Kala
gerimis mengurung jiwa |
demi
sepucuk embun merayap di kelam, lalu datang nenek tua memeluk pagi.
Menyabit
rumput-rumput dengan penuh syahwat,
disitu
aku berdiri mengait reranting, karena kita tahu buah tak akan selalu jatuh.
Siapa
tahu mencari reranting mendapat sekeranjang duku.
Kala
gerimis memeluk jiwa |
aku
adalah lelaki berselimut hujan dan topan.
Pernah
berlari membelah pasar dengan sebilah terik.
Mencuri
adalah tugasku menghalau keringat.
Kalau
ia adalah rahmat, maka aku aku akan minta ampun pada hati awan agar mengutus
angin.
Siapa
tahu ada temali layang yang dapat aku gantungi menuju surga,
meski
paling bawah.
Kala
gerimis memeluk jiwa |
ku
kabulkan permintaan sepi untuk mengurung hati.
Sebelum
tuhan mempertemukan bibir dengan bahagia aku telah bertahun dirawat perih.
Aku
akan menumbuk lubang hidung dengan lari,
karena
semua adalah perjuangan yang harus di tawar dengan harga mati.
*Mkd
Aan’s.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar