Kau
adalah kesunyian, yang tenggelam pada kesepian.
Dari
segerombolan suara lebah, bunyi angin adalah yang paling berisik.
Kau.
Tak perlu datang kembali.
Kekasihmu
baru saja pergi. Bersama kupu-kupu.
Kupu-kupu
jiwa yang merana. Menemui kota-kota baru.
Pernahkah
kau duduk di bawah pohon willow ?
Kemudian
udara benar-benar bicara ?
Kekasihmu
sudah pergi, itu yang baru saja kukatakan kepada para penebang.
Mereka
juga sudah berkemas.
Di
sekujur tubuh, rindu sudah mengonak, berduri bunga-bunga daisy.
Bahkan
yang mustahil pun kini sering saja terlintas. Ahh !
Dan
kau mencari kekasihmu. Di bawah ranting-ranting pohon willow.
Mungkin
saja air matanya masih ada di ujung-ujung rerumputan.
Berarti
dia belum jauh. Belum jauh untuk kau nikmati aroma tubuhnya.
Kau
jelajahi rambutnya dengan jemarimu.
Namun
kau hanya dipertemukan lagi dengan keheningan.
Halimun
tipis, embun berantakan, kabut asap.
Dan
api membara dalam dirimu.
“Pergi
tinggalkan diriku sendiri !” Kau mendengarkan teriakan itu di dalam tubuh
hutan.
Lalu
kau semakin menangis. Rupanya kau mendengar suara kekasihmu.
Keterkejutan
membuat kau terpaku.
Lumpuh
dari yang paling lumpuh.
Dan
kau menolak hatimu. Bukanlah rindu sudah usai. Ia hanya redam seketika.
Sebab
rindu itu abadi, melekat pada cinta dan benci.
Dan
kau mulai membenci pada kekasihmu.
Seperti
embun yang lebur dalam hujan.
Mengapa
kau mesti mencintai kekasihmu begitu dalam kau pada akhirnya berujung pada
kehilangan.
Di
bawah pohon willow yang hijau. Terdiam.
Duduklah
hanya sebentar untuk merenungi nasib.
Melihat
ranting-rantingnya yang mulai keriput.
Ingatkah
kau bahwa dulu kau bermain bergelantungan disana.
Memberi
makan burung dengan buah ceri. Mengambil rembulan di atas cabangnya.
Sekarang
ia sudah menghitam. Seperti kekasihmu yang kau lihat terkapar dalam kobaran
api.
Rumput
pun tak bisa menyelamatkan diri.
Mengapa
selalu hitam yang menjadi petanda kehilangan ? Dan hijau berarti kesejukan ?
Kau
tak perlu menjawabnya. Karena kupu-kupu yang membawa kekasihmu pergi, kini
telah sampai di sebuah kota. Kau hanya perlu mempertanyakannya.
Dimana
kuburan kekasihmu
Namun
kembali--kau hanya dipertemukan dengan keheningan.
Kesedihan
yang paling menyedihkan.
Tubuh
kekasihmu kini lenyap tak berbekas tertelan kabut asap.
Api,
api, api. Api, api, api. Api__
Kemudian
kau dengar kekasihmu sudah kembali ke relung tanah.
Menjadi
sebuah kota penuh kerlip lampu.
Apakah
ia bahagia ? entahlah. Kau tak bisa jua menjawabnya.
Dan
akhirnya kau hanya duduk di sebuah taman kota.
Dekat
kolam ikan emas kecil, kerikil-kerikir kecil. Bunga-bunga bakung kusam.
Di
penuhi decitan suara knalpot mobil. Asap polusi.
Di
bawah anak pohon willow.
Yang tak lagi subur -
Jungkarang, 26
Januari 2016.
Pemenang Lomba Cipta Puisi Nasional bertemakan "HUTAN"
Penerbit Genom Januari 2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar