Rabu, 08 Januari 2014

Tanapore

Kukulum penglihatanku pada ibu langit
Saat musim menyulam angin menjadi debu-debu
Serupa rambut genderuo
Dan tanah tanah melompat seperti piring-piring pecah
Tak menemui ruang kecil di tangan tangan kurusmu
Sekedar untuk hinggap.
Inikah wajah kerontangmu ?
Serupa dengan tanduk-tanduk mercusuar bukit-bukit
Yang melilit petak-petak tanpa embun hijau pagi
Sinar primadona langit mu tak henti menyengat
Hingga tubuhmu menyusut kerut
Serupa suntikan tetanus ibu dokter yang tak kunjung sembuh
Dan melihatmu kembali tanapore ?
Sepanjang jalur naik turun lorong-lorong bambu alas
Aku menemukan nada parau teriakan tanpa tangisan
Dalam perut sumur tua yang kosong
Menyuarakan instrument kehidupan yang berakhir minor
Adakah laut menyisir benang benang menuju kain pantai ?
Bila punggung mu terlalu tinggi untuk didaki
Dan nyawanya terlalu kering untuk di tiupi
Melenjana perawan desa dipelenting galau anak muda zaman sekarang
Mereka tegar.
Dan menatapi wajahmu kini tanapore !
Nafasku seumpama sirene tak berbunyi
Karena aku hanya penonton
Yang tangannya hanya meneriaki bunyi drum-drum tua
Karena goyangan pinggulnya tak menghasilkan percik
Keringat-keringat air
Dan diperaduan aku berbisik
Lalu menengadah !
Lewat mimpi istisqo’ bulan tua
Sampai serabut pisang terlentang ditanah-tanah kadaluarsa musim
Hingga tubuh anakmu hitam serupa daun-daun serakan jati
Dan aku hampir menemukan obat sakitmu
TANAPORE’’
Dipangkuan siang
Diatas awan-awan yang menghitam
Yang entah kapan akan jatuh
Meng-akhir-i semuanya

*Mkd Aan's
2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar