Minggu, 07 Februari 2016

Aku Melihatmu Orang Lain

Mata itu, senja dan angin pertama pertemuan kita.
Kau berwajah lembut, aku kira.
Melangkah ragu kepadaku bersamaan dengan derap suara ayat di sudut surau. Angin berhembus melebih-lebihkan senyummu.
Bajumu, lengan panjang horisontal, garis-garis hitam, putih, coklat, biru toska.
Ku pandangi, langkahmu cemburu pada rumput-rumput yang mulai siluet.
 

Kita. Di antara kita penuh keraguan.
Kau ragu untuk melangkah, dan aku ragu untuk menyapa.
Senja itu awal waktu merekam perkenalan antara kau dan aku. Tentu saja.
Kemudian ribuan tahun berlalu, anggap saja begitu.
Kau dan aku, anak kapal dan nakhoda pelayaran.
Aku mengenalmu sebagai dayung.
Yang mengantar kemana pun aku pergi.
Sebagai ombak yang berkecipak mengayunkan badan kapal.
Saat hidup hanya berupa langkah dan percakapan kecil dalam mencari sejati.
 

Begitu aku mengandalkan dirimu dalam satu yang kuanggap ribuan tahun.
Bukankah seterusnya, siang dan malam kau menyampingiku ?
Duduk bersebelahan saat hujan malam itu membuat mati lampui. Dan kita menyalakan lilin hingga malam pekat sambil mendengarkan lantunan shalawat bersama.
Kau juga pasti ingat --
 

Dulu, pernah sekali, kita mencari pakan sapi bersama.
Kau mengapit galah di pundak. Dan aku membawa arit di tangan.
Pagi itu, kita bercerita tentang masalalu.
Tentang masalalu yang akhirnya mempertemukan kita, dan kita saling menceritakan siapa diri kita. Sebenarnya.

Dan. Sekarang aku duduk di sini !
Maksudku berbaring.
Mengingat itu semua, dengan mata hampir berkaca-kaca.
Berapa kalau di pikir lagi, masalalu diantara kita begitu indah. Ya__
Indah __

Ahh. Kini aku mengeluarkan air mata. Maksudku berusaha.
Ketika semuanya sudah berubah.
Atau itu mungkin hanya perasaanku saja ?
Ya, aku kemudian mengingat kembali mata itu.
Malam kemarin mata itu tak lagi sama.
Mata, senja dan angin yang menjadi peta pertemuan kita.
Senja itu kini di matamu, bukan senja yang indah.
Mata itu memar, senja yang memar dan menyala. Dan angin begitu bergemuruh dalam kata-katamu. Di bawah pohon belimbing. Ya. Disana __

Ada apa denganmu ?
Aku bertanya-tanya dalam hati sambil sesekali mencuri pandang pada mata-mu.
Yang kurasa tak lagi sama seperti setahun buat seribu yang lalu.
Perkataanmu juga tak lagi sama.
Waktu mungkin telah mengubahnya, atau mungkin karena keadaan.
Aku tak pernah tahu. Jelas aku tak tahu.
Tapi jelasnya aku kecewa. Entah kecewa pada siapa. Pada matamu, senja, angin atau pada diriku sendiri yang jauh darimu dan terhempas selama lima purnama di tanah orang.
Lagi-lagi aku tak tahu.
 

Yang kutahu kini aku ingin berbaring dan mengucapkan doa mau tidur.
Kini membayangkanmu begitu mengerikan bagiku.
Tapi aku rindu dirimu, dirimu yang dulu.
Yang ketika kau merasa lapar aku terpaksa juga harus lapar.
Yang ketika kau sedih aku harus pura-pura sedih.
Yang ketika kau di bebani banyak tugas, aku akan kalang kabut menjadi pembantumu.
Dan semua itu membuatku rindu.
Membuat ku rela menemuimu pada senja yang hampir sama dengan ribuan tahun lalu. Di sebuah terminal bus kota.
Kau datang tepat bersamaan dengan suara adzan. Dan kita berada dalam kebisuan di sepanjang perjalanan.
Begitu amat mirip dengan pertemuan kita.
Dan aku memikirkan sesuatu. Awal ku sangka kau berubah.
 

Mata itu, langkah dan senja yang sama mempertemukan kita.
Semuanya berbeda walau hampir sama.
Tapi aku tetap merindukanmu. Sebagai mana dulu atau sekarang.
Kau tetap ku anggap sama meski sudah berbeda.
Matamu, angin dan senja-senja.
Sudah kurela--kan berubah sebagaimana keadaanmu.
Sebab hidup adalah perubahan. 

Tanpa perubahan tak akan sempurna namanya kehidupan. Itu saja.
 

Walau kini sudah berwajah orang lain. Yang hampir tak aku kenal.
Tapi tak apa, tetap tak apa.
Akhirnya kau boleh berubah, jadi apa saja.
Orang lain, senja, angin, atau apa saja yang kau inginkan.
Tetapi. Aku hanya meminta.
 

Ku harap hatimu tetap disana. Seperti dulu yang ku kenal.
Serupa lilin dalam gelap atau pendayung dalam ombak.
Di dalam dada, dan penuh dengan permata -

* Mkd Aan's
2016

Di Bawah Pohon Willow


Kau adalah kesunyian, yang tenggelam pada kesepian.

Dari segerombolan suara lebah, bunyi angin adalah yang paling berisik.

Kau. Tak perlu datang kembali.

Kekasihmu baru saja pergi. Bersama kupu-kupu.

Kupu-kupu jiwa yang merana. Menemui kota-kota baru.



Pernahkah kau duduk di bawah pohon willow ?

Kemudian udara benar-benar bicara ?



Kekasihmu sudah pergi, itu yang baru saja kukatakan kepada para penebang.

Mereka juga sudah berkemas.

Di sekujur tubuh, rindu sudah mengonak, berduri bunga-bunga daisy.

Bahkan yang mustahil pun kini sering saja terlintas. Ahh !



Dan kau mencari kekasihmu. Di bawah ranting-ranting pohon willow.

Mungkin saja air matanya masih ada di ujung-ujung rerumputan.

Berarti dia belum jauh. Belum jauh untuk kau nikmati aroma tubuhnya.

Kau jelajahi rambutnya dengan jemarimu.

Namun kau hanya dipertemukan lagi dengan keheningan.

Halimun tipis, embun berantakan, kabut asap.

Dan api membara dalam dirimu.



“Pergi tinggalkan diriku sendiri !” Kau mendengarkan teriakan itu di dalam tubuh hutan.

Lalu kau semakin menangis. Rupanya kau mendengar suara kekasihmu.

Keterkejutan membuat kau terpaku.

Lumpuh dari yang paling lumpuh.

Dan kau menolak hatimu. Bukanlah rindu sudah usai. Ia hanya redam seketika.

Sebab rindu itu abadi, melekat pada cinta dan benci.

Dan kau mulai membenci pada kekasihmu.

Seperti embun yang lebur dalam hujan.

Mengapa kau mesti mencintai kekasihmu begitu dalam kau pada akhirnya berujung pada kehilangan.



Di bawah pohon willow yang hijau. Terdiam.

Duduklah hanya sebentar untuk merenungi nasib.

Melihat ranting-rantingnya yang mulai keriput.

Ingatkah kau bahwa dulu kau bermain bergelantungan disana.

Memberi makan burung dengan buah ceri. Mengambil rembulan di atas cabangnya.

Sekarang ia sudah menghitam. Seperti kekasihmu yang kau lihat terkapar dalam kobaran api.

Rumput pun tak bisa menyelamatkan diri.

Mengapa selalu hitam yang menjadi petanda kehilangan ? Dan hijau berarti kesejukan ?

Kau tak perlu menjawabnya. Karena kupu-kupu yang membawa kekasihmu pergi, kini telah sampai di sebuah kota. Kau hanya perlu mempertanyakannya.

Dimana kuburan kekasihmu



Namun kembali--kau hanya dipertemukan dengan keheningan.

Kesedihan yang paling menyedihkan.

Tubuh kekasihmu kini lenyap tak berbekas tertelan kabut asap.

Api, api, api. Api, api, api. Api__



Kemudian kau dengar kekasihmu sudah kembali ke relung tanah.

Menjadi sebuah kota penuh kerlip lampu.

Apakah ia bahagia ? entahlah. Kau tak bisa jua menjawabnya.



Dan akhirnya kau hanya duduk di sebuah taman kota.

Dekat kolam ikan emas kecil, kerikil-kerikir kecil. Bunga-bunga bakung kusam.

Di penuhi decitan suara knalpot mobil. Asap polusi.

Di bawah anak pohon willow. 
Yang tak lagi subur -





Jungkarang, 26 Januari 2016. 
Pemenang Lomba Cipta Puisi Nasional bertemakan "HUTAN"  
Penerbit Genom Januari 2016.