Ia
lelaki penuh siluet-siluet.
Selembar
mendung sore melambai di atas pohon pohon srikaya tempatnya berdiri.
Ia
ingin terbang seperti burung-burung.
Senja
itu kelabu. Lebih kelabu dari daun-daun jatuh.
Ingin
sekali menghancurkan segalanya. Pelteng tua di samping rumah. Atap-atap.
Bahkan
keluarga ayam yang memunguti langkah kakinya dari belakang.
Husshh--teriaknya
acuh tak acuh.
Adakah
yang lebih sulit dari menahan nafas pada waktu itu.
Takdir
menurutnya tak adil. Karena itu ia bersembunyi di balik senja.
Senja
yang biasanya mirip senyum ibu ketika mengajaknya makan malam.
Tapi
yang dilihat ? Apakah ini. Menyebalkan.
Siluet-siluet
kelabu.
Mendung
lembar-lembar.
Kini
Tuhan tambahkan padanya rintik-rintik gerimis.
Ah.
Dia lelaki yang berusaha melawan takdir.
Bisakah
ia bersembunyi dalam bak mandi, di bawah kolong
Atau
mencoba menutup lubang goa dari dalam.
Pikirnya
ia bisa tidur seratus tahun lebih.
Namun
kakinya terlanjur sakit.
Bokongnya
penuh daun-daun. Lalu ia coba berjalan kembali biar semuanya usai.
Siluet-siluet,
hitam.
Pekat.
Tak lagi samar-samar.
Cepatlah
ia bersembunyi. Sebelum ia terjebak malam.
Tuhan
masih menyayanginya.
Namun
lelaki yang membenci takdirnya begitu picik.
Ia
mulai memenjarakan kunang-kunang.
Melewati
lembah, melewati gunung. Melewati sungai.
Melewati
dzikir petang. Kini ia lah yang memenangi malam.
Siluet-siluet.
Kabut.
Sesak.
Duri-duri menghujam.
Ia
mulai berjambaki dedaunan.
Wajahnya.
Penuh kecurigaan pada tuhan.
Tempat
persembunyian yang sempurna.
Ia
mulai menggali tanah-tanah. Batu-batu berjatuhan.
Ia
tersenyum penuh kemenangan.
Ah--Dingin.
Dingin.
Siluet-siluet napasnya.
Mulai
berakhir seperti habisnya malam.
Dan
kunang-kunang terbang mengangkat mayatnya.
Takdirnya
sudah usai. Sebelum ia berusaha.
Dan
tuhan selalu menyayanginya –
* Mkd Aan's
2016
2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar