MENEBAS HABIS
BUDAYA PACARAAN
‘’Katakan !!
Apa bila aku telah meninggal. tak boleh ada yang menyentuh jenazahku kecuali
suamiku , Ali Karomahullohu Wajhah’’
Siapa yang tidak mau mempunya istri sholeha
seperti hal nya istri-istri rosuluulloh SAW atau sebagaimana halnya fatimah Az-
Zahra istri sayyidina Ali karomahullohu wajahah. Realitanya, Semua lelaki
didunia pasti menginginkan pendamping yang sedemikian, yang mampu membuat
kehidupan rumah tangga yang dibinanya jadi tenang, yang mampu menghangatkan
suasana ketika terasa dingin, yang mampu mendinginkan suasana hati saat terasa
mendadak panas, yang senyumannya mampu menciptakan energi baru dalam peredaran
darah sang suami. Tak mungkin tidak, prespektif nyatanya memang seperti
demikian. Hal ini menimbulkan banyak wacana yang berkembang dalam setiap sifat
dan kontraksi masyarakat akan butuhnya pendamping yang demikian diidamkan,
terutama untuk kelangsungan hidup yang terbaik.
Anehnya, perkembangan yang ada, justru
membuat masyarakat mengklaim pacaran adalah solusi yang sangat tepat untuk
menanamkan keinginan terpenuhinya siklus kehidupan dalam rumah tangga yang baik
tersebut, mereka juga mendalilkan mitos-mitos yang tak jelas sebagai kiat yang
jitu untuk menyeleksi calon pendamping yang didamba. Apalagi kini telah
dimunculkan paham ditengah masyarakat yang mengenal pacaran dengan kemasan yang
lebih tepat, rapi, dan terlihat menghalalkan. Mereka menyebutkan dengan ‘’Pacaran
Ala Islami’’

Tak ada
kamus Islam manapun yang kembolehkan hubungan tanpa adanya ikatan yang jelas
(lain halnya dengan mukhrim) antara makhuk Alloh yang berkelamin laki-laki dan
yang perempuan saling pandang. Apalagi
berhubungan satu sama lain. Sebagaimana halnya pacaran dalam kemudi masyarakat
saat ini. Sangat berubah dari bentuk dasar Islam yang menyebutkan larangan keras akan hal ini, yang dapat
menimbulkan zina, firtnah dan sebagainya. Dan hal ini sudah sangat jelas
disebutkan dalam al Qur’an.
Sesuai dengan keadaan masyarakat. Saat ini
sulit mencari wanita yang di usia pubertasnya tidak memiliki pasangan alias
pacar. Karena didesak oleh khayalan mendapatkan pendamping yang semu jika tanpa
melakukan proses pacaran. Layaknya membeli buah dalam karung tanpa kita tahu
bagai mana rasa dan keadaanya. Manis atau kecut yang terdapat didalamnya. Hal
ini lah yang kemudian menjadi asumsi yang membuat masyarakat beranggapan
pacaran lebih baik dari pada menikah
tanpa tahu jelas wanita yang akan dinikahinya. Hingga realita yang terjadi
demikian.
Terkhusus pada kaum hawa, masa Jahiliyyah,
dimana wanita adalah aib bagi keluarga, keluarga yang melahirkannya segera
menguburkannya hidup-hidup karena takut malu. Seorang isteri jadi warisan
anak-anaknya sepeninggal sang ayah; mau dijadikan isteri atau dibuang saja.
Wanita hanyalah sebagai pelepas dahaga seksualitas laki-laki saja.
Namun
setelah Islam datang, wanita demikian dimuliakan dan disanjung, ia dijadikan
tempat berbakti utama bahkan di atas sang ayah, ia dijadikan nama surat dalam
al-Qur'an, ia bisa menjadi tiket masuk surga bilamana sang ayah berhasil
mendidiknya dengan baik dan banyak lagi.
Namun, setelah pengangkatan dan penghormatan
yang tidak pernah diberikan oleh agama manapun, nampaknya wanita-wanita
muslimah sudah lupa diri, tidak mau mensyukuri nikmat yang diberikan Allah
tersebut. Mereka nampaknya ingin kembali ke dunia hina seperti dulu masa Jahiliyyah,
na'udzubillah...Terus kemana ya kita harus mencari wanita seperti itu, apa lagi
islam melarang kita berpacaran, karena nampaknya, kaum muslimah terjangkit
budaya impor barat dan hampir tidak memiliki jati diri lagi. Sangat disayangkan
sekali, sebab betapa Islam begitu menjaga kehormatan wanita. Hingga menimbulkan
image cari istri yang sholehah bagai memungut asap api yang sudah lama padam.
Sebagaiman kalau dilihat pergaulan wanita kita sekarang ini yang sangat jauh
dari prilaku orang beragama. Wanita dieksploitasi sedemikian rupa untuk
kepentingan-kepentingan sesaat dan pelampiasan hawa nafsu dan materialistik
belaka. Bukan Mungkin lagi, inilah Misi musuh-musuh Islam untuk menyeret umat
ini ke jurang kehancuran tidak pernah berhenti dan salah satu sasaran
pentingnya adalah para remaja muslimah sebab merekalah nantinya yang akan
menjadi ibu-ibu rumah tangga dan pendidik bagi generasi Islam selanjutnya.
Bilamana mereka ini berhasil diorbitkan sesuai selera mereka, maka tidak
mustahil Islam di negeri ini hanya tinggal nama saja.
Kondisi ini tentunya tidak datang begitu
saja, ada proses di balik itu sebab tidak mungkin ada api kalau tidak ada
asapnya. Kalau sepuluh tahun lalu, misalnya, musuh-musuh Islam melakukan
proyek-proyek pengrusakan (dekonstruktif) secara diam-diam dan bergerilya, maka
sekarang ini mereka tidak lagi demikian. Berbagai media mereka kuasai untuk
menghancurkan moral generasi muda kita, termasuklah dengan menseponsori hal-hal
yang berbau 'cinta' 'asmara' 'pacaran' dan semisalnya, mulai dari tayangan di
televisi, radio ataupun koran-koran. Tanpa disadari, akibat pondasi 'aqidah
remaja kita yang amat lemah dan kurangnya bimbingan agama oleh para orangtua
mereka, mereka hanyut dengan permainan musuh-musuh Islam tersebut. Maka, cinta
dan pacaran sudah tidak menjadi tabu lagi bahkan yang tabu adalah bila ada
cewek atau cowok yang tidak suka pacaran dan tidak kenal cinta. Mereka bilang
‘’mereka’’ yang sudah tersesat dizaman modern.
Cinta
dan Pacaran; itulah kata yang lebih
berkembang dan dikenal oleh para remaja kita sekarang. Dari pada kata-kata yang
menjadi bagian dari ajaran agama mereka. Dua kata tersebut seakan sudah menjadi
sarapan mereka di sekolah-sekolah melebihi mata pelajaran yang seyogyanya
mereka timba. Sembraut pacaranpun akhirnya mencuat dan tidak dapat di hindarkan
karena sudah melekat pada diri setiap individu. Bila mana kita melihat akan
moral yang lebih besar islam tuangkan sebagai penghormatan bagi kaum muslimah
atau pun muslim remaja, hingga, tentulah dapat disadari ‘’pacaran’’ bukanlah
ajang untuk menemukan pasangan yang ideal menurut segala kreteria apalagi
sholeh ataupun sholeha. Sebab kata pacaran lebih mengena pada nafsu yang
memuncak dan memotori gerak liku yang tak benar, hingga tak paduli lagi aspek
lain-lain apalagi untuk kemaslahatan dan kebaikan yang telah dijadikan patokan
utama, ‘’yaitu untuk mendapatkan pendamping ideal’’
Dalam kajian ini, Ternyata, benar apa yang
dikhawatirkan oleh Rasulullah terhadap umat ini, yaitu bencana yang namanya
'wanita.' Beliau menyatakan bahwa tiada bencanan yang beliau tinggalkan lebih
dahsyat daripada fitnah wanita. Dan, setelah sekian hampir 15 abad, apa yang
beliau khawatirkan itu sudah menjadi kenyataan. Tak heran, bilamana kata
'Az-Zaaniyah' (wanita pezina) didahulukan penyebutannya atas kata 'Az-Zaani'
(laki-laki pezina), karena pada asalnya, sumbernya adalah wanita sekalipun
laki-laki juga punya peran. Sebab, andaikata wanita mau mena'ati ajaran
agamanya dengan berdiam di rumah dan tidak keluar kecuali untuk hal-hal yang memang
diperlukan dan tidak dapat harus dilakukannya; tentu akan lain ceritanya.
Wanita-wanita akan begitu terhormat di masyarakat bukan lagi sebagai pajangan
murahan yang berseliweran di sana-sini; pabrik-pabrik, otomotif, jamu,
modeling, resepsionis, kantor-kantor tingkat tinggi.
Sudah sangat jelas. Jalan yang dilalui alur
ril pacaran memangklah semu, selain membunuh nilai kehormatan baik muslim
ataupun muslimah, tujuannya memang juga tak jelas dan menyimpang, sekalipun
banyak yang memanfaatkannya sebagai pilah-pilih jodoh yang baik, dan itu semua
mustahil.
Munafik
memang, Sebagai contoh, dalam istilah pacaran, remaja yang mencari calon pacar,
pastilah ia menginginkan seseorang yang mampu memuaskan semua hasrat seksualnya
semata tanpa ada keinginan untuk beranjak kejenjang yang lebih serius, adapun
apabila hal itu terjadi, itu hanyalah keinginan nafsu semata. Lainhalnya dengan
apabila ia menginginkan seorang untuk dijadikan pasangan hidup, ia pasti akan
memilih dengan berbagai selekasi yang amat ketak akan keseluruhan pendamping
yang akan ia nikahi. Baik dari segi bibit, bebet dan bobotnya. Kalau sudah begini sebenarnya apa untungnya
hal itu bagi wanita? Dan apa untuk laki-laki ? yang kiranya laki-laki lebih
condong sebagai konsumen. Apakah laki-laki diuntungkan? Tentu, hitungan untung
rugi tidak dapat kita takar dengan enak atau tidak enak, tetapi takaran untuk
hal ini adalah dosa dan semua yang terlibat dalam pacaran adalah mendapatkan
jatah dosa. Sebagaimana Islam mengharamkannya dengan titik yang tak ada habisnya.
Sebagai hal yang paling jitu menghindar dari
asumsi yang tak jelas adalah jalan terbaik. Memasung diri sendiri dengan iman
dari pacaran adalah hal terbaik, sebab menjaga diri dan kehormatan diri lebih
baik dilihat dari segi manapun. Adapun menahan hasrat tersebut saat timbul
tentu dapat diaklahkan dengan banyak berdzikir dan dan banyak meredam nafsu
dengan memperbanyak puasa dan menahan diri dari hasrat yang tak jelas yang
memungkinkan terjadinya keinginan-keinginan yang tidak baik. Sebab budaya pacaran,
budaya barat yang bertujuan untuk menyesatkan dan menjerumuskan bukan bertujuan
untuk mengamankan dan menyamankan.
Dalam Al- Qur‘an disebutkan :
‘’Katakanlah
kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau
putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan
laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang
belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua
agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu
sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’’ An
Nur 31

Tidak ada komentar:
Posting Komentar