Pahlawan dongeng dari benang
fajar
Yang disering dikisahkan
burung-burung.
Yang memainkan nyanyian celoteh
matahari
Saat aku menangis, merengek,
minta susu tengah malam
Ibu
Biarkan aku berjalanlan, menerjang, dan mengarungi ombak kehidupan,
Seperti dulu saat kau ajarkanku
mengunyah bubur pisang
Tapi jangan tinggalkan aku
sendirian lagi . .
Karena bila aku terjatuh, dan
tersandung dalam lobang lumpur hitam
Hanya air matamu lah yang jadi
penenang dan penerang
Jadi obat mujarab di
detik-detik kekalahan
Ibu
Akulah kelelawar hitam kecilmu
Yang terbang kesana kemari mencari kepuasan buah kesengsaraan
Dan bila aku telah lelah, ku hanya ingin
dirimu, ibu . .
Beringin besar, tempat ku bergelantungan
saat malam
Tempat teraman, dari hewan buas dan
kedinginan.
Jika aku buat
Lautan dalam bibirmu meluap dahsyat
Menjadi riak-riak magma pijar
Aku tau ibu! Itulah riak wangi kelopak
seroja mekar
Yang jadi kunci kekuatan serta tumpuhan
Walau seribu orang bilang baunya
menyeramkan laksana kemenyan.
Ibu
Bolehkah aku menangis ?, membacakan doa riwayat nabi tercinta
Tuk putihkan mata yang telah lama ternoda
Hingga putih kapas kuraih kembali
Melalui wajahmu yang nampak bagai bidadari
Dan setidaknya, dengan ini ibu . .
Kau tahu bahewa aku selalu memujamu
Membawa rangkaian cinta
Yang tak pernah basi hingga dihinggapi kupu
bersayap bahagia
Ibu
Ini lah kuntum doa dari anakmu
Yang akan selalu mekar, mewangi dan tak pernah sepi
Hingáp terus dihidung menari-nari
agar tiap hari dirimu kukenang
Bagai kumbang yang tak henti menuai madu pengharapan
Mengantarkanku kegerbang yang tak pernah mengnal kata

Tidak ada komentar:
Posting Komentar