Sore berbisik lewat dedaunan. Bisikan yang biasa menjadi petanda kalau
terang sebentar lagi akan berganti dengan gelap, embun masih berdian diatan
pucuk bakau, halimun pagi yang hilir
mudik menghalangi pemandangan, semuanya begitu nyata.
Semua bagaikan ilusi, desiran pantai
kembali menghantuiku setelah tiga tahun resmi kutinggalkan pulau kecil
ini. Gerimis sore mulai menghantui hatiku yang kering gersang. Kering akan
kasih sayang yang justru membuatku terbuang, kalah dan terusir. Pasir putih
kembali menyapaku dengan nostalgia yang tak mungkin dapat kulupa. Nostalgia
yang membuatku harus enyah dari pulau tercinta ini.
Ombak seakan–akan menggapai mentari dipusar langit. Semua nakhoda kapal
melabuh kesekitar pesisir laut. Kupandangi lebih dalam pulau yang pernah
memberiku kebahagiaan itu, hatiku makin pedih teriris. Tak terasa air mata
mentes menyatu dengan asin air laut dimana kapal yang aku tumpangi sekarang.
Terlintas raut wajah yang sangat aku sayangi mbok dan adikku Zahra. Seperti
apa mereka dan bagaimana keadaan mereka sekarang ? Rasanya aku ingin segera
menginjakkan kai ini kedalam rumah dan segera memeluk mereka, sebgai kejutan
buat mbok, kupercepat langkahku memijaki tanah amis ini , tanah yang hamper
membuat aku mati jikalau tak segera kutinggalkan pulau ini meski berat. Aku sangat merindukan mereka. Aku tak peduli
kalaupun nanti mereka tak mau merimaku lagi . Kemungkinan yang mungkin masih
ada sampai saat ini. Aku memang bersalah. Aku tak pantas dimaafkan karna
kesalahan ku tak bisa lenyap hanya dengan sepotong kata maaf . Air mataku
menetes menyesali apa yang telah terjadi. Namun sesal tak dapat mengembalikan
semuanya menjadi sepeti dulu.
Hatiku teririS, maafkanlah hambamu ini -
Kulangkahkan kakiku menuju
rerumputan teki yang biasanya tumbuh diantara pecahan tanah dan membuat kaki
terasa gatal. Rumahku memang tak terlalu jauh dari dermaga. Dapat ditempuh
dengan cara berjalan kaki. Kutatap semua kenangan tentang tempat ini .
Tak ada yang berubah, masih persis seperti saat kutinggalkan tiga tahun
lalu. Masih banyak anak kecil berlari-lari, bermainpasir ditepi dermaga. Mereka sempat menatapku dengan mata bening
mereka. Mungkin karena penampilanku yang tak seperti orang-orang disini. Kulewati
jalan setapak menuju rumahku. Orang-orang menatapku mereka saling berbisik satu
sama lain . Entah apa yang mereka bisikkan. Mereka menatapku dengan pandangan
dingin, seperti menatap binatang paling menjijikkan. Namun aku tak menghiraukan
mereka. Terserah mereka menilai aku seperti apa.
Kulangkahkan kakiku terus meninggalkan mereka. Namun tiba-tiba kulihat Nur,
wanita cantik yang pernah kutaksir itu dihadapanku, gadis yang membuatku
melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Hingga akhirnya kutinggalkan pulau
tercinta ini. Gadis itu tetap cantik, bahkan lebih cantik dari sebelumnya.
Namun tiba-tiba seorang pria kekar menghampirinya melototiku sangar, ia
memberikan seporang bayi yang masih kecil kepangkuan Nur. Ia adalah laki-laki
yang memang meenginginkan tubuh Nur dari dulu. Ia terus menatapku dan kemudian
mereka masuk kedalam rumah. Aku tercengan dengan semua itu. Air mataku mengalirkan
air mataku, rupanya mereka sudah menikah dan bayi yang baru saja digendong oleh
Nur itu adalah buah hati mereka. Aku benar-benar bodoh.
Matahari mulai menghilang diufuk
barat bersama tarian angin yang menggetarkan layar kusut perahu nelayan,
terbang bersama cicit-cicit suara gaduh camar yang sedang melintasi laut biru. Malam
mulai menghinggapi pulau.
Surut petang menghalang pandangan saat jantungku mulai berdetak. Kutatapi
pintu rumah yang makin bayak dilubAngi rayap itu, kuketuk beberapa kali, tak
ada jawaban.
***
Rumahku nampak sepi dan tak berpenghuni. Masa kecil mencoba mencul kembali
lagi saat aku dan Zahra bermain petak umpet dalam rumah, sungguh indah kenangan
itu, makan singkong bakar sambil berlari telanjang diantara rinai hujan yang
lebat namun langkah kaki dalam rumah membuyarkan segalanya, derap kaki yang
semakin mendekat menuju ambang pintu, jantungku kembali berdetak kencang. Pintu
rumahpun terbuka. Kulihat sosok yang selama ini aku rindukan. Air mataku menitik,
zahra adik semata wayang ku.
''Zahra apakah ini benar ini kamu dek ? aku kangen sama kamu dek. Abang
rindu, lihat ni abang bawa apa ? Bawa mie kocok kesukaan kamu dek !'' sambil
menjulurkan kantong plastik dari dalam tas ranselku.
Aneh, tak ada jawaban dari Zahra. Tatapannya kosong, ia seoperti orang
linglung menatapku . Tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya kemudaian tertawa
cekikikan
''Kam..kamu ...siapa ?..'' tanya zahra
''Zahra.. Kamu ngak kenal aku Zahra, aku trisno abangmu Zahra..'' jelasku.
Namun zahra memberontak seperti orang keserupan matanya melotot, ia
kemudian tertawa lagi.
''Minggat kamu aku orak sudi punya abang bejat seperti kamu, kamu
penjahat'' ia memberontak lagi.
''Maafkan abang zahra. Abang khilaf abang janji ngak akan mengulangi
perbuatan itu lagi. Abang mau ketemu mbok Zahra, jangan usir abang ...''
rintihku
''Mbok..maafin Zahra mbok.. Zahra ngak bisa nemani mbok dialam kubur
sana..'' sambil menangis ia mengucapakn kata-kata itu.
''Apa maksud kamu Zahra, dimana mbok ? apa mbok udah..!!''
''Minggat kamu kamu jangan datang kemari lagi. Zahra udah muak sama kamu.
Lebih baik kamu jauh dari sini ..pergi....'' teriak zahra, melengking keras,
hatiku hancur lebur.
Mbok telah tiada dan orang yang aku sayangi telah mengusirku, ia
jmendorongku keluar dari ambang pintu. Aku bingung Zahra seperti bukan adikku,
ia terlihat seperti orang gila, aku tak mengerti semua ini semua telah
berubahaku benar-benar bingung harus bagaimana, semuanya telah tiada dan
berakhir. Kulangkahkan kakiku menjauh dari rumah yang pertnah memberiku rasa
nyaman itu.
''Tunggu..!! Ambil bayi ini aku tak mau merawat bayi setan, bayi keparat
yang ada gara gara kamu'' Zahra menghampiriku ia memberikan bayi yang masih
merah kepangkuanku. Aku makin bingung dibuatnya.
''Bayi siapa ia zahra..? Mengapa kamu memberikan bayi ini kepadaku, aku
makin tak tahu harus bagaimana, namun zahra segera mendoprongku dan menutup
pintu rumah rapat-rapat.
Tak tahu kemana lagi aku pergi
melangkah rasanya kakiku mulai tak bersendi, betisku sudah patah, dan lumpuh
rasanya pikiran ini, akhirnya pun kutemuakan makam orang yang sangat kucinta,
gundukan makam mbok.
***
Rentang waktu bergulir dengan penuh
kepastian. Sebuah kepastian yang menggoreskan banyak luka dihati. Kenyataan
memang menyakitkan. Angin membisikkan tragedi memilukan yang membuat
ranting-ranting dedaunan tak berarah jatuh ketanah.
Rumput teki telah menyapaku gusar, diatas pemakaman mbok. Bunga kamboja
berhamburan aroma wangi, tanah menyeruak basah menghampiri hidung, mengungkap
sejuta misteri.
Hatiku benar-benar hancur, mbok meninggal karena serangan jantung setelah
tahu bahwa Zahra, adikku itu diperkosa Parno, penyebabnya adalah aku. Hatiku buta,
buta akan cinta karena terlalu menginginkan Nur. Nur yang akan dilamar Parno memintaku
agar aku segera melamarnya. Sedangkan aku terus memberontak kepada mbok agar ia secepat mungkin melamarkan Nur untukku,
namun keadaan mbok yang tak punya apa-apa. untuk itu, karena kebutaanku atas
cinta, akhirnya aku mengiakan apa yang disarankan oleh Nur kepadaku. Yaitu
merampok dirumah Parno. Akhirnya, ''sepandai-pandainya tupai melompat pasti
akan jatuh juga, dan sepintar-pintarnya seseorang menyimpan bangkai pasti akan
tercium jua'' itu lah aku, aku diketahui telah merampok, tapi malangnya, Nur malah
memojokkan aku, bahkan ia yang telah melaporkan aku kepada warga. Aku bingun
harus bagaimana, dan akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan semua ini.
Namun Parno, ia yang telah lama menaruh dendam padaku, ia pun memperkosa adikku
Zahra, hingga ia stees dan seperti orang gila. Ia hamil dan melahirkan bayi
merah itu. Bayi yang kemudian ia serahkan kepadaku.
Selain itu ada lagi luka yang belum kering dalam tubuhku, Mbok meninggal.
Itu semua terjadi karena aku. Ya Alloh maafkan lah hambamu ini, hatiku merintih
bersama gerimis sore ini. Sesal tiada guna. Semua telah terjadi, kuserahkan
diriku pada polisi, ini salahku. Dan aku yang harus menanggung torehan luka
menjalar ini, forever –
*Mkd Aan's
2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar