Berbicara mengenai pendidikan anak, paling besar pengaruhnya adalah ibu. Di tangan ibu, keberhasilan pendidikan anak-anaknya, walau tentunya keikutsertaan bapak, tidak dapat diabaikan begitu saja. Ibu memainkan peran yang penting di dalam mendidik anak-anaknya, terutama masa balita. Pendidikan dalam keluarga di sini meliputi, pendidikan iman, moral, fisik/jasmani, intelektual, psikologis, dan sosial.
Peranan ibu di dalam mendidik anaknya dibedakan menjadi tiga, pertama, ibu sebagai pemenuh kebutuhan anak. Kedua, ibu sebagai suri teladan bagi anak. Terakhir, ibu sebagai pemberi motivasi bagi kelangsungan kehidupan anak.
Peranan ibu sebagai pemenuh kebutuhan bagi anak. Ini sangat penting terutama ketika dalam kebergantungan total terhadap ibunya, yakni berusia 0–5 tahun. Kemudian tetap berlangsung sampai periode anak sekolah, bahkan menjelang dewasa. Ibu perlu menyediakan waktu bukan saja untuk selalu bersama, tapi juga berinteraksi maupun berkomunikasi secara terbuka dan timbal balik dengan anaknya.
Pada dasarnya kebutuhan seseorang meliputi kebutuhan fisik, psikis, sosial, dan spiritual. Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lainnya. Psikis meliputi kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, diterima, dan dihargai. Sedangkan kebutuhan sosial akan diperoleh anak dari kelompok di luar lingkungan keluarganya.
Seorang ibu harus memberikan atau memuaskan kebutuhan anak secara wajar dan bertanggung jawab, tidak berlebihan maupun tak kurang. Pemenuhan kebutuhan anak secara berlebihan atau kurang akan menimbulkan pribadi yang kurang sehat di masa yang akan datang. Dalam memenuhi kebutuhan psikis anak, seorang ibu harus mampu menciptakan situasi yang aman bagi putra-putrinya. Ibu diharapkan dapat membantu anak apabila mereka menemui kesulitan-kesulitan. Perasaan aman anak yang diperoleh dari rumah akan dibawa keluar rumah, artinya anak akan tidak mudah cemas dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul.
Peranan Ibu sebagai suri teladan bagi anaknya. Dalam mendidik anak, seorang ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Mengingat bahwa perilaku orang tua, khususnya ibu, akan ditiru yang kemudian dijadikan panduan dalam perilaku anak, harus mampu menjadi teladan bagi mereka.
Kini, anak cenderung menjadikan ibu yang merupakan orang yang dapat memenuhi segala kebutuhannya maupun orang yang paling dekat dengan dirinya sebagai figur/contoh/teladan bagi sikap maupun perilakunya. Anak akan mengambil, kemudian memiliki nilai-nilai, sikap maupun perilaku ibu. Dari sini jelas bahwa perkembangan kepribadian anak bermula dari keluarga, dengan cara anak mengambil nilai-nilai yang ditanamkan orang tua baik secara sadar maupun tidak. Dalam hal ini hendaknya orang tua harus menjadi contoh yang positif bagi anak-anaknya.
Anak akan mengambil nilai-nilai, sikap maupun perilaku orang tua, tidak hanya apa yang secara sadar diberikan pada anaknya misal melalui nasihat, tapi juga dari perilaku orang tua yang tidak disadari. Kita sering melihat banyak orang tua yang menasihati anaknya tapi mereka sendiri tidak melakukannya. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak sepenuhnya mengambil nilai norma yang ditanamkan.
Jadi, untuk melakukan peran sebagai suri teladan, ibu sendiri harus sudah memiliki nilai-nilai itu sebagai milik pribadinya yang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Hal ini penting artinya bagi proses belajar anak-anak dalam usaha untuk menyerap apa yang ditanamkan. Sepatutnya, ibu tidak hanya bisa menyuruh dan interupsi terhadap anaknya, tapi mengajak langsung apa yang terbaik.
Di sini lah sosok ibu dituntut untuk terus meningkatkan kualitas dirinya dengan memperkaya sebanyak mungkin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sebagai modal awal dalam rangka keberhasilannya sebagai pemberi motivasi dalam mengantarkan kelangsungan hidup anak yang cerdas serta sukses. Dari uraian di atas, jelaslah kunci keberhasilan seorang anak di kehidupannya sangat bergantung peran ibu dalam memotivasi dan mendorong agar dapat mencapai cita-citanya. Sikap ibu yang penuh dengan kasih sayang, memberi kesempatan pada anak untuk memperkaya pengalaman, menerima, menghargai, dan menjadi teladan yang positif bagi anaknya, akan besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak. Jadi dapat dikatakan bagaimana gambaran anak akan dirinya ditentukan oleh interaksi yang dilakukan ibu dengan anak.
Menurut Baqir Sharif al-Qarashi (2003 :
64), bahwa para ibu merupakan sekolah-sekolah paling utama dalam
pembentukan kepribadian anak, serta saran, untuk memenuhi mereka dengan
berbagai sifat mulia, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. yang artinya:
“Surga di bawah telapak kaki ibu”, menggambarkan tanggung jawab ibu
terhadap masa depan anaknya. (Zakiyah Daradjat, 1995 : 50)
Dari segi kejiwaan dan kependidikan,
sabda Nabi di atas ditunjukan kepada para orang tua khususnya para ibu,
harus bekerja keras mendidik anak dan mengawasi tingkah laku mereka
dengan menanamkan dalam benak mereka berbagai perilaku terpuji serta
tujuan-tujuan mulia.
Wanita itu ibarat sekolah, jika kalian
mendidiknya dengan baik berarti kalian sedang mempersiapkan sebuah bangsa
dengan baik (Al hadist)
Wanita itu dengan tangan kirinya menggoyang
buaian, tangan kanannya menggoyang dunia
Wanita adalah tiang negara. Apabila kaum wanita yang ada
itu baik, maka baiklah negara itu. Dan apabila kaum wanita yang ada rusak maka
rusaklah negara
(ahlul Hikmah)
Surga itu ada
dibawah telapak kaki kaum ibu (Al hadist)
” Setiap bayi lahir dalam
keadaan fitrah (bertauhid). Ibu bapaknyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani
atau Majusi.”
Dalam menghadapi dampak negatif dari
perkembangan teknologi yang semakin canggih, para pendidik khususnya orang tua
dihadapkan tantangan yang amat berat, hal ini perlu disadari. Sebagai orang tua
juga pendidik, kita telah diingatkan oleh Allah SWT akan adanya anak turun yang
akan menjadi musuh-musuh bagi orangtuanya sendiri. Seperti yang difirmankan
Allah SWT
dalam At-Thagaabun: 14
“Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereke; dan jika kamu memaafkan dan
tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah maha Pengampun
lagi Maha Penyayang”.
Mendidik anak merupakan tugas yang
mulia yang diamatkan Allah SWT pada
orangtua agar anak-anaknya tidak terjerumus dalam lembah kesesatan, seperti
yang difirmankan Allah SWT dalam QS At-Tahrim: 6:
“Hai
orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan ahlimu dari siksa api neraka
PERAN
DAN TUGAS PEREMPUAN DALAM KELUARGA
Peran
dan tugas perempuan dalam keluarga
secara garis besar dibagi menjadi peran wanita sebagai ibu, ibu sebagai istri,
dan anggota masyarakat. Dalam kesempatan kali ini pembicaraan lebih ditekankan pada
tugas perempuan dalam membina kesehatan mental bagi dirinya, keluarganya maupun
masyarakatnya. Agar dapat melakukan peran atau tugasnya dengan baik, maka perlu
dihayati benar mengenai sasaran dan tujuan dari peran itu.
Di samping itu, perempuan harus
menguasai cara atau teknik memainkan peran atau melaksanakan tugasnya,
disesuaikan dengan setiap situasi yang dihadapinya. Sebagai ibu, pendidik
anak-anak perempuan harus mengetahui porsi yang tepat dalam memberikan
kebutuhan-kebutuhan anaknya, yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya.
Sikap maupun perilakunya harus dapat dijadikan contoh bagi anak-anaknya.
Sebagai seorang istri, wanita harus menumbuhkan suasana yang harmonis, tampil
bersih, memikat dan mampu mendorong suami untuk hal-hal yang positif. Sebagai
anggota masyarakat, wanita diharapkan peran sertanya dalam masyarakat.
Keberhasilan melakukan peran di
atas, tentunya bukan merupakan hal yang mudah, yang penting adalah kemauan dan
usaha untuk selalu belajar.
PERAN PEREMPUAN SEBAGAI IBU
Keluarga merupakan suatu lembaga
sosial yang paling besar perannya bagi kesejahteraan sosial dan kelestarian
anggota-anggotanya terutama anak-anaknya. Keluarga merupakan lingkungan sosial
yang terpenting bagi perkembangan dan pembentukan pribadi anak. Keluarga
merupakan wadah tempat bimbingan dan latihan anak sejak kehidupan mereka yang
sangat musa. Dan diharapkan dari keluargalah seseorang dapat menempuh
kehidupannya dengan masak dan dewasa.
Berbicara mengenai pendidikan anak,
maka yang paling besar pengaruhnya adalah ibu. Ditangan ibu keberhasilan
pendidikan anak-anaknya walaupun tentunya keikut-sertaan bapak tidak dapat
diabaikan begitu saja. Ibu memainkan peran yang penting di dalam mendidik
anak-anaknya, terutama pada masa balita. Pendidikan di sini tidak hanya dalam
pengertian yang sempit. Pendidikan dalam keluarga dapat berarti luas, yaitu
pendidikan iman, moral, fisik/jasmani, intelektual, psikologis, sosial, dan
pendidikan seksual.
Peranan ibu di dalam mendidik
anaknya dibedakan menjadi tiga tugas penting, yaitu ibu sebagai pemuas
kebutuhan anak; ibu sebagai teladan ataau “model” peniruan anak dan ibu sebagai pemberi
stimulasi bagi perkembangan anak.
1. Ibu sebagai sumber pemenuhan kebutuhan anak
Fungsi ibu sebagai pemuas kebutuhan ini sangat besar
artinya bagi anak, terutama pada saat anak di dalam ketergantungan total
terhadap ibunya, yang akan tetap berlangsung sampai periode anak sekolah,
bahkan sampai menjelang dewasa. Ibu perlu menyediakan waktu bukan saja untuk
selalu bersama tetapi untuk selalu berinteraksi maupun berkomunikasi secara
terbuka dengan anaknya.
Pada dasarnya kebutuhan seseorang meliputi kebutuhan fisik,
psikis, sosial dan spiritual. Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan
makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Kebutuhan psikis
meliputi kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, diterima dan dihargai. Sedang kebutuhan
sosial akan diperoleh anak dari kelompok di luar lingkungan keluarganya.
Dalam pemenuhan kebutuhan ini, ibu hendaknya memberi kesempatan bagi anak untuk
bersosialisasi dengan teman sebayanya. Kebutuhan spiritual, adalah
pendidikan yang menjadikan anak mengerti kewajiban kepada Allah, kepada
Rasul-Nya, orang tuanya dan sesama saudaranya. Dalam pendidikan spiritual, juga
mencakup mendidik anak berakhlak mulia, mengerti agama, bergaul dengan
teman-temannya dan menyayangi sesama saudaranya, menjadi tanggung jawab ayah
dan ibu. Karena memberikan pelajaran agama sejak dini merupakan kewajiban orang
tua kepada anaknya dan merupakan hak untuk anak atas orang tuanya, maka jika
orang tuanya tidak menjalankan kewajiban ini berarti menyia-nyiakan hak anak.
Hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
Rasulullah saw Bersabda: “Setiap
bayi lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid). Ibu bapaknyalah yang menjadikan
Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Seorang ibu harus memberikan atau memuaskan
kebutuhan anak secara wajar, tidak berlebihan maupun tidak kurang. Pemenuhan
kebutuhan anak secara berlebihan atau kurang akan menimbulkan pribadi yang
kurang sehat di kemudian hari.
Dalam memenuhi kebutuhan psikis anak,
seorang ibu harus mampu menciptakan situasi yang aman bagi putra-putrinya. Ibu
diharapkan dapat membantu anak apabila mereka menemui kesulitan-kesulitan.
Perasaan aman anak yang diperoleh dari rumah akan dibawa keluar rumah, artinya anak
akan tidak mudah cemas dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul.
Seorang ibu harus mampu menciptakan
hubungan atau ikatan emosional dengan anaknya. Kasih sayang yang diberikan ibu
terhadap anaknya akan menimbulkan berbagai perasaan yang dapat menunjang
kehidupannya dengan orang lain. Cinta kasih yang diberikan ibu pada anak akan
mendasari bagaimana sikap anak terhadap orang lain. Seorang ibu yang tidak
mampu memberikan cinta kasih pada anak-anaknya akan menimbulkan perasaan
ditolak, perasaan ditolak ini akan berkembang menjadi perasaan dimusuhi. Anak
dalam perkembangannya akan menganggap bahwa orang lainpun seperti ibu atau
orang tuanya. Sehingga tanggapan anak terhadap orang lain juga akan bersifat
memusuhi, menentang atau agresi.
Seorang ibu yang mau mendengarkan apa
yang dikemukakan anaknya, menerima pendapatnya dan mampu menciptakan komunikasi
secara terbuka dengan anak, dapat mengembangkan perasaan dihargai, diterima dan
diakui keberadaanya. Untuk selanjutnya anak akan mengenal apa arti hubungan di
antara mereka dan akan mewarnai hubungan anak dengan lingkungannya. Anak akan
tahu bagaimanacara menghargai orang lain, tenggang rasa dan komunikasi,
sehingga dalam kehidupan dewasanya dia tidak akan mengalami kesulitan dalam
bergaul dengan orang lain.
2.
Ibu sebagai teladan atau model bagi
anaknya.
Dalam mendidik
anak seorang ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Mengingat bahwa
perilaku orangtua khususnya ibu akan ditiru yang kemudian akan dijadikan
panduan dalam perlaku anak, maka ibu harus mampu menjadi teladan bagi
anak-anaknya. Seperti yang difirmankan Allah dalam:
Surat
Al-Furqaan ayat 74:
“Ya Tuhan
kami, anugerahkanlah kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang
hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi golongan orang-orang yang bertaqwa.”
Kalau kita perhatikan naluri orang tua seperti yang Allah firmankan dalam
Al Qur’an ini, maka kita harus sadar bahwa orang tua senantiasa dituntut untuk
menjadi teladan yang baik di hadapan anaknya.
Sejak anak lahir dari rahim seorang ibu, maka ibulah yang banyak mewarnai
dan mempengaruhi perkembangan pribadi, perilaku dan akhlaq anak. Untuk
membentuk perilakua anak yang baik tidak hanya melalui bil lisan tetapi
juga dengan bil hal yaitu mendidik anak lewat tingkah laku. Sejak
anak lahir ia akan selalu melihat dan
mengamati gerak gerik atau tingkah laku ibunya. Dari tingkah laku ibunya
itulah anak akan senantiasa melihat dan meniru yang kemudian diambil, dimiliki
dan diterapkan dalam kehiduapnnya. Dalam perkembangan anak proses identifikasi
sudah mulai timbul berusia 3 – 5 tahun. Pada saat ini anak cenderung menjadikan
ibu yang merupakan orang yang dapat memenuhi segala kebutuhannya maupun orang
yang paling dekat dengan dirinya, sebagai “model” atau teladan bagi sikap maupun perilakunya. Anak
akan mengambil, kemudian memiliki nilai-nilai, sikap maupun perilaku ibu. Dari
sini jelas bahwa perkembangan kepribadian anak bermula dari keluarga, dengan
cara anak mengambil nilai-nilai yang ditanamkan orang tua baik secara sadar
maupun tidak sadar. Dalam hal ini hendaknya orang tua harus dapat menjadi
contoh yang positif bagi anak-anaknya. Anak akan mengambil nilai-nilai, sikap
maupun perilaku orang tua, tidak hanya apa yang secara sadar diberika pada
anaknya misal melalui nasehat-nasehat, tetapi juga dari perilaku orang tua yang
tidak disadari. Sering kita lihat banyak orang tua yang menasehati anaknya
tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak
sepenuhnya mengambil nilai, norma yang ditanamkan. Jadi, untuk melakukan peran
sebagai model, maka ibu sendiri harus sudah memiliki nilai-nilai itu sebagai
milik pribadinya yang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Hal ini penting
artinya bagi proses belajar anak-anak dalam usaha untuk menyerap apa yang
ditanamkan.
3.
Ibu sebagi pemberi stimuli bagi
perkembangan anaknya
Perlu diketahui bahwa pada waktu
kelahirannya, pertumbuhan berbagai organ belum sepenuhnya lengkap. Perkembangan
dari organ-organ ini sangat ditentukan oleh rangsang yang diterima anak dari
ibunya. Rangsangan yang diberikan oleh ibu, akan memperkaya pengalaman dan
mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Bila pada
bulan-bulan pertama anak kurang mendapatkan stimulasi visual maka perhatian
terhadap lingkungan sekitar kurang. Stimulasi verbal dari ibu akan sangat
memperkaya kemampuan bahasa anak. Kesediaan ibu untuk berbicara dengan anaknya
akan mengembangkan proses bicara anak. Jadi perkembangan mental anak akan
sangat ditentukan oleh seberapa rangsang yang diberikan ibu terhadap anaknya.
Rangsangan dapat berupa cerita-cerita, macam-macam alat permainan yang edukatif
maupun kesempatan untuk rekreasi yang dapat memperkaya pengalamannya.
Dari apa
yang dikemukakan di atas jelaslah bahwa kunci keberhasilan seorang anak di
kehidupannya sangat bergantung pada ibu. Sikap ibu yang penuh kasih sayang,
memberi kesempatan pada anak untuk memperkaya pengalaman, menerima, menghargai
dan dapat menjadi teladan yang positif bagi anaknya, akan besar pengaruhnya
terhadap perkembangan pribadi anak. Jadi dapat dikatakan bahwa bagaimana
gambaran anak akan dirinya ditentukan oleh interaksi yang dilakukan ibu dengan
anak. Konsep diri anak akan dirinya positif, apabila ibu dapat menerima anak
sebagaimana adanya, sehingga anak akan mengerti kekurangan maupun kelebihannya.
Kemampuan seorang anak untuk mengerti kekurangan maupun kelebihannya akan
merupakan dasar bagi keseimbangan mentalnya.
PERAN WANITA
SEBAGAI ISTRI PENDAMPING SUAMI
Berbicara masalah peran ibu sebagai
istri pendamping suami tentunya tidak lepas dari peran ibu sebagai ibu rumah
tangga. Tetapi ada baiknya dilihat beberapa peran yang pokok seorang wanita
sebagai pendamping suami.
1. Istri sebagai teman/partner hidup
Pengertian teman di sini mempunyai arti adanya kedudukan
yang sama. Istri dapat menjadi teman yang dapat diajak berdiskusi tentang
masalah yang dihadapi suami. Sehingga apabila suami mempunyai masalah yang
cukup berat, tapi istri mampu memberikan suatu sumbangan pemecahannya maka
beban yang dirasakan suami berkurang. Disamping itu sebagai teman menandung
pengertian jadi pendengar yang baik. Selama di kantor suami kadang mengalami
ketidak-puasan atau perlakuan yang kurang mengenakkan, kejengkelan-kejengkelan
ini dibawanya pulang. Di sini istri dapat mengurangi beban suami dengan cara
mendengarkan apa yang dirasakan suami, sikap seperti ini dapat memberi
ketenangan pada suami.
2. Istri sebagai penasehat yang
bijaksana
Sebagai manusia biasa suami tidak dapat luput dari
kesalahan yang kadang tidak disadarinya. Nah, di sini istri sebaiknya
memberikan bimbingan agar suami dapat berjalan di jalan yang benar. Selain itu
suami kadang menghadapi masalah yang pelik, nasehat istri sangat dibutuhkan
untuk mengatasi masalahnya.
3. Istri sebagai pendorong suami
Sebagai manusia, suami juga masih selalu membutuhkan
kemajuan di bidang pekerjaannya. Di sini peran istri dapat memberikan
dorongan atau motivasi pada suami. Suami diberi semangat agar dapat mencapai
jenjang karier yang diinginkan, tentunya harus diingat
keterbatasan-keterbatasannya. Artinya istri tidak boleh yang terlalu ambisi
terhadap karir atau kedudukan suami, kalau suami tidak mampu jangan dipaksakan,
hal ini akan menimbulkan hal-hal yang negatif.
Pada prinsipnya dari apa yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa
peran istri sebagai pendamping suami dapat sebagai teman, pendorong dan
penasehat yang bijaksana. Dan yang paling penting bahwa semua peran itu dapat
dilakukan dengan baik apabila ada keterbukaan satu sama lain, kerjasama yang
baik dan saling pengertian.
Demikianlah sekelumit pokok-pokok yang dapat dijadikan pengetahuan bagi
ibu-ibu dalam melakukan perannya di dalam keluarga. Insya Allah, keluarga kita
semua menjadi keluarga Sakinah. Amin -
*Untuk Bacaan, disarikan dari beberapa sumber.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar