Kamis, 23 Januari 2014

Biar Aku Yang Membunuh Rembulan


Mata itu milik Anin, mata yang sangat indah
Ada pelangi, bintang, bulan dan kunang-kunang
Beterbangan membentuk lingkarang yang bintik-bintik rindu
Dan membawaku pulang kemari menebus luka masa lalu
Yang tak pernah sempat aku bias menebusnya.

          Kini mata itu sembab, mata itu menangis, mata itu mengitari setiap sudut sungai yang airnya berkecipak membuat alulan nada di dalam dadanya menjadi seperti tarian gerimis kecil-kecil. Seperti serpihan debu yang beterbangan membentuk kabut kecil yang hinggap dikelopak matanya. Mata itu kini menatapi setiap ruas batang ganggang yang tumbuh di sekitar pinggirang sungai yang kadang kala angin meniupnya mereka melambai ikut tersentak mengikuti arah angin. Beberapa detik kemudian langkah matanya juga terpejam untuk membuat kenangan itu makin abadi di dalam ingtannya. Mungkin ia ingin kenangan itu tetap bersarang dalam ingatannya.
          Akh perempuan itu. Mengapa demikian misteri. Apakah benar ? perempuan itu menangis saat bahagia. Atau tertawa saat ia menagis. Sampai saat inipun aku tak memahaminya mengapa, Sekarang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri ia menitikkan air mata. Apakah ia sedang berbahagia ? atau ia sedang menagis ?
          ‘’Kamu sedang menunggui rembulan lagi ? sejak kapan ? aku tahu kamu, tak usah berkilah’’ tiba-tiba suaraku membuat Anin terperanjat kaget. Hingga ia membalikkan pandangannya kebelakang menemui asal suara yang tadi membuat lamunannya bubar. Tatapannya kini tertuju padaku.
          ‘’Apa yang kau harapkan dari rembulan Anin ? ia tak akan mengubah sesuatu apapun, ia tak akan datang malam ini untuk menemuimu. Apa yang ia katakan padamu ? hingga kau begitu setia menunggunya disini’’ aku terus saja menghujani Anin dengan pertanyaan-pertanyaanku yang entah ia dengarkan atau tidak. Ku dengar kini hanya tangisannya yang makin keras mengamini jeritan malam.
          ‘’Tak usah menangis ! bulan tak akan mengerti perasaanmu. Kau akan menampakkan kalau dirimu sangat bodoh kalau kamu terus saja melakukan hal ini Anin ! orang-orang akan memanggil mu telah gila. Apa kau tak mengerti Anin, sekarang kau tak lagi seperti orang yang aku kenal. Kau bukanlah Aninku yang dulu, andai saja kau tahu Anin, aku kesini untuk membuatmu bahagia, bukan membuatmu bersedih seperti ini’’ Anin menundukkan pandangannya, aku yakin hati Anin kini tengah disesaki perih, namun tetap saja Anin tetap tak mau bicara, ia terus saja menengadahkan pandangannya keatas langit. Aku yakin ia juga tak ingin malam ini akan mencairkan perasaannya pada lelaki yang kini tengah berdiri di belakangnya ini. Dan itu aku.
          ‘’Sudahlah nin ! berapa sampan lagi yang akan kamu tangisi kepergiannya ?’’ Anin tetap tak mengalihkan pandangannya walau sedikit. Ia terus saja memandangi wajah rembulan yang sempurna, meski dengan itu ia semakin merasakan perih, luka  yang makin menganga.
          ‘’Berapa kertas lagi yang akan kamu buang untuk menuntaskan tangismu malam ini !’’ kukeraskan suaraku sambil memegangi tangan halus Anin dan membuatnya menjauh dari muka kolam.
          ‘’Sudahlah ayo kita pulang ! malam ini ia tak akan datang seperti malam-malam sebelumnya’’ Anin menatap wajahku lekat, mungkin ia membayangkan malam ini masih saja sama dengan malam sebelumnya, seseorang yang ditungguinya tiada datang, kemudian menunduk agak lama. Ia menggelengkan kepalanya sembari berbalik memunggungi tubuh ku memakukan pandangannya pada sampan kecil terbuat dari kertas yang baru saja ia biarkan mengambang di atas permukaan air sungai.
          ‘’Aku tak akan pulang sebelum, rembulan menghilang ! aku akan menunggu disini, aku yakin ia akan datang malam ini, aku yakin’’ Anin menata kata-katanya, seakan tidak yakin akan yang apa yang ia katakan barusan. Nafasnya kudengar menderu saat wajahnya terangkat menekuri pandangannya keatas, melihat rembulan yang masih utuh di atas sana.
          ‘’Apa yang kau harapkan ! Aku tidak yakin kau setabah yang aku pikirkan, ternyata aku salah menilaimu Anin ! kau masih mengharap sesuatu yang tidak ada’’
          ‘’Jangan apapun tentang janji, kau sendiri tak pernah menjamahnya, janji adalah ikatan, dan selama ini ikatan itu akan merembet keseluruh pikiran hingga membuat malam ini menunggu, seperti apa yang ditinggalkan senja, sebentuh cahaya akan ditinggalkan pada dedaunan dan wajah alam, begitulah matahari berjanji bahwa akan ada hari esok yang mempertemukan janji kepada pemiliknya yang lain, ia sudah berjanji padaku untuk datang menemuiku di bawah bulan ini, aku tahu kalau ia sangat peduli denganku sama seperti aku mencintainya, untuk itu aku disini untuk menunggui rembulan, ia berjanji saat purnama ia akan datang menjemputku, aku yakin’’ Anin terus menunduk. Aku memandangi wajahnya lekat mencari bola matanya yang mengarah pada tatapanku, sedikit berharap Anin akan melihat mata ku yang mulai sembab mencair dan kemudian ia akan ikut pulang bersamaku meninggalkan kebiasaannya yang sudah tak lazim ini. Aku masih berharap ia akan melihat Kristal tipis yang kini tengah mengembun di mataku, aku ingin dia tahu aku sangat mencintaainya.
          Sampai kapan kamu akan seperti ini Anin ?’’ aku mulai bertanya lagi, pertanyaanku seakan tak habis melihat kesedihan yang ada di balik mata Anin. Dan seperti biasanya, Ia seakan tak mendengar apa yang aku katakan barusan, dan seperti malam-malam sebelumnya aku meninggalkannya sendirian, terus menekuri riak air sungai yang mengambangkan sampan kecil buatan tangan Anin, membiarkan ia menunggui malam dan rembulan berlalu, aku lihat dari kejauhan ia menangis lagi, dan seperti biasanya pula aku berharap dia akan kembali dengan sendirinya, Kini ia benar-benar mirip seorang lelaki yang tengah menunggui kekasihnya dalam tangis panjang dan mengadu pada rembulan sambil menyanyikan sebuah lagu berkata pada rembulan, ia tampak seperti orang gila.
          Sebenarnya aku tak tega melihat perempuan seperti Anin sendirian di tepian sungai tengah malam, setiap aku meliatnya aku merasa terisis, dadaku seakan sesak teriris, disayat menjadi kepingan kepingan hingga membentuk luka yang tak terkatakan seberapa sakitnya. Kalau saja aku di izin kan satu malam ini saja untuk dapat masuk kedalam hidup, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, aku akan bercerita banyak hal yang mungkin ia akan sukai, aku akan berusaha, dan aku tahu aku akan bisa melakukannya.
Akh, Anin ! mengapa kau begitu keras kepala, mengapa tak kau biarkan aku memasuki taman hatimu barang sebentar saja, kau tak adil anin, aku tahu aku telah berbuat salah, meninggalkanmu tanpa memberikan apapun yang kau butuhkan, tapi, sebegitu bencikah kau kepadaku, Anin. Kau tak tahu bagaimana perasaan orang yang di kucilkan, terlebih dikucilkan dari orang yang di sayang. Dan saat ini aku pun masih menatapmu jauh dalam malam yang makin larut aku biarkan angin malam menyerbu segala persendian tubuh ini yang mungkin tidak sekuat dulu. Bahkan untuk menghirup aroma segar dedaunan yang tengah tertidur pun aku tak kuat, rasa dinginnya begitu memusuhiku, hingga pori-poriku mengkerut dan aku terasa sangat berat menghembuskan kembali nafasku. Suara jangkrik yang mengalun diantara reumputan liar kini begitu mengusikku, aku tak begitu menyukainya sekarang tidak seperti dulu.
Ada apa dengan kamu Anin ? berjam-jam kau terpekur disana menunggui sesuatu yang tak mungkin datang, mengapa kau begitu tahan dengan semua itu, andai saja kau tahu disini aku terenyah menunggui tingkahmu yang aneh itu, apakah kau akan memaafkan aku Anin, andai saja kamu tahu, aku rela menghabiskan malam-malam ku hingga kulitku digigiti nyamuk liar, apakah kau lantas akan memaafkan kau anin, maafkan aku yang terlalu bodoh ini.
          Akh, mengapa saja selalu ku ingat wajahmu benar-benar mengingatkan aku padanya Anin.
***
          Seruput wangi gabah padi yang mengering tertiup angin, Anin berlalu dihadapanku seakan tak memperhatikan keberadaanku yang tengah berdiri di depannya, langkahnya kini gontai bagai tiupan angin yang menggoyangkan ilalang. Tak sedikitpun ia melihat kearahku, tubuhnya yang jenjang semakin menyudutkan bahwa ia adalah seseorang yang sangat tegar. Dari jauh kulihat ia mulai berlari dengan telanjang kaki. Jalanan petak sawah yang seluruhnya ditanam padi penduduk, ia ktak mempedulikan walau kadang rasa gatal akan menyayat kulitnya yang halus. Ia terus saja berlari mengusir sedih hatinya, mencoba menciptakan kebahagiaan dengan melempar batang padi yang hampir berisi bulir beras ke udara, seperti anak panah yang baru dilepaskan dari busurnya hingga batang padi yang dilemparinya mengenai tanah sawah yang becek. Tapi mengapa tak sedikitpun ia tertawa, ia malah berteriak sejadinya sambil melangkah gontai diantara larit sawah yang memanjang, justu ia kini berteriak, melolong sejadinya hingga menyerupai tangisan yang panjang hingga sebuah nama terucap dari bibirnya. Semua orang yang tengah berjemur di tengah terik memperhatikan tingkah Anin yang tak lazim, dan aku masih saja membuntuti pandanganku padanya. Aku tak tahu mengapa hal ini terjadi juga pada Anin.
Aku dan Anin mempunyai banyak kemiripan. Aku tak menyangka ada banyak persamaan yang terdapat pada aku dan Anin, aku dan Anin sama-sama tak menyukai keramaian seperti aku tak menyuikainya, Anin juga tidak menyukai matahari katanya matahari selalu saja merusak segalanya, termasuk kesunyian malam. Semua orang akan sibuk dengan diri mereka sendiri saat matahari mulai nampak, seperti pula aku yang tak menyukai teriknya. Anin lebih menyukai kesendirian yang menyakitkan, aku tak tahu apakah ini hanya terjadi pada aku dan Anin, bahkan saat aku harus berpisah dengan orang yang sangat berarti dalam hatiku aku menyukai kesenyian, berlama-lama rasa sakit ini aku gantung dalam jiwaku higgga aku tak tahu kapan rasa sakit itu mulai hilang, karena tak dapat aku pungkiri kalau sampai saat ini pun aku tengah merasakan hal itu. Seperti Anin yang kini tengah rasakan.
 Aku begitu ingat dulu saat Anin sering menyanyi diantara rentetan pagi yang muncul bersama kicauan burung gelatik yang biasa berlarian didahan pohon kenari ini, lalu kau seringkali menari tanpa alunan lagu karena kau memang suka itu, kau hanya menggemakan suaramu sedikit dan seketika itu kau akan menari tanpa disuruh, kau tersenyum membuat hatiku benar-benar disesaki rasa cinta karena bahagia, tapi kemana burung gelatik membawa nyanyian itu ? kini yang ku dapati melekat padamu hanyalah air mata ? apakah kini air mata mu begitu dekat dengan kesedihan sehingga kau se mudah itu mengeluarkan air mata seenaknya ?
Apakah hanya karena lelaki yang sering kau sebutkan namanya saat kau berlari itu Anin, kau sekarang mudah mengubah kebiasaanmu yang dulu ? kemanakah Anin ku yang dulu itu ? aku mencintaimu Anin ? apakah itu tidak membuatmu cukup ? aku terus saja mamandangi wajahmu hingga air mata ku tak kuasa juga menetes bersama laju angin sepagi ini. Aku tak tega, tak pernah tega melihat kau terdiam kaku, memandangi awang yang tiada lagi memberikan warna kebahagiaan buatmu Anin.
Pernah di suatu malam kau menghubungiku. Disaat aku menggigil dalam malam yang begitu panjang dan aku tak tahu kapan matahari akan muncul dan mengakhiri semua kebekuan ini. Di suatu malam kau sengaja menghubungiku, tawa mu yang lugu membuatku semakin aku merindukanmu saat itu Anin.
‘’Aku tak tahu apakah aku berkata kalau aku mencintainya, ya ! kau harus dengar ini baik-baik. Atau kalau perlu kamu harus mencatat hal ini baik-baik dalam agenda harianmu’’ ucap Anin dengan sangat semangat. Aku hanya diam membiarkan kau sepenuh hati meluapkan segala perassan bahagiamu.
‘’Hari ini, dalam hidupku. Aku benar-benar merasakannya. Ya ! aku mencintai lelaki lain sdelain drimu di dunia ini, ini hebat, kau pasti tak akn percaya, tapi sungguh aku meraskannya sekarang, yang aku rasakan adalah getaran luar biasa yang datang tanpa aku sadari setiap kali aku dekat dengannya’’ tawanya yang renyah membuat aku kembali tersadar akan kata-kata yang baru saja ia katakan. Dan mendengar suara khas Anin aku hanya diam tak ingin merusaknya walau hanya dengan kata-kataku yang tak berguna.
’Anin, dengar ! kamu bahagia, maka aku kan lebih bahagia sayang ! setidaknya aku pernah dihatimu itu sudah cukup’’ ucapku lirih berharap Anin tak mendegarnya, mewakili seluruh perasaan sayang ku pada Anin yang sampai saat ini pun akan tetap aku jaga karena aku bukanlah seseorang yang baik untuk Anin.
Tapi, megapa semuanya kini cepat berubah Anin ? mengapa, benarkah hanya dengan sesingkat itu kevin cepat membuatmu merubah sikapmu yang dulu, bahkan pada ku, orang yang selalu cinta padamu. Kevin, apakah benar, Anin mencintainya. Kevin adalah tenaga pengajar sementara yang didatangkan dari kota untuk tugas pertamanya mengajar di sebuah desa kecil ini. Kalau benar Anin menagis, apakah tangisan itu hanya untuk Kevin. Aku tak yakin apakah aku pernah ada dalam hati Anin yang terdalam. Ya karena aku sangat semu bagi Anin, tidak mungkin air mata itu ia teteskan untukku. Apakah ia pernah menitikkan air matanya untuk ku seperti saat ia menangis untuk Kevin. Bahkan saat aku sengaja datang dari jauh untuk mengembalikan mentari yang telah lama hilang dalam pandangan Anin air mata itu tak ada, padahal yang aku perlukan adalah air matanya yang menetes dipundakku saat dulu ia pernah menetesi kepergianku. Air mata itu kering, wajah Anin kaku. Tak ada sambutan hangat yang aku dapat darinya. Bahkan saat aku memeluk tubuhnya yang kering ia tak membalasnya.
            Kini ia mulai melangkah gusar menjauhiku, sendu mata yang tak pernah hilang seakan menjadi bagian yang tak pernah lepas dari pandangannya saat ia menatapku. Ia merebahkan tubuhnya diatas dipan kayu yang menghadap kehalaman rumah, kemudian menyandarkan punggungnya pada tubuh dipan. Sambil membuka lembaran lembaran kertas yang ia keluarkan dari sebuah kain selendang berwarna merah marun, membuka kemudian menatapnya lamat-lamat sesekali mendekapnya erat ke dadanya. Aku menatap apa yang dilakukannya sepanjang hari.
            Pagi ini cahaya mentari mulai menyeringai masuk diantara celah rindang pepohonan yang tumbuh di pekarangan, sinar emas nya membangunkanku yang masih tertunduk malas diatas kursi panjang, semalam aku menunggui Anin menekuri rembulan. Menunggi tingkahnya yang belum aku pahami, hingga semalaman kau tak tidur karena kekhawatiran ku yang tak kunjung hilang jika saja ia aku tinggalkan sendiri. Dan sura langkah kaki dibelakangku yang kini makin mendekat itu kini membuat ku sedikit berharap akan mencairkan suasana hatiku yang selama ini beku antara aku dan Anin.
‘’Ini pisang goreng masih hangat, makan cepat nanti keburu dingin’’ Anin menyuguhkan ku sepiring pisang goreng masih terlihat masih hangat, sebelum menyeruput piring itu dari tangannya, aku menatap wajahnya lekat, mencoba mencairkan sikapnya yang selama ini dingin kepadaku, namun wajah Anin seakan tak menangkap apa-apa ia memandangku seolah-olah tak ada seseorang di hadapannya, sedikitpun ia tak menggubris senyum yang aku lontarkan padanya, bahkan ia terlihat semakin dingin. Akh, Anin ! kau benar-benar membuatku bingung, sampai kapankah kau akan memaafkan semua kesalahanku.
            Aku masih menggenggam pisang goreng yang disuguhkan Anin untukku, melihat wajah Anin yang murung membuatku tak bersemangat untuk menyantapnya. Hingga aku lihat ia menatapku dalam.
‘’Aku terpaksa membuatkan ini untukmu jadi jagan harap aku akan berbuat baik lagi kedua kalinya, lain kali, kalau kau tak segera memakannya. Ia melambaikan nampan yang tadi digunakan sebagai tempat piring dan melangkah pergi setelah menatap tajam. Tak mau Anin semakin membencihku aku segera melahap habis pisang goreng di tanganku. Kulihat ia melangkahkan kainya keluar. Kemudian sedikit mendongakkan kepalanya kepadaku, sepertinya ia tahu kalau mataku mengekori langkahnya.
            ‘’Aku mau kesungai ! jangan lagi mengikuti ku kesana, kau dengar aku tak suka itu !’’ ia memendang kecut kearahku. Kemudian membuang pandang ketepi sisinya sambil mengambil sebuah sabit. Ia kemudian menggoyangkan tangannnya melangkah pergi secepat mungkin, sesekali ia mengalihkan pandangannya kebelakang, memastikan kau tak mengikuti langkahnya.
            Kemudian setelah aku beberapa langkah mengikutinya, Anin menangis. Meringkukkan tubuhnya di atas bebatuan di pinggiran sungai yang disekelilingnya dilukisi lumut. Ia merapatkan kedua tangannya kedua kelopak dua matanya hingga dagunya tidak terlihat lagi, dan seketika kudengar isak tangisnya makin menderas mengikuti aliran tandon bambu yang berada di tepian sungai. Tangisnya kini mulai memecah kesunyian malam. Menyerupai sebuah puisi jiwa merenggut kebahagiaan jiwa perempuan. Aku yakin dalam penantian panjangnya Anin mulai di sergapi rasa ragu yang sangat besar. Aku hanya masih sempat berharap, andai saja aku bisa menggantikan penantian itu, tapi aku yakin Anin akan segera mempertajam pandangannya padaku. Dan seketika jeritnya akan semakin keras.
            Anin mulai melipat-lipat kertas kelabu yang baru saja dikeluarkan dari kain merah marun miliknya. Menciuminya dengan deru nafas yang sangat panjang dan tak jarang aku juga pernah memergokinya menyeprotkan parfum terbaiknya pada kertas kelabu itu berulang-ulang kali.
            ‘Ini adalah surat untukmu Kevin, aku harap kau tahu kalau sampai ini pun aku masih saja menantimu’’ air mata anin mulai meleleh lagi, bunyi jangkrik pun membuat melodi yang digelar malam pun menjadi amat sangat mengiris hatiku.
            ‘’Sudah Anin ! sudah ! jangan kau lakukan lagi’’ aku mengahmpiri Anin tergesa. Berlari dan segera meerbut kertas yang hampir di tenggelamkannya ke permukaan sungai itu. Kulihat tatap mata Anin menyudut padaku seakan siap mengeluarkan larva panas yang akan menghujani jiwaku.
            ‘’Hentikan penantian ini Anin ! jangan ada air mata lagi yang jatuh disini’’ aku memeluk tubuhnya untuk pertama kali sejak kedatanganku. Aku tak peduli kalau ia akan memukuli atau bahkan meludahi wajahku, yang aku ingin hanya satu, bahwa Anin tak sendiri, masih ada aku yang masih setia menunggunya, masih ada aku yang akan tetap membuatnya tegar.
            ‘’Jangan teruskan lagi, aku tak bisa melihatmu seperti ini, kau tak perlu menantinya, apakah kau tak takut kalau penantianmu hanya berujung sia-sia’’ aku mengikuti langkah Anin yang kini mulai melangkah menghindariku.
‘’Apa yang kau tahu tentang penantian ! apa yang kau tahu dari rasa sedih ! kau tak tahu apa-apa’’ Anin melepaskan pelukanku, kemudian mendorong tubuhku hingga jatuh mengenai percikan air. Mendengar pertanyaan yang di lontakan Anin aku gelagapan, bibirku seakan kaku.
            ‘’Kau tak tahu apa-apa, jangan berharap aku akan mendengarkan pengakuanmu’’ ia semakin geram kemudian mulai melangkahkan kakinya menjahuiku. menatap wajahku, tanpa mengatakan apapun. Ia mulai beranjak pergi.
            ‘’Aku sayang kamu Anin ! jangan lagi, hentikan penantian mu, aku mohon !’’ ucapku berusah menghentikan langkahnya.
            ‘’Kau bilang penantian, apa yang kau lakukan selama ini, aku berkata seakan kau tahu bagai mana rasanya menanti sesesorang yang kau sayangi, apakah kau pernah berpikir akan hal itu ?’’
            ‘’Kemana saja kau selama ini, saat aku menagis membutuhan seseorang untuk menyeka air mataku, ditempat ini aku menghilangkan semua duka yang hampir membuat tubuhku tak bisa bernafas, ditempat ini aku mengadu pada rembulan yang bisu saat tak ada seseorang yang mau mendengarkan kesahku. Rembulan ini lebih mengerti keadaanku. Kalau kau benar peduli pada kami kemana saja kau selama ini saat seseorang menagis dalam semua penantiannya, apakah kau ada saat itu ? Saat semua orang menganggap kami sampah, apakah kau ada untuk membuat air mata kami terhenti. Kau tidak ada dan kamu tak pernah ada saat itu, lalu kau kemana’’ Anin menagis memberontak sejadinya, menatap tajam kearahku hingga kertas-kertas yang sedari tadi ia simpan terjatuh berhamburan ketanah ketanah hingga mereka basah di tetesi percikan air tandon. Tak lama berselang ia menarik tanganku, hingga pandanganku terlempar pada aliran sungai yang kian deras. Disana terdapat kertas-kertas yang mengapung mengikuti aliran air. Kapal-kapal kertas yang dibuat oleh tangan Anin.
            ‘’Kau lihat kertas itu, ia tak bernyawa, namun setidaknya ia lebih baik dari pada mereka yang tak mengerti perasaan orang lain. Bagiku mereka adalah tempat mencurahkan semua perasaan sedih ini, setidaknya itulah yang aku tahu, mungkin tanpa kertas itu aku akan menjadi gila, atau mungkin bagi orang yang tak pernah mengerti bahkan mereka akan menyangka aku yang telah gila’’ Anin kini melangkah membelakangiku, menyeka air matanya dan memilih keatas yang sempat terjatuh itu. Kemudian menghempaskan selendang merah marunnya kebahu dan hendak pergi meninggalkan ku.
            ‘’Maafkan aku Anin aku tidak tahu kalau selama ini kau menderita, aku tidak mengerti kalau meninggalkan kalian akan membuat kau tersiksa, maafkan aku Anin, aku tak mengerti’’ aku menggenggam tangan anin yang masik memberontak.
            ‘’Kau tak pernah tahu bukan kalau ayahku selama ini menunggui aliran sungai ini, dan saat malam ia hanya dapat menceritakan semua sedihnya pada rermbulan, entah mengapa hanya rembulan yang selalu saja setia, yakin rembulan akan mempertemukan kembali kebahagiaan, apakah kau ada saat tangisan selalu ada dalam penantiannya, kau bahkan tak pernah tahu kalau selama ini ayah menantimu, bahkan sampai ia kehilangan nafas terakhirnya’’ Anin terenyah kurangkulkan badanku untuk mengurangi rasa sedihnya, karena aku ingin memeluknya untuk yang pertama kali saat aku datang, ya, untuk yang pertama kalinya ia memelukku lagi setelah berpuluh tahun.
            ‘’Maafkan aku Anin ! aku tak tahu apa yang kau rasakan selama ini ! andai aku tahu Anin ! aku tak akan pernah pergi meninggalkan kalian’’ kini aku menciumi ujung kepalanya yang menempel di dahiku.
            ‘’Kau tak tahu kalau aku juga mencintaimu, tapi kemana kau selama ini’’ kurasakan air mata anin di pundakku.
‘’Aku benar-benar minta maaf Anin aku tak akan lagi meninggalkan mu Anin , aku janji, aku mohon kau memaafkan kesalahanku, aku tak akan pergi, aku akan selalu di sini bersamamu, aku janji Anin’’ suaraku kini makin serak. Memeluk Anin lagi, rasanya kebahagian ini kini telah kembali aku rengkuh. setelah sekian lama aku memendam rasa bersalah yang sangat dalam, rasa yang tidak akan aku tebus sampai kapanpun, maafkan aku Anin, aku akan selalu disini aku berjanji aku akan membahagiakanmu, aku akan berusaha kembali membuat senyummu merekah, aku akan segera menghentikan semua penantianmu yang sia-sia ini Anin, suatu saat aku akan memberitahumu Anin, tapi tidak sekarang, aku akan memberitahumu kalau Kevin telah menikah, agar kau tak lagi menunggunya di bawah rembulan, kalau perlu kau yang akan membunuh rembulan, merobek wajahnya dengan arit agar ia tak lagi datang untukmu, agar kau tak lagi lelah menanti di sini, seperti ayahmu yang selalu setia menungguku dibawah bulan ini, untuk menceraikan suamiku’’
‘’Ini adalah untuk yang pertama kalinya Anin memelukku dalam hidup ini, maafkan aku Anin, ibumu ini  tak akan meninggalkan mu lagi putriku, seperti dulu saat aku jalang’’ ucapku dalam hati, ini pertama kalinya aku memeluk tubuhnya, ya, pertama kali, dan forever -

*Mkd Aan's
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar