Kisah
seorang pengembara di negeri yang sangat jauh
Tanpa
sebilah pedang, tanpa bekal, tapi__
Kemudian
tiba-tiba tuhan menurunkan hujan
Hujan
menabuh daun-daun |
Satu
persatu mulai jatuh. Jatuh__
Hujan dan
keterasingan, pada sepuntung rokok oepet gabus
Cendol,
dan sebuah lagu hujan bulan november yang gersang
Hujan
menabuh lembar genting |
Tempat
dimana ia terkurung penuh gelap, sedang diluar air jatuhnya menari nari penuh
bakhti, penuh gemuruh pada daun-daun belimbing
Dan di
jauh terdengar suara deru motor teburu-buru seperti kilatan petir
Petir
jiwa, seperti kemudian seorang kekasih akan hadir pada pernikahan kekasihnya
dengan orang lain, kemudian ia terjatuh di sisi jalan, penuh darah, penuh luka.
Masalalu,
masa sekolah dulu
Hujan
datang menabuh kerah jendela |
Sedang
rindu saat subuh mulai bermekaran |
Seseorang
dengan ingatan yang masih kekal
Mulai
menulis dingin, yang sepi, yang teduh.
Seteduh
teduhnya seperti ia tak pernah mendengar ada hujan hinggap mengetuk
jendela-jendela, dan tak pernah pula menyalakan suara-suara luka, kecuali angin
yang bergerak mati dan nafas-nafas yang amat berat. Seperti sesuatu telah
tumbuh lebat di rongga hidungnya.
Kemudian
ia sulit bernafas.
Hujan
datang menabuh pipi |
Meninggalakan
dingin, gelap.
Batik-batik
jiwa penuh dengan gambar keterasingan, nasibnya yang selalu di bawa waktu
setiap tahun, tanpa ada pasir-pasir, tanpa ada ombak, camar, bintang lain yang
mungkin bisa menenggelamkan lukanya menuju palung paling dalam.
Hingga ia
tak perlu lagi mendengar apa kata orang
Hingga ia
tak perlu lagi meminta belas dan kasihan
Hujan
datang menabuh diri |
Berkirim
se-rantang dingin berisi cawan-cawan sepi
Karena
hujan memang selalu dingin untuk seorang yang berada jauh dari rumah
Dari
senyum mbu’ dan nasi jagungnya yang panas
Kemudian
tebak__aku hanya akan membawa nyawa diriku sendiri
berbalut
dingin, seperti batu.
Sebab
hanya kumpulan gerimis, tapi Ahh mengapa datangnya begitu mengiris -
* Mkd Aan's
2016




