Minggu, 02 Februari 2014

Ibu

Engkau kah itu ?
Pahlawan dongeng dari benang fajar
Yang disering dikisahkan burung-burung.
Yang memainkan nyanyian celoteh matahari
Saat aku menangis, merengek, minta susu tengah malam

Ibu
Biarkan aku berjalanlan, menerjang, dan mengarungi  ombak kehidupan,
Seperti dulu saat kau ajarkanku mengunyah bubur pisang
Tapi jangan tinggalkan aku sendirian lagi . .
Karena bila aku terjatuh, dan tersandung dalam lobang lumpur hitam
Hanya air matamu lah yang jadi penenang dan penerang
Jadi obat mujarab di detik-detik kekalahan

Ibu
Akulah kelelawar hitam kecilmu
Yang terbang kesana kemari mencari kepuasan buah kesengsaraan
Dan bila aku telah lelah, ku hanya ingin dirimu, ibu . .
Beringin besar, tempat ku bergelantungan saat malam
Tempat teraman, dari hewan buas dan kedinginan.

Jika aku buat
Lautan dalam bibirmu meluap dahsyat
Menjadi riak-riak magma pijar
Aku tau ibu! Itulah riak wangi kelopak seroja mekar
Yang jadi kunci kekuatan serta tumpuhan
Walau seribu orang bilang baunya menyeramkan laksana kemenyan.

Ibu
Bolehkah aku menangis ?, membacakan doa riwayat nabi tercinta
Tuk putihkan mata yang telah lama ternoda
Hingga putih kapas kuraih kembali
Melalui wajahmu yang nampak bagai bidadari
Dan setidaknya, dengan ini ibu . .
Kau tahu bahewa aku selalu memujamu
Membawa rangkaian cinta
Yang tak pernah basi hingga dihinggapi kupu bersayap bahagia

Ibu
Ini lah kuntum doa dari anakmu
Yang akan selalu mekar, mewangi dan tak pernah sepi

Hingáp terus dihidung menari-nari 

agar tiap hari dirimu kukenang
Bagai kumbang yang tak henti menuai madu pengharapan
Mengantarkanku kegerbang yang tak pernah mengnal kata
Kekalahan -

* Mkd Aan's
2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar