Selasa, 07 Januari 2014

Buku Harian Duri

NOTE :   Namaku duri, engkau mesti tahu… sengaja kuperkenalkan namaku pada dunia agar tau. 
                     ''Kata  orang nama adalah sebuah doa '' namun bagiku tak lebih dari sebuah goresan kata yang menjadi sosok pada setiap pemilik nama .
               namun dunia takkan lagi menusuk urat-urat nadiku dunia takkan lagi menghentikan elegi langkahku. Karna aku berkuasa atas diriku sendiri tak ada satupun yang biasa mematahkan keinginan, terlebih- lebih langkahku. Aku akan bebas pergi berlari, kemanapun kaki ini mau melangkah. Karna tak ada lagi yang mematahkan sendi di kaki ku , aku tak kan tertusuk duri lagi. Karena namaku adalah duri.. ingat itu baik-baik….
NOTE :  Entah mengapa ? aku sangat menginginkan kaki ini melangkah dan terus melanhgkah. Barangkali mungkin kaki dan batin ini merasa terkurung. Terkekang oleh hutang-hutang ayah .yang harus membuat aku bekerja dan bekerja jadi kuli bangunan. ah rasanya otot di sekujur tubuhku kuat mengelahkan besi yang memagari rumah orang kaya .
Kalau saja tubuh ini buatan manusia munkin akan hancur laksana hancurnya bangunan yang sudah-sudah. Tapi aku tidak peduli buatan siapa tubuhku ini, yang aku tahu aku tercipta dengan kulit putih, mata setajam tatapan mata elang,wajah tampan membidik siapapun yamg melihat kecuali segerombolan penagih hutang ayah sering kali mereka menatapku sinis . Aku kena getah utang ayah .rupanya aku juga ikut di benci.  "siapa tak berani ?"aku juga balik menatap sinis,karna diriku duri yang tak mungkin tertusuk…
NOTE:   Alasanku ingin pergi dari bayang-bayang ayah,.hanya saja aku tak ingin di jejaki oleh mata ayah yang sipit, Juga di buru para penagih utang, aku muak dengan ayah sebagai seorang laki-laki yang membuatku ada. Dia tak kuasa memberikan sesuatu hal yang layak untuk anaknya ini"Aku benci ayah" dia lemah, cengeng kulitnya hitam sering kali ia menggulirkan air mata seenaknya. padahal aku tak suka tingkahnya muak aku benar-benar muak melihat kerutan di matanya, aku muak setiap gerak tubuhnya, kalau saja ayahku bukan dia tapi pak gubernur munkin aku takkan membaca setiap alenia penderitaan dunia. Ya ! memang lebih pantas jadi anak gubernur, karna diwajahku tak ada bekas yang menyudutkan aku sebagai anak ayah yang cengeng, hitam….ah.. Ayah.. ayah mengapa enkeu mesti ayahku ….
NOTE:   panas mata hari amat terik di siang hari melusuhkan ranting-ranting dedaunan hingga kering kerontang akhirnya jatuh, aku harus kuat, langkahku tak boleh lunglai. Aku tak ingin seperti siapa-siapa yang lemah. Aku tak mau semisal ayah yang lemah sering kali ia menghindari terik matahari, padahal ia harus bekerja dan bekerja. Sedangkah aku melakukannya dengan sangat melelahkan, aku harus kuat, langkahku tak boleh berhenti sampai disini "Aku…ah" tenggorokan ku tercekat gersang
               aku tak begitu kuat menahan energi mata hari sendi  tulang di kaki tak sekokoh kaki langit aku mulai lemah,aku butuh cairan yang menguatkan pembuluh darahku,sebelum serupa dedaunan yang runtuh sebelum serupa denagan orang yang lemah missal ayah).lemahku semakin melelahkan tubuh.seperti aku tak mampu lagi mengayuh langkah untujk yang kesekian, pembuluh darah ku ciut,tak bergeming .
NOTE:   malam ini aku melangkah gusar,saat dingin membekuk tubuh ,rasanya tubuhku sudah jadi batangan es jikalau aku adalah cairan serupa air.langkah demi langkah ku terobos kegelapan malam walau terasa perih digores Batang kering.Aku harus cepat melangkah,tak boleh gemang,sekkali lagi ku katakan pada hati ku "aku bukan laki-laki yang lemah aku harus berani melangkah,walu hatiku tak ingin .Demi ayah,walau ia tak  dapat melakukan sesuatu yang baiik untukku.
               Di ujung kelihatan rumah pak kadir dengan sorotan lampu tl aku terus melangkah kesana,kebaranian diri walau tak ingin,ku ucapkan salam,
memanggil pak kadir, penadah sekaligus saudagar padi di kampong kami.ingin mengutarakan niaatku,meminjam uang darinya,ayah sakit terbaring lemah di atas tikar,aku harus lagi meminjam dan meminjam karma tubuh lemahnya yang sakit-sakitan ,ah aku muak ...! benar-benar muak dengannya.
way buka pintunya,kalau tidak kami akan dobrak,!!! Suara lantang memecah keheningan malam berikutnya.dingin menembus tulang" kalian pikir,kalian ini siapa!dasar orang miskin.beraninya tidak bayar hutang,memang itu punya nenek muyang kalian,kalau kayak begini mau bayar pakek apa orang miskin seperti kalian"suara lelaki bertubuh kekar marah sambil mengumpat-umpat kedalam rumah"Aku terbantgun tak percaya penagih utang itu datang kembali sedangkan lelaki tua itu terpungkur diatas papan beralas tikar,aku memandangnya kecut ,kaki ku langkah kan walau berat menuju pintu  "Dor…dor!!!!" buka pintunya" terdengar lagi teriakan di belakang pintu.kubuka pelan,mereka menatapku sinis "apa yang kalian mau?" ucapakan kku sedikit membentak,mereka men jawab melototku  ,membelakangi seluruh badanku "kau mau tau mau kami"seorang di antaramereka menjawab
''Buughh''…! satu pukulan keras mendarat .Aku meronta menahan sakit mereka terus memukulku dengan  tangan mereka yang berotot.Anak buah pak kadir kurebah kan telapak tangan ku keperut menetralisir rasa sakit yang mengerang di bagian anggota tubuhku yang lain.lunglai tubuhku menahan pukulan mereka.Aku di keroyok berempat lelaki berkaus hitam dan jakit kulit seketika tubuhku ambruk ketanah.sekali mereka menendang tubuhku .salah satu dari mereka masuk kedalam rumah mengobbrak abrik barang-barang dalam rumahmelampiskan amarah mereka.kudengar berulang-ulang kali memaki kami.sambil memporak porandakan isi rumah.Kepalaku terasa berat,ah,aku mulai tak kuat,tiba-tiba aku ingat ayah..Apa yang terjadi dengannya "pikirku singkat ku coba gerakkan tubuh agar otot ini bekerja,namun rasanya mustahil terlalu sakit tubuh ini,kurasakan air mataku turun menetesi pipiku.tidak.. aku tidak boleh cengeng hanya karna ayah semua ini karna ayah.Ya! karna kemiskinanya aku tak berhak menangis atas semuja ini "mereka berhenti.kurasa mereka puas menyakliti kami mereka keluar dengan senyum mengembang.melangkahi tubuhku.puas,tapi belum puas mereka meludah,wajahku.aku benar-benar muak dengan hidupku………….!
NOTE:   Rasanya aku sudah bosan hidup melarat,aku tak kuat terbelit kemiskinan seperti ini setiap hari harus bergeliat dengan ketakutan penagih hutang.hidupku rasanya tak tenang pagi ini amarah memuncak. Sejak kejadian malam itu rasanya aku sudah tak ingin lagi mengenal siapa itu ayah . hal itu memulai pertengkaran ku dengan ayah. Aku tak ingin di bayang-bayangi hutang-hutang ayah" apa salah ayah nak. Ayah memang miskin tapi ingi kamu bersabar " ratapnya meredakan kemarahanku selalu mengiang dalam telinga. Sapai kapan aku harus bersabar ? menunggu langit akan runtuh kah ? paikiku singkat. Rasanya kepala ku sudah melai pecah. Akhirnya hari ini putus kan untuk pergi….jauh dari bayang-bayang ayah dan penagih utangnya. aku ingin membuktikan bahwa aku tidak seperti ayah yang lemah dan tak bisa melakukan apa-apa untuk anaknya. Aku tidak mau hidub ku di penuhi dengan mengeluh
NOTE:   Langit mendung awan marah gerimis menghujani dedaunan kering yang jatuh ke tanah. Sudah hampir sebulan aku pergi dari tatapan atas mata sipit ayah. Sekarang aku bekerja meski jadi kuli angkut di pasar. Tapi pekerjaan ini dapat menghidupi diriku setidak nya tanpa bayang-bayang ayah dan para penagi utang ayah. Dari pekerjaan ini aku bertemu dengan laras. Wanita yang mampu mengisi relung hatiku darinya aku dapat memperoleh arti hidup sesungguhnya aku sangat mencintainya ia godai hidup ku ia hidup sebatang kara tampa adanya ayah dan ibu mereka mengalami kecelakaan saat masih kecil. Kemudian laras di asuh oleh pamannya lima tahun yang lalu paman laras meninggal setelah tau istrinya berselingkuh dengan teman akrabnya sendiri malang benar nasib laras , apa yang terjadi pada laras, tidak ada apa-apanya dengan apa yang aku alami, aku…..apakah  aku harus merasa bersalah, "ayah.!"mengapa tiba-tiba aku ingat ayah. Apakah akun salah tentang perlakuan ku pada ayah selama ini. rasanya berat aku mengiat-ngiat semuanya.pikiran ini rasanya macet, darah ku.!! Rasanya makin berdesir  kencang aku menyesal, benar-benar  menyesal telah memperlakukan ayah dengan kasar ;Oh..ayah…aku rindu ayah….aku rindu air mata mu….
NOTE:   Siang ini juga aku akan pulang ke kampung halaman.tempat dimana ayah ku  ada di sana. Tak peduli pembuluh nadi ini merasa takut akan para penagih hutang ayah. Langkah ku kini tak goyah memapaki ratusan hektar daun-daun padi yang menyangat kaki ini meski kadang harus menyisahkan rasa gatal di kaki.
Aku harus melangkah menghitung  berapa banyak lagi kaki ini harus menyisahakan  rasa gatal di kaki  aku terus melagkah menghiytung berapa banyak lagi kaki ini harus melangkah untuk mempertemukan aku dengan ayah untuk yang kesekian kali . tubuh ku guntai serupa dengan padi-padi yang segera ingin berbiji dan dipanen. Celana jeansku basah karena percikan air sawah yang mengalir. Langkahku setengah berlari memijaki ilalang liar. Terik mentari disimpan awan. Namun keringat muncul melalui pori-pori. Hingga kulitku kering akibat sengatan matahari yang tengah marah. Marah pada padi-padi penduduk yang belum juga ada tanda-tanda untuk menguning menunduki Lumpur basah.
NOTE:   Siang itu langkahku terhenti. Mataku menatap gubuk yang yang pernah memberikurasa aman dalam remang-remang malam.
         Pikiranku terpaku kaku memijaki halaman rumah  yang becek tegenang air hujan. Langkahku memang terhenti tercekat terik. Tiba-tiba lamunanku buyar sosok Ayah terbayang beterbangan dipelupuk mata. Tapi kemana bayangan itu berlabuh ?kutatap gubuk yang pernah aku tempati itu kosong, menjelma menjadi kandang kambing. Kemana ayah ? pikiranku mengambang melumat keadaan. Rintih ku makain sulit dimana tak kutemui raut wajah ayah itu. Kakiku kulangkahkan gamangmenghampiri rumah Mbok Parmi yang tak jauh dari gubuk tempat ayah kini tak kutemukan. Tanpa aku tahu, Mbok Parmi menatapku dengan sorotan tajam. Mungkin ia tau dimana ayah sekarang berada karena ia satu-satunya teman dan tetangga ayah yang baik terhadap kami . mungkin ia tau semua apa yang terjadi semenjak  aku pergi.
               ''Mbok kemana ayah  ? dimana mbookk…!!''  tanyaku pada mbok Parmi. Yang kini diam mematung . ''jangan panggil dia ayah ''Mbok Parmi membentak  ''apa maksud Mbok Parmi ? ''  ''kalau aku telah meninggalkan ayah aku mohon maaf Mbok !! aku Khilaf, sungguh aku tak ingin membuat ayah sengsara'' ungkapku  ''tapi ia telah pergi Duri !!, kamu telah meninggalkannya Duri ,kamu menusuiknya nak kamu tak tahu diri, kamu telah menyakiti perasaannya , kau takk tau diuntung ayahmu sudah merawatmu bertahun-tahun dengan kasih sayang, dengan menganggap kamu seperti anaknya sendiri inikah balasanmu kepadanya ?.'' isak Mbok parmi. Air matanya mengucur deras, akun tersentak kaget ''apa maksudmu Mbok ??''  ''lalu aku anak siapa ?'' tangisku menetes tak tertahan. Mbok parmi diam.
Terisak akan tangis yang membendung tangis. telunjuknya ia sematkan diatas hidung agar mengurangi isak tangisnya. ''jawab Mbok ayah itu ayahku kah ??'' tanyaku mengambang , diam angina mengibas-ngibaskan air mata ku, Tanyakupun diam…
''Saat itu malam sangat gelap, dingin mengunci keringat keluar lewat pori-pori.bahkan tebal jaket kulitpun tak dapat rasa dingin itu. Pak direktur itu datang dengan sejuta misteri nak !! Ia menghampiri seorang satpam yang sedang berjaga. Ia datang dengan membawa bayi merah. Ia terlihat takut kemudian memberikan bayi itu kepadanya.  Sebelum ia beranjak ia juga memberikan sejumlah uang dan pergi begitu saja tak ada sepatah katapun yang tersisa kecuali satpam tersebut dipecat dari pekerjaannya. Ia harus pergi jauh membawa bayin terse4but , ia harus segera pergi tak adsa pilihan lain. Taukah kmu siapa bayi itu, itu adalah hasil hubungan gelap dengan seorang sekertaris kantornya. Bayi itu kau duri kau adalah bayi yang tak pernah diinginkan oleh orang tuamu nak, dan ayahmu lah yang telah merawat mu dengan kasih sayangnya!'' Kilat menggelegar wlau masih melirik ubun-ubun yang membuat panas,kata-kata embok pami terhenti air mata .turun marah seperti pukulan tetesan hujan aku tersentak air mata menites.
Oh Tuhan  Aku menyesal maafkan aku ayah
NOTE:   Angin malam berhembus lepas lirih membuat bulu kuduk berdiri merinding kulangkahkan kaki goyah memijaki jalan beraspal kota mengukur meter lagi yang mesti ku tempuh untuk temukan ayah "cari ayah mu Duri jangan biarkan dia pergi dia menyayangimu nak munkin dia kekota menyusulmu dia tadak tahan kau tinggalkan lalu ayah mana lagi yang akan enkau cari" batinku bergejolak lagi.Kata-kata bok parmi masih terdengar lekat di pikiranku ah rasanya mulai lemas aku butuh cairan yang dapat menguatkan tubuhku melangkah.Aku tak boleh kalah kaki mesti gontai seperti tanaman padi di sawah walau dingin menyerang  seperti  serangan pipit sawah menghampiri bulir-bulir padi"Ayo duri langkahkan kaki mu cepat kalimat itu bergejolak lagi ketika tubuhku lemah
NOTE:   kaki ini terus berlari hingga memijaki tanah yang makin basah dengan air mata yang terus mengucur derasberontak tak lama sebuah mobil ambulan melaju kencang  searah dengan ku perasaanku hambar entah apa yang terjadi tubuhku menggigil rasanya aku tak kuat melangkah lagi ku tatap sekelilingku semua orang berhamburan jalan jadi macet ambulan itu berhenti seorang pengguna jalan tertabrak tiba-tiba badanku rasa menggigil sebuah pirasat mengaliri uarat saraf seperti ikatan benang merah aku terinagt ayah.langkahku cepat menuju kerumunan orang,mencoba melihat siapa yang terttabrak kurasakan nadiku terhenti mengalirkan darah, Jantung tercekat lambat"darah amis itu ucapku dalam hati. Kulihat wajah ayah tak berdaya ia tersyum namun takkurasda senyumnya mengembang ayah jangan pergi teriakku tangis tertahan kupeluk tubuhnya yang sudah tak bernyawa air mataku mengalir deras menyimari darah amis ayah yang kusakiti"ini duri ayah duri menta maaf duri ingin lihat senyum ayah tangisku pecah dingin yang menghambus tullang,darah amis adalah tanda perpisahan ku dengan ayah ini semua gara-gara perbuatanku malam itu terakhir kali kulihat sosok seorang ayah yang takkan pernah tergantikan ayah manapunwalau ayah kandungku sendiri ayah yang sudah tega ­­­­­membuang anaknya demi sebuah kekayaan tangisku pecah dadaku sesak seperti tertusuk duri ­­­­­­­duri yang aku buat sendiri yang memisahkan antara dengan ayah yang mencintaiku jiwa dan raganya

Sore dibawa bangau terbang kearah selatan. Air mata laras menetes dadanya bergumuruh hebat dia tak kuasa menahan butiran air mata di kelopak matanya, dia tak bisa, sesak, sulit bernapas lega ia menatap wajah suaminya,Duri yang kini setres karna goncangan difikarannya Duri masuk rumah sakit jiwa air mata Laras menetes lagi,menetesi buku harian duri yang sudah di bacanya kemudian ia simpan kembali kedalam tas merah mudanya.

*Mkd Aan's

2011

1 komentar:

  1. Kami menawarkan pinjaman organisasi hukum yang diciptakan untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan,
    bantuan keuangan. Jadi jika Anda mengalami kesulitan keuangan atau
    Anda berada dalam kekacauan keuangan dan Anda perlu dana untuk memulai bisnis Anda sendiri
    atau Anda membutuhkan pinjaman untuk melunasi utang atau membayar tagihan, memulai bisnis yang baik
    atau mengalami kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank lokal, hubungi kami hari ini oleh
    E-mail: frankwoodloan@gmail.com
    Jadi jangan lewatkan kesempatan ini.
    Bagi pemikiran serius dan takut akan Allah orang.
    KREDIT APLIKASI
    Nama: _______
    Alamat: _______
    Sandi: _______
    Negara: _______
    Pekerjaan: _______
    permintaan loan________
    durasi loan________
    Penghasilan: _______
    Telepon: _______
    Silahkan hubungi kami melalui email kami:
    E-mail: frankwoodloan@gmail.com

    BalasHapus