''Kata orang nama adalah
sebuah doa '' namun bagiku tak lebih dari sebuah goresan kata yang menjadi
sosok pada setiap pemilik nama .
namun
dunia takkan lagi menusuk urat-urat nadiku dunia takkan lagi menghentikan elegi
langkahku. Karna aku berkuasa atas diriku sendiri tak ada satupun yang biasa
mematahkan keinginan, terlebih- lebih langkahku. Aku akan bebas pergi berlari,
kemanapun kaki ini mau melangkah. Karna tak ada lagi yang mematahkan sendi di
kaki ku , aku tak kan tertusuk duri lagi. Karena namaku adalah duri.. ingat itu
baik-baik….
NOTE : Entah
mengapa ? aku sangat menginginkan kaki ini melangkah dan terus melanhgkah.
Barangkali mungkin kaki dan batin ini merasa terkurung. Terkekang oleh
hutang-hutang ayah .yang harus membuat aku bekerja dan bekerja jadi kuli
bangunan. ah rasanya otot di sekujur tubuhku kuat mengelahkan besi yang
memagari rumah orang kaya .
Kalau saja tubuh ini buatan manusia munkin
akan hancur laksana hancurnya bangunan yang sudah-sudah. Tapi aku tidak peduli
buatan siapa tubuhku ini, yang aku tahu aku tercipta dengan kulit putih, mata
setajam tatapan mata elang,wajah tampan membidik siapapun yamg melihat kecuali
segerombolan penagih hutang ayah sering kali mereka menatapku sinis . Aku kena
getah utang ayah .rupanya aku juga ikut di benci. "siapa tak berani ?"aku juga balik
menatap sinis,karna diriku duri yang tak mungkin tertusuk…
NOTE: Alasanku
ingin pergi dari bayang-bayang ayah,.hanya saja aku tak ingin di jejaki oleh
mata ayah yang sipit, Juga di buru para penagih utang, aku muak dengan ayah
sebagai seorang laki-laki yang membuatku ada. Dia tak kuasa memberikan sesuatu
hal yang layak untuk anaknya ini"Aku benci ayah" dia lemah, cengeng
kulitnya hitam sering kali ia menggulirkan air mata seenaknya. padahal aku tak
suka tingkahnya muak aku benar-benar muak melihat kerutan di matanya, aku muak
setiap gerak tubuhnya, kalau saja ayahku bukan dia tapi pak gubernur munkin aku
takkan membaca setiap alenia penderitaan dunia. Ya ! memang lebih pantas jadi
anak gubernur, karna diwajahku tak ada bekas yang menyudutkan aku sebagai anak
ayah yang cengeng, hitam….ah.. Ayah.. ayah mengapa enkeu mesti ayahku ….
NOTE: panas
mata hari amat terik di siang hari melusuhkan ranting-ranting dedaunan hingga
kering kerontang akhirnya jatuh, aku harus kuat, langkahku tak boleh lunglai.
Aku tak ingin seperti siapa-siapa yang lemah. Aku tak mau semisal ayah yang
lemah sering kali ia menghindari terik matahari, padahal ia harus bekerja dan
bekerja. Sedangkah aku melakukannya dengan sangat melelahkan, aku harus kuat,
langkahku tak boleh berhenti sampai disini "Aku…ah" tenggorokan ku
tercekat gersang
aku
tak begitu kuat menahan energi mata hari sendi
tulang di kaki tak sekokoh kaki langit aku mulai lemah,aku butuh cairan
yang menguatkan pembuluh darahku,sebelum serupa dedaunan yang runtuh sebelum
serupa denagan orang yang lemah missal ayah).lemahku semakin melelahkan
tubuh.seperti aku tak mampu lagi mengayuh langkah untujk yang kesekian,
pembuluh darah ku ciut,tak bergeming .
NOTE: malam
ini aku melangkah gusar,saat dingin membekuk tubuh ,rasanya tubuhku sudah jadi
batangan es jikalau aku adalah cairan serupa air.langkah demi langkah ku
terobos kegelapan malam walau terasa perih digores Batang kering.Aku harus
cepat melangkah,tak boleh gemang,sekkali lagi ku katakan pada hati ku "aku
bukan laki-laki yang lemah aku harus berani melangkah,walu hatiku tak ingin
.Demi ayah,walau ia tak dapat melakukan
sesuatu yang baiik untukku.
Di
ujung kelihatan rumah pak kadir dengan sorotan lampu tl aku terus melangkah
kesana,kebaranian diri walau tak ingin,ku ucapkan salam,
memanggil pak kadir, penadah sekaligus saudagar padi di kampong kami.ingin
mengutarakan niaatku,meminjam uang darinya,ayah sakit terbaring lemah di atas
tikar,aku harus lagi meminjam dan meminjam karma tubuh lemahnya yang
sakit-sakitan ,ah aku muak ...! benar-benar muak dengannya.
way buka pintunya,kalau tidak kami akan dobrak,!!! Suara lantang memecah
keheningan malam berikutnya.dingin menembus tulang" kalian pikir,kalian
ini siapa!dasar orang miskin.beraninya tidak bayar hutang,memang itu punya
nenek muyang kalian,kalau kayak begini mau bayar pakek apa orang miskin seperti
kalian"suara lelaki bertubuh kekar marah sambil mengumpat-umpat kedalam
rumah"Aku terbantgun tak percaya penagih utang itu datang kembali
sedangkan lelaki tua itu terpungkur diatas papan beralas tikar,aku memandangnya
kecut ,kaki ku langkah kan walau berat menuju pintu "Dor…dor!!!!" buka pintunya"
terdengar lagi teriakan di belakang pintu.kubuka pelan,mereka menatapku sinis
"apa yang kalian mau?" ucapakan kku sedikit membentak,mereka men
jawab melototku ,membelakangi seluruh
badanku "kau mau tau mau kami"seorang di antaramereka menjawab
''Buughh''…! satu pukulan keras mendarat .Aku meronta menahan sakit mereka
terus memukulku dengan tangan mereka
yang berotot.Anak buah pak kadir kurebah kan telapak tangan ku keperut
menetralisir rasa sakit yang mengerang di bagian anggota tubuhku yang
lain.lunglai tubuhku menahan pukulan mereka.Aku di keroyok berempat lelaki
berkaus hitam dan jakit kulit seketika tubuhku ambruk ketanah.sekali mereka
menendang tubuhku .salah satu dari mereka masuk kedalam rumah mengobbrak abrik
barang-barang dalam rumahmelampiskan amarah mereka.kudengar berulang-ulang kali
memaki kami.sambil memporak porandakan isi rumah.Kepalaku terasa berat,ah,aku
mulai tak kuat,tiba-tiba aku ingat ayah..Apa yang terjadi dengannya
"pikirku singkat ku coba gerakkan tubuh agar otot ini bekerja,namun
rasanya mustahil terlalu sakit tubuh ini,kurasakan air mataku turun menetesi
pipiku.tidak.. aku tidak boleh cengeng hanya karna ayah semua ini karna
ayah.Ya! karna kemiskinanya aku tak berhak menangis atas semuja ini
"mereka berhenti.kurasa mereka puas menyakliti kami mereka keluar dengan
senyum mengembang.melangkahi tubuhku.puas,tapi belum puas mereka
meludah,wajahku.aku benar-benar muak dengan hidupku………….!
NOTE: Rasanya
aku sudah bosan hidup melarat,aku tak kuat terbelit kemiskinan seperti ini
setiap hari harus bergeliat dengan ketakutan penagih hutang.hidupku rasanya tak
tenang pagi ini amarah memuncak. Sejak kejadian malam itu rasanya aku sudah tak
ingin lagi mengenal siapa itu ayah . hal itu memulai pertengkaran ku dengan ayah.
Aku tak ingin di bayang-bayangi hutang-hutang ayah" apa salah ayah nak.
Ayah memang miskin tapi ingi kamu bersabar " ratapnya meredakan
kemarahanku selalu mengiang dalam telinga. Sapai kapan aku harus bersabar ?
menunggu langit akan runtuh kah ? paikiku singkat. Rasanya kepala ku sudah
melai pecah. Akhirnya hari ini putus kan untuk pergi….jauh dari bayang-bayang
ayah dan penagih utangnya. aku ingin membuktikan bahwa aku tidak seperti ayah
yang lemah dan tak bisa melakukan apa-apa untuk anaknya. Aku tidak mau hidub ku
di penuhi dengan mengeluh
NOTE: Langit
mendung awan marah gerimis menghujani dedaunan kering yang jatuh ke tanah.
Sudah hampir sebulan aku pergi dari tatapan atas mata sipit ayah. Sekarang aku
bekerja meski jadi kuli angkut di pasar. Tapi pekerjaan ini dapat menghidupi
diriku setidak nya tanpa bayang-bayang ayah dan para penagi utang ayah. Dari
pekerjaan ini aku bertemu dengan laras. Wanita yang mampu mengisi relung hatiku
darinya aku dapat memperoleh arti hidup sesungguhnya aku sangat mencintainya ia
godai hidup ku ia hidup sebatang kara tampa adanya ayah dan ibu mereka
mengalami kecelakaan saat masih kecil. Kemudian laras di asuh oleh pamannya
lima tahun yang lalu paman laras meninggal setelah tau istrinya berselingkuh
dengan teman akrabnya sendiri malang benar nasib laras , apa yang terjadi pada
laras, tidak ada apa-apanya dengan apa yang aku alami, aku…..apakah aku harus merasa bersalah,
"ayah.!"mengapa tiba-tiba aku ingat ayah. Apakah akun salah tentang
perlakuan ku pada ayah selama ini. rasanya berat aku mengiat-ngiat
semuanya.pikiran ini rasanya macet, darah ku.!! Rasanya makin berdesir kencang aku menyesal, benar-benar menyesal telah memperlakukan ayah dengan
kasar ;Oh..ayah…aku rindu ayah….aku rindu air mata mu….
NOTE: Siang
ini juga aku akan pulang ke kampung halaman.tempat dimana ayah ku ada di sana. Tak peduli pembuluh nadi ini
merasa takut akan para penagih hutang ayah. Langkah ku kini tak goyah memapaki
ratusan hektar daun-daun padi yang menyangat kaki ini meski kadang harus menyisahkan
rasa gatal di kaki.
Aku harus melangkah menghitung
berapa banyak lagi kaki ini harus menyisahakan rasa gatal di kaki aku terus melagkah menghiytung berapa banyak
lagi kaki ini harus melangkah untuk mempertemukan aku dengan ayah untuk yang
kesekian kali . tubuh ku guntai serupa dengan padi-padi yang segera ingin
berbiji dan dipanen. Celana jeansku basah karena percikan air sawah yang
mengalir. Langkahku setengah berlari memijaki ilalang liar. Terik mentari
disimpan awan. Namun keringat muncul melalui pori-pori. Hingga kulitku kering
akibat sengatan matahari yang tengah marah. Marah pada padi-padi penduduk yang
belum juga ada tanda-tanda untuk menguning menunduki Lumpur basah.
NOTE: Siang
itu langkahku terhenti. Mataku menatap gubuk yang yang pernah memberikurasa
aman dalam remang-remang malam.
Pikiranku
terpaku kaku memijaki halaman rumah yang
becek tegenang air hujan. Langkahku memang terhenti tercekat terik. Tiba-tiba
lamunanku buyar sosok Ayah terbayang beterbangan dipelupuk mata. Tapi kemana
bayangan itu berlabuh ?kutatap gubuk yang pernah aku tempati itu kosong,
menjelma menjadi kandang kambing. Kemana ayah ? pikiranku mengambang melumat
keadaan. Rintih ku makain sulit dimana tak kutemui raut wajah ayah itu. Kakiku
kulangkahkan gamangmenghampiri rumah Mbok Parmi yang tak jauh dari gubuk tempat
ayah kini tak kutemukan. Tanpa aku tahu, Mbok Parmi menatapku dengan sorotan
tajam. Mungkin ia tau dimana ayah sekarang berada karena ia satu-satunya teman
dan tetangga ayah yang baik terhadap kami . mungkin ia tau semua apa yang
terjadi semenjak aku pergi.
''Mbok kemana ayah ? dimana
mbookk…!!'' tanyaku pada mbok Parmi.
Yang kini diam mematung . ''jangan panggil dia ayah ''Mbok Parmi membentak ''apa maksud Mbok Parmi ? '' ''kalau aku telah meninggalkan ayah aku mohon
maaf Mbok !! aku Khilaf, sungguh aku tak ingin membuat ayah sengsara''
ungkapku ''tapi ia telah pergi Duri !!,
kamu telah meninggalkannya Duri ,kamu menusuiknya nak kamu tak tahu diri, kamu
telah menyakiti perasaannya , kau takk tau diuntung ayahmu sudah merawatmu
bertahun-tahun dengan kasih sayang, dengan menganggap kamu seperti anaknya
sendiri inikah balasanmu kepadanya ?.'' isak Mbok parmi. Air matanya mengucur
deras, akun tersentak kaget ''apa maksudmu Mbok ??'' ''lalu aku anak siapa ?'' tangisku menetes
tak tertahan. Mbok parmi diam.
Terisak akan tangis yang membendung
tangis. telunjuknya ia sematkan diatas hidung agar mengurangi isak tangisnya.
''jawab Mbok ayah itu ayahku kah ??'' tanyaku mengambang , diam angina
mengibas-ngibaskan air mata ku, Tanyakupun diam…
''Saat itu malam sangat gelap, dingin
mengunci keringat keluar lewat pori-pori.bahkan tebal jaket kulitpun tak dapat
rasa dingin itu. Pak direktur itu
datang dengan sejuta misteri nak !! Ia menghampiri seorang satpam yang sedang
berjaga. Ia datang dengan membawa bayi merah. Ia terlihat takut kemudian
memberikan bayi itu kepadanya. Sebelum
ia beranjak ia juga memberikan sejumlah uang dan pergi begitu saja tak ada
sepatah katapun yang tersisa kecuali satpam tersebut dipecat dari pekerjaannya.
Ia harus pergi jauh membawa bayin terse4but , ia harus segera pergi
tak adsa pilihan lain. Taukah kmu siapa bayi itu, itu adalah hasil hubungan
gelap dengan seorang sekertaris kantornya. Bayi itu kau duri kau adalah bayi
yang tak pernah diinginkan oleh orang tuamu nak, dan ayahmu lah yang telah
merawat mu dengan kasih sayangnya!'' Kilat menggelegar wlau masih melirik
ubun-ubun yang membuat panas,kata-kata embok pami terhenti air mata .turun
marah seperti pukulan tetesan hujan aku tersentak air mata menites.
Oh Tuhan
Aku menyesal maafkan aku ayah
NOTE: Angin
malam berhembus lepas lirih membuat bulu kuduk berdiri merinding kulangkahkan
kaki goyah memijaki jalan beraspal kota mengukur meter lagi yang mesti ku
tempuh untuk temukan ayah "cari ayah mu Duri jangan biarkan dia pergi dia
menyayangimu nak munkin dia kekota menyusulmu dia tadak tahan kau tinggalkan
lalu ayah mana lagi yang akan enkau cari" batinku bergejolak
lagi.Kata-kata bok parmi masih terdengar lekat di pikiranku ah rasanya mulai
lemas aku butuh cairan yang dapat menguatkan tubuhku melangkah.Aku tak boleh
kalah kaki mesti gontai seperti tanaman padi di sawah walau dingin
menyerang seperti serangan pipit sawah menghampiri bulir-bulir
padi"Ayo duri langkahkan kaki mu cepat kalimat itu bergejolak lagi ketika
tubuhku lemah
NOTE: kaki
ini terus berlari hingga memijaki tanah yang makin basah dengan air mata yang
terus mengucur derasberontak tak lama sebuah mobil ambulan melaju kencang searah dengan ku perasaanku hambar entah apa
yang terjadi tubuhku menggigil rasanya aku tak kuat melangkah lagi ku tatap
sekelilingku semua orang berhamburan jalan jadi macet ambulan itu berhenti
seorang pengguna jalan tertabrak tiba-tiba badanku rasa menggigil sebuah
pirasat mengaliri uarat saraf seperti ikatan benang merah aku terinagt
ayah.langkahku cepat menuju kerumunan orang,mencoba melihat siapa yang
terttabrak kurasakan nadiku terhenti mengalirkan darah, Jantung tercekat
lambat"darah amis itu ucapku dalam hati. Kulihat wajah ayah tak berdaya ia
tersyum namun takkurasda senyumnya mengembang ayah jangan pergi teriakku tangis
tertahan kupeluk tubuhnya yang sudah tak bernyawa air mataku mengalir deras
menyimari darah amis ayah yang kusakiti"ini duri ayah duri menta maaf duri
ingin lihat senyum ayah tangisku pecah dingin yang menghambus tullang,darah
amis adalah tanda perpisahan ku dengan ayah ini semua gara-gara perbuatanku
malam itu terakhir kali kulihat sosok seorang ayah yang takkan pernah
tergantikan ayah manapunwalau ayah kandungku sendiri ayah yang sudah tega membuang
anaknya demi sebuah kekayaan tangisku pecah dadaku sesak seperti tertusuk duri duri
yang aku buat sendiri yang memisahkan antara dengan ayah yang mencintaiku jiwa
dan raganya
Sore dibawa bangau terbang kearah
selatan. Air mata laras menetes dadanya bergumuruh hebat dia tak kuasa menahan
butiran air mata di kelopak matanya, dia tak bisa, sesak, sulit bernapas lega
ia menatap wajah suaminya,Duri yang kini setres karna goncangan difikarannya
Duri masuk rumah sakit jiwa air mata Laras menetes lagi,menetesi buku harian
duri yang sudah di bacanya kemudian ia simpan kembali kedalam tas merah mudanya.
*Mkd Aan's
2011

Kami menawarkan pinjaman organisasi hukum yang diciptakan untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan,
BalasHapusbantuan keuangan. Jadi jika Anda mengalami kesulitan keuangan atau
Anda berada dalam kekacauan keuangan dan Anda perlu dana untuk memulai bisnis Anda sendiri
atau Anda membutuhkan pinjaman untuk melunasi utang atau membayar tagihan, memulai bisnis yang baik
atau mengalami kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank lokal, hubungi kami hari ini oleh
E-mail: frankwoodloan@gmail.com
Jadi jangan lewatkan kesempatan ini.
Bagi pemikiran serius dan takut akan Allah orang.
KREDIT APLIKASI
Nama: _______
Alamat: _______
Sandi: _______
Negara: _______
Pekerjaan: _______
permintaan loan________
durasi loan________
Penghasilan: _______
Telepon: _______
Silahkan hubungi kami melalui email kami:
E-mail: frankwoodloan@gmail.com