Kamis, 19 Desember 2013

Emak Ingin Naek Becak

Subuh pekat datang menghambat pagi cerah. Gerak ranting-ranting pohon seakan menghapus jejak langkah awan sisik ikan buyar menghilang diterpa tiupan angin pagi. ranting-ranting pohon berejoget mengikuti parodi angin pagi yang berselimut pekat. Burung kecil pagi yang biasa numpang lewat baru saja berlalu membawa tangkai jerami di paruh mungilnya. Halimun tipis masih mengembun di udara. Gelap masih tetap beraroma tanah-tanah basah dan dingin yang menyebar disekitar bentangan jalan yang tak lagi perjaka. Bolong sana-sini membentang dari saban hari sampe dilihatnya ngak lagi oke. Sudut-sudut jalan masih terasa basah karena sisa embun tadi malam. Alisya mengamini doanya dengan mengusap-usap pipi lesung putihnya yang mulus. Beberapa kali perutnya kirim pesan Facebook, Minta kiriman nasi dari mulutnya walau sesuap. tanda keroncongan karena dari kemarin belum diisi nasi walau sebutir.
Hingga ia harus rela menanggung perih luar biasa saat ia terbangun, Sejak subuh tadi perutnya seperti ada yang mengetok-ngetok dari dalam.
Butiran air wudhu masih menggumpal dipipinya yang makin berkerut karena belum  dikirimkan  asupan nutrisi dari para jaringan yang ada diusus halusnya, mungkin disana para cacing-cacing perutnya lagi demo minta keadilan.
Tapi kali ini ia agak ragu untuk mendapatkan sesuap nasi. Apalagi dua bungkus nasi untuknya juga emaknya yang tengah terbaring lemah. Bukan karena sakit seperti yang biasa dialami para orang miskin lainnya, tapi karena rasa lapar. Sama seperti yang dialami Alisya kali ini. Sampai–sampai wajahnya kini benar-benar jadi seperti pengemis jalanan. Ia melangkahkan kakinya, gusar. Sambil mengotak atik jilbab khasnya, merah putih merdeka selalu, buat para pengemis dan orang miskin yang masih tetap eksis dan tetap bertahan dizaman globalisasi modern.
Ia mengingat jelas tadi ketika meninggalkan rumah, Persis diambang pintu ia menoleh ke belakang setelah mempebaiki jilbab putihhya, memastikan emaknya benar-benar tidur dan mimpi indah dinegri para disneyp. Agar ia tak terlalu bimbang untuk pergi keluar rumah dan meninggalkan emak sendiri dalam gubuk tua. karna ia tak mau emaknya melihat ia pergi keluar rumah lagi. 
***
Alisya menatap sekelilingnya dengan seksama, sebuah rumah mewah, besar, seperti istana megah.  membuat pandangannya terfokus. Niat menggumpal dalam hati, memejamkan mata sambil ia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menangkap bayangan rumah istana itu bebar-benar luar biasa dihadapannya. 
         ''Tunggu!!''   bibirnya bergetar hebat, kemudian ia berlari cepat sebelum bungkusan plastik itu jatuh ketempat sampah. Ia menggerakkan kakinya secepat kuda betina, agar dapat berlari dengan tempo lebih sedikit.
 Seorang pemuda melirik wajah cantik Alisya. Memperhatikan Alisya yang semakin dekat menghampirinya .  ''ada apa? ada yang saya bisa Bantu ?'' Ucap pemuda itu menyapa ramah
            ''Eehm..'' Alisya hanya berdecak. Tak tahu yang ia harus katakan, bibirnya terkatup rapat.  ''kenapa bengong?''tanyanya heran. Alisya benar-benar tak bisa bicara seperti biasanya.
''kenapa makanan itu harus dibuang??'' Tanya Alisya menunjuk kearah  bungkusan plastik yang masih di pegang pemuda berpakaian rapi itu.
''Soalnya nenek saya tak suka, ia ngak mau makan kalau tidak disuapi papa, padahal papa lagi tugas dinas diluar negri, jadi saya buang saja'' jawab pemuda itu . Alisya mengantupkan bibirnya lagi.
''Buat aku saja kalo ngak mau ?'' Alisya tak segan-segan berkata. Pemuda itu diam.
''ngakk usah, nanti biar saja aku belikan lagi'' jawabnya renyah…
Pemuda itu menatap …    ''mengapa menatap seperti itu ??'' Tanya Alisya. Sembari langsung marampas bungkusan plastik tersebut sebelum terjatuh ketempat sampah.
''Ka ..kamu ??''  ''kenapa?'' ucap Alisya    ''Maaf aku harus segera pergi, kasihan emak dirumah'' imbuhnya lagi. ''Tunggu!!.. Ka…ka..mu..?'' pemuda itu gemeretak berkata lagi.
''Ya aku seorang gembel, jangan menatap seperti itu !!'' Ucap Alisya meneruskan langkahnya yang sempat tertunda. Alisya lari, cepat meneruskan langkahnya. Hingá bayangannya menghilang. ''mengapa ia bicara begitu ?'' pemuda itu berdesah melihat Alisya melesat telah jauh melesat diujung jalan.
***
       Siang itu pikiran Alisya macet, pikirannya hambar. Nafasnya terengah-engah setelah ia lari. Sampai diaambang pintu dapur mendapati Emaknya diam didepan teungku, mungkin emak sudah tak kuat lagi menahan rasa laparnya yang semakin melilit. Alisya hanya diam memperhatikan dari jauh kemudian mendekat. Ia membelakangi tubuh emaknya yang makin kurus saja kulitnya makin tipis karena daging tuanya selalu digerogoti rasa lapar setiap detik. Sakunya tergerak, mengambil sepeser uang lima ratusan cap kera yang sedang nyantai dibawah pohon, ia menatap gambar itu lamat-lamat dengan hati tercabik, ia teringat akan Al marhum ayahnya yang sudah lama meninggalkan Alisya, saat Alisya masih kecil. Tak tahan air matanya mengalir berat. Ingat akan masa ketika makan singkong rebus sama–sama depan teungku dapur, begitu bahagia batinnya sedikit terhibur.
''Alisya, kapan kamu mewujudkan cita-cita terbesar dalam hidup emak nak..?'' Emak berucap seumpama anak kecil.
''Alisya belum cukup uang mak, mak sabar dulu ya, harga naik becak sekarang mahal mak hampir mencapai 20.000 ribu, karena becak jarang sekali beroprasi di Jakarta dan mungkin itu semua karena harga BBM yang naik lagi. Sekarang becak tidak lagi menggunakan kekuatan otot kaki tapi sedah beralih tenaga bensin, atau mungkin kedepan ongkos naik becak setara dengan ongkos bayar sebuah Taksi. Tapi emak tak usah khawatir, Alisya pasti mewujudkan impian emak itu dalam waktu dekat, Alisya janji mak.., Alisya janji.. tapi mak harus jaga kesehatan jangan sampai sakit lagi yach..!!''  Alisya kini mengingat saat emak tak mau makan karena sakit, itu adalah hal yang terberat yang paling menyakitkan bagi Alisya hingga mengiris ulu hati paling dalam.
''kalau Alisya ngak punya uang, emak rela kok Alisya, kalau tak sampai mewujudkan cita-cita emak itu, emak sadar kalau keinginan emak ini terlalu berlebihan, mungkin sampai emak menyusul Abahmu'' ucap emak terbata bata. ''emak jangan bicara gitu mak, ngak baik mak !'' Emak terdiam, matanya membeku. Emak makan dulu ya, Alisya baru saja dapat bungkusan dari rumah orang kaya disimpang jalan itu mak'' ucap Alisya penuh semangat, sambil menyuguhkan potongan kue yang baru ia dapatkan.
Sepintas pikirannya teringat lagi kata-kata emak barusan. Emak ingin naik becak keliling kota Jakarta, persis ketika emak jalan–jalan bersama Al marhum Abah. Saat bulan madu dulu. Keliling kota pagi-pagi, maklum Emak sangat menyayangi Almarhum abah. Ia ingin mengingat masa itu dengan naik becak keliling kota, tentu sebelum dipanggil yang kuasa karma Emak saat ini sering sakit sakitan.
            Keesokan harinya…
            ''Emak Orang kaya itu baik ya mak?'' tadi ia baru ngasih makanan lagi buat kita'' ucap Alisya lagi. ''Emak tau mereka baik nak…!! tapi kamu jangan pernah bergantung sama belas kasihan mereka'' Alisya mengangguk mengerti.
 ''Alisya ! rasanya  sakit emak sudah makin parah Alisya, mungkin tak kan lama lagi Emak akan menyusul ayahmu, Alisya ! kalo emak udah dipanggil yang kuasa bolehkan mayat emak diantar kekuburan pake' becak Alisya ??'' Ruang suara Emak kemudian sunyi hanya hembusan nafas paras tuanya yang masih menghembus.'' Mak ! eling mak, ngak boleh ngomong gitu, mak mau arwah mak jadi gentayangan diatas becak, jadi Sundel bolong!'' suara Alisya meninggi. Emak menunduk lemas, hembusan nafasnya masih terdengar, malah makin keras.
''Deg..degg.. Brakk..!!'' langkah kaki terdengar keras melangkah keluar, menutup pintu dengan keras. Dibalik pintu tangisnya tumpah. Alisya meninggalkan emak sendirian dengan tangis yang mengucur deras.
            Terik matahari menyengat, lalu lalang kendaraan terlihat makin macet, hilir mudik para gembel jalanan dan pengemis makin menyesaki jalanan. maklum Jakarta ibu kota, tempat anak-anaknya, para masyarakat kacil menyusu dan mendapat perlindungan dari ibu mereka, disebuah sudut jalan seberang seorang gadis kecil tersimpuh mengangkat lengan sebahu. Tempelam berisi recehan uang ia angkat setinggi-tingginya, tak lama beberapa petugas ketertiban dan pempersihan kota menghampirinya, segera menangkap gadis itu, suara tangis gadis itu melolong, air matanya beningnya berjatuhan. Ia segera digiring paksa seperti anjing kurap kemobil petugas.
Tak jauh kejadian itu seorang penjual koran berpakaian compang-camping bertangan buntung sebelah kiri dipalak seorang preman bertubuh kekar, karna tak dapat melawan ia mencoba mempertahankan hasil penjualannya dengan berteriak minta tolong kepada orang sekitar, namun tak seorang pun mau melirik apalagi membantu. Tak lama tangisnya pun pecah, uang yang ia peroleh telah berpindah tangan dengan mudah. tak jauh lagi seorang tukang becak dikejar-kejar petugas kota, becaknya ia giring sejauh mungkin namun alat pemukul petugas lebih dulu mendarat kekepala situkang becak. Iapun digiring kemobil petugas berkumpul dengan yang lain. Pengemis, gelandangan, pengamen, tukang asongan jalan, bahkan tukang becak kumpul jadi satu. Berkolaborasi dalam mobil baja milik petugas. Papan pengumuman yang digelar kemarin disebelah papan reklame memberi instruksi dengan tulisan huruf capital
''PENGEMIS DILARANG BER-OPERASI MENJELANG BULAN SUCI RAMADHAN, BECAK DILARANG MANGKIR ATAUPUN BEROPRASI DIJALAN KOTA, JANGAN MERUSAK PEMANDANGAN, PEMULUNG DILARANG BERKELIARAN DISEKITAR JALAN TOL, BERSIHKAN KOTA DENGAN PENGEMIS DADAKAN YANG HIJRAH DAN MASIH BANYAK LAGI''
 ***
Alisya melihat lalu mendesah, matanya makin berair penuh luka, tatapannya kali ini ia alihkan kearah lain untuk memmbahagiakan dirinya, sebuah gedung-gedung raksasa beradu, memamerkan keindahan masing-masing, kaca-kaca gedung yang menkilap membuat mata tak dapat lama-lama memandang. hingga matahari kalah beradu sinar, semakin tinggi dilangit biru hingga burung tak dapat hinggap diujung gedung tersebut.
Jakarta makin sesak dengan gedung-gedung tinggi nan mewah, Alisya menunduk lagi, tiba-tiba sebuah suara nyaring klakson terdengar sangat keras. sebuah mobil mengkilap berhenti dihadapannya.
 Alisya tersentak kaget tubuhnya menggeser kepinggir jalan, Matanya tertuju karah bagian dalam Mobil kinclong itu, kaca mobil terbuka perlahan, seorang pemuda tampan menatap kearahnya, pemuda yang beberapa waktu lalu ia lihat didepan rumah istana, ia menunduk.  ''aku antar kerumahmu yach, Alisya.. sekalian ada yang ingin aku bicarkan dengan dirimu'' santun bicara pemuda tampan itu terdengar sangat lembut menghampiri gendang telinga.
''Dari mana kamu tahu namaku ?? ucap Alisya. ''Maaf mungkin aku harus segera pulang, emak sudah lama menungguku. Aku takut tak bertemu dengan emak lagi'' langkah kaki Alisya menjauh dari tatapan mata pemuda itu, sesekali ia menoleh kebelakang ia tak ingin ada yang membuntuti langkahnya. Kerudung merah putihnya berkibar-kibar diterpa hembusan angin siang yang kala itu terik luar biasa, persis seperti kibaran sang saka merah putih dilapangan saat upacara hari senin dilapangan sekolah SD dulu saat Alisya masih miskin, hingga ia kini tetap, malah makin miskin …
            Kakinya tercekat berhenti, digerbang kardus depan gubuk reotnya. Ia menatap kebelakang,
''Alhamdulillah !'' tak ada yang mengekor. Hatinya berkelebat bayangan emak. Seketika segera percepat langkahnya.
            Gemuruh dada Alisya bergetar cepat saat ia menatap wajah emaknya didepan pintu, dengan sempoyongan emak yang masih berjalan menuju Alisya, wajahnya masih tersenyum, meski getir. tiba-tiba emak terjatuh ketanah, Alisya langsung memapahnya masuk kedalam rumah.
 ''Alisya, emak tak apa-apa kok Alisya… ngak usah khawatir. Oh yach, tadi seseorang datang kemari nak, umur emak tak akan lama lagi Alisya, dan sebelum aku meninggalkanmu, aku ingin lihat kamu menikah dulu Alisya ! kamu mau kan Alisya menikah dengan orang pilihan hati emak, emak sudah tidak tahan lagi Alisya ….emak mohon...'' suara parau emak mengalun bersama tetes air mata Alisya.
’’Tapi mak, kenapa emak cepat memutuskan hal secepat ini mak, lagi pula calon suami dari mana mak, apa emak..'''  ''kamu tenang Alisya emak sudah ketemu dengan orangnya kok, kamu ngak usah khawatir, Alisya mau kan?'' emak bersemangat mengucap kata-katanya.
 '' tapi mak..'' Alisya menyela perkataan emak, namun ia segera menatap wajah emaknya menyeka air mata. ''Baik mak Alisya akan menikah ! demi Emak.. hanya demi Emak…..'' mata Alisya terpejam, butir air matanya meleleh. dibalik pintu seorang pemuda tampan mengintip pembicaraan mereka, langkah kakinya kemudian mundur menjauh pergi dari gubuk tua itu.
            Matahari merambat tenang menju pusar langit dalam rayuan langit yang biru banyu,  ranting-ranting cemara menari-nari mengikuti irama minor angin yang berhembus memporak porandakan debu-debu kecil.  Wajah cantik Alisya mengalahkan sinarnya. namun air matanya tak henti mengembun bening. emak nampak masih tenang, wajahnya terpancar sejuk. Alisya beberapa kali menatap hatinya belum mantap.
***
 Tak lama kemudian sebuah becak berhias bunga-bunga mendekat  kegubuk, seorang lelaki paruh tua, berwajah gelap, muka biasa-biasa saja tersenyum simpuh pada Alisya. Emak jemputan kita sedah datang !'' seru Alisya tersenyum. ''Alisya itu calon suami kamu. namanya Mas Parman, ia datang untuk mengantar kita keresepsi pernikahanmu nak'' jantung Alisya berdetak pelan, sesuatu yang Sangat ia takutkan Sejak tadi tiba-tiba terjadi.
''Akhh..!!'' bibirnya saling menggigit, Alisya berusaha tersenyum. ''kalau begitu kita berangkat sekarang mak'' Alisya diam lalu memapah tubuh Emaknya keatas becak, kemudian ia menatap wajah calon suaminya, nampak seperti pekerja keras yang tak pernah mengenal kata istirahat, urat-urat yang menunjukkan bahwa ia lelaki kekar terlihat dipipi dan bagian wajah lainnya.
Roda becak terus berputar, mengangkut calon pengantin dan Emak. hati Alisya tak henti bergemuruh. disampingnya Emak seperti Cinderella ataupun Putri Salju tersenyum puas karena impian naik becaknya telah terkabul, Namur bagaimana dengan hati Alisya yang tercabik-cabik. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada kehidupannya nanti.
            Becak tiba-tiba berhenti, parkir disebuah rumah istana biasa ia mencari nasi bungkus.
Gerbang pintu besi warna emas terbuka lebar. seluruh anggota keluarga berdiri indah berseragam batik warna pelangi bagai pagar bidadari dan pangeran, nampak seorang pemuda gagah yang tersenyum, langkahnya gagah menuju Alisya dan emaknya, ia menunduk lalu tersenyum paling Manis.'' Alisya akulah calon suamimu yang sesungguhnya, aku mencintaimu. kamu baik, ramah, cantik dan aku ingin kau jadi permaisuriku, kuharap kau tak menolak diriku tuk jadi imam dalam sholat dan hidupmu'' ucap lembut pemuda itu, semua anggota keluarga tersenyum bertepuk tangan, bunyi kembang api melimpah, Alisya tersenyum kemudian ia menganguk pelan.

''SAYA TERIMA NIKAHNYA ALISYA BINTI SULAIMAN DENGAN SEKANTONG UANG EMAS DIBAYAR TUNAI'' 

Suara itu menggiang. Alisya tersenyum lagi, mengembang. ia memasukkan mahar kantong uang emas itu kesaku bajunya, dengan mantap.
''Alisya ! bangun nak sudah siang.. emak lapar Alisya.. Emak ingin naik becak Alisya.. kapan impian emak bisa terwujud nak ?'' suara rengekan Emak mengalun lagi membangunkan Alisya dari mimpinya yang indah, kemudian perlahan ia meraba kesaku bajunya. Sebuah uang kertas lima ratusan bergambar monyet menertawakan dirinya, Forever -
Ha Ha -

* Mkd Aan's

2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar