Minggu, 15 November 2015

Hujan Dan Keterasingan

Kisah seorang pengembara di negeri yang sangat jauh
Tanpa sebilah pedang, tanpa bekal, tapi__
Kemudian tiba-tiba tuhan menurunkan hujan

Hujan menabuh daun-daun |
Satu persatu mulai jatuh. Jatuh__
Hujan dan keterasingan, pada sepuntung rokok oepet gabus
Cendol, dan sebuah lagu hujan bulan november yang gersang

Hujan menabuh lembar genting |
Tempat dimana ia terkurung penuh gelap, sedang diluar air jatuhnya menari nari penuh bakhti, penuh gemuruh pada daun-daun belimbing
Dan di jauh terdengar suara deru motor teburu-buru seperti kilatan petir
Petir jiwa, seperti kemudian seorang kekasih akan hadir pada pernikahan kekasihnya dengan orang lain, kemudian ia terjatuh di sisi jalan, penuh darah, penuh luka.
Masalalu, masa sekolah dulu

Hujan datang menabuh kerah jendela |
Sedang rindu saat subuh mulai bermekaran |
Seseorang dengan ingatan yang masih kekal
Mulai menulis dingin, yang sepi, yang teduh.
Seteduh teduhnya seperti ia tak pernah mendengar ada hujan hinggap mengetuk jendela-jendela, dan tak pernah pula menyalakan suara-suara luka, kecuali angin yang bergerak mati dan nafas-nafas yang amat berat. Seperti sesuatu telah tumbuh lebat di rongga hidungnya.
Kemudian ia sulit bernafas.

Hujan datang menabuh pipi |
Meninggalakan dingin, gelap.
Batik-batik jiwa penuh dengan gambar keterasingan, nasibnya yang selalu di bawa waktu setiap tahun, tanpa ada pasir-pasir, tanpa ada ombak, camar, bintang lain yang mungkin bisa menenggelamkan lukanya menuju palung paling dalam.
Hingga ia tak perlu lagi mendengar apa kata orang
Hingga ia tak perlu lagi meminta belas dan kasihan

Hujan datang menabuh diri |
Berkirim se-rantang dingin berisi cawan-cawan sepi
Karena hujan memang selalu dingin untuk seorang yang berada jauh dari rumah
Dari senyum mbu’ dan nasi jagungnya yang panas
Kemudian tebak__aku hanya akan membawa nyawa diriku sendiri
berbalut dingin, seperti batu.
Sebab hanya kumpulan gerimis, tapi Ahh mengapa datangnya begitu mengiris -


* Mkd Aan's
2016

Melo Pada Gelap

Sebentar lagi |
Kumis malaikat pada gelap,
dan laron-laron pada topi lampu neon,
secangkir kopi tanpa nampan,
Juga tikar-tikar berdebu
Mengajak  kita menari, kita merekam wajah gelap, kita pada dinding-dinding
Kita bergerak maju menyerupai kedipan kunang-kunang
Sedang lorong-lorong desa akan segera di hapus,
Kota-kota akan mati digantikan rintihan nyamuk-nyamuk yang melahirkan anaknya
Dunia ini akan ditenggelamkan beberapa saat, sayangku |
Sebentar lagi, sebuah lagu akan di bawakan malam

Ini lagu kita dan gelap yang merekam, mengajak menari ?

Padahal | kita tidak bisa menari bukan
Tapi tanpa tidak, kita mulai berjingkrak tanpa ijin emak
Emak terlalu sibuk dengan urusan dapur bukan ?
Jadi jangan pernah mengganggu
Bapak juga tengah terbaring lelah |
Didadanya berbagai macam rumput tumbuh,
Matahari-matahari memilin bibit untuk di tananami.
Sebentarlagi ia juga akan membelakangi emak
Mengusap dagunya dan mengajak keranjang, jadi kau jangan merayu

Ini milik kita | jadi tak ada yang boleh mengganggu
Semuanya telah sirna, kita adalah milik diri sendiri dan tuhan,
Kita sudah rampas semuanya, dari malam
Tentang dingin-sunyi-pekat-asap-rokok-dan juga rasa kopi
Malam adalah suara kemerdekaan kita sayang,
Disana aku dapat menidurimu seribu tahun, serupa mimpi dan khayal
Jangan menyalakan bianglala lagi di pipimu,
Sudah banyak kita menanam diri pada siang

Sebentar lagi |
Sebentar lagi, sayang | kita akan segera mati
Dan barulah lagu untukmu akan di hentikan –

* Mkd Aan's
2014

NAK | 01

Nak | cepat gantung diri !
dengan sarung dan kopiah, kemudian diam selama mungkin kau bisa berdiri
Telungkup, sujud, duduk, hati-hati saat menoleh kebelakang ? Di sana ada setan.

Nak | Carilah bening tanpa dosa dimatamu dulu, kemudian lari menuju kening ibu, tidurlah disana sampai senja memungutmu menjadi putih.
Kau tahu ? Disana ada sungai susu yang bisa menyulapmu jadi agung.

Nak | pergilah jauh, ke rancak gunung, mengikuti celoteh burung kalau kau capek, istirahatlah ! Jangan lupa bergegas lagi menetaskan telur-telurnya. Kalau kau ada masalah_Bapak ada di sini menungguimu dengan sebongkah paku.

Nak | tetaplah tersenyum
kau takkan ada kurang. Jangan lupa saudara kawan !
Jangan pernah bertengkar besok kemudian.
Ingat dulu, kalian pernah berjabat tangan.

Nak | sampai kapanpun kau adalah Nak.
Dan aku adalah Mak. Meski meminjam pada tuhan -

* Mkd Aan's
2014

Ketika |


Aku berbagi |
pada lelah dan gigil yang merambati
anak-anak embun, dan kabut-kabut 

Aku berbagi |
pada kicau burung, lonceng sapi dan sawah-sawah yang baru ditanami 

Aku berbagi |
pada diam, langkah kaki, dan derita yang hanya direkam sepi -


* Mkd Aan's

2014

Sepotong Senyum


Cobalah hidup |
Tak terkurung di sangkar masalah, 
Tak pula lelap di ladang kesalahan masa lalu,
Tak pula berlayar di ombak kecemasan masa depan,
Tak pula terus di kebiri diam

Cobalah hidup |
Cuma dengan senyum, cuma senyum
Sambil menanam bibit kebaikan
Insya_Alloh, Tuhan yang akan menyiramnya sendiri
Kelak, dimusim senyuman –

* Mkd Aan's
2014