Awan hitam makin memekat, merampas terik yang hanya
sekejap. Angin riuh meruntuhkan reranting, suara petir menggelegar beserta
kilat merah seakan memecah pohon karet yang menjulang tinggi, daun reranting
berlusuhan.
''Hentikan, selangkah abang melangkah, seumur hidup kau tak boleh
balik lagi..'' Pekik gadis itu, suaranya putus-putus, berpacu dengan angin
pohon karet. Diatas, induk burung menjerit-jerit.
''Lastri, tekat abang membulat, tangismu tak kan
mencairkan hati abang yang membaja, pulanglah'' Suara pria itu lantang, kilat
menggelegar merah makin menampakkan mukanya yang serius, tas dipegangnya
erat-erat ranting kecil jatuh seakan mengamini kepergiannya.
''Tolong, izinkan abang pergi kepulau garam, aku janji, hati
abang takkan mencair
bersama lautan garam
disana'' gadis itu makin merekatkan pandang pada tuubuh kurus tegak
didepannya.air mata tak kuasa ia tahan hujan yang mulai deras seperti berpacu
dengan air matanya yang meleleh, petir menggelegar disertai guratan kebun karet
mulai menggelap. gelap membayang.
''Pergilah bila setegap pohon karet ini tekatmu'' gadis
bermata coklat itu membuka hening. Dedaunan semakin berguguran seakan menabur
lara dalam hati''
''Abang janji akan selalu
mengingatmu, tungulah abang setahun mendatang dipelabuhan pertama kita bertemu
bersam bunga mawar merah ini'' pekik farhan pelan, gadis didepan menatap tajam
dengan mata berkaca-kaca, bunga mawar diciumnya ,sesaat ia melambaikan tangan
……
''Daaarrr !!!'' kilat
semakin menggelegar memecah gelap, Fathan makin mempercepat langkah, ia tak
kuasa menahan air matanya luruh, tangis gadis yang ia cinta bagai petir yang
menggelegar di hatinya, ya!, ia tak harus lemah kalau tak mau tekatnya mencair
bersama hujan sore itu, dedaunan jatuh ikut menangisi Kepergiannya, pergi untuk
kembali, meski beberapa sanak saudara tak menyetujui kepergiannya, namun tekat
sudah membulat, pergi menuntut ilmu di
salah satu pesantren di pulau garam Madura. Demi tekatnya itu ia harus melawan
sang paman
''Apa ? kepesantren, paman
tahu tempat itu seperti apa, tempat kotor, sampah menumpuk, badanmu bisa kena
gatal-gatal, belum lagi orentasi seks yang menyimpang, apa hidup seperti itu yang menjadi pilihanmu ?
paman berani menjilati ludah sendiri bila perkataan paman salah'' saat itu
Fathan hanya bisa merunduk mendengar suara keras pamannya, meski hal itu
berkelebat dipikiran. Sang paman menginginkan ia melanjutkan studynya di
universitas kedokteran di Yokyakarta bersama sepupunya Yusuf Mahardika, bagi
Fathan restu kedua orang tuanya sedah cukup …
Lastri masih berdiri berdiri diantara rinai hujan, pohon
karet yang menjulang membayanginya. Meski berteriak mengejar, sesosok itu terus
melangkah dan tak menoleh. Bahunya semakin kecil dibasahi hujan, senja di Ambawang tak merah
lagi, berganti kelabu seperti hati Lastri untuk beberapa purnama kedepan,
malamnya tak seindah kemarin, saat ia dan Fathan bersama di surau mengajari
anak-anak mengakrabi Al-Quran, kenangan itu pasti yang menjadi pengantar
tidurnya bersama setumpuk rindu.
''Woy, siapa disitu ! hujan semakin lebat, ayo pulang
!!'' suara keras dari ujung kebun mengagetkan Lastri, rupanya Khalifah tetangga
sebelah mengajak pulang. Hujan lebat menyenmbunyikan nanar matanya…
Ia menatap mawar merah itu,
lekat. Lalu berisak tangkai bunga mawar dipegangnya erat-erat. Seketika darah
mengalir dari jarinya. Ini kesekian kalinya Lastri melihat tingkah ibunya, saat
mencoba mendekat, buru buru air mata dihapus. padahal semua tahu ada luka dalam
tatapan matanya, tapi luka manakah ? ..
Satu tahun ayahnya pergi, meninggalkan hanya rumah
panggung reot dan sepetak kebun yang ditumbuhi lebat pohon karet menjulang
dengan semak belukar dibawah. Subuh pekat ibu dan anak itu menerobos gelap,
menyadap getah karet. Otot lemah mereka kuatkan menjadi pria demi memenuhi
kebutuhan hidup. apakah itu yang dianggap luka? Bukan ?..
''Hai! apa yang kau buat Lastri, nampak tersenyum
sendiri'' diparit kecil Khalifa membuyarkan lamunan, tepat dibawah jalan
setapak yang dilalui Lastri, setengah lamunan yang tersadar, dari kecil mereka
menjalin persahabatan, rumah berdekatan hanya berpaut kebun yang hanya
ditumbuhi banyak pohon nanas, Khalifa smenjadi teman curhat yang baik mungkin
karena umurnya satu tahun lebih tua, meski
akhir-akhir ini Lastri dibuatnya kecewa.
''Dari dulu aku sudah yakin, abang kau itu hanya
mempermainkan kau, dia tak serius''
''Tak serius bagaimana?'' Lastri setengah membentak'' Buktinya dia
meninggalkanmu tanpa ikatan ''ia hanya menuntut ilmu dipesanteren'' Lastri
membela. ''Dengan hanya meninggalkan setangkai bunga mawar?'' Khalifa mermbuang
muka, jauh keawang, seperti ada kebencian yang sulit diterka. Lastri tak
menyangka teman masa kecilnya berucap seperti itu, ada keraguan, apakah benar
apa yang diakatakan khalifa. Meski merasa kecewa, tetaplah Khalifa tetaplah
sahabat terbaiknya, tak ada yang dapat merubahnya, meski pohon karet tak lagi
berdiri tegap.
''Kau sendiri apa yang nak
kau buat diparit itu?'' Lastri menegur setelah lamunannya benar-benar tersadar,
Khalifa hanya menggeleng kepala. ''Bolehkan saya Bantu ?'' ''bolehlah'' Akhirnya keduanya menenggelamkan
pagi ditepi parit hingga mentari mencapai liar di langit terik, sungai
Ambawang, Pontianak …
Awan mirip bulu biri-biri mulai bertabur, menciptakan
gelap meski perlahan, melumat mentari, melumat keragun hingga membuah
kepastian, kepastian yang selalu ditunggu-tunggu. Ternyata benar senja kemarin
ketika Lastri menginap dirumah neneknya, dikampung sebelah, selentingan tentang
masa lalu ibunya ramai dibicarakan, Mpok Zainab, tak lain teman ibunya semasa
remaja dulu, mulai bercerita. ''Bermula ketika Aminah, ibu Lastri bekerja
sebagai disalah satu kebun hektaran milik saudagar kaya, pekat subuh jam empat
harus bangun, pergi kekebun dengan penerang yang diikatkan dikepala, pisau sadap
digoreskan pada pohon karet tinggi menjulang. ''craaas !!'' seketika cairan
putihpun turun ke kebatok kelapa, yang ditaruh disetiap batang pohon, disubuh
pekat itu, diantara pekat dan kabut. Cinta mulai bersemi
''Assalamualaikum, selamat
petang! benarkah ini perkampungan Sakura ''Emmz, ya benar'' Aminah masih
gelagapan, getah karet yang dipanggulnya hampir tumpah, melihat pria santun
berkopiah berdiri didepannya dalam perjalanannya menuju pulang. ''kau salah satu warga disini bukan ?'' pria
berlesung pipit itu meneruskan cakapnya, sembari tersenyum, ''Ia benar, kau
sendiri apa yang hendak perbuat'' terang Aminah mengakrabi. ''saya pengajar di
madrasah seberang itu'' Pria itu menujuk pada bangunan yang berada dipinggir
jalan berparit.
Tak lama setelah bercakap,
pria itu melanjutkan perjalanan setelah
memperkenalkan nama, Hasan
Mubarok, ya namanya Hasan Mubarok.
Hari kedua,
pekat pagi kembali mempertemukan mereka dijalan setapak seperti kemarin. Karena
memang jalan itu penghubung utama keperkampungan. Begitupun bagi Aminah dengan
getah karet yang dipanggulnya. Ia melewati jalan temaram itu. keduanya asyik
bermain pndang dalam remang. Hanya itu tak lebih, mereka tahu batasan yang
menjadi teguhan bagi kaum Adam Hawa, terakhir Hasan menyelipkan bunga mawar merah
ditelinga Aminah.
Sebelum kepergiannya keluar pulau, ia berjanji suatu saaat nanti
akan kembali untuk meminang Aminah, kekasihnya. Tapi janji tinggal janji sampai
detik ini. bertahun belalu, lelaki berlesung pipit itu tak pernah kembali untuk
meminangnya. Aminah terpaksa harus menerima pinangan Jailan, pria paruh baya
yang ingin bermadu tiga. Ekonomi yang sulit, membuat Aminah terkapar pasrah
akan keadaaan. sepeninggal Jailan tak satupun harta tersisa. Harta ruahnya
dikuasai istri-istrinya yang lain, yang tersisa hanya Lastri, buah tercintanya
dengan Jailan ''Begitulah segelintingan tentang Aminah'' Lastri kini tahu
mengapa ibunya itu sering menangis diantara tumpukan mawar merah. Sekarang pria
yang dicintainya pergi meninggalkan mawar yang sama, adakah luka itu akan
terulang ? ..
Seorang gadis berlari
tergopoh-gopoh, melewati tanah berlumpur sebab diguyur hujan semalam, menerobos
kebun nanas meski menggores kakinya, masih pagi, kabut tipis mulai runtuh. ''
Tok…tok….tok….'' pintu diketuk pelan ' ''Assalamualaikum,
Lastri, lastri..''
Ternyata Khalifa teman Lastri, frekuensi nafasnya tak beraturan
seperti ada hal penting yang perlu dibicarakan. ''Khalifa ada apa ?'' Adakah
sesuatu yang penting ?'' Lastri buru-buru menyambar dengan pertanyaan. ''Bang
Fathan, barusan dia Nelfon, esok dia ikut pelayaran dari Surabaya, tiga hari
lagi ia sampai disini Lastri, menemuimu'' panjang Khalifa bercerita.
''Subhanalloh, tarima kasih ya Alloh'' Seru Lastri mengawang, tatapan
tajam setajam mata elang.
Ketika lusa itu Datang, Lastri telah mempersiapakan semuanya,
setangkai mawar merah untuk menepati janjinya menemui Fathan dipelabuhan,
kerinduan panjang sepanjang aliran kapuas, Akhirnya hari itu datang setelah
beberapa purnama dilalui, setelah Kabut hilang menjelajahi pagi, dalam
senyumnya Lastri menari memainkan ujung kerudung menuju luar rumah, tiba-tiba
setangkai mawar merah ditangannya jatuh. ''Astaufirulloh ada apa ini ?''
jarinya berdarah akibat tusukan duri mawar, melihat semua itu Aminah ibunya
merasa miris. Luka masa lalu seakan mulai tergelar kembali, mulai menari
dihadapannya. Ikatan benang merah seperti mengalami luka yang sama.
Ditinggalkan seseorang dengan hanya menyisahkan setangkai mawar merah.
''Sudahlah lupakan saja abangmu itu. ini petanda tidak baik''
pecah suara Aminah ''Apakah begitu sikap lelaki yang engkau agung-agungkan.
pergi meninggalkanmu tanpa ikatan, hanya menyisahkan mewar merah ini?'' Wanita
paruh baya ini menceracau dalam hatinya, ia tak ingin bicara begitu, tapi ia
begitu takut luka lamanya terulang kembali.
''Tapi buktinya sekarang ia kembali ibu! aku tahu masa lalu ibu
dan kenangan pahit bersama mawar merah, tapi apakah semua pria itu begitu?''
Racau Lastri berisak, air matanya jatuh perlahan. Tatapannya layu, berharap
Aminah mengizinkannya pergi kepelabuhan.
''Tapi satu hal yang tak pernah kau ketahui Lastri, Fathan
itu..'' ingin Aminah meneruskan perkataannya, tak bisa, mulutnya tercekat ia
tak ingin lagi mengingat luka lama itu, buru buru ia berlari kecil kedalam
rumah disertai isakan, sebelum akhirnya ia mengizinkan Lastri untuk pergi.
Terik siang tanpa awan. Langit tampak cerah bersama sayap
kutilang berlalu lalang, suasana perkotaan mulai terasa, mobil angkot
berklakson cempreng, berbaris diantara pedagang kaki lima, asap bertebaran
dimana-mana. dari kejauhan nampak sebuah kapal akan berlabuh, Lastri dan mawar
merahnya berdiri diantara kerumunan orang. Harapan mereka sama, bertemu dengan
seorang yang dirindu. Terik siang tak mampu menyerutkan tepi kerinduan, kapal
sudah berlabuh rumunan penumpang mulai menuruni anak tangga satu persatu.
Lastri memperhatikan lekat setiap sosok yang keluar dari kapal. Bunga mawar
dilambaikannya, ia tak merasa risih meski beberapa pasang mata menyoroti tingkahnya.
Merasa yang ditunggu tak kunjung keluar, ia mulai gerah. Pria bertubuh tegap
kurus itu benar-benar lenyap dari pandangannya. Lama menunggu ia menerobos
masuk menaiki anak tangga. Ditubruknya seseorang disekitarnya. Suasana kapal
mulai lenggang hanya tersisa sebagian. Tak menemui sosok yang ditunggu lastri
bena-benar panic.
''Mas, lihat pria kurus tinggi ngak ? dia salah satu penumpang
kapal ini'' Lastri mulai menanyakan pada tiap orang yang ditemuinya mereka
hanya menggelengkan kepala. Tiga jam berlalu, sesosok pria yang dicarinya itu
benar-benar lenyap dari pandangan. Mawar merah ditangannya perlahan gugur.
''Tak mungkin Bang fathan mengingkari janjinya. aku tetap
menunggunya selama apapun itu'' menunggu sampai tak ada alasan lagi unutk
menunggu'' suara hati bekecamuk air matanya meleleh tak kuat menahan perih.
Luka masa lalu Aminah seakan kini tergelar kembali, adakah Fathan mengingkari
janjinya seperti pria dimasa lalu ibunya ?
***
Senja memeluk kapuas, Laut dihadapannya menguning gelap.
seketika menyergap menggulung kutilang yang berlalu lalang. Lastri masih tak
beranjak berharap ada kapal lagi yang dating. Ia akan setia menunggu meski
mungkin suara ombak itu mencerca dirinya, menertawakan keyakinannya, mawar
merah ditangannya tinggal daun.
Ditempat berbeda disaksikan bulan sabit gadis bermuka tajam
tersenyum lepas. Tombol handphone dimainkannya, mengecek kembali nomor yang
masuk tempo hari, lalu tertawa cekikikan
''Mampus kau Lastri, sampai kapan kau tahan menunggu bang Fathan
dipelabuhan, mampukah kau mengokohkan kakimu hingga tahun depan ? benar Fathan
akan pulang tapi tidak tahun ini, ia telfon akan pulang menumuimu tahun depan.
biarlah aku yang menemuinya, menggantikanmu bersama mawar merah marun''
gumannya panjang dalam hati, sesaat Khalifah kembali tertawa lepas.
Dari kerumunan orang ia
seperti melihat sosok itu, sosok peria berlesung pipih yang meninggalnya
puluhannya tahun lalu, masih sama hanya
bertambah gemuk kulit putih dan garis ketampanannya masih sama seperti dulu tak
ada yang berubah, tapi tak mungkin, ini perasaan Aminah saja. Semakin
mengingat, luka semakin menganga. buat apa di ingat, ia harus menerima bila
luka itu menancap perih pada Lastri. Tujuh hari dipelabuhan tanpa makan keadaan
Lastri drop, mukanya pucat. Nama Fathan disebutnya meski kondisi tak sadar.
Setangkai mawar merah tersisa daun masih
dalam genggaman tangannya. Ia pulang digopoh orang-orang yang tak tega melihat
kondisinya tergeletak pingsan dan sekarang kondosinya lebih mengenaskan Lastri
hanya bisa berbaring dipangkuan Aminah. Mawar merah telah membuat mereka luka.
Apakah wanita terlahir hanya untuk disakiti dan dibohongi ?
Tetangga mengerumuni rumah Aminah. Prihatin atas kondisi Lastri.
Tapi satu persatu sudah pulang, hanya tersisa satu orang berdiri tegap memunggungi
tatapan Aminah. Ah, punggung itu wangi farfum itu, mengingatkan pada luka lama
dan ketika lelaki itu membalikkan tubuh menatap, nafas Aminah serasa tercabut
dari raga. Untuk ia kembali dihadapkan pada kenangan puluhan tahun lalu.''Bang
Hasan" Gumannya dalam hati, tapi untuk apa ia kembali setelah puluhan
tahun tak datang. apakah datIng hanya untuk menyerinai menertawakan kekalahan
Aminah atau ingin menaburkan mawar untuk menuntaskan kepuasannya ''
''Bang Hasan! apa maksud kedatanganmu, silahkan saja kau
tertawakan aku, tertawakan saja kelemahanku, Aminah menjerit keras menumpahkan
sakit selama puluhan tahun,ia tak sadar Lastri mulai terbangun, bukan begitu
Aminah, aku tak maksud menyakitimu, apa lagi menertawakanmu, aku minta maaf''
lelaki itu bercerita saat kedua bola matanya melai menanar'' tapi mengapa kemu
tak datang waktu itu aku menunggumu, tak pernah lelah menghitung hari semantara
orang sekitar menertawakanku,aku wanitalemah Hasan Amnih melelh membelakangi
peria masalalunya ia tak kuat menatap mata didepannya ada jarak puluhan tahun
yang mungkin bisa ditempuh, kembali bukan untuk datang, hanya mengingat
kepingan masa lalu.
''Waktu itu aku difitnah, aku
harus menikahi orang yang tak aku cintai. aku terpaksa, alasan tinggal alasan
semua telah terlambat waktu takkan kembali kesepuluh tahun lalu kenangan yang
terkengan hanya untuk dikenang bukan untuk dinikmati kembali mereka saling
bertatapan mengenang kisah dijalan setapak dengan getah karet dipanggul.Tatapan
seperti dulu hanya berbatas waktu.''
''Dan yang paling aku sesalkan,
Fathan anakmu berbuat sama, Ia meninggalkan Lastri dengan hanya menyisahkan
mawar merah. bagaimana aku tak sakit, luka itu kembali, menyayat anakku …
Aminah menjerit air matanya
meleleh, Lastri disampingnya mendengar semua.
Fathan ternyata anak Hasan Mubarok, pria masa laLu Aminah, Air
mata Lastri ikut memilih, begitu pahit kenyataan, pria yang dicintainya
menaburkan luka yang sama dengan
pria masa lalu ibunya yang tak
lain ayah Fathan, betapa pahit janji itu
? ingin Lastri berteriak menangis, namun tak bisa, lukanya terlalu perih
Satu tahun berlalu, tak ada yang berubah, pohon sawit
hijau melambai dalam dekapan kapuas, Langit dipenuhi sayap kutilang. Setahun begitu cepat, namun
tak ada yang berubah, ombak menghempas seakan menyambutnya setelah dua tahun
tak datang, sejauh bangau terbang pasti kembali, Fathan akhirnya pulang, dua
tahun menuntut ilmu dipulau garam Madura. Tubuhnya semakin kurus dengan wajah
lebih merona. Langit cerah saat itu menyemangati hatinya, tahun lalu ia
menghubungi Khalifa, ia tak bisa pulang karena ada urusan, Fathan menunda
kepulangannya hingga tahun depan, Khalifa sudah pasti memberi tahu pada Lastri
bahwa hari ini dirinya benar-benar pulang. Kapal mulai berlabuh. Fathan
menuruni anak tangga, ia ingin saat memuka mata pertama kali yang ingin
dilihatnya sosok Lastri, ternyata benar diantara rumunan orang Lastri tersenyum
dengan lambayan mawar merah ditangannya, wajahnya masih cantik seperti dulu,
hanya nampak pucat pasi. Fathan membalasnya dengan senyuman, namun ketika
Fathan kembali menatapnya, sesosok Lastri menghilang dalam rumunan ''apa yang salah dengan senyuman, pandangan
Fathan ?'' ia berlari mendesak keramaian, tas kecil dibiarkannya jatuh namun sosok
Lasrti tak nampak, yang nampak bayangannya menangis ''Ada apa semua ini ?'' tak jauh dari
pandangannya mawar merah marun tumbuh diatas gundukan tanah, berdiri didekatnya
seorang yang Fathan kenal Hasan Mubarok didampingi Aminah, oh sandiwara apa
yang digelar tuhan ini, mengapa mawar merah ini yang menyambutku ? mengapa
semua sosok yang aku kenal berada digundukan tanah itu ? pasti mereka sedang
berencana untuk memberi sebuah kejutan penyambutan untukku ? mereka ingin
bermain-main untuk menyenangkan hatiku'' Fathan tersenyum getir meski masih ada
yang membuat gelisah dihatinya.
''Tapi dimana Lastri?'' Fathan tetap tak menemukan Lastri.
Ia mulai gelisah tak ada
tatapan kebohongan pada mereka.
''Mana Lastri apakah ia telah mengingkari janji nya ? tak
mungkin, ini pasti semua rekayasa''
tak seharusnya Fathan
menangis, tapi lukanya begitu dalam kerinduan menumpuk selama dua tahun, tapi
kedatanganya kini sia-sia. Ia tak menemui sosok yang ia rindu.
''Kau salah Fathan, Lastri tak pernah mengingkari janjinya,
bahkan disaat ia tiada sekalipun, ia masih menemuimu bersama kuntum bunga mawar
yang kamu pinta, sebelum ia menutup mata dia memohon pada ibu agar jasadnya
dikuburkan dipelabuhan ini bersama mawar merah, ini makam Lastri Fathan, ia
sudah tiada''
Semua menangis, hujan,
kapuas menaburkan luka, Fathan bersimpuh dihadapan tanah yang ditumbuhi mawar
merah marun, dikecupnya batu nisan Lastri berkali-kali, kecupan yang tak
pernah didapati semasa hidup adakah luka
yang seperih ini, Lastri tak pernah mengingkari janji, janjinya ia titipkan
pada nawar merah …
''Never mind I'll
find someone like you, I wish nothing but the best for you too''
Don't forget me I
beg, I will remember you said''
Sometime it last in
love, but sometime it hurts instead''
* Syamsa Adam
2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar