Selasa, 23 September 2014

Menebas Habis Budaya Pacaran


MENEBAS HABIS

BUDAYA PACARAAN

 ‘’Katakan !! Apa bila aku telah meninggal. tak boleh ada yang menyentuh jenazahku kecuali suamiku , Ali Karomahullohu Wajhah’’


Siapa yang tidak mau mempunya istri sholeha seperti hal nya istri-istri rosuluulloh SAW atau sebagaimana halnya fatimah Az- Zahra istri sayyidina Ali karomahullohu wajahah. Realitanya, Semua lelaki didunia pasti menginginkan pendamping yang sedemikian, yang mampu membuat kehidupan rumah tangga yang dibinanya jadi tenang, yang mampu menghangatkan suasana ketika terasa dingin, yang mampu mendinginkan suasana hati saat terasa mendadak panas, yang senyumannya mampu menciptakan energi baru dalam peredaran darah sang suami. Tak mungkin tidak, prespektif nyatanya memang seperti demikian. Hal ini menimbulkan banyak wacana yang berkembang dalam setiap sifat dan kontraksi masyarakat akan butuhnya pendamping yang demikian diidamkan, terutama untuk kelangsungan hidup yang terbaik.

Anehnya, perkembangan yang ada, justru membuat masyarakat mengklaim pacaran adalah solusi yang sangat tepat untuk menanamkan keinginan terpenuhinya siklus kehidupan dalam rumah tangga yang baik tersebut, mereka juga mendalilkan mitos-mitos yang tak jelas sebagai kiat yang jitu untuk menyeleksi calon pendamping yang didamba. Apalagi kini telah dimunculkan paham ditengah masyarakat yang mengenal pacaran dengan kemasan yang lebih tepat, rapi, dan terlihat menghalalkan. Mereka menyebutkan dengan ‘’Pacaran Ala Islami’’

Tak ada kamus Islam manapun yang kembolehkan hubungan tanpa adanya ikatan yang jelas (lain halnya dengan mukhrim) antara makhuk Alloh yang berkelamin laki-laki dan yang perempuan  saling pandang. Apalagi berhubungan satu sama lain. Sebagaimana halnya pacaran dalam kemudi masyarakat saat ini. Sangat berubah dari bentuk dasar Islam yang menyebutkan  larangan keras akan hal ini, yang dapat menimbulkan zina, firtnah dan sebagainya. Dan hal ini sudah sangat jelas disebutkan dalam al Qur’an.

Sesuai dengan keadaan masyarakat. Saat ini sulit mencari wanita yang di usia pubertasnya tidak memiliki pasangan alias pacar. Karena didesak oleh khayalan mendapatkan pendamping yang semu jika tanpa melakukan proses pacaran. Layaknya membeli buah dalam karung tanpa kita tahu bagai mana rasa dan keadaanya. Manis atau kecut yang terdapat didalamnya. Hal ini lah yang kemudian menjadi asumsi yang membuat masyarakat beranggapan pacaran lebih baik  dari pada menikah tanpa tahu jelas wanita yang akan dinikahinya. Hingga realita yang terjadi demikian.

Terkhusus pada kaum hawa, masa Jahiliyyah, dimana wanita adalah aib bagi keluarga, keluarga yang melahirkannya segera menguburkannya hidup-hidup karena takut malu. Seorang isteri jadi warisan anak-anaknya sepeninggal sang ayah; mau dijadikan isteri atau dibuang saja. Wanita hanyalah sebagai pelepas dahaga seksualitas laki-laki saja.

Namun setelah Islam datang, wanita demikian dimuliakan dan disanjung, ia dijadikan tempat berbakti utama bahkan di atas sang ayah, ia dijadikan nama surat dalam al-Qur'an, ia bisa menjadi tiket masuk surga bilamana sang ayah berhasil mendidiknya dengan baik dan banyak lagi.

Namun, setelah pengangkatan dan penghormatan yang tidak pernah diberikan oleh agama manapun, nampaknya wanita-wanita muslimah sudah lupa diri, tidak mau mensyukuri nikmat yang diberikan Allah tersebut. Mereka nampaknya ingin kembali ke dunia hina seperti dulu masa Jahiliyyah, na'udzubillah...Terus kemana ya kita harus mencari wanita seperti itu, apa lagi islam melarang kita berpacaran, karena nampaknya, kaum muslimah terjangkit budaya impor barat dan hampir tidak memiliki jati diri lagi. Sangat disayangkan sekali, sebab betapa Islam begitu menjaga kehormatan wanita. Hingga menimbulkan image cari istri yang sholehah bagai memungut asap api yang sudah lama padam. Sebagaiman kalau dilihat pergaulan wanita kita sekarang ini yang sangat jauh dari prilaku orang beragama. Wanita dieksploitasi sedemikian rupa untuk kepentingan-kepentingan sesaat dan pelampiasan hawa nafsu dan materialistik belaka. Bukan Mungkin lagi, inilah Misi musuh-musuh Islam untuk menyeret umat ini ke jurang kehancuran tidak pernah berhenti dan salah satu sasaran pentingnya adalah para remaja muslimah sebab merekalah nantinya yang akan menjadi ibu-ibu rumah tangga dan pendidik bagi generasi Islam selanjutnya. Bilamana mereka ini berhasil diorbitkan sesuai selera mereka, maka tidak mustahil Islam di negeri ini hanya tinggal nama saja.

Kondisi ini tentunya tidak datang begitu saja, ada proses di balik itu sebab tidak mungkin ada api kalau tidak ada asapnya. Kalau sepuluh tahun lalu, misalnya, musuh-musuh Islam melakukan proyek-proyek pengrusakan (dekonstruktif) secara diam-diam dan bergerilya, maka sekarang ini mereka tidak lagi demikian. Berbagai media mereka kuasai untuk menghancurkan moral generasi muda kita, termasuklah dengan menseponsori hal-hal yang berbau 'cinta' 'asmara' 'pacaran' dan semisalnya, mulai dari tayangan di televisi, radio ataupun koran-koran. Tanpa disadari, akibat pondasi 'aqidah remaja kita yang amat lemah dan kurangnya bimbingan agama oleh para orangtua mereka, mereka hanyut dengan permainan musuh-musuh Islam tersebut. Maka, cinta dan pacaran sudah tidak menjadi tabu lagi bahkan yang tabu adalah bila ada cewek atau cowok yang tidak suka pacaran dan tidak kenal cinta. Mereka bilang ‘’mereka’’ yang sudah tersesat dizaman modern.

Cinta dan  Pacaran; itulah kata yang lebih berkembang dan dikenal oleh para remaja kita sekarang. Dari pada kata-kata yang menjadi bagian dari ajaran agama mereka. Dua kata tersebut seakan sudah menjadi sarapan mereka di sekolah-sekolah melebihi mata pelajaran yang seyogyanya mereka timba. Sembraut pacaranpun akhirnya mencuat dan tidak dapat di hindarkan karena sudah melekat pada diri setiap individu. Bila mana kita melihat akan moral yang lebih besar islam tuangkan sebagai penghormatan bagi kaum muslimah atau pun muslim remaja, hingga, tentulah dapat disadari ‘’pacaran’’ bukanlah ajang untuk menemukan pasangan yang ideal menurut segala kreteria apalagi sholeh ataupun sholeha. Sebab kata pacaran lebih mengena pada nafsu yang memuncak dan memotori gerak liku yang tak benar, hingga tak paduli lagi aspek lain-lain apalagi untuk kemaslahatan dan kebaikan yang telah dijadikan patokan utama, ‘’yaitu untuk mendapatkan pendamping ideal’’

Dalam kajian ini, Ternyata, benar apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah terhadap umat ini, yaitu bencana yang namanya 'wanita.' Beliau menyatakan bahwa tiada bencanan yang beliau tinggalkan lebih dahsyat daripada fitnah wanita. Dan, setelah sekian hampir 15 abad, apa yang beliau khawatirkan itu sudah menjadi kenyataan. Tak heran, bilamana kata 'Az-Zaaniyah' (wanita pezina) didahulukan penyebutannya atas kata 'Az-Zaani' (laki-laki pezina), karena pada asalnya, sumbernya adalah wanita sekalipun laki-laki juga punya peran. Sebab, andaikata wanita mau mena'ati ajaran agamanya dengan berdiam di rumah dan tidak keluar kecuali untuk hal-hal yang memang diperlukan dan tidak dapat harus dilakukannya; tentu akan lain ceritanya. Wanita-wanita akan begitu terhormat di masyarakat bukan lagi sebagai pajangan murahan yang berseliweran di sana-sini; pabrik-pabrik, otomotif, jamu, modeling, resepsionis, kantor-kantor tingkat tinggi.

Sudah sangat jelas. Jalan yang dilalui alur ril pacaran memangklah semu, selain membunuh nilai kehormatan baik muslim ataupun muslimah, tujuannya memang juga tak jelas dan menyimpang, sekalipun banyak yang memanfaatkannya sebagai pilah-pilih jodoh yang baik, dan itu semua mustahil.

Munafik memang, Sebagai contoh, dalam istilah pacaran, remaja yang mencari calon pacar, pastilah ia menginginkan seseorang yang mampu memuaskan semua hasrat seksualnya semata tanpa ada keinginan untuk beranjak kejenjang yang lebih serius, adapun apabila hal itu terjadi, itu hanyalah keinginan nafsu semata. Lainhalnya dengan apabila ia menginginkan seorang untuk dijadikan pasangan hidup, ia pasti akan memilih dengan berbagai selekasi yang amat ketak akan keseluruhan pendamping yang akan ia nikahi. Baik dari segi bibit, bebet dan bobotnya.  Kalau sudah begini sebenarnya apa untungnya hal itu bagi wanita? Dan apa untuk laki-laki ? yang kiranya laki-laki lebih condong sebagai konsumen. Apakah laki-laki diuntungkan? Tentu, hitungan untung rugi tidak dapat kita takar dengan enak atau tidak enak, tetapi takaran untuk hal ini adalah dosa dan semua yang terlibat dalam pacaran adalah mendapatkan jatah dosa. Sebagaimana Islam mengharamkannya dengan titik yang tak ada habisnya.

Sebagai hal yang paling jitu menghindar dari asumsi yang tak jelas adalah jalan terbaik. Memasung diri sendiri dengan iman dari pacaran adalah hal terbaik, sebab menjaga diri dan kehormatan diri lebih baik dilihat dari segi manapun. Adapun menahan hasrat tersebut saat timbul tentu dapat diaklahkan dengan banyak berdzikir dan dan banyak meredam nafsu dengan memperbanyak puasa dan menahan diri dari hasrat yang tak jelas yang memungkinkan terjadinya keinginan-keinginan yang tidak baik. Sebab budaya pacaran, budaya barat yang bertujuan untuk menyesatkan dan menjerumuskan bukan bertujuan untuk mengamankan dan menyamankan. 

 Dalam Al- Qur‘an disebutkan :

‘’Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’’ An Nur 31

Tidak ada komentar:

Posting Komentar