Jumat, 11 November 2016

Dalam Pembaringan

Ayunan rembulan. Di langit.
Awan-awan adalah adalah wajah kekasih paling nyata.
Dan ia melihatnya malam itu.
Menanar, tatapan itu pada bola-bola lampu.

Kunang-kunang.

Rambutnya menjalar pada bantal yang tak lagi lembut.
Seperti kabel-kabel lampu perumahan.
Gerak-gerak kelambu tempat tidur, pikirannya melayang. Tak karuan.
Sanggupkah ia tertidur.
Sedang separuh hati sudah terperangkap di bawah kolong.
Gelap. Gelap. Gelap.

Tolonglah bintang-bintang lemparkan cahayamu pada jendela.
Sebab sudah terlalu lama ia dipermainkan angin.
Dadanya sudah begitu kerontang dari yang paling kerontang. Rasakanlah. Kaktus bernafas dalam lubang pori-pori kulitnya.
Sesak.

Dan malam-malam pun sudah tak lagi ia hiraukan.
Sebab ia hanyalah kumpulan angin yang dingin dengan beberapa pekat yang bergerak.
Namun, biarlah.
Bagi seseorang kekasih. Ia hanya menginginkan berdamai dengan bantalnya sebelum ia tertidur.
Tenang. Tenang. Tenang.

Tiba-tiba.
Kunang-kunang merayap di kepalanya setelah tengah malam
Dan tubuhnya pun kini menjelma menjadi lautan sunyi penuh dengkur –


* Mkd Aan's
2016

Kisah Lelaki Yang Melawan Takdir

Ia lelaki penuh siluet-siluet.
Selembar mendung sore melambai di atas pohon pohon srikaya tempatnya berdiri.
Ia ingin terbang seperti burung-burung.
Senja itu kelabu. Lebih kelabu dari daun-daun jatuh.
Ingin sekali menghancurkan segalanya. Pelteng tua di samping rumah. Atap-atap.
Bahkan keluarga ayam yang memunguti langkah kakinya dari belakang.
Husshh--teriaknya acuh tak acuh.

Adakah yang lebih sulit dari menahan nafas pada waktu itu.
Takdir menurutnya tak adil. Karena itu ia bersembunyi di balik senja.
Senja yang biasanya mirip senyum ibu ketika mengajaknya makan malam.
Tapi yang dilihat ? Apakah ini. Menyebalkan.

Siluet-siluet kelabu.
Mendung lembar-lembar.
Kini Tuhan tambahkan padanya rintik-rintik gerimis.

Ah. Dia lelaki yang berusaha melawan takdir.
Bisakah ia bersembunyi dalam bak mandi, di bawah kolong
Atau mencoba menutup lubang goa dari dalam.
Pikirnya ia bisa tidur seratus tahun lebih.
Namun kakinya terlanjur sakit.
Bokongnya penuh daun-daun. Lalu ia coba berjalan kembali biar semuanya usai.

Siluet-siluet, hitam.
Pekat. Tak lagi samar-samar.
Cepatlah ia bersembunyi. Sebelum ia terjebak malam.

Tuhan masih menyayanginya.
Namun lelaki yang membenci takdirnya begitu picik.
Ia mulai memenjarakan kunang-kunang.
Melewati lembah, melewati gunung. Melewati sungai.
Melewati dzikir petang. Kini ia lah yang memenangi malam.

Siluet-siluet. Kabut.
Sesak. Duri-duri menghujam.
Ia mulai berjambaki dedaunan.
Wajahnya. Penuh kecurigaan pada tuhan.

Tempat persembunyian yang sempurna.
Ia mulai menggali tanah-tanah. Batu-batu berjatuhan.
Ia tersenyum penuh kemenangan.

Ah--Dingin.
Dingin. Siluet-siluet napasnya.
Mulai berakhir seperti habisnya malam.
Dan kunang-kunang terbang mengangkat mayatnya.
Takdirnya sudah usai. Sebelum ia berusaha.
Dan tuhan selalu menyayanginya –

* Mkd Aan's
 2016