Sabtu, 14 November 2015

Kala Gerimis Mengurung Jiwa


Kala gerimis mengurung jiwa |
demi sepucuk embun merayap di kelam, lalu datang nenek tua memeluk pagi.
Menyabit rumput-rumput dengan penuh syahwat,
disitu aku berdiri mengait reranting, karena kita tahu buah tak akan selalu jatuh.
Siapa tahu mencari reranting mendapat sekeranjang duku.

Kala gerimis memeluk jiwa |
aku adalah lelaki berselimut hujan dan topan.
Pernah berlari membelah pasar dengan sebilah terik.
Mencuri adalah tugasku menghalau keringat.
Kalau ia adalah rahmat, maka aku aku akan minta ampun pada hati awan agar mengutus angin.
Siapa tahu ada temali layang yang dapat aku gantungi menuju surga,
meski paling bawah.

Kala gerimis memeluk jiwa |
ku kabulkan permintaan sepi untuk mengurung hati.
Sebelum tuhan mempertemukan bibir dengan bahagia aku telah bertahun dirawat perih.
Aku akan menumbuk lubang hidung dengan lari,
karena semua adalah perjuangan yang harus di tawar dengan harga mati.

*Mkd Aan’s.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar