Minggu, 07 Februari 2016

Di Bawah Pohon Willow


Kau adalah kesunyian, yang tenggelam pada kesepian.

Dari segerombolan suara lebah, bunyi angin adalah yang paling berisik.

Kau. Tak perlu datang kembali.

Kekasihmu baru saja pergi. Bersama kupu-kupu.

Kupu-kupu jiwa yang merana. Menemui kota-kota baru.



Pernahkah kau duduk di bawah pohon willow ?

Kemudian udara benar-benar bicara ?



Kekasihmu sudah pergi, itu yang baru saja kukatakan kepada para penebang.

Mereka juga sudah berkemas.

Di sekujur tubuh, rindu sudah mengonak, berduri bunga-bunga daisy.

Bahkan yang mustahil pun kini sering saja terlintas. Ahh !



Dan kau mencari kekasihmu. Di bawah ranting-ranting pohon willow.

Mungkin saja air matanya masih ada di ujung-ujung rerumputan.

Berarti dia belum jauh. Belum jauh untuk kau nikmati aroma tubuhnya.

Kau jelajahi rambutnya dengan jemarimu.

Namun kau hanya dipertemukan lagi dengan keheningan.

Halimun tipis, embun berantakan, kabut asap.

Dan api membara dalam dirimu.



“Pergi tinggalkan diriku sendiri !” Kau mendengarkan teriakan itu di dalam tubuh hutan.

Lalu kau semakin menangis. Rupanya kau mendengar suara kekasihmu.

Keterkejutan membuat kau terpaku.

Lumpuh dari yang paling lumpuh.

Dan kau menolak hatimu. Bukanlah rindu sudah usai. Ia hanya redam seketika.

Sebab rindu itu abadi, melekat pada cinta dan benci.

Dan kau mulai membenci pada kekasihmu.

Seperti embun yang lebur dalam hujan.

Mengapa kau mesti mencintai kekasihmu begitu dalam kau pada akhirnya berujung pada kehilangan.



Di bawah pohon willow yang hijau. Terdiam.

Duduklah hanya sebentar untuk merenungi nasib.

Melihat ranting-rantingnya yang mulai keriput.

Ingatkah kau bahwa dulu kau bermain bergelantungan disana.

Memberi makan burung dengan buah ceri. Mengambil rembulan di atas cabangnya.

Sekarang ia sudah menghitam. Seperti kekasihmu yang kau lihat terkapar dalam kobaran api.

Rumput pun tak bisa menyelamatkan diri.

Mengapa selalu hitam yang menjadi petanda kehilangan ? Dan hijau berarti kesejukan ?

Kau tak perlu menjawabnya. Karena kupu-kupu yang membawa kekasihmu pergi, kini telah sampai di sebuah kota. Kau hanya perlu mempertanyakannya.

Dimana kuburan kekasihmu



Namun kembali--kau hanya dipertemukan dengan keheningan.

Kesedihan yang paling menyedihkan.

Tubuh kekasihmu kini lenyap tak berbekas tertelan kabut asap.

Api, api, api. Api, api, api. Api__



Kemudian kau dengar kekasihmu sudah kembali ke relung tanah.

Menjadi sebuah kota penuh kerlip lampu.

Apakah ia bahagia ? entahlah. Kau tak bisa jua menjawabnya.



Dan akhirnya kau hanya duduk di sebuah taman kota.

Dekat kolam ikan emas kecil, kerikil-kerikir kecil. Bunga-bunga bakung kusam.

Di penuhi decitan suara knalpot mobil. Asap polusi.

Di bawah anak pohon willow. 
Yang tak lagi subur -





Jungkarang, 26 Januari 2016. 
Pemenang Lomba Cipta Puisi Nasional bertemakan "HUTAN"  
Penerbit Genom Januari 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar