Jumat, 03 Januari 2014

Bidadari Patah Sayap

"Lari. Aisyah ! 
Lari jangan biarkan hewan buas itu menguasai tubuhmu nak! lari !" 
Aisyah teringat kata-kata Emak.


Matahari bersinar terik merontokkan daun-daun jati yang sudah kering saat musim kemarau melanda. Petak-petak sawah mengering, tak ada yang dapat tumbuh.Hanya rumput gajah yang masih rela tumbuh di pecahan-pecahan sawah yang hampir padat sudah dua bulan hujan tak turun meski setetes. Tanah tandus bau gersang dan debu beterbangan. Angin berhembus membawa hawa panas, menggerakkan sayap-sayap capung merah yang bertengger ditumpukan jerami kering yang masih banyak gabah padi yang menempel, sebab musim hujan tak sempurna, para petani gagal, musim kemarau datang lebih awal hujan. Padi menunduk berisi beras. Aisyah menghela nafasnya. Matanya menatap tumpukan-tumpukan jerami, kakinya terus melangkah dan melangkah seakan tak mau berhenti

 "Lari Aisyah…! Lari..! jangan kamu bermain diantara tumpukan jerami itu..! janganlah kau bermain diantara semak belukar itu Aisyah" kata –kata itu tergiang ditelinga Aisyah, kata-kata yang selalu keluar dari Emak sebelum Aisyah tertidur.

Emak selalu berkisah sebelum Aisyah kecil tertidur pulas, entah mengapa Emak selalu bercerita tentang seorang wanita yang selalu  berlari ketika berada tumpukan jerami, diantara semak belukar, dibawah pohon jati yang sudah tak berdaun, naluri Aisyah mencoba untuk berlari.

"Lari Aisyah …! Lari..! hati kecilnya berkata lagi, ia harus lari selagi ia mampu berlari, kakinya harus kuat melangkah ia tidak boleh seperti daun-daun jati yang lemah, ia harus kuat dan harus selalu berlari dari hewan buas seperti yang ada dalam cerita Emak sebelum tidur.

   Langit sudah mulai menggelap tanda malam akan menjelang, hari sudah mulai mendingin, mataharipun sudah menua tak tampak tenggelam di ufuk barat, ditandai dengan bangau-bangau yang terbang menuju pepohonan balam, dimana sarang-sarang mereka berlindung disana.

***

Aisyah menutup kembali Mushaf yang barusan ia baca, wajah putihnya menyembunkan keringat yang satu-persatu turun dari aliran kening yang kini basah. Aisyah menatap wajah Emak yang sudah keriput tak muda lagi, Emak sudah tidak dapat bekerja lagi tenaganya sudah layu, ia hanya duduk di kursi memandangi jendela, menghitung daun gugur jati, Aisyah terus menatap wajah Emak yang lembab karena air mata

 "Emak baru saja menangis" ucap Aisyah termangu, tak ada jawaban dari bibir Emak. Ia diam tak bergeming, air matanya jatuh

"Aisyah ..! Emak boleh minta sesuatu tidak"  ucap Emak mengiba menarik lengan Aisyah. Aisyah mengangguk pelan.

"Aisyah sudah besar ! sudah tujuh belas tahun, Aisyah tidah usah sekolah yach..!" Emak memohon, menarik lengan Aisyah. Aisyah kaget.

" Memangnya mengapa Mak? " Timbal Aisyah.

‘’Emak khawatir Aisyah kamu kenapa-napa, Emak takut kamu dimangsa hewan buas disana, ditumpukan jerani

Emak menangis. "Emak tenang yach..! Aisyah akan baik-baik saja, lagi pula ditumpukan jerami itu nggak ada hewan buas paling yang ada Cuma kucing

"Aisyah menenangkan hati Emak. "

‘’Emak mohon Aisyah ..!" Iba Emak mengeluarkan air mata lagi, entah mengapa setiap musim kemarau Emak seperti orang stress, ia selalu ketakutan ketika melihat tumpukan-tumpukan jerami bekas panen petani, entah mengapa, hati Aisyah  gelisah melihat tingkah laku Emak setiap musim kemarau.

"Ada apa dengan Emak?" pikir Aisyah dalam hatinya, pikiran Aisyah guncang setiap melihat melihat wajah Emak yang ketakutan sama seperti musim-musim kamarau dulu.

***

"Aisyah mau kemana? " Tanya Emak tiba-tiba. Aisyah membalikkan badannya menatap wajah kaku Emak yang tengah duduk dikursi dipan.

"Aisyah pamit sekolah dulu yach Mak.!" Ucap Aisyah menimpahi. 

 "Jangan Aisyah, jangan pergi Emak punya perasaan tak enak" Ucap Emak memelas lagi.

"Emak tak rela kamu pergi Aisyah" Emak memohon yang kedua kalinya. Aisyah diam. Ia mengurungkan niatnya pergi, dibelainya rambut uban Emak seraya duduk disampingnya. Ada hati yang pasrah saat yang berjasa memohon. kerudung yang ia kenakan seakan tertundak, pasrah. Aisyah diam disamping Emak walau kali ini nalurinya ingin pergi, namun ia tak sampai hati meninggalkan Emak.

***

            Malam beranjak sunyi diawali dengan orang-orang yang mencari jangkrik dipetakan sawah yang kering, burung-burung malam beterbangan sayup-sayup tak terdengar angin berhembus berarakan lepas merontokkan dedaunan-dedaunan kering jati, sementara gemintang berserakan diatas langit memintah jubah malam bersama rembulan, malam tetap sunyi, sesekali yang terdengar hanya bunyi jangkrik, mengusik.

"Aisyah ..! lari…!Aisyah..! lari ..!cepat , jangan sampai hewan buas itu menguasai tubuhmu nak…! Lari..!" malam ini Emak mengigau lagi, hampir setiap malam Aisyah terperanjat bangun mendengar teriakan Emak,

"Aku khawatir dengan keadaan Emak " Ucap Aisyah. Malam tetap sepi sebelum Emak mengigau lagi.

 " Emak …bangun … Aisyah baik-baik saja disini " Aisyah memeluk badan Emak yang semakin kurus, Emak menangis lagi, setiap malam selalu begini. Kadang Emak menjerit-jerit histeris tengah malam, apa yang terjadi pada Emak? Aisyah menunduk, air matanya menetes pelan mengaliri pipi pucatnya

        Pagi muncul bosan, matahari merambat naik kepusar langit, bosan sudah dua minggu keadaan Emak tetap sama ia sering menangis sendiri, seperti menyimpan luka lama.

"Aisyah kamu jangan pergi Aisyah" Emak mengigau ia berbicara sendiri didepan teras, suara itu terdengar jelas dari kejauhan oleh Aisyah.

Pagi itu nurani Aisyah memaksa untuk pergi, hati kecilnya berkata lagi "Berontak". Pagi itu Aisyah pergi tanpa sepengetahuan Emak. Entah mengapa ia ingin sekali melangkah, seperti ada sesuatu yang memerintahnya. Angin berhembus lepas membawa kalbu Aisyah pergi.menggerakkan ujung kerudung putihnya yang memanjang.Aisyah pergi, Aisyah melangkah meninggalkan Emak yang terus berkata

"Aisyah jangan pergi !’’

***

            Kali ini matahari bersinar terik Aisyah mengusap dahinya beberapa kali.sesekali wajahnya tersenyum getir.

"Aisyah tunggu ..! aku antar" seorang pemuda menghentikan langkah Aisyah. Aisyah tersenyum, dahinya mengerut. "kamu tidak keberatankan" Ucap pemuda itu pelan.

"Terima kasih Musthofa, tapi kita bukan mukhrim ngak baik jalan berdua" Ucap Aisyah

 ''Tapi kita kan temen, aku hanya mau mengantar kamu saja kok''. Musthofa tersenyum, ia mengedipkan matanya, Aisyah diam saja tanda setuju, kemudian melangkah menuju petak-petak sawah, perasaannya gusar, memandangi tumpukan jerami yang dikelilingi belukar itu, perasaannya tiba-tiba tak enak.

Ia mendengar jeritan Emak " Lari Aisyah …! Lari " hati kecilnya berkecambuk, perasaannya kii makin hambar, ia menoleh kearah Musthofa. Aisyah tercengang kaget, kakinya terperanjat akar jerami, Musthofa tak sendiri ia bersama teman-temannya, mereka saling adu pandang, sesekali mereka tertawa, kali ini hati kecil Aisyah benar-benar merasa tak aman ia ingin berlari dan barlari tapi ia jatuh. Musthofa menarik kaki Aisyah, begitu juga kedua tangannya ia tak dapat bergerak

" Lari. Aisyah…! Lari jangan biarkan hewan buas

itu menguasai tubuhmu nak..! lari ..!" Aisyah teringat kata-kata Emak. 

Hatinya menjerit, bibirnya juga menangis meronta, berusaha melepaskan tubuhnya dari Musthofa dan teman-temannya. Ia berontak Musthofa berusaha menguasai tubuhnya. Ia tidak berdaya, begitu pula kerudung putihnya yang tergolek merana, badannya tak dapat digerakkan. Ia tidak mungkin pasrah. Hatinya terus menjerit, mereka tertawa satu sama lain, mata mereka bringas seperti macan mendapatkan mangsa. Mulut mereka komat-kamit. Aisyah menjerit meludahi wajah mereka, namun mereka semakin beringas mencabik-cabik lengan baju Aisyah.

Aisyah terus histeris, air matanya sudah habis, sudah ia tumpahkan semua. Mereka tersenyum lebar, tertawa puas, Aisyah terus menangis air matanya berjatuhan diatas gerimis bagai danau air mata, diatas jerami-jerami kering, diantara semak belukar hatinya benar-benar pecah bersama gerimis, mereka pergi meninggalkan Aisyah ditumpukan jerami. Aisyah mencoba bangkit, ia ingat kata-kata emak lagi

"Lari Aisyah…! Lari" namun Aisyah tak kuasa untuk lari, tubuhnya lunglai pandangan gelap ia terjatuh, tatapannya kosong. Sunyi, tiba-tiba pandangannya, gelap,gelap sekali.

Kemarau tiba-tiba hujan, diawal gerimis,Merah marah, membelah langit yang menetesi hujan seakan menangis darah. Aroma tanah menyengat khas, hujan berjatuhan, selain itu ada yang jatuh, Emak menangis, air matanya berjatuhan hatinya berontak, andai saja kau tidak pergi Aisyah, andai saja kau lari, nasib mu takkan seperti Emak Aisyah, hewan buas itu memaksa Emak Aisyah, Emak tidak dapat melawan mereka, Emak diperkosa, Aisyah, dan dari benih itu kamu lahir Aisyah ..!" Air mata Emak benar-benar pecah.

"Maafkan Emak Aisyah, andai saja Emak melarang mu pergi pasti kau masih temani Emak disini, pasti kau takkan pergi untuk selama-lamanya  Aisyah " Isak tangis Emak mengiringi kematian Aisyah. Hatinya pedih, pedih sekali -

* Mkd Aan's
2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar