Selasa, 17 Maret 2015

Rindu Ibu

(puisi untuk seorang sahabat yang berpisah dari Ibu_nya)
Ibu merindu | Di danau-danau, di setapak sawah, di emperan jalan kereta, di toko kecil, di perkantoran berkaca minus umurnya di gadai payah dan rindu yang tak bersudah. Di matanya rembulan terbit setiap siang dan tak tenggelam disaat malam. Kalau kita menangis tangannya secepat angin bergerak menerbangkan kita keranjang paling empuk, puting susu berajut darah-merebah kita saat marah di tengah malam, di dadanya perkebunan teh berbaris memanjang siap petik.


Ibu merindu | setiap pagi ia selalu membajak perutnya yang buncit sambil menengadahkan wajahnya ke kulit matahari. Kemudian ia membalut tubuh kita dengan doa.

Ibu merindu | memapah kita pada basuh kaki hangat, menjemur diri menabung terik. Kemudian mengajakku menari bersama bubur pisang emas, menungguiku mengunyah pagi menjadi tenaga, Tak henti doanya setiap nafas ia hembuskan.

Kalau kita pergi menabuh mentari, maka ia orang pertama yang duduk di ambang pintu sembari menyeduh secangkir gelisah. Dan kalau kita datang membawa sesabit rembulan ia lari menyingsing sampir. 
Kemudian | ia memukul pipi, meyakinkan ia belum tertidur dan bermimpi.

Ibu merindu | pada kaki kita yang berpijak terus di atas tanah bersamanya. Sedang tangan kita bertepuk-tepuk di langit biru. Dan doa kita seperti hujan yang akan genangi ladang angannya yang kering.

Ia-lah Ibu | Yang kini tubuhnya telah bersatu dengan rindu dan kesepian.

Kalau suatu saat kita datang | dari jauh.
Ia tak pernah percaya kalau ini adalah kita, yang sedang berkecup dengan tangannya yang kirut. Ibu tak pernah percaya kalau ini adalah kita, sebab yang Ia ingat adalah_baru kemarin kita menarik tali kutangnya dengan paksa. Kemudian ia mengelap kening kita dengan kecupan. Sambil menangis.
Sebab ibu menangis kalau kita menangis, ibu menangis saat kita tertawa, ibu menangis kalau kita diam saja. Ibu menangis disetiap kesempatan dimana pun ia melihat kita.

Ibu adalah tangisan | Ibu adalah kesepian | Ibu adalah lamunan | Ibu adalah doa
yang tak pernah berpisah dari setiap pengorbanan. Setiap hari Ia memahat rindu, bahkan saat kita berada di dekatnya. Apalagi jauh.
Ibu adalah penyelam saat kita terlempar ke dalam lautan -




* Mkd Aan's
2015