Sabtu, 10 Mei 2014

Kita Akhirnya Berkata -


Sudah senja, kita berada di suatu tapak jalan yang jauh
berjalan menyusuri aliran mata air hingga lelah
saling membisu, tanpa kata namun kita harus tetap mempertahankan hembusan nyawa.
Kita berlari, menari, hingga kadang kaki tergelincir
Kita menangis, lalu menatap langit, mengadu padanya, dan masih banyak warna yang belum kita gores bersama.

Akh, Akhirnya kita harus berkata, tuan |
Senja telah memakai kerudung dan matahari kita juga sudah jadi mendung.
Kita harus mencari tempat yang teduh, untuk berbaring, memejamkan mata.
Menyelami kolam yang paling dalam, dan dan kita meneguk susu dari dasarnya
Agar kita kuat seumpama baja, agar kita tegar seumpama karang
Agar kita tak menagis seperti anak bayi.

Akh, Akhirnya kita memang harus berkata | Kawan |
Kita kan berpisah, di jalan ini |
Jalan timpang menuju seribu kehidupan 
Di mana ada sebungkus cinta dan kasih di tumbuk oleh waktu dan kita mengantonginya dalam sebuah memori, kenang yang tak berdasar.

Memori saat kita tertawa menangkap hembusan angin,
bergandeng tangan menuju tangga, kita merindu, bisu, berteriak, lalu sedih.

Kawan, Mengapa |
Waktu selalu saja menjadi pisau, yang mengerat ikatan antara kita
Padahal, waktu yang telah mempertemukan kita pada sumbunya yang subur.
Di dadanya kita tanam jiwa yang rapuh, dan di dadanya pula kita pulang memanen tawa dan kenang yang tak pernah hilang.

Tapi mengapa waktu juga mengghadirkan kita pada perpisahan |
Rasanya tak adil kalau kita akan mengupas rindu ini dan membuang nya pada tong sampah. Saat kita menatap dunia ini dengan senyum adalah tempat paling nyaman yang pernah tergelar.
Saat kita melangkah menatap kedepan tanpa lelah adalah saat paling sendu yang dibuat oleh waktu.

Namun,  Akhirnya kita harus berkata |
Tentang perpisahan yang penuh perih ini
Walau air mataku akan menjadi hujan tanpa kemarau
Walau lukaku akan menjadi puluhan pulau yang menyebar.
Aku telah memahat tawa kita dalam sarang hati yang paling dalam.
Hingga tak satu pun luka ini aku rasakan.

Kawan |  Akhirnya kita harus berkata.
Semoga tawa kita masih ada, untuk hari ini, besok dan seterusnya -

* Mkd Aan's

2014

Senin, 05 Mei 2014

Kamboja Tengah Malam

Setelah ribuan hari kau lalui, kau masih terkapar dalam titik terendah, kau masih terpuruk, terlempar luntang-lantung dalam skenario tuhan, air mata tak usah kau cairkan, karena sudah basi, lamat-lamat air mata tak hanya menjadi explointasi hari, tiap tetes itu sama sekali tak akan melumat rasa sesalmu mendarah sekalipun, kau makin terpuruk di hujat, di caci orang-orang di sekitarmu, ketika Kamboja putih bertaburan tengah malam di sekitar pemakaman, menyeruak menyerupai barisan hingga ke pintu rumahmu, kau tak dapat lagi mengelak, memberontak, ketika orang di sekitarmu menuduh engkaulah penganut aliran sesat.
Senja merah di tepi sore menanti malam yang akan datang, sekawan bangau terbang mengitari sorot matamu, sementara kau masih mengenang-kenangan yang mulai kadaluarsa, ketika kau harus berpindah-pindah tempat mencari kesenangan dalam hidup, hampir beberapa kota kau singgahi, berpijak di tanah yang bukan tanah kelahiranmu, kau luntang-lantung dalam siang terik, sama sekali kau tak tahu, tak mendengar, reranting daun mencerca nasibmu, menertawakan hidupmu, terik mentari kau layari, mengemas barang cepat-cepat, kau kepak ranselmu tanpa kau hiraukan tarian ilalang yang seakan mengikuti langkahmu. Di Surabaya kau hempaskan nafasmu untuk beberapa saat, kau ia kan ajakan pamanmu menjadi seorang penjahit, pada hal sama sekali kau tak bisa menjahit, nampaknya kau sudah bulatkan tekat, meski sempat seorang ustadz mengajakmu menjadi seorang pengajar madrasah di kampung, tapi kau tolak mentah-mentah, kau abaikan seperti semilir angin berlalu, alasanmu sungguh celaka, kau merasa tak sanggup hidup bergantung pada uang seratus ribu per-bulan, kau merasa risih jika harus melayari hidup dengan uang itu,
Belum lagi pikiranmu yang kusut, kau tak suka berada di tengah-tengah anak madrasah yang kumuh, aroma tubuh mereka yang sering kali tak sedap, kau muak akan semua itu, sombongmu memang mejulang melebihi langit yang mengatapimu.
            Hari terik harus kau tempuh dalam ruang sempit, pengah bersahabat dengan tiap helai benang, berpacu tanganmu dengan gulatan mesin yang bisa saja mencengkram tanganmu jika kau tidak hati-hati, kau harus menahan keringat mu yang ramai-ramai merintik, kau rasakan juga sakit pinggang yang amat, kau bodoh, sungguh teramat bodoh.
Denting waktu yang berjalan itu menertawakanmu, sholatmu keriput, bungkuk tanpa kerangka, sepotong surat yasin kau ganti dengan beberapa batang rokok, kau lakukan itu di belakang senja, pada hal dulu di pesantren kau akrab bersahabat dengan yasin, sekarang kau bikin kadaluarsa hingga tak layak konsumsi, jangankan surat yasin, sepotong Al-fatihah untuk gurunda yang kau sebut Al-Muallim kau singkirkan jauh-jauh, pada hal bila snece itu kembali di gelar oleh tuhan, pasti masih lekat dalam ingatanmu. Dalam senja merah Al-Muallim di panggil-Nya atas sebuah janji. Senja itu kau meraung sejadinya, tangismu berhambur menjelajahi senja, menitik jatuh bersama tangis santri yang lain, kelopak matamu merah semerah senja, kau sangat merasa kehilangan sosok yang kau kagumi, penenang batinmu kala risau, tangis mu begitu panjang hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya, kau genggam abu pemakaman, malam itu kau benar-benar terkapar dalam hening malam, tangismu kau bawa tidur, tapi rupanya tangismu palsu, topeng kepalsuan yang akhirnya menitik, meski kau tak membenarkan tangismu saat itu palsu.
***
            Setelah ribuan hari kau lalui dan menjadi alumni terhitung hanya satu kali kau menemuinya dalam ritual ziarah, kau teramat asing ketika kau kayuh langkah menghitung kerikil di tempat terakhirnya, kau membeku dalam siang, terik matahari tak kuasa cairkan bekumu, pasang mata yang menyoroti membuat mu semakin kaku, hingga air matamu jatuh perlahan, entah rasa rindu yang menggerogoti atau kau larut dalam kenangan, jarak, waktu yang tak mampu di retas, kau jadikan alasan mengapa kau tak pernah mengunjunginya dalam ritual ziarah, ziarahmu dingin, Kamboja putih di tempat pemakaman saksi ziarahmu.
            Di luar kira-kira kau seperti terkupas di siang terik, hidupmu semakin luntang-lantung, beralih tempat dari satu kota ke kota lain, kau semakin jauh dari Al-Muallim gurunda tercinta. Ritual ziarah pun tak pernah kau lakukan, kau lebih suka menghirup bau tanah yang naik bersama hujan di tanah orang, dari pada menyapa Kamboja putih di pemakaman, kesuksesan yang kau elu-elukan tak pernah tercapai, bahkan oleh instingmu sendiri.
’’Apa nak, kerja di purwokerto, ibumu tak izinkan kau pergi’’
"Aku kan kerja di situ buat cari uang .." 
"Tidak..! Tetap tidak izinkan kau pergi" kau kepak barangmu, mengayuh langkah cepat meninggalkan pulau garam, rupanya kau tak takut durhaka seperti Malin Kundang, berkelebat di benakmu teman-teman pesantrenmu yang sukses. Habibi bersanding dengan putri Kiai, sekarang dia menjadi pengajar tetap di suatu lembaga pendidikan, sedangkan Sodiq teman yang sering kau ejek, kau usili semaumu, sukses menjadi seorang pedagang. Kau merasa kalah, merasa tertinggal, langkahmu seakan di ikuti keterpurukan, langit yang mengatapimu seakan runtuh, kau memang sering melangkah tapi selalu jatuh, kau memang pandai berlari tapi bumi yang kau tikam terlalu jauh, hingga kau tak sanggup mengejar, di Purwokerto kau coba bertahan, meski sehari harus kau lewati dengan susah payah. Subuh pekat kau harus bangun, memotong daging ayam kecil-kecil, hidup di rantau memang tak seperti hidup di rumah sendiri, tengah hari baru kau selesai, istirahatpun sebentar karena kau harus menjual dagangan mu hingga larut malam.
Jadi penjual sate, sungguh kau sendiri tak dapat menjelaskan mengapa jalan itu yang kau tempuh, kau merasa di perlakukan oleh dirimu sendiri, kau melewati sesuatu yang tak semestinya kau lewati, kau pengecut, pada hal di malam tertentu seringkali kau tak kuasa membendung air mata hingga jatuh, berkawah bintang merintih dalam larut, di bawah langit kau jatuhkan sujud, tapi malaikat pun tahu tangisan mu seringkali palsu.
            ***
Daun pagi bergoyang, menari kemana langkah angin bertiup, langit berkabut putih seperti bulu biri-biri, burung pipit berayun-ayun menertawakanmu, kau kayuh langkah meski sudut di hati mu semakin kusut, kau kembali ke tanah kelahiranmu, sejauh bangau terbang pasti akan kembali juga. Itulah engkau, setelah kau lelah dan merasa kalah serta ambisimu menjadi orang sukses tak pernah tercapai, kau kembali ke tanah yang kau sebut gersang, tanah dimana kau pernah habiskan separuh malammu di ladang, menggoreng jangkrik di bawah purnama, bermain dengan tanaman daun tembakau yang menyengat, kini tanah itu tak berarti bagimu, tanah yang sangat gersang, tanah yang menggersangkan hidupmu pula, kau tak harapkan apa-apa lagi, hanya menjadi tempat pijakmu saat kau merasa bosan di bumi orang. Tujuh hari kau lalui, kau merasa bosan di Purwokerto, kau kepak barangmu cepat-cepat, kau merasa pekerjaan itu tak level dengan kau, hampir tak ada yang berubah dari sosokmu, kecuali rambut yang kau pirang kau suka gonta-ganti warna, memang katamu itu trend, pada hal sama sekali itu tak pantas bagimu sebagai alumni, tapi itulah engkau, egomu amat kokoh sekokoh kaki langit.
Di rumah kau hempaskan nafa sesukamu, meski merasa sesak menjalari nalarmu, kau merasa tak betah di kampung, kau tak suka bertemu mentari yang tiba-tiba menyelinap tinggi di balik rinai dedaunan saat kau bangun, kau tak suka akan tarian ilalang yang seringkali menggoresi kakimu saat kau kayuh langkah pagi. "apa yang di harapkan dari desa yang mati seperti ini" tanyamu setiap saat.
Kau pun sudah muak akan tingkah orang di sekitarmu, yang menatapmu sinis, beberapa malam terakhir kuntuman Kamboja putih bertaburan di sekitar pemakaman, menyerupai barisan menyeruak hingga ke pintu rumahmu hampir saja kau tak percaya pada hal di sekitar pemakaman tak ada pohon Kamboja. Tengah malam kamboja putih mulai bertaburan menyeruak dengan wangi menyengat, di bawa angin malam bertabur hingga ke pintu rumahmu, kau pun semakin terpuruk saat orang di sekitarmu menuduh engkaulah penganut alisan sesat, kembali kau harus melayari tangis, di hujat, di caci banyak orang, sakit lebih sakit dari kau harus luntang lantung di tanah orang, yang kau pijak, kau sama sekali tak merasa penganut arliran sesat, hal yang tak pernah mungkin bagi mu menjadi penganut sesat, kau tak pernah mandi kembang tujuh rupa di sekitar pemakaman untuk mensucikan jiwamu, atau hanya melepaskan niat untuk menuntaskan sholat, sama sekali kau tak pernah melakukan hal yang mendekati ajaran sesat, meski terhitung jarang mendirikan sholat, kau tak pernah menuntaskan sholatmu dengan sepotong niat. Namun, Kamboja putih yang bertaburan di tengah malam ke arah rumahmu, menuntut agar kau tak mengelak, beberapa pasang mata pun pernah menangkap bayangmu menabur Kamboja putih, kau tak dapat mengelak saat orang di sekitar menganggapmu penganut aliran sesat, pada hal kau benar-benar tidak.
            Malam bertabur bintang, angin membelai reranting, kau membuka mata mengatur frekuensi nafas sebentar, kau takut Kamboja putih kembali bertabur di depan rumah, kau takut orang di sekitarmu terus menuduhmu penganut aliran sesat, kau idiot, kau hanya pikirkan anggapan mereka, kau tak pernah pikirkan anggapan Allah tentangmu.
Dalam remang Kamboja putih mulai muncul di sekitar pemakaman, satu persatu mulai bertabur menyeruak dari dalam tanah, bertabur di sekitar pemakaman seperti malam sebelumnya, lalu merambat menjalar hingga ke rumahmu tepat di depan pintu. Kau hampir saja tak percaya apa yang telah tergelar malam itu, di balik rinai kau saksikan sendiri dengan kelopak matamu, matamu mulai nanar, kau semakin tak percaya ketika seseorang mirip dirimu menabur beberapa kuntum Kamboja putih, hingga ke pintu rumah. "Siapa pria penabur Kamboja yang mirip dengan ku itu" kau bertanya sendiri, kau terperengah di pekat malam, angin semilir tak kuasa menghiburmu, mendadak kau seperti tercekam, pantas saja jika orang di sekitar menuduhmu penganut aliran sesat, mereka melihat sosokmu menabur kumtuman Kamboja putih di tengah malam, di benakmu timpukan sesak menghampiri, muka orang di sekitarmu yang ganas teriakkan mereka yang menyuruhmu pergi menjauh dari tanah yang kau anggap gersang.
            Kini setelah kerikil hidup tak dapat kau lalui, kau sungkurkan sujud, kau telat begitu banyak hari yang telah kau telanjangi, hari-harimu bertelanjang tanpa sholat, doa, tumpukan ikhtiar senjamu terapung dalam asap rokok, kau hanya membakar ambisimu tak cepat-cepat menjadi orang sukses, kau memang selalu melangkah tapi selalu jatuh, detik ini kau pun tak tahu kemana kau harus mengayuh langkah, merasa amat terpuruh di caci banyak orang, tak mungkin jika kau masih bertahan di tanah kelahiranmu, tanah yang gersang. Kau kayuh langkah pergi dalam merah senja, perlahan kau tak kuasa menahan air mata yang jatuh menitik, kau tak kuat lagi mendengar caci maki orang di sekitarmu, melihat tatapan mereka yang sinis, kau pergi di antara tarian ilalang.
Kau kembali luntang-lantung di tanah orang, dimana pun bumi yang kau pijak seperti tak ada yang mengharapkanmu, percuma kau menangis karena tangismu basi. Kamboja tengah malam kian membuat hidupmu makin terpuruk, kau terusir dari tanah kelahiranmu sendiri, tak ada yang menginginkanmu, kau merasa terabaikan, kau terkucilkan. Kau harus belajar dari batu karang, tegak kokoh meski di permainkan deburan ombak, bercermin pada semilir angin, menyapa reranting hingga melarutkannya dalam tarian, perihal Kamboja putih yang bertabur tengah malam menyiksakan tanda tanya di sudut hatimu, sampai sekarang kau tak menemukan jawabannya, kau tak ambil pusing, lalu apa yang telah kau dapatkan setelah ribuan hari kau lalui dan menjadi alumni?
Kesuksesan yang kau impikan tak pernah tercapai, kau tak punya apa-apa, kota yang kau pijaki, tempat mencari uang tak memberikanmu sesuatu hanya mencercamu diam-diam, menertawakanmu. Sedangkan ilmu yang kau dapatkan di pesantren, mungkin sudah membusuk, karena tak pernah terpakai dan telah lama tersimpan, lalu apa yang kau dapatkan setelah luntang-lantung di tanah orang? Wanita ? Kau tak pernah serius, kau mondar-mandir dari satu cinta ke cinta yang lain, kau hanya iseng, pada hal bila kau mengikatnya dengan sebuah ikatan perkawinan, sungguh itu jalan terbaik dari pada kau tak tentu arah. Tapi egomu memang mendidih, kau merasa tak puas dengan masa mudamu, kau lebih suka terdampar sendiri di rantau, baru setelah kau merasa kalah, kau mengingat salah khilaf yang kau lakukan, kau tumpahkan tangis sejadinya, kau memang pengecut.
Tengah malam kau terbangun di suatu malam, Kamboja putih kembali bertabur di sekitar tempatmu, putih wangi menyengat, tanyamu menggelantung, pada hal kau sudah tak di kampung, mengapa kamboja putih selalu mengikuti kemana kau kayuh langkah ? mendadak kau bersimpuh, kau takut kejadian di kampung tergelar kembali, kau di tuduh penganut aliran sesat. Kamboja putih seperti mengintaimu, apa yang ia cari dari sosokmu ! malam itu kau tak henti bertanya pada langit.
            Dalam rayuan senja, ilalang hayut dalam tarian, mengapa sekawan bangau kembali pulang, tiba saatnya kau benar-benar terpuruk kalah, terkapar dalam titik terendah, kau kembali mengayuh langkah menemui tarian ilalang yang sering kali menggores langkahmu, kau pulang untuk yang kesekian kali setelah kau benar-benar kalah, kau redam ambisimu untuk menjadi orang sukses, duniawimu sampai sekarang belum kau jamah, kemana kau selama ini ?
Kau berlari mengejar merah senja, tapi luka yang kau dapatkan, kau bertatih berharap mencapai mentari, namun terik yang menyengat langkah mu. kasihan kau, kau alumni yang paling malang, tak mampu memiliki satu pilihan dari kesekian pilihan, berapa rintik air mata yang kau jatuhkan, namun hanya terbuang percuma, berapa banyak hal yang telah kau lewati, hingga kau tak pernah menemui Al-Muallimmu dalam ritual ziarah, pada hal jarak dan waktu telah bisa kau retas, sampai kabar paling ngilu kau dengar, ketika salah satu putra Al-Muallimmu di panggil-Nya atas sebuah janji kau diam tak berkutik, kau tolol, kau hanya sibuk luntang-lantung di tanah orang, mengejar sesuatu yang sulit kau kejar, mengayuh langkah pada hal kau sudah tak sanggup bertatih, kemana kau selama ini ?
Kini setelah ribuan tahun hari kau lalui, kau datang untuk kedua kali menemuinya dalam ritual ziarah, kau kayuh langkah menghitung kerikil, reranting daun lusuh berjatuhan di sekitar pemakaman, seakan menyambutmu setelah ribuan hari tak datang, kau ciut saat beberapa pasang mata menikammu, perlahan kau tak kuasa membendung air mata ketika satu persatu jatuh, tumpukan kenangan tentang Al-Muallim tiba-tiba berkelebat di pikiranmu, di luar kira-kira kau seperti menggala di tengah hari, kau membeku di siang terik. Ziarahmu dingin, karena kau dapatkan setelah ribuan hari kau lewati, saat kau benar-benar merasa kalah, dan atas nama kekalahan kau datang ketika seratus hari berlalu, setelah putra Al-Muallimmu di panggil-Nya, kau telat, kau lewati sesuatu yang tak semestinya kau lewati, tangis yang kau tumpahkan takkan mampu merubah dan mengulang hari, sesalmu hanya jadi olokan reranting, kau kalah dalam sandiwara tuhan, kau tak mampu berbuat apa-apa saat mengunjunginya dalam ritual ziarah, kau hanya bisa meleh sesaat tanpa kau sadari, angin mendadak risau di sekitar pemakaman meruntuhkan dedauanan yang mulai lusuh, menggerakkan sesuatu yang bisa di gerakkan, mendung tipis perlahan mengatapi simpuhmu, beberapa kuntum Kamboja putih bertabur di sekitar pemakaman.
Di luar instingmu, putih dengan wangi menyengat menyeruak seakan merangkak ke arahmu, Kamboja yang selama ini mengikutimu kemana kau kayuh langkah pergi, ingatanmu kembali mengualang peristiwa Kamboja yang bertaburan tengah malam di pemakaman kampung hingga kau di tuduh penganut alisan sesat, tapi mengapa kamboja itu kembali bertabur ? tak lama kau seperti melihat seseorang yang mirip denganmu muncul di antara taburan kamboja, memunguti kamboja itu perkuntum, lalu menghilang di antara pikiranmu yang masih risau. Apa yang sebenarnya kamboja putih cari dari sosok mu ? Apakah ia menuntut agar kau menemui Al muallimmu dalam ritual ziarah ?
Dalam terik kau hanya bisa meleleh, ziarah mu dingin, karena kau datang setelah kau benar-benar kalah.

Every time you feel like you, can not go on, you feel so lost and that you're so alone
All you see is night and darkness all around, you feel so helples, you can't see which way to go.
Don't despair and never loose hope, couse Alloh is always by your side.
Insya Allah you'll find your way. Amein