagi Tamar semua tak berhenti di sini. Pantang baginya memadamkan bara hati di sini.
            Thomas tekatkan pergi, sama sekali ia tak menoleh ke belakang. Ia tak ingin keputusannya luluh melihat tangis ibundanya, Elizabet burg apalagi ia sempat melihat air mata di kedua mata ayahnya Stopher Nelwan. Ia pasti merasa terpukul atas keputusan dirinya. Namun terap berusaha tegar dan keras di hadapan anak buahnya.
Tak ada ikatan darah lagi. Tuan Stopher Nelwan sudah menganggap Thomas bukan sebagai putranya, melainkan seorang rakyat Batavia sebagai musuhnya. Tak mudah bagi Thomas meyakinkan Saufa agar menerimanya, apalagi ia adalah putra dari seorang Stopher Nelwan, pimpinan para kolonel yang selama ini berlaku kejam. Terhadap rakyat Batavia atau secara tidak langsung ia juga membunuh kedua orang tua Saufa, Syamsul dan Rusmanah, lewat kedua kaki tangannya, Baverlay dan Gillian Hunburg.
‘’Jangan gila kau tuan ! Belum puaskah kau luluh lantakkan keluargaku. Kau mesti tahu siapa dirimu, masih berani kau meminangku. Setelah apa yang kau perbuat pada keluargaku’’ begitulah jawaban Saufa menanggapi pinangan Thomas. Belum sembuh luka hatinya atas kematian ayahnya. Dengan seenaknya pria belanda itu menemui dirinya.
            ‘’Aku tidak main-main nona, selama ini aku tidak berpihak pada mereka, aku muak mengikuti hidup mereka. Dan saat ini aku memutuskan pergi meninggalkan keluargaku. Tidak ada lagi nama Nelwan pada diriku, sekarang aku musuh mereka, rakyat Batavia, percayalah’’ Thomas meyakinkan Saufa, gadis itu diam mematung, kemudian saling menatap pandang. Hal yang selama ini mereka lakukan meski hanya dalam curian.
Saufa akhirnya menerima pinangan Thomas, mereka tak pernah lagi menoleh ke belakang, membuka lembaran baru masih banyak yang harus dilalui, mereka harus menghadapi Stopher Nelwan, tuan yang menentang hubungan mereka berdua.
            Di pemakaman ayahnya Syamsul, Saufa dan Thomas kembali mengenang masa lalu. Thomas masih ingat bagaimana dua tahun silam Syamsul pernah memeluknya, agar ia menghentikan peperangan terhadap rakyat Batavia. Tapi sampai saat ini pun ia tak dapat berbuat banyak, meski ia adalah putra seorang Stopher Nelwan. Apalagi dengan keadaan berbalik seperti sekarang, ia adalah musuh bagi ayahnya sendiri, Stopher Nelwan. Kini Thomas hanyalah rakyat biasa yang juga hidup dalam ketakutan. Stopher takkan pernah membiarkan hidupnya bahagia dengan Saufa, belum lagi kalau ia tahu kalau saat ini Saufa sedang hamil. Pasti tuan Stopher akan semakin mengincar mereka.bukankah selama ini tuan Stopher Nelwan menginginkan cucu darinya. Pikiran Thomas berkecambuk, tak ingin sesuatu terjadi menimpa keluarganya. Di peluknya Saufa di tempat pemakaman itu. Mereka tiada menyadari bahwa sedari tadi, Gillian Hunburg mengintai mereka, tatapan membusur. Ada dendam dalam sorotannya.
            Malam itu Saufa tidak dapat melelapkan mata, seperti ada beban yang membuat kornea matanya tidak bisa terpejam. Pikirannya berkelebat, dari tadi ia seperti melihat seseorang berkelebat di antara bilik rumah. Dilihat Thomas tidur nyenyak di sampingnya, ia tak tega membangunkannya. Sementara bayangan di luar sangat menakutkan. Perutnya juga terasa sakit, itu yang menjadikannya malas memeriksa keluar, ia baru sadar kalau saat itulah kelahiran anak yang di kandungnya. Ia mencoba bangkit, tapi percuma tangannya tak cukup, sementara sakitnya semakin perih.
Thomas akhirnya terbangun mendengar jeritan Saufa, ditatapnya perempuan itu lekat. Entah mengapa Thomas ingin menatap wajah istrinya itu lebih malam itu. Belum cukupkan selama ini dua tahun, pandangannya begitu tajam. Hingga meluruhkan dua titik. Titik air mata dan duka. Thomas baru tersadar saat Saufa menjerit keras menahan sakit. Pria Belanda itu risau, berlari keluar menerobos tengah malam.
Ia berlari, berlari tanpa alat penerang, mencari bantuan untuk kelahiran istrinya. Berlari, menikam bumi yang ada di depannya. Berlari, tapi ada yang menghentikan langkahnya. Belati tajam melesat kearah tubuhnya. Thomas tak tahu dari mana arah belati itu datang. Namun sempat ia melihat pria tambun berkelebat di depannya. Sebelum akhirnya menatap malam begitu pekat.
***
            Gillian Hunburg menyeringai di antara mereka, gerimis hujan mengiringi tangis Saufa. Ia tak peduli siapa yang datang. Diliriknya Gillian membelakanginya di pemakaman itu, apakan pria tambun itu turut berduka atas kematian Thomas, padahal nampak di wajahnya ia berkicau girang. Tak seutuhnya air mata itu luka, apalagi air mata seorang Gillian, pria itu ikut hadir di pemakaman Thomas. Entah untuk berduka atau bersuka.
            Angin pagi kadang membawa kenyataan pahit, semalaman Saufa menantikan suaminya kembali, menahan sakit perutnya hingga fajar. Namun begitu ia membuka pintu, Thomas terbujur kaku berlumuran darah. Rupanya ada orang sengaja mengirim jazad suaminya. Saufa tak kuat menahan tangis. Peristiwa dua tahun lalu kini terulang kembali, saat orang yang ia cintai meninggalkan dirinya.
Tapi siapa yang membunuh Thomas ? Gillian kah atau malah Stopher Nelwan, ayah kandung Thomas sendiri. Di pemakaman itu tak hanya Gillian yang datang. Stopher Nelwan dan Elizabeth Burg pun mengiringi kepergian Thomas, serta beberapa kolonel Belanda lainnya. Namun tak tampak gadis Belanda mantan istri Thomas, Tamar Glowlish. Upacara pemakaman berlangsung haru, ibunda Thomas mungkin amat terpukul atas kepergian Thomas, Elizabeth jatuh pingsan dalam pangkuan Stopher. Lelaki pimpinan Belanda itu berkaca-kaca seperti air mata Saufa, rasanya tak mungkin tuan Stopher membunuh Thomas. Semarah apapun dirinya itu, sangat terlihat saat Stopher Nelwan memeluk tanah pemakaman terakhir putranya. Menyebelahi makam ayah Saufa, Syamsul.
            Suasana hening pecah. Terdengar tangisan bayi dari pangkuan Saufa. Semalam Saufa melahirkan tanpa bantuan siapa pun, bayi laki-laki yang di beri nama Fatah Nelwan. Sebuah nama pemberian Thomas sebelum ia meninggal. Katanya Fatah adalah sebuah kemenangan, semoga kelak menjadi kemenangan bagi rakyat Batavia sedangkan Nelwan adalah nama keturunan keluarga Thomas dari keluarga, meski terusir dari keluarga. Thomas tak ingin melepaskan nama itu, ia masih menganggap kalau darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah dari keturunan Nelwan. Mendengar tangisan bayi, Tuan Stopher Nelwan bangkit dari tanah pemakaman Thomas, di perhatikan bayi mungil itu.
            ‘’Cucuku, ini adalah cucuku ! benar, lihat matanya hijau mirip Thomas’’ ceracau tuan Stopher girang, Elizabeth istrinya menyambutnya dengan merampas bayi mungil itu dari dekapan Saufa.
‘’Jangan ambil Fatah Nelwan dariku. Ingat tuan, anda telah memutuskan hubungan darah dengan Thomas. Jadi Fatah bukan siapa-siapa anda’’ Saufa memberontak, mukanya pucat karena melahirkan semalam. Namun berontaknya hanya membuat tuan Stopher Nelwan tertawa puas di saksikan anak buahnya di pemakaman Thomas.
‘’Kau gila nona, perhatikan siapa nama bayi ini ! Fatah Nelwan itu berarti Thomas putraku, tak bisa lepas dari darah Nelwan. Sekarang pengawal ! Bawa perempuan ini keluar dari tanah Batavia, buang dia jauh-jauh !’’ Perintah tuan Stopher. Secepat kilat tangan para kolonel itu segera meraih tangan Saufa, dan menyeretnya kuat-kuat. Gadis itu tak dapat berbuat banyak, hanya menatap Fatah anaknya yang berada di pangkuan Elizabeth. Tatapan terakhir, sebelum ia terbuang dari tanah Batavia. Para kolonel menyeretnya menjauh dari pemakaman.
***
            Kini, setelah puluhan tahun berlalu. Semua telah berubah. Batavia bukan kering kumuh seperti dulu. Bangunan menjelma kokoh megah dengan gedung pencakar langit. Ia tak lagi muda, tak lagi menawan, tak lagi digilai banyak pria, seperti ketika Thomas, Baverlay, dan Gillian bertekuk lutut. Mengaguminya. Kedatangannya hanya ingin menemui Thomas suaminya dan juga ayahnya dalam ritual ziarah. Esok jika ia di panggil yang kuasa, Saufa ingin tempat peristirahatannya bersebelahan dengan makam Thomas. Namun apa yang terjadi hanya menambah duka, pemakaman yang dulu luas sekarang berubah bangunan mewah diskotik, tempat pelacuran. Dimana gadis belia memamerkan lekuk tubuh, inikah kemerdekaan negri ini. Meski begitu Saufa masih tekatkan masuk kedalam, membaca doa untuk Thomas.
Sama sekali ia tak merasa risih meski beberapa pasang mata membusurnya. Baginya tampat itu masih pemakaman tempat terakhir suaminya, bukan tempat pelacuran seperti sekarang.
Sampai suatu ketika pria-pria gagah berbaju loreng datang dan memburu para pengunjung. Nenek Saufa tak dapat mengelak, tak dapat berlari. Ia hanya seorang nenek renta yang tak punya tenaga. Hingga ia pasrah ketika diseret lelaki gagah bermata hijau, menuju mobil razia.
            ‘’Craaasshh !!’’ Nenek Saufa memberontak menarik ujung baju sang aparat, hingga robek bagian tangan. Ada tanda lahir di tangan aparat itu. Tanda lahir yang sama persis seperti tanda lahir Fatah Nelwan anaknya yang direbut paksa Stopher Nelwan puluhan tahun lalu. Mendadak benak nenek Saufa dipenuhi tanda Tanya. Siapa sebenarnya pria gagah itu ?
Tak lama satu aparat lagi datang mendekat.
            ‘’Maaf, biar saya saja yang menyeret nenek tua ini tuan Fatah Nelwan’’

(1)    Wacht me meisje : Tunggu aku nona !

(2)    Schoonheid, Hersenen, Gedrag : cantik, pintar, berkepribadian



Bersambung …                                                                       
                           Syamsa Adam
 Bogor, 05-05-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar