"Lari. Aisyah !
Lari jangan biarkan hewan buas itu menguasai tubuhmu nak! lari !"
Aisyah teringat kata-kata Emak.
Lari jangan biarkan hewan buas itu menguasai tubuhmu nak! lari !"
Aisyah teringat kata-kata Emak.
Matahari bersinar terik
merontokkan daun-daun jati yang sudah kering saat musim kemarau melanda.
Petak-petak sawah mengering, tak ada yang dapat tumbuh.Hanya rumput gajah yang
masih rela tumbuh di pecahan-pecahan sawah yang hampir padat sudah dua bulan
hujan tak turun meski setetes. Tanah tandus bau gersang dan debu beterbangan.
Angin berhembus membawa hawa panas, menggerakkan sayap-sayap capung merah yang
bertengger ditumpukan jerami kering yang masih banyak gabah padi yang menempel,
sebab musim hujan tak sempurna, para petani gagal, musim kemarau datang lebih
awal hujan. Padi menunduk berisi beras. Aisyah menghela nafasnya. Matanya
menatap tumpukan-tumpukan jerami, kakinya terus melangkah dan melangkah seakan
tak mau berhenti
"Lari Aisyah…! Lari..! jangan kamu
bermain diantara tumpukan jerami itu..! janganlah kau bermain diantara semak
belukar itu Aisyah" kata –kata itu tergiang ditelinga Aisyah, kata-kata
yang selalu keluar dari Emak sebelum Aisyah tertidur.
Emak selalu berkisah
sebelum Aisyah kecil tertidur pulas, entah mengapa Emak selalu bercerita
tentang seorang wanita yang selalu
berlari ketika berada tumpukan jerami, diantara semak belukar, dibawah
pohon jati yang sudah tak berdaun, naluri Aisyah mencoba untuk berlari.
"Lari Aisyah …! Lari..! hati kecilnya
berkata lagi, ia harus lari selagi ia mampu berlari, kakinya harus kuat
melangkah ia tidak boleh seperti daun-daun jati yang lemah, ia harus kuat dan
harus selalu berlari dari hewan buas seperti yang ada dalam cerita Emak sebelum
tidur.
Langit
sudah mulai menggelap tanda malam akan menjelang, hari sudah mulai mendingin,
mataharipun sudah menua tak tampak tenggelam di ufuk barat, ditandai dengan
bangau-bangau yang terbang menuju pepohonan balam, dimana sarang-sarang mereka
berlindung disana.
***
Aisyah menutup kembali Mushaf yang barusan ia
baca, wajah putihnya menyembunkan keringat yang satu-persatu turun dari aliran
kening yang kini basah. Aisyah menatap wajah Emak yang sudah keriput tak muda
lagi, Emak sudah tidak dapat bekerja lagi tenaganya sudah layu, ia hanya duduk
di kursi memandangi jendela, menghitung daun gugur jati, Aisyah terus menatap
wajah Emak yang lembab karena air mata
"Emak
baru saja menangis" ucap Aisyah termangu, tak ada jawaban dari bibir Emak.
Ia diam tak bergeming, air matanya jatuh
"Aisyah
..! Emak boleh minta sesuatu tidak"
ucap Emak mengiba menarik lengan Aisyah. Aisyah mengangguk pelan.
"Aisyah
sudah besar ! sudah tujuh belas tahun, Aisyah tidah usah sekolah yach..!"
Emak memohon, menarik lengan Aisyah. Aisyah kaget.
"
Memangnya mengapa Mak? " Timbal Aisyah.
‘’Emak
khawatir Aisyah kamu kenapa-napa, Emak takut kamu dimangsa hewan buas disana,
ditumpukan jerani
Emak
menangis. "Emak tenang yach..! Aisyah akan baik-baik saja, lagi pula
ditumpukan jerami itu nggak ada hewan buas paling yang ada Cuma kucing
"Aisyah
menenangkan hati Emak. "
‘’Emak
mohon Aisyah ..!" Iba Emak mengeluarkan air mata lagi, entah mengapa
setiap musim kemarau Emak seperti orang stress, ia selalu ketakutan ketika
melihat tumpukan-tumpukan jerami bekas panen petani, entah mengapa, hati
Aisyah gelisah melihat tingkah laku Emak
setiap musim kemarau.
"Ada
apa dengan Emak?" pikir Aisyah dalam hatinya, pikiran Aisyah guncang
setiap melihat melihat wajah Emak yang ketakutan sama seperti musim-musim
kamarau dulu.
***
"Aisyah
mau kemana? " Tanya Emak tiba-tiba. Aisyah membalikkan badannya menatap
wajah kaku Emak yang tengah duduk dikursi dipan.
"Aisyah
pamit sekolah dulu yach Mak.!" Ucap Aisyah menimpahi.
"Jangan Aisyah, jangan pergi Emak punya
perasaan tak enak" Ucap Emak memelas lagi.
"Emak
tak rela kamu pergi Aisyah" Emak memohon yang kedua kalinya. Aisyah diam.
Ia mengurungkan niatnya pergi, dibelainya rambut uban Emak seraya duduk
disampingnya. Ada hati yang pasrah saat yang berjasa memohon. kerudung yang ia
kenakan seakan tertundak, pasrah. Aisyah diam disamping Emak walau kali ini
nalurinya ingin pergi, namun ia tak sampai hati meninggalkan Emak.
***
Malam
beranjak sunyi diawali dengan orang-orang yang mencari jangkrik dipetakan sawah
yang kering, burung-burung malam beterbangan sayup-sayup tak terdengar angin
berhembus berarakan lepas merontokkan dedaunan-dedaunan kering jati, sementara
gemintang berserakan diatas langit memintah jubah malam bersama rembulan, malam
tetap sunyi, sesekali yang terdengar hanya bunyi jangkrik, mengusik.
"Aisyah
..! lari…!Aisyah..! lari ..!cepat , jangan sampai hewan buas itu menguasai
tubuhmu nak…! Lari..!" malam ini Emak mengigau lagi, hampir setiap malam
Aisyah terperanjat bangun mendengar teriakan Emak,
"Aku
khawatir dengan keadaan Emak " Ucap Aisyah. Malam tetap sepi sebelum Emak
mengigau lagi.
" Emak …bangun … Aisyah baik-baik saja disini
" Aisyah memeluk badan Emak yang semakin kurus, Emak menangis lagi, setiap
malam selalu begini. Kadang Emak menjerit-jerit histeris tengah malam, apa yang
terjadi pada Emak? Aisyah menunduk, air matanya menetes pelan mengaliri pipi
pucatnya
Pagi muncul bosan, matahari merambat naik kepusar langit, bosan sudah
dua minggu keadaan Emak tetap sama ia sering menangis sendiri, seperti
menyimpan luka lama.
"Aisyah
kamu jangan pergi Aisyah" Emak mengigau ia berbicara sendiri didepan
teras, suara itu terdengar jelas dari kejauhan oleh Aisyah.
Pagi itu
nurani Aisyah memaksa untuk pergi, hati kecilnya berkata lagi "Berontak".
Pagi itu Aisyah pergi tanpa sepengetahuan Emak. Entah mengapa ia ingin sekali
melangkah, seperti ada sesuatu yang memerintahnya. Angin berhembus lepas
membawa kalbu Aisyah pergi.menggerakkan ujung kerudung putihnya yang
memanjang.Aisyah pergi, Aisyah melangkah meninggalkan Emak yang terus berkata
"Aisyah
jangan pergi !’’
***
Kali
ini matahari bersinar terik Aisyah mengusap dahinya beberapa kali.sesekali
wajahnya tersenyum getir.
"Aisyah
tunggu ..! aku antar" seorang pemuda menghentikan langkah Aisyah. Aisyah
tersenyum, dahinya mengerut. "kamu tidak keberatankan" Ucap pemuda
itu pelan.
"Terima
kasih Musthofa, tapi kita bukan mukhrim ngak baik jalan berdua" Ucap
Aisyah
''Tapi kita kan temen, aku hanya mau mengantar
kamu saja kok''. Musthofa tersenyum, ia mengedipkan matanya, Aisyah diam saja
tanda setuju, kemudian melangkah menuju petak-petak sawah, perasaannya gusar,
memandangi tumpukan jerami yang dikelilingi belukar itu, perasaannya tiba-tiba
tak enak.
Ia
mendengar jeritan Emak " Lari Aisyah …! Lari " hati kecilnya
berkecambuk, perasaannya kii makin hambar, ia menoleh kearah Musthofa. Aisyah
tercengang kaget, kakinya terperanjat akar jerami, Musthofa tak sendiri ia
bersama teman-temannya, mereka saling adu pandang, sesekali mereka tertawa,
kali ini hati kecil Aisyah benar-benar merasa tak aman ia ingin berlari dan
barlari tapi ia jatuh. Musthofa menarik kaki Aisyah, begitu juga kedua tangannya
ia tak dapat bergerak
"
Lari. Aisyah…! Lari jangan biarkan hewan buas
itu menguasai tubuhmu nak..! lari
..!" Aisyah teringat
kata-kata Emak.
Hatinya menjerit, bibirnya juga menangis
meronta, berusaha melepaskan tubuhnya dari Musthofa dan teman-temannya. Ia berontak Musthofa berusaha menguasai
tubuhnya. Ia tidak berdaya, begitu pula kerudung putihnya yang tergolek merana,
badannya tak dapat digerakkan. Ia tidak mungkin pasrah. Hatinya terus menjerit, mereka
tertawa satu sama lain, mata mereka bringas seperti macan mendapatkan mangsa.
Mulut mereka komat-kamit. Aisyah menjerit meludahi wajah mereka, namun mereka
semakin beringas mencabik-cabik lengan baju Aisyah.
Aisyah terus histeris, air matanya sudah
habis, sudah ia tumpahkan semua. Mereka tersenyum lebar, tertawa puas, Aisyah
terus menangis air matanya berjatuhan diatas gerimis bagai danau air mata,
diatas jerami-jerami kering, diantara semak belukar hatinya benar-benar pecah
bersama gerimis, mereka pergi meninggalkan Aisyah ditumpukan jerami. Aisyah mencoba
bangkit, ia ingat kata-kata emak lagi
"Lari Aisyah…! Lari" namun Aisyah
tak kuasa untuk lari, tubuhnya lunglai pandangan gelap ia terjatuh, tatapannya
kosong. Sunyi, tiba-tiba pandangannya, gelap,gelap sekali.
Kemarau tiba-tiba hujan, diawal gerimis,Merah
marah, membelah langit yang menetesi hujan seakan menangis darah. Aroma tanah
menyengat khas, hujan berjatuhan, selain itu ada yang jatuh, Emak menangis, air
matanya berjatuhan hatinya berontak, andai saja kau tidak pergi Aisyah, andai
saja kau lari, nasib mu takkan seperti Emak Aisyah, hewan buas itu memaksa Emak
Aisyah, Emak tidak dapat melawan mereka, Emak diperkosa, Aisyah, dan dari benih
itu kamu lahir Aisyah ..!" Air mata Emak benar-benar pecah.
"Maafkan Emak Aisyah, andai saja Emak
melarang mu pergi pasti kau masih temani Emak disini, pasti kau takkan pergi
untuk selama-lamanya Aisyah " Isak
tangis Emak mengiringi kematian Aisyah. Hatinya pedih, pedih sekali -
* Mkd Aan's
2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar