Mata itu milik Anin,
mata yang sangat indah
Ada pelangi, bintang,
bulan dan kunang-kunang
Beterbangan membentuk
lingkarang yang bintik-bintik rindu
Dan membawaku pulang
kemari menebus luka masa lalu
Yang tak pernah
sempat aku bias menebusnya.
Kini
mata itu sembab, mata itu menangis, mata itu mengitari setiap sudut sungai yang
airnya berkecipak membuat alulan nada di dalam dadanya menjadi seperti tarian
gerimis kecil-kecil. Seperti serpihan debu yang beterbangan membentuk kabut
kecil yang hinggap dikelopak matanya. Mata itu kini menatapi setiap ruas batang
ganggang yang tumbuh di sekitar pinggirang sungai yang kadang kala angin
meniupnya mereka melambai ikut tersentak mengikuti arah angin. Beberapa detik
kemudian langkah matanya juga terpejam untuk membuat kenangan itu makin abadi
di dalam ingtannya. Mungkin ia ingin kenangan itu tetap bersarang dalam
ingatannya.
Akh
perempuan itu. Mengapa demikian misteri. Apakah benar ? perempuan itu menangis
saat bahagia. Atau tertawa saat ia menagis. Sampai saat inipun aku tak
memahaminya mengapa, Sekarang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri ia
menitikkan air mata. Apakah ia sedang berbahagia ? atau ia sedang menagis ?
‘’Kamu
sedang menunggui rembulan lagi ? sejak kapan ? aku tahu kamu, tak usah
berkilah’’ tiba-tiba suaraku membuat Anin terperanjat kaget. Hingga ia
membalikkan pandangannya kebelakang menemui asal suara yang tadi membuat
lamunannya bubar. Tatapannya kini tertuju padaku.
‘’Apa
yang kau harapkan dari rembulan Anin ? ia tak akan mengubah sesuatu apapun, ia
tak akan datang malam ini untuk menemuimu. Apa yang ia katakan padamu ? hingga
kau begitu setia menunggunya disini’’ aku terus saja menghujani Anin dengan
pertanyaan-pertanyaanku yang entah ia dengarkan atau tidak. Ku dengar kini
hanya tangisannya yang makin keras mengamini jeritan malam.
‘’Tak
usah menangis ! bulan tak akan mengerti perasaanmu. Kau akan menampakkan kalau
dirimu sangat bodoh kalau kamu terus saja melakukan hal ini Anin ! orang-orang
akan memanggil mu telah gila. Apa kau tak mengerti Anin, sekarang kau tak lagi
seperti orang yang aku kenal. Kau bukanlah Aninku yang dulu, andai saja kau
tahu Anin, aku kesini untuk membuatmu bahagia, bukan membuatmu bersedih seperti
ini’’ Anin menundukkan pandangannya, aku yakin hati Anin kini tengah disesaki
perih, namun tetap saja Anin tetap tak mau bicara, ia terus saja menengadahkan
pandangannya keatas langit. Aku yakin ia juga tak ingin malam ini akan
mencairkan perasaannya pada lelaki yang kini tengah berdiri di belakangnya ini.
Dan itu aku.
‘’Sudahlah
nin ! berapa sampan lagi yang akan kamu tangisi kepergiannya ?’’ Anin tetap tak
mengalihkan pandangannya walau sedikit. Ia terus saja memandangi wajah rembulan
yang sempurna, meski dengan itu ia semakin merasakan perih, luka yang makin menganga.
‘’Berapa
kertas lagi yang akan kamu buang untuk menuntaskan tangismu malam ini !’’
kukeraskan suaraku sambil memegangi tangan halus Anin dan membuatnya menjauh
dari muka kolam.
‘’Sudahlah
ayo kita pulang ! malam ini ia tak akan datang seperti malam-malam sebelumnya’’
Anin menatap wajahku lekat, mungkin ia membayangkan malam ini masih saja sama
dengan malam sebelumnya, seseorang yang ditungguinya tiada datang, kemudian
menunduk agak lama. Ia menggelengkan kepalanya sembari berbalik memunggungi tubuh
ku memakukan pandangannya pada sampan kecil terbuat dari kertas yang baru saja
ia biarkan mengambang di atas permukaan air sungai.
‘’Aku
tak akan pulang sebelum, rembulan menghilang ! aku akan menunggu disini, aku
yakin ia akan datang malam ini, aku yakin’’ Anin menata kata-katanya, seakan
tidak yakin akan yang apa yang ia katakan barusan. Nafasnya kudengar menderu
saat wajahnya terangkat menekuri pandangannya keatas, melihat rembulan yang
masih utuh di atas sana.
‘’Apa
yang kau harapkan ! Aku tidak yakin kau setabah yang aku pikirkan, ternyata aku
salah menilaimu Anin ! kau masih mengharap sesuatu yang tidak ada’’
‘’Jangan
apapun tentang janji, kau sendiri tak pernah menjamahnya, janji adalah ikatan,
dan selama ini ikatan itu akan merembet keseluruh pikiran hingga membuat malam ini
menunggu, seperti apa yang ditinggalkan senja, sebentuh cahaya akan
ditinggalkan pada dedaunan dan wajah alam, begitulah matahari berjanji bahwa
akan ada hari esok yang mempertemukan janji kepada pemiliknya yang lain, ia
sudah berjanji padaku untuk datang menemuiku di bawah bulan ini, aku tahu kalau
ia sangat peduli denganku sama seperti aku mencintainya, untuk itu aku disini
untuk menunggui rembulan, ia berjanji saat purnama ia akan datang menjemputku,
aku yakin’’ Anin terus menunduk. Aku memandangi wajahnya lekat mencari bola
matanya yang mengarah pada tatapanku, sedikit berharap Anin akan melihat mata
ku yang mulai sembab mencair dan kemudian ia akan ikut pulang bersamaku
meninggalkan kebiasaannya yang sudah tak lazim ini. Aku masih berharap ia akan
melihat Kristal tipis yang kini tengah mengembun di mataku, aku ingin dia tahu
aku sangat mencintaainya.
Sampai
kapan kamu akan seperti ini Anin ?’’ aku mulai bertanya lagi, pertanyaanku
seakan tak habis melihat kesedihan yang ada di balik mata Anin. Dan seperti
biasanya, Ia seakan tak mendengar apa yang aku katakan barusan, dan seperti
malam-malam sebelumnya aku meninggalkannya sendirian, terus menekuri riak air
sungai yang mengambangkan sampan kecil buatan tangan Anin, membiarkan ia
menunggui malam dan rembulan berlalu, aku lihat dari kejauhan ia menangis lagi,
dan seperti biasanya pula aku berharap dia akan kembali dengan sendirinya, Kini
ia benar-benar mirip seorang lelaki yang tengah menunggui kekasihnya dalam
tangis panjang dan mengadu pada rembulan sambil menyanyikan sebuah lagu berkata
pada rembulan, ia tampak seperti orang gila.
Sebenarnya
aku tak tega melihat perempuan seperti Anin sendirian di tepian sungai tengah
malam, setiap aku meliatnya aku merasa terisis, dadaku seakan sesak teriris,
disayat menjadi kepingan kepingan hingga membentuk luka yang tak terkatakan
seberapa sakitnya. Kalau saja aku di izin kan satu malam ini saja untuk dapat
masuk kedalam hidup, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, aku akan bercerita
banyak hal yang mungkin ia akan sukai, aku akan berusaha, dan aku tahu aku akan
bisa melakukannya.
Akh, Anin ! mengapa kau begitu keras kepala,
mengapa tak kau biarkan aku memasuki taman hatimu barang sebentar saja, kau tak
adil anin, aku tahu aku telah berbuat salah, meninggalkanmu tanpa memberikan
apapun yang kau butuhkan, tapi, sebegitu bencikah kau kepadaku, Anin. Kau tak
tahu bagaimana perasaan orang yang di kucilkan, terlebih dikucilkan dari orang
yang di sayang. Dan saat ini aku pun masih menatapmu jauh dalam malam yang
makin larut aku biarkan angin malam menyerbu segala persendian tubuh ini yang
mungkin tidak sekuat dulu. Bahkan untuk menghirup aroma segar dedaunan yang
tengah tertidur pun aku tak kuat, rasa dinginnya begitu memusuhiku, hingga
pori-poriku mengkerut dan aku terasa sangat berat menghembuskan kembali
nafasku. Suara jangkrik yang mengalun diantara reumputan liar kini begitu
mengusikku, aku tak begitu menyukainya sekarang tidak seperti dulu.
Ada apa dengan kamu Anin ? berjam-jam kau
terpekur disana menunggui sesuatu yang tak mungkin datang, mengapa kau begitu
tahan dengan semua itu, andai saja kau tahu disini aku terenyah menunggui
tingkahmu yang aneh itu, apakah kau akan memaafkan aku Anin, andai saja kamu
tahu, aku rela menghabiskan malam-malam ku hingga kulitku digigiti nyamuk liar,
apakah kau lantas akan memaafkan kau anin, maafkan aku yang terlalu bodoh ini.
Akh, mengapa saja selalu ku ingat
wajahmu benar-benar mengingatkan aku padanya Anin.
***
Seruput
wangi gabah padi yang mengering tertiup angin, Anin berlalu dihadapanku seakan
tak memperhatikan keberadaanku yang tengah berdiri di depannya, langkahnya kini
gontai bagai tiupan angin yang menggoyangkan ilalang. Tak sedikitpun ia melihat
kearahku, tubuhnya yang jenjang semakin menyudutkan bahwa ia adalah seseorang
yang sangat tegar. Dari jauh kulihat ia mulai berlari dengan telanjang kaki.
Jalanan petak sawah yang seluruhnya ditanam padi penduduk, ia ktak mempedulikan
walau kadang rasa gatal akan menyayat kulitnya yang halus. Ia terus saja
berlari mengusir sedih hatinya, mencoba menciptakan kebahagiaan dengan melempar
batang padi yang hampir berisi bulir beras ke udara, seperti anak panah yang
baru dilepaskan dari busurnya hingga batang padi yang dilemparinya mengenai
tanah sawah yang becek. Tapi mengapa tak sedikitpun ia tertawa, ia malah
berteriak sejadinya sambil melangkah gontai diantara larit sawah yang
memanjang, justu ia kini berteriak, melolong sejadinya hingga menyerupai
tangisan yang panjang hingga sebuah nama terucap dari bibirnya. Semua orang
yang tengah berjemur di tengah terik memperhatikan tingkah Anin yang tak lazim,
dan aku masih saja membuntuti pandanganku padanya. Aku tak tahu mengapa hal ini
terjadi juga pada Anin.
Aku dan Anin mempunyai banyak kemiripan. Aku
tak menyangka ada banyak persamaan yang terdapat pada aku dan Anin, aku dan Anin
sama-sama tak menyukai keramaian seperti aku tak menyuikainya, Anin juga tidak
menyukai matahari katanya matahari selalu saja merusak segalanya, termasuk
kesunyian malam. Semua orang akan sibuk dengan diri mereka sendiri saat
matahari mulai nampak, seperti pula aku yang tak menyukai teriknya. Anin lebih
menyukai kesendirian yang menyakitkan, aku tak tahu apakah ini hanya terjadi
pada aku dan Anin, bahkan saat aku harus berpisah dengan orang yang sangat
berarti dalam hatiku aku menyukai kesenyian, berlama-lama rasa sakit ini aku
gantung dalam jiwaku higgga aku tak tahu kapan rasa sakit itu mulai hilang,
karena tak dapat aku pungkiri kalau sampai saat ini pun aku tengah merasakan
hal itu. Seperti Anin yang kini tengah rasakan.
Aku
begitu ingat dulu saat Anin sering menyanyi diantara rentetan pagi yang muncul
bersama kicauan burung gelatik yang biasa berlarian didahan pohon kenari ini,
lalu kau seringkali menari tanpa alunan lagu karena kau memang suka itu, kau
hanya menggemakan suaramu sedikit dan seketika itu kau akan menari tanpa
disuruh, kau tersenyum membuat hatiku benar-benar disesaki rasa cinta karena
bahagia, tapi kemana burung gelatik membawa nyanyian itu ? kini yang ku dapati
melekat padamu hanyalah air mata ? apakah kini air mata mu begitu dekat dengan
kesedihan sehingga kau se mudah itu mengeluarkan air mata seenaknya ?
Apakah hanya karena lelaki yang sering kau
sebutkan namanya saat kau berlari itu Anin, kau sekarang mudah mengubah
kebiasaanmu yang dulu ? kemanakah Anin ku yang dulu itu ? aku mencintaimu Anin ?
apakah itu tidak membuatmu cukup ? aku terus saja mamandangi wajahmu hingga air
mata ku tak kuasa juga menetes bersama laju angin sepagi ini. Aku tak tega, tak
pernah tega melihat kau terdiam kaku, memandangi awang yang tiada lagi
memberikan warna kebahagiaan buatmu Anin.
Pernah di suatu malam kau menghubungiku.
Disaat aku menggigil dalam malam yang begitu panjang dan aku tak tahu kapan
matahari akan muncul dan mengakhiri semua kebekuan ini. Di suatu malam kau
sengaja menghubungiku, tawa mu yang lugu membuatku semakin aku merindukanmu
saat itu Anin.
‘’Aku tak tahu apakah aku berkata kalau aku
mencintainya, ya ! kau harus dengar ini baik-baik. Atau kalau perlu kamu harus
mencatat hal ini baik-baik dalam agenda harianmu’’ ucap Anin dengan sangat
semangat. Aku hanya diam membiarkan kau sepenuh hati meluapkan segala perassan
bahagiamu.
‘’Hari ini, dalam hidupku. Aku benar-benar
merasakannya. Ya ! aku mencintai lelaki lain sdelain drimu di dunia ini, ini
hebat, kau pasti tak akn percaya, tapi sungguh aku meraskannya sekarang, yang
aku rasakan adalah getaran luar biasa yang datang tanpa aku sadari setiap kali
aku dekat dengannya’’ tawanya yang renyah membuat aku kembali tersadar akan
kata-kata yang baru saja ia katakan. Dan mendengar suara khas Anin aku hanya
diam tak ingin merusaknya walau hanya dengan kata-kataku yang tak berguna.
‘’Anin, dengar ! kamu
bahagia, maka aku kan lebih bahagia sayang ! setidaknya aku pernah dihatimu itu
sudah cukup’’ ucapku lirih berharap Anin tak mendegarnya, mewakili seluruh perasaan sayang ku pada Anin yang sampai saat ini pun
akan tetap aku jaga
karena aku bukanlah seseorang yang baik untuk Anin.
Tapi, megapa
semuanya kini cepat berubah Anin ? mengapa, benarkah hanya dengan sesingkat itu
kevin cepat membuatmu merubah sikapmu yang dulu, bahkan pada ku, orang yang
selalu cinta padamu. Kevin, apakah benar, Anin mencintainya. Kevin adalah tenaga
pengajar sementara yang didatangkan dari kota untuk tugas pertamanya mengajar
di sebuah desa kecil ini. Kalau benar Anin menagis, apakah tangisan itu hanya
untuk Kevin. Aku tak yakin apakah aku pernah ada dalam hati Anin yang terdalam.
Ya karena aku sangat semu bagi Anin, tidak mungkin air mata itu ia teteskan
untukku. Apakah ia pernah menitikkan air matanya untuk ku seperti saat ia
menangis untuk Kevin. Bahkan saat aku sengaja datang dari jauh untuk
mengembalikan mentari yang telah lama hilang dalam pandangan Anin air mata itu
tak ada, padahal yang aku perlukan adalah air matanya yang menetes dipundakku
saat dulu ia pernah menetesi kepergianku. Air mata itu kering, wajah Anin kaku.
Tak ada sambutan hangat yang aku dapat darinya. Bahkan saat aku memeluk
tubuhnya yang kering ia tak membalasnya.
Kini ia mulai melangkah gusar
menjauhiku, sendu mata yang tak pernah hilang seakan menjadi bagian yang tak
pernah lepas dari pandangannya saat ia menatapku. Ia merebahkan tubuhnya diatas
dipan kayu yang menghadap kehalaman rumah, kemudian menyandarkan punggungnya
pada tubuh dipan. Sambil membuka lembaran lembaran kertas yang ia keluarkan
dari sebuah kain selendang berwarna merah marun, membuka kemudian menatapnya
lamat-lamat sesekali mendekapnya erat ke dadanya. Aku menatap apa yang
dilakukannya sepanjang hari.
Pagi ini cahaya mentari mulai
menyeringai masuk diantara celah rindang pepohonan yang tumbuh di pekarangan,
sinar emas nya membangunkanku yang masih tertunduk malas diatas kursi panjang,
semalam aku menunggui Anin menekuri rembulan. Menunggi tingkahnya yang belum
aku pahami, hingga semalaman kau tak tidur karena kekhawatiran ku yang tak
kunjung hilang jika saja ia aku tinggalkan sendiri. Dan sura langkah kaki
dibelakangku yang kini makin mendekat itu kini membuat ku sedikit berharap akan
mencairkan suasana hatiku yang selama ini beku antara aku dan Anin.
‘’Ini pisang goreng masih hangat, makan cepat
nanti keburu dingin’’ Anin menyuguhkan ku sepiring pisang goreng masih terlihat
masih hangat, sebelum menyeruput piring itu dari tangannya, aku menatap
wajahnya lekat, mencoba mencairkan sikapnya yang selama ini dingin kepadaku,
namun wajah Anin seakan tak menangkap apa-apa ia memandangku seolah-olah tak
ada seseorang di hadapannya, sedikitpun ia tak menggubris senyum yang aku
lontarkan padanya, bahkan ia terlihat semakin dingin. Akh, Anin ! kau
benar-benar membuatku bingung, sampai kapankah kau akan memaafkan semua
kesalahanku.
Aku masih menggenggam pisang goreng
yang disuguhkan Anin untukku, melihat wajah Anin yang murung membuatku tak
bersemangat untuk menyantapnya. Hingga aku lihat ia menatapku dalam.
‘’Aku terpaksa membuatkan ini untukmu jadi
jagan harap aku akan berbuat baik lagi kedua kalinya, lain kali, kalau kau tak
segera memakannya. Ia melambaikan nampan yang tadi digunakan sebagai tempat
piring dan melangkah pergi setelah menatap tajam. Tak mau Anin semakin
membencihku aku segera melahap habis pisang goreng di tanganku. Kulihat ia
melangkahkan kainya keluar. Kemudian sedikit mendongakkan kepalanya kepadaku,
sepertinya ia tahu kalau mataku mengekori langkahnya.
‘’Aku mau kesungai ! jangan lagi
mengikuti ku kesana, kau dengar aku tak suka itu !’’ ia memendang kecut
kearahku. Kemudian membuang pandang ketepi sisinya sambil mengambil sebuah
sabit. Ia kemudian menggoyangkan tangannnya melangkah pergi secepat mungkin,
sesekali ia mengalihkan pandangannya kebelakang, memastikan kau tak mengikuti
langkahnya.
Kemudian setelah aku beberapa
langkah mengikutinya, Anin menangis. Meringkukkan tubuhnya di atas bebatuan di
pinggiran sungai yang disekelilingnya dilukisi lumut. Ia merapatkan kedua
tangannya kedua kelopak dua matanya hingga dagunya tidak terlihat lagi, dan
seketika kudengar isak tangisnya makin menderas mengikuti aliran tandon bambu
yang berada di tepian sungai. Tangisnya kini mulai memecah kesunyian malam.
Menyerupai sebuah puisi jiwa merenggut kebahagiaan jiwa perempuan. Aku yakin
dalam penantian panjangnya Anin mulai di sergapi rasa ragu yang sangat besar.
Aku hanya masih sempat berharap, andai saja aku bisa menggantikan penantian
itu, tapi aku yakin Anin akan segera mempertajam pandangannya padaku. Dan
seketika jeritnya akan semakin keras.
Anin mulai melipat-lipat kertas
kelabu yang baru saja dikeluarkan dari kain merah marun miliknya. Menciuminya
dengan deru nafas yang sangat panjang dan tak jarang aku juga pernah
memergokinya menyeprotkan parfum terbaiknya pada kertas kelabu itu
berulang-ulang kali.
‘Ini adalah surat untukmu Kevin, aku
harap kau tahu kalau sampai ini pun aku masih saja menantimu’’ air mata anin
mulai meleleh lagi, bunyi jangkrik pun membuat melodi yang digelar malam pun
menjadi amat sangat mengiris hatiku.
‘’Sudah Anin ! sudah ! jangan kau
lakukan lagi’’ aku mengahmpiri Anin tergesa. Berlari dan segera meerbut kertas
yang hampir di tenggelamkannya ke permukaan sungai itu. Kulihat tatap mata Anin
menyudut padaku seakan siap mengeluarkan larva panas yang akan menghujani
jiwaku.
‘’Hentikan penantian ini Anin !
jangan ada air mata lagi yang jatuh disini’’ aku memeluk tubuhnya untuk pertama
kali sejak kedatanganku. Aku tak peduli kalau ia akan memukuli atau bahkan
meludahi wajahku, yang aku ingin hanya satu, bahwa Anin tak sendiri, masih ada
aku yang masih setia menunggunya, masih ada aku yang akan tetap membuatnya
tegar.
‘’Jangan teruskan lagi, aku tak bisa
melihatmu seperti ini, kau tak perlu menantinya, apakah kau tak takut kalau
penantianmu hanya berujung sia-sia’’ aku mengikuti langkah Anin yang kini mulai
melangkah menghindariku.
‘’Apa yang kau tahu tentang penantian ! apa
yang kau tahu dari rasa sedih ! kau tak tahu apa-apa’’ Anin melepaskan
pelukanku, kemudian mendorong tubuhku hingga jatuh mengenai percikan air.
Mendengar pertanyaan yang di lontakan Anin aku gelagapan, bibirku seakan kaku.
‘’Kau tak tahu apa-apa, jangan
berharap aku akan mendengarkan pengakuanmu’’ ia semakin geram kemudian mulai
melangkahkan kakinya menjahuiku. menatap wajahku, tanpa mengatakan apapun. Ia
mulai beranjak pergi.
‘’Aku sayang kamu Anin ! jangan
lagi, hentikan penantian mu, aku mohon !’’ ucapku berusah menghentikan
langkahnya.
‘’Kau bilang penantian, apa yang kau
lakukan selama ini, aku berkata seakan kau tahu bagai mana rasanya menanti
sesesorang yang kau sayangi, apakah kau pernah berpikir akan hal itu ?’’
‘’Kemana saja kau selama ini, saat
aku menagis membutuhan seseorang untuk menyeka air mataku, ditempat ini aku
menghilangkan semua duka yang hampir membuat tubuhku tak bisa bernafas,
ditempat ini aku mengadu pada rembulan yang bisu saat tak ada seseorang yang
mau mendengarkan kesahku. Rembulan ini lebih mengerti keadaanku. Kalau kau
benar peduli pada kami kemana saja kau selama ini saat seseorang menagis dalam
semua penantiannya, apakah kau ada saat itu ? Saat semua orang menganggap kami
sampah, apakah kau ada untuk membuat air mata kami terhenti. Kau tidak ada dan
kamu tak pernah ada saat itu, lalu kau kemana’’ Anin menagis memberontak
sejadinya, menatap tajam kearahku hingga kertas-kertas yang sedari tadi ia simpan
terjatuh berhamburan ketanah ketanah hingga mereka basah di tetesi percikan air
tandon. Tak lama berselang ia menarik tanganku, hingga pandanganku terlempar
pada aliran sungai yang kian deras. Disana terdapat kertas-kertas yang
mengapung mengikuti aliran air. Kapal-kapal kertas yang dibuat oleh tangan Anin.
‘’Kau lihat kertas itu, ia tak
bernyawa, namun setidaknya ia lebih baik dari pada mereka yang tak mengerti
perasaan orang lain. Bagiku mereka adalah tempat mencurahkan semua perasaan
sedih ini, setidaknya itulah yang aku tahu, mungkin tanpa kertas itu aku akan
menjadi gila, atau mungkin bagi orang yang tak pernah mengerti bahkan mereka
akan menyangka aku yang telah gila’’ Anin kini melangkah membelakangiku,
menyeka air matanya dan memilih keatas yang sempat terjatuh itu. Kemudian
menghempaskan selendang merah marunnya kebahu dan hendak pergi meninggalkan ku.
‘’Maafkan aku Anin aku tidak tahu kalau selama ini kau menderita, aku
tidak mengerti kalau meninggalkan kalian akan membuat kau tersiksa, maafkan aku
Anin, aku tak mengerti’’ aku menggenggam tangan anin yang masik memberontak.
‘’Kau tak pernah tahu bukan kalau ayahku
selama ini menunggui aliran sungai ini, dan saat malam ia hanya dapat
menceritakan semua sedihnya pada rermbulan, entah mengapa hanya rembulan yang
selalu saja setia, yakin rembulan akan mempertemukan kembali kebahagiaan,
apakah kau ada saat tangisan selalu ada dalam penantiannya, kau bahkan tak
pernah tahu kalau selama ini ayah menantimu, bahkan sampai ia kehilangan nafas
terakhirnya’’ Anin terenyah kurangkulkan badanku untuk mengurangi rasa
sedihnya, karena aku ingin memeluknya untuk yang pertama kali saat aku datang,
ya, untuk yang pertama kalinya ia memelukku lagi setelah berpuluh tahun.
‘’Maafkan aku Anin ! aku tak tahu
apa yang kau rasakan selama ini ! andai aku tahu Anin ! aku tak akan pernah
pergi meninggalkan kalian’’ kini aku menciumi ujung kepalanya yang menempel di
dahiku.
‘’Kau tak tahu kalau aku juga
mencintaimu, tapi kemana kau selama ini’’ kurasakan air mata anin di pundakku.
‘’Aku benar-benar minta maaf Anin aku tak
akan lagi meninggalkan mu Anin , aku janji, aku mohon kau memaafkan
kesalahanku, aku tak akan pergi, aku akan selalu di sini bersamamu, aku janji Anin’’
suaraku kini makin serak. Memeluk Anin lagi, rasanya kebahagian ini kini telah
kembali aku rengkuh. setelah sekian lama aku memendam rasa bersalah yang sangat
dalam, rasa yang tidak akan aku tebus sampai kapanpun, maafkan aku Anin, aku
akan selalu disini aku berjanji aku akan membahagiakanmu, aku akan berusaha
kembali membuat senyummu merekah, aku akan segera menghentikan semua penantianmu
yang sia-sia ini Anin, suatu saat aku akan memberitahumu Anin, tapi tidak
sekarang, aku akan memberitahumu kalau Kevin telah menikah, agar kau tak lagi
menunggunya di bawah rembulan, kalau perlu kau yang akan membunuh rembulan,
merobek wajahnya dengan arit agar ia tak lagi datang untukmu, agar kau tak lagi
lelah menanti di sini, seperti ayahmu yang selalu setia menungguku dibawah
bulan ini, untuk menceraikan suamiku’’
‘’Ini adalah untuk yang pertama kalinya Anin memelukku
dalam hidup ini, maafkan aku Anin, ibumu ini
tak akan meninggalkan mu lagi putriku, seperti dulu saat aku jalang’’
ucapku dalam hati, ini pertama kalinya aku memeluk tubuhnya, ya, pertama kali,
dan forever -
*Mkd Aan's
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar