Ayunan
rembulan. Di langit.
Awan-awan
adalah adalah wajah kekasih paling nyata.
Dan
ia melihatnya malam itu.
Menanar,
tatapan itu pada bola-bola lampu.
Kunang-kunang.
Rambutnya
menjalar pada bantal yang tak lagi lembut.
Seperti
kabel-kabel lampu perumahan.
Gerak-gerak
kelambu tempat tidur, pikirannya melayang. Tak karuan.
Sanggupkah
ia tertidur.
Sedang
separuh hati sudah terperangkap di bawah kolong.
Gelap.
Gelap. Gelap.
Tolonglah
bintang-bintang lemparkan cahayamu pada jendela.
Sebab
sudah terlalu lama ia dipermainkan angin.
Dadanya
sudah begitu kerontang dari yang paling kerontang. Rasakanlah. Kaktus bernafas
dalam lubang pori-pori kulitnya.
Sesak.
Dan
malam-malam pun sudah tak lagi ia hiraukan.
Sebab
ia hanyalah kumpulan angin yang dingin dengan beberapa pekat yang bergerak.
Namun,
biarlah.
Bagi
seseorang kekasih. Ia hanya menginginkan berdamai dengan bantalnya sebelum ia
tertidur.
Tenang.
Tenang. Tenang.
Tiba-tiba.
Kunang-kunang
merayap di kepalanya setelah tengah malam
Dan
tubuhnya pun kini menjelma menjadi lautan sunyi penuh dengkur –
* Mkd Aan's
2016
2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar