Sabtu, 04 Januari 2014

Janji Mawar Merah

 Awan hitam makin memekat, merampas terik yang hanya sekejap. Angin riuh meruntuhkan reranting, suara petir menggelegar beserta kilat merah seakan memecah pohon karet yang menjulang tinggi, daun reranting berlusuhan. 
''Hentikan, selangkah abang melangkah, seumur hidup kau tak boleh balik lagi..'' Pekik gadis itu, suaranya putus-putus, berpacu dengan angin pohon karet. Diatas, induk burung menjerit-jerit.

            ''Lastri, tekat abang membulat, tangismu tak kan mencairkan hati abang yang membaja, pulanglah'' Suara pria itu lantang, kilat menggelegar merah makin menampakkan mukanya yang serius, tas dipegangnya erat-erat ranting kecil jatuh seakan mengamini kepergiannya.

''Tolong, izinkan abang pergi kepulau garam, aku janji, hati abang takkan mencair

bersama lautan garam disana'' gadis itu makin merekatkan pandang pada tuubuh kurus tegak didepannya.air mata tak kuasa ia tahan hujan yang mulai deras seperti berpacu dengan air matanya yang meleleh, petir menggelegar disertai guratan kebun karet mulai menggelap. gelap membayang.

            ''Pergilah bila setegap pohon karet ini tekatmu'' gadis bermata coklat itu membuka hening. Dedaunan semakin berguguran seakan menabur lara dalam hati''

''Abang janji akan selalu mengingatmu, tungulah abang setahun mendatang dipelabuhan pertama kita bertemu bersam bunga mawar merah ini'' pekik farhan pelan, gadis didepan menatap tajam dengan mata berkaca-kaca, bunga mawar diciumnya ,sesaat ia melambaikan tangan ……

''Daaarrr !!!'' kilat semakin menggelegar memecah gelap, Fathan makin mempercepat langkah, ia tak kuasa menahan air matanya luruh, tangis gadis yang ia cinta bagai petir yang menggelegar di hatinya, ya!, ia tak harus lemah kalau tak mau tekatnya mencair bersama hujan sore itu, dedaunan jatuh ikut menangisi Kepergiannya, pergi untuk kembali, meski beberapa sanak saudara tak menyetujui kepergiannya, namun tekat sudah membulat, pergi menuntut ilmu  di salah satu pesantren di pulau garam Madura. Demi tekatnya itu ia harus melawan sang paman

''Apa ? kepesantren, paman tahu tempat itu seperti apa, tempat kotor, sampah menumpuk, badanmu bisa kena gatal-gatal, belum lagi orentasi seks yang menyimpang, apa  hidup seperti itu yang menjadi pilihanmu ? paman berani menjilati ludah sendiri bila perkataan paman salah'' saat itu Fathan hanya bisa merunduk mendengar suara keras pamannya, meski hal itu berkelebat dipikiran. Sang paman menginginkan ia melanjutkan studynya di universitas kedokteran di Yokyakarta bersama sepupunya Yusuf Mahardika, bagi Fathan restu kedua orang tuanya sedah cukup …

            Lastri masih berdiri berdiri diantara rinai hujan, pohon karet yang menjulang membayanginya. Meski berteriak mengejar, sesosok itu terus melangkah dan tak menoleh. Bahunya semakin kecil  dibasahi hujan, senja di Ambawang tak merah lagi, berganti kelabu seperti hati Lastri untuk beberapa purnama kedepan, malamnya tak seindah kemarin, saat ia dan Fathan bersama di surau mengajari anak-anak mengakrabi Al-Quran, kenangan itu pasti yang menjadi pengantar tidurnya bersama setumpuk rindu.

            ''Woy, siapa disitu ! hujan semakin lebat, ayo pulang !!'' suara keras dari ujung kebun mengagetkan Lastri, rupanya Khalifah tetangga sebelah mengajak pulang. Hujan lebat menyenmbunyikan nanar matanya…

Ia menatap mawar merah itu, lekat. Lalu berisak tangkai bunga mawar dipegangnya erat-erat. Seketika darah mengalir dari jarinya. Ini kesekian kalinya Lastri melihat tingkah ibunya, saat mencoba mendekat, buru buru air mata dihapus. padahal semua tahu ada luka dalam tatapan matanya, tapi luka manakah ? ..

            Satu tahun ayahnya pergi, meninggalkan hanya rumah panggung reot dan sepetak kebun yang ditumbuhi lebat pohon karet menjulang dengan semak belukar dibawah. Subuh pekat ibu dan anak itu menerobos gelap, menyadap getah karet. Otot lemah mereka kuatkan menjadi pria demi memenuhi kebutuhan hidup. apakah itu yang dianggap luka? Bukan ?..

            ''Hai! apa yang kau buat Lastri, nampak tersenyum sendiri'' diparit kecil Khalifa membuyarkan lamunan, tepat dibawah jalan setapak yang dilalui Lastri, setengah lamunan yang tersadar, dari kecil mereka menjalin persahabatan, rumah berdekatan hanya berpaut kebun yang hanya ditumbuhi banyak pohon nanas, Khalifa smenjadi teman curhat yang baik mungkin karena  umurnya satu tahun lebih tua, meski akhir-akhir ini Lastri dibuatnya kecewa.

            ''Dari dulu aku sudah yakin, abang kau itu hanya mempermainkan kau, dia tak serius''  ''Tak serius bagaimana?'' Lastri setengah membentak'' Buktinya dia meninggalkanmu tanpa ikatan ''ia hanya menuntut ilmu dipesanteren'' Lastri membela. ''Dengan hanya meninggalkan setangkai bunga mawar?'' Khalifa mermbuang muka, jauh keawang, seperti ada kebencian yang sulit diterka. Lastri tak menyangka teman masa kecilnya berucap seperti itu, ada keraguan, apakah benar apa yang diakatakan khalifa. Meski merasa kecewa, tetaplah Khalifa tetaplah sahabat terbaiknya, tak ada yang dapat merubahnya, meski pohon karet tak lagi berdiri tegap.

''Kau sendiri apa yang nak kau buat diparit itu?'' Lastri menegur setelah lamunannya benar-benar tersadar, Khalifa hanya menggeleng kepala. ''Bolehkan saya Bantu ?''  ''bolehlah'' Akhirnya keduanya menenggelamkan pagi ditepi parit hingga mentari mencapai liar di langit terik, sungai Ambawang, Pontianak …

            Awan mirip bulu biri-biri mulai bertabur, menciptakan gelap meski perlahan, melumat mentari, melumat keragun hingga membuah kepastian, kepastian yang selalu ditunggu-tunggu. Ternyata benar senja kemarin ketika Lastri menginap dirumah neneknya, dikampung sebelah, selentingan tentang masa lalu ibunya ramai dibicarakan, Mpok Zainab, tak lain teman ibunya semasa remaja dulu, mulai bercerita. ''Bermula ketika Aminah, ibu Lastri bekerja sebagai disalah satu kebun hektaran milik saudagar kaya, pekat subuh jam empat harus bangun, pergi kekebun dengan penerang yang diikatkan dikepala, pisau sadap digoreskan pada pohon karet tinggi menjulang. ''craaas !!'' seketika cairan putihpun turun ke kebatok kelapa, yang ditaruh disetiap batang pohon, disubuh pekat itu, diantara pekat dan kabut. Cinta mulai bersemi

''Assalamualaikum, selamat petang! benarkah ini perkampungan Sakura ''Emmz, ya benar'' Aminah masih gelagapan, getah karet yang dipanggulnya hampir tumpah, melihat pria santun berkopiah berdiri didepannya dalam perjalanannya menuju pulang.  ''kau salah satu warga disini bukan ?'' pria berlesung pipit itu meneruskan cakapnya, sembari tersenyum, ''Ia benar, kau sendiri apa yang hendak perbuat'' terang Aminah mengakrabi. ''saya pengajar di madrasah seberang itu'' Pria itu menujuk pada bangunan yang berada dipinggir jalan berparit.

Tak lama setelah bercakap, pria itu melanjutkan perjalanan setelah

memperkenalkan nama, Hasan Mubarok, ya namanya Hasan Mubarok.

            Hari kedua, pekat pagi kembali mempertemukan mereka dijalan setapak seperti kemarin. Karena memang jalan itu penghubung utama keperkampungan. Begitupun bagi Aminah dengan getah karet yang dipanggulnya. Ia melewati jalan temaram itu. keduanya asyik bermain pndang dalam remang. Hanya itu tak lebih, mereka tahu batasan yang menjadi teguhan bagi kaum Adam Hawa, terakhir Hasan menyelipkan bunga mawar merah ditelinga Aminah.

Sebelum kepergiannya keluar pulau, ia berjanji suatu saaat nanti akan kembali untuk meminang Aminah, kekasihnya. Tapi janji tinggal janji sampai detik ini. bertahun belalu, lelaki berlesung pipit itu tak pernah kembali untuk meminangnya. Aminah terpaksa harus menerima pinangan Jailan, pria paruh baya yang ingin bermadu tiga. Ekonomi yang sulit, membuat Aminah terkapar pasrah akan keadaaan. sepeninggal Jailan tak satupun harta tersisa. Harta ruahnya dikuasai istri-istrinya yang lain, yang tersisa hanya Lastri, buah tercintanya dengan Jailan ''Begitulah segelintingan tentang Aminah'' Lastri kini tahu mengapa ibunya itu sering menangis diantara tumpukan mawar merah. Sekarang pria yang dicintainya pergi meninggalkan mawar yang sama, adakah luka itu akan terulang ? ..

Seorang gadis berlari tergopoh-gopoh, melewati tanah berlumpur sebab diguyur hujan semalam, menerobos kebun nanas meski menggores kakinya, masih pagi, kabut tipis mulai runtuh. '' Tok…tok….tok….'' pintu diketuk pelan '  ''Assalamualaikum, Lastri, lastri..''

Ternyata Khalifa teman Lastri, frekuensi nafasnya tak beraturan seperti ada hal penting yang perlu dibicarakan. ''Khalifa ada apa ?'' Adakah sesuatu yang penting ?'' Lastri buru-buru menyambar dengan pertanyaan. ''Bang Fathan, barusan dia Nelfon, esok dia ikut pelayaran dari Surabaya, tiga hari lagi ia sampai disini Lastri, menemuimu'' panjang Khalifa bercerita.

''Subhanalloh, tarima kasih ya Alloh'' Seru Lastri mengawang, tatapan tajam setajam mata elang.

Ketika lusa itu Datang, Lastri telah mempersiapakan semuanya, setangkai mawar merah untuk menepati janjinya menemui Fathan dipelabuhan, kerinduan panjang sepanjang aliran kapuas, Akhirnya hari itu datang setelah beberapa purnama dilalui, setelah Kabut hilang menjelajahi pagi, dalam senyumnya Lastri menari memainkan ujung kerudung menuju luar rumah, tiba-tiba setangkai mawar merah ditangannya jatuh. ''Astaufirulloh ada apa ini ?'' jarinya berdarah akibat tusukan duri mawar, melihat semua itu Aminah ibunya merasa miris. Luka masa lalu seakan mulai tergelar kembali, mulai menari dihadapannya. Ikatan benang merah seperti mengalami luka yang sama. Ditinggalkan seseorang dengan hanya menyisahkan setangkai mawar merah.

''Sudahlah lupakan saja abangmu itu. ini petanda tidak baik'' pecah suara Aminah ''Apakah begitu sikap lelaki yang engkau agung-agungkan. pergi meninggalkanmu tanpa ikatan, hanya menyisahkan mewar merah ini?'' Wanita paruh baya ini menceracau dalam hatinya, ia tak ingin bicara begitu, tapi ia begitu takut luka lamanya terulang kembali.

''Tapi buktinya sekarang ia kembali ibu! aku tahu masa lalu ibu dan kenangan pahit bersama mawar merah, tapi apakah semua pria itu begitu?'' Racau Lastri berisak, air matanya jatuh perlahan. Tatapannya layu, berharap Aminah mengizinkannya pergi kepelabuhan.

''Tapi satu hal yang tak pernah kau ketahui Lastri, Fathan itu..'' ingin Aminah meneruskan perkataannya, tak bisa, mulutnya tercekat ia tak ingin lagi mengingat luka lama itu, buru buru ia berlari kecil kedalam rumah disertai isakan, sebelum akhirnya ia mengizinkan Lastri untuk pergi.

Terik siang tanpa awan. Langit tampak cerah bersama sayap kutilang berlalu lalang, suasana perkotaan mulai terasa, mobil angkot berklakson cempreng, berbaris diantara pedagang kaki lima, asap bertebaran dimana-mana. dari kejauhan nampak sebuah kapal akan berlabuh, Lastri dan mawar merahnya berdiri diantara kerumunan orang. Harapan mereka sama, bertemu dengan seorang yang dirindu. Terik siang tak mampu menyerutkan tepi kerinduan, kapal sudah berlabuh rumunan penumpang mulai menuruni anak tangga satu persatu. Lastri memperhatikan lekat setiap sosok yang keluar dari kapal. Bunga mawar dilambaikannya, ia tak merasa risih meski beberapa pasang mata menyoroti tingkahnya. Merasa yang ditunggu tak kunjung keluar, ia mulai gerah. Pria bertubuh tegap kurus itu benar-benar lenyap dari pandangannya. Lama menunggu ia menerobos masuk menaiki anak tangga. Ditubruknya seseorang disekitarnya. Suasana kapal mulai lenggang hanya tersisa sebagian. Tak menemui sosok yang ditunggu lastri bena-benar panic.

''Mas, lihat pria kurus tinggi ngak ? dia salah satu penumpang kapal ini'' Lastri mulai menanyakan pada tiap orang yang ditemuinya mereka hanya menggelengkan kepala. Tiga jam berlalu, sesosok pria yang dicarinya itu benar-benar lenyap dari pandangan. Mawar merah ditangannya perlahan gugur.

''Tak mungkin Bang fathan mengingkari janjinya. aku tetap menunggunya selama apapun itu'' menunggu sampai tak ada alasan lagi unutk menunggu'' suara hati bekecamuk air matanya meleleh tak kuat menahan perih. Luka masa lalu Aminah seakan kini tergelar kembali, adakah Fathan mengingkari janjinya seperti pria dimasa lalu ibunya ?

***

Senja memeluk kapuas, Laut dihadapannya menguning gelap. seketika menyergap menggulung kutilang yang berlalu lalang. Lastri masih tak beranjak berharap ada kapal lagi yang dating. Ia akan setia menunggu meski mungkin suara ombak itu mencerca dirinya, menertawakan keyakinannya, mawar merah ditangannya tinggal daun.

Ditempat berbeda disaksikan bulan sabit gadis bermuka tajam tersenyum lepas. Tombol handphone dimainkannya, mengecek kembali nomor yang masuk tempo hari, lalu tertawa cekikikan

''Mampus kau Lastri, sampai kapan kau tahan menunggu bang Fathan dipelabuhan, mampukah kau mengokohkan kakimu hingga tahun depan ? benar Fathan akan pulang tapi tidak tahun ini, ia telfon akan pulang menumuimu tahun depan. biarlah aku yang menemuinya, menggantikanmu bersama mawar merah marun'' gumannya panjang dalam hati, sesaat Khalifah kembali tertawa lepas.

Dari kerumunan orang ia seperti melihat sosok itu, sosok peria berlesung pipih yang meninggalnya puluhannya  tahun lalu, masih sama hanya bertambah gemuk kulit putih dan garis ketampanannya masih sama seperti dulu tak ada yang berubah, tapi tak mungkin, ini perasaan Aminah saja. Semakin mengingat, luka semakin menganga. buat apa di ingat, ia harus menerima bila luka itu menancap perih pada Lastri. Tujuh hari dipelabuhan tanpa makan keadaan Lastri drop, mukanya pucat. Nama Fathan disebutnya meski kondisi tak sadar. Setangkai  mawar merah tersisa daun masih dalam genggaman tangannya. Ia pulang digopoh orang-orang yang tak tega melihat kondisinya tergeletak pingsan dan sekarang kondosinya lebih mengenaskan Lastri hanya bisa berbaring dipangkuan Aminah. Mawar merah telah membuat  mereka luka.  Apakah wanita terlahir hanya untuk disakiti dan dibohongi ?

Tetangga mengerumuni rumah Aminah. Prihatin atas kondisi Lastri. Tapi satu persatu sudah pulang, hanya tersisa satu orang berdiri tegap memunggungi tatapan Aminah. Ah, punggung itu wangi farfum itu, mengingatkan pada luka lama dan ketika lelaki itu membalikkan tubuh menatap, nafas Aminah serasa tercabut dari raga. Untuk ia kembali dihadapkan pada kenangan puluhan tahun lalu.''Bang Hasan" Gumannya dalam hati, tapi untuk apa ia kembali setelah puluhan tahun tak datang. apakah datIng hanya untuk menyerinai menertawakan kekalahan Aminah atau ingin menaburkan mawar untuk menuntaskan kepuasannya ''

''Bang Hasan! apa maksud kedatanganmu, silahkan saja kau tertawakan aku, tertawakan saja kelemahanku, Aminah menjerit keras menumpahkan sakit selama puluhan tahun,ia tak sadar Lastri mulai terbangun, bukan begitu Aminah, aku tak maksud menyakitimu, apa lagi menertawakanmu, aku minta maaf'' lelaki itu bercerita saat kedua bola matanya melai menanar'' tapi mengapa kemu tak datang waktu itu aku menunggumu, tak pernah lelah menghitung hari semantara orang sekitar menertawakanku,aku wanitalemah Hasan Amnih melelh membelakangi peria masalalunya ia tak kuat menatap mata didepannya ada jarak puluhan tahun yang mungkin bisa ditempuh, kembali bukan untuk datang, hanya mengingat kepingan masa  lalu.

''Waktu itu aku difitnah, aku harus menikahi orang yang tak aku cintai. aku terpaksa, alasan tinggal alasan semua telah terlambat waktu takkan kembali kesepuluh tahun lalu kenangan yang terkengan hanya untuk dikenang bukan untuk dinikmati kembali mereka saling bertatapan mengenang kisah dijalan setapak dengan getah karet dipanggul.Tatapan seperti dulu hanya berbatas waktu.''

''Dan yang paling aku sesalkan, Fathan anakmu berbuat sama, Ia meninggalkan Lastri dengan hanya menyisahkan mawar merah. bagaimana aku tak sakit, luka itu kembali, menyayat anakku …

Aminah menjerit air matanya meleleh, Lastri disampingnya mendengar semua.

Fathan ternyata anak Hasan Mubarok, pria masa laLu Aminah, Air mata Lastri ikut memilih, begitu pahit kenyataan, pria yang dicintainya menaburkan luka yang sama dengan  pria  masa lalu ibunya yang tak lain ayah Fathan, betapa  pahit janji itu ? ingin Lastri berteriak menangis, namun tak bisa, lukanya terlalu perih

            Satu tahun berlalu, tak ada yang berubah, pohon sawit hijau melambai dalam dekapan kapuas, Langit dipenuhi  sayap kutilang. Setahun begitu cepat, namun tak ada yang berubah, ombak menghempas seakan menyambutnya setelah dua tahun tak datang, sejauh bangau terbang pasti kembali, Fathan akhirnya pulang, dua tahun menuntut ilmu dipulau garam Madura. Tubuhnya semakin kurus dengan wajah lebih merona. Langit cerah saat itu menyemangati hatinya, tahun lalu ia menghubungi Khalifa, ia tak bisa pulang karena ada urusan, Fathan menunda kepulangannya hingga tahun depan, Khalifa sudah pasti memberi tahu pada Lastri bahwa hari ini dirinya benar-benar pulang. Kapal mulai berlabuh. Fathan menuruni anak tangga, ia ingin saat memuka mata pertama kali yang ingin dilihatnya sosok Lastri, ternyata benar diantara rumunan orang Lastri tersenyum dengan lambayan mawar merah ditangannya, wajahnya masih cantik seperti dulu, hanya nampak pucat pasi. Fathan membalasnya dengan senyuman, namun ketika Fathan kembali menatapnya, sesosok Lastri menghilang dalam rumunan  ''apa yang salah dengan senyuman, pandangan Fathan ?'' ia berlari mendesak keramaian, tas kecil dibiarkannya jatuh namun sosok Lasrti tak nampak, yang nampak bayangannya menangis  ''Ada apa semua ini ?'' tak jauh dari pandangannya mawar merah marun tumbuh diatas gundukan tanah, berdiri didekatnya seorang yang Fathan kenal Hasan Mubarok didampingi Aminah, oh sandiwara apa yang digelar tuhan ini, mengapa mawar merah ini yang menyambutku ? mengapa semua sosok yang aku kenal berada digundukan tanah itu ? pasti mereka sedang berencana untuk memberi sebuah kejutan penyambutan untukku ? mereka ingin bermain-main untuk menyenangkan hatiku'' Fathan tersenyum getir meski masih ada yang membuat gelisah dihatinya.

''Tapi dimana Lastri?'' Fathan tetap tak menemukan Lastri.

Ia mulai gelisah tak ada tatapan kebohongan pada mereka.

''Mana Lastri apakah ia telah mengingkari janji nya ? tak mungkin, ini pasti semua rekayasa'' 

tak seharusnya Fathan menangis, tapi lukanya begitu dalam kerinduan menumpuk selama dua tahun, tapi kedatanganya kini sia-sia. Ia tak menemui sosok yang ia rindu.

''Kau salah Fathan, Lastri tak pernah mengingkari janjinya, bahkan disaat ia tiada sekalipun, ia masih menemuimu bersama kuntum bunga mawar yang kamu pinta, sebelum ia menutup mata dia memohon pada ibu agar jasadnya dikuburkan dipelabuhan ini bersama mawar merah, ini makam Lastri Fathan, ia sudah tiada''

Semua menangis, hujan, kapuas menaburkan luka, Fathan bersimpuh dihadapan tanah yang ditumbuhi mawar merah marun, dikecupnya batu nisan Lastri berkali-kali, kecupan yang tak pernah  didapati semasa hidup adakah luka yang seperih ini, Lastri tak pernah mengingkari janji, janjinya ia titipkan pada nawar merah …



''Never mind I'll find someone like you, I wish nothing but the best for you too''

Don't forget me I beg, I will remember you said''

Sometime it last in love, but sometime it hurts instead''

* Syamsa Adam

2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar