Saat
musim menyulam angin menjadi debu-debu
Serupa
rambut genderuo
Dan
tanah tanah melompat seperti piring-piring pecah
Tak
menemui ruang kecil di tangan tangan kurusmu
Sekedar
untuk hinggap.
Inikah
wajah kerontangmu ?
Serupa
dengan tanduk-tanduk mercusuar bukit-bukit
Yang
melilit petak-petak tanpa embun hijau pagi
Sinar
primadona langit mu tak henti menyengat
Hingga
tubuhmu menyusut kerut
Serupa
suntikan tetanus ibu dokter yang tak kunjung sembuh
Dan
melihatmu kembali tanapore ?
Sepanjang
jalur naik turun lorong-lorong bambu alas
Aku
menemukan nada parau teriakan tanpa tangisan
Dalam
perut sumur tua yang kosong
Menyuarakan
instrument kehidupan yang berakhir minor
Adakah
laut menyisir benang benang menuju kain pantai ?
Bila
punggung mu terlalu tinggi untuk didaki
Dan
nyawanya terlalu kering untuk di tiupi
Melenjana
perawan desa dipelenting galau anak muda zaman sekarang
Mereka
tegar.
Dan
menatapi wajahmu kini tanapore !
Nafasku
seumpama sirene tak berbunyi
Karena
aku hanya penonton
Yang
tangannya hanya meneriaki bunyi drum-drum tua
Karena
goyangan pinggulnya tak menghasilkan percik
Keringat-keringat
air
Dan
diperaduan aku berbisik
Lalu
menengadah !
Lewat
mimpi istisqo’ bulan tua
Sampai
serabut pisang terlentang ditanah-tanah kadaluarsa musim
Hingga
tubuh anakmu hitam serupa daun-daun serakan jati
Dan
aku hampir menemukan obat sakitmu
TANAPORE’’
Dipangkuan
siang
Diatas
awan-awan yang menghitam
Yang
entah kapan akan jatuh
Meng-akhir-i
semuanya
*Mkd Aan's
2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar