Subuh pekat datang
menghambat pagi cerah. Gerak ranting-ranting pohon seakan menghapus jejak
langkah awan sisik ikan buyar menghilang diterpa tiupan angin pagi.
ranting-ranting pohon berejoget mengikuti parodi angin pagi yang berselimut
pekat. Burung kecil pagi yang biasa numpang lewat baru saja berlalu membawa
tangkai jerami di paruh mungilnya. Halimun tipis masih mengembun di udara. Gelap masih tetap beraroma
tanah-tanah basah dan dingin yang menyebar disekitar bentangan jalan yang tak
lagi perjaka. Bolong sana-sini membentang dari saban hari sampe dilihatnya ngak
lagi oke. Sudut-sudut jalan masih terasa basah karena sisa embun tadi malam. Alisya mengamini doanya dengan mengusap-usap pipi lesung putihnya yang
mulus. Beberapa kali perutnya kirim pesan Facebook, Minta kiriman nasi dari
mulutnya walau sesuap. tanda keroncongan karena dari kemarin belum diisi nasi
walau sebutir.
Hingga ia harus rela menanggung perih luar biasa saat ia terbangun, Sejak
subuh tadi perutnya seperti ada yang mengetok-ngetok dari dalam.
Butiran air wudhu masih menggumpal dipipinya yang makin berkerut karena
belum dikirimkan asupan nutrisi dari para jaringan yang ada
diusus halusnya, mungkin disana para cacing-cacing perutnya lagi demo minta
keadilan.
Tapi kali ini ia agak ragu untuk mendapatkan sesuap nasi. Apalagi dua
bungkus nasi untuknya juga emaknya yang tengah terbaring lemah. Bukan karena
sakit seperti yang biasa dialami para orang miskin lainnya, tapi karena rasa
lapar. Sama seperti yang dialami Alisya kali ini. Sampai–sampai wajahnya kini
benar-benar jadi seperti pengemis jalanan. Ia melangkahkan kakinya, gusar.
Sambil mengotak atik jilbab khasnya, merah putih merdeka selalu, buat para
pengemis dan orang miskin yang masih tetap eksis dan tetap bertahan dizaman
globalisasi modern.
Ia mengingat jelas tadi ketika meninggalkan rumah, Persis diambang pintu ia
menoleh ke belakang setelah mempebaiki jilbab putihhya, memastikan emaknya
benar-benar tidur dan mimpi indah dinegri para disneyp. Agar ia tak terlalu
bimbang untuk pergi keluar rumah dan meninggalkan emak sendiri dalam gubuk tua.
karna ia tak mau emaknya melihat ia pergi keluar rumah lagi.
***
Alisya menatap sekelilingnya dengan seksama, sebuah rumah mewah, besar,
seperti istana megah. membuat
pandangannya terfokus. Niat menggumpal dalam hati, memejamkan mata sambil ia
menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menangkap bayangan rumah istana itu
bebar-benar luar biasa dihadapannya.
''Tunggu!!'' bibirnya bergetar hebat, kemudian ia berlari
cepat sebelum bungkusan plastik itu jatuh ketempat sampah. Ia menggerakkan
kakinya secepat kuda betina, agar dapat berlari dengan tempo lebih sedikit.
Seorang pemuda melirik wajah cantik Alisya.
Memperhatikan Alisya yang semakin dekat menghampirinya . ''ada apa? ada yang
saya bisa Bantu ?'' Ucap pemuda itu menyapa ramah
''Eehm..''
Alisya hanya berdecak. Tak tahu yang ia harus katakan, bibirnya terkatup
rapat. ''kenapa bengong?''tanyanya
heran. Alisya benar-benar tak bisa bicara seperti biasanya.
''kenapa makanan itu
harus dibuang??'' Tanya Alisya menunjuk kearah
bungkusan plastik yang masih di pegang pemuda berpakaian rapi itu.
''Soalnya nenek saya tak suka, ia ngak mau makan kalau tidak disuapi papa,
padahal papa lagi tugas dinas diluar negri, jadi saya buang saja'' jawab pemuda
itu . Alisya mengantupkan
bibirnya lagi.
''Buat aku saja kalo ngak
mau ?'' Alisya tak segan-segan berkata. Pemuda itu
diam.
''ngakk usah, nanti biar saja aku belikan
lagi'' jawabnya renyah…
Pemuda itu menatap
… ''mengapa menatap seperti itu ??''
Tanya Alisya. Sembari langsung marampas bungkusan plastik tersebut sebelum
terjatuh ketempat sampah.
''Ka ..kamu ??'' ''kenapa?'' ucap Alisya ''Maaf aku harus segera pergi, kasihan emak
dirumah'' imbuhnya lagi. ''Tunggu!!..
Ka…ka..mu..?'' pemuda itu gemeretak berkata lagi.
''Ya aku seorang gembel,
jangan menatap seperti itu !!'' Ucap Alisya meneruskan langkahnya yang sempat
tertunda. Alisya lari, cepat meneruskan langkahnya. Hingá bayangannya
menghilang. ''mengapa ia bicara
begitu ?'' pemuda itu berdesah melihat Alisya melesat telah jauh melesat
diujung jalan.
***
Siang itu pikiran Alisya macet,
pikirannya hambar. Nafasnya terengah-engah setelah ia lari. Sampai diaambang
pintu dapur mendapati Emaknya diam didepan teungku, mungkin emak sudah tak kuat lagi menahan rasa laparnya yang semakin
melilit. Alisya hanya diam memperhatikan dari jauh kemudian mendekat. Ia membelakangi tubuh emaknya yang makin
kurus saja kulitnya makin tipis karena daging tuanya selalu digerogoti rasa
lapar setiap detik. Sakunya tergerak, mengambil sepeser uang lima ratusan cap
kera yang sedang nyantai dibawah pohon, ia menatap gambar itu lamat-lamat
dengan hati tercabik, ia teringat akan Al marhum ayahnya yang sudah lama
meninggalkan Alisya, saat Alisya masih kecil. Tak tahan air matanya mengalir
berat. Ingat akan masa ketika makan singkong rebus sama–sama depan teungku
dapur, begitu bahagia batinnya sedikit terhibur.
''Alisya, kapan kamu mewujudkan cita-cita terbesar dalam hidup emak nak..?''
Emak berucap seumpama anak kecil.
''Alisya belum cukup uang mak, mak sabar dulu ya, harga naik becak sekarang
mahal mak hampir mencapai 20.000 ribu, karena becak jarang sekali beroprasi di
Jakarta dan mungkin itu semua karena harga BBM yang naik lagi. Sekarang becak
tidak lagi menggunakan kekuatan otot kaki tapi sedah beralih tenaga bensin,
atau mungkin kedepan ongkos naik becak setara dengan ongkos bayar sebuah Taksi.
Tapi emak tak usah khawatir, Alisya pasti mewujudkan impian emak itu dalam
waktu dekat, Alisya janji mak.., Alisya janji.. tapi mak harus jaga kesehatan
jangan sampai sakit lagi yach..!!''
Alisya kini mengingat saat emak tak mau makan karena sakit, itu adalah
hal yang terberat yang paling menyakitkan bagi Alisya hingga mengiris ulu hati
paling dalam.
''kalau Alisya ngak punya uang, emak rela kok Alisya, kalau tak sampai
mewujudkan cita-cita emak itu, emak sadar kalau keinginan emak ini terlalu
berlebihan, mungkin sampai emak menyusul Abahmu'' ucap emak terbata bata. ''emak jangan bicara gitu mak, ngak baik mak !'' Emak terdiam,
matanya membeku. Emak makan dulu ya, Alisya baru saja dapat bungkusan dari
rumah orang kaya disimpang jalan itu mak'' ucap Alisya penuh semangat, sambil
menyuguhkan potongan kue yang baru ia dapatkan.
Sepintas pikirannya teringat lagi
kata-kata emak barusan. Emak ingin naik becak keliling kota Jakarta, persis
ketika emak jalan–jalan bersama Al marhum Abah. Saat bulan madu dulu. Keliling kota pagi-pagi,
maklum Emak sangat menyayangi Almarhum abah. Ia ingin mengingat masa itu dengan
naik becak keliling kota, tentu sebelum dipanggil yang kuasa karma Emak saat
ini sering sakit sakitan.
Keesokan harinya…
''Emak
Orang kaya itu baik ya mak?'' tadi ia baru ngasih makanan lagi buat kita'' ucap
Alisya lagi. ''Emak tau mereka baik nak…!! tapi kamu jangan pernah bergantung
sama belas kasihan mereka'' Alisya mengangguk mengerti.
''Alisya ! rasanya sakit emak sudah makin parah Alisya, mungkin
tak kan lama lagi Emak akan menyusul ayahmu, Alisya ! kalo emak udah dipanggil
yang kuasa bolehkan mayat emak diantar kekuburan pake' becak Alisya ??'' Ruang suara Emak kemudian sunyi hanya hembusan
nafas paras tuanya yang masih menghembus.'' Mak ! eling mak, ngak boleh ngomong
gitu, mak mau arwah mak jadi gentayangan diatas becak, jadi Sundel bolong!''
suara Alisya meninggi. Emak menunduk lemas, hembusan nafasnya masih terdengar,
malah makin keras.
''Deg..degg.. Brakk..!!'' langkah kaki terdengar keras melangkah keluar,
menutup pintu dengan keras. Dibalik pintu tangisnya tumpah. Alisya meninggalkan
emak sendirian dengan tangis yang mengucur deras.
Terik matahari menyengat, lalu
lalang kendaraan terlihat makin macet, hilir mudik para gembel jalanan dan
pengemis makin menyesaki jalanan. maklum Jakarta ibu kota, tempat anak-anaknya,
para masyarakat kacil menyusu dan mendapat perlindungan dari ibu mereka,
disebuah sudut jalan seberang seorang gadis kecil tersimpuh mengangkat lengan
sebahu. Tempelam berisi recehan uang ia angkat setinggi-tingginya, tak lama
beberapa petugas ketertiban dan pempersihan kota menghampirinya, segera
menangkap gadis itu, suara tangis gadis itu melolong, air matanya beningnya
berjatuhan. Ia segera digiring paksa seperti anjing kurap kemobil petugas.
Tak jauh kejadian itu seorang penjual koran berpakaian compang-camping
bertangan buntung sebelah kiri dipalak seorang preman bertubuh kekar, karna tak
dapat melawan ia mencoba mempertahankan hasil penjualannya dengan berteriak
minta tolong kepada orang sekitar, namun tak seorang pun mau melirik apalagi
membantu. Tak lama tangisnya pun pecah, uang yang ia peroleh telah berpindah
tangan dengan mudah. tak jauh lagi seorang tukang becak dikejar-kejar petugas
kota, becaknya ia giring sejauh mungkin namun alat pemukul petugas lebih dulu
mendarat kekepala situkang becak. Iapun digiring kemobil petugas berkumpul
dengan yang lain. Pengemis, gelandangan, pengamen, tukang asongan jalan, bahkan
tukang becak kumpul jadi satu. Berkolaborasi dalam mobil baja milik petugas.
Papan pengumuman yang digelar kemarin disebelah papan reklame memberi instruksi
dengan tulisan huruf capital
''PENGEMIS DILARANG BER-OPERASI MENJELANG BULAN
SUCI RAMADHAN, BECAK DILARANG MANGKIR ATAUPUN BEROPRASI DIJALAN KOTA, JANGAN
MERUSAK PEMANDANGAN, PEMULUNG DILARANG BERKELIARAN DISEKITAR JALAN TOL,
BERSIHKAN KOTA DENGAN PENGEMIS DADAKAN YANG HIJRAH DAN MASIH BANYAK LAGI''
***
Alisya melihat lalu mendesah, matanya makin
berair penuh luka, tatapannya kali ini ia alihkan kearah lain untuk
memmbahagiakan dirinya, sebuah gedung-gedung raksasa beradu, memamerkan keindahan
masing-masing, kaca-kaca gedung yang menkilap membuat mata tak dapat lama-lama
memandang. hingga matahari kalah beradu sinar, semakin tinggi dilangit biru
hingga burung tak dapat hinggap diujung gedung tersebut.
Jakarta makin sesak dengan gedung-gedung tinggi nan mewah, Alisya menunduk
lagi, tiba-tiba sebuah suara nyaring klakson terdengar sangat keras. sebuah
mobil mengkilap berhenti dihadapannya.
Alisya tersentak kaget tubuhnya menggeser
kepinggir jalan, Matanya tertuju karah bagian dalam Mobil kinclong itu, kaca
mobil terbuka perlahan, seorang pemuda tampan menatap kearahnya, pemuda yang
beberapa waktu lalu ia lihat didepan rumah istana, ia menunduk. ''aku antar kerumahmu yach, Alisya.. sekalian
ada yang ingin aku bicarkan dengan dirimu'' santun bicara pemuda tampan itu
terdengar sangat lembut menghampiri gendang telinga.
''Dari mana kamu tahu namaku ?? ucap Alisya. ''Maaf mungkin aku harus
segera pulang, emak sudah lama menungguku. Aku takut tak bertemu dengan emak
lagi'' langkah kaki Alisya menjauh dari tatapan mata pemuda itu, sesekali ia
menoleh kebelakang ia tak ingin ada yang membuntuti langkahnya. Kerudung merah
putihnya berkibar-kibar diterpa hembusan angin siang yang kala itu terik luar
biasa, persis seperti kibaran sang saka merah putih dilapangan saat upacara
hari senin dilapangan sekolah SD dulu saat Alisya masih miskin, hingga ia kini
tetap, malah makin miskin …
Kakinya tercekat berhenti, digerbang kardus
depan gubuk reotnya. Ia menatap kebelakang,
''Alhamdulillah !'' tak ada yang mengekor. Hatinya berkelebat bayangan
emak. Seketika segera percepat langkahnya.
Gemuruh dada Alisya bergetar cepat
saat ia menatap wajah emaknya didepan pintu, dengan sempoyongan emak yang masih
berjalan menuju Alisya, wajahnya masih tersenyum, meski getir. tiba-tiba emak
terjatuh ketanah, Alisya langsung memapahnya masuk kedalam rumah.
''Alisya, emak tak apa-apa kok
Alisya… ngak usah khawatir. Oh yach, tadi seseorang datang kemari nak, umur
emak tak akan lama lagi Alisya, dan sebelum aku meninggalkanmu, aku ingin lihat
kamu menikah dulu Alisya ! kamu mau kan Alisya menikah dengan orang pilihan
hati emak, emak sudah tidak tahan lagi Alisya ….emak mohon...'' suara parau
emak mengalun bersama tetes air mata Alisya.
’’Tapi mak, kenapa emak cepat memutuskan hal secepat ini mak, lagi pula
calon suami dari mana mak, apa emak..'''
''kamu tenang Alisya emak sudah ketemu dengan orangnya kok, kamu ngak
usah khawatir, Alisya mau kan?'' emak bersemangat mengucap kata-katanya.
'' tapi mak..'' Alisya menyela
perkataan emak, namun ia segera menatap wajah emaknya menyeka air mata. ''Baik
mak Alisya akan menikah ! demi Emak.. hanya demi Emak…..'' mata Alisya
terpejam, butir air matanya meleleh. dibalik pintu seorang pemuda tampan
mengintip pembicaraan mereka, langkah kakinya kemudian mundur menjauh pergi
dari gubuk tua itu.
Matahari merambat tenang menju pusar
langit dalam rayuan langit yang biru banyu,
ranting-ranting cemara menari-nari mengikuti irama minor angin yang
berhembus memporak porandakan debu-debu kecil.
Wajah cantik Alisya mengalahkan sinarnya. namun air matanya tak henti
mengembun bening. emak nampak masih tenang, wajahnya terpancar sejuk. Alisya
beberapa kali menatap hatinya belum mantap.
***
Tak lama kemudian sebuah becak
berhias bunga-bunga mendekat kegubuk,
seorang lelaki paruh tua, berwajah gelap, muka biasa-biasa saja tersenyum
simpuh pada Alisya. Emak jemputan kita sedah datang !'' seru Alisya tersenyum.
''Alisya itu calon suami kamu. namanya Mas Parman, ia datang untuk mengantar
kita keresepsi pernikahanmu nak'' jantung Alisya berdetak pelan, sesuatu yang
Sangat ia takutkan Sejak tadi tiba-tiba terjadi.
''Akhh..!!'' bibirnya saling menggigit, Alisya berusaha tersenyum. ''kalau
begitu kita berangkat sekarang mak'' Alisya diam lalu memapah tubuh Emaknya keatas
becak, kemudian ia menatap wajah calon suaminya, nampak seperti pekerja keras
yang tak pernah mengenal kata istirahat, urat-urat yang menunjukkan bahwa ia
lelaki kekar terlihat dipipi dan bagian wajah lainnya.
Roda becak terus berputar, mengangkut calon pengantin dan Emak. hati Alisya
tak henti bergemuruh. disampingnya Emak seperti Cinderella ataupun Putri Salju
tersenyum puas karena impian naik becaknya telah terkabul, Namur bagaimana
dengan hati Alisya yang tercabik-cabik. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan
terjadi pada kehidupannya nanti.
Becak tiba-tiba berhenti, parkir
disebuah rumah istana biasa ia mencari nasi bungkus.
Gerbang pintu besi warna emas terbuka lebar. seluruh anggota keluarga
berdiri indah berseragam batik warna pelangi bagai pagar bidadari dan pangeran,
nampak seorang pemuda gagah yang tersenyum, langkahnya gagah menuju Alisya dan
emaknya, ia menunduk lalu tersenyum paling Manis.'' Alisya akulah calon suamimu
yang sesungguhnya, aku mencintaimu. kamu baik, ramah, cantik dan aku ingin kau
jadi permaisuriku, kuharap kau tak menolak diriku tuk jadi imam dalam sholat
dan hidupmu'' ucap lembut pemuda itu, semua anggota keluarga tersenyum bertepuk
tangan, bunyi kembang api melimpah, Alisya tersenyum kemudian ia menganguk
pelan.
''SAYA TERIMA NIKAHNYA ALISYA BINTI SULAIMAN DENGAN
SEKANTONG UANG EMAS DIBAYAR TUNAI''
Suara itu menggiang. Alisya tersenyum lagi, mengembang. ia memasukkan
mahar kantong uang emas itu kesaku bajunya, dengan mantap.
''Alisya ! bangun nak sudah siang.. emak
lapar Alisya.. Emak ingin naik becak Alisya.. kapan impian emak bisa terwujud
nak ?'' suara rengekan Emak mengalun lagi membangunkan Alisya dari mimpinya
yang indah, kemudian perlahan ia meraba kesaku bajunya. Sebuah uang kertas lima ratusan bergambar
monyet menertawakan dirinya, Forever -
Ha Ha -
* Mkd Aan's
2009